Loading Now

Rimbaud di Afrika: Jejak Sang Penyair yang Memilih Menjadi Bayangan

Transformasi Arthur Rimbaud dari seorang pionir simbolisme Prancis menjadi pedagang komoditas di Harar, Ethiopia, merupakan salah satu anomali paling memikat dalam sejarah intelektual modern. Fenomena ini bukan sekadar pergantian profesi, melainkan sebuah tindakan “literaturicide” atau pembunuhan literatur yang dilakukan secara sadar oleh subjeknya sendiri. Rimbaud, yang pada usia delapan belas tahun telah merevolusi estetika puisi Eropa dengan karya-karya seperti Le Bateau ivre dan Une Saison en Enfer, memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam anonimitas di tengah kerasnya lanskap Afrika Timur, mengabaikan ketenaran yang mulai tumbuh di Paris demi kehidupan yang kasar sebagai pengumpul kulit, kopi, dan gading. Penjelajahan ini berfungsi sebagai bentuk pelarian diri yang ekstrem, sebuah upaya untuk menanggalkan identitas lama dan melebur ke dalam realitas fisik yang tak mengenal metafora.

Kehancuran Sang Visioner dan Kelahiran Sang Pengembara

Akar dari pelarian Rimbaud dapat ditelusuri kembali ke masa mudanya yang penuh gejolak di Charleville, Prancis. Dibesarkan di bawah pengawasan ketat ibunya yang otoriter, Madame Rimbaud, yang membesarkan anak-anaknya dengan kontrol penuh atas pikiran dan tindakan mereka, Arthur muda menunjukkan kecemerlangan akademis yang luar biasa namun dibarengi dengan hasrat pemberontakan yang mendalam terhadap norma-norma borjuis. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswa jenius yang mampu menggubah puisi Latin yang rumit, namun di balik kepatuhan lahiriahnya, ia membaca secara rakus segala jenis literatur revolusioner dan membentuk pandangan dunia yang menentang batasan sipil dan agama.

Pada usia enam belas tahun, ia telah memformulasikan filosofi “Voyant” atau Sang Pelihat. Dalam surat-suratnya yang terkenal kepada Georges Izambard dan Paul Demeny pada Mei 1871, Rimbaud berpendapat bahwa penyair harus mencapai visi transenden melalui “pengacauan semua indra secara sistematis dan rasional” (dérèglement de tous les sens). Eksperimen ini bukan sekadar gaya artistik, melainkan pencarian identitas yang terpecah, di mana ia menyatakan “Je est un autre” (Saya adalah orang lain). Upaya untuk mengekstraksi quintessence dari penderitaan dan kegilaan ini melibatkan penggunaan alkohol, absinthe, dan hashish sebagai alat untuk membongkar struktur pikiran demi mencapai bahasa puitis baru yang dapat mengekspresikan hal-hal yang tidak terkatakan.

Parameter Karakteristik Masa Kepenyairan (1870-1875) Karakteristik Masa Pedagang (1880-1891)
Fokus Utama Eksplorasi bahasa dan visi spiritual. Akumulasi kapital dan tindakan fisik.
Identitas Diri Voyant (Sang Pelihat), pemberontak literatur. Sieur Rimbaud, pedagang, pengembara anonim.
Medium Ekspresi Puisi, surat puitis, simbolisme. Laporan geografis, korespondensi bisnis.
Lingkungan Sosial Lingkaran bohemian Paris, bar-bar London. Komunitas Muslim Harar, kafilah gurun.
Hubungan Otoritas Penentangan total terhadap ibu dan negara. Kepatuhan pada kontrak dagang, loyalitas pada rekan.

Musim di Neraka dan Kegagalan Estetika

Intensitas kreatif Rimbaud terbukti menghancurkan secara psikologis. Hubungan destruktifnya dengan penyair Paul Verlaine, yang ditandai dengan kemiskinan, penyalahgunaan zat, dan kekerasan emosional, mencapai puncaknya di Brussel pada Juli 1873. Dalam kemarahan akibat mabuk dan kecemburuan, Verlaine menembak pergelangan tangan Rimbaud. Insiden ini menandai titik balik yang tidak dapat diperbaiki. Meskipun Verlaine dipenjara dan mengalami konversi religius, Rimbaud menanggapi hal tersebut dengan sinisme yang mendalam, melihat konversi mantan kekasihnya sebagai kelemahan.

