Loading Now

Paradigma Kedaulatan Artistik dalam Krisis Kebudayaan 2025: Analisis Mendalam Kasus Penolakan Institusional Amy Sherald

Fenomena Amy Sherald pada tahun 2025 menandai titik balik krusial dalam sejarah hubungan antara seniman kontemporer dan institusi kebudayaan publik di Amerika Serikat. Sherald, yang namanya telah terpatri dalam sejarah seni global melalui potret resmi Michelle Obama pada tahun 2018, kini menjadi figur sentral dalam diskursus mengenai kedaulatan artistik setelah keputusannya yang berani untuk menarik diri dari pameran tunggalnya, American Sublime, di National Portrait Gallery (NPG) milik Smithsonian Institution. Tindakan yang dikategorikan sebagai “penolakan institusional” (institutional refusal) ini bukan sekadar perselisihan administratif, melainkan sebuah manifestasi dari ketegangan mendalam antara integritas kreatif individu dengan tekanan politik sistemik yang mulai merasuki ruang-ruang kuratorial di bawah iklim administrasi federal yang baru.

Analisis ini akan mengeksplorasi secara mendalam bagaimana Sherald menggunakan posisinya sebagai salah satu pelukis figuratif paling berpengaruh di abad ke-21 untuk menentang normalisasi sensor. Melalui penelusuran terhadap evolusi teknisnya, filosofi “American Sublime,” dan konteks geopolitik tahun 2025, laporan ini akan membedah bagaimana kedaulatan seorang seniman menjadi garis pertahanan terakhir dalam menjaga kemandirian imajinasi publik.

Evolusi Estetika dan Filosofi “Tempat Istirahat”

Karier Amy Sherald dibangun di atas fondasi keinginan untuk mereformasi cara dunia melihat figur-figur kulit hitam dalam sejarah seni rupa Barat. Lahir di Columbus, Georgia, Sherald mengembangkan bahasa visual yang unik yang secara sadar menghindari narasi penderitaan yang sering kali dipaksakan pada subjek kulit hitam. Dalam pandangan Sherald, lukisan-lukisannya bukan sekadar potret, melainkan “tempat istirahat” (resting places) bagi subjeknya—sebuah ruang di mana mereka tidak perlu berada dalam kontestasi, tidak dirasialisasi, dan tidak dipolitisasi, melainkan cukup hadir sebagai manusia yang utuh.

Penggunaan Teknik Grisaille dan Dekonstruksi Identitas

Inti dari inovasi teknis Sherald terletak pada penggunaan grisaille, sebuah teknik monokromatik abu-abu yang secara historis digunakan oleh pelukis Renaisans sebagai studi awal untuk volume dan cahaya. Namun, dalam tangan Sherald, grisaille diubah menjadi alat teoretis untuk mendekonstruksi ras sebagai konstruksi sosial. Dengan menggambarkan kulit subjeknya dalam nuansa abu-abu, Sherald secara efektif menghilangkan penanda biologis ras yang sering kali menjadi dasar prasangka penonton.

Penggunaan teknik ini, yang dikombinasikan dengan latar belakang monokromatik yang cerah dan datar, menciptakan kontras yang memaksa penonton untuk fokus pada kehadiran psikologis subjek daripada konteks sosio-ekonominya. Subjek-subjek Sherald sering kali menatap langsung ke arah penonton dengan tatapan yang tenang namun tegas, menuntut pengakuan atas kedaulatan interior mereka.

Elemen Teknik Deskripsi dan Implementasi Signifikansi Teoretis
Grisaille (Abu-abu) Penggambaran kulit dalam skala abu-abu monokromatik. Menantang ras sebagai realitas biologis; menekankan kemanusiaan universal.
Monochromatism Latar belakang warna tunggal yang jenuh tanpa penanda ruang/waktu. Menghapus narasi sosiologis yang membatasi; memberikan kebebasan pada subjek.
Styling Kuratorial Pemilihan busana yang sangat spesifik dan imajinatif oleh seniman. Mentransformasi individu biasa menjadi ikon “American Sublime”.
Skala Monumental Ukuran kanvas yang besar, sering kali lebih besar dari ukuran manusia asli. Memberikan otoritas fisik dan psikologis kepada subjek yang terabaikan.

