Loading Now

Ultra-Fast Fashion Digital: Membongkar Model Bisnis Global—Antara Harga Murah dan Biaya Lingkungan

Model bisnis Ultra-Fast Fashion (UFF), yang dipelopori oleh entitas seperti Shein, merupakan disrupsi signifikan terhadap industri ritel dan mode global. Model ini berhasil menawarkan pakaian dengan harga yang sangat rendah, dipasangkan dengan kecepatan pengiriman yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menjadikannya menarik bagi konsumen global. Namun, keberhasilan ekonominya terletak pada optimalisasi teknologi dan logistik yang ekstrem, yang secara bersamaan secara radikal mengeksternalisasi biaya sesungguhnya kepada lingkungan, hak-hak pekerja, dan integritas kekayaan intelektual (IP).

Pernyataan tesis kunci dari laporan ini adalah bahwa Ultra-Fast Fashion adalah model yang menginternalisasi efisiensi teknologi dan logistik, namun secara radikal mengeksternalisasi biaya sesungguhnya. Studi kasus Shein menunjukkan integrasi vertikal digital pertama di dunia mode, yang memungkinkannya mencapai volume dan kecepatan yang tak tertandingi. Kontras antara nilai yang dirasakan oleh konsumen—harga yang sangat murah—dan biaya manusia yang disubsidi—seperti jam kerja ilegal 16 hingga 18 jam per hari  dan volume limbah tekstil yang tak terkendali yang diekspor ke negara-negara berkembang —menyoroti kegagalan sistemik dalam akuntabilitas rantai pasokan global. Analisis ini akan membongkar pilar teknologi, keunggulan logistik, dan dampak multidimensi dari model bisnis yang sangat cepat dan berbiaya rendah ini.

Definisi dan Fondasi Ultra-Fast Fashion (UFF)

Membedakan Fast Fashion dari Ultra-Fast Fashion: Disrupsi Digital

Ultra-Fast Fashion (UFF) mewakili evolusi dramatis dari model Fast Fashion (FF) tradisional. Ketika FF, yang dipopulerkan oleh peritel seperti Zara, bertujuan untuk mempercepat siklus musiman menjadi mingguan—dikenal karena misi untuk membawa pakaian dari desain ke toko dalam 15 hari —UFF menggeser paradigma ini menjadi siklus harian. UFF didorong oleh volume variasi produk (Stock Keeping Unit/SKU volume) dan data, yang memungkinkan waktu time-to-market yang hanya 5 hingga 7 hari dari ide hingga produk terdaftar secara online.

Perbedaan struktural ini dapat diringkas melalui perbandingan kriteria operasional. Model UFF memiliki kemampuan untuk meluncurkan lebih dari 10.000 produk baru per hari , sebuah volume yang secara kualitatif berbeda dari puluhan atau ratusan yang dihasilkan oleh peritel FF konvensional. Kecepatan dan variasi produk yang luar biasa ini secara langsung menciptakan banjir produk di pasar, yang pada gilirannya mendorong percepatan obsolensi pakaian.

Table 1: Perbandingan Model Bisnis: Fast Fashion vs. Ultra-Fast Fashion (UFF)

Kriteria Fast Fashion (FF) Tradisional Ultra-Fast Fashion (UFF) (Contoh Shein) Implikasi Sistemik
Pemicu Produksi Perkiraan tren musiman/koleksi berdasarkan peritel Prediksi AI Real-time & Sinyal Permintaan Digital Mengurangi risiko inventaris, meningkatkan responsivitas pasar.
Waktu Siklus Produk Beberapa minggu (3-6 minggu) Beberapa hari (5-7 hari) Mempercepat siklus tren (micro-trends) secara drastis.
Volume Batch Awal (Testing) Ratusan hingga ribuan unit Micro-batch (100-200 unit) Menguji coba ribuan gaya tanpa komitmen modal besar.
Jumlah SKU Baru/Hari Puluhan hingga Ratusan Lebih dari 10.000 Menciptakan banjir produk dan mendorong obsolensi yang dipercepat.
Logistik Primer Sebagian besar Sea Freight ke DC Sebagian besar Air Freight (5,000 MT/hari) Kecepatan diprioritaskan, meningkatkan jejak karbon logistik.

