Loading Now

Nellie Bly: Melampaui Fiksi dan Menaklukkan Waktu

Transformasi Paradigma Penjelajahan: Integrasi Kecepatan dan Minimalisme di Era Victoria

Pada akhir abad ke-19, dunia sedang berada dalam cengkeraman revolusi industri yang tidak hanya mengubah lanskap ekonomi tetapi juga persepsi manusia terhadap waktu dan ruang. Tahun 1889 menjadi titik balik krusial ketika jurnalisme investigasi bersinggungan dengan imajinasi sastra melalui sosok Elizabeth Jane Cochrane, yang lebih dikenal dengan nama pena Nellie Bly. Terinspirasi oleh mahakarya Jules Verne tahun 1873, Around the World in Eighty Days, Bly mengusulkan sebuah proyek yang pada saat itu dianggap mustahil bagi seorang wanita: mengelilingi bola dunia dalam waktu kurang dari delapan puluh hari, seorang diri, dan tanpa pengawal pria. Ambisi ini bukan sekadar upaya untuk memecahkan rekor waktu, melainkan sebuah eksperimen sosiologis radikal mengenai ketahanan manusia dan penolakan terhadap norma-norma Victoria yang membatasi mobilitas perempuan.

Analisis terhadap perjalanan Bly mengungkapkan bahwa keberhasilannya tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi transportasi seperti kapal uap dan kereta api, tetapi lebih pada adopsi filosofi minimalisme yang ekstrem. Di era di mana status sosial seorang wanita sering kali diukur dari jumlah koper dan kerumitan pakaiannya, Bly memilih untuk berangkat hanya dengan satu tas kecil dan satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Keputusan ini menghancurkan prasangka bahwa perempuan secara intrinsik tidak mampu bepergian dengan efisien atau mandiri. Keberhasilan Bly kembali dalam waktu 72 hari, 6 jam, dan 11 menit membuktikan bahwa hambatan terbesar bagi penjelajah bukanlah jarak geografis ribuan mil, melainkan akumulasi keraguan sosial dan beban material yang tidak perlu.

Konstruksi Karakter: Evolusi Elizabeth Jane Cochrane menjadi Nellie Bly

Akar dari determinasi tanpa kompromi yang ditunjukkan oleh Bly dapat ditelusuri kembali ke masa kecilnya di Cochran’s Mills, Pennsylvania. Lahir pada 5 Mei 1864, Elizabeth tumbuh dalam kemewahan awal yang disediakan oleh ayahnya, Hakim Michael Cochran. Namun, kematian mendadak ayahnya tanpa meninggalkan surat wasiat ketika Elizabeth baru berusia enam tahun memicu keruntuhan finansial keluarga. Pengalaman menyaksikan ibunya terjebak dalam pernikahan kedua yang kasar demi stabilitas ekonomi menjadi katalisator bagi Elizabeth untuk bersumpah bahwa ia akan mandiri secara finansial dan tidak akan pernah bergantung pada siapa pun.

Karier jurnalistiknya dimulai dengan sebuah tindakan pemberontakan intelektual. Setelah membaca kolom di Pittsburgh Dispatch yang meremehkan kemampuan wanita, ia menulis surat tanggapan yang begitu tajam dan berwawasan sehingga editor George Madden segera menawarinya pekerjaan. Mengadopsi nama “Nellie Bly” dari lagu populer karya Stephen Foster, ia dengan cepat melampaui tugas-tugas penulisan tradisional untuk wanita seperti mode atau gosip, dan mulai fokus pada isu-isu sosial yang berat. Sebelum perjalanannya yang terkenal, Bly telah mengukuhkan reputasinya melalui aksi jurnalisme penyamaran yang legendaris di Blackwell’s Island, di mana ia berpura-pura gila untuk mengungkap kekejaman di rumah sakit jiwa wanita. Pengalaman ini membentuk filosofi hidupnya bahwa “energi yang diterapkan secara tepat dapat mencapai apa saja,” sebuah mantra yang menjadi bahan bakar bagi ambisinya untuk mengalahkan imajinasi Jules Verne.

