Loading Now

Globalisasi Ritual dan Komodifikasi Tradisi: Analisis Festival Día de los Muertos, Holi, dan Nyepi dalam Ekonomi Pengalaman Global

Fenomena pariwisata kontemporer telah bergeser dari sekadar kunjungan pasif ke destinasi geografis menuju pencarian partisipasi aktif dalam apa yang disebut sebagai “ekonomi pengalaman.” Di pusat transformasi ini terdapat festival tradisional yang, melalui proses globalisasi dan mediasi digital, telah berevolusi dari ritual lokal yang sakral menjadi tontonan global yang menarik jutaan wisatawan internasional. Festival-festival seperti Día de los Muertos di Meksiko, Holi di India, dan Nyepi di Bali bukan lagi sekadar penanda waktu bagi komunitas adat atau penganut agama tertentu; mereka telah menjadi komoditas budaya yang diadopsi elemen-elemennya secara universal. Perubahan ini didorong oleh interaksi kompleks antara pengaruh sinematik, estetika media sosial, dan kerinduan manusia modern akan otentisitas di tengah disorientasi digital. Namun, di balik keberhasilan ekonomi dan popularitas global tersebut, terdapat ketegangan antara pelestarian nilai-nilai inti dengan tuntutan pasar pariwisata massal yang sering kali mengaburkan batas antara apresiasi budaya dan apropriasi yang dangkal.

Ontologi Kematian yang Dirayakan: Transformasi Día de los Muertos

Día de los Muertos, atau Hari Orang Mati, merupakan salah satu contoh paling menonjol dari festival tradisional yang berhasil menembus batasan budaya nasional untuk menjadi ikon budaya populer global. Berakar pada tradisi masyarakat adat Mesoamerika, festival ini mencerminkan filosofi yang memandang kematian bukan sebagai akhir dari kehidupan, melainkan sebagai tahap transisi dalam siklus keberadaan yang berkesinambungan.

Akar Prasejarah dan Sinkretisme Budaya

Tradisi ini memiliki silsilah yang dapat ditarik kembali ke ritual suku Aztek dan kelompok etnis Mesoamerika lainnya ribuan tahun yang lalu. Suku Aztek melakukan ritual untuk menghormati dewi Mictecacíhuatl, “Wanita Kematian,” yang menjaga tulang-belulang orang mati dan memerintah dunia bawah yang disebut Mictlan. Dalam pandangan kosmik mereka, orang mati tidak benar-benar pergi; mereka mempertahankan hubungan intim dengan yang hidup melalui persembahan yang saling menguntungkan. Salah satu legenda yang masih bertahan menceritakan tentang asal-usul bunga cempoalxochitl (marigold), di mana seorang wanita memohon kepada matahari untuk dipersatukan dengan kekasihnya yang tewas dalam perang; matahari mengubah pria tersebut menjadi bunga kuning dan wanita tersebut menjadi burung kolibri, menciptakan simbolisme cinta yang melampaui maut.

Setelah kedatangan Spanyol, ritual-ritual ini mengalami proses sinkretisme dengan kalender liturgi Katolik, khususnya Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints’ Day) dan Hari Arwah (All Souls’ Day) pada tanggal 1 dan 2 November. Meskipun ada perdebatan akademis apakah tradisi ini sepenuhnya berasal dari zaman pra-Hispanik atau merupakan konstruksi nasionalis pada abad ke-20 di bawah pemerintahan Lázaro Cárdenas untuk menciptakan identitas “Aztek” yang baru, Día de los Muertos kini telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Filosofi Altar dan Simbolisme Material

Inti dari perayaan ini adalah pembuatan ofrenda atau altar rumahan. Altar ini berfungsi sebagai jembatan spiritual yang mengundang roh-roh kembali ke dunia manusia. Setiap elemen yang ditempatkan pada altar memiliki fungsi metafisika yang spesifik:

Elemen Altar Makna Filosofis dan Fungsi
Foto Almarhum Menghadirkan identitas dan memori sosok yang dihormati.
Bunga Marigold (Cempasúchil) Jalur warna-warni dan aroma untuk memandu jiwa menuju rumah.
Kemenyan atau Kopal Panduan penciuman dan sarana penyucian udara.
Lilin Mewakili elemen api dan cahaya untuk menerangi jalan ruh.
Pan de Muerto Roti yang melambangkan kerangka dan persaudaraan antara yang hidup dan mati.
Tengkorak Gula (Calaveras) Pengingat akan kefanaan manusia dengan sentuhan humor.
Air dan Makanan Favorit Melepaskan dahaga dan rasa lapar jiwa setelah perjalanan panjang.

