Rekonstruksi Budaya, Sosio-Botani, dan Dinamika Obsesi Pakis di Inggris Era Victoria
Fenomena Pteridomania, sebuah istilah yang merujuk pada kegilaan kolektif terhadap tanaman pakis di Inggris abad ke-19, mewakili salah satu anomali budaya paling signifikan dalam sejarah sejarah alam Inggris. Istilah ini, yang secara harfiah berarti “Demam Pakis” atau “Madness Pakis,” mencerminkan periode unik antara tahun 1840-an hingga 1890-an ketika obsesi terhadap botani melampaui batas-batas hobi ilmiah dan meresap ke dalam setiap serat kehidupan sosial, domestik, dan ekonomi masyarakat Victoria. Fenomena ini bukan sekadar ketertarikan estetika yang dangkal, melainkan manifestasi dari pergeseran epistemologis besar mengenai bagaimana manusia berinteraksi dengan alam di tengah-tengah polusi industri yang kian mencekik.
Dinamika Pteridomania didorong oleh kombinasi keberuntungan teknologi, kemajuan transportasi, dan perubahan norma sosial yang memungkinkan demokratisasi sains. Di balik keindahan frond (daun pakis) yang meliuk-liuk, terdapat narasi tentang pemberontakan gender, eksploitasi lingkungan, dan risiko fisik yang ekstrem, di mana individu dari berbagai kelas sosial—dari pelayan rumah tangga hingga bangsawan—bersaing untuk mengoleksi spesimen yang paling langka, sering kali dengan mempertaruhkan nyawa di tebing-tebing yang curam dan berbahaya.
Genesis Pteridomania: Dari Sindiran Kingsley hingga Sains Amatir
Secara etimologis, “Pteridomania” adalah gabungan dari kata Yunani Pteris (pakis) dan mania (kegilaan). Istilah ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1855 oleh Charles Kingsley, seorang pendeta Gereja Inggris yang juga seorang profesor, penulis, dan reformator sosial. Dalam bukunya yang berpengaruh, Glaucus, or the Wonders of the Shore, Kingsley menggunakan istilah tersebut untuk mendeskripsikan perilaku obsesif yang ia amati di kalangan masyarakat, khususnya perempuan kelas menengah. Meskipun Kingsley sendiri adalah seorang naturalis yang menghargai studi alam, ia sering kali menulis dengan nada yang agak merendah, menggambarkan bagaimana putri-putri Inggris mulai meninggalkan kegiatan domestik tradisional seperti gosip atau membaca novel demi berdebat tentang nama-nama spesies dalam bahasa Latin yang sulit diucapkan.
Namun, akar dari kegilaan ini sebenarnya telah tertanam jauh sebelum Kingsley memberikan nama untuk fenomena tersebut. Sejarah mencatat bahwa minat terhadap pakis mulai berkembang pesat pada akhir 1830-an. Sebelum era Victoria, pakis sering kali diabaikan oleh para botanis yang lebih fokus pada tanaman berbunga yang mencolok. Pakis dianggap sebagai kelompok tanaman yang misterius karena mereka tidak menghasilkan bunga atau biji, yang memicu berbagai mitos rakyat di Eropa. Ada legenda yang menyatakan bahwa biji pakis yang tak kasat mata dapat memberikan kekuatan kepada pemiliknya untuk menjadi tidak terlihat, memulihkan penglihatan, atau mengungkap harta karun yang terkubur. Baru pada akhir abad ke-18 para ilmuwan menemukan bahwa pakis bereproduksi melalui spora, sebuah proses siklus hidup dua tahap yang kompleks yang sangat berbeda dari tanaman berbunga.
