Loading Now

Estetika Subversif Macaroni: Politik Gender, Identitas Nasional, dan Transformasi Maskulinitas di Inggris Abad ke-18

Fenomena “Macaroni” di Inggris pada paruh kedua abad ke-18 mewakili salah satu persimpangan paling kompleks dalam sejarah mode, identitas gender, dan geopolitik. Muncul sekitar tahun 1760-an dan mencapai puncaknya pada awal 1770-an, subkultur ini bukan sekadar manifestasi dari kesia-siaan pria muda yang kaya, melainkan sebuah bentuk performa identitas yang menantang batas-batas tradisional maskulinitas Inggris, kelas sosial, dan kebangsaan. Analisis mendalam terhadap gerakan ini mengungkapkan bagaimana pakaian, makanan, dan perilaku menjadi alat untuk menegosiasikan kekuasaan di tengah perubahan sosial yang pesat dan kecemasan nasional akibat konflik militer global. Istilah “Macaroni” sendiri secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada pria-pria kelas atas Inggris yang, sekembalinya dari Grand Tour di daratan Eropa—khususnya Italia dan Prancis—mengadopsi selera yang sangat mewah, gaya bicara yang terpengaruh, dan estetika yang dianggap feminin atau androgini oleh masyarakat umum.

Asal-usul Budaya dan Mekanisme Grand Tour

Akar dari gerakan Macaroni terletak pada tradisi Grand Tour, sebuah perjalanan pendidikan dan budaya melintasi benua Eropa yang dianggap wajib bagi pria muda dari aristokrasi dan kelas menengah atas Inggris saat mereka mencapai kedewasaan. Setelah berakhirnya Perang Tujuh Tahun pada tahun 1763, akses ke Eropa kembali terbuka bagi para pelancong Inggris, memicu gelombang pemuda yang lapar akan budaya asing. Selama kunjungan mereka ke pusat-pusat mode seperti Paris dan Venesia, para pemuda ini terpapar pada gaya hidup yang jauh lebih ornamen dan ekspresif dibandingkan dengan estetika Inggris yang cenderung lebih tenang, fungsional, dan berbasis pada kain wol atau broadcloth.

Ketertarikan pada budaya Italia menjadi katalisator utama bagi penamaan subkultur ini. Di Italia, para pelancong Inggris menemukan pasta macaroni (maccheroni), yang pada saat itu merupakan makanan eksotis dan hampir tidak dikenal di Inggris. Sekembalinya ke London, para pemuda ini membentuk “Macaroni Club” di Almack’s pada tahun 1764 sebagai wadah bagi mereka yang telah melakukan perjalanan internasional dan ingin mempertahankan selera kontinental mereka. Penggunaan nama makanan untuk mendefinisikan kelompok mode ini memiliki konotasi ganda: di satu sisi, itu menandakan status elit dan pengalaman kosmopolitan; di sisi lain, istilah “maccherone” dalam bahasa Italia secara harfiah berarti “orang bodoh” atau “pelawak”, sebuah ambiguitas yang segera dimanfaatkan oleh para satiris Inggris untuk mengejek mereka. Penulis Horace Walpole mencatat pada tahun 1764 bahwa klub ini terdiri dari “semua pemuda pengelana yang memakai rambut ikal panjang dan kacamata pengintai”.

Dimensi Perbandingan Maskulinitas Tradisional Inggris (Georgian) Subkultur Macaroni (1760-1780)
Bahan Utama Pakaian Broadcloth (Wol), Katun Rapi Sutra, Beludru, Brokat, Lace (Renda)
Palet Warna Monokrom, Cokelat, Biru Tua, Hitam Pastel (Pink, Kuning, Hijau), Warna Cerah
Siluet Tubuh Longgar, Konservatif, Praktis Sangat Ketat, Jaket Pendek, Menonjolkan Lekuk
Hairstyle Scratch-wig Pendek, Rambut Alami Towering Wig (Hingga 12 inci), Powdered
Alas Kaki Sepatu Kokoh, Bot Kulit Selop Tipis, Tumit Merah, Gesper Berlian
Simbol Kuliner Roast Beef, Bir, Makanan Padat Pasta, Makanan Prancis, Fastidious Eating
Ideologi Keperilakuan Stoisisme, Kejujuran, Keberanian Effeminacy, Nonchalance, Affected Mannerisms