Perayaan ini sering kali mengambil nada humor melalui penulisan calaveritas literarias, yaitu ayat-ayat pendek yang mengejek kematian atau orang-orang yang masih hidup secara jenaka, menunjukkan bahwa bagi masyarakat Meksiko, kematian dapat dihadapi dengan tawa.

Pengaruh Sinema: “Spectre”, “Coco”, dan Penemuan Tradisi Baru

Globalisasi Día de los Muertos mendapatkan momentum yang tak terbendung melalui pengaruh industri film global. Film James Bond Spectre (2015) menampilkan adegan pembuka dengan parade megah di pusat Kota Meksiko. Menariknya, parade berskala besar tersebut sebenarnya tidak ada dalam tradisi asli Kota Meksiko sebelum film tersebut dibuat; perayaan tradisional biasanya lebih bersifat domestik dan berpusat di pemakaman keluarga. Namun, karena ekspektasi jutaan turis yang melihat film tersebut, pemerintah Meksiko akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan parade serupa di dunia nyata mulai tahun 2016.

Film animasi Disney-Pixar Coco (2017) memberikan kontribusi yang lebih mendalam dengan melakukan riset ekstensif di Kota Guanajuato untuk memastikan keakuratan representasi budaya. Coco berhasil mengomunikasikan nilai-nilai inti keluarga dan penghormatan terhadap leluhur kepada audiens global, mengubah persepsi internasional tentang tengkorak dan kematian dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesuatu yang penuh warna dan cinta. Keberhasilan sinematik ini telah mendorong lonjakan pariwisata yang signifikan ke wilayah-wilayah tradisional seperti Oaxaca dan Michoacán.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata Massal

Statistik menunjukkan bahwa festival ini telah menjadi pendorong ekonomi utama bagi Meksiko. Pada tahun 2024, pengeluaran konsumen selama perayaan Día de los Muertos diperkirakan melampaui 45,3 miliar peso (sekitar US$ 2,3 miliar), meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Industri perhotelan sendiri mendapatkan pemasukan sekitar 4,2 miliar peso dengan tingkat keterisian kamar mencapai lebih dari 60% secara nasional.

Wilayah Fokus Pariwisata Dampak Ekonomi dan Kunjungan (2023-2025)
Kota Meksiko Menarik lebih dari 1,3 juta orang untuk parade utama.
Oaxaca de Juárez Menghasilkan pendapatan 650 juta peso pada puncak perayaan.
Michoacán (Pátzcuaro) Tingkat keterisian hotel mencapai 100%.
Nasional (Meksiko) Prediksi kunjungan mencapai 1,6 juta turis menginap di hotel.

Meskipun memberikan keuntungan ekonomi yang luas bagi 4,8 juta bisnis keluarga, lonjakan pariwisata ini juga membawa tantangan berupa komodifikasi berlebihan dan potensi “bastardisasi” budaya di mana kebutuhan turis mulai didahulukan daripada tradisi komunitas asli.

Holi: Spektrum Warna, Cinta, dan Pelarutan Batasan Sosial

Holi, yang dikenal secara global sebagai “Festival Warna,” adalah perayaan Hindu kuno yang menandai kedatangan musim semi, kemenangan kebaikan atas kejahatan, dan ekspresi kegembiraan universal. Karakteristik utamanya yang melibatkan pelemparan bubuk berwarna (gulaal) telah diadopsi secara luas di berbagai belahan dunia dalam bentuk acara lari santai, festival musik, dan pesta warna yang melepaskan konteks religius aslinya.

Fondasi Mitologis dan Filosofis

Makna spiritual Holi berakar pada beberapa legenda penting. Cerita yang paling populer adalah tentang Prahlad, pengikut setia Dewa Wisnu, yang selamat dari upaya pembakaran oleh ayahnya yang jahat, Hiranyakashipu, dan bibinya, Holika. Holika, yang memiliki jubah ajaib tahan api, terbakar sementara Prahlad selamat karena pengabdiannya. Malam sebelum Holi dirayakan dengan Holika Dahan, ritual membakar api unggun untuk menyimbolkan penghancuran negativitas dan kesombongan.

