Loading Now

Mode Lintas Gender: Membuka Batasan – Bagaimana Desainer Global Memimpin Tren Genderless Fashion dan Reaksi Pasar

Industri mode kini berada di tengah revolusi besar, di mana batasan antara pakaian pria dan wanita secara tradisional yang kaku mulai runtuh. Gelombang “Mode Lintas Gender” (Genderless Fashion) muncul sebagai representasi diri yang kuat dan mendobrak definisi yang sudah baku mengenai bagaimana pria atau wanita seharusnya berpakaian. Tren ini bukan sekadar gimmick musiman, melainkan sebuah gerakan fundamental yang didorong oleh semakin besarnya ruang untuk kebebasan berekspresi, identifikasi gender, dan percakapan terbuka tentang seksualitas.

Genderless, Gender-Fluid, dan Unisex: Evolusi Terminologi

Konsep pakaian yang dapat dikenakan oleh kedua jenis kelamin bukanlah hal baru. Istilah Unisex pertama kali diciptakan pada tahun 1960-an untuk merujuk pada pakaian yang ditujukan untuk dipakai oleh kedua jenis kelamin. Namun, istilah kontemporer seperti Genderless atau Gender-Fluid memiliki makna yang lebih mendalam.

Mode genderless dirancang tanpa mempertimbangkan warna atau tekstur tertentu, dibuat agar sesuai dengan berbagai jenis tubuh, dan bersifat fluid—tidak secara inheren maskulin atau feminin. Intinya adalah memperlakukan pakaian sebagai hal yang netral, lepas dari label yang dipaksakan masyarakat, dan berfokus pada kebebasan memilih dan menjadi diri sendiri. Tren ini dipelopori oleh tokoh-tokoh visioner sejak tahun 1960-an (seperti couturier Prancis Pierre Cardin dengan gaun berbentuk kotak) dan dipopulerkan oleh ikon-ikon androgini seperti David Bowie pada era 1970-an.

Arsitektur Desain Lintas Gender

Desainer yang sukses dalam mode lintas gender menerapkan strategi desain yang cermat, yang bertujuan untuk mencapai titik tengah estetika tanpa sekadar memaskulinisasi pakaian wanita atau memfeministrasi pakaian pria.

  1. Siluet yang Netral: Pola pakaian sengaja dirancang agar tidak menonjolkan bentuk tubuh yang secara tradisional dianggap sebagai siluet laki-laki atau perempuan. Pendekatan ini menghasilkan siluet garis lurus yang memberikan kesan jenjang, rapi, dan tajam.
  2. Penjahitan yang Memadukan: Desain yang menghindari potongan yang terlalu ketat (tight-fitting) atau terlalu longgar (baggy), menciptakan area netral di antara lemari pakaian pria dan wanita. Rick Owens, yang pertama kali membawa desain genderless ke runway couture pada tahun 2014, dikenal dengan formula desainnya ini.
  3. Visual Netral: Pakaian cenderung menawarkan tampilan yang netral dan seringkali tidak mencolok, sehingga mudah dipakai dalam berbagai kesempatan.

Para Pionir Global: Merek Mewah sebagai Pemimpin Perubahan

Merek-merek high-fashion dan mewah telah mengambil peran terdepan dalam mendorong tren mode lintas gender, tidak hanya melalui koleksi kapsul, tetapi juga dengan mengintegrasikannya ke dalam identitas merek mereka.

Merek Koleksi/Strategi Utama Pendekatan Desain dan Visi
Gucci Gucci MX (Kategori Terpisah) Kategori terpisah untuk menekankan garis-garis pemisah gender yang kabur atas nama ekspresi diri. Maskulinitas dan feminitas dipandang sebagai konsep yang relatif.
Louis Vuitton Koleksi Musim Semi/Musim Panas 2021 Berfokus pada “perjalanan eksplorasi… untuk menemukan dan menghapus batasan [gender] yang terakhir.” Pakaian pokok seperti seragam bisnis dan streetwear diberi sentuhan gender-netral.
Marc Jacobs Heaven (Koleksi Polysexual) Dirilis pada tahun 2020, berpusat pada semangat D.I.Y. (Do It Yourself), menghormati tokoh-tokoh queer ikonik, dan merayakan gaya pribadi.
Stella McCartney Shared (Koleksi Kapsul) Merayakan individualitas dan keragaman. Potongan utama seperti setelan jas, trench coat, dan kaus dirancang untuk dapat dengan mudah “dibagikan” antar semua lemari pakaian.
Tommy Hilfiger TommyXIndya (Kolaborasi) Bekerja sama dengan aktivis non-biner Indya Moore. Kapsul inklusif ukuran dan non-gender ini menghormati dan merepresentasikan berbagai ekspresi gender melalui potongan-potongan ikonik yang diciptakan kembali.
Prada Koleksi Androgyny Merangkul androgini melalui desain yang keren dan canggih. Menggabungkan elemen-elemen yang disesuaikan (tailored) dengan detail yang tidak terduga. Untuk runway SS 2023, Prada menampilkan rekor jumlah model trans dan non-biner.
Versace Showcase Milan Fashion Week Donatella Versace menyatakan bahwa koleksi ini menyoroti bahwa “saat ini, ada generasi yang tidak peduli tentang gender.” Menampilkan setelan jas, mantel, dan celana pendek yang dikenakan oleh model pria dan wanita.

Louis Vuitton juga memperluas visinya dengan lini wewangian unisex, sementara Prada merangkul androgini yang keren dan canggih, menggabungkan elemen yang disesuaikan dengan detail tak terduga. Merek-merek ini menunjukkan bahwa mode lintas gender bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang representasi—menggunakan model yang sepenuhnya netral gender dan inklusif.

