Ibn Battuta: Jejak Penakluk Hati dan Geografi di Abad Pertengahan
Abad ke-14 merupakan periode yang sangat dinamis dalam sejarah peradaban manusia, sebuah era di mana jaringan perdagangan dan kebudayaan Islam membentang luas dari pesisir Atlantik di Maroko hingga ke pelabuhan-pelabuhan sibuk di Tiongkok. Di tengah lanskap global yang saling terhubung ini, muncul sosok Abu Abdullah Muhammad ibn Battuta, seorang pengembara asal Tangier yang tidak hanya melampaui batas-batas geografi, tetapi juga menembus batas-berbagai lapisan sosial masyarakat melalui profesinya sebagai ahli hukum dan sosiologi amatir. Perjalanan Ibn Battuta, yang dimulai pada tahun 1325, sering kali dibandingkan dengan pengembaraan Marco Polo dari Venesia. Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa Ibn Battuta menempuh jarak yang jauh lebih signifikan, yakni sekitar 117.000 kilometer, melampaui 24.000 kilometer yang dicatat oleh Polo. Keunikan catatan perjalanannya, yang dikenal sebagai Rihla, terletak pada kemampuannya untuk menangkap detail-detail mikro—mulai dari aroma masakan di pasar-pasar Delhi hingga intrik politik yang paling rahasia di dalam harem kesultanan.
Namun, di balik narasi kemegahan tersebut, terdapat sisi kontroversial yang terus memicu perdebatan di kalangan sejarawan modern. Ibn Battuta dikenal sebagai penjelajah yang “banyak istri,” seorang pria yang sering kali menikah dan menceraikan wanita di hampir setiap kota pelabuhan yang ia singgahi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai etika moral, objektivitas catatannya, serta bagaimana hukum Islam (Syariah) diterapkan dan dimanfaatkan dalam konteks mobilitas global di abad pertengahan. Laporan ini akan mengulas secara komprehensif jejak langkah Ibn Battuta, menyeimbangkan pencapaian geografisnya dengan analisis mendalam terhadap perilaku sosial dan domestiknya yang kompleks.
Magnitudo Penjelajahan: Skala dan Konteks Geografis
Pencapaian fisik Ibn Battuta dalam hal jarak tempuh menjadikannya penjelajah terbesar di dunia pra-modern. Jika Marco Polo menghabiskan dua dekade untuk menjelajahi rute sutra dan Tiongkok di bawah perlindungan Mongol, Ibn Battuta menghabiskan hampir tiga dekade bergerak di dalam Dar al-Islam (wilayah di mana hukum Islam berlaku atau umat Islam memerintah). Skala perjalanannya mencakup keragaman ekosistem yang luar biasa, mulai dari gurun panas di Sahara hingga pegunungan dingin di Hindu Kush.
Perbandingan Jarak dan Durasi Penjelajah Besar
Data berikut menyajikan perbandingan statistik antara Ibn Battuta dengan dua penjelajah besar lainnya dalam periode pra-modern untuk memberikan perspektif mengenai luasnya wilayah yang ia jangkau:
| Penjelajah | Tahun Perjalanan | Jarak Tempuh Perkiraan (km) | Wilayah Utama |
| Ibn Battuta | 1325–1354 | 117.000 | Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, India, Maladewa, Asia Tenggara, Tiongkok, Mali |
| Zheng He | 1405–1433 | 50.000 | Asia Tenggara, Asia Selatan, Teluk Persia, Afrika Timur |
| Marco Polo | 1271–1295 | 24.000 | Persia, Asia Tengah, Tiongkok, Asia Tenggara |
Ibn Battuta memulai perjalanannya dari Tangier pada tanggal 14 Juni 1325, pada usia dua puluh satu tahun, dengan niat awal untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Motivasi religius ini adalah katalisator umum bagi banyak pengembara Muslim saat itu, namun bagi Ibn Battuta, ibadah haji tersebut berubah menjadi pencarian pengetahuan dan pengalaman hidup yang tak kunjung usai. Setelah menyelesaikan ziarah pertamanya di Mekkah pada tahun 1326, ia memutuskan untuk tidak segera pulang, melainkan melanjutkan perjalanan ke wilayah Ilkhanate di Persia dan Irak, di mana ia pertama kali mulai mencatat keragaman praktik budaya dan hukum di dunia Muslim.
