Loading Now

Venationes: Institusionalisasi Perburuan Eksotis dan Manifestasi Kekuasaan Romawi Atas Dunia Alam

Fenomena venationes (tunggal: venatio) merupakan salah satu pilar paling kompleks dan signifikan dalam struktur hiburan publik Romawi Kuno, yang merepresentasikan titik temu antara ambisi politik, keahlian teknik sipil, jaringan perdagangan global, dan eksploitasi ekologis yang masif. Secara etimologis, venatio berasal dari kata Latin venor yang berarti berburu atau mengejar, sebuah istilah yang awalnya merujuk pada praktik berburu hewan liar untuk makanan atau olahraga di alam terbuka. Namun, seiring dengan ekspansi hegemoni Roma di wilayah Mediterania, praktik ini bertransformasi menjadi sebuah tontonan publik yang sangat terorganisir di dalam amfiteater, di mana ribuan hewan eksotis yang diimpor dengan biaya selangit dari penjuru kekaisaran dipamerkan, dilecehkan, dan akhirnya dibantai di hadapan massa yang besar.

Bagi masyarakat Romawi, venationes bukan sekadar aktivitas haus darah yang bertujuan untuk menghibur kelas plebeian, melainkan sebuah instrumen kekuasaan simbolis yang dirancang untuk mendemonstrasikan dominasi kekaisaran atas dunia yang dikenal (orbis terrarum). Kemampuan seorang kaisar atau pemberi hiburan (editor) untuk menangkap, mengangkut melintasi samudra, dan kemudian menaklukkan makhluk-makhluk paling menakutkan di bumi di pusat kota Roma adalah bukti nyata bahwa tidak ada wilayah yang terlalu jauh dan tidak ada entitas alam yang terlalu liar untuk tunduk pada otoritas Romawi. Melalui kacamata ini, arena bukan sekadar panggung hiburan, melainkan mikrokosmos dari kekaisaran itu sendiri, di mana ketertiban Romawi ditegakkan atas kekacauan alam liar.

Evolusi Historis: Dari Ritual Pemakaman hingga Propaganda Kekaisaran

Transformasi venatio dari aktivitas marginal menjadi pusat kehidupan publik Romawi mencerminkan lintasan sejarah Roma itu sendiri. Akar dari tontonan ini dapat ditarik kembali ke abad ke-3 SM, meskipun catatan resmi pertama mengenai perburuan publik yang spektakuler tercatat pada tahun 186 SM. Saat itu, Marcus Fulvius Nobilior merayakan kemenangannya dalam kampanye militer di Yunani dengan menyelenggarakan pertandingan di mana gladiator bertarung melawan singa dan panther. Inovasi ini memperkenalkan elemen baru dalam hiburan Romawi yang sebelumnya didominasi oleh pacuan kereta perang dan pertarungan antar manusia.

Selama periode Republik, penyelenggaraan perburuan hewan liar sering kali terkait dengan munera, atau upacara pemakaman aristokrat, yang bertujuan untuk meningkatkan prestise keluarga yang berduka di mata publik. Namun, seiring dengan meningkatnya persaingan politik antar faksi pada akhir Republik, skala pertunjukan ini tumbuh secara eksponensial. Tokoh-tokoh kuat seperti Pompey, Crassus, dan Julius Caesar menyadari bahwa kemurahan hati dalam menyajikan tontonan eksotis adalah kunci untuk memenangkan hati rakyat. Pada tahun 55 SM, dalam peresmian teater kayunya, Pompey menyajikan pembantaian 500 singa dan 18 gajah dalam lima hari, sebuah peristiwa yang begitu brutal hingga memicu simpati tak terduga dari penonton terhadap gajah-gajah yang terluka.

Memasuki era Kekaisaran, venationes menjadi bagian integral dari kalender festival Romawi. Di bawah Augustus, praktik ini diformalisasikan, di mana sang kaisar sendiri mengklaim telah memamerkan 3.500 hewan Afrika dalam berbagai tontonan publik. Pada masa kaisar-kaisar selanjutnya seperti Titus dan Trajan, jumlah hewan yang terlibat mencapai angka yang sulit dipercaya; Titus membantai 9.000 hewan liar dan jinak selama 100 hari peresmian Colosseum pada tahun 80 M, sementara Trajan melampauinya dengan membantai 11.000 hewan untuk merayakan kemenangannya atas bangsa Dacia pada tahun 107 M.

