Arsitektur Melankolia: Analisis Komprehensif Fenomena Pertapa Taman di Inggris Abad Ke-18
Fenomena pertapa taman (garden hermit) atau pertapa hias (ornamental hermit) merupakan salah satu manifestasi paling eksentrik dan mendalam dari persilangan antara arsitektur lanskap, performa sosial, dan eksternalisasi psikologis dalam sejarah Eropa. Muncul terutama pada abad ke-18 di Inggris selama era Georgian, praktik ini melibatkan pemilik tanah kaya yang mempekerjakan individu untuk tinggal di struktur yang dibangun secara khusus seperti pertapaan (hermitage), grotto, atau bangunan dekoratif (folly) untuk berfungsi sebagai dekorasi hidup. Individu-individu ini bukanlah pertapa religius dalam pengertian tradisional Abad Pertengahan, melainkan karyawan sekuler yang dikontrak untuk melakukan peran estetika dan emosional tertentu. Kehadiran seorang pertapa di lahan perkebunan dimaksudkan untuk membangkitkan suasana melankolia yang menyenangkan (pleasing melancholy), sebuah keadaan emosional yang sangat dihargai oleh elit Georgian karena dianggap menandakan kedalaman intelektual, kehalusan moral, dan hubungan dengan dunia alami yang tidak dijinakkan. Laporan ini menyajikan analisis mendalam mengenai dimensi budaya, filosofis, dan arsitektural dari praktik ini, menelusuri asal-usulnya dari zaman kuno hingga transformasi akhirnya menjadi gnom kebun (garden gnome) modern.
Landasan Filosofis dan Estetika Pertapa Taman
Munculnya pertapa taman tidak dapat dipahami secara terisolasi dari pergeseran yang lebih luas dalam teori estetika dan desain lanskap yang terjadi selama abad ke-18. Ketika geometri kaku dan simetris dari taman formal Prancis—yang dicontohkan oleh karya André Le Nôtre di Versailles—mulai ditinggalkan, gaya tersebut digantikan oleh gerakan Taman Lanskap Inggris (English Landscape Garden). Pendekatan baru ini berusaha meniru ketidakteraturan dan asimetri alam, menciptakan lanskap yang tampak liar atau tidak tersentuh, namun kenyataannya diatur secara cermat untuk memberikan pengalaman emosional yang spesifik.
Kultus Melankolia yang Menyenangkan
Inti dari gerakan ini adalah konsep melankolia yang menyenangkan. Pada periode Georgian, melankolia tidak dipandang sebagai depresi klinis dalam pengertian modern, melainkan sebagai keadaan pikiran introspektif yang diinginkan. Diyakini bahwa hanya kelas atas yang memiliki kemuliaan kelahiran dan kedalaman karakter yang diperlukan untuk mengalami kesedihan yang mendalam ini. Dengan memasang seorang pertapa di tanah mereka, pemilik lahan dapat melakukan outsourcing terhadap sisi kontemplatif dan melankolis mereka. Pertapa berfungsi sebagai perwujudan hidup dari kehidupan batin pemiliknya, memungkinkan tuan tanah untuk menikmati kehidupan yang baik di era Pencerahan sambil mempertahankan simbol visibel dari penghematan filosofis dan kesadaran akan kefanaan.
Secara historis, melankolia dikaitkan dengan kelebihan empedu hitam (black bile) menurut teori medis Galenik. Meskipun secara medis dianggap sebagai penyakit, dalam budaya elit Inggris abad ke-18, melankolia direklamasi sebagai tanda kecerdasan dan kedalaman emosional. Para pemikir era itu percaya bahwa individu yang melankolis memiliki kemampuan untuk melihat dunia lebih jelas dan tajam dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya. Kebutuhan untuk menarik diri ke dalam perenungan di tempat-tempat sunyi seperti grotto menjadi cara populer untuk mencari relaksasi dan refleksi di tengah meningkatnya fokus masyarakat pada industrialisme dan produksi.