Sepanjang rutenya, Ibn Battuta jarang bepergian sendirian di wilayah yang benar-benar asing. Ia hampir selalu bergerak di dalam komunitas Muslim di mana ia berbagi bahasa, iman, dan nilai-nilai budaya yang sama. Hal ini memungkinkannya untuk berpindah dari satu kota ke kota lain dengan tingkat keamanan dan dukungan sosial yang tidak dimiliki oleh penjelajah non-Muslim di masa itu. Ia sering bergabung dengan kafilah dagang atau rombongan haji yang terdiri dari ribuan orang untuk perlindungan. Namun, ia juga dikenal karena kebiasaannya melakukan “perjalanan sampingan” (side-trips) yang berisiko, sering kali hanya didorong oleh rasa ingin tahu spiritual atau keinginan untuk bertemu dengan orang-orang suci dan penguasa terkenal.
Sang Qadi di Istana: Hukum, Kekuasaan, dan Intrik Politik
Salah satu aset terbesar Ibn Battuta dalam perjalanannya adalah latar belakang pendidikannya sebagai sarjana hukum dari madrasah Maliki di Maroko. Gelar qadi (hakim) yang ia sandang memberikan akses instan ke eselon tertinggi kekuasaan di setiap kesultanan yang ia kunjungi. Di dunia abad ke-14, hukum Islam berfungsi sebagai bahasa universal yang menyatukan birokrasi dari Afrika Barat hingga ke pesisir Bengal.
Pengalaman di Kesultanan Delhi dan Paradoks Muhammad bin Tughluq
Masa tinggal yang paling lama dan penuh peristiwa bagi Ibn Battuta terjadi di Delhi, di bawah pemerintahan Sultan Muhammad bin Tughluq. Sultan ini digambarkan oleh Ibn Battuta sebagai sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa sekaligus kecenderungan terhadap kekejaman yang ekstrem. Ibn Battuta menjabat sebagai hakim selama kurang lebih delapan tahun di sana, sebuah posisi yang memberinya gaji mewah namun juga menempatkannya di tengah-tengah ketakutan yang konstan akan hukuman mati.
Sultan Muhammad bin Tughluq dikenal karena kemurahhatiannya yang berlebihan kepada orang asing terpelajar. Saat kedatangan Ibn Battuta, Sultan memberinya jabatan hakim Maliki di Delhi dengan gaji tahunan sebesar 12.000 dinar, yang ditarik dari pajak dua setengah desa. Namun, Ibn Battuta juga mencatat sisi gelap pengadilan Delhi. Ia menyaksikan eksekusi massal di mana tahanan disiksa secara brutal, bahkan dicabik-cabik oleh gajah di depan publik sementara musik dimainkan untuk menutupi jeritan mereka. Salah satu anekdot yang paling mencengangkan adalah tentang pemindahan paksa seluruh populasi Delhi ke ibu kota baru, Daulatabad, di mana seorang pria buta konon diseret selama empat puluh hari hingga hanya satu kakinya yang tersisa saat tiba di tujuan.
Ketidakstabilan emosional Sultan sering kali menempatkan Ibn Battuta dalam bahaya. Pada satu titik, ia dicurigai terlibat dalam konspirasi setelah berteman dengan seorang syekh sufi yang tidak disukai oleh Sultan. Selama lima bulan, Ibn Battuta hidup dalam pengawasan ketat, meninggalkan segala kemewahan duniawi, dan berpakaian sebagai dervish untuk menyelamatkan hidupnya. Pengalaman ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kekuasaan absolut di abad pertengahan dijalankan tanpa adanya perlindungan terhadap hak-hak individu, sebuah kenyataan yang dicatat dengan sangat hati-hati namun tajam dalam Rihla.
Reformasi Hukum dan Otoritas di Maladewa
Setelah meninggalkan Delhi sebagai duta besar untuk Tiongkok—sebuah tugas yang hampir merenggut nyawanya—Ibn Battuta terdampar di Kepulauan Maladewa. Di sana, pengalamannya sebagai hakim mencapai puncaknya. Maladewa saat itu baru saja berpindah ke agama Islam dan sangat membutuhkan bimbingan hukum yang ortodoks. Ibn Battuta ditunjuk sebagai kepala hakim (qadi) dan segera memulai kampanye untuk mengubah norma-norma sosial lokal agar selaras dengan Syariah versi Maroko yang ia pahami.
