Estetika Subversif: Dekonstruksi Fashion “Queer” dan Ambiguitas Gender dalam Budaya Materi Kerajaan Joseon
Kerajaan Joseon (1392–1910) sering kali dipandang melalui lensa historiografi modern sebagai entitas sosiopolitik yang sangat kaku, monolitik, dan sangat konservatif, di mana setiap aspek kehidupan diatur oleh doktrin Neo-Konfusianisme. Namun, analisis mendalam terhadap budaya materi, khususnya dalam bidang busana atau hanbok, mengungkapkan adanya retakan dalam fasad keseragaman tersebut. Pakaian di Joseon bukan sekadar penutup tubuh, melainkan sistem semiotik yang kompleks yang digunakan untuk menegosiasikan status, moralitas, dan yang paling kontroversial, identitas gender. Meskipun norma-norma gender dipisahkan secara absolut melalui hukum naewoebop—yang membagi dunia menjadi ranah internal bagi wanita dan eksternal bagi pria—terdapat fenomena “queering” atau pengaburan batas-batas biner ini melalui estetika yang sangat dekoratif, praktik lintas-busana dalam seni pertunjukan, dan penggunaan aksesori yang melampaui batasan fungsi tradisionalnya.
Landasan Filosofis: Neo-Konfusianisme dan Regulasi Tubuh
Penerapan Neo-Konfusianisme di Joseon menciptakan tatanan sosial yang menempatkan harmoni sebagai hasil dari kepatuhan terhadap hierarki. Dalam konteks busana, hal ini termanifestasi dalam Kyeongguk Daejeon (Kode Negara), sebuah hukum komprehensif yang mengatur dress code secara ketat berdasarkan kelas sosial antara bangsawan (yangban) dan rakyat jelata (cheonmin). Pakaian menjadi mekanisme kontrol sosial di mana identitas seseorang harus dapat dikenali secara instan dari kejauhan.
Bagi pria, pakaian mencerminkan martabat (uije) dan otoritas intelektual. Bagi wanita, pakaian harus menunjukkan kesederhanaan, kemurnian, dan kepatuhan. Namun, teori Yin dan Yang yang mendasari filosofi ini secara inheren mengandung ambiguitas; maskulinitas dan feminitas dipandang sebagai elemen yang saling melengkapi namun juga dapat saling meresap dalam kondisi tertentu. Ketegangan antara aturan hukum yang kaku dan fluiditas filosofis ini memberikan ruang bagi ekspresi jati diri yang sering kali luput dari catatan sejarah resmi karena dianggap sebagai penyimpangan moral.
Tabel 1: Hierarki Sosial dan Regulasi Material Hanbok
| Kelas Sosial | Bahan Tekstil Utama | Warna yang Diizinkan | Simbolisme Utama |
| Keluarga Kerajaan | Sutra berkualitas tinggi, Satin, Brokat Emas (Geumbak). | Merah terang, Ungu, Naga dengan 5 kuku. | Otoritas Ilahi dan kedaulatan mutlak. |
| Bangsawan (Yangban) | Sutra halus, Ramie tipis, Kapas berkualitas. | Biru, Hijau, Putih gading, motif bangau. | Integritas sarjana dan status politik. |
| Rakyat Jelata | Kapas kasar (Moo-myung), Hemp, Rami kasar. | Putih (paling dominan), warna pucat. | Kesederhanaan, kerja keras, dan kepatuhan ritual. |
| Kelas Bawah (Gisaeng/Namsadang) | Sutra (sering melanggar hukum sumptuari). | Warna-warna cerah, merah, kuning, pola bunga. | Fluiditas sosial dan daya tarik estetika performatif. |
Maskulinitas yang “Berhias”: Fenomena Gat dan Estetika Berlebihan
Salah satu aspek yang paling unik dan sering kali diabaikan dalam diskusi mengenai gender di Joseon adalah kecenderungan kaum pria bangsawan untuk mengadopsi estetika yang sangat dekoratif. Gat, topi tradisional pria yang terbuat dari bulu ekor kuda dan bambu, adalah contoh utama bagaimana maskulinitas diungkapkan melalui kelebihan visual.