Teori Pitoresk dan Sublim
Kerangka estetika untuk pertapa taman diperhalus lebih lanjut oleh teori-teori tentang yang Pitoresk (Picturesque), yang Sublim (Sublime), dan yang Indah (Beautiful). Teori Pitoresk, yang dikembangkan oleh penulis seperti William Gilpin dan Uvedale Price, menengahi antara cita-cita keindahan klasik yang mulus dan kemegahan yang menakutkan dari yang sublim. Pitoresk dicirikan oleh kekasaran, ketidakteraturan, dan variasi mendadak dalam bentuk, warna, dan pencahayaan.
Pertapa taman, dengan rambutnya yang tidak terawat, jubah yang kasar, dan penampilan yang lapuk oleh cuaca, adalah aksesori manusia yang sempurna untuk pemandangan pitoresk. Dia diperlakukan sebagai deformitas pitoresk (picturesque deformity), mirip dengan reruntuhan kuno atau pohon yang berlekuk-lekuk, menambahkan rasa sejarah dan kejelasan pada taman. William Gilpin menyarankan bahwa reruntuhan dan manusia dapat memiliki nilai estetika yang sama jika mereka memiliki kualitas yang sesuai untuk direpresentasikan dalam lukisan.
| Kategori Estetika | Karakteristik Penentu | Peran Pertapa Taman |
| Yang Indah (The Beautiful) | Kelancaran, kelembutan, simetri, dan harmoni. | Bertentangan dengan penampilan pertapa yang kasar dan tidak terawat. |
| Yang Pitoresk (The Picturesque) | Kekasaran, ketidakteraturan, kompleksitas aksidental, dan rustisitas. | Pertapa berfungsi sebagai reruntuhan manusia, memberikan tekstur visual dan kedalaman narasi. |
| Yang Sublim (The Sublime) | Keluasan, ketidakterjelasan, teror, dan kekuatan yang luar biasa. | Pertapa membangkitkan kesunyian liar yang menakjubkan dan finalitas kematian. |
Evolusi Historis: Dari Anchorite ke Ornamentasi
Praktik memelihara pertapa taman adalah versi sekuler dan teatrikal dari tradisi kuno dan Abad Pertengahan. Garis keturunan historis dari pertapaan dapat ditelusuri kembali ke Kaisar Romawi Hadrianus, yang membangun sebuah danau kecil dengan struktur untuk satu orang mundur dan bermeditasi di villanya di Tivoli pada abad kedua Masehi. Ketika reruntuhan ini ditemukan kembali pada abad ke-16, konsep tersebut menginspirasi para pemimpin agama seperti Paus Pius IV untuk membangun struktur serupa untuk refleksi spiritual.
Kekosongan Budaya Pasca-Reformasi
Di Inggris, kondisi spesifik bagi munculnya pertapa taman diciptakan setelah Reformasi Gereja. Penekanan oleh Raja Henry VIII terhadap biara-biara menyebabkan hilangnya pertapa religius, biarawan, dan biarawati sejati dari lanskap Inggris. Hal ini meninggalkan kekosongan dalam imajinasi budaya—kurangnya kekuatan mistis dan rasa ingin tahu yang secara tradisional dikaitkan dengan para petapa. Pada abad ke-18, elit kaya berusaha mengklaim kembali citra ini, bukan untuk pengabdian spiritual, melainkan sebagai bentuk cosplay rustik yang memperkuat status.
Kekosongan ini juga diisi oleh munculnya literatur melankolis yang menampilkan karakter eksentrik dan pertapa, yang meskipun sering kali kurang dalam keseriusan sastra, memberikan kerangka budaya bagi para bangsawan untuk mengadopsi hobi ini. Tokoh pertapa dalam seni abad ke-17 mulai diromantisasi oleh para filsuf, menggabungkan pencarian wahyu spiritual dengan pencerahan intelektual, yang pada gilirannya memengaruhi aristokrasi untuk mengubah konsep pertapa dari teladan kebajikan teologis menjadi model pensiun pedesaan yang ditandai oleh rasa ingin tahu filosofis dan ilmiah.
Pengaruh Jean-Jacques Rousseau
Landasan filosofis gerakan ini sangat dipengaruhi oleh perayaan Jean-Jacques Rousseau terhadap manusia alami dan kritiknya terhadap peradaban. Rousseau memperjuangkan gagasan bahwa keunggulan moral dapat ditemukan dengan mengabaikan konsep kepemilikan dan konvensi masyarakat demi kehidupan yang lebih sederhana di alam. Pertapa taman menjadi representasi fisik dari aspirasi ini—seorang filsuf alam atau magus yang hidup dalam pengasingan sukarela untuk mengejar pengetahuan rahasia dan meditasi filosofis.