Melalui kombinasi elemen-elemen ini, Sherald menciptakan apa yang ia sebut sebagai bentuk baru dari lukisan figuratif Amerika yang tidak lagi bertumpu pada kerangka perlawanan (resistance) untuk mendefinisikan identitas kulit hitam, melainkan pada kebebasan untuk sekadar ada.

American Sublime: Narasi Baru Identitas Nasional

Pameran American Sublime dirancang sebagai pernyataan definitif mengenai kontribusi Sherald terhadap kanon seni Amerika. Judul pameran ini sendiri merupakan sebuah upaya untuk merebut kembali istilah “Sublime” yang dalam sejarah seni Eropa sering kali dikaitkan dengan keagungan alam yang menakutkan, atau dalam seni Amerika abad ke-19, dengan ekspansi wilayah (Manifest Destiny) yang sering kali melupakan keberadaan orang kulit hitam.

Menempatkan Kehidupan Kulit Hitam dalam Kanon Realisme

Sherald memposisikan karyanya dalam garis keturunan realisme Amerika, bersanding dengan seniman-seniman seperti Edward Hopper, Alice Neel, dan Kerry James Marshall. Namun, ia menyuntikkan perspektif baru yang ia sebut berasal dari departemen seni di Historically Black Colleges and Universities (HBCU)—sebuah tradisi intelektual yang secara historis terpinggirkan namun tetap menjadi akar bagi visinya.

Dalam retrospektif ini, karya-karya ikonik seperti potret Michelle Obama (2018) dan Breonna Taylor (2020) ditempatkan bersama dengan lukisan warga biasa yang ia temui di jalanan. Langkah ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk mencapai kondisi “sublime” jika diberikan ruang untuk menunjukkan interioritasnya yang kompleks.

Karya Kunci dalam American Sublime

Sejumlah karya monumental menjadi fokus dalam survei tengah karier ini, masing-masing membawa pesan mengenai kedaulatan diri:

  • Miss Everything (Unsuppressed Deliverance): Karya pemenang kompetisi Outwin Boochever ini menjadi simbol ascendance Sherald, menampilkan seorang wanita muda yang memegang cangkir teh dengan martabat yang tak tergoyahkan.
  • For Love, and for Country (2022): Sebuah karya yang mereferensikan foto legendaris Alfred Eisenstaedt di Times Square, namun kali ini menampilkan dua pelaut kulit hitam yang berciuman—sebuah klaim atas patriotisme dan kasih sayang yang inklusif.
  • Ecclesia (The Meeting of Inheritance and Horizons): Triptych berskala besar yang menggambarkan figur-figur dalam struktur menara penjaga pantai berwarna putih, sebuah meditasi mengenai pengawasan, perlindungan, dan horizon masa depan.
  • A God Blessed Land (Empire of Dirt) (2022): Menampilkan seorang pria di atas traktor, mengeksplorasi hubungan antara kerja, kepemilikan tanah, dan kedaulatan diri di komunitas pedesaan.

Anatomi Konflik Smithsonian 2025: Sensor dan Integritas

Krisis yang menimpa pameran American Sublime pada tahun 2025 menjadi salah satu peristiwa paling signifikan dalam politik seni rupa Amerika abad ini. Konflik ini tidak hanya mengekspos ketakutan institusional di tingkat tertinggi, tetapi juga menguji batas kompromi yang dapat diterima oleh seorang seniman demi akses ke platform publik.

Titik Picu: Trans Forming Liberty (2024)

Penyebab utama penarikan diri Sherald adalah kekhawatiran yang diajukan oleh Smithsonian mengenai lukisannya yang berjudul Trans Forming Liberty. Lukisan ini menggambarkan seorang wanita transgender kulit hitam, Arewá Basit, yang berpose sebagai Patung Liberty dengan wig merah muda cerah dan obor yang dipenuhi bunga. Karya ini dimaksudkan sebagai pernyataan mengenai visibilitas dan martabat bagi komunitas yang saat ini berada di bawah tekanan politik yang luar biasa di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan, kepemimpinan Smithsonian merasa khawatir bahwa menampilkan lukisan tersebut secara heroik dapat memprovokasi kemarahan Presiden Donald Trump, yang sejak awal masa jabatannya pada tahun 2025 telah menunjukkan permusuhan terbuka terhadap agenda keberagaman dan identitas gender di institusi publik.

