Loading Now

Fesyen sebagai Senjata: Saat Panggung Menjadi Runway – Grace Jones, Elton John, dan Radikalisme Estetika

Dalam diskursus kebudayaan kontemporer, pakaian telah lama melampaui fungsinya sebagai sekadar instrumen penutup tubuh atau hiasan estetika. Bagi para pionir di panggung pertunjukan, fesyen bertransformasi menjadi sebuah “senjata” semiotik—sebuah alat komunikasi radikal yang digunakan untuk menantang, membongkar, dan menyusun kembali narasi mengenai identitas, gender, ras, dan kekuasaan. Fenomena ini mencapai puncaknya ketika batas antara panggung musik dan runway busana tingkat tinggi (haute couture) menjadi kabur, menciptakan sebuah ruang di mana performativitas visual memiliki bobot politik yang sama besarnya dengan konten sonik. Grace Jones dan Elton John berdiri sebagai dua figur sentral yang mendefinisikan ulang hubungan ini, menggunakan tubuh mereka sebagai situs perlawanan melalui kolaborasi visioner dan keberanian untuk merangkul ambiguitas yang ekstrem.

Teorisasi Fesyen sebagai Alat Politik dan Subversi Sosial

Untuk memahami signifikansi radikal dari gaya berpakaian Grace Jones dan Elton John, sangat penting untuk menempatkan praktik berpakaian mereka dalam kerangka teori sosiologis. Fesyen bukan sekadar masalah selera pribadi; ia adalah “praktik tubuh yang tersituasi” (situated bodily practice), sebuah negosiasi hidup antara agensi individu dan struktur sosial. Pakaian memiliki signifikansi politik karena ia secara langsung memengaruhi hubungan antarwarga negara dalam ruang publik, di mana presentasi diri menjadi cara tercepat untuk mendaftarkan ideologi di benak orang lain.

Sepanjang sejarah, pakaian telah digunakan untuk memperkuat atau menantang kekuasaan. Dari hukum sumptuari yang membatasi jenis kain tertentu bagi kelompok sosial tertentu, hingga gerakan revolusioner yang menggunakan simbol visual untuk mengonsolidasikan identitas kelompok, fesyen selalu berada di garis depan perjuangan politik. Dalam konteks ini, penggunaan fesyen oleh Jones dan John dapat dilihat sebagai bentuk “aktivisme fesyen” (fashion activism). Mereka mengubah visibilitas menjadi alat pertahanan hidup, terutama bagi komunitas marjinal, dengan menolak norma-norma kecantikan dan kesopanan yang ditetapkan oleh narasi dominan.

Dimensi Politik Fesyen Mekanisme Subversi Implikasi Sosial dan Budaya
Identitas Gender Penggunaan androgini, lintas busana (cross-dressing), dan elemen camp. Membongkar biner maskulin-feminin dan menantang hegemoni patriarki.
Politik Rasial Penekanan pada fitur etnis, penggunaan cat tubuh, dan estetika dandyisme hitam. Melawan pandangan kolonial (colonial gaze) dan merayakan “kehitaman” sebagai seni tinggi.
Hierarki Kelas Penggunaan estetika kelebihan (excess) dan simbol-simbol monarki yang didekonstruksi. Menantang selera modernis yang menghargai penghematan dan desain fungsional.
Aktivisme Kesehatan Kolaborasi dengan seniman untuk menyebarkan pesan tentang krisis sosial (misalnya HIV/AIDS). Menggunakan platform pop untuk meningkatkan kesadaran politik global.

Grace Jones: Arsitektur Tubuh dan Dekonstruksi Identitas

Grace Jones bukan sekadar seorang penyanyi atau model; ia adalah sebuah fenomena budaya yang melampaui batas-batas seni, fesyen, dan musik pop. Lahir di Jamaika pada tahun 1948 dan dibesarkan dalam lingkungan religius Pentakosta yang sangat represif, Jones mengembangkan identitasnya melalui penolakan radikal terhadap batasan eksternal. Perjalanannya dari seorang model di Paris hingga menjadi ikon avant-garde global merupakan sebuah studi tentang bagaimana seseorang dapat menjadikan diri mereka sendiri sebagai karya seni yang hidup (living artwork).

Sinergi Goude-Jones: Menciptakan Ilusi yang Kredibel

Penciptaan identitas visual Grace Jones yang paling ikonik tidak dapat dipisahkan dari kolaborasinya dengan Jean-Paul Goude, seorang seniman grafis dan desainer Prancis. Goude bertemu Jones di New York pada akhir 1970-an dan segera terpesona oleh karakteristik fisik Jones yang unik. Goude tidak memperlakukan Jones sebagai model tradisional, melainkan sebagai kendaraan artistik untuk mewujudkan visi grandiose-nya tentang keindahan yang melampaui kemanusiaan.