Munculnya minat luas pada subjek pertapa dan asketisme ini bertepatan dengan masa ketika tradisi esoteris kehilangan posisi dominannya dalam pemikiran Eropa. Sosok pertapa kemudian berbaur dengan citra alkemis dan filsuf yang mengabdikan diri pada meditasi di pengasingan rahasia, memberikan pesona mistis yang dicari oleh para pemilik tanah pada masa itu.
Arsitektur Pertapaan dan Grotto
Struktur yang dibangun untuk menampung pertapa ini, yang dikenal sebagai pertapaan (hermitage), bangunan dekoratif (folly), atau grotto, merupakan keajaiban arsitektural yang dirancang untuk merangsang emosi terdalam dan membangkitkan suasana hati tertentu. Bangunan-bangunan ini sering kali menjadi sorotan dari tur di tanah perkebunan, berfungsi sebagai fitur arsitektural untuk menarik mata di dalam lanskap.
Bahan dan Teknik Konstruksi
Pertapaan dirancang agar tampak alami dan kuno, sering kali menggunakan bahan yang menunjukkan pertumbuhan organik atau pelapukan. Bahan konstruksi yang umum meliputi:
- Akar dan cabang pohon yang berlekuk-lekuk: Digunakan untuk menciptakan rumah akar (root house) atau untuk melapisi pintu masuk gua. Teknik ini melibatkan pengikatan struktur kayu yang sudah lapuk dengan resin untuk menstabilkannya.
- Batu kasar dan batu pasir lokal:Â Untuk memberikan kesan struktur yang dipahat langsung dari bumi.
- Cangkang kerang dan mineral: Pemilik tanah kaya menghabiskan kekayaan besar untuk cangkang kerang, karang, dan kristal kalsit untuk menciptakan mosaik interior yang rumit. Di Grotto Margate, terdapat sekitar 4,6 juta cangkang yang digunakan untuk membentuk mosaik seluas 190 meter persegi.
- Tulang dan gigi:Â Dalam beberapa contoh ekstrem, seperti grotto kerang di Pontypool Park, tulang dan gigi hewan digunakan untuk membentuk pola di lantai, seperti busur, lingkaran, bintang, hati, dan berlian.
- Heather dan jerami:Â Digunakan untuk atap guna menekankan sifat rustik dan pedesaan dari kediaman tersebut.
Simbologi Internal dan Pertapa Still-Life
Di dalam pertapaan, lingkungan dikurasi secara cermat untuk memperkuat tema kematian (memento mori). Bahkan ketika pertapa yang hidup tidak hadir, struktur tersebut sering kali dilengkapi dengan aksesori pertapa tradisional untuk menunjukkan bahwa seorang penghuni baru saja melangkah keluar sejenak.
| Objek Simbolis | Makna/Fungsi dalam Pertapaan |
| Tengkorak Manusia | Lambang kefanaan dan sifat hidup yang sementara. |
| Jam Pasir (Hourglass) | Pengingat berlalunya waktu dan mendekatnya kematian. |
| Alkitab atau Teks Klasik | Menandakan dedikasi pertapa pada studi spiritual atau intelektual. |
| Kacamata (Spectacles) | Menyiratkan kebijaksanaan pertapa dan fokus pada pekerjaan terpelajar. |
| Tikar dan Bantal Hassock | Furnitur minimalis yang merepresentasikan penolakan terhadap kenyamanan duniawi. |
Arsitektur pertapaan sering kali menggabungkan fascinasi kontemporer terhadap asal-usul alami arsitektur dengan kecintaan pada penggambaran artistik pertapa yang tinggal di batang pohon atau grotto. Misalnya, pertapaan di Painshill didukung oleh batang pohon dan diatapi dengan atap jerami. Gaya ini kemudian berevolusi dari ruang interior berlapis kerang menjadi gua batu kapur buatan yang lebih naturalistik pada akhir abad ke-18.