Kronologi dan Skala Pertunjukan Venatio Utama

Penyelenggara / Kaisar Tahun Peristiwa Jumlah Hewan yang Terlibat Spesies Ikonik yang Dipamerkan
Marcus Fulvius Nobilior 186 SM Tidak disebutkan (Awal) Singa, Panther
Pompey yang Agung 55 SM 500 Singa, 18 Gajah Gajah Afrika, Singa
Julius Caesar 46 SM 400 Singa, Jerapah Jerapah (Pertama di Roma)
Augustus Era Kaisar 3.500 Hewan Afrika Buaya, Gajah
Titus 80 M 9.000 Hewan Berbagai Hewan Eksotis
Trajan 107 M 11.000 Hewan Harimau, Gajah, Singa
Philip si Arab 248 M 32 Gajah, 10 Harimau Kuda Nil, Badak, Jerapah
Probus 281 M Ribuan Herbivora Burung Unta, Rusa, Ibex

Data historis ini menunjukkan tren yang jelas: venatio berkembang dari keingintahuan ilmiah dan pameran jarahan perang menjadi konsumsi sumber daya biologis yang sistematis dan masif untuk tujuan stabilitas sosial dan legitimasi politik.

Logistik Global: Jaringan Perdagangan dan Transportasi Hewan Eksotis

Keberhasilan penyelenggaraan venatio dalam skala kekaisaran bergantung pada jaringan logistik yang sangat luas, yang menghubungkan pusat kota Roma dengan perbatasan terjauh di Britania, Rhine, Sahara, hingga Teluk Persia. Perdagangan hewan eksotis ini merupakan salah satu aktivitas ekonomi paling kompleks di zaman kuno, yang melibatkan militer, pedagang profesional, pemburu lokal, dan spesialis penanganan hewan.

Proses akuisisi dimulai dengan penangkapan hewan di habitat aslinya. Di Afrika Utara, yang merupakan lumbung utama bagi karnivora besar, terdapat asosiasi khusus atau sodalitates yang memiliki keahlian dalam menjebak predator. Metode penangkapan yang umum digunakan adalah lubang jebakan untuk gajah dan jaring besar untuk kucing besar seperti singa dan macan tutul. Para pemburu, yang sering dibantu oleh detasemen militer Romawi, akan menakuti hewan-hewan tersebut dengan obor menyala dan bunyi-bunyian bising, menggiring mereka ke dalam koridor berpagar yang sempit menuju kandang besi atau jaring yang kuat.

Setelah ditangkap, tantangan sesungguhnya adalah transportasi. Hewan-hewan ini harus tetap hidup dan dalam kondisi fisik yang baik agar memiliki nilai jual di arena. Mereka diangkut melalui darat menggunakan kereta khusus yang ditarik oleh lembu, kemudian dimuat ke kapal kargo besar (navis oneraria) di pelabuhan utama seperti Alexandria, Hippo Regius, dan Carthage. Kapal-kapal ini harus menavigasi risiko badai laut Mediterania dan keterbatasan musim pelayaran; kegagalan dalam menyediakan pakan yang tepat atau manajemen limbah di atas kapal sering kali menyebabkan kematian hewan sebelum sampai ke pelabuhan Ostia atau Portus di dekat Roma.

Komponen Utama Infrastruktur Perdagangan Hewan

  1. Stasiun Penampungan (Menageries): Sebelum dikirim ke Roma, hewan-hewan liar disimpan di fasilitas penampungan besar di kota-kota pelabuhan untuk proses penjinakan awal atau penggemukan agar tampak lebih mengesankan di arena.
  2. Kapal Pengangkut Khusus: Kapal-kapal Romawi dimodifikasi dengan ventilasi bawah dek untuk memastikan kelangsungan hidup hewan seperti gajah dan badak yang sensitif terhadap suhu dan kualitas udara.
  3. Hub Perdagangan Alexandria: Sebagai pelabuhan ekspor utama untuk fauna dari Ethiopia dan India, Alexandria menjadi pusat pengetahuan zoologi sekaligus titik temu para pedagang hewan dunia.
  4. Birokrasi Militer: Kaisar sering menggunakan gubernur provinsi dan pasukan militer untuk mengumpulkan hewan sebagai bentuk pajak atau upeti, sementara pemberi hiburan swasta harus mengandalkan kontrak komersial yang mahal dengan para pedagang.