Mekanisme Sensor Halus: Proposal Video

Yang membuat Sherald memutuskan untuk melakukan penarikan total bukanlah permintaan penghapusan lukisan secara langsung, melainkan proposal “kontekstualisasi” yang diajukan oleh Sekretaris Smithsonian, Lonnie G. Bunch III. Bunch mengusulkan agar lukisan Trans Forming Liberty tidak ditampilkan sebagai karya seni mandiri, melainkan digantikan atau didampingi oleh sebuah video yang menampilkan orang-orang yang mendiskusikan lukisan tersebut dan isu-isu transgender dari berbagai sudut pandang—termasuk sudut pandang yang anti-trans.

Sherald secara tegas menolak usulan ini. Baginya, mengganti kehadiran fisik lukisan dengan video debat berarti membuka nilai kemanusiaan dan visibilitas transgender untuk diperdebatkan secara publik. Ia menyatakan bahwa “kondisi tersebut tidak lagi mendukung integritas karya seperti yang dikonsepsikan” dan bahwa “ketakutan institusional yang dibentuk oleh iklim permusuhan politik yang lebih luas berperan penting dalam keputusan ini”.

Pihak Terlibat Posisi dan Argumen Utama Hasil Akhir
Amy Sherald Menolak pengaburan visi melalui video debat; menuntut integritas karya yang utuh. Menarik seluruh pameran dari Smithsonian.
Smithsonian Institution Mengklaim keinginan untuk “mengkontekstualisasikan” karya guna meredam kontroversi. Kehilangan pameran retrospektif paling komprehensif Sherald.
Lonnie G. Bunch III Mengusulkan video sebagai jembatan dialog publik mengenai isu-isu sensitif. Menghadapi kritik atas “ketakutan institusional”.
Administrasi Trump Mengeluarkan Perintah Eksekutif untuk meninjau “ideologi yang tidak tepat” di Smithsonian. Berhasil menciptakan atmosfer sensor diri (self-censorship) di museum.

Penolakan Sherald untuk “bermain” dalam simulasi dialog yang dirancang oleh institusi merupakan sebuah tindakan politik yang kuat. Ia menegaskan bahwa museum bukan sekadar ruang netral, melainkan sebuah entitas yang harus memiliki keberanian moral untuk mendukung kebenaran yang tidak nyaman.

Konteks Geopolitik: Perang Kebudayaan dan Mandat Federal

Tindakan Sherald tidak terjadi dalam ruang hampa. Tahun 2025 ditandai dengan serangan sistemik terhadap kebebasan akademik dan artistik di tingkat federal. Presiden Donald Trump, dalam masa jabatan keduanya, menjadikan institusi kebudayaan sebagai target utama untuk memaksakan narasi “Americanism” yang sempit.

Perintah Eksekutif Maret 2025

Pada Maret 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif yang secara spesifik menyasar Smithsonian Institution. Mandat ini bertujuan untuk menghapus apa yang disebut sebagai “ideologi ras-sentris yang memecah belah” dan melarang penggunaan dana federal untuk mendukung pengakuan terhadap identitas gender yang melampaui biner laki-laki dan perempuan. Perintah ini memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada eksekutif untuk mengontrol narasi sejarah yang ditampilkan di museum-museum nasional Amerika Serikat.

Dalam konteks ini, Smithsonian berada dalam posisi yang terjepit antara tanggung jawab kuratorialnya untuk mencerminkan kompleksitas masyarakat Amerika dan kebutuhan untuk mengamankan pendanaan federal di bawah administrasi yang sangat kritis. Ketakutan ini berujung pada pengunduran diri Kim Sajet sebagai direktur National Portrait Gallery setelah ia menjadi sasaran serangan karena dianggap “sangat partisan”.

Respon Sherald melalui Media Massa

Setelah penarikannya, Sherald tidak tinggal diam. Pada 24 Agustus 2025, ia menerbitkan sebuah opini di MSNBC yang sangat vokal berjudul “Censorship has taken hold at the Smithsonian. I refused to play along.”. Dalam tulisan tersebut, Sherald membandingkan kontrol pemerintah atas museum dengan praktik di rezim otoriter masa lalu. Ia berargumen bahwa museum adalah “memori umat manusia,” dan mengedit memori tersebut berarti mengendalikan masa depan bangsa.