Signifikansi Kuliner sebagai Penanda Kelas dan Eksklusivitas

Konsumsi pasta oleh para Macaroni adalah pernyataan politik dan sosial yang disengaja. Dalam konteks Inggris abad ke-18, maskulinitas nasional sering kali dikaitkan dengan konsumsi daging sapi, yang dianggap memberikan kekuatan fisik dan karakter yang jujur—sering disebut sebagai ideal “roast beef of old England”. Dengan memilih makanan asing yang dianggap “halus” dan “tidak substansial,” para Macaroni dianggap menolak nilai-nilai tradisional Inggris demi kepura-puran asing yang dekaden. Tindakan memakan pasta dipandang sebagai perilaku yang cerewet, pemilih, dan haus perhatian, yang semakin mengukuhkan citra mereka sebagai individu yang tidak terikat pada tradisi tanah air.

Pasta macaroni pada masa itu dipandang sebagai simbol “nonsense” dan karnaval dalam pikiran masyarakat Inggris, diasosiasikan dengan karakter pelawak atau “numbskull”. Namun, bagi para anggota Macaroni Club, kegemaran ini adalah alat untuk “menutup pintu” bagi mereka yang tidak mampu melakukan Grand Tour. Ini menciptakan batas sosial yang sangat tajam; hanya mereka yang telah melintasi benua yang memiliki selera dan pengetahuan untuk menghargai makanan tersebut. Fenomena ini juga merambah ke dunia sastra melalui puisi “macaronic” yang mencampurkan bahasa Inggris dan Latin untuk efek komedi, memperkuat hubungan antara gaya hidup ini dengan intelektualitas yang dianggap sok tahu.

Anatomi Estetika: Hiper-Fesyen dan Artifisialitas Teatrikal

Gaya berpakaian Macaroni dicirikan oleh ekstremitas dan distorsi proporsi yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian. Pakaian mereka bukan sekadar meniru mode Prancis atau Italia, melainkan mengeksaserbasinya hingga ke titik yang dianggap menggelikan atau “camp” oleh standar modern. Suit Macaroni terdiri dari jaket yang sangat pendek dan ketat dengan lengan sempit, yang sering kali menunjukkan bagian belakang tubuh secara provokatif, dipadukan dengan celana lutut (breeches) yang juga sangat pas di badan untuk menonjolkan bentuk kaki.

Evolusi dan Kompleksitas Wig: Arsitektur Rambut

Fitur yang paling mencolok dan sering menjadi sasaran ejekan adalah gaya rambut atau wig mereka. Sementara pria Inggris umumnya mengenakan wig kecil yang praktis (sering disebut scratch-wig), Macaroni mempopulerkan wig yang tingginya bisa mencapai 9 hingga 12 inci di atas kepala. Bagian depan wig disisir vertikal menjadi toupée yang menjulang, sementara di bagian belakang terdapat ikatan rambut besar yang disebut “club” atau dimasukkan ke dalam kantong wig (wig-bag) hitam berukuran besar dari bahan satin untuk melindungi jaket dari bubuk wig.

Penggunaan bubuk rambut yang berlebihan juga menjadi ciri khas. Diperkirakan pada masa pemerintahan George III, tentara Inggris menghabiskan sekitar 6.500 ton tepung setiap tahun hanya untuk bubuk wig, sebuah statistik yang menonjolkan betapa pentingnya penampilan di semua lapisan masyarakat, namun Macaroni-lah yang membawa praktik ini ke tingkat obsesi estetika yang menandingi ketinggian tatanan rambut wanita pada masa itu. Puncak dari arsitektur rambut ini sering kali dimahkotai dengan topi tricorn kecil yang dikenal sebagai topi Nivernois (dinamai sesuai duta besar Prancis di London), yang begitu kecil sehingga hanya bisa dilepaskan dengan menggunakan ujung pedang.