Tantangan Terhadap Skeptisisme Institusional

Gagasan untuk mengelilingi dunia muncul dalam benak Bly pada tahun 1888 sebagai sebuah cara untuk menguji batas jurnalisme dan kecepatan manusia. Namun, ketika ia mengajukan ide tersebut kepada editornya di New York World, ia disambut dengan keraguan yang mendalam yang berakar pada bias gender era Victoria. Editor tersebut berargumen bahwa seorang wanita memerlukan pengawal pria, akan membawa terlalu banyak bagasi, dan tidak akan mampu menangani kerasnya perjalanan internasional seorang diri. Secara eksplisit, ia menyatakan, “Tidak ada orang selain pria yang bisa melakukan ini”.

Respons Bly terhadap skeptisisme ini menunjukkan ketajaman strategisnya. Ia menantang institusinya dengan mengancam akan melakukan perjalanan tersebut untuk publikasi saingan jika permintaannya ditolak. Ancaman ini, dikombinasikan dengan reputasi keberhasilannya dalam laporan-laporan sebelumnya, akhirnya memaksa Joseph Pulitzer untuk memberikan persetujuan. Namun, tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai: ia harus membuktikan secara logistik bahwa seorang wanita bisa bepergian lebih cepat daripada pria mana pun dengan cara meminimalkan kebutuhan fisiknya hingga ke tingkat yang paling dasar.

Filosofi Minimalisme: Tas Kecil dan Gaun Ikonik

Salah satu aspek yang paling banyak dibicarakan dari persiapan Bly adalah penolakannya terhadap koper besar yang biasa dibawa oleh pelancong kelas atas saat itu. Ia mengunjungi Ghormley’s, penjahit di Fifth Avenue, untuk memesan gaun perjalanan tunggal yang terbuat dari wol biru tua dan kain rambut unta (camel’s hair) yang tahan lama. Pakaian ini dirancang bukan untuk keanggunan statis, melainkan untuk mobilitas dinamis di berbagai zona iklim.

Sebagai pengganti peti-peti besar, Bly hanya membawa sebuah gripsack (tas jinjing) berukuran 16 x 7 inci. Pilihan ini merupakan pernyataan politik sekaligus praktis; tas tersebut melambangkan kemandirian dan penolakan terhadap kesia-siaan material yang sering dikaitkan dengan feminitas Victoria. Bly mencatat bahwa “masalah bagasi menjadi sangat sederhana jika seseorang bepergian murni untuk perjalanan itu sendiri, bukan untuk mengesankan rekan penumpang”.

Kategori Item Detail Perlengkapan Nellie Bly (Tas 16″ x 7″) Signifikansi
Pakaian Utama Satu gaun wol biru, satu mantel uster (overcoat), dan satu selendang sutra. Ketahanan terhadap cuaca ekstrem dan kemudahan gerak.
Aksesori Dua topi perjalanan, tiga kerudung (veils), dan sepasang selop. Perlindungan dari debu kereta api dan kenyamanan di kapal.
Alat Tulis Wadah tinta, pena, pensil, dan kertas salinan. Memungkinkan pelaporan langsung dari lokasi mana pun.
Perlengkapan Mandi Alat toilet lengkap, sabun, dan stoples besar krim dingin (cold cream). Menjaga higienitas dasar tanpa memerlukan meja rias besar.
Lainnya Flask kecil, cangkir minum, jarum, benang, dan perhiasan keberuntungan. Kebutuhan darurat dan simbolisme psikologis.

Keberanian Bly untuk membatasi dirinya pada daftar item di atas menghancurkan narasi “kerapuhan wanita”. Ia bahkan membawa uang dalam jumlah besar—200 poundsterling emas Inggris dan uang kertas Amerika—yang disimpan dalam tas kulit kecil di lehernya, memastikan bahwa ia memiliki sumber daya finansial yang dapat diakses secara instan tanpa bantuan pihak ketiga.

Kronologi Perjalanan: Menaklukkan Samudra dan Benua

Perjalanan dimulai tepat pada pukul 09:40:30 pagi pada hari Kamis, 14 November 1889, ketika kapal uap Augusta Victoria melepaskan talinya dari dermaga Hoboken, New Jersey. Penandaan waktu hingga ke detik menunjukkan obsesi baru era tersebut terhadap presisi dan efisiensi waktu. Bly tidak hanya bersaing dengan jarak, tetapi juga dengan jam dinding.