Tindakan hukum Ibn Battuta di Maladewa menunjukkan sisi otoriternya. Ia mencoba memaksa para wanita di pulau itu—termasuk para elit kerajaan—untuk menutupi dada mereka, namun upayanya ini sebagian besar gagal dan hanya ditanggapi dengan tawa oleh masyarakat setempat. Ia juga memberlakukan hukuman fisik seperti cambuk bagi mereka yang meninggalkan salat atau terlibat dalam perzinahan. Interaksi hukumnya tidak terbatas pada moralitas publik; ia juga terlibat dalam sengketa properti yang melibatkan keluarga kerajaan, bahkan mencoba menghasut kudeta militer untuk mempertahankan pengaruhnya sebelum akhirnya dipaksa meninggalkan pulau tersebut karena konflik dengan wazir penguasa.
Kontroversi “Penakluk Hati”: Pola Pernikahan dan Etika
Label “banyak istri” yang melekat pada Ibn Battuta bukanlah sekadar gosip sejarah, melainkan fakta yang terdokumentasi dalam catatannya sendiri. Berbeda dengan karya biografi tradisional yang sering kali menutupi kehidupan pribadi, Ibn Battuta secara mengejutkan jujur tentang pernikahan, hubungan seksual dengan selir, dan anak-anak yang ia tinggalkan di berbagai belahan dunia.
Pernikahan sebagai Alat Integrasi Sosial
Bagi Ibn Battuta, pernikahan sering kali berfungsi sebagai cara untuk membangun aliansi politik dan sosial. Di hampir setiap perhentian utama, ia menikahi wanita dari keluarga terhormat, biasanya putri dari hakim, menteri, atau ulama lokal. Praktik ini memungkinkannya untuk masuk ke dalam jaringan elit di wilayah yang ia kunjungi, memberikan perlindungan hukum, dan membiayai perjalanannya melalui mahar dan hadiah.
| Lokasi Utama | Status Pernikahan | Hasil/Keturunan |
| Sfax, Tunisia | Menikahi putri pejabat | Pernikahan pertama, dilakukan di awal perjalanan |
| Damaskus | Menikahi wanita lokal | Memiliki seorang putra yang tidak pernah ia temui |
| Delhi, India | Menikahi putri pejabat istana | Memiliki seorang putri; memperkuat hubungan dengan Sultan |
| Maladewa | Menikahi empat wanita sekaligus | Menikahi kerabat Sultan Omar I; memperkuat posisi sebagai hakim |
| Anatolia & India | Memiliki beberapa selir | Memiliki anak dari selir asal Yunani dan India |
Sejarawan modern seperti Ross E. Dunn menyoroti bahwa pola ini mencerminkan sikap maskulinitas abad pertengahan di mana wanita dipandang sebagai komoditas sosial yang berpindah tangan melalui pernikahan. Di Maladewa, Ibn Battuta mencatat kemudahan untuk menikah karena mas kawin yang rendah dan ketersediaan wanita yang senang bergaul. Ia menggambarkan jenis “pernikahan sementara” di mana para pelaut akan menikahi wanita lokal selama kapal mereka bersandar dan menceraikan mereka saat hendak berlayar kembali. Praktik ini, meskipun secara teknis legal menurut beberapa interpretasi hukum saat itu, tetap menimbulkan pertanyaan etis mengenai nasib wanita dan anak-anak yang ditinggalkan.
Perdebatan Moralitas dan Tanggung Jawab Ayah
Salah satu kritik tajam terhadap Ibn Battuta adalah ketidakpeduliannya terhadap anak-anak yang ia lahirkan. Ia mencatat memiliki setidaknya lima anak dari berbagai istri dan selir, namun ia sering kali melanjutkan perjalanan tanpa menoleh ke belakang. Dalam satu kasus di Damaskus, ia baru mengetahui bahwa ia memiliki seorang putra bertahun-tahun kemudian, namun anak tersebut meninggal sebelum mereka sempat bertemu. Di Maladewa, ia meninggalkan seorang putra dengan ibunya tanpa ada catatan lebih lanjut mengenai dukungannya terhadap anak tersebut.