Setelah insiden tersebut, Rimbaud menyelesaikan Une Saison en Enfer (Musim di Neraka), sebuah karya prosa puitis yang berfungsi sebagai otobiografi spiritual dan pengakuan atas kegagalan eksperimen “Voyant”-nya. Dalam bagian “Délires II,” ia mengejek kegilaannya sendiri di masa lalu, menyebut penemuan warna vokal dan bahasa puitisnya sebagai hal yang absurd. Ketika buku tersebut diterbitkan sendiri pada tahun 1873 dan disambut dengan ketidakpedulian total oleh dunia sastra Paris, Rimbaud merasa bahwa usahanya untuk didengar telah gagal sepenuhnya. Ketidakmampuannya untuk merekonsiliasi antara visi artistik yang tinggi dengan kenyataan duniawi yang dingin membuatnya memutuskan untuk berhenti menulis pada usia dua puluh tahun, sebuah tindakan yang oleh kritikus disebut sebagai “mutisme” atau pembisuan diri yang disengaja karena kehilangan harapan untuk didengar.

Transisi Menuju Afrika: Dari Mercusuar ke Padang Pasir

Sebelum menetap di Harar, Rimbaud menjalani periode pengembaraan yang sangat berat, seolah-olah sedang menguji ketahanan fisiknya sebagai persiapan untuk kehidupan di Afrika. Ia menempuh perjalanan ribuan mil melintasi Eropa, sering kali dengan berjalan kaki. Pada tahun 1876, ia mendaftar sebagai tentara kolonial Belanda (KNIL) untuk pergi ke Jawa, namun melakukan desersi hanya dalam waktu dua minggu setelah tiba di Sumatra, melarikan diri ke hutan sebelum akhirnya kembali ke Eropa secara inkognito menggunakan identitas palsu.

Dorongan untuk terus bergerak ini dipicu oleh “demoni” internal yang melarangnya tinggal lama di satu tempat. Ia bekerja sebagai kasir sirkus di Hamburg, mandor konstruksi di Siprus, hingga buruh pelabuhan dan penerjemah. Di Siprus, ia dilaporkan terlibat dalam perselisihan kekerasan di mana ia melemparkan batu yang mengenai pelipis seorang pekerja lokal dan menewaskannya, sebuah insiden gelap yang memaksanya untuk meninggalkan pulau tersebut dengan tergesa-gesa. Pada tahun 1880, Rimbaud akhirnya mendarat di Aden, Yaman, sebuah pelabuhan strategis yang panas dan gersang di tepi Laut Merah, mencari pekerjaan di sebuah wilayah yang saat itu dianggap sebagai “ujung dunia” oleh orang Eropa.

Harar: Labirin Suci dan Peluang Perdagangan

Harar pada akhir abad ke-19 adalah sebuah entitas yang unik dan mistis di Tanduk Afrika. Kota bertembok ini, yang dikenal sebagai “Jegol”, dianggap sebagai kota suci keempat dalam Islam setelah Mekkah, Madinah, dan Yerusalem. Selama berabad-abad, Harar tertutup bagi non-Muslim hingga penjelajah Inggris Richard Burton berhasil menyusup ke sana dengan penyamaran pada tahun 1855. Ketika Rimbaud tiba pada Desember 1880, Harar sedang berada di bawah pendudukan Mesir, yang membawa periode stabilitas relatif dan pembukaan bagi perdagangan luar negeri setelah berabad-abad isolasi.

Rimbaud dipekerjakan oleh Alfred Bardey, seorang pedagang Prancis dari Lyon, untuk mengelola kantor cabang di Harar. Tugas utamanya adalah mengumpulkan komoditas lokal seperti biji kopi, kulit hewan, lilin, getah, dan gading untuk ditukarkan dengan barang-barang manufaktur Eropa, terutama kain katun. Di kota yang memiliki 368 gang sempit dalam area hanya satu kilometer persegi ini, Rimbaud menemukan ruang untuk menjadi anonim. Ia tidak lagi dikenal sebagai penyair “decadent” yang memalukan; bagi rekan-rekannya di gudang-gudang Harar, ia hanyalah seorang pedagang yang kompeten, pendiam, dan pekerja keras.