Pilar Teknologi: AI, Big Data, dan Rantai Pasokan Demand-Driven

Fondasi model UFF terletak pada platform digital penuh, yang beroperasi secara eksklusif online tanpa toko fisik. Platform ini didukung oleh kecerdasan buatan (AI) dan data besar (big data) yang digunakan untuk prediksi tren. Perusahaan UFF menggunakan machine learning untuk melacak sinyal permintaan dan tren yang muncul secara real-time dari berbagai platform media sosial, termasuk TikTok, Instagram, Pinterest, dan Google.

Model ini secara fundamental bergeser dari model supply-driven tradisional (yang memproduksi berdasarkan perkiraan dan perkiraan musiman) ke model demand-driven. Dengan mengukur sinyal permintaan—seperti cara pengguna berinteraksi dengan aplikasi atau situs web—UFF dapat menginformasikan desainnya sehingga mereka memproduksi produk yang mereka yakini diinginkan pelanggan, tepat saat pelanggan menginginkannya.

Micro-Batching dan Agility Manufaktur (The Testing Phase)

Inovasi utama dalam manajemen rantai pasokan adalah praktik micro-batching atau pengujian dalam jumlah sangat kecil. Setiap item baru diluncurkan dalam kelompok awal yang sangat kecil, biasanya antara 100 hingga 200 unit. Tujuannya adalah untuk menilai permintaan konsumen secara real-time.

Jika suatu item terbukti laris, produksi dapat ditingkatkan dengan cepat. Sebaliknya, jika item tersebut gagal, lini tersebut segera dihentikan. Proses yang sangat otomatis ini diklaim dapat meminimalkan overproduction atau kelebihan stok. Namun, terdapat kontradiksi yang signifikan. Meskipun model ini meminimalkan overstocking pada tingkat per SKU yang sukses, peluncuran ribuan SKU baru setiap hari (lebih dari 10.000 produk per hari ) berarti volume total pakaian yang memasuki pasar tetap sangat tinggi. Sebagian besar SKU yang gagal dalam tahap pengujian atau memiliki kualitas rendah kemudian dihentikan dan menjadi limbah yang cepat, yang secara kolektif berkontribusi besar terhadap masalah limbah tekstil.

Keunggulan Kompetitif dan Logistik: Mengubah Regulasi Menjadi Keuntungan Biaya

Rantai Pasokan Terdigitalisasi dan Dispersi Manufaktur

Kecepatan UFF tidak hanya didorong oleh AI, tetapi juga oleh struktur rantai pasokan yang sangat terdigitalisasi dan terdesentralisasi. Platform UFF mengelola jaringan yang luas, misalnya, sekitar 5.400 kontraktor pihak ketiga di Tiongkok. Digitalisasi yang tinggi ini memungkinkan integrasi yang cepat, menghubungkan permintaan konsumen secara langsung dengan pabrik-pabrik manufaktur.

Keunggulan ini memotong rantai nilai tradisional, menghilangkan peran distributor dan merek besar yang mengambil sebagian besar keuntungan. Dengan memungkinkan pabrik Tiongkok untuk mendekati pasar AS dan Eropa secara lebih langsung, UFF dapat menyalurkan penghematan biaya operasional ini kepada konsumen dalam bentuk harga eceran yang ultra-murah. Dengan lead times diukur dalam hitungan hari, bukan minggu, efisiensi logistik telah menjadi diferensiator biaya terbesar.

Regulatory Arbitrage: Manfaat Celah De Minimis (Section 321)

Strategi logistik UFF secara cerdik memanfaatkan celah regulasi perdagangan internasional untuk mengurangi biaya secara signifikan. Mereka mengirimkan sebagian besar barang secara langsung dari Tiongkok ke konsumen akhir (DTC). Di Amerika Serikat, strategi ini mengeksploitasi pengecualian de minimis di bawah Section 321(a)(2)(C) dari Tariff Act of 1930.

