Dunia di Atas Roda Raksasa: Nekatnya Thomas Stevens Menantang Logika
Eksplorasi global pada akhir abad ke-19 sering kali dipahami melalui lensa ekspedisi militer yang didanai negara, misi ilmiah yang kaku, atau upaya penginjilan yang sistematis. Namun, di tengah narasi besar kolonialisme dan penemuan geografis tersebut, muncul sebuah anomali yang menantang segala bentuk logika transportasi dan ketahanan manusia pada masanya. Thomas Stevens, seorang imigran Inggris-Amerika, memulai sebuah perjalanan yang tidak hanya mendefinisikan ulang batas-batas olahraga, tetapi juga menciptakan preseden baru dalam literatur perjalanan dan pertemuan lintas budaya. Dengan mengendarai sepeda tinggi atau penny-farthing, sebuah mesin yang secara mekanis tidak stabil dan secara ergonomis berbahaya, Stevens menempuh jarak lebih dari 13.500 mil melintasi tiga benua. Analisis ini bertujuan untuk membedah bagaimana sebuah objek yang pada masa itu dianggap oleh masyarakat elit Eropa sebagai mainan atau alat rekreasi santai, bertransformasi menjadi “kendaraan ajaib” yang mampu melintasi batas-batas budaya yang belum terjamah dan menembus isolasi geografis yang ekstrem.
Paradoks Modernitas: Sepeda Tinggi sebagai Simbol Kemajuan dan Kegilaan
Pada dekade 1880-an, dunia sedang berada dalam cengkeraman revolusi industri kedua. Inovasi mekanis berkembang pesat, dan sepeda tinggi—yang dikenal sebagai Ordinary atau High-wheeler—muncul sebagai puncak pencapaian rekayasa kendaraan bertenaga manusia. Namun, penerimaan publik terhadap kendaraan ini sangat terbelah. Di satu sisi, sepeda dianggap sebagai lambang kemajuan (emblem of Progress) dan kebebasan individu. Di sisi lain, para kritikus dan media arus utama memandang penggunaan sepeda untuk perjalanan jarak jauh sebagai tindakan yang tidak waras. The Chicago Daily News, misalnya, mengejek efisiensi perjalanan Stevens dengan menyatakan bahwa pengalaman tersebut tidak menunjukkan keunggulan sepeda dibandingkan dengan tim lembu kelas satu.
Ketidakpraktisan ini berakar pada desain mekanis penny-farthing itu sendiri. Dengan roda depan yang mencapai diameter 50 inci atau lebih, kendaraan ini menawarkan kecepatan tinggi karena setiap putaran pedal setara dengan jarak tempuh yang jauh, tetapi dengan biaya stabilitas yang sangat mahal. Pusat gravitasi yang sangat tinggi membuat pengendara rentan terhadap kecelakaan “header”, di mana gangguan kecil pada jalan dapat melemparkan pengendara melampaui stang dan mendarat dengan kepala terlebih dahulu dari ketinggian lima kaki. Dalam konteks ini, rencana Stevens untuk mengelilingi dunia dengan alat tersebut tidak hanya dilihat sebagai tantangan fisik, tetapi juga sebagai penyimpangan terhadap logika keamanan dan kegunaan teknologi pada masanya.
Arsitektur Roda Raksasa: Columbia 50-inci dan Mekanika Perjalanan
Kendaraan yang dipilih oleh Stevens adalah Columbia 50-inci Standard, sebuah produk dari Pope Manufacturing Company yang berbasis di Chicago. Sepeda ini mewakili teknologi terbaik yang tersedia sebelum kemunculan “safety bicycle” yang lebih modern pada akhir 1880-an. Stevens memperoleh sepeda ini dengan biaya sekitar $110, nilai yang setara dengan enam bulan upah pekerja rata-rata saat itu, menjadikannya sebuah simbol status sekaligus alat petualangan yang mahal.