Melalui teknik manipulasi foto yang revolusioner—seperti memotong dan menyusun kembali (cut-and-paint) foto Polaroid—Goude menciptakan citra Jones yang memiliki anatomi mustahil. Dalam video “Slave to the Rhythm” (1985), wajah Jones dipotong dan dipanjangkan secara digital, menciptakan kesan bahwa ia adalah makhluk cyborg atau alien yang mengancam sekaligus menawan. Manipulasi ini memiliki implikasi mendalam: ia menunjukkan status Jones sebagai “orang luar” (outsider) yang tidak dapat didefinisikan oleh kategori ras, gender, atau spesies manusia sekalipun. Bersama-sama, mereka membangun sebuah legenda visual yang dilingkupi misteri, di mana kepribadian Jones yang provokatif memberikan energi pada ikonografi yang diciptakan Goude.

Androgini sebagai Senjata Melawan Patriarki

Androgini Grace Jones adalah bentuk perlawanan sadar terhadap standar feminitas yang menuntut kelembutan dan kepasrahan. Dengan potongan rambut “flat-top” yang tajam, tulang pipi yang menonjol, dan setelan jas bahu lebar (seringkali dirancang oleh Azzedine Alaïa), Jones memperkenalkan standar kecantikan baru yang merangkul keberanian dan non-konformitas. Ia secara sengaja menantang peran pria dengan mengambil kedua peran (pria dan wanita) sekaligus, sebuah taktik pertahanan diri yang ia kembangkan untuk membebaskan diri dari kendali laki-laki dalam hidupnya.

Bagi Jones, tindakan mencukur rambut adalah katalisator bagi transformasi pribadinya. Ia menghubungkan kontrol atas citra fisiknya dengan agensi seksual dan otonomi diri. Dengan menolak untuk “dikemas dengan rapi” demi kesuksesan komersial, Jones menggunakan androgini sebagai cara untuk mempertahankan kontrol dalam industri musik dan film yang didominasi oleh laki-laki. Citra ini sangat beresonansi dengan komunitas Queer, di mana Jones dipandang sebagai ikon yang memanifestasikan “potensi queer”—sebuah identitas tanpa esensi tetap yang berfungsi sebagai horison kemungkinan tak terbatas.

Kolaborasi dengan Keith Haring dan Aktivisme Visual

Selain Goude, kolaborasi Jones dengan seniman pop-art Keith Haring membawa dimensi aktivisme yang signifikan. Haring menggunakan tubuh Jones sebagai kanvas, melukisnya dengan motif tribal putih yang menjadi ciri khasnya. Puncak dari kolaborasi ini terlihat dalam video musik “I’m Not Perfect (But I’m Perfect for You)” (1986), di mana Jones mengenakan rok raksasa selebar 60 kaki yang dilukis oleh Haring.

Kolaborasi “Queer-Diva” ini bukan sekadar tontonan visual; ia merupakan penggabungan pluralisme rasial dan gender Jones dengan komitmen politik Haring terhadap isu-isu seperti rasisme dan krisis HIV/AIDS. Dengan menampilkan Jones dalam balutan seni Haring di platform musik arus utama, mereka berhasil membawa diskursus subkultur queer ke dalam kesadaran publik, menantang narasi anti-hitam dan anti-queer yang dominan pada masa itu.

Karya Kolaboratif Utama Media / Konteks Dampak Estetika dan Politik
“Slave to the Rhythm” (Goude) Sampul Album & Video Musik Menciptakan ilusi cyborg hitam yang melampaui biner manusia.
“One Man Show” (Goude) Film Konser & Tur (1982) Inkarnasi murni dari visi androgini Jones sebagai pusat kekuatan.
“I’m Not Perfect” (Haring) Video Musik (1986) Integrasi seni grafiti dan aktivisme HIV/AIDS dalam fesyen panggung.
Vamp (Film) Penampilan Film (1986) Penggunaan cat tubuh Haring untuk menciptakan karakter vampir yang ikonik.

Elton John: Spektakel Diri dan Politik Kelebihan (Excess)

Jika Grace Jones menggunakan fesyen sebagai arsitektur yang tajam dan dingin, Elton John menggunakan pakaian sebagai ledakan emosi, warna, dan hiperbola. Gaya berpakaian Elton John adalah bentuk perlawanan terhadap standar “rasa baik” (good taste) modernis yang menghargai fungsionalitas dan kesederhanaan. Melalui penggunaan payet, bulu, kacamata raksasa, dan platform tinggi, John menciptakan persona “Rocketman” yang mengguncang norma-norma maskulinitas konvensional di Inggris pasca-perang.