Dimensi lain dari Holi berasal dari kisah cinta Dewa Krishna dan Radha. Krishna, yang merasa minder dengan kulitnya yang gelap dibandingkan dengan kulit Radha yang terang, disarankan oleh ibunya untuk mengoleskan warna pada wajah Radha agar mereka tampak sama. Legenda ini mengubah Holi menjadi festival cinta dan kesetaraan, di mana semua perbedaan kasta, kelas, usia, dan status sosial larut dalam semburan warna. Ungkapan “Bura na mano, Holi hai” (Jangan tersinggung, ini hari Holi) mencerminkan semangat pengampunan dan rekonsiliasi.

Globalisasi dan Tantangan Apropriasi Budaya

Elemen visual Holi yang dinamis telah mendorong kemunculan acara global seperti “The Color Run,” sebuah maraton 5K yang menggabungkan olahraga dengan pesta bubuk warna. Meskipun acara ini mengklaim terinspirasi oleh keceriaan Holi, situs resminya sering kali minim dalam mengakui akar tradisi Hindu yang berusia ribuan tahun tersebut. Hal ini memicu debat mengenai batas antara apresiasi budaya dan apropriasi. Kritik muncul ketika elemen sakral dari sebuah tradisi diambil secara dangkal untuk keuntungan komersial tanpa memahami signifikansi spiritualnya.

Perbandingan Konteks Holi Tradisional Acara Komersial (Misal: Color Run)
Tujuan Utama Pembersihan spiritual, kemenangan dharma. Gaya hidup aktif, hiburan, branding korporat.
Simbolisme Warna Mewakili energi musim semi dan kesetaraan ilahi. Estetika visual untuk media sosial.
Ritual Pendukung Holika Dahan (api unggun), doa, lagu rakyat. Musik DJ, lari marathon, pembagian medali.

Beberapa akademisi berpendapat bahwa “pemutihan” (whitewashing) festival ini menyebabkan hilangnya memori kolektif dan penghormatan terhadap identitas komunitas asal. Namun, di sisi lain, adaptasi ini juga dilihat sebagai bentuk hibriditas budaya yang memungkinkan tradisi untuk tetap relevan dalam masyarakat global yang heterogen.

Overtourism di Kawasan Braj dan Isu Sosial

Pusat perayaan Holi yang paling otentik berada di wilayah Braj, India, khususnya di Mathura dan Vrindavan. Jutaan peziarah dan turis datang untuk menyaksikan ritual unik seperti Lathmar Holi di Barsana (di mana wanita memukul pria dengan tongkat secara jenaka) atau Phoolon Wali Holi (permainan warna menggunakan kelopak bunga).

Lonjakan pengunjung ini telah menyebabkan masalah overtourism. Pada tahun 2025, Kuil Banke Bihari mengeluarkan peringatan agar pengunjung menghindari Vrindavan selama periode puncak karena kemacetan yang membahayakan keselamatan jiwa. Selain masalah infrastruktur, terdapat pula keluhan mengenai perilaku turis dan pelecehan terhadap perempuan selama perayaan, di mana suasana bebas Holi sering kali disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindakan yang tidak menghormati batasan pribadi.

Nyepi: Paradoks Keheningan di Pulau Dewata

Berbeda dengan keriuhan Día de los Muertos atau Holi, Nyepi di Bali menawarkan pengalaman unik berupa keheningan total. Sebagai Tahun Baru Saka, Nyepi dirayakan bukan dengan pesta pora, melainkan dengan introspeksi mendalam, meditasi, dan penyucian diri serta alam semesta.

Teologi Keheningan dan Catur Brata Penyepian

Nyepi didasarkan pada filosofi pemurnian Bhuana Agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrokosmos). Selama 24 jam, seluruh pulau Bali berhenti beraktivitas untuk menjalankan Catur Brata Penyepian, yang terdiri dari empat pantangan utama:

  1. Amati Geni: Tidak menyalakan api atau lampu, secara fisik maupun spiritual (mengendalikan nafsu).
  2. Amati Karya: Tidak melakukan pekerjaan fisik atau aktivitas rutin.
  3. Amati Lelungaan: Tidak bepergian ke luar rumah atau lingkungan tempat tinggal.
  4. Amati Lelanguan: Tidak mencari hiburan atau kesenangan duniawi.