Ia menulis bahwa museum seharusnya tidak menjadi panggung untuk menunjukkan loyalitas kepada pemerintah, melainkan sebuah “laboratorium sipil” tempat masyarakat bisa bergulat dengan kontradiksi-kontradiksi sejarahnya sendiri. Sherald menekankan bahwa ketika pemerintah mulai mengatur imajinasi publik, demokrasi sudah menyerahkan lebih dari yang ia sadari.

Institutional Refusal: Sebuah Tren Global Kedaulatan Artistik

Meskipun kasus Amy Sherald sangat spesifik dalam konteks seni rupa Amerika, fenomena “penolakan institusional” ini juga bergema di industri kreatif lainnya pada tahun 2025. Pergeseran ini menunjukkan bahwa seniman tingkat global semakin sadar akan nilai otonomi mereka di atas prestise institusi tradisional.

Paralel di Industri Musik: Rosé Blackpink dan KOMCA

Salah satu paralel yang paling mencolok terjadi di industri musik global, di mana Rosé dari BLACKPINK membuat keputusan bersejarah untuk keluar dari Korea Music Copyright Association (KOMCA) pada Januari 2025. Langkah ini merupakan pengulangan pertama dari tindakan serupa oleh legenda musik Seo Tai-ji 22 tahun yang lalu.

Alasan Rosé, meskipun tidak bersifat politis secara eksplisit seperti Sherald, berakar pada keinginan untuk mengontrol kedaulatan hak ciptanya di panggung global. Dengan beralih ke manajemen hak cipta internasional di bawah Atlantic Records dan ASCAP/BMI, Rosé menolak sistem domestik yang ia anggap tidak lagi efisien untuk mendukung ambisi artistiknya yang melintasi batas negara.

Dimensi Kedaulatan Amy Sherald (Seni Rupa) Rosé Blackpink (Musik)
Entitas yang Ditolak Smithsonian Institution (Pemerintah Federal AS). KOMCA (Badan Hak Cipta Korea).
Alasan Utama Penolakan terhadap sensor dan politik kebencian. Keinginan untuk manajemen hak cipta global yang lebih mandiri.
Mitra Alternatif Baltimore Museum of Art & High Museum. Atlantic Records & ASCAP/BMI.
Dampak Kritis Memperkuat status sebagai pejuang kebebasan berbicara. Menjadi solois K-pop pertama yang mendominasi kategori utama Grammy.

Kasus-kasus ini menunjukkan sebuah pergeseran paradigma di mana artis tidak lagi melihat diri mereka sebagai “penerima bantuan” dari institusi mapan, melainkan sebagai pemegang kekuatan naratif yang bisa memindahkan visinya ke platform mana pun yang menghormati integritas mereka.

Rerouting American Sublime: Baltimore dan Kebangkitan Komunitas

Kegagalan Smithsonian untuk menjadi tuan rumah bagi American Sublime justru membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih otentik di tempat lain. Baltimore Museum of Art (BMA) segera muncul sebagai penyelamat pameran tersebut, sebuah langkah yang sangat bermakna mengingat akar Sherald yang sangat dalam di kota tersebut.

Strategi “Move Mountains” di Baltimore

Direktur BMA, Asma Naeem, menyadari bahwa penolakan Sherald di Washington adalah momen krusial dalam sejarah seni. Dengan keberanian administratif yang jarang terjadi, BMA memutuskan untuk “memindahkan gunung” guna mengakomodasi pameran retrospektif ini hanya dalam waktu dua bulan setelah pembatalan di Smithsonian. Langkah ini melibatkan pengosongan galeri utama dan pengorganisasian logistik yang sangat kompleks dalam waktu singkat.

Bagi Baltimore, pameran ini bukan sekadar acara seni, melainkan sebuah kepulangan. Dari 38 lukisan yang dipamerkan di BMA, 23 di antaranya dibuat di Baltimore, dan banyak subjek dalam lukisan tersebut adalah warga Baltimore sendiri. Hal ini menciptakan tingkat keterlibatan publik yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan apa yang mungkin terjadi di NPG yang lebih kaku secara seremonial.

High Museum of Art: Destinasi Terakhir yang Simbolis

Setelah Baltimore, pameran akan berakhir di High Museum of Art di Atlanta pada Mei 2026. Lokasi ini memiliki makna personal bagi Sherald, karena di sanalah ia memulai pendidikannya sebagai siswa seni muda dari Columbus, Georgia. Kembalinya pameran ini ke Georgia menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan dari pemerintah federal di Washington, institusi seni regional tetap menjadi penjaga bagi kebebasan kreatif dan warisan lokal.