Aksesori sebagai Perangkat Performa Sosial

Bagi seorang Macaroni, aksesori bukan sekadar tambahan, melainkan alat komunikasi sosial yang krusial untuk menegaskan status sebagai penikmat budaya (connoisseur) yang elit. Mereka sering membawa spyglass atau kacamata pengintai yang digunakan secara berlebihan di tempat umum, seperti teater atau taman rekreasi, untuk mengamati orang lain—sebuah tindakan yang menandakan diri mereka sebagai pengamat yang kritis dan terpisah dari massa. Aksesori lainnya yang menjadi “seragam” wajib antara lain:

  • Nosegays (Buket Bunga Kecil): Disematkan pada lubang kancing jaket dalam ukuran yang sering kali sangat besar (enormous), berfungsi untuk memberikan aroma wangi dan menutupi bau lingkungan perkotaan yang kurang sedap.
  • Pedang Ornamen dan Tongkat Estetik: Berbeda dengan pedang tempur, pedang Macaroni sering kali memiliki gagang berlian atau terbuat dari bahan baru seperti baja tahan karat yang dipoles, hanya berfungsi sebagai perhiasan. Mereka juga membawa tongkat jalan dengan rumbai (tassels) raksasa.
  • Jam Saku Ganda (Fobs): Mengenakan dua jam tangan dengan rantai, segel, dan pernak-pernik yang menjuntai di pinggang—sebuah tren yang sering diejek sebagai pemborosan fungsional.
  • Sepatu Bertumit Merah: Terinspirasi oleh tradisi pengadilan Prancis, sepatu tipis seperti selop dengan gesper berlian besar dan tumit merah tinggi digunakan untuk memberikan kesan tinggi dan keanggunan yang rapuh, sering kali dianggap tidak cocok untuk berjalan di jalanan London yang kotor.

Penggunaan kosmetik seperti bedak wajah putih dan perona pipi (rouge) semakin mengaburkan batas gender, memberikan tampilan yang “artifisial” dan menantang gagasan tentang kejantanan yang alami dan kasar.

Politik Gender dan Konstruksi “Jenis Kelamin Netral”

Kontroversi paling mendalam seputar Macaroni berkaitan dengan bagaimana mereka mengganggu stabilitas peran gender tradisional di Inggris. Pada abad ke-18, konsep maskulinitas sedang mengalami pergeseran menuju apa yang disebut sebagai “heteronormativitas” modern, dengan penekanan yang semakin besar pada ketenangan, tanggung jawab keluarga, dan pengendalian emosi yang dikelola oleh kelas menengah yang sedang bangkit. Macaroni, dengan obsesinya pada hiasan, bedak, dan kelembutan, dipandang sebagai ancaman langsung terhadap tatanan moral ini.

Kritikus pada masa itu sering menggunakan istilah “neuter gender” (jenis kelamin netral) atau “it” (itu) untuk merujuk pada Macaroni. Sebuah artikel di Oxford Magazine tahun 1770 memberikan deskripsi yang sangat tajam: “Ada sejenis hewan, bukan jantan maupun betina, sebuah benda dari jenis kelamin netral… ia berbicara tanpa makna, tersenyum tanpa kesenangan, makan tanpa selera, berkuda tanpa latihan, dan bercinta tanpa gairah”. Deskripsi ini menunjukkan bahwa masalah utama bagi masyarakat bukan hanya penampilan feminin mereka, melainkan persepsi bahwa Macaroni telah kehilangan esensi kemanusiaan dan vitalitas pria Inggris yang produktif.

Hubungan dengan Subkultur Queer dan Molly Houses

Secara historis, terdapat perdebatan akademis mengenai apakah Macaroni merupakan subkultur gay awal yang terorganisir. Meskipun banyak sosok Macaroni terkenal seperti Charles James Fox dikenal karena perselingkuhan heteroseksual yang produktif, stereotip Macaroni secara luas digunakan dalam media populer untuk menyiratkan penyimpangan seksual atau homoseksualitas, yang saat itu secara hukum didefinisikan sebagai sodomi atau “buggery” dan dapat dihukum mati.