Kompleksitas ini menciptakan beban ekonomi yang signifikan. Berdasarkan Edict Harga Diocletian pada tahun 301 M, harga seekor singa kelas satu dapat mencapai 150.000 denarii, sementara macan tutul dihargai 100.000 denarii. Biaya ini mencakup bukan hanya nilai hewan itu sendiri, tetapi juga biaya pakan selama perjalanan berbulan-bulan, upah pengawal bersenjata, dan pajak pelabuhan yang sangat tinggi.

Rekayasa Arena: Teknologi di Balik Panggung Amfiteater

Puncak dari tontonan venatio terjadi di dalam amfiteater, dengan Colosseum (Amfiteater Flavian) di Roma sebagai laboratorium rekayasa paling canggih. Untuk menciptakan efek dramatis, para insinyur Romawi mengembangkan sistem mekanis bawah tanah yang dikenal sebagai hypogeum. Di bawah lantai arena yang tertutup pasir, terdapat jaringan terowongan dan ruang penyimpanan yang luas di mana hewan-hewan dan properti panggung disembunyikan sebelum acara dimulai.

Salah satu inovasi teknis yang paling mengagumkan adalah penggunaan lift bertenaga winch dan beban penyeimbang yang mampu mengangkat kandang hewan secara vertikal ke lantai arena melalui pintu jebakan (trapdoors). Sistem ini memungkinkan kaisar untuk menciptakan efek “keajaiban” di mana singa atau beruang tiba-tiba muncul dari perut bumi, sering kali di tengah-tengah pemandangan alam buatan yang disebut silva. Pengaturan ini tidak hanya bertujuan untuk mengejutkan penonton, tetapi juga untuk menyamarkan mekanisme teknis yang rumit, menjaga ilusi bahwa penonton sedang menyaksikan perburuan yang benar-benar terjadi di alam liar.

Fitur Teknik dan Arsitektur untuk Venationes

Fitur Arsitektur Deskripsi Teknis Peran dalam Pertunjukan
Hypogeum Struktur bawah tanah dua tingkat dengan terowongan radial. Tempat penyimpanan hewan dan area persiapan bagi petugas.
Lift Mekanis Sistem katrol kayu dan tali rami yang dioperasikan manual. Mengangkat hewan dan gladiator ke arena secara simultan.
Silva (Hutan Buatan) Penggunaan pohon asli yang dicabut akarnya dan semak-semak. Menciptakan habitat realistis untuk simulasi perburuan.
Pintu Jebakan (Trapdoors) Panel lantai kayu yang tertutup pasir. Memungkinkan kemunculan hewan secara mendadak di area acak.
Cylinders Berputar Batang kayu silindris di sepanjang dinding podium. Mencegah hewan melompat ke arah penonton dengan cara berputar saat dipijak.
Velarium Tenda kain raksasa yang dioperasikan oleh pelaut. Melindungi penonton dari panas matahari selama acara pagi yang panjang.

Keamanan penonton menjadi prioritas utama dalam desain arena. Selain tembok podium yang tinggi dan dilapisi marmer licin, parit-parit berisi air sering kali digali di sekeliling arena untuk mencegah hewan besar seperti gajah atau badak menyeruduk penonton di barisan depan. Inovasi teknis seperti silinder berputar di puncak dinding arena menunjukkan pemahaman mendalam Romawi tentang perilaku hewan; seekor macan tutul yang mencoba melompat keluar akan mendarat di atas kayu yang berputar dan jatuh kembali ke pasir arena.

Peserta dalam Arena: Venatores, Bestiarii, dan Hierarki Sosial

Individu-individu yang bertarung melawan hewan di arena dibagi menjadi kategori-kategori yang berbeda secara tegas berdasarkan status sosial, tingkat pelatihan, dan motivasi mereka. Hal ini mencerminkan obsesi Romawi terhadap hierarki dan ketertiban hukum.