Meskipun Ibn Battuta berusaha memproyeksikan citra dirinya sebagai pria yang saleh dan taat hukum, tindakannya di ranah privat sering kali menunjukkan egoisme yang besar. Beberapa analis berpendapat bahwa perilakunya ini adalah produk dari zamannya, di mana mobilitas tinggi dan angka harapan hidup yang rendah membuat ikatan keluarga menjadi lebih cair. Namun, bagi pembaca modern, pengakuannya yang blak-blakan mengenai penggunaan aphrodisiak di Maladewa dan detail tentang “kenikmatan” seksual dengan istri-istrinya menambah lapisan kompleksitas pada karakternya yang kontradiktif.
Etnografi di Piring: Kuliner dan Kebudayaan
Kehebatan Ibn Battuta sebagai narator terletak pada kemampuannya untuk mencatat detail-detail kehidupan sehari-hari yang sering diabaikan oleh sejarawan resmi. Salah satu aspek yang paling kaya dalam Rihla adalah pengamatannya terhadap budaya makanan, yang ia gunakan sebagai indikator kemakmuran, tradisi religius, dan identitas etnis suatu bangsa.
Gastronomi Dunia Abad Ke-14
Ibn Battuta adalah salah satu orang pertama yang mendokumentasikan penyebaran bahan pangan global. Di India, ia mencatat penggunaan mangga yang ia bandingkan dengan apel, serta kebiasaan makan sirih (paan). Di wilayah pesisir Somalia dan Oman, ia mencatat konsumsi ikan kering dan kambing yang berlimpah.
Daftar berikut merangkum beberapa temuan kulinernya yang signifikan:
- Produk Susu dan Fermentasi:Di wilayah Golden Horde (Rusia Selatan), ia mengamati konsumsi koumiss (susu kuda fermentasi) oleh kaum nomaden.
- Biji-bijian dan Sereal:Ia mendokumentasikan penggunaan millet di Mali dan jenis couscous yang dibuat dari biji-bijian bernama funi.
- Hidangan Istana:Di Delhi, ia menggambarkan perjamuan besar dengan hidangan seperti sabuniye (manisan berbahan dasar tepung, gula, dan minyak) serta roti tipis yang disebut rikak.
- Minuman Segar:Ia mencatat popularitas sherbet mawar di India yang disajikan bahkan dalam acara pemakaman, serta jus kelapa di Maladewa.
Pengamatan kuliner ini memberikan wawasan tentang bagaimana perdagangan jarak jauh mempengaruhi diet masyarakat. Misalnya, keberadaan kelapa dan rempah-rempah di pelabuhan-pelabuhan jauh menunjukkan adanya jaringan distribusi yang canggih di Samudra Hindia. Selain itu, ia mencatat bagaimana agama mempengaruhi pola makan, seperti larangan konsumsi babi yang ia temukan bahkan di pinggiran dunia Islam yang paling jauh, serta praktik puasa Ramadan yang ia amati di berbagai iklim.
Status Wanita: Perspektif Lintas Budaya
Ibn Battuta sering kali mengalami “guncangan budaya” saat melihat status wanita di luar wilayah asalnya di Afrika Utara. Sebagai seorang sarjana yang dibesarkan dalam tradisi segregasi gender yang ketat, ia sering kali merasa terganggu oleh kebebasan sosial yang dinikmati oleh wanita di wilayah lain.
Kebebasan Wanita Turki dan Mongol
Di Anatolia dan wilayah kekuasaan Mongol, Ibn Battuta terkejut melihat wanita yang tidak menggunakan cadar dan memiliki peran aktif dalam kehidupan publik. Ia mencatat bahwa wanita-wanita Turki memiliki martabat yang lebih tinggi daripada pria dan sering kali terlihat menunggang kuda seperti pejuang. Ia juga mengamati permaisuri (Khatun) dari para Khan Mongol yang mendampingi suami mereka di singgasana dan mengambil bagian dalam keputusan politik.
Paradoks di Mali dan Afrika Barat
Situasi yang paling mengejutkan baginya terjadi di Kekuasaan Mali. Di sana, ia menemukan masyarakat yang penganut Islamnya sangat taat dalam hal salat dan belajar Al-Qur’an, namun tetap mempertahankan tradisi matrilineal yang kuat. Ia merasa sangat tersinggung saat melihat wanita-wanita pelayan dan putri-putri Sultan berjalan di depan umum tanpa pakaian atas, memperlihatkan payudara mereka—suatu praktik yang ia anggap sangat tidak Islami.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat mengunjungi seorang hakim di Mali dan menemukan wanita asing di rumahnya. Saat Ibn Battuta menyatakan ketidaksenangannya, sang hakim menjawab bahwa di budaya mereka, pertemanan antara pria dan wanita adalah hal yang wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pengamatan ini menyoroti bagaimana Islam di abad pertengahan bukanlah sebuah monolit, melainkan sistem nilai yang sering kali bernegosiasi dengan adat istiadat lokal yang telah ada sebelumnya.