| Spesifikasi Teknis | Detail Komponen dan Material |
| Kerangka Utama | Baja berongga untuk mengurangi bobot total. |
| Roda Depan | Diameter 50 inci dengan jari-jari nikel dan ban karet padat. |
| Roda Belakang | Diameter kecil (sekitar 12-16 inci) sebagai penyeimbang. |
| Sistem Penggerak | Pedal yang terhubung langsung ke poros roda depan (direct drive). |
| Bantalan | Menggunakan ball bearings untuk efisiensi rotasi. |
| Rem | Hampir tidak memiliki rem mekanis yang efektif untuk turunan tajam. |
| Berat | Sekitar 48 pon (21,7 kg). |
Ketiadaan sistem gigi dan rantai berarti bahwa setiap inci kemajuan bergantung sepenuhnya pada kekuatan kaki pengendara, sementara ban karet padat tanpa suspensi membuat setiap lubang atau batu di jalan terasa langsung oleh tubuh pengendara, memberikan julukan “bone-shaker” atau penghancur tulang bagi kendaraan jenis ini. Stevens memulai perjalanannya dengan pengetahuan teknis yang minimal; ia bahkan dilaporkan baru mempelajari dasar-dasar bersepeda hanya beberapa minggu sebelum berangkat dari San Francisco.
Filosofi Minimalisme: Logistik dan Perlengkapan Seorang Penjelajah Solo
Salah satu aspek yang paling mencolok dari perjalanan Thomas Stevens adalah penolakannya terhadap logistik yang berat. Berbeda dengan penjelajah sezamannya yang sering kali membawa karavan barang dan pengawal, Stevens memilih pendekatan yang sangat minimalis. Strategi ini bukan hanya karena keterbatasan ruang pada sepeda tinggi, tetapi juga mencerminkan filosofi kemandirian yang ekstrem. Ia hanya membawa barang-barang yang dapat dimuat di dalam tas stang kecil dan di bawah sadelnya.
Perlengkapan yang dibawa Stevens meliputi satu kemeja cadangan, kaus kaki, dan sebuah jas hujan ringan yang berfungsi ganda sebagai tenda dan alas tidur. Pilihan ini menunjukkan pemahaman yang mendalam—atau mungkin kenekatan yang luar biasa—tentang risiko paparan cuaca. Selain itu, ia membawa sebuah revolver saku, yang sering digambarkan sebagai “bull-dog revolver” kaliber.38, sebagai satu-satunya alat pertahanan diri melawan ancaman manusia maupun hewan liar. Pilihan senjata ini terbukti krusial dalam menghadapi gangguan di wilayah perbatasan Amerika dan ancaman bandit di wilayah Anatolia serta Kurdistan.
Ketergantungan Stevens pada kebaikan hati orang asing merupakan bagian integral dari metodologi perjalanannya. Karena tidak membawa persediaan makanan atau air yang cukup, ia terpaksa mencari perlindungan dan asupan nutrisi di setiap desa yang ia lalui, sebuah praktik yang kemudian memungkinkannya untuk melakukan interaksi budaya yang mendalam dan intim, yang sering kali terlewatkan oleh penjelajah yang lebih formal. Stevens tidak hanya melintasi lanskap, ia masuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang ia temui, menggunakan sepedanya sebagai pembuka percakapan dan sumber keajaiban bersama.
Eksperimen Lintas Benua: Ujian Pertama di Tanah Amerika (1884)
Perjalanan epik Stevens dimulai pada 22 April 1884, pukul 8 pagi, ketika ia meninggalkan San Francisco dengan feri menuju Oakland untuk memulai perjalanan lintas benua menuju Boston. Leg Amerika ini berfungsi sebagai ujian ketahanan primer yang membuktikan bahwa sepeda tinggi dapat digunakan melampaui jalur taman kota yang mulus. Jarak tempuh sekitar 3.700 mil ini diselesaikan dalam waktu 103,5 hari, sebuah prestasi yang melampaui upaya tujuh pesepeda sebelumnya yang semuanya gagal dalam misi serupa.
Navigasi di Wilayah Tanpa Jalan: Sierra Nevada dan Gurun
Tantangan terbesar di Amerika Serikat bukanlah jarak, melainkan ketiadaan infrastruktur jalan. Di wilayah barat, Stevens sering kali harus mengikuti jalur kereta api Central Pacific sebagai satu-satunya rute yang dapat dilalui. Hal ini membawanya ke dalam pertemuan berbahaya dengan “monster pemuntah asap” di dalam terowongan pelindung salju (snowsheds) yang gelap dan sesak di Pegunungan Sierra Nevada. Stevens harus meraba jalan dalam kegelapan yang dapat dirasakan, menempel pada dinding setiap kali kereta lewat, dan sesekali memanggul sepedanya melewati tumpukan salju yang menutupi jalur.