| Linimasa Perkembangan Pteridomania | Peristiwa Kunci dan Dampak Budaya |
| 1829 | Penemuan prinsip terarium secara tidak sengaja oleh Nathaniel Bagshaw Ward. |
| 1840 | Edward Newman menerbitkan A History of British Ferns, memicu minat literasi botani. |
| 1845 | Penghapusan Pajak Kaca (Glass Excise Acts), membuat rumah kaca dan Wardian Case terjangkau. |
| 1851 | Pameran Crystal Palace mempopulerkan konservatori dan gaya hidup botani kelas menengah. |
| 1855 | Charles Kingsley mencetuskan istilah “Pteridomania” dalam bukunya Glaucus. |
| 1860-an | Permintaan pakis melampaui pasokan, memicu pasar gelap dan eksploitasi habitat. |
| 1891 | Pembentukan British Pteridological Society di Kendal, menginstitusionalisasi hobi ini. |
| 1901 | Wafatnya Ratu Victoria; Pteridomania mulai surut digantikan oleh tren baru seperti anggrek. |
Katalis Teknologi: Kasus Wardian dan Revolusi Udara Bersih
Inti dari ledakan Pteridomania adalah sebuah inovasi teknologi sederhana namun revolusioner: Kasus Wardian (Wardian Case). Penemuan ini lahir dari tangan Nathaniel Bagshaw Ward, seorang dokter bedah yang tinggal di kawasan East End, London, yang pada waktu itu sangat terpolusi oleh asap batubara dan gas belerang dari pabrik-pabrik di sekitarnya. Ward, yang merupakan seorang kolektor tanaman yang bersemangat, merasa frustrasi karena tanaman-tanamannya terus mati akibat polusi udara yang parah di kediamannya.
Pada tahun 1829, Ward sedang melakukan eksperimen dengan menempatkan kepompong ngengat Sphinx di dalam tanah lembap di dalam botol kaca yang tertutup rapat. Ia memperhatikan sebuah fenomena yang mengejutkan: sebuah spora pakis dan sehelai rumput mulai berkecambah dan tumbuh subur di dalam lingkungan tertutup tersebut tanpa penyiraman tambahan. Ward segera menyadari bahwa wadah kaca yang tertutup rapat tersebut menciptakan mikroklimat yang stabil di mana tanaman dapat mendaur ulang kelembapannya sendiri melalui proses penguapan dan kondensasi. Yang lebih penting, wadah kaca tersebut melindungi tanaman dari polusi udara London yang beracun.
Penemuan Kasus Wardian mengubah botani selamanya dalam beberapa dimensi:
- Transformasi Domestik: Sebelum adanya wadah ini, sangat sulit untuk menanam pakis atau tanaman halus lainnya di dalam rumah Victoria yang gelap dan berpolusi. Dengan Kasus Wardian, setiap keluarga kelas menengah yang mampu membeli wadah kaca tersebut kini bisa memiliki “taman miniatur” di ruang tamu mereka.
- Globalisasi Botani: Kasus Wardian memungkinkan transportasi tanaman hidup melintasi samudra dengan risiko kematian yang minimal. Sebelum ini, sebagian besar spesimen tanaman yang dikirim dari koloni Inggris mati dalam perjalanan akibat paparan garam laut, fluktuasi suhu, atau kelalaian dalam penyiraman. Teknologi ini digunakan untuk memindahkan bibit teh dari Tiongkok ke Himalaya, tanaman karet dari Brasil ke Asia, dan pisang antarbenua, yang secara fundamental mengubah ekonomi dan ekosistem dunia.
- Simbol Status dan Desain: Setelah penghapusan pajak kaca pada tahun 1845, pembuatan produk kaca menjadi jauh lebih murah, memicu ledakan konstruksi rumah kaca, konservatori, dan terarium hias. Kasus Wardian segera berevolusi dari sekadar alat sains menjadi pusat perhatian dekoratif di rumah-rumah mode Victoria, sering kali dirancang dengan ornamen gotik yang rumit untuk melengkapi estetika pakis yang dianggap purba dan misterius.