Integrasi Sosial dan Penguasaan Bahasa

Berbeda dengan para pelancong Eropa sezamannya yang sering bersikap superior dan menjaga jarak dari penduduk asli, Rimbaud menunjukkan kemampuan luar biasa untuk berintegrasi ke dalam struktur sosial Harar. Ia mengkritik orang Eropa lain yang tidak menghormati adat istiadat setempat. Kemampuan linguistiknya yang jenius, yang dulu digunakan untuk menciptakan bahasa puisi baru, kini dialihkan untuk menguasai berbagai bahasa daerah termasuk Amharik, Arab, Oromo (Oromiffa), dan Somali.

Alfred Bardey mencatat bahwa Rimbaud “menyerap mentalitas wilayah tempat ia bepergian” dan mengadopsi gaya hidup yang sangat sederhana, mengenakan pakaian lokal dan mengabaikan kenyamanan khas Eropa. Di Harar, ia bahkan berteman dengan para pemimpin agama dan sering berdiskusi tentang Al-Qur’an dengan para imam lokal. Meskipun ia dikenal memiliki sifat yang suram dan sarkastik (mordant and caustic spirit), ia juga menunjukkan sisi kemanusiaan yang mendalam dengan memberikan bantuan secara diam-diam kepada penduduk miskin (meskines) dan pelancong yang kehilangan harta benda mereka. Integrasi ini begitu mendalam sehingga ia dihormati oleh otoritas lokal, termasuk Ras Makonnen, gubernur Harar yang kelak menjadi ayah dari Kaisar Haile Selassie.

Bahasa Penggunaan dalam Kehidupan Rimbaud di Afrika Konteks Sosial
Arab Komunikasi perdagangan utama dan diskusi keagamaan. Digunakan saat berinteraksi dengan imam dan pedagang pesisir.
Amharik Bahasa resmi kekaisaran Ethiopia. Digunakan dalam korespondensi dan negosiasi dengan pejabat Shoa.
Oromo Bahasa penduduk mayoritas di sekitar Harar. Digunakan saat mengelola karavan dan pengumpulan hasil tani.
Somali Bahasa penduduk di wilayah pesisir dan Ogaden. Digunakan selama perjalanan antara Harar dan pelabuhan Zeila.

Perjudian Besar: Diplomasi Senjata dan Menelik II

Dorongan Rimbaud untuk meraih kemandirian finansial membawanya ke dalam bisnis yang paling berisiko: perdagangan senjata. Pada pertengahan 1880-an, Tanduk Afrika berada dalam pergolakan politik besar. Menelik II, Raja Shoa yang visioner, sedang berusaha memperkuat pasukannya untuk menyatukan Ethiopia dan menghadapi ancaman ekspansi kolonial dari Inggris, Prancis, dan terutama Italia. Rimbaud melihat peluang untuk menginvestasikan seluruh tabungannya—sekitar £500 yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun kerja keras—dalam usaha pengadaan senjata.

Skema ini melibatkan pembelian ribuan senapan kuno (percusion rifles) yang sudah usang di Eropa untuk dijual kembali dengan keuntungan berlipat ganda kepada Menelik. Namun, ekspedisi senjata yang dimulai pada Oktober 1886 ini berubah menjadi mimpi buruk logistik dan finansial. Rimbaud terdampar di Tadjoura selama berbulan-bulan menunggu izin transportasi, sementara kedua mitra bisnis utamanya meninggal dunia akibat penyakit. Ketika ia akhirnya memimpin karavan yang terdiri dari 50 ekor unta melintasi gurun Danakil yang mematikan menuju Entoto, ia mendapati dirinya dikepung oleh kreditor mendiang rekannya. Meskipun ia berhasil mengantarkan senjata tersebut, ia menderita kerugian kapital sebesar 60 persen dan menghabiskan 21 bulan dalam penderitaan fisik yang luar biasa. Secara historis, senjata yang dipasok oleh Rimbaud dan pedagang Prancis lainnya dianggap berkontribusi signifikan bagi kemenangan Ethiopia dalam Pertempuran Adwa tahun 1896, yang menjadikan Ethiopia satu-satunya negara Afrika yang berhasil memukul mundur penjajah Eropa saat itu.

Penjelajahan Sebagai Pelarian Eksistensial

Pilihan Rimbaud untuk hidup di tempat terpencil seperti Harar mencerminkan filosofi “penjelajahan sebagai pelarian diri.” Bagi Rimbaud, geografi adalah alat untuk menghapus memori. Ia menolak untuk memberikan informasi biografis atau foto dirinya ketika diminta oleh Société de Géographie setelah publikasi laporannya tentang wilayah Ogaden yang belum pernah dipetakan oleh orang kulit putih sebelumnya. Laporan tersebut, yang mencatat pengamatan mendalam tentang satwa liar seperti gajah, jerapah, dan burung unta, menunjukkan bahwa meskipun ia tidak lagi menulis puisi, insting observasinya tetap tajam.