Pengecualian ini mengizinkan barang impor dengan nilai retail wajar di bawah ambang batas (saat ini $800) untuk masuk tanpa bea masuk, pajak, dan pemeriksaan bea cukai formal. Pengecualian ini, yang awalnya dimaksudkan untuk efisiensi administrasi, kini berfungsi sebagai subsidi perdagangan yang signifikan bagi model UFF, yang memungkinkan harga eceran ultra-murah yang tidak dapat ditandingi oleh peritel domestik yang harus membayar bea masuk massal. Pemanfaatan de minimis ini telah melonjak secara eksponensial, meningkat dari 153 juta entri pada tahun 2015 menjadi lebih dari 1 miliar pada tahun 2023. Keunggulan biaya logistik yang diperoleh melalui celah ini memungkinkan UFF untuk menyerap biaya lain (seperti angkutan udara yang mahal) dan tetap menjual dengan harga yang sangat kompetitif.

Air Freight dan Biaya Lingkungan yang Diabaikan

Untuk memenuhi janji kecepatan pasar 5–7 hari, UFF mengandalkan angkutan udara bervolume tinggi. Analisis menunjukkan bahwa sekitar 5.000 metrik ton barang dikirim setiap hari melalui angkutan udara. Penggunaan air freight yang masif ini adalah kontradiksi langsung terhadap setiap klaim keberlanjutan yang mungkin diajukan, karena angkutan udara menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih tinggi dibandingkan angkutan laut.

Table 3: Peran Logistik Khusus dalam Keunggulan Harga UFF

Strategi Logistik/Regulasi Mekanisme Operasi Keuntungan Biaya Primer Implikasi Kebijakan
Pengecualian De Minimis (Section 321, AS) Pengiriman langsung DTC (Direct-to-Consumer) senilai <$800 masuk tanpa bea/pajak. Menghindari biaya impor dan bea masuk yang dikenakan pada pengecer tradisional. Membutuhkan reformasi regulasi perdagangan internasional untuk mencegah penyalahgunaan.
Air Freight Volume Tinggi Pengiriman harian 5,000 MT via udara. Memastikan kecepatan pasar (5-7 hari) dan menghilangkan biaya penyimpanan inventaris yang besar. Menghasilkan emisi karbon logistik yang sangat tinggi.
Rantai Pasokan Digital On-Demand Produksi mikro-batch (100-200 unit) dan skala cepat. Meminimalkan risiko kerugian dari kelebihan stok (overstocking) dan biaya inventaris yang tidak terjual. Menggeser risiko biaya keuangan menjadi risiko limbah cepat.

Meskipun angkutan udara secara intrinsik mahal dan tidak ramah lingkungan, keunggulan kecepatan pasar dan keuntungan biaya pajak yang diperoleh melalui de minimis menutupi biaya logistik yang tinggi tersebut. Analisis ini menunjukkan bahwa model harga ultra-murah UFF adalah hasil dari arbitrage regulasi dan efisiensi digital, yang secara sadar mengabaikan eksternalitas lingkungan.

Biaya Etika dan Sosial: Harga Manusia di Balik Barang Murah

Kondisi Kerja yang Melanggar Hukum dan Upah Rendah

Model UFF didasarkan pada tekanan kecepatan yang ekstrem, yang secara langsung diterjemahkan menjadi eksploitasi tenaga kerja. Untuk mencapai waktu time-to-market 5–7 hari, pekerja rantai pasokan dipaksa bekerja dalam kondisi ekstrem.