Terdapat hubungan visual dan sosiologis antara Macaroni dan subkultur “Molly” yang lebih bawah tanah. Molly houses adalah taverna di London yang berfungsi sebagai tempat pertemuan bagi pria yang ingin mengekspresikan diri melalui pakaian wanita (budaya drag awal) dan perilaku feminin. Meskipun Macaroni adalah fenomena publik yang berakar pada aristokrasi, sementara Molly mencakup kelas pekerja dan perajin, masyarakat sering mencampuradukkan keduanya dalam karikatur untuk menyerang mereka yang dianggap tidak cukup maskulin. Para satiris menggunakan aksesori Macaroni sebagai kode visual untuk perilaku “unnatural”; misalnya, penggunaan muff bulu yang diletakkan di depan selangkangan sering kali merupakan sindiran visual terhadap ambiguitas organ intim.

Paradox Virilitas: Pedang dan Wig

Menariknya, meskipun dianggap feminin, beberapa aspek pakaian Macaroni justru memproyeksikan simbolisme phallic yang berlebihan. Wig yang menjulang tinggi dan pedang panjang yang mereka bawa sering diinterpretasikan oleh kritikus modern sebagai upaya kompensasi atau ekspresi maskulinitas yang terdistorsi. Bentuk wig yang ekstrem sering kali menyerupai simbol kekuatan seksual, menciptakan kontras yang membingungkan dengan wajah yang dirias bedak dan perona pipi. Ketidakteraturan ini membuat Macaroni menjadi subjek yang sulit dikategorikan, menempatkan mereka dalam ruang liminal antara maskulinitas yang agresif dan feminitas yang didekorasi.

Fenomena Karikatur: Mary dan Matthew Darly

Salah satu faktor utama yang menyebarkan pengaruh sekaligus ejekan terhadap Macaroni adalah ledakan budaya cetak satir di London. Pasangan Mary dan Matthew Darly mendirikan toko di 39 Strand yang kemudian dikenal sebagai “The Macaroni Print-Shop”. Antara tahun 1771 dan 1773, mereka menerbitkan enam set cetakan karikatur, dengan masing-masing set berisi 24 potret, yang secara sistematis mengejek setiap variasi Macaroni yang mungkin ada.

Karikatur-karikatur ini tidak hanya menyerang aristokrasi, tetapi juga bagaimana gaya ini diadopsi oleh kelas menengah dan profesi tertentu. Beberapa judul cetakan yang terkenal meliputi:

  • The Woolwich Macaroni: Mengejek perwira militer yang mengenakan bulu di topi dan wig tinggi.
  • The Martial Macaroni: Menggambarkan kontradiksi antara tugas militer yang keras dengan pakaian yang rapuh.
  • A Smart Macaroni: Menampilkan seorang perwira gemuk yang meniup klakson berburu, dengan sindiran bahwa ia lebih seperti “babi berbaju zirah”.
  • The Parade Macaroni: Menggambarkan Kapten Fitzpatrick dengan ruffles renda yang berlebihan.

Cetakan ini berfungsi ganda dalam masyarakat. Di satu sisi, mereka adalah alat kontrol sosial yang digunakan untuk mempermalukan mereka yang menyimpang dari norma. Di sisi lain, popularitas cetakan ini justru membantu menyebarkan tren tersebut; banyak orang dari pedesaan atau kelas bawah yang meniru gaya rambut Macaroni setelah melihat karikatur tersebut, karena menganggapnya sebagai tanda kemajuan dan modernitas. Toko Darly menjadi pusat gravitasi budaya di mana kelas menengah London bisa mengonsumsi satir sekaligus belajar tentang mode terbaru.

Nasionalisme dan Kecemasan Geopolitik

Kecaman terhadap Macaroni mencapai puncaknya bersamaan dengan ketegangan politik global Inggris. Pengadopsian mode Prancis dan Italia dipandang sebagai tanda dekadensi nasional dan pengkhianatan terhadap identitas Inggris yang murni. Ada ketakutan mendalam bahwa kemewahan asing sedang merusak moralitas pria Inggris, membuat mereka tidak mampu menghadapi tantangan militer. Selama Revolusi Amerika, beberapa cetakan satir bahkan melangkah lebih jauh dengan menyiratkan bahwa Prancis secara sengaja mengekspor tren mode ini sebagai taktik sabotase militer untuk melemahkan kejantanan tentara Inggris agar mereka mudah dikalahkan.