Venatores: Profesional dan Selebritas

Venatores adalah pemburu profesional yang dilatih secara khusus di sekolah-sekolah gladiator untuk menghadapi hewan liar. Berbeda dengan gladiator konvensional yang menggunakan baju besi berat, venatores biasanya mengenakan pakaian ringan yang memungkinkan mobilitas tinggi, seperti tunik pendek, dan dipersenjatai dengan tombak berburu (venabulum) atau busur. Mereka dihargai karena keterampilan, gaya, dan keberanian mereka dalam menaklukkan predator dengan teknik yang bersih dan efisien. Beberapa venatores seperti Carpophorus mencapai ketenaran setingkat pahlawan modern karena kemampuannya membunuh beberapa hewan besar dalam satu sesi pertunjukan.

Bestiarii: Petarung dan Penjaga

Istilah bestiarii memiliki ambiguitas dalam sumber-sumber Latin. Di satu sisi, ia merujuk pada asisten arena yang bertugas merawat hewan, menggoad mereka agar bertarung, atau membersihkan darah dari pasir arena. Di sisi lain, bestiarii juga digunakan untuk menyebut petarung tingkat rendah yang menghadapi hewan tanpa pelatihan yang memadai, sering kali direkrut dari kalangan budak atau orang bebas yang putus asa. Mereka berada di tangga terbawah dalam hierarki prestise publik, jauh di bawah gladiator utama maupun venatores profesional.

Ad Bestias: Eksekusi sebagai Tontonan

Kategori peserta yang paling tragis adalah para kriminal yang dihukum mati melalui metode ad bestias. Ini bukan merupakan pertarungan, melainkan bentuk hukuman publik yang sangat brutal di mana narapidana—sering kali tanpa senjata atau perlindungan apa pun—dilemparkan ke dalam arena untuk dicabik-cabik oleh hewan buas. Eksekusi ini biasanya dijadwalkan pada waktu makan siang, berfungsi sebagai jeda antara perburuan pagi dan pertarungan gladiator sore. Bagi otoritas Romawi, ad bestias adalah manifestasi dari keadilan absolut yang diberikan oleh alam di bawah perintah negara, sekaligus peringatan visual yang mengerikan bagi populasi tentang konsekuensi pelanggaran hukum.

Keragaman Fauna dan Nilai Simbolis Spesies

Jenis hewan yang dipilih untuk venatio sangat menentukan prestise acara tersebut. Pengimporan spesies yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh rakyat Roma adalah tujuan utama bagi kaisar yang ambisius.

Katalog Hewan Eksotis di Arena Romawi

Hewan-hewan yang muncul di arena mencakup rentang biologis yang sangat luas. Singa dan macan tutul dari Afrika Utara adalah pilar utama karena keganasan mereka yang legendaris. Namun, hewan-hewan herbivora besar seperti gajah, badak, dan jerapah sering kali memberikan kekaguman yang lebih besar karena ukuran mereka yang masif dan penampilan mereka yang aneh di mata orang Eropa.

  • Singa (Panthera leo leo): Melambangkan tantangan utama bagi keberanian manusia. Singa Afrika Utara yang dikenal sebagai singa Barbary sangat dicari karena surai gelapnya yang lebat.
  • Gajah: Dianggap sebagai hewan paling cerdas; kemunculan mereka sering kali menimbulkan reaksi emosional yang kuat dari penonton.
  • Harimau: Sangat langka dan mahal karena harus dibawa dari wilayah jauh seperti Hyrcania (Iran modern) atau India.
  • Jerapah (Camelopardalis): Pertama kali diperkenalkan oleh Julius Caesar, jerapah dianggap sebagai keajaiban alam karena lehernya yang panjang dan pola kulitnya yang unik.
  • Badak dan Kuda Nil: Digunakan untuk menunjukkan dominasi Roma atas wilayah sungai Nil dan rawa-rawa eksotis.

Menariknya, orang Romawi memperlakukan serigala dengan rasa hormat tertentu karena keterkaitannya dengan legenda pendirian Roma oleh Romulus dan Remus; serigala jarang ditampilkan dalam venationes dan umumnya tidak disakiti secara sengaja di arena. Sebaliknya, anjing, babi hutan, dan beruang sering digunakan sebagai “pembuka” atau untuk mengisi kekosongan antara segmen utama pertunjukan.