Rihla: Arsitektur Sastra dan Krisis Kredibilitas
Setelah kembali ke Maroko pada tahun 1354, Sultan Abu Inan Faris memerintahkan Ibn Battuta untuk mendiktekan perjalanannya kepada seorang penulis muda bernama Ibn Juzayy. Proses kolaborasi ini melahirkan Rihla, sebuah karya yang menggabungkan memoar pribadi dengan tradisi sastra Arab tentang keajaiban dunia (adja’ib).
Peran Ibn Juzayy dan Isu Plagiarisme
Terdapat debat berkelanjutan di kalangan sejarawan mengenai seberapa besar pengaruh Ibn Juzayy dalam mengubah atau menambah narasi asli Ibn Battuta. Analisis tekstual menunjukkan bahwa Ibn Juzayy meminjam deskripsi tentang kota-kota seperti Alexandria, Damaskus, dan Mekkah dari karya pengembara sebelumnya, Ibn Jubayr, untuk memperindah narasi Ibn Battuta atau mengisi kekosongan memori sang pengembara yang sudah menua.
Kritik terhadap kredibilitas Ibn Battuta juga muncul sejak zamannya sendiri. Sejarawan terkenal Ibn Khaldun mencatat bahwa banyak orang di Fez meragukan cerita Ibn Battuta tentang kekayaan luar biasa di India. Namun, Ibn Khaldun sendiri cenderung membela Ibn Battuta, dengan menyatakan bahwa ketidaktahuan seseorang terhadap sesuatu bukan berarti hal tersebut tidak ada. Sejarawan modern seperti Ross E. Dunn juga mengidentifikasi ketidakkonsistenan kronologis dalam bagian perjalanan Ibn Battuta ke Tiongkok dan wilayah Rusia, yang memunculkan teori bahwa Ibn Battuta mungkin tidak pernah mencapai beberapa wilayah terjauh yang ia klaim, melainkan hanya mengumpulkan informasi dari pedagang yang ia temui.
Meskipun demikian, nilai sejarah Rihla tetap tak ternilai. Sebagian besar deskripsi geografis, politik, dan budayanya telah diverifikasi oleh sumber-sumber kontemporer lain atau temuan arkeologis. Rihla memberikan potret unik tentang dunia Islam di ambang krisis besar (seperti wabah Black Death yang juga dicatat oleh Ibn Battuta) dan merupakan dokumen kunci dalam memahami sejarah global.
Kesimpulan: Penakluk yang Terbelah
Ibn Battuta adalah sosok yang mencerminkan dualitas manusia: ia adalah penjelajah visioner yang mampu melihat keindahan dan keragaman dunia, namun ia juga seorang pria dengan keterbatasan moral yang sering kali memanfaatkan struktur sosial untuk kepentingannya sendiri. Melalui perjalanannya sejauh 117.000 kilometer, ia tidak hanya memetakan geografi, tetapi juga memetakan hati dan ambisi manusia di abad pertengahan.
Kontroversi mengenai “banyak istri” dan perilakunya terhadap keluarga yang ia tinggalkan memberikan warna manusiawi pada sosok yang sering kali dicitrakan sebagai pahlawan tanpa cacat. Ia bukanlah sekadar pencatat koordinat, melainkan seorang komentator sosial yang tajam, yang catatannya tentang makanan, hukum, dan gosip istana memungkinkan kita untuk merasakan detak jantung peradaban yang telah lama hilang. Di akhir hayatnya, Ibn Battuta tetap menjadi teka-teki—seorang pengembara yang merasa di rumah di mana pun ada masjid dan pengadilan, namun tidak pernah benar-benar memiliki rumah yang tetap hingga ia kembali ke Maroko untuk mengabadikan jejaknya dalam sejarah. Warisannya adalah pengingat bahwa penjelajahan sejati tidak hanya tentang mencapai titik terjauh di peta, tetapi tentang bagaimana kita berinteraksi dengan keragaman jiwa-jiwa yang kita temui di sepanjang jalan.