Secara simbolis, keheningan ini dimaksudkan untuk mengelabui roh jahat (Bhuta Kala) agar percaya bahwa pulau Bali telah kosong, sehingga mereka akan pergi dan tidak mengganggu kehidupan manusia di tahun yang baru. Petugas keamanan tradisional yang disebut Pecalang berpatroli dengan otoritas tenang untuk memastikan semua orang, termasuk wisatawan, menghormati aturan ini.

Rangkaian Ritual: Dari Melasti Hingga Ogoh-Ogoh

Nyepi didahului oleh serangkaian upacara yang sangat visual dan menarik bagi wisatawan. Upacara Melasti melibatkan arak-arakan benda sakral kuil ke laut atau danau untuk penyucian menggunakan Tirta Amerta (air kehidupan). Sehari sebelum Nyepi, terjadi ritual Ngrupuk yang dimeriahkan dengan pawai Ogoh-Ogoh—patung raksasa yang melambangkan kekuatan negatif atau karakter jahat dalam mitologi Hindu. Pada akhir parade, patung-patung ini biasanya dibakar sebagai simbol pembersihan energi negatif sebelum pulau memasuki fase keheningan total.

Komodifikasi Keheningan: “Silence Packages”

Modernisasi pariwisata di Bali telah mengubah Nyepi menjadi komoditas melalui penawaran “Paket Nyepi” atau “Silent Retreat” di berbagai resor mewah. Paket-paket ini mengemas keheningan religius sebagai pengalaman wellness dan detoksifikasi digital. Wisatawan ditawarkan akomodasi yang tenang, program meditasi terbimbing, dan makanan organik, namun tetap harus mematuhi larangan untuk tidak meninggalkan area hotel dan meminimalkan pencahayaan di malam hari.

Karakteristik Paket Nyepi Elemen Pengalaman Wisatawan
Durasi Paket Biasanya 3 hari 2 malam (sebelum, saat, dan sesudah Nyepi).
Fasilitas Terbatas Lampu balkon dimatikan, suara TV/audio diminimalkan.
Aktivitas In-house Yoga, meditasi, jalan budaya di dalam area resor.
Dampak Konektivitas Sering kali terjadi pemutusan atau pelambatan data seluler se-pulau.

Meskipun komodifikasi ini memberikan pendapatan berkelanjutan bagi industri pariwisata saat bandara ditutup, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai pendangkalan makna sakral dari Nyepi itu sendiri. Namun, para praktisi berpendapat bahwa selama nilai-nilai inti seperti Tri Mandala (pembagian zona sakral, netral, dan profan) dipertahankan, pariwisata dan tradisi dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Dampak Ekologis Nyepi yang Mendunia

Salah satu aspek Nyepi yang menarik perhatian dunia adalah dampak positifnya terhadap lingkungan. Dalam satu hari keheningan, Bali mencatat penurunan emisi karbon yang signifikan, penurunan polusi udara, dan penghapusan polusi cahaya yang memungkinkan langit berbintang terlihat dengan sangat jelas. Fenomena ini telah memposisikan Nyepi sebagai inspirasi global bagi gerakan “Hari Istirahat Bumi” dan kesadaran lingkungan tahunan.

Dinamika Media Digital dan Fenomena “Instagrammability”

Transformasi festival tradisional menjadi fenomena dunia tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok telah mengubah cara wisatawan mengonsumsi budaya. Ritual yang dulunya memiliki fungsi spiritual yang mendalam kini sering kali dinilai berdasarkan potensi visualnya untuk dibagikan secara digital.

Statistik Pengaruh Media Sosial pada Pilihan Destinasi

Sebuah studi oleh Bitkom menunjukkan betapa dominannya media sosial dalam membentuk tren perjalanan saat ini:

Kelompok Usia Persentase Memilih Destinasi demi Foto Media Sosial Referensi
Usia 16-29 Tahun 71%
Rata-rata Umum 60%
Pengaruh Teman/Keluarga 47%

Festival seperti Holi dan Día de los Muertos sangat populer di kalangan usia muda karena warna-warninya yang mencolok. Namun, hal ini menciptakan tren “Insta vs Reality” di mana turis sering kali merasa kecewa ketika mendapati realitas di lapangan yang jauh lebih sesak, kotor, atau menantang daripada citra yang telah diedit secara estetis oleh para pemengaruh (influencer).