Penyeberangan Atlantik dan Pertemuan dengan Sang Pencipta Fiksi

Tujuh hari pertama perjalanan dihabiskan untuk menyeberangi Samudra Atlantik menuju London. Meskipun menderita mabuk laut yang parah, Bly menolak untuk membiarkan kelemahan fisik menghambat kemajuannya. Sesampainya di London, ia menghadapi keputusan strategis yang berisiko: mengambil deviasi waktu dari rute utamanya untuk mengunjungi Jules Verne di rumahnya di Amiens, Prancis. Undangan ini merupakan sebuah kehormatan besar, namun bagi seorang penjelajah yang berpacu dengan waktu, setiap jam sangatlah berharga.

Bly memutuskan untuk mengambil risiko tersebut, mengorbankan dua malam waktu tidur untuk bertemu dengan pria yang imajinasinya telah melahirkan misi tersebut. Pertemuan di Amiens pada 22 November 1889 merupakan momen simbolis di mana fiksi bertemu dengan realitas. Verne, yang saat itu berusia 61 tahun, bersama istrinya Honorine, menyambut Bly dengan kehangatan yang luar biasa. Verne menunjukkan peta perjalanan Phileas Fogg di dindingnya dan mencatat kemajuan Bly dengan penuh minat. Meskipun awalnya ragu, Verne memberikan dukungannya yang terkenal: “Jika Anda melakukannya dalam 79 hari, saya akan bertepuk tangan dengan kedua tangan”. Pertemuan ini memberikan dorongan moral yang signifikan bagi Bly, mengonfirmasi bahwa misinya memiliki resonansi global yang melampaui sekadar aksi surat kabar.

Melintasi Gerbang Timur: Terusan Suez dan Aden

Dari Prancis, Bly menempuh perjalanan darat melalui kereta api melintasi Eropa menuju Brindisi, Italia, tempat ia menaiki kapal uap untuk menuju Mesir. Bagian perjalanan ini menonjolkan peran krusial Terusan Suez sebagai arteri utama perdagangan dan transportasi dunia saat itu. Bly memberikan deskripsi yang mendalam tentang konstruksi kanal tersebut dan biayanya dalam nyawa manusia, menunjukkan perspektif jurnalisnya yang tajam di tengah kesibukan perjalanannya.

Di pelabuhan Aden, Yaman, Bly mendapati dirinya berada di tengah hiruk-pikuk budaya yang sangat kontras dengan kemapanan New York atau London. Ia mengamati pedagang lokal yang menawarkan perhiasan dan bulu burung unta, serta ketegasan polisi Inggris dalam menjaga ketertiban kolonial. Pengamatannya tentang wanita Aden yang mengenakan perhiasan mewah meskipun tampak miskin memberikan gambaran tentang sosiologi lokal yang ia serap dengan kecepatan tinggi. Meskipun jadwalnya sangat ketat, Bly tetap mampu menghasilkan tulisan yang kaya akan detail antropologis.

Persaingan yang Tak Terduga: Elizabeth Bisland dan Perang Sirkulasi

Salah satu dinamika paling menarik dari narasi ini adalah munculnya pesaing yang tidak disadari oleh Bly hingga ia mencapai Hong Kong. John Brisben Walker, pemilik majalah Cosmopolitan, melihat potensi publisitas dari perjalanan Bly dan memutuskan untuk mengirim jurnalisnya sendiri, Elizabeth Bisland, untuk mengelilingi dunia ke arah yang berlawanan (Barat) di hari yang sama dengan keberangkatan Bly. Ini mengubah perjalanan solo Bly menjadi perlombaan transkontinental antara dua wanita dan dua filosofi jurnalisme yang berbeda.

Dua Wanita, Dua Arah, Dua Gaya

Elizabeth Bisland adalah seorang kritikus buku dan penulis yang memiliki temperamen lebih tenang dan sastrawi dibandingkan dengan Bly yang agresif dan berorientasi pada investigasi. Bisland berangkat dengan kereta api menuju San Francisco pada malam 14 November 1889, membawa lebih banyak bagasi daripada Bly—termasuk sebuah peti uap (steamer trunk) dan tas Gladstone besar.