Demokratisasi Sains: Mobilitas Sosial di Balik Perburuan Pakis
Salah satu aspek yang paling unik dari Pteridomania adalah kemampuannya untuk menembus hambatan kelas sosial yang biasanya sangat kaku di Inggris era Victoria. Pengumpulan pakis menjadi salah satu dari sedikit hobi yang dapat diakses oleh hampir semua lapisan masyarakat, dari buruh tambang dan petani hingga keluarga kerajaan.
Faktor-faktor yang memungkinkan demokratisasi ini meliputi:
- Aksesibilitas Finansial: Berbeda dengan hobi seperti berkuda atau perburuan rubah, berburu pakis secara teori tidak memerlukan biaya besar. Seseorang hanya membutuhkan sebuah keranjang, pisau, dan akses ke alam liar. Sebuah alat yang disebut vasculum—sebuah kotak logam khusus yang dilapisi lumut lembap—digunakan untuk menjaga spesimen tetap segar selama perjalanan pulang.
- Revolusi Kereta Api: Pembangunan jaringan kereta api yang luas pada tahun 1840-an secara drastis mengubah geografi rekreasi di Inggris. Penduduk kota yang sebelumnya terkungkung dalam kepadatan industri kini dapat dengan mudah dan murah melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah liar yang sebelumnya tidak terjamah, seperti lembah-lembah di Devon, bukit-bukit di Wales, atau perbatasan Skotlandia yang basah dan teduh—habitat ideal bagi berbagai spesies pakis.
- Komunikasi Ilmiah yang Inklusif: Minat bersama terhadap pakis sering kali membawa orang-orang dari latar belakang yang sangat berbeda untuk berinteraksi. Seorang penambang yang menemukan varietas pakis baru di kedalaman tambang dapat memiliki pengetahuan yang setara dengan seorang profesor universitas dalam hal identifikasi spesies. Publikasi seperti The Phytologist, yang pertama kali muncul pada tahun 1841, menyediakan wadah bagi para botanis amatir untuk melaporkan temuan mereka, yang sering kali belum dipelajari secara mendalam oleh komunitas ilmiah formal.
Gender dan Kebebasan: Botani sebagai Bentuk Pemberontakan Halus
Di tengah ketatnya batasan sosial bagi perempuan Victoria, Pteridomania memberikan celah bagi ekspresi intelektual dan kebebasan fisik. Pada masa itu, sementara bidang ilmu seperti fisika atau kimia dianggap “terlalu keras” bagi perempuan, botani dipandang sebagai aktivitas yang pantas, bermoral, dan sehat bagi perempuan kelas menengah dan atas.
Namun, di balik label “pantas” ini, terdapat bentuk pemberontakan yang halus. Perburuan pakis memberikan izin sosial yang langka bagi perempuan untuk menjelajahi pedesaan tanpa pengawalan ketat (unchaperoned), melakukan ekspedisi sepanjang hari, dan mendaki tebing-tebing yang curam. Aktivitas ini lebih dari sekadar mengoleksi; perempuan Victoria terlibat dalam pengamatan ilmiah yang mendalam, penulisan buku, dan bahkan ilustrasi teknis.
Tokoh-tokoh perempuan kunci dalam gerakan ini termasuk:
- Phoebe Lankester: Penulis buku British Ferns, yang menggabungkan detail teknis yang akurat dengan gaya penulisan yang menarik, membantu membawa ilmu botani ke audiens yang lebih luas.
- Shirley Hibberd: Penulis The Fern Garden, yang mempopulerkan budidaya pakis di rumah dan memberikan panduan praktis bagi para kolektor amatir.
- Hannah Crawford Renwick: Seorang kolektor yang album spesimennya kini disimpan di perpustakaan Deakin, menunjukkan ketelitian luar biasa dalam pengumpulan dan identifikasi ilmiah pakis dari wilayah Australia, menunjukkan jangkauan global dari kegilaan ini.