Homogenisasi Pengalaman Budaya

Algoritma media sosial cenderung mempromosikan lokasi atau momen yang sama berulang kali, yang menyebabkan jutaan turis berbondong-bondong ke titik koordinat yang identik hanya untuk mengambil foto yang sama. Ini menyebabkan “homogenisasi pengalaman,” di mana pemahaman mendalam tentang sejarah atau filosofi sebuah festival diabaikan demi mendapatkan konten visual yang “viral”. Akibatnya, destinasi yang dulunya tenang dan sakral bisa berubah menjadi lokasi pemotretan massal yang mengganggu kenyamanan penduduk lokal dan ekosistem sekitar.

Analisis Ekonomi: Pariwisata Festival sebagai Mesin Pertumbuhan

Secara makroekonomi, festival-festival tradisional ini telah terbukti sebagai aset strategis bagi negara-negara berkembang untuk mendapatkan devisa dan menciptakan lapangan kerja.

India: Pertumbuhan di Bulan Maret

Data kunjungan wisatawan mancanegara ke India menunjukkan bahwa bulan Maret, yang biasanya menjadi waktu perayaan Holi, merupakan salah satu periode puncak kunjungan tahunan:

Bulan Puncak (2023) Jumlah Kedatangan Wisman Kontributor Utama
Desember 1,028,000 Liburan akhir tahun.
Februari 1,003,000 Akhir musim dingin, festival lokal.
Maret 860,000 Perayaan Holi, musim semi.

Pertumbuhan ini berkontribusi pada pendapatan devisa India yang mencapai ₹ 2,75 triliun pada tahun fiskal 2023, melonjak signifikan pasca-pandemi. Festival Holi berfungsi sebagai gerbang bagi wisatawan untuk mengeksplorasi warisan budaya India lainnya, yang pada akhirnya meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional sebesar 5,22%.

Bali: Rekor Kunjungan dan Tantangan Wisatawan Domestik

Bali mencatat sejarah pada tahun 2025 dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menembus 7,05 juta orang, melampaui rekor tertinggi sebelumnya pada tahun 2019. Menariknya, meskipun kunjungan asing melonjak, terdapat penurunan jumlah wisatawan domestik sekitar 700.000 orang, yang sebagian disebabkan oleh narasi negatif di media sosial mengenai harga atau kenyamanan di pulau tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa festival tradisional sebagai daya tarik utama tetap sangat kuat bagi pasar internasional, namun membutuhkan manajemen citra yang lebih baik untuk pasar domestik.

Ketegangan Sosiokultural: Komodifikasi vs. Otentisitas

Fenomena festival dunia membawa kita pada pertanyaan mendasar: apakah pariwisata menyelamatkan tradisi atau menghancurkannya? Analisis terhadap berbagai studi kasus menunjukkan bahwa dampak pariwisata bersifat ganda.

Komodifikasi yang Menyelamatkan

Di satu sisi, pariwisata festival dapat memberikan insentif ekonomi bagi komunitas lokal untuk mempertahankan tradisi mereka yang mungkin akan ditinggalkan di bawah tekanan modernisasi. Di Bali dan India, kerajinan tangan, musik tradisional, dan tarian mengalami kebangkitan karena menjadi pusat perhatian industri pariwisata. Globalisasi memungkinkan budaya kecil atau kurang dominan untuk mendapatkan visibilitas dan perlindungan internasional melalui organisasi seperti UNESCO.

Risiko “Apartheid Sosial-Ekonomi” dan Gentrifikasi

Di sisi lain, terdapat risiko terjadinya pemisahan antara komunitas lokal dengan warisan budaya mereka sendiri. Di Meksiko, perkembangan pusat-pusat pariwisata massal kadang-kadang memicu biaya hidup yang tinggi, memaksa pekerja kelas bawah untuk tinggal di pemukiman kumuh sementara kawasan bersejarah dikuasai oleh modal asing dan turis kaya—sebuah kondisi yang digambarkan sebagai “apartheid sosial dan ekonomi” de facto. Di Oaxaca, festival Guelaguetza menghadapi kritik karena harga tiket yang tidak terjangkau oleh warga asli, menjadikannya tontonan elit daripada perayaan rakyat.