Aspek Perbandingan Nellie Bly (The World) Elizabeth Bisland (Cosmopolitan)
Titik Awal Jersey City/Hoboken (Arah Timur) New York City (Arah Barat)
Motivasi Membuktikan kemampuan wanita & mengalahkan rekor fiksi. Penugasan mendadak untuk menyaingi The World.
Logistik Bagasi Satu tas kecil 16×7 inci; minimalis ekstrem. Satu peti uap, tas besar, dan selendang; lebih konvensional.
Koneksi Transportasi Mengandalkan kapal uap reguler & kereta api. Mengandalkan kapal uap reguler & bantuan khusus di akhir.
Waktu Penyelesaian 72 Hari, 6 Jam, 11 Menit. 76 Hari.

Persaingan ini memicu demam global. Surat kabar The World memanfaatkan situasi ini dengan menyelenggarakan “Bly Guessing Match,” sebuah kompetisi bagi pembaca untuk menebak waktu kedatangan Bly hingga ke detik, dengan hadiah berupa perjalanan ke Eropa. Ini merupakan salah satu taktik pemasaran sirkulasi paling sukses dalam sejarah media, yang membuat nama Nellie Bly menjadi kata yang umum di setiap rumah tangga di Amerika.

Krisis di Hong Kong

Ketika Bly tiba di Hong Kong pada 23 Desember 1889, ia disambut dengan berita yang menghancurkan moralnya: ia diberi tahu bahwa Bisland telah melewati kota itu tiga hari sebelumnya dan tampaknya akan menang. Respons Bly mencerminkan integritas pribadinya. Alih-alih merasa kalah, ia menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk memenuhi janjinya melakukan perjalanan dalam 75 hari. Ketabahan mental ini diuji ketika ia harus menunggu selama lima hari di Hong Kong untuk kapal berikutnya menuju Jepang—sebuah penundaan yang disebabkan oleh cuaca buruk dan jadwal yang tidak sinkron.

Segmen Asia dan Pasifik: Keindahan dan Tantangan Logistik

Di tengah tekanan persaingan, Bly terus memberikan laporan tentang tempat-tempat yang ia kunjungi. Di Singapura, ia melakukan pembelian yang paling tidak biasa dalam perjalanannya: seekor monyet kecil yang dinamainya McGinty. Tindakan ini menunjukkan sisi kemanusiaan dan keinginan untuk memiliki pendamping dalam kesendirian perjalanannya yang panjang. Namun, perjalanannya melalui Asia juga diwarnai dengan pengamatan terhadap sisi gelap kolonialisme dan kemiskinan, termasuk kunjungan singkat ke koloni penderita kusta di Tiongkok yang membuatnya sangat terharu.

Jepang sebagai Paradoks Estetika

Setelah meninggalkan Hong Kong, Bly tiba di Yokohama, Jepang, pada awal Januari 1890. Kesannya terhadap Jepang sangat positif, kontras dengan pandangannya yang lebih kritis terhadap Tiongkok. Ia memuji kebersihan, kesopanan, dan keindahan artistik masyarakat Jepang, bahkan menyatakan bahwa ia merasa sangat damai di sana. Ia menggambarkan anak-anak Jepang yang “selalu tampak bahagia” dan memuji dedikasi masyarakatnya terhadap seni dan keindahan. Kekaguman ini memberikan wawasan tentang preferensi budaya Bly yang menghargai ketertiban dan estetika di tengah kekacauan perjalanan yang cepat.

Namun, tantangan terbesar berikutnya menanti: penyeberangan Samudra Pasifik menuju San Francisco. Kapal uap Oceanic yang ia tumpangi harus menghadapi badai musim dingin yang dahsyat. Kedatangannya di San Francisco pada 21 Januari 1890 tertunda dua hari dari jadwal semula karena cuaca buruk, memicu kekhawatiran bahwa ia mungkin akan kehilangan rekor 80 harinya.