Laporan investigasi mendalam dari Channel 4 dan BBC pada tahun 2022 mengungkap praktik kerja yang meresahkan di pabrik-pabrik pemasok. Pekerja dilaporkan bekerja 16 hingga 18 jam sehari, seringkali dengan hanya satu hari libur atau tanpa hari libur sama sekali dalam sebulan. Jam kerja 75 jam per minggu yang didokumentasikan ini jelas melanggar undang-undang perburuhan Tiongkok. Analisis menunjukkan bahwa pelanggaran etika ini bukan merupakan insiden sesekali, melainkan prasyarat fungsional dari model bisnis UFF. Dua tahun setelah penyelidikan awal, laporan lanjutan mengkonfirmasi bahwa jam kerja ilegal dan upah berbasis hasil (piecework wages) yang sangat rendah tetap menjadi fitur “khas” dari kehidupan pekerja. Upah yang dilaporkan serendah 0.14 yuan, atau dua sen, per item, menggarisbawahi bagaimana harga jual yang murah disubsidi oleh upah subsisten.

Transparansi, Akuntabilitas, dan Risiko Pekerja Anak

Meskipun UFF berada di bawah pengawasan ketat, terutama sehubungan dengan potensi kerja paksa, transparansi tetap menjadi masalah utama. Perusahaan mengklaim memiliki Kode Etik Pemasok berdasarkan konvensi ILO dan melakukan audit mendadak. Namun, laporan audit sosial perusahaan sendiri mengakui Pelanggaran Toleransi Nol (Zero Tolerance Violations) (ZTVs).

Secara spesifik, perusahaan mengungkapkan bahwa pada tahun 2022, 0.3% dari pemasok yang diaudit memiliki pekerja di bawah usia 16 tahun. Meskipun persentase ini menurun dari tahun sebelumnya, kurangnya bukti tentang jumlah pekerja yang terpengaruh dan proses tindakan korektif yang terperinci menimbulkan keraguan serius tentang efektivitas pengawasan rantai pasokan. Skala dan kecepatan rantai pasokan UFF yang sangat terdesentralisasi membuat pengawasan yang berarti menjadi tantangan logistik yang hampir mustahil, yang sering kali menghasilkan retorika keberlanjutan yang bertentangan dengan realitas kondisi kerja yang dilaporkan.

Pencurian Hak Kekayaan Intelektual (IP) yang Sistematis

Tekanan untuk membanjiri pasar dengan tren baru dalam hitungan hari membuat UFF sering dituduh melakukan pelanggaran hak kekayaan intelektual (IP). Strategi UFF melibatkan peniruan desain secara cepat dari berbagai sumber, termasuk seniman independen, bisnis kecil, dan merek besar seperti Dr. Marten, Levi Strauss, dan Stussy Inc..

Hubungan sebab-akibat di sini jelas: eksploitasi IP memungkinkan UFF untuk memotong biaya R&D, memastikan aliran desain yang cepat dan “teruji” yang dapat langsung diubah menjadi produk dalam 5–7 hari. Seniman kecil seringkali menjadi korban yang paling rentan karena kurangnya sumber daya finansial untuk mengajukan tuntutan hukum terhadap raksasa ritel global, yang memungkinkan perusahaan UFF untuk terus mengeksploitasi desain dengan sedikit konsekuensi.

Biaya Lingkungan: Krisis Limbah dan Ketergantungan Fosil

Jejak Karbon dan Ketergantungan Serat Sintetis

Industri mode secara keseluruhan bertanggung jawab atas 10% dari total jejak karbon tahunan global, melampaui gabungan emisi dari semua penerbangan internasional dan pengiriman maritim. UFF secara signifikan memperburuk masalah ini melalui volume produksi dan ketergantungan pada bahan-bahan berbasis bahan bakar fosil.

Serat sintetis, terutama poliester, saat ini mencakup 69% dari semua serat yang digunakan dalam pakaian. Produksi serat sintetis tekstil mengonsumsi 1.35% dari suplai minyak dunia—lebih banyak dari konsumsi minyak tahunan Spanyol. Proyeksi menunjukkan bahwa serat sintetis akan meningkat menjadi 73% dari semua serat pada tahun 2030, dengan poliester sendiri mencapai 85% dari serat sintetis tersebut. Model ekonomi UFF didorong untuk menggunakan serat plastik ini karena biayanya yang relatif rendah. Hal ini mengikat masa depan industri mode pada bahan bakar fosil, menjadikannya penghalang struktural bagi dekarbonisasi global.