Evolusi Gat: Dimensi sebagai Pernyataan Identitas
Pada masa pertengahan hingga akhir Joseon, ukuran Gat mengalami transformasi yang luar biasa. Para sarjana dan bangsawan mulai mengenakan Gat dengan pinggiran yang sangat lebar, terkadang mencapai diameter lebih dari 91 cm. Ukuran yang berlebihan ini secara fungsional tidak praktis, namun secara simbolis berfungsi sebagai cara bagi pria untuk mendominasi ruang fisik di sekitar mereka. Dalam masyarakat yang menghargai ketenangan dan pengendalian diri, “peacocking” melalui ukuran topi ini merupakan bentuk ekspresi diri yang sangat kuat.
Keterampilan pembuatan Gat sendiri merupakan proses yang sangat menguras energi; seorang perajin (Ipjajang) dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menenun serat bambu setipis rambut, yang sering kali mengakibatkan penurunan penglihatan. Pengorbanan fisik demi estetika ini menunjukkan betapa pentingnya penampilan visual bagi identitas pria Joseon.
Gat-ggeun: Perhiasan Maskulin yang Feminin
Selain ukuran topi, penggunaan Gat-ggeun—tali topi yang menjuntai—menjadi situs utama ambiguitas gender. Tali-tali ini tidak hanya berfungsi sebagai pengikat, tetapi sebagai perhiasan mewah yang terbuat dari rangkaian batu giok, amber, emas, dan perak. Tali-tali ini sering kali menjuntai jauh di bawah dagu hingga ke dada, memberikan efek dekoratif yang sangat mirip dengan perhiasan wanita.
Dalam perspektif modern, penggunaan manik-manik batu mulia yang panjang ini mungkin dianggap feminin, namun di Joseon, ini adalah penanda maskulinitas kelas atas yang absolut. Ketegangan antara fungsi maskulin topi dan estetika perhiasan yang mewah menciptakan sebuah identitas visual yang “queer” dalam artian ia melampaui biner fungsi-dekorasi yang sederhana.
Peran Gisaeng sebagai Inovator dan Subvertor Mode
Jika pria mengekspresikan diri melalui topi dan tali perhiasan, wanita dari kelas Gisaeng (penghibur profesional) melakukan subversi melalui struktur dasar pakaian itu sendiri. Sebagai kelompok yang “paling bergengsi sekaligus paling hina,” Gisaeng memiliki kebebasan mobilitas dan pendidikan yang tidak dimiliki oleh wanita bangsawan yang terkurung di gyubang (ruang dalam).
Shortening the Jeogori: Skandal Estetika
Sepanjang periode Joseon, panjang jeogori (jaket wanita) mengalami perubahan drastis. Pada awal periode, jeogori berukuran longgar dan menutupi pinggang, sangat mirip dengan versi pria. Namun, atas pengaruh tren yang dimulai oleh para Gisaeng, jaket ini mulai memendek secara progresif hingga hanya mencapai 20 cm pada akhir abad ke-19, nyaris tidak menutupi bagian dada.
Tren ini memaksa munculnya lapisan pakaian dalam baru seperti heoritti (ikat dada) untuk menjaga kesopanan. Namun, para Gisaeng sering kali membiarkan heoritti mereka terlihat atau bahkan sengaja menyingkapkan lapisan-lapisan sok-hanbok (pakaian dalam) mereka untuk menciptakan siluet yang lebih bervolume dan provokatif. Hal ini secara langsung menantang cita-cita Konfusianisme tentang kesederhanaan dan ketidaktampakan tubuh wanita.
Penggunaan Gache dan Perlawanan terhadap Larangan Kerajaan
Penggunaan Gache, atau rambut palsu yang sangat besar dan berat, menjadi simbol status dan kecantikan yang melampaui batas kewajaran. Gache yang dihiasi dengan perhiasan emas dan perak bisa menjadi sangat berat sehingga dilaporkan ada kasus di mana leher pengantin wanita patah karena beban tersebut. Raja Yeongjo akhirnya mengeluarkan larangan terhadap Gache karena dianggap sebagai bentuk pemborosan yang tidak bermoral.