Leg Terakhir: “Miss Nellie Bly Special” dan Kemenangan Teknologi

Ketika kapal Oceanic berlabuh di San Francisco, Bly disambut sebagai pahlawan nasional. Namun, tantangan terakhir adalah menempuh jarak ribuan mil dari pantai Barat ke pantai Timur Amerika Serikat di tengah musim dingin yang melumpuhkan banyak jalur kereta api reguler. Joseph Pulitzer, menyadari bahwa kemenangan Bly adalah kemenangan bagi surat kabarnya, memutuskan untuk melakukan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya: mencarter kereta api pribadi yang didedikasikan sepenuhnya untuk membawa satu orang jurnalis pulang.

Rekor di Atas Rel

“Miss Nellie Bly Special” dioperasikan oleh Atchison, Topeka and Santa Fe Railway. Kereta ini bukan sekadar alat transportasi; itu adalah laboratorium kecepatan di atas rel. Dalam upaya untuk melewati badai salju yang telah menghentikan kereta-kereta lainnya di Sierra Nevada, masinis kereta ini diperintahkan untuk mengabaikan batasan kecepatan normal.

Bly, yang tidak pernah puas hanya dengan menjadi penumpang, menghabiskan waktu di kabin masinis, belajar tentang cara kerja throttle dan mekanisme mesin uap. Keberaniannya ini memperkuat citranya sebagai wanita modern yang tidak takut pada teknologi mesin yang biasanya dianggap sebagai domain pria.

Segmen Perjalanan Kereta Jarak (Mil) Waktu Tempuh Catatan
San Francisco ke Chicago 2.577 69 Jam Kecepatan rata-rata 37 mph, memecahkan semua rekor lintas benua.
Mohave ke Albuquerque 815 25 Jam Berhasil melewati wilayah yang dilanda badai salju ekstrem.
Kansas City ke New Jersey Sisa Perjalanan Disambut oleh kerumunan di setiap stasiun sepanjang rute.

Laju kereta ini menjadi berita utama di seluruh negeri. Di setiap kota yang dilewati, ribuan orang berkumpul hanya untuk melihat sekilas kereta yang membawa jurnalis paling terkenal di dunia itu. Ketika kereta akhirnya menarik diri ke stasiun Jersey City pada pukul 15:51 sore, 25 Januari 1890, suara tembakan meriam menyambut kedatangan Bly. Ia telah mencapai apa yang dianggap fiksi oleh banyak orang: ia telah menaklukkan waktu.

Analisis Sosiologis: Dampak Terhadap Peran Wanita dan Jurnalisme

Keberhasilan Nellie Bly memiliki implikasi yang jauh melampaui statistik perjalanan. Secara sosiologis, perjalanannya merupakan serangan frontal terhadap struktur patriarki era Victoria yang membatasi ruang gerak perempuan.

Menghancurkan Mitos Chaperone

Pada tahun 1889, etiket sosial menetapkan bahwa seorang wanita terhormat tidak boleh bepergian tanpa pendamping pria atau pengawal (chaperone). Melanggar aturan ini sering kali berakibat pada rusaknya reputasi seorang wanita. Bly tidak hanya bepergian tanpa pengawal, tetapi ia melakukannya secara publik dan dengan tujuan yang berani. Keberhasilannya membuktikan bahwa seorang wanita mampu menjaga dirinya sendiri di lingkungan asing, mengelola keuangan, dan menghadapi krisis tanpa bantuan pria. Ini memberikan fondasi bagi konsep “New Woman” yang akan mendominasi diskursus feminisme di awal abad ke-20.

Minimalisme sebagai Alat Pemberdayaan

Pilihan Bly untuk bepergian dengan hanya satu tas kecil menantang industri mode dan norma sosial yang memaksakan konsumsi berlebih pada wanita. Dengan menunjukkan bahwa seorang wanita bisa tetap berfungsi secara profesional dan sosial dengan perlengkapan minimal, ia membebaskan wanita dari beban fisik dan finansial yang sering menghambat keinginan mereka untuk mengeksplorasi dunia. Ia menyatakan bahwa “energi yang tepat,” bukan bagasi yang banyak, adalah kunci kesuksesan.