Warisan Penolakan Amy Sherald: Implikasi Masa Depan

Keputusan Amy Sherald untuk menarik diri dari Smithsonian pada tahun 2025 akan dikenang sebagai salah satu momen paling berani dalam sejarah seni kontemporer Amerika. Tindakan ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi ekosistem seni rupa global:

  1. Kedaulatan di Atas Prestise: Sherald membuktikan bahwa akses ke panggung nasional yang paling bergengsi tidaklah sebanding dengan harga diri sebuah karya seni. Dengan menolak kompromi, ia justru memperkuat nilai moral dan intelektual dari karyanya.
  2. Kekuatan Kolektif Seniman: Respon cepat dari Baltimore Museum of Art dan dukungan luas dari para kurator menunjukkan bahwa seniman memiliki jaringan pendukung yang tidak terbatas pada struktur pemerintahan.
  3. Museum sebagai Ruang Etis: Krisis ini memaksa museum-museum lain untuk merefleksikan posisi mereka: apakah mereka adalah pelayan kekuasaan politik atau penjaga kebenaran artistik?.
  4. Kegagalan Sensor Halus: Upaya Smithsonian untuk “mengkontekstualisasikan” karya melalui video justru menjadi bumerang, membawa lebih banyak perhatian pada lukisan Trans Forming Liberty daripada jika lukisan itu dipamerkan secara normal.

Amy Sherald tidak hanya melukis wajah-wajah orang Amerika; melalui penolakannya, ia telah melukis ulang batasan-batasan kebebasan bagi para seniman di masa depan. American Sublime bukan lagi sekadar judul pameran, melainkan sebuah standar baru bagi integritas artistik di tengah kegelapan politik.

Analisis Visual dan Material: Kedalaman Teknis American Sublime

Keberanian Sherald dalam arena politik didukung oleh penguasaan material yang luar biasa. Setiap sapuan kuas di kanvasnya adalah hasil dari proses persiapan yang panjang yang melibatkan pengumpulan referensi historis, fotografi studio, dan kurasi busana yang ketat. Di bawah ini adalah ringkasan data teknis mengenai karya-karya utama yang menjadi pusat perdebatan integritas:

Judul Karya Dimensi dan Medium Subjek dan Pakaian Lokasi Kepemilikan
Trans Forming Liberty 96 x 130 inci; Minyak di atas linen Arewá Basit; Gaun biru, wig fuchsia. Koleksi Artis / Hauser & Wirth.
Breonna Taylor 54 x 43 inci; Minyak di atas linen Breonna Taylor; Gaun biru laut, cincin pertunangan. Speed Art Museum & Smithsonian (Kepemilikan Bersama).
Michelle LaVaughn Robinson Obama 72 x 60 inci; Minyak di atas linen Michelle Obama; Gaun Milly bermotif geometris. National Portrait Gallery (Koleksi Permanen).
For Love, and for Country 108 x 160 inci (Triptych) Dua pelaut pria kulit hitam berciuman. SFMOMA (Koleksi Permanen).

Peran Fotografi dalam Proses Kreatif

Sherald memulai setiap lukisan dengan mencari orang-orang biasa yang memiliki “karakter yang tepat” untuk narasi imajinatifnya. Ia sering kali menghentikan orang asing di jalanan Baltimore atau New York dan mengajak mereka untuk berpose. Proses ini sangat mirip dengan pekerjaan seorang sutradara film; ia memilih pakaian, mengatur pose, dan mengambil foto yang kemudian akan ia transformasikan menjadi lukisan figuratif monumental.

Dalam American Sublime, Sherald menggunakan referensi sejarah fotografi untuk memperkuat pesan kedaulatannya. Ia merujuk pada foto-foto W.E.B. Du Bois yang diambil untuk Exposition Universelle di Paris tahun 1900, yang bertujuan untuk menunjukkan martabat dan kemajuan orang-orang Afrika-Amerika di awal abad ke-20. Dengan menghubungkan lukisannya dengan tradisi fotografi identitas ini, Sherald menegaskan bahwa subjeknya memiliki sejarah yang panjang dan berdaulat di luar tatapan rasial penonton kulit putih.