Konsumsi Sumber Daya Air dan Polusi Kimia/Mikroplastik

Dampak lingkungan UFF melampaui emisi karbon. Industri tekstil adalah konsumen air terbesar kedua secara global , menggunakan 141 miliar meter kubik air setiap tahun. Diperkirakan 2.700 liter air tawar diperlukan untuk membuat satu kaos katun, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minum satu orang selama 2.5 tahun.

Selain itu, model UFF yang cepat dan didasarkan pada volume tinggi berkontribusi besar terhadap polusi air dan laut. Industri mode bertanggung jawab atas 35% mikroplastik yang mencemari lautan. Bahkan mencuci pakaian melepaskan 500.000 ton mikrofiber ke lautan setiap tahun.

Epidemi Limbah Tekstil dan Dampak Global Selatan

Masalah limbah adalah hasil langsung dari model UFF yang memperlakukan pakaian sebagai komoditas sekali pakai. Di tengah siklus tren yang cepat dan kualitas pakaian yang rendah, peritel mendorong konsumen untuk melihat pakaian sebagai barang yang dapat dibuang.

Secara global, 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan per tahun , angka yang diproyeksikan mencapai 134 juta ton pada tahun 2030 jika tren saat ini berlanjut. Aliran produk UFF adalah kontributor utama gunungan limbah ini. Pakaian yang tidak terjual atau dibuang dengan cepat sering diekspor sebagai limbah tekstil ke negara-negara di Global Selatan, seperti Kenya, Ghana, dan Tanzania. Di pasar barang bekas seperti Kantamanto di Ghana, hingga 40% dari kiriman mingguan 15 juta pakaian baru berakhir sebagai sampah yang dibakar, dibuang ke TPA, atau hanyut ke laut dalam waktu satu hingga dua minggu.

Model UFF memperkuat pola pikir disposable (sekali pakai). Harga rendah menghilangkan insentif ekonomi bagi konsumen untuk memperbaiki atau menggunakan kembali pakaian, karena biaya untuk membeli barang baru seringkali lebih rendah daripada biaya perbaikan.

Table 2: Eksternalitas Utama UFF: Biaya Lingkungan dan Sosial

Dampak Eksternalitas Indikator Kuantitatif Kritis Keterkaitan dengan Model UFF
Krisis Tenaga Kerja Jam kerja 16-18 jam/hari; upah 2-3 sen per item. Tekanan kecepatan (5-7 hari time-to-market) memaksa pelanggaran hukum ketenagakerjaan.
Limbah Tekstil Global 92 juta ton/tahun global; 40% pakaian bekas di Kantamanto (Ghana) berakhir sebagai sampah. Harga murah dan kualitas rendah mendorong pola pikir disposabel dan mengalihkan krisis limbah ke Global Selatan.
Jejak Karbon Industri menyumbang 10% emisi global; 5,000 MT/hari pengiriman udara. Ketergantungan pada air freight dan serat sintetis berbasis fosil mengunci emisi tinggi.
Pelanggaran IP Eksploitasi desain seniman kecil yang tidak mampu mengajukan gugatan. Strategi untuk mengurangi biaya R&D dan memastikan aliran desain tren yang cepat.
Klaim Keberlanjutan Emisi meningkat lebih cepat dari pendapatan; <0.5% penggunaan poliester daur ulang. Menunjukkan praktik greenwashing yang berfungsi sebagai mitigasi risiko reputasi, bukan perubahan struktural.