Dinamika Ketenagakerjaan: Kontrak dan Ketentuan
Mempekerjakan pertapa taman adalah pengaturan bisnis formal, yang sering kali melibatkan kontrak ketat yang mendikte penampilan fisik, perilaku, dan interaksi sosial individu tersebut. Ketentuan-ketentuan ini dirancang untuk memastikan pertapa tetap menjadi diorama hidup yang meyakinkan bagi hiburan para tamu.
Persyaratan Fisik dan Asketisme
Kewajiban kontraktual yang paling umum melibatkan penolakan total terhadap kebersihan pribadi dan perawatan diri. Para pertapa biasanya diharuskan untuk:
- Menahan diri dari memotong rambut, jenggot, atau kuku:Â Beberapa kontrak menetapkan bahwa bagian-bagian tubuh ini harus tumbuh sepanjang yang diizinkan alam untuk jangka waktu hingga tujuh tahun.
- Menghindari mencuci atau membersihkan diri:Â Tujuannya adalah untuk mempertahankan keadaan kotoran pitoresk (picturesque dirtiness).
- Mengenakan pakaian khusus:Â Ini sering kali termasuk jubah bulu kambing, jubah camlet, atau bahkan kostum druid lengkap dengan topi dunce.
- Berjalan telanjang kaki:Â Sepatu sering kali dilarang untuk menekankan hubungan pertapa dengan bumi.
Isolasi Sosial dan Perilaku
Fungsi pekerjaan pertapa sering kali didefinisikan oleh kesunyian dan pengasingannya. Dalam banyak kasus, pertapa dilarang berbicara kepada siapa pun, termasuk pelayan yang membawakan makanan harian mereka. Namun, di beberapa perkebunan, ekspektasi lebih bersifat performatif. Beberapa pertapa diminta untuk:
- Menyediakan diri bagi para tamu:Â Menjawab pertanyaan, memberikan nasihat, atau berbagi butiran kebijaksanaan emas.
- Melakukan tugas-tugas tertentu:Â Seperti pekerjaan pertanian ringan atau bahkan menjadi bartender selama pesta kebun.
- Menampilkan eksentrisitas tertentu:Â Seperti memiliki beberapa setelan pakaian dengan moto atau slogan yang berbeda-beda untuk dipamerkan kepada tamu.
Pertimbangan Ekonomi
Imbalan finansial untuk melayani sebagai pertapa bisa sangat signifikan, meskipun ketentuannya sering kali terlalu sulit bagi para pelamar untuk bertahan. Sebagai contoh, Charles Hamilton menawarkan £700 (setara dengan sekitar $77.000–$130.000 saat ini) untuk komitmen tujuh tahun. Namun, kontrak-kontrak ini sering kali bersifat all or nothing; jika seorang pertapa pergi sebelum masa jabatannya berakhir, dia tidak akan menerima pembayaran sama sekali, yang menyebabkan eksploitasi ekonomi yang signifikan.
Ada juga bukti bahwa beberapa orang secara sukarela mencari posisi ini sebagai cara untuk menarik diri dari dunia sambil mendapatkan bayaran. Sebuah iklan di surat kabar Courier tahun 1810 menunjukkan seorang pemuda yang bersedia bertunangan dengan bangsawan mana pun untuk hidup sebagai pertapa dengan imbalan gaji (gratuity) tertentu.
Studi Kasus Utama dalam Fenomena Pertapa Hias
Beberapa perkebunan bersejarah menjadi terkenal karena penggunaan pertapa hias mereka, memberikan gambaran tentang berbagai cara tren ini diimplementasikan di seluruh Inggris dan Irlandia.
Painshill Park dan Yang Terhormat Charles Hamilton
Painshill Park, yang diciptakan oleh Charles Hamilton antara tahun 1738 dan 1773, dianggap sebagai salah satu taman lanskap paling penting di Eropa. Upaya Hamilton untuk mempekerjakan seorang pertapa mungkin merupakan contoh kegagalan tren yang paling terkenal dan paling sering dikutip. Dia membangun sebuah pertapaan di atas gundukan curam dan memasang iklan untuk seorang penghuni yang bersedia tinggal selama tujuh tahun di bawah ketentuan ketat kesunyian dan kurangnya perawatan diri. Pria yang disewa untuk peran tersebut, seorang pria bernama Remington, hanya bertahan tiga minggu sebelum ditemukan sedang minum-minum di sebuah pub lokal di Cobham. Kegagalan ini menyoroti kesulitan inheren dalam menemukan individu yang bersedia menukar kebebasan dasar manusia mereka demi gaji.