Statistik menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga rute lintas Amerika ini sebenarnya ditempuh dengan berjalan kaki, mendorong atau memanggul sepeda seberat 48 pon tersebut melewati gunung dan pasir gurun. Di Nevada, ia harus melintasi Gurun 40 Mil yang legendaris, sebuah wilayah yang biasanya dihindari oleh para pengelana karena panasnya yang mematikan dan ketiadaan sumber air. Pengalaman di Amerika ini menanamkan rasa percaya diri pada Stevens bahwa ketangguhan mental dan “iron will” (keinginan baja) dapat mengatasi keterbatasan mekanis kendaraan.
| Milestones Perjalanan Amerika (1884) | Catatan dan Lokasi Penting |
| Titik Awal | San Francisco (Oakland), 22 April 1884. |
| Tantangan Pegunungan | Sierra Nevada (Snowsheds, Donner Summit). |
| Ancaman Satwa Liar | Menghadapi singa gunung di luar Elko, Nevada. |
| Sambutan Komunitas | Klub sepeda Laramie, Wyoming dan League of American Wheelmen. |
| Titik Akhir | Boston, 4 Agustus 1884 (103,5 hari perjalanan). |
Setibanya di Boston, Stevens telah bertransformasi dari seorang pengelana tanpa nama menjadi selebriti internasional. Media seperti Harper’s Magazine mulai melaporkan petualangannya, dan ia segera mendapatkan kontrak sebagai koresponden khusus untuk majalah Outing, yang kemudian mendanai sisa perjalanan dunianya. Dukungan dari Albert Pope, pendiri Pope Manufacturing Company, juga memperkuat posisinya sebagai duta informal dari industri sepeda Amerika yang sedang tumbuh.
Melampaui Batas Budaya: Sepeda sebagai Objek Diplomasi di Eropa dan Balkan
Setelah menghabiskan musim dingin di New York untuk mendokumentasikan perjalanannya, Stevens berlayar menuju Liverpool pada April 1885. Di Inggris, ia disambut oleh kerumunan pesepeda yang antusias, mencerminkan popularitas olahraga ini di tanah kelahirannya. Namun, transisi dari budaya Barat ke Timur dimulai saat ia melintasi benua Eropa menuju Konstantinopel.
Perjalanan melalui Jerman, Austria, dan Hungaria relatif lancar, dengan jalan-jalan yang lebih baik dibandingkan Amerika. Namun, saat memasuki wilayah Balkan seperti Serbia dan Bulgaria, Stevens mulai merasakan pergeseran persepsi masyarakat terhadap dirinya. Di Belgrade, ia bertemu dengan klub sepeda lokal yang baru dibentuk, menunjukkan bahwa pengaruh teknologi ini mulai merembes ke wilayah timur Eropa. Namun, di wilayah pedesaan, kemunculan seorang pria yang bertengger di atas roda raksasa sering kali dianggap sebagai pemandangan supernatural atau sirkus yang aneh.
Sepeda Tinggi di Gerbang Timur: Tantangan di Anatolia
Memasuki wilayah Ottoman di Asia Kecil (Turki), sepeda Stevens berhenti menjadi sekadar alat transportasi dan mulai berfungsi sebagai instrumen provokasi budaya. Penduduk desa di Anatolia, yang belum pernah melihat kendaraan roda dua, menyebutnya sebagai “araba” (kereta) yang ajaib. Stevens mencatat bahwa ia sering dipaksa oleh kerumunan massa untuk memberikan demonstrasi bersepeda sebelum ia diizinkan makan atau beristirahat di penginapan (khan).
Ketegangan muncul ketika otoritas lokal dan pemuka agama mencoba menafsirkan keberadaan mesin tersebut. Ada momen di mana seorang pria tua menyebut Stevens sebagai “Pasha Effendi” karena kekagumannya, sementara yang lain berargumen bahwa hanya orang asing yang bersekutu dengan setan (Sheitan) yang bisa mengendarai alat yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa dipegangi tersebut. Di Konstantinopel, Stevens mengambil jeda untuk memperbaiki sepedanya, mengganti ban belakang, dan memperoleh revolver Smith & Wesson yang lebih kuat setelah mendengar laporan tentang meningkatnya aktivitas bandit di jalanan menuju Persia.
Diplomasi di Atas Roda: Musim Dingin Bersama Shah Persia
Leg perjalanan melalui Persia (Iran) merupakan salah satu periode paling menarik dalam narasi Stevens. Antara September 1885 dan Maret 1886, ia melintasi lanskap yang gersang dan pegunungan tinggi di Kurdistan dan Iran Utara. Di Teheran, ia mencapai puncak pengakuan sosial ketika ia menjadi tamu pribadi Shah Nasir al-Din.