Respon Pasar Global dan Dinamika Kultural

Penerimaan mode lintas gender bervariasi secara signifikan, didorong oleh perubahan norma sosial dan demografi konsumen.

Dorongan Kultural dan Generasi Z

Mode lintas gender didukung oleh figur publik berpengaruh seperti Harry Styles, Billy Porter, Bad Bunny, dan Billie Eilish, yang secara terbuka mempertanyakan dorongan sosial untuk tampil secara tradisional “maskulin” atau “feminin”. Hal ini berkorelasi kuat dengan sikap Generasi Z. Generasi Z lebih proaktif dalam merangkul perubahan dan evolusi peran gender dibandingkan Generasi Milenial, meskipun keduanya mendukung perubahan tersebut.

Pengaruh media sosial sangat penting dalam menjangkau Generasi Z, di mana influencer memainkan peran signifikan dalam mengubah selera dan perilaku konsumen terkait dengan konvensi mode.

Studi Kasus Budaya Pop: Fenomena K-Pop

Di wilayah Asia, fenomena K-Pop menjadi katalisator penting bagi penerimaan mode lintas gender di kalangan penggemar. Di kalangan penggemar BTS, misalnya, ditemukan adanya imitasi busana serta aksesori idola mereka yang bersifat unisex. Fenomena ini menunjukkan adanya pemahaman tentang peniadaan gender (undoing gender) pada kalangan penggemar, di mana mereka meniru cara berpakaian idola yang menghilangkan sekat gender. Ini membuktikan bahwa genderless fashion dapat diterima secara luas sebagai bentuk representasi diri, bukan hanya terbatas pada komunitas transgender.

Reaksi dan Kritik Historis

Meskipun sedang mengalami momentum, mode lintas gender secara historis menghadapi kesulitan untuk mendapatkan daya tarik mainstream. Kritik historis seringkali menuduh pakaian unisex sebagai potongan yang “tidak berbentuk, tidak menarik, dan membosankan”. Beberapa pihak berpendapat bahwa secara naluriah, “Wanita ingin terlihat seperti wanita, dan pria ingin terlihat seperti pria,” mencerminkan perjuangan mode lintas gender untuk menghilangkan stereotip sartorial.

Selain itu, terdapat paradoks dalam mode lintas gender: meskipun “Pakaian tidak memiliki gender,” pakaian tetap dipengaruhi oleh bertahun-tahun pengkondisian sosial yang mengingatkan kita pada stereotip gender tertentu. Artinya, meskipun barang itu sendiri netral, cara pemakaiannya masih dapat ditafsirkan melalui lensa sosial.

Tantangan dan Implikasi Praktis

Di balik semangat perubahan yang dibawanya, mode lintas gender menghadapi tantangan praktis yang signifikan, terutama dalam aspek produksi dan penetrasi pasar.

Rintangan Sizing dan Biaya Inventaris

Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah masalah sizing (ukuran). Untuk memenuhi persyaratan mode gender-netral yang idealnya mengakomodasi berbagai tipe tubuh, merek harus menawarkan rentang ukuran yang lebih luas. Persyaratan ini dapat mengakibatkan biaya inventaris yang signifikan, membuat peramalan pesanan menjadi langkah yang semakin kritis.

Bagi merek-merek kecil, biaya inventaris dan persyaratan stocking yang besar menjadikan koleksi musiman berkelanjutan menjadi tidak layak (infeasible). Akibatnya, mereka seringkali terpaksa mengandalkan potongan-potongan wardrobe staples (pakaian pokok) sebagai sumber pendapatan utama mereka.

Mode Lintas Gender di Asia Tenggara: Menghilangkan Batasan Kultural

Di Asia Tenggara, pergerakan mode lintas gender seringkali berjalan beriringan dengan interpretasi ulang terhadap busana tradisional dan etika berpakaian lokal.

Sebagai contoh, di Singapura, desainer seperti Rina Tahar (pendiri label busana modest Sufyaa) menunjukkan bagaimana batasan-batasan budaya dapat diubah. Meskipun modest fashion memiliki konteks yang berbeda, upaya untuk menantang bagaimana pakaian tradisional Melayu harus terlihat dan bagaimana ia dapat diinterpretasikan secara modern dan inklusif dapat dianggap sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendobrak kekakuan dalam berpakaian.

Filipina, dengan desainer-desainer berbakat yang dipamerkan di ajang regional seperti Singapore Fashion Week, juga menunjukkan vitalitas dalam industri kreatif, memberikan ruang bagi desainer untuk mengeksplorasi estetika non-konvensional yang menembus batasan.

Kesimpulan

Mode Lintas Gender adalah representasi nyata dari kebebasan pribadi dalam menentukan identitas di era kontemporer. Gerakan ini dipimpin oleh desainer global yang secara sadar merancang siluet yang netral, memadukan teknik tailoring, dan merangkul ambiguitas, seperti yang terlihat pada koleksi Gucci MX dan Marc Jacobs Heaven.

Meskipun menghadapi kritik historis dan tantangan praktis, seperti kerumitan dalam sizing , penerimaan pasar global—khususnya yang didorong oleh Generasi Z dan fenomena budaya pop seperti K-Pop—menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar niche, tetapi adalah kenyataan baru dalam industri mode. Masa depan mode terletak pada penghapusan label dan perlakuan pakaian sebagai mikrofon pribadi yang memungkinkan setiap orang untuk berbicara mengenai dirinya sendiri, tanpa terkotak-kotak oleh konvensi gender.