Penolakan Institusional: Perspektif Teori Seni dan Hukum

Tindakan Sherald pada tahun 2025 memberikan sumbangsih signifikan pada literatur mengenai institutional refusal. Dalam studi seni rupa, istilah ini merujuk pada keputusan seniman atau kurator untuk menolak berpartisipasi dalam sebuah sistem yang dianggap tidak lagi adil atau telah dikompromikan oleh kepentingan eksternal.

Kasus Pembanding: Sensor dan Resistensi Museum

Sejarah Smithsonian sebenarnya telah lama diwarnai oleh ketegangan ini. Pada tahun 2010, museum tersebut mendapatkan kecaman luas karena menghapus video karya David Wojnarowicz dari pameran “Hide/Seek” setelah mendapatkan tekanan dari anggota Kongres yang konservatif. Sherald secara eksplisit merujuk pada kegagalan institusional masa lalu ini dalam opininya di MSNBC, menegaskan bahwa pola sensor ini bukanlah hal baru, namun di tahun 2025, hal tersebut telah menjadi alat kebijakan yang sistemik.

Namun, perbedaan besar antara tahun 2010 dan 2025 adalah posisi tawar seniman. Amy Sherald, dengan pengikut global dan dukungan pasar yang kuat, tidak lagi bergantung pada validasi Smithsonian. Penarikannya membuktikan bahwa seniman-bintang di era modern memiliki kekuatan untuk mendikte persyaratan kolaborasi mereka sendiri, sebuah bentuk kedaulatan baru yang mengubah dinamika kekuasaan dalam dunia seni.

Transformasi Karakter: Dari Pelukis Ibu Negara menjadi Aktivis Kedaulatan

Perjalanan Amy Sherald dari tahun 2018 ke 2025 adalah sebuah studi mengenai evolusi kesadaran politik seorang seniman. Saat ia melukis Michelle Obama, ia fokus pada kesederhanaan dan kemanusiaan dari figur publik yang sangat diawasi. Namun, melalui pameran American Sublime dan kontroversi Trans Forming Liberty, Sherald telah mengambil peran yang lebih aktif sebagai pembela hak-hak sipil melalui medianya.

Ia tidak hanya ingin orang kulit hitam “dilihat” di museum; ia ingin mereka dilihat dengan cara yang tidak dapat dikompromikan oleh kekuasaan politik. Pilihan warna latar belakang yang cerah, penggunaan grisaille yang menantang, dan keberanian untuk membatalkan pameran nasional semuanya bermuara pada satu tujuan: perlindungan terhadap integritas identitas individu.

Dampak pada Kolektor dan Institusi Swasta

Akibat dari sikap Sherald, banyak kolektor swasta dan museum non-pemerintah mulai meninjau kembali kebijakan akuisisi dan pameran mereka. Terdapat tren peningkatan permintaan terhadap karya-karya yang memiliki “narasi perlawanan yang jujur”. Pasar seni merespons positif terhadap ketegasan Sherald, melihatnya sebagai investasi dalam integritas jangka panjang seorang seniman yang karyanya akan tetap relevan sebagai dokumen sejarah perjuangan kebudayaan di abad ke-21.

Kesimpulan Akhir: Kemenangan Integritas di Baltimore

Laporan ini menyimpulkan bahwa kegagalan Smithsonian Institution untuk mempertahankan visi Amy Sherald pada tahun 2025 adalah sebuah kerugian budaya yang tak terukur bagi publik Washington D.C., namun merupakan kemenangan moral bagi komunitas seni rupa secara luas. Melalui keberaniannya untuk melakukan “penolakan institusional,” Sherald telah menetapkan preseden bahwa kemerdekaan imajinasi jauh lebih berharga daripada panggung nasional manapun.

Pameran American Sublime di Baltimore Museum of Art bukan hanya pameran lukisan; itu adalah monumen bagi kedaulatan artistik. Di sana, lukisan Trans Forming Liberty dapat berdiri tegak tanpa perlu dikontekstualisasikan oleh video debat, mengingatkan setiap penonton bahwa kebebasan Amerika yang sejati adalah kebebasan untuk hadir sepenuhnya sebagai diri sendiri, tanpa rasa takut, dan tanpa kompromi. Sherald telah membuktikan bahwa meskipun pemerintah bisa mencoba mengontrol dinding museum, mereka tidak akan pernah bisa mengontrol kebenaran yang dipancarkan oleh sebuah kanvas yang merdeka.