Shah sangat terpesona oleh sepeda tersebut, memandangnya sebagai representasi dari kecerdasan mekanis Barat yang ingin ia adopsi untuk memodernisasi negaranya. Stevens melakukan demonstrasi di taman istana, menunjukkan kemampuannya untuk berakselerasi dan bermanuver di hadapan elit Persia. Momen ini menyoroti bagaimana sepeda—sebuah benda yang dianggap “mainan” di Eropa—menjadi alat diplomasi tingkat tinggi yang membuka pintu ke kekuasaan absolut di Timur. Selama tinggal di Teheran, Stevens juga berinteraksi dengan komunitas ekspatriat Eropa dan pejabat Rusia, memberikan informasi intelijen informal tentang kondisi jalan dan stabilitas wilayah yang ia lalui.
| Pengalaman Budaya di Persia (1885-1886) | Deskripsi dan Dampak |
| Penerimaan Kerajaan | Menjadi tamu Shah Nasir al-Din selama musim dingin di Teheran. |
| Persepsi Teknologi | Dilaporkan kepada pangeran sebagai mesin yang “tidak bisa berdiri sendiri” tanpa bantuan setan. |
| Adaptasi Musim Dingin | Menunggu cuaca membaik di istana sebelum melanjutkan perjalanan ke arah timur. |
| Perbaikan Kendaraan | Menggunakan pengrajin lokal untuk pemeliharaan rutin ban dan jari-jari roda. |
Geopolitik dan Kebuntuan di Afghanistan: Benturan Roda dan Perbatasan
Ambisi asli Stevens adalah melanjutkan perjalanan dari Persia menuju Rusia dan kemudian melintasi Siberia menuju Vladivostok. Namun, realitas geopolitik abad ke-19, yang didominasi oleh persaingan “Great Game” antara Inggris dan Rusia, menghancurkan rencana tersebut. Otoritas Rusia menolak izin masuknya, memaksa Stevens untuk mencari rute alternatif melalui Afghanistan yang tertutup bagi orang asing.
Pada Maret 1886, Stevens memasuki wilayah Afghanistan meskipun diperingatkan tentang reputasi penjaga perbatasannya yang kejam. Ia segera ditangkap sebagai tersangka mata-mata. Dalam sebuah momen yang hampir surealis, Stevens mencoba melarikan diri dari para penjaganya dengan memacu sepedanya di jalan setapak yang kasar, meninggalkan para prajurit yang berjalan kaki jauh di belakang, sebelum akhirnya dihentikan oleh perwira berkuda.
Kerusakan dan Simbolisme: Sepeda di Tangan Prajurit
Penahanan di Afghanistan menyebabkan kerusakan fisik paling parah pada sepeda Columbia milik Stevens. Karena merasa gugup dan tidak memahami cara kerja mesin tersebut, para prajurit Afghanistan membongkar sepeda itu dan mengikat komponen-komponennya pada seekor kuda beban. Kuda tersebut kemudian menindih roda besar seberat 50 inci, yang mengakibatkan banyak jari-jari nikelnya patah—sebuah metafora fisik dari benturan antara modernitas industri dan resistensi tradisional.
Meskipun pandai besi lokal di Afghanistan mampu melakukan perbaikan darurat dengan mengebor lubang baru dan memasang jari-jari buatan, sepeda tersebut tidak pernah kembali ke kondisi puncaknya. Stevens akhirnya diusir kembali ke perbatasan Persia, yang memaksanya untuk memutar jauh melalui rute laut menuju India untuk menghindari wilayah-wilayah konflik yang tidak bisa ditembus oleh rodanya.
Kemegahan Grand Trunk Road: India sebagai Oasis Kecepatan
Setelah menempuh perjalanan laut yang melelahkan dari Konstantinopel menuju Karachi, Stevens tiba di India pada Agustus 1886. Di sini, ia menemukan sebuah anomali infrastruktur yang sangat kontras dengan medan yang ia hadapi sebelumnya. Grand Trunk Road, sebuah pencapaian rekayasa kolonial Inggris yang membentang dari Peshawar di perbatasan Afghanistan hingga Calcutta, disebut oleh Stevens sebagai “jalan paling megah di dunia untuk bersepeda”.