Era Bob Mackie dan Estetika Camp yang Radikal

Salah satu titik balik paling penting dalam evolusi gaya Elton John adalah pertemuannya dengan desainer Bob Mackie. Terinspirasi oleh kostum-kostum mewah dan berbulu yang dibuat Mackie untuk Cher, John meminta Mackie untuk menciptakan desain serupa untuk dirinya. Sinergi antara John dan Mackie menghasilkan beberapa momen fesyen paling ikonik dalam sejarah pop, termasuk seragam Dodgers yang dilapisi kristal (1975) dan kostum Donald Duck (1980).

Kostum-kostum ini adalah manifestasi dari estetika camp—sebuah gaya yang merayakan artifisialitas, kelebihan, dan ironi. Dengan mengenakan pakaian yang secara tradisional dianggap feminin atau tidak masuk akal (seperti kostum bebek dengan kaki yang terlalu besar sehingga ia tidak bisa berjalan atau duduk dengan benar), John mengekspos sifat performatif dari identitas gender. Tindakan ini menantang hierarki estetika yang sering memandang rendah “feminine excess” (kelebihan feminin) sebagai sesuatu yang murahan atau tidak artistik.

Evolusi Identitas: Dari Flamboyanitas ke Institusi Fesyen

Karier fesyen Elton John dapat dibagi menjadi beberapa fase yang mencerminkan pertumbuhannya sebagai artis dan individu. Pada akhir 1960-an, ia mulai bereksperimen dengan topi trilby kulit macan tutul tiruan dan mantel bulu palsu, dipengaruhi oleh figur industri musik yang flamboyan seperti Tony King. Memasuki tahun 1970-an, ia merangkul kacamata bertatahkan berlian yang kemudian menjadi ciri khas permanennya.

Fase paling ekstrem terjadi pada 1980-an dan 1990-an, di mana ia menggabungkan gaya punk (mohawk merah muda tahun 1986) dengan kemewahan aristokrat (kostum Raja Louis XIV untuk ulang tahun ke-50 pada tahun 1997). Penggunaan wig setinggi tiga kaki yang dihiasi kapal perang perak bukan sekadar lelucon; itu adalah pernyataan kekuasaan seorang “diva” yang telah membebaskan diri dari batasan representasi tradisional. Dalam fase ini, John juga mulai menjalin hubungan erat dengan rumah mode global seperti Versace dan Gucci, menunjukkan bagaimana radikalisme panggung dapat diadopsi ke dalam kemewahan arus utama.

Subversi Maskulinitas melalui “Feminine Excess”

Analisis akademis terhadap gaya Elton John sering kali menyoroti bagaimana ia menggunakan “kelebihan dekoratif” untuk merusak citra maskulinitas yang kaku. Di Inggris, terdapat sejarah panjang ketidaksukaan budaya terhadap segala sesuatu yang dianggap feminin atau dekoratif secara berlebihan. Dengan merangkul bulu boa, perhiasan mewah, dan riasan rambut yang rumit, John secara efektif menempatkan dirinya dalam tradisi “dandyisme” yang subversif—menggunakan pakaian untuk menegaskan kehadiran yang kontroversial namun tidak bisa diabaikan.

Pakaian-pakaiannya berfungsi sebagai jubah perlindungan sekaligus undangan bagi orang lain untuk mengekspresikan identitas mereka sendiri secara bebas. Dengan menjadi “terlalu banyak” (too much) bagi norma masyarakat, John menciptakan ruang bagi ekspresi queer dan non-konformitas untuk berkembang di bawah sorotan lampu panggung.

Kostum / Era Ikonik Elton John Desainer Utama Makna dan Dampak Budaya
Seragam Dodgers Berpayet (1975) Bob Mackie Menyatukan maskulinitas olahraga dengan keglamoran pop ekstrem.
Kostum Statue of Liberty (1976) Bob Mackie Dekonstruksi simbol nasional Amerika melalui lensa camp.
Era “Tour de Force” (1986) Bob Mackie Eksperimentasi dengan wig mohawk dan estetika neo-barok.
Kostum Louis XIV (1997) Custom Puncak dari identitas “Diva” melalui hiperbola sejarah.
Kolaborasi Gucci (2018) Alessandro Michele Rekonsiliasi antara gaya panggung historis dan fesyen tinggi modern.

Analisis Komparatif: Dua Pendekatan Subversi Visual

Meskipun Grace Jones dan Elton John muncul dari tradisi yang berbeda, mereka berbagi landasan yang sama dalam menggunakan tubuh mereka sebagai situs perlawanan politik. Namun, mekanisme subversi mereka memiliki karakteristik yang unik dan patut dianalisis lebih dalam.