Adopsi Elemen Festival Secara Global: Kasus Difusi Budaya

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana elemen dari festival-festival ini mulai diadopsi oleh kota-kota besar dunia sebagai bagian dari kalender budaya mereka sendiri.

Difusi Día de los Muertos di Amerika Serikat

Komunitas Meksiko di Amerika Serikat, terutama di Los Angeles, Chicago, dan San Antonio, telah mengintegrasikan Día de los Muertos ke dalam lanskap budaya Amerika. Parade dan pameran altar kini menjadi acara publik yang diikuti oleh berbagai etnis, menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat berpindah tempat dan tetap mempertahankan nilai-nilai intinya sambil beradaptasi dengan lingkungan baru.

Gerakan “Silent Day” Global terinspirasi Nyepi

Konsep Nyepi sebagai hari untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia telah menginspirasi gerakan internasional. Di Inggris, “Silent Retreat” menjadi tren untuk meningkatkan kesehatan mental dan kejernihan pikiran. Di Amerika Serikat, terdapat “National Day of Unplugging” yang mendorong masyarakat untuk menjauhi teknologi selama 24 jam, sebuah praktik yang secara filosofis sangat mirip dengan Amati Lelanguan dan Amati Geni pada Nyepi.

Negara Tradisi Serupa Nyepi/Difusi Makna Inti
Amerika Serikat National Day of Unplugging Istirahat dari teknologi dan fokus pada interaksi nyata.
Inggris Silent Retreats Meditasi mendalam tanpa gangguan suara eksternal.
Malaysia Hari Waisak (oleh umat Buddha) Refleksi spiritual dan keheningan di kuil.
Cina Festival Qingming Penghormatan leluhur dalam suasana tenang dan khusyuk.

Masa Depan Festival Tradisional dalam Era Globalisasi

Menghadapi masa depan, tantangan utama bagi festival tradisional yang mendunia adalah bagaimana menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan budaya. Globalisasi tidak harus berarti homogenisasi; sebaliknya, ia bisa menjadi panggung untuk hibriditas yang memperkaya.

Strategi Ketahanan Budaya

Masyarakat Bali telah menunjukkan contoh melalui konsep revitalisasi nilai-nilai Hindu untuk melawan penetrasi budaya global yang merusak. Mereka merekonstruksi tradisi bukan sekadar sebagai warisan statis, tetapi sebagai kekuatan budaya yang adaptif dan reflektif terhadap tantangan zaman, seperti krisis lingkungan dan degradasi spiritual. Melalui pendidikan, dokumentasi digital, dan keterlibatan komunitas yang kuat, otentisitas ritual dapat dipertahankan meskipun dikelilingi oleh pariwisata massal.

Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Fenomena mendunianya festival tradisional seperti Día de los Muertos, Holi, dan Nyepi membuktikan bahwa ritual kuno memiliki relevansi yang luar biasa dalam masyarakat modern yang haus akan koneksi emosional dan spiritual. Jutaan turis yang datang ke festival-festival ini menunjukkan bahwa ada kerinduan kolektif untuk melampaui keseharian yang mekanistis melalui partisipasi dalam sesuatu yang sakral dan penuh warna. Namun, keberlanjutan dari daya tarik ini sangat bergantung pada kemampuan penyelenggara dan komunitas lokal untuk mempertahankan “jiwa” dari ritual tersebut dari ancaman komodifikasi yang dangkal.

Integrasi teknologi digital dan media sosial harus diarahkan bukan hanya untuk pemasaran visual, tetapi juga untuk edukasi mendalam mengenai makna di balik setiap warna, keheningan, atau altar yang dipajang. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk mengambil foto, tetapi untuk “belajar, menghargai, dan hidup bersama” dengan komunitas yang memelihara warisan tersebut. Keberhasilan jangka panjang festival tradisional yang mendunia terletak pada kemampuannya untuk tetap menjadi laboratorium sosial-spiritual bagi manusia modern untuk berhenti sejenak, merenung, dan merayakan kehidupan serta kematian dalam harmoni yang seimbang.