Peralihan dari Gache ke hiasan kepala yang lebih sederhana seperti jjokduri (mahkota kecil) mencerminkan upaya negara untuk menekan ekspresi estetika yang dianggap “liar” dan tidak terkendali. Namun, para wanita Joseon terus mencari celah melalui penggunaan perhiasan lain seperti Norigae yang semakin mewah dan rumit sebagai pengganti volume rambut yang hilang.
Performa Gender dan Lintas-Busana dalam Seni Pertunjukan
Seni pertunjukan adalah ruang di mana Joseon secara resmi “mengizinkan” pengaburan identitas gender, meskipun tetap dalam kerangka ritual atau hiburan.
Androgini dalam Gum-mu (Tari Pedang)
Gum-mu memberikan studi kasus yang luar biasa tentang androgini yang disengaja. Kostum penari pedang menggabungkan elemen dasar wanita (jeogori dan chima) dengan elemen militer pria yang sangat spesifik: jeonbok (rompi panjang militer), jeondae (sabuk militer), dan jeollip (topi militer).
Penggabungan ini menciptakan citra androgini yang bertujuan untuk mengekspresikan peran yang “tepat” dalam konteks pertunjukan, di mana penari wanita harus memanifestasikan kekuatan maskulin tanpa kehilangan esensi kewanitaan mereka. Penting untuk dicatat bahwa penelitian menunjukkan praktik ini bukan ditujukan untuk kesenangan seksual, melainkan sebagai bentuk sublimasi estetika dari nilai-nilai militer ke dalam bentuk seni istana.
Namsadangpae: Dunia Lintas-Busana Pria
Kelompok Namsadangpae—penghibur keliling yang seluruhnya terdiri dari pria—mempraktikkan bentuk lintas-busana yang lebih subversif. Dalam drama boneka (deolmi) dan drama topeng (deotboegi), anggota pria sering kali memerankan karakter wanita seperti Kkokdugaksi (pengantin muda) dengan pakaian wanita yang lengkap.
Para ppiri (anggota termuda dan pemula) sering kali didandani dengan cara yang sangat androgini untuk menarik penonton. Keberadaan kelompok ini memberikan katarsis bagi masyarakat Joseon yang tertekan, di mana sindiran terhadap kelas bangsawan dan pengaburan batas gender menjadi alat untuk meredakan ketegangan sosial.
Tabel 2: Unsur-Unsur Maskulin dan Feminin dalam Kostum Gum-mu
| Unsur Kostum | Asal Gender Tradisional | Fungsi dalam Pertunjukan |
| Jeogori & Chima | Feminin. | Lapisan dasar yang menunjukkan identitas biologis penari. |
| Jeonbok (Rompi) | Maskulin (Militer). | Memberikan siluet otoritas dan kekuatan prajurit. |
| Jeondae (Sabuk) | Maskulin (Militer). | Menandai kesiapan tempur dan ketegasan gerak. |
| Jeollip (Topi) | Maskulin (Militer). | Menyembunyikan rambut feminin; menciptakan citra androgini. |
Tubuh yang Tidak Terkatakan: Interseks dan Homoseksualitas dalam Catatan Resmi
Meskipun historiografi populer sering kali membersihkan Joseon dari narasi queer demi menjaga “moralitas” bangsa, Joseon Wangjo Sillok (Veritable Records) sendiri menyimpan catatan tentang individu-individu yang menantang tatanan biologis dan sosial.
Kasus Sa Bangji dan Im Seong-gu
Catatan resmi menyebutkan dua individu interseks, Sa Bangji dan Im Seong-gu, yang hidup pada masa Joseon. Sa Bangji, yang dibesarkan sebagai wanita namun memiliki organ reproduksi pria, menggunakan busana wanita untuk menjalin hubungan intim dengan seorang janda dari kelas bangsawan. Ketika skandal ini terungkap, para pejabat Neo-Konfusianisme merasa sangat terhina bukan hanya karena perzinahannya, tetapi karena kemampuan Sa Bangji untuk “menipu” tatanan sosial melalui pakaian.