Geometri Dingin vs. Ledakan Organik

Subversi Grace Jones bersifat arsitektural dan dingin. Ia menggunakan garis-garis tajam, material sintetis seperti lateks, dan manipulasi digital untuk menciptakan kesan ketidakterjangkauan. Ini adalah bentuk subversi yang beroperasi melalui kekuatan (power) dan dominasi visual. Sebaliknya, subversi Elton John bersifat organik dan ekspresif. Ia menggunakan material seperti bulu, sutra, dan kristal yang memantulkan cahaya, menciptakan aura inklusivitas dan kegembiraan. John menggunakan humor dan “ketidaknyamanan” kostum (seperti kaki bebek Donald Duck) untuk mengekspos kerentanan manusia di balik kemegahan panggung.

Ras, Kelas, dan Pandangan Kolonial

Bagi Grace Jones, pakaian adalah alat untuk menghadapi “colonial gaze”. Dengan menekankan kehitamannya (ultrablack) dan fitur wajahnya yang seringkali dianggap “terlalu banyak” bagi sensitivitas Amerika pada masa itu, ia memaksa dunia fesyen untuk menerima kecantikan kulit hitam yang tidak tunduk pada standar Eurosentris. Jones menggunakan elemen dandyisme hitam untuk bertransformasi dari “objek yang dikostumisasi” (budak fesyen) menjadi “subjek yang menata diri” (tuan atas fesyen).

Bagi Elton John, perjuangannya lebih terfokus pada kelas dan pembebasan gender dalam konteks masyarakat Inggris. Dengan menggunakan kemewahan Versailles atau kostum karakter kartun, ia merusak keseriusan kelas menengah dan menuntut pengakuan atas ekspresi diri yang emosional. Ia menunjukkan bahwa laki-laki bisa menjadi dekoratif tanpa kehilangan agensi atau otoritas mereka sebagai seniman.

Dampak Jangka Panjang pada Industri Kreatif dan Budaya Pop

Warisan radikal dari Grace Jones dan Elton John tidak berhenti di panggung pertunjukan mereka. Pengaruh mereka terus mengalir melalui generasi desainer, musisi, dan aktivis kontemporer, mengubah cara kita memandang hubungan antara citra diri dan partisipasi sosial.

Inspirasi bagi Generasi “Diva” Modern

Artis kontemporer seperti Lady Gaga, Rihanna, Janelle Monáe, dan Billy Porter adalah pewaris estetika yang dibangun oleh Jones dan John. Lady Gaga secara terbuka mengakui pengaruh teatralitas Jones dalam pendekatannya terhadap fesyen sebagai seni pertunjukan. Janelle Monáe terus mengeksplorasi tema androgini dan politik rasial melalui setelan jas ikoniknya, sementara Billy Porter menggunakan karpet merah sebagai runway politik untuk menantang norma gender pria—sebuah evolusi langsung dari keberanian Elton John dalam mengenakan gaun dan bulu-bulu di masa lalu.

Fesyen sebagai Alat Perlawanan di Era Digital

Di era media sosial, konsep “fesyen sebagai senjata” telah berpindah ke ruang digital. Platform seperti Instagram dan TikTok memungkinkan individu untuk melakukan kurasi diri yang politis dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Praktik yang dimulai oleh Jones dan Goude—yaitu manipulasi citra untuk menciptakan identitas baru—kini menjadi praktik umum bagi jutaan orang untuk mengetes batasan diri mereka di dunia luar.

Namun, pelajaran penting dari Jones dan John adalah bahwa subversi visual harus didukung oleh integritas artistik. Jones menekankan bahwa ia tidak pernah benar-benar “mengubah diri” (reinvented), melainkan berevolusi secara alami sambil tetap memegang kendali penuh atas citranya. Konsistensi dalam ketidak-konsistenan inilah yang membuat mereka tetap relevan sebagai ikon budaya yang tak lekang oleh waktu.

Kesimpulan: Panggung sebagai Arena Kebebasan Radikal

Perjalanan Grace Jones dan Elton John membuktikan bahwa panggung musik, ketika digabungkan dengan radikalisme fesyen, dapat menjadi salah satu situs paling kuat bagi perubahan sosial dan politik. Panggung bukan sekadar tempat untuk bernyanyi; ia adalah runway di mana identitas baru ditempa dan dipertontonkan kepada dunia. Melalui penggunaan pakaian sebagai baju zirah dan senjata, mereka telah meruntuhkan dinding-dinding prasangka yang membatasi ekspresi manusia berdasarkan ras, gender, dan kelas.

Jones dengan androgini geometrisnya yang menantang hegemoni patriarki, dan John dengan kelebihan dekoratifnya yang merusak archetipe maskulin kaku, keduanya mengajarkan bahwa kecantikan adalah sebuah pilihan politik. Mereka menunjukkan bahwa identitas bersifat cair (fluid), dan bahwa setiap jahitan pada kain dapat berbicara tentang kekuasaan, identitas, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa kompromi. Warisan mereka akan terus menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang percaya bahwa fesyen bukan sekadar apa yang kita kenakan, melainkan apa yang kita perjuangkan.