Identitas Macaroni yang kosmopolitan dianggap bertentangan dengan kebutuhan negara akan warga negara yang patriotik dan berakar pada tradisi lokal. Ketika Inggris berjuang untuk mempertahankan koloninya, pria-pria yang lebih peduli pada kehalusan renda daripada strategi perang menjadi sasaran kemarahan publik. Hal ini menunjukkan bahwa mode di abad ke-18 bukanlah sekadar masalah estetika pribadi, melainkan masalah keamanan nasional dan integritas karakter bangsa.

Evolusi Yankee Doodle: Dari Ejekan ke Identitas Nasional

Warisan budaya Macaroni yang paling dikenal secara global saat ini adalah melalui lagu patriotik Amerika, “Yankee Doodle.” Lirik lagu ini, khususnya bait “Stuck a feather in his cap and called it macaroni,” merupakan sisa dari sejarah satir transatlantik. Lagu ini awalnya ditulis oleh Dr. Richard Shuckburgh, seorang ahli bedah militer Inggris, sekitar tahun 1755 untuk mengejek tentara kolonial Amerika yang dianggap kasar, tidak terorganisir, dan naif.

Makna di balik lirik tersebut sangat spesifik: Shuckburgh menyiratkan bahwa seorang Amerika (Yankee) begitu udik dan bodoh sehingga dia mengira hanya dengan menyelipkan sehelai bulu di topinya, dia sudah bertransformasi menjadi seorang Macaroni yang modis dan canggih. Ini adalah penghinaan terhadap ketidaktahuan kelas bawah Amerika mengenai kompleksitas mode elit Eropa. Namun, tentara Amerika justru membalikkan keadaan dengan mengadopsi lagu tersebut sebagai simbol perlawanan dan identitas mereka sendiri, mengubah istilah ejekan menjadi lambang kebanggaan.

Tokoh-Tokoh Ikonik Macaroni

Meskipun sering digambarkan sebagai karikatur anonim, fenomena Macaroni didorong oleh individu-individu nyata yang memiliki pengaruh besar dalam politik, seni, dan ilmu pengetahuan. Berikut adalah profil beberapa tokoh yang secara publik dikaitkan dengan label Macaroni:

Tokoh Julukan/Kaitan Deskripsi Singkat
Charles James Fox “The Original Macaroni” Politisi Whig terkenal yang dikenal karena pakaian mewah, perjudian berat, dan kehidupan cinta yang liar.
Sir Joseph Banks “The Fly Catching Macaroni” Botanis dan penjelajah yang dikritik karena minat mudanya pada mode dianggap mengurangi kredibilitas ilmiahnya.
Richard Cosway “The Macaroni Artist” Pelukis miniatur terkemuka yang selalu tampil dengan pakaian istana yang sangat mewah dan bedak biru pada rambutnya.
Julius Soubise “The Black Macaroni” Mantan budak yang dibebaskan, menjadi ikon sosial di London dan mengajar menunggang kuda serta anggar.
Rev. William Dodd “The Macaroni Parson” Pengkhotbah populer yang menjalani gaya hidup mewah melampaui kemampuannya dan akhirnya dieksekusi karena pemalsuan.

 

Charles James Fox, meskipun bertubuh gemuk dan sering tampak berantakan di usia tua, di masa mudanya adalah pemimpin tren Macaroni. Ia pernah kembali dari Prancis mengenakan sepatu tumit merah, pakaian beludru potong Paris, dan wig yang diberi bubuk biru. Meskipun diejek karena berat badannya yang tidak cocok dengan pakaian ketat, ia tidak peduli dan bahkan mengoleksi karikatur dirinya sendiri. Sir Joseph Banks juga mengalami serangan serupa; musuh-musuhnya menggunakan minatnya pada mode masa muda untuk meremehkan pencapaian ilmiahnya di kemudian hari, menunjukkan betapa kuatnya stigma “dilettantisme” yang melekat pada label Macaroni.