Psikologi Konsumen dan Akselerasi Media Sosial

Simbiosis TikTok dan Overkonsumsi

Media sosial, terutama TikTok, berfungsi sebagai akselerator utama UFF. Platform ini memiliki kemampuan unik untuk menyebarkan dan mempopulerkan gaya secara cepat, yang mengarah pada percepatan siklus tren yang belum pernah terjadi sebelumnya dan munculnya micro-trends dengan frekuensi yang memusingkan.

Data menunjukkan bahwa 44% Generasi Z dipengaruhi oleh media sosial dalam keputusan pembelian fashion mereka. Perusahaan UFF secara strategis memanfaatkan budaya “haul” di TikTok, mendorong pengguna untuk memposting video pembelian massal produk murah dan tidak berkelanjutan. Influencer dan hauler, yang dilihat sebagai jujur dan dapat dipercaya, secara efektif mendorong overkonsumsi dengan menampilkan volume besar pakaian murah. Lingkungan yang digerakkan oleh algoritma ini memastikan bahwa tren naik dan turun dengan cepat, memelihara siklus beli-pakai-buang yang tidak berkelanjutan.

The Dopamine Loop: Adiksi Harga Murah

Daya tarik UFF didukung oleh psikologi konsumen yang mengeksploitasi sistem hadiah otak. Pembelian pakaian baru melepaskan dopamin, zat kimia otak yang memberikan rasa senang. Penelitian menunjukkan bahwa pusat kesenangan otak diaktifkan secara lebih intens ketika konsumen membeli pakaian yang lebih murah, mendapatkan sensasi “mendapat penawaran yang bagus”.

Namun, kegembiraan yang didapat dari pembelian murah ini berumur pendek, seringkali mereda setelah kurang dari sehari. Konsumen kemudian mengejar dopamine rush berikutnya, menjebak mereka dalam siklus pembelian adiktif yang berulang. UFF secara efektif mengkomodifikasi kesenangan instan ini dengan menawarkan aliran produk baru yang tak terbatas dengan harga yang sangat rendah. Hal ini mengubah pakaian dari barang tahan lama menjadi “komoditas dopamin” yang mudah dibuang. Selain itu, paparan konstan terhadap konten haul di media sosial dapat memperburuk rasa tidak puas diri, mendorong individu yang sadar diri untuk membeli pakaian baru untuk mengisi kekosongan atau “merasa layak”.

Tanggapan Regulasi, Greenwashing, dan Tantangan Akuntabilitas

Kritik Terhadap Klaim Keberlanjutan Perusahaan (Greenwashing)

Meskipun model UFF menghadapi kritik keras, banyak perusahaan di sektor ini berupaya memitigasi risiko reputasi melalui janji keberlanjutan. Namun, klaim-klaim ini sering kali tidak konsisten dengan operasi inti mereka. Shein, misalnya, telah menetapkan janji iklim (net-zero 2050), tetapi analis menunjukkan bahwa emisi mereka meningkat lebih cepat daripada pendapatan, yang menunjukkan bahwa model bisnis mereka tidak sejalan dengan tujuan iklim yang dinyatakan.

Perusahaan UFF juga dituduh melakukan greenwashing melalui penggunaan istilah yang ambigu dan menyesatkan—praktik yang kadang-kadang disebut sebagai SHEIN-washing. Klaim tentang “green fibres” atau “circular design” sering kali terlalu umum atau tidak didukung oleh konteks yang memadai. Selain itu, mereka mempromosikan koleksi yang diklaim ramah lingkungan, seperti “evoluSHEIN,” meskipun koleksi tersebut hanya merupakan porsi yang sangat kecil dari total produksi mereka. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan poliester daur ulang oleh UFF berada di bawah rata-rata industri; salah satu pengecekan menemukan bahwa dari 55.000 item pakaian wanita, hanya 0.43% yang menggunakan poliester daur ulang. Regulator, seperti di Italia, telah mulai menyelidiki perusahaan atas potensi penyesatan konsumen mengenai pencapaian lingkungan mereka.