Respon negara adalah dengan mendefinisikan individu-individu ini sebagai “abnormal” atau “setan” (byuntae). Hal ini menunjukkan bahwa pakaian di Joseon dianggap begitu sakral sebagai penanda identitas sehingga penyalahgunaannya dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas kosmik. Namun, fakta bahwa peristiwa ini terjadi dan dicatat membuktikan adanya realitas queer yang berusaha diredam oleh ideologi negara.
Homoseksualitas dan “Kecenderungan yang Disembunyikan”
Homoseksualitas di Joseon tidak secara eksplisit dilarang oleh hukum sipil, namun dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap harmoni sosial karena tidak menghasilkan keturunan—sebuah kegagalan dalam tugas berbakti (hyo). Di lingkungan istana, hubungan sesama jenis antara pelayan istana wanita (gungnyeo) atau antara bangsawan pria sering kali terjadi namun jarang dicatat kecuali jika mengakibatkan skandal politik besar.
Salah satu kasus yang paling menonjol adalah pemecatan Selir Kerajaan Sun, istri dari putra mahkota (yang kelak menjadi Raja Munjong), karena memiliki hubungan romantis dengan salah satu dayangnya. Kasus ini diselesaikan dengan pengusiran dan penurunan status selir tersebut menjadi rakyat jelata, sebuah tindakan sensor yang bertujuan untuk menghapus pengaruh buruk dari sejarah kerajaan.
Budaya “Sok-hanbok”: Lapis-lapis Rahasia dan Kemewahan Tersembunyi
Salah satu aspek yang paling intim dalam fashion Joseon adalah penggunaan pakaian dalam atau sok-hanbok. Berbeda dengan pakaian luar yang diatur ketat oleh hukum, pakaian dalam memberikan ruang bagi kreativitas dan penggunaan material mewah yang tidak terlihat oleh publik.
Tabel 3: Komponen Pakaian Dalam (Sok-hanbok) dan Evolusinya
| Nama Garment | Pengguna | Material dan Fungsi | Implikasi Estetika |
| Sok-jeogori | Pria & Wanita | Sutra tipis, Muslin, Kapas halus. | Lapisan kenyamanan; bagi pria bisa transparan (ramie). |
| Darisokgot | Wanita | Kain lebar yang dilipat dan diikat. | Bentuk dasar pelindung; sangat fungsional. |
| Soksokgot | Wanita Bangsawan | Sutra atau rami berkualitas tinggi. | Memberikan volume pada rok luar (chima). |
| Mujigi-chima | Wanita (Pesta) | Rok berlapis (3, 5, atau 7 lapis). | Menciptakan siluet “lonceng” yang mewah. |
| Heoritti | Wanita | Kain putih atau dekoratif untuk menekan dada. | Mengakomodasi jeogori yang semakin pendek. |
Penggunaan sok-hanbok yang rumit menunjukkan adanya obsesi terhadap volume dan tekstur. Wanita bangsawan sering kali mengenakan hingga tujuh lapis celana dan rok di bawah chima luar mereka untuk mendapatkan siluet yang dianggap ideal saat itu. Bagi para Gisaeng, lapisan-lapisan ini sering kali dihiasi dengan sulaman indah di bagian hem (ujung bawah) karena mereka tahu bagian tersebut akan terlihat saat mereka menari atau berjalan, sebuah godaan visual yang sangat halus namun efektif.
Sensor Sejarah dan Konstruksi Narasi Moralitas
Upaya untuk mempertahankan citra Joseon sebagai masyarakat yang murni dan tanpa cela moral terus berlanjut hingga periode modern. Historiografi abad ke-20 sering kali menekankan pada penderitaan wanita dan kekakuan pria, sambil menghapus nuansa ekspresi diri yang “tidak nyaman”.
Penghapusan dari Silsilah Keluarga
Praktik sensor ini paling nyata terlihat dalam catatan silsilah keluarga (jokbo). Istri kedua, selir, dan anak-anak dari hubungan non-normatif sering kali dihapus sepenuhnya dari catatan ritual leluhur. Demikian pula, individu yang dianggap memiliki perilaku seksual atau ekspresi gender yang “menyimpang” akan dihilangkan dari ingatan kolektif keluarga untuk menjaga kehormatan marga.