Transformasi Menuju Dandyism: Warisan Beau Brummell

Memasuki akhir 1770-an dan awal 1780-an, subkultur Macaroni mulai memudar. Perang Amerika yang berkepanjangan dan krisis ekonomi membuat gaya hidup yang sangat boros dan terlihat asing menjadi tidak populer. Peristiwa penting yang menandai akhir era ini adalah pengenalan pajak bubuk rambut pada tahun 1795 oleh William Pitt yang Muda, yang membuat penggunaan wig berbubuk menjadi sangat mahal dan akhirnya ditinggalkan.

Namun, semangat untuk tampil beda tidak hilang begitu saja; ia bermutasi menjadi gerakan “Dandyism” pada awal abad ke-19, yang dipimpin oleh George Bryan “Beau” Brummell. Transisi ini merupakan pergeseran filosofis dari “kelebihan” menuju “kesederhanaan yang sempurna.”

Perbedaan Filosofis: Macaroni vs. Dandy

Perbedaan antara Macaroni dan Dandy sangat mendasar dalam sejarah maskulinitas. Macaroni adalah seorang “peacock” (burung merak) yang merayakan hiasan, warna-warna berani, dan artifisialitas yang terlihat jelas. Sebaliknya, Dandyisme Brummell memperkenalkan konsep maskulinitas modern yang didasarkan pada:

  1. Restraint (Penahanan Diri): Menghindari warna mencolok dan perhiasan berlebihan. Brummell lebih memilih jas wol biru tua atau hitam dengan potongan yang sangat sempurna.
  2. Hygiene (Kebersihan): Brummell menekankan mandi teratur dan penggunaan linen putih bersih daripada menutupi bau badan dengan parfum dan bunga seperti Macaroni.
  3. Nonchalance (Sprezzatura): Dandy menghabiskan waktu berjam-jam untuk berpakaian (Brummell bisa menghabiskan lima jam untuk mengikat dasi cravat), tetapi tujuannya adalah agar terlihat seolah-olah ia tampil sempurna tanpa usaha sama sekali.
  4. Masculine Silhouette: Mengganti celana lutut sutra (breeches) dengan celana panjang (trousers) dari bahan wol atau kulit rusa (buckskin) yang memberikan kesan lebih tangguh dan urban.

Dandy menganggap Macaroni sebagai sosok yang “ketinggalan zaman” dan konyol karena mereka “mencoba terlalu keras” untuk diperhatikan. Evolusi ini menandai apa yang oleh psikolog disebut sebagai “The Great Masculine Renunciation,” di mana pria secara massal meninggalkan pakaian dekoratif demi fungsionalitas dan keseragaman yang kemudian menjadi standar jas pria modern.

Kesimpulan: Refleksi Sosial dan Signifikansi Historis

Meskipun sering dianggap hanya sebagai episode aneh dalam sejarah mode, subkultur Macaroni memberikan wawasan yang sangat kaya tentang dinamika sosial Inggris abad ke-18. Mereka adalah pionir dalam mengeksplorasi identitas melalui konsumsi komoditas dan performa tubuh di ruang publik. Fenomena ini membuktikan bahwa pakaian tidak pernah netral; ia selalu bermuatan politik, gender, dan identitas nasional.

Macaroni menantang tatanan yang kaku dengan cara mengadopsi elemen asing dan feminin, memaksa masyarakat untuk menghadapi ambiguitas gender mereka sendiri. Meskipun mereka akhirnya dikalahkan oleh estetika Dandy yang lebih konservatif dan “maskulin,” warisan mereka tetap hidup dalam setiap gerakan subkultur anak muda yang menggunakan penampilan ekstrem sebagai bentuk pemberontakan atau ekspresi diri yang unik. Sebagai “hipster” pertama dalam sejarah modern, Macaroni mengingatkan kita bahwa pertempuran untuk mendefinisikan maskulinitas dan gaya pribadi adalah proses yang terus berlanjut dan selalu dipengaruhi oleh arus globalisasi, politik, dan ekonomi. Karikatur yang mengejek mereka, lagu yang menghina mereka, dan hukum yang menekan mereka justru menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh yang mereka miliki dalam mengguncang fondasi masyarakat pada masanya.