Ekspedisi berburu pakis juga menjadi ajang sosialisasi yang populer. Para nyonya rumah Victoria sering kali menggantikan pesta teh tradisional dengan ekspedisi lapangan seharian, lengkap dengan keranjang piknik dan kompetisi untuk menemukan spesimen yang paling langka. Bagi pasangan muda, kesempatan ini memberikan ruang informal untuk bertemu dan mengobrol di luar batas-batas ruang tamu yang kaku, yang sering kali menyebabkan “demam pakis” ini dikaitkan dengan romansa dan petualangan.
Estetika Material: Dominasi Motif Pakis dalam Kehidupan Victoria
Pteridomania tidak hanya terbatas pada tanaman hidup; motif pakis menginvasi hampir setiap aspek budaya visual dan material di Inggris abad ke-19. Pakis dianggap sebagai simbol “kesenangan yang menyenangkan” dan keanggunan alami yang tidak bisa ditandingi oleh tanaman berbunga yang dianggap lebih vulgar.
Implementasi motif pakis dalam desain meliputi:
- Seni Dekoratif: Daun pakis muncul pada kertas dinding, kain pelapis, perhiasan, keramik, dan peralatan makan. Piring makan, set teh, hingga chamber pot (pot malam) sering kali dihiasi dengan motif frond yang realistis.
- Arsitektur dan Perabotan: Besi cor yang digunakan untuk pagar taman, bangku, dan lampu gantung dibentuk menyerupai daun pakis yang menjuntai. Di rumah-rumah mewah, arsitektur fernery—baik di dalam maupun di luar ruangan—menjadi fitur wajib. Ferneries ini sering kali dirancang sebagai grotto bergaya gotik dengan bebatuan besar dan air mancur untuk meniru keindahan alam liar yang purba.
- Karya Seni dan Fotografi: Teknik nature printing, yang dipelopori oleh Henry Riley Bradbury, memungkinkan seniman untuk menggunakan daun pakis asli untuk membuat pelat cetak, sehingga menghasilkan ilustrasi yang sangat akurat dan mendetail untuk buku-buku botani. Daun pakis juga digunakan dalam teknik spatter-work dan decoupage untuk menghiasi album-album kolektor.
- Biskuit Custard Cream: Salah satu warisan budaya Pteridomania yang paling aneh dan bertahan lama adalah desain biskuit Custard Cream. Meskipun biskuit ini tidak dijual secara komersial hingga tahun 1908, desain melingkar dan hiasan dekoratif pada permukaannya didasarkan pada pelat cetak Victoria yang meniru bentuk kuncup daun pakis yang sedang membuka (crozier).
Nilai Ekonomi dan Pasar Gelap Botani
Seiring meningkatnya obsesi, nilai ekonomi pakis meroket. Meskipun banyak orang mengoleksi pakis untuk hobi pribadi, industri komersial segera muncul untuk mengeksploitasi permintaan tersebut. Pada tahun 1860-an, permintaan telah jauh melampaui pasokan alami di wilayah-wilayah yang mudah dijangkau.
| Perbandingan Harga dan Upah Victoria (c. 1860) | Nilai Moneter |
| Upah tahunan rata-rata pelayan rumah tangga | £12 |
| Harga satu spesimen pakis langka | £10 – £20 |
| Harga spesimen eksotis non-Inggris (setara modern £125,000) | £1,000 |
Tingginya harga ini melahirkan sisi gelap Pteridomania: pencurian dan pasar gelap. Para pedagang pakis komersial sering kali menyewa pandu profesional untuk memasuki habitat-habitat terpencil dan secara sistematis menjarah seluruh populasi pakis liar untuk dijual kembali di kota-kota besar. Fenomena ini menyebabkan munculnya istilah “kriminal botani.” Di Devon, yang merupakan pusat keanekaragaman pakis Inggris, pengumpulan liar menjadi masalah serius yang mengancam kepunahan spesies lokal.