Di India, sepeda Stevens benar-benar berfungsi sebagai sarana transportasi yang efisien. Meskipun panasnya tak tertahankan, mencapai 130 derajat Fahrenheit, permukaan jalan yang rata dan terawat memungkinkannya untuk menempuh jarak jauh dengan kecepatan yang konsisten. Ia melintasi dataran Punjab dan lembah Gangga, melewati kota-kota kuno seperti Lahore, Delhi, dan Benares, di mana kehadirannya menyebabkan kegemparan besar di kalangan penduduk asli maupun komunitas ekspatriat Inggris.
| Perjalanan di Subkontinen India (1886) | Kondisi dan Temuan |
| Infrastruktur Utama | Grand Trunk Road dari Lahore ke Calcutta (kondisi sempurna). |
| Iklim dan Cuaca | Panas ekstrem mencapai 130°F, memaksa perjalanan dilakukan saat subuh. |
| Keamanan | Relatif bebas dari bandit dibandingkan dengan wilayah Anatolia dan Persia. |
| Interaksi Sosial | Disambut oleh pejabat Inggris dan dikerumuni oleh warga lokal di Benares. |
Pengalaman di India memberikan jeda yang dibutuhkan bagi Stevens sebelum ia menghadapi tantangan paling mematikan di China. Keberhasilan menyeberangi India dengan sepeda juga membuktikan bahwa infrastruktur modern adalah kunci bagi utilitas sepeda sebagai alat transportasi massal di masa depan.
“Setan Asing” dan Hutan Bambu: Krisis di China
Pada akhir 1886, Stevens tiba di wilayah China Selatan (Kanton/Hong Kong) melalui kapal uap dari Calcutta. China terbukti menjadi bagian paling berbahaya dan mengancam jiwa dari seluruh perjalanannya. Berbeda dengan India yang teratur di bawah hukum Inggris, China saat itu sedang dilanda xenofobia yang hebat akibat Perang Sino-Perancis.
Stevens menghadapi hambatan bahasa yang total; ia tidak dapat menanyakan arah, mencari makanan, atau menjelaskan tujuan perjalanannya. Kehadirannya sering kali memicu kerusuhan di desa-desa pedalaman. Di sebuah wilayah yang ia identifikasi sebagai Tonkin (wilayah perbatasan), ia nyaris dikeroyok oleh massa yang marah dan menuduhnya sebagai mata-mata Perancis atau “setan asing”. Stevens terpaksa bersembunyi di dalam hutan bambu selama berjam-jam untuk menghindari pengejaran, sebuah momen di mana sepedanya yang mencolok justru menjadi beban yang membahayakan nyawanya.
Meskipun ia akhirnya berhasil mendapatkan perlindungan dari seorang pejabat China yang lebih tercerahkan dan mencapai pantai Timur China, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam tentang batas-batas toleransi budaya terhadap teknologi asing yang radikal. China menunjukkan bahwa tanpa kesepahaman budaya, objek teknologi paling canggih sekalipun dapat menjadi simbol kebencian dan ketakutan.
Harmoni di Negeri Matahari Terbit: Penutup yang Indah di Jepang
Kontras dengan pengalaman traumatis di China, perjalanan Stevens melalui Jepang (November-Desember 1886) adalah sebuah ode bagi keindahan dan kemajuan. Tiba di Nagasaki pada 23 November, ia segera merasakan perbedaan atmosfer: kebersihan yang luar biasa, masyarakat yang sopan dan selalu tersenyum, serta infrastruktur yang menunjukkan upaya sadar untuk meniru standar Eropa.
Stevens menempuh perjalanan 800 mil dari Nagasaki ke Yokohama melintasi pulau Kyushu dan Honshu. Ia mengamati bahwa Jepang sedang dalam proses transformasi yang cepat. Jalan-jalan di kota seperti Saga dan Okayama digambarkannya sebagai “halus dan terus-menerus dapat dikendarai”. Di sini, sepeda tinggi tidak lagi memicu ketakutan, melainkan rasa ingin tahu yang penuh rasa hormat. Anak-anak sekolah dan warga desa sering kali mengikuti Stevens, tetapi dengan cara yang ramah dan suportif.
| Observasi Sosiokultural di Jepang (1886) | Detail Catatan Stevens |
| Kebersihan Kota | Nagasaki digambarkan “seperti baru saja disikat dan dipolitur”. |
| Budaya Mandi | Ketertarikan pada tradisi mandi air panas (hot bath) setiap malam. |
| Infrastruktur | Jalan-jalan di perlintasan gunung memiliki kantor pengumpul tol yang rapi. |
| Pemandangan | Kekaguman pada Gunung Fuji sebagai puncak keindahan alam Jepang. |
| Kerajinan | Pengamatan terhadap pengrajin lokal yang membuat tiruan produk Eropa dengan detail luar biasa. |
Perjalanan bersepeda resmi Thomas Stevens berakhir di Yokohama pada 17 Desember 1886. Ia telah melakukan sirkumnavigasi dunia pertama yang tercatat dengan sepeda, sebuah pencapaian yang mencatat total jarak tempuh sekitar 13.500 mil melintasi medan yang paling menantang di bumi.