Biografer Charles Nicholl menekankan perbedaan antara Rimbaud sebagai “pedagang” dengan “penjelajah” pada umumnya. Penjelajah Eropa biasanya menjaga jarak dengan identitas superioritas mereka, sementara Rimbaud memilih untuk “memasuki hakikat tempat tersebut” dan menjadi bagian darinya. Kehidupan kasarnya di Harar adalah bentuk penebusan atas masa lalunya yang penuh dengan abstraksi intelektual. Ia lebih suka memikul beban fisik dalam kafilah daripada beban emosional dari reputasi puitisnya di Paris. Bahkan ketika ia menerima tawaran dari Laurent de Gavorty, editor La France Moderne, untuk kembali ke Prancis dan memimpin gerakan simbolisme sebagai “pemimpin sekolah dekaden,” Rimbaud mengabaikan surat tersebut sepenuhnya, seolah-olah surat itu ditujukan kepada orang asing yang sudah lama mati.

Akhir Perjalanan: Tragedi di Tengah Kesunyian

Kehidupan fisik yang intens akhirnya menuntut bayaran yang fatal. Pada awal tahun 1891, Rimbaud mulai merasakan nyeri yang melumpuhkan di lutut kanannya, yang ia duga sebagai akibat dari kelelahan akibat pawai panjang dengan berjalan kaki dan berkuda. Kondisi ini sebenarnya adalah kanker tulang (osteosarkoma) yang berkembang cepat. Tanpa fasilitas medis yang memadai di Harar, ia terpaksa melikuidasi seluruh bisnisnya dalam kondisi kesakitan yang luar biasa, tidak mampu tidur selama berminggu-minggu.

Perjalanan terakhirnya keluar dari Harar pada April 1891 adalah gambaran penderitaan yang melampaui imajinasi puitis mana pun. Ia harus dibawa dengan tandu yang terbuat dari layar, dipikul oleh enam belas porter melintasi 300 kilometer gurun yang membara menuju pelabuhan Zeila. Dalam suratnya yang memilukan dari Aden, ia menggambarkan dirinya telah menjadi “tulang belulang” yang menakutkan orang lain. Meskipun akhirnya mencapai Marseille dan kakinya diamputasi, kanker tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dalam hari-hari terakhirnya yang penuh delirium, ia mendiktekan surat kepada agen pelayaran, memohon untuk dipindahkan ke kapal menuju Suez, seolah-olah jiwanya masih tertinggal di dataran tinggi Ethiopia yang keras.

Kesimpulan: Warisan Sang Bayangan

Arthur Rimbaud meninggal pada 10 November 1891 di Marseille pada usia tiga puluh tujuh tahun, jauh dari gurun Afrika yang ia cintai. Di Prancis, ia dikenang sebagai “meteor” dalam sejarah sastra, sementara di Harar, ia dihormati sebagai orang Eropa pertama yang menetap dan membawa kemajuan perdagangan bagi kota tersebut. Pusat Kebudayaan Arthur Rimbaud di Harar hari ini berdiri sebagai monumen bagi pria yang berhasil melakukan apa yang diimpikan banyak orang namun jarang yang berani melakukannya: benar-benar menghilang.

Pelariannya ke Harar bukan sekadar tindakan pengecut atau kegagalan artistik; itu adalah bentuk realisme yang paling radikal. Rimbaud membuktikan bahwa hidup itu sendiri bisa menjadi karya seni yang lebih besar daripada teks tertulis. Dengan menukar pena dengan timbangan kopi, ia mencapai bentuk kebebasan yang tidak pernah bisa diberikan oleh dunia intelektual Eropa. Ia memilih untuk menjadi bayangan di Harar, membuktikan bahwa di tempat yang paling terpencil sekalipun, seseorang bisa menemukan martabat dalam tindakan fisik, integritas dalam perdagangan yang jujur, dan kedamaian dalam keheningan yang panjang. Sosoknya tetap menjadi peringatan bagi setiap pencari kebenaran bahwa terkadang, untuk menemukan diri sendiri, seseorang harus berani meninggalkan segala sesuatu yang pernah membuatnya dikenal dunia.