Salah satu kasus hukum yang terdokumentasi dengan baik terjadi di Dartmoor pada tahun 1896. Dua pria, Mobey dan Williams, ditangkap karena mencabut akar pakis dalam jumlah besar—sekitar 5 hundredweight (250 kg). Karena pada waktu itu belum ada undang-undang perlindungan tanaman yang spesifik, pihak berwenang harus menggunakan hukum kerusakan properti, yaitu kerusakan pada dinding pembatas tanah (Devonshire banks), untuk menghukum mereka dengan denda berat atau kerja paksa selama enam minggu.
Risiko Fisik dan Petualangan Berbahaya
Pteridomania bukan sekadar hobi yang dilakukan di dalam ruangan atau di taman yang rapi; ia sering kali melibatkan aktivitas fisik yang berbahaya. Para kolektor yang terobsesi sering kali merasa tertantang untuk menemukan spesimen di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau, percaya bahwa semakin sulit diakses habitatnya, semakin berharga tanamannya.
Pencarian pakis ke tebing-tebing curam dan lembah-lembah yang licin menyebabkan banyak kecelakaan fatal yang dilaporkan oleh media pada masa itu:
- Jane Myers: Dilaporkan jatuh dari ketinggian 170 kaki (sekitar 52 meter) hingga tewas saat mencoba mengambil pakis di sebuah tebing.
- Toussaint Bastard: Seorang botanis asal Prancis yang meninggal dunia pada usia 62 tahun akibat jatuh dari tebing saat mengumpulkan pakis pada tahun 1846.
- Ekspedisi Internasional: Kegilaan ini juga mendorong penjelajahan ke luar negeri. Pasangan botanis John Gill Lemmon dan Sara Plummer Lemmon menghabiskan bulan madu mereka dengan mendaki pegunungan Catalina di California untuk mencari pakis baru, menghadapi risiko dari serangan suku asli, ular berbisa, hingga tebing yang runtuh.
Bahaya fisik ini justru menambah daya tarik Pteridomania bagi sebagian orang, mengubah botani menjadi bentuk “petualangan terhormat” yang memungkinkan individu untuk menunjukkan keberanian dan ketekunan mereka dalam pengejaran pengetahuan ilmiah.
Dampak Lingkungan dan Kepunahan Lokal
Keserakahan para kolektor Victoria memiliki konsekuensi ekologis yang menghancurkan bagi flora asli Inggris. Banyak spesies pakis yang dulunya melimpah menjadi sangat langka atau benar-benar hilang dari habitat aslinya akibat pengambilan berlebihan selama lima dekade demam ini.
Beberapa spesies yang paling menderita meliputi:
- Killarney Fern (Trichomanes speciosum): Pakis yang sangat indah dan langka ini hampir sepenuhnya musnah dari wilayah barat daya Inggris dan sebagian besar Skotlandia. Hingga hari ini, pakis ini masih berstatus terancam punah di Eropa.
- Oblong Woodsia (Woodsia ilvensis): Populasi pakis ini di Moffat Hills, Skotlandia, yang dulunya merupakan yang terbesar di Inggris, merosot tajam karena eksploitasi oleh para botanis dan pedagang komersial.
- Dickie’s Bladder-fern: Spesies ini dilaporkan telah benar-benar lenyap dari lokasi penemuan aslinya di Kincardineshire pada tahun 1860, hanya beberapa dekade setelah mulai dikoleksi secara massal.
Kesadaran akan kerusakan lingkungan ini akhirnya memicu gerakan konservasi awal di Inggris. Pada tahun 1902, Dewan County Devon mengeluarkan peraturan daerah yang melarang pencabutan pakis dan bunga liar di lahan publik, sebuah langkah yang awalnya ditentang oleh Sekretaris Dalam Negeri Inggris karena dikhawatirkan akan merugikan masyarakat miskin atau anak-anak yang hanya ingin memetik bunga. Upaya perlindungan ini merupakan salah satu tonggak awal bagi undang-undang perlindungan alam modern di Inggris, seperti Flora and Fauna Guarantee Act yang ada saat ini.