Jurnalisme Aksi dan Kelahiran Selebritas Modern

Secara profesional, Bly memelopori bentuk jurnalisme di mana reporter itu sendiri menjadi bagian dari narasi berita. Ini adalah awal dari jurnalisme “stunt” atau aksi yang bertujuan untuk menarik perhatian publik sekaligus menyampaikan pesan sosial. Popularitasnya yang meledak setelah perjalanan tersebut—tercermin dalam lagu-lagu, permainan papan, dan penggunaan citranya untuk iklan—menunjukkan lahirnya budaya selebritas modern yang kita kenal sekarang.

Perbandingan Hasil Akhir: Mengapa Bly Menang?

Jika kita membandingkan perjalanan Bly dan Bisland, kita melihat bahwa kemenangan Bly tidak hanya ditentukan oleh keberuntungan cuaca, tetapi juga oleh dukungan institusional yang lebih kuat. Joseph Pulitzer bersedia menginvestasikan ribuan dolar untuk mencarter kereta api khusus guna memastikan Bly tiba tepat waktu, sebuah sumber daya yang tidak tersedia bagi Bisland yang bekerja untuk majalah bulanan yang lebih kecil.

Selain itu, filosofi perjalanan Bly yang lebih agresif dan fokus pada kecepatan memberikan keunggulan kompetitif. Bisland, meskipun berani, memperlakukan perjalanan tersebut dengan pendekatan yang lebih kontemplatif dan sastrawi, yang mungkin membuatnya kurang mendesak dalam mengejar setiap menit koneksi transportasi. Kegagalan Bisland untuk mengejar kapal uap Ems di Inggris karena pembatalan jadwal adalah pukulan terakhir yang memberinya kekalahan, sementara Bly terus memacu kecepatan di daratan Amerika.

Warisan Abadi: Nellie Bly dalam Memori Kolektif

Perjalanan 72 hari Nellie Bly tetap menjadi salah satu pencapaian paling luar biasa dalam sejarah jurnalisme dan eksplorasi. Ia tidak hanya mengalahkan rekor waktu fiksi Jules Verne, tetapi juga memperluas batas-batas apa yang dianggap mungkin bagi seorang wanita di abad ke-19.

Buku yang ditulisnya sekembalinya, Around the World in Seventy-Two Days, menjadi buku terlaris yang memberikan catatan rinci tentang perjalanannya. Namun, warisannya yang paling nyata adalah perubahan dalam persepsi masyarakat. Ia membuktikan bahwa hambatan terbesar bagi kemajuan bukanlah jarak ribuan mil melintasi lautan, melainkan prasangka dan keraguan yang tertanam dalam pikiran orang lain.

Hingga hari ini, nama Nellie Bly identik dengan keberanian, kecerdikan, dan ketahanan. Ia adalah pengingat bahwa dengan “energi yang diterapkan secara tepat,” seseorang tidak hanya dapat melampaui fiksi, tetapi juga dapat mendefinisikan ulang realitas bagi generasi mendatang. Perjalanannya tetap menjadi mercusuar bagi siapa pun yang ingin menantang status quo dan membuktikan bahwa batas-batas yang ditetapkan oleh masyarakat hanyalah ilusi yang menunggu untuk dipatahkan oleh tekad yang kuat.

Kesimpulan: Kemenangan Energi Atas Keraguan

Nellie Bly mengakhiri perjalanannya di Jersey City sebagai simbol kemenangan atas skeptisisme. Dari penolakan awal editornya hingga tantangan fisik badai di Pasifik dan persaingan rahasia dengan Elizabeth Bisland, Bly tetap teguh pada misinya. Penggunaan teknologi komunikasi telegraf dan transportasi uap yang dipadukan dengan gaya hidup minimalis memberikan keunggulan teknis yang memungkinkannya memecahkan rekor dunia.

Pencapaiannya dalam 72 hari, 6 jam, dan 11 menit adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik sering kali hanyalah manifestasi dari keterbatasan mental yang dipaksakan oleh lingkungan sosial. Nellie Bly tidak hanya mengelilingi dunia; ia membuka dunia tersebut bagi setiap wanita yang pernah diberi tahu bahwa mereka “tidak bisa” melakukannya. Dengan hanya satu tas kecil dan keyakinan yang tak tergoyahkan, ia membuktikan bahwa dunia sesungguhnya jauh lebih kecil daripada keberanian manusia yang ingin menaklukkannya.