Meskipun gagal mempertahankan pertapa manusia, Painshill tetap terkenal karena grotto kristal kapurnya yang luar biasa dan pemulihan bangunannya yang telah memenangkan penghargaan internasional. Saat ini, taman tersebut tetap menjadi situs sejarah yang dilindungi yang mencerminkan visi asli Hamilton tentang keindahan yang diidealkan.
Hawkstone Park dan Father Francis
Hawkstone Park di Shropshire, milik Sir Richard Hill, menawarkan versi praktik yang lebih sukses dan berorientasi pada pariwisata. Perkebunan ini menampilkan pertapaan musim panas yang dihuni oleh seorang pria yang dikenal sebagai Father Francis. Berbeda dengan petapa Hamilton yang bisu, Father Francis adalah sosok terhormat yang terlibat dalam percakapan spiritual dengan pengunjung, menawarkan bimbingan tentang sifat kesunyian. Daya tarik ini sangat populer sehingga keluarga Hill membangun sebuah pub, The Hawkstone Arms, untuk menampung kerumunan turis yang datang.
Father Francis digambarkan sebagai sosok yang tampak berusia sekitar 90 tahun secara terus-menerus dalam berbagai edisi buku panduan Hawkstone, menunjukkan adanya unsur mitologisasi dan performa yang melampaui sekadar pekerjaan biasa. Di dalam pertapaannya, dia duduk di depan meja yang dipenuhi benda-benda simbolis, dan sebuah puisi di dinding menangkap suasana melankolis dari sel tersebut, memperingatkan pengunjung untuk bersiap menghadapi kematian.
Lulworth, Preston, dan Kasus Lainnya
Contoh menonjol lainnya termasuk keluarga Weld di Lulworth Estate di Dorset, yang memelihara seorang pertapa hias di samping bangunan hias lainnya seperti benteng dan pelabuhan tiruan. Di Preston, Lancashire, seorang pria bernama John Timbs menawarkan bayaran £50 per tahun seumur hidup bagi siapa pun yang bersedia hidup di bawah tanah selama tujuh tahun tanpa memotong rambut atau kuku. Pelamar tersebut bertahan selama empat tahun tanpa pernah terlihat oleh majikannya, sebuah bukti dari tingkat isolasi ekstrem yang terkadang dituntut.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa meskipun tren ini singkat, ia tersebar luas di kalangan pemilik tanah eksentrik di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Di Skotlandia, pertapaan yang lebih terkenal berada di Glenriddell, yang sering dikunjungi oleh penyair Robert Burns, dan di Dunkeld, yang dipopulerkan oleh puisi-puisi Ossian karya James Macpherson.
Etika Ornamentasi Manusia
Praktik mempekerjakan manusia untuk berfungsi sebagai diorama hidup menimbulkan pertanyaan etis yang signifikan mengenai komodifikasi kehidupan manusia dan dehumanisasi kelas bawah.
Komodifikasi dan Hierarki Kelas
Pada abad ke-18, seorang pertapa taman dipandang sebagai aset atau ornamen yang sebanding dengan kuda pemenang lomba atau air mancur mahal. Perlakuan ini mencerminkan hierarki sosial yang kaku di mana kaum elit merasa berhak menggunakan tubuh dan kehidupan orang lain untuk melakukan status mereka sendiri. Melankolia yang sangat dihargai adalah performa yang dimungkinkan hanya oleh kemiskinan dan keputusasaan pria yang bersedia menerima pekerjaan yang mengisolasi tersebut.
Pemilik tanah sering kali memamerkan pertapa mereka kepada tamu-tamu mereka seolah-olah mereka adalah bagian dari koleksi pribadi. Dehumanisasi ini bukan hanya tentang perlakuan yang merendahkan, tetapi tentang menganggap orang lain sebagai makhluk subhuman yang diizinkan atau bahkan diwajibkan untuk hidup dalam kondisi yang biasanya dianggap tidak layak bagi manusia beradab.