Fashion sebagai Bukti yang Tersisa
Meskipun teks-teks sejarah mungkin telah dibersihkan, bukti fisik dari pakaian yang ditemukan dalam makam-makam Joseon (excavated garments) memberikan cerita yang berbeda. Penemuan jaket wanita dari awal Joseon yang memiliki kerucut lengan yang lebar dan potongan yang sangat maskulin membuktikan bahwa pembagian gender dalam busana tidaklah selalu se-ekstrem yang terjadi di akhir periode.
Penggunaan kain sutra yang dicat dengan tangan, teknik geumbak (aplikasi daun emas), dan variasi warna yang ditemukan pada pakaian rakyat jelata menunjukkan bahwa banyak orang Joseon yang melanggar hukum sumptuari demi keinginan mereka untuk tampil indah. Hal ini mengindikasikan adanya perlawanan diam-diam terhadap regulasi negara melalui konsumsi fashion.
Modernisasi dan Hilangnya Fluiditas: Reformasi Pakaian 1884–1895
Kejatuhan Kerajaan Joseon juga menandai kematian bagi estetika fashion yang kompleks dan ambigu ini. Di bawah tekanan kekuasaan imperialis Jepang dan kebutuhan untuk “memodernisasi,” pemerintah Joseon mengeluarkan serangkaian dekrit yang menghancurkan tradisi busana mereka sendiri.
Dekrit Gapsin dan Penghapusan Lengan Lebar
Pada tahun 1884, Reformasi Gapsin melarang penggunaan jubah berlengan lebar (po) yang dianggap sebagai simbol kelebihan dan ketidakefisienan kelas atas. Ini adalah serangan langsung terhadap estetika martabat sarjana Joseon yang telah bertahan selama ratusan tahun. Pakaian pria diseragamkan menjadi durumagi (jubah lengan sempit) yang lebih sederhana.
Dekrit Danbalryeong: Pemotongan Topknot
Pukulan terakhir terhadap identitas pria Joseon terjadi pada tahun 1895 dengan Danbalryeong—perintah wajib untuk memotong sangtu (sanggul pria). Bagi pria Joseon, rambut adalah pemberian orang tua yang tidak boleh dipotong; memotong rambut dianggap sebagai penghinaan terhadap leluhur dan pengingkaran terhadap identitas nasional.
Dengan hilangnya sangtu, penggunaan Gat juga menghilang, digantikan oleh topi bowler atau topi gaya Barat lainnya. Transformasi ini bukan sekadar perubahan gaya, melainkan penghapusan seluruh sistem nilai estetika yang memungkinkan adanya ekspresi maskulinitas yang dekoratif. Identitas gender yang tadinya “cair” dalam kerangka tradisi kini dipaksa masuk ke dalam kategori-kategori modern yang lebih biner dan fungsional.
Kesimpulan: Fashion sebagai Situs Memori dan Perlawanan
Analisis terhadap fashion di Kerajaan Joseon mengungkapkan bahwa keinginan manusia untuk mengekspresikan jati diri selalu menemukan jalan, bahkan di bawah sistem yang paling represif sekalipun. Pria bangsawan yang mengenakan topi setinggi langit dengan untaian permata, para Gisaeng yang memendekkan jaket mereka hingga batas skandal, dan para penari pedang yang memadukan feminitas dengan atribut perang adalah bukti dari keberadaan narasi “queer” dalam sejarah Korea.
Meskipun banyak dari identitas ini telah disensor atau dikubur dalam catatan sejarah resmi demi menjaga citra moralitas bangsa, budaya materi melalui pakaian tetap menjadi saksi bisu yang tak terbantahkan. Mempelajari fashion Joseon bukan hanya tentang mempelajari sejarah tekstil, melainkan tentang menghargai keberanian individu-individu masa lalu yang menggunakan tubuh mereka sebagai kanvas untuk menentang norma dan menyatakan bahwa identitas manusia tidak akan pernah bisa sepenuhnya dikurung dalam biner yang sempit. Kesadaran akan fluiditas ini memberikan perspektif baru bagi masyarakat Korea modern dalam memahami akar sejarah mereka yang jauh lebih kaya dan beragam daripada yang sering digambarkan dalam buku teks sejarah tradisional.