Respons Legislatif Global

Mengingat kegagalan pasar dalam menginternalisasi biaya UFF, respons regulasi menjadi semakin penting. Uni Eropa (UE) telah mengambil langkah dengan mendorong strategi tekstil sirkular untuk mengurangi limbah dan meningkatkan daur ulang. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana mengatur konsumsi dan produksi dalam skala UFF.

Prancis telah menetapkan preseden legislatif yang signifikan dengan menyetujui undang-undang yang secara langsung menargetkan raksasa ultra-fast fashion seperti Shein. RUU ini mencakup proposal untuk mengenakan eco-taxes dan membatasi iklan. Langkah Prancis ini dianggap sebagai upaya regulasi paling radikal hingga saat ini untuk menangani krisis lingkungan dalam mode. Tujuan utamanya adalah untuk menginternalisasi biaya lingkungan yang selama ini dieksternalisasi oleh UFF. Pendapatan yang dihasilkan dari pajak ini akan dialihkan untuk mendukung produsen fashion domestik yang berkelanjutan, yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing mereka dan membuat produk berkelanjutan lebih mudah diakses oleh publik.

Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis

Model Ultra-Fast Fashion (UFF) adalah representasi dari optimasi teknologi ekstrem yang beroperasi di atas standar etika dan lingkungan minimum. Keberhasilan model ini dalam menawarkan harga murah didasarkan pada kemampuan yang canggih untuk memprediksi dan merespons tren digital, dikombinasikan dengan eksploitasi celah regulasi perdagangan global (de minimis) dan tenaga kerja. Secara sistemik, harga murah UFF adalah cerminan dari kegagalan regulasi global untuk memaksa akuntabilitas penuh atas biaya lingkungan dan sosial.

Untuk mengatasi dampak sistemik UFF, diperlukan intervensi kebijakan yang bertujuan untuk menginternalisasi biaya-biaya yang saat ini dieksternalisasi:

Rekomendasi untuk Regulator dan Pembuat Kebijakan

Reformasi Perdagangan dan Penghapusan Subsidi Tidak Langsung

Regulator perdagangan, terutama di pasar utama seperti AS, harus segera meninjau ulang dan mereformasi pengecualian de minimis (Section 321). Pengecualian ini, yang telah melonjak menjadi lebih dari 1 miliar entri per tahun , secara efektif memberikan subsidi logistik dan pajak yang signifikan kepada peritel UFF. Reformasi harus menghilangkan keunggulan biaya ini untuk menciptakan arena persaingan yang setara bagi peritel domestik yang mematuhi standar bea masuk dan pajak yang ketat.

Implementasi Skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang Ketat

Pemerintah harus menerapkan skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang memaksa produsen dengan volume produksi tinggi—terutama yang beroperasi dalam model UFF—untuk menanggung biaya penuh pengelolaan dan daur ulang limbah tekstil yang mereka hasilkan. Hal ini akan menginternalisasi biaya krisis limbah tekstil yang saat ini membebani Global Selatan dan infrastruktur TPA.

Penegakan Transparansi Rantai Pasokan dan Audit yang Independen

Diperlukan regulasi yang mewajibkan transparansi penuh dalam rantai pasokan. Penegakan harus mencakup audit pihak ketiga yang independen, yang difasilitasi oleh mekanisme yang memungkinkan partisipasi dan pelaporan pekerja, untuk memastikan bahwa klaim etika (termasuk jam kerja, upah, dan larangan pekerja anak) bukan hanya retorika tetapi dipatuhi secara ketat.

Pengenaan Pajak Lingkungan Berbasis Volume dan Dampak

Mengikuti preseden Prancis , pajak lingkungan harus dikenakan berdasarkan volume produksi dan dampak lingkungan terperinci (misalnya, emisi karbon logistik yang tinggi dari air freight, atau ketergantungan pada serat berbasis fosil). Pendapatan pajak ini harus dialokasikan untuk mendanai inovasi dalam ekonomi sirkular dan mendukung produsen yang berkelanjutan.