Analisis Legacy: Dampak Terhadap Popularitas Sepeda dan Perubahan Sosial
Keberhasilan Thomas Stevens memiliki implikasi yang melampaui sekadar catatan petualangan individu. Laporannya yang rutin di majalah Outing dan publikasi bukunya dalam dua volume pada 1887-1888 berfungsi sebagai katalisator bagi “bicycle boom” pada dekade 1890-an. Stevens membuktikan kepada dunia bahwa sepeda adalah instrumen kebebasan pribadi yang sah.
Sepeda sebagai Alat Emansipasi
Meskipun Stevens sendiri adalah seorang pria atletis, narasi perjalanannya berkontribusi pada perubahan pandangan terhadap mobilitas manusia. Keberaniannya menginspirasi generasi pesepeda berikutnya, termasuk perempuan, untuk menggunakan sepeda sebagai alat untuk menuntut kemandirian. Sejarawan mencatat bahwa keberhasilan penjelajahan dengan sepeda membantu memajukan gerakan reformasi pakaian perempuan (rational dress movement) dan pada akhirnya mendukung perjuangan hak pilih perempuan (suffrage), karena sepeda memberikan kebebasan bergerak yang sebelumnya tidak terbayangkan bagi mereka yang terkungkung dalam norma-norma domestik Victoria.
Transformasi Teknologi: Dari Ordinary ke Safety
Ironisnya, kepopuleran yang dipicu oleh Stevens justru mempercepat kepunahan sepeda tinggi yang ia cintai. Bahaya yang ia hadapi—jatuh berkali-kali, memanggul sepeda melewati lumpur, dan risiko cedera kepala—menjadi argumen kuat bagi pengembangan “safety bicycle”. Pada tahun 1885, tepat saat Stevens berada di tengah perjalanannya, John Kemp Starley menyempurnakan desain sepeda dengan roda berukuran sama dan penggerak rantai, yang jauh lebih stabil dan aman. Pada pertengahan 1890-an, penny-farthing telah menjadi artefak masa lalu, digantikan oleh desain modern yang kita kenal sekarang.
Kesimpulan: Warisan Spirituil Thomas Stevens
Thomas Stevens bukan hanya seorang atlet, ia adalah seorang filsuf tindakan yang memahami bahwa perjalanan adalah tentang pertemuan, bukan sekadar tujuan. Dengan membawa satu kemeja cadangan, sebuah jas hujan, dan sebuah revolver, ia menunjukkan bahwa beban yang paling ringan adalah beban pikiran yang terbuka. Sepeda tinggi, dalam narasinya, bertransformasi dari sebuah mainan mekanis menjadi jembatan yang menghubungkan istana Shah di Persia dengan hutan bambu di China, dan jalan-jalan berdebu di Nevada dengan kemegahan Grand Trunk Road di India.
Pencapaian Stevens tetap menjadi pengingat abadi tentang potensi manusia untuk mengatasi hambatan fisik dan budaya melalui kombinasi antara teknologi dan keberanian yang nekat. Meskipun sepedanya telah lama hilang menjadi logam bekas, narasi tentang “Dunia di Atas Roda Raksasa” terus menginspirasi para petualang modern untuk mencari apa yang disebut Stevens sebagai “kegembiraan aneh dari kesulitan sukarela”. Stevens mengajarkan bahwa penemuan mesin tidak harus menghilangkan keajaiban dunia, melainkan harus menyediakan sarana untuk menjelajahi keajaiban tersebut secara lebih mendalam dan pribadi. Di akhir hayatnya pada tahun 1935, Stevens mungkin telah melihat dunia yang telah berubah total oleh mobil dan pesawat terbang, namun ia tetaplah orang pertama yang membuktikan bahwa seluruh bumi dapat ditaklukkan hanya dengan sepasang kaki dan sebuah roda besar yang menantang gravitasi.