Performa vs. Realitas
Ketegangan etis semakin diperparah oleh kesenjangan antara cita-cita romantis tentang pertapa dan realitas keberadaannya. Sementara pemilik tanah menikmati pesona mistis dari pertapaan, penghuninya sering kali tunduk pada kontrol perilaku ekstrem dan kotoran pitoresk yang oleh para sarjana modern digambarkan sebagai bentuk dehumanisasi. Fakta bahwa banyak pertapa adalah pekerja pertanian yang sudah bekerja di perkebunan tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, peran tersebut bukanlah pilihan melainkan perpanjangan dari pengabdian mereka.
Selain itu, struktur finansial dari perjanjian ini sering kali bersifat koersif. Jika seorang pria tidak tahan dengan kehidupan tersebut dan pergi sebelum masa jabatannya berakhir, dia akan kehilangan seluruh pembayaran atas jasanya, berpotensi meninggalkannya dengan tahun-tahun kerja keras yang tidak dibayar. Ini menciptakan situasi di mana individu terperangkap dalam kemiskinan yang dipentaskan demi kesenangan orang kaya.
Peralihan ke Pengganti Mekanis dan Patung
Kesulitan dalam merekrut dan mempertahankan pertapa manusia pada akhirnya menyebabkan pemilik tanah mencari alternatif yang lebih andal dan tidak merepotkan. Transisi ini menandai awal dari kemunduran pertapa hias dan transformasinya menjadi seni taman figuratif.
Automaton dan Boneka
Ketika pertapa manusia tidak dapat ditemukan—atau ketika mereka tak terelakkan pergi ke pub—pemilik tanah sering kali beralih ke solusi mekanis.
- Hawkstone Park: Setelah kematian Father Francis, posisinya digantikan oleh sosok yang diisi (stuffed figure) dan akhirnya sebuah automaton mekanis yang dapat dioperasikan oleh pemandu taman. Seorang turis abad ke-18 mencatat bahwa versi mekanisnya terasa kaku dan tidak dikelola dengan baik, karena pengunjung sudah bisa melihatnya saat pintu dibuka alih-alih dikejutkan oleh kehadirannya.
- The Wodehouse:Â Di Staffordshire, Samuel Hellier memasang pertapa mekanis yang dikatakan bergerak dan memberikan kesan seperti hidup.
- Pengaturan Still-Life: Banyak pemilik tanah memilih untuk hanya menempatkan aksesori pertapa di meja—seperti kacamata, buku, dan jam pasir—untuk menyiratkan bahwa penghuninya baru saja pergi keluar sebentar. Ini memberikan aura prestise yang sama tanpa biaya atau kesulitan mempekerjakan orang sungguhan.
Peran Keluarga dan Lelucon Sosial
Dalam beberapa kasus, pertapa tersebut adalah performa sementara oleh anggota keluarga atau tamu. Ahli botani Gilbert White terkenal karena membujuk saudaranya, Pendeta Henry White, untuk berpakaian sebagai orang bijak yang sudah tua guna menghibur para tamu di perkebunannya di Selborne. Henry sangat menikmati peran tersebut sehingga dia meminta dirinya dilukis dalam kostum pertapa, menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-18, melankolia serius dari para pertapa awal telah berkembang menjadi bentuk hiburan sosial atau lelucon internal bagi kaum elit.
Warisan: Dari Grotto ke Gnom Kebun
Seiring berakhirnya abad ke-18, mode untuk pertapa hias mulai memudar, didorong oleh perubahan selera lanskap dan meningkatnya nilai-nilai industrialisme serta produktivitas yang menganggap kontemplasi kebun sebagai pemborosan. Namun, kekosongan budaya yang ditinggalkan oleh pertapa segera diisi oleh alternatif yang kecil dan dapat dikoleksi: gnom kebun (garden gnome).
Asal-usul Jerman dari Gnom
Gnom kebun modern muncul di Jerman pada abad ke-19, khususnya di desa Gräfenroda di Thuringia.
- Philip Griebel: Seorang pemahat yang mengkhususkan diri pada hewan terakota, Griebel mulai memproduksi figur terakota dari makhluk mitos lokal yang dikenal sebagai kaukis pada tahun 1870-an.