Pteridologi Ilmiah dan Warisan British Pteridological Society
Meskipun diwarnai dengan ekses yang merusak, Pteridomania juga memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi ilmu botani. Sebelum periode ini, pakis kurang dipelajari dibandingkan dengan tanaman berbunga. Ketertarikan publik yang besar mendorong para ilmuwan untuk melakukan klasifikasi yang lebih ketat, mempelajari fisiologi spora, dan mengembangkan teknik hibridisasi.
Institusionalisasi hobi ini memuncak dengan berdirinya British Pteridological Society (BPS). Awalnya dibentuk pada tahun 1891 di Kendal, Lake District, dengan nama Northern British Pteridological Society, organisasi ini segera menjadi pusat keunggulan ilmiah bagi para penggemar pakis. Presiden pertamanya, Dr. F.W. Stansfield, berasal dari keluarga pemilik pembibitan pakis terkemuka dan merupakan otoritas dalam varietas pakis.
Kontribusi ilmiah selama era ini meliputi:
- Studi Varietas (“Monstrosities”): Para kolektor Victoria sangat terobsesi dengan apa yang mereka sebut sebagai “monstrositas”—variasi aneh dari pakis liar yang memiliki bentuk daun yang bercabang, melingkar, atau berumbai. Mereka menyeleksi dan membudidayakan ratusan varietas ini, yang banyak di antaranya masih dipelihara oleh kolektor tanaman hias hari ini.
- Katalogisasi Masif: Pembibitan seperti W. & J. Birkenhead di Manchester mempublikasikan katalog yang mencantumkan ribuan spesies dan varietas, sering kali lengkap dengan ilustrasi botani yang akurat. Thomas Moore, seorang kurator di Chelsea Physic Garden, dikreditkan dengan penamaan dan pendeskripsian lebih dari seribu spesies tanaman, banyak di antaranya adalah pakis yang populer selama masa demam tersebut.
- Publikasi Berkala: Jurnal-jurnal seperti The British Fern Gazette, yang dimulai oleh Charles T. Druery pada tahun 1909, menyediakan wadah untuk artikel ilmiah dan hortikultura yang mendalam, membantu transisi hobi ini dari kegilaan populer menjadi disiplin ilmu yang serius.
Penutup: Pudarnya Demam dan Jejak di Zaman Modern
Pteridomania mulai menunjukkan tanda-tanda memudar pada akhir 1890-an. Sebagian besar sejarawan mengaitkan penurunan ini dengan kematian Ratu Victoria pada tahun 1901, yang menandai berakhirnya era yang sangat mementingkan sejarah alam dan hobi koleksi. Faktor-faktor lain termasuk munculnya tren baru dalam hortikultura, seperti obsesi terhadap anggrek, dan pergeseran gaya desain interior menuju minimalisme Edwardian yang menjauhi kepadatan ornamen Victoria. Banyak fernery besar yang dibangun dengan biaya mahal dibiarkan terbengkalai dan menjadi reruntuhan, terutama setelah meletusnya Perang Dunia I yang mengubah prioritas tenaga kerja dan sumber daya ekonomi Inggris.
Meskipun demamnya telah berakhir, warisan Pteridomania tetap hidup. British Pteridological Society masih aktif hingga hari ini dan merayakan hari jadinya yang ke-125 pada tahun 2016. Koleksi herbarium dari era Victoria, seperti milik Pendeta Charles Padley yang kini disimpan di RHS Wisley, tetap menjadi sumber daya penting bagi penelitian keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Fenomena Pteridomania berdiri sebagai pengingat yang kuat tentang bagaimana antusiasme publik yang besar terhadap alam dapat memicu kemajuan ilmiah yang luar biasa, namun pada saat yang sama, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat menyebabkan kehancuran lingkungan yang tak tertahankan. Sejarah demam pakis ini mengajarkan kita tentang keseimbangan yang rapuh antara kekaguman terhadap keindahan alam dan tanggung jawab kita untuk melestarikannya bagi generasi mendatang.