- Simbolisme dan Fungsi: Gnom awal ini dipandang sebagai jimat keberuntungan yang melindungi taman dari pencuri dan memastikan panen yang baik—sebuah kelanjutan dari peran pertapa sebagai pelindung ruang hijau. Gnom sering digambarkan sebagai pria tua yang menjaga harta karun di bawah tanah.
- Produksi Massal: Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pabrik-pabrik seperti milik Griebel dan August Heissner memproduksi gnom secara massal untuk pasar internasional. Meskipun perang dunia sempat menghentikan produksi, popularitasnya melonjak kembali pada tahun 1930-an setelah rilis film Disney Snow White and the Seven Dwarves.
Menghubungkan Pertapa dan Gnom
Para sarjana seperti Gordon Campbell berpendapat bahwa gnom kebun adalah kehidupan setelah kematian dari pertapa (afterlife of the hermit). Keduanya berfungsi sebagai sosok berjanggut dan penyendiri yang mengawasi taman dan mengingatkan pemirsa pada masa lalu pastoral atau mitologis. Transisi dari seorang pria hidup yang tidak mandi menjadi patung keramik yang dianggap kitsch mencerminkan pergeseran budaya yang lebih luas dari ekses aristokrasi yang khidmat dan maudlin menuju hobi kelas menengah yang lebih irreverent. Gnom menempati kekosongan historis, spiritual, dan budaya yang ditinggalkan oleh para pendahulu ornamental mereka.
| Fase Evolusi | Subjek Utama | Fungsi/Makna |
| Zaman Kuno/Abad Pertengahan | Anchorite Religius | Syafaat spiritual, isolasi murni, dan wawasan ilahi. |
| Abad Ke-18 | Pertapa Hias | Performa melankolia yang menyenangkan, simbol status, dan dekorasi hidup. |
| Abad Ke-19 | Automaton Mekanis | Pengganti manusia yang tidak andal, mempertahankan estetika tanpa masalah ketenagakerjaan. |
| Akhir Abad Ke-19–Modern | Gnom Kebun | Kitsch yang dapat dikoleksi, jimat keberuntungan rakyat, dan “afterlife” tradisi pertapa. |
Analisis Penutup: Melankolia sebagai Komoditas
Fenomena pertapa taman di Inggris abad ke-18 berfungsi sebagai pengingat yang tajam tentang kompleksitas kehidupan sosial Georgian, di mana kekayaan dan melankolia yang menyenangkan saling terkait erat. Ini adalah era di mana kaum elit berusaha mengendalikan dan mengurasi tidak hanya lanskap fisik, tetapi juga emosi dan kehidupan manusia yang menghuninya. Praktik mempekerjakan manusia sebagai ornamen hidup mungkin tampak aneh atau kejam bagi sensibilitas modern, namun pengaruhnya tetap terlihat dalam popularitas ornamen taman yang bertahan lama dan fascinasi berkelanjutan terhadap desain lanskap alami.
Pertapa di taman adalah sosok transisi—sebuah jembatan antara pertapa spiritual sejati dari masa lalu dan ikon massal yang aneh dari halaman pinggiran kota modern. Melalui kehadirannya yang sunyi dan tidak terawat, ia memberikan jendela yang aman bagi generasi bangsawan ke dalam kedalaman kesunyian dan keniscayaan kematian. Transformasi akhirnya menjadi gnom kebun yang kecil menunjukkan bagaimana masyarakat modern sering kali menjinakkan dan mengkomersialkan aspek-aspek sejarah yang paling aneh menjadi bentuk yang lebih mudah dikelola dan dikonsumsi secara massal.
Analisis terhadap fenomena ini juga menyoroti bagaimana persepsi terhadap kesehatan mental dan emosi telah berubah. Apa yang dulunya dianggap sebagai status sosial yang diinginkan (melankolia) kini diklasifikasikan sebagai kondisi klinis (depresi), menunjukkan bahwa bahkan emosi kita yang paling dalam pun dibentuk oleh rezim emosional dan nilai-nilai budaya pada masanya. Pertapa hias, pada akhirnya, bukan hanya tentang taman, melainkan tentang keinginan manusia yang abadi untuk memanifestasikan secara lahiriah kompleksitas kehidupan batiniah mereka, bahkan dengan cara yang paling eksentrik sekalipun.