Dampak Ekologis: Krisis Biodiversitas di Dunia Kuno

Salah satu konsekuensi paling permanen dan merusak dari hobi venationes adalah kehancuran ekologis yang ditimbulkannya pada populasi hewan liar di wilayah kekuasaan Roma. Skala eksploitasi yang berlangsung selama berabad-abad menyebabkan apa yang oleh para ahli zooarkeologi disebut sebagai peristiwa kepunahan lokal yang masif.

Kepunahan Gajah Afrika Utara

Gajah Afrika Utara (Loxodonta africana pharaohensis), sebuah subspecies gajah hutan yang lebih kecil yang pernah mendiami pegunungan Atlas dan wilayah pesisir, merupakan korban paling menonjol. Hewan ini, yang menjadi terkenal sebagai gajah perang Hannibal, diburu secara sistematis untuk memenuhi permintaan arena Romawi. Pada abad ke-4 M, gajah-gajah ini telah menghilang sepenuhnya dari habitat aslinya di Afrika Utara. Analisis DNA kuno dari sisa-sisa tulang di Maroko mengonfirmasi bahwa populasi ini musnah akibat tekanan ganda dari perburuan untuk tontonan dan hilangnya habitat akibat ekspansi pertanian Romawi.

Penurunan Drastis Karnivora Besar

Singa Barbary dan macan tutul juga mengalami nasib serupa. Meskipun singa bertahan lebih lama di pegunungan terpencil hingga abad ke-20, populasi mereka di dataran rendah Afrika Utara yang mudah diakses oleh pemburu Romawi telah habis pada akhir periode kekaisaran. Macan tutul, yang dulunya melimpah di Suriah dan Turki selatan, juga menghilang dari wilayah tersebut karena permintaan tinggi untuk pertandingan di Roma dan kota-kota besar provinsi.

Spesies Wilayah Asal Status Pasca-Era Romawi Dampak Utama Venatio
Gajah Afrika Utara Maroko, Aljazair, Tunisia Punah total (Abad ke-4 M) Ribuan dibunuh per kaisar.
Harimau Kaspia Hyrcania (Iran modern) Punah lokal di wilayah barat Penangkapan massal untuk arena.
Singa Barbary Afrika Utara (Maghreb) Kepunahan lokal di pesisir Perburuan intensif untuk ekspor.
Panther Suriah Suriah, Turki Selatan Hilang dari wilayah tersebut Diburu hingga populasi tidak stabil.

Hubungan Antara Pertanian dan Perburuan

Penting untuk dicatat bahwa kehancuran fauna ini tidak hanya didorong oleh hiburan. Kebijakan Romawi untuk mengubah Afrika Utara menjadi “lumbung roti” kekaisaran menuntut pembukaan lahan besar-besaran untuk gandum dan minyak zaitun. Keberadaan predator besar dipandang sebagai ancaman bagi produktivitas pertanian karena mereka menyerang ternak dan pekerja ladang. Oleh karena itu, venationes berfungsi sebagai bentuk pengendalian predator yang disubsidi oleh negara; pemerintah mendorong pembantaian hewan liar di wilayah pertanian vital untuk mengamankan pasokan pangan Roma.

Kritik Moral dan Filosofis dari Kalangan Intelektual

Meskipun venationes sangat populer di kalangan massa, beberapa intelektual dan filsuf Romawi menyuarakan ketidaksenangan atau kekhawatiran mereka terhadap dampak moral dari tontonan tersebut. Kritik ini, bagaimanapun, sering kali bersifat nuansa; mereka tidak selalu menolak pembunuhan hewan, melainkan mengkritik efek psikologis yang ditimbulkan pada manusia yang menontonnya.

Seneca: Korosi Karakter melalui Kerumunan

Lucius Annaeus Seneca, filsuf Stoik yang juga penasihat Kaisar Nero, memberikan kritik paling tajam dalam Moral Letters to Lucilius (Surat 7). Seneca berargumen bahwa paparan terus-menerus terhadap kekejaman di arena akan merusak jiwa manusia. Ia menyatakan bahwa setelah menonton tontonan tersebut, ia pulang ke rumah sebagai orang yang “lebih serakah, lebih ambisius, lebih berhasrat, dan bahkan lebih kejam dan tidak manusiawi”. Bagi Seneca, masalah utamanya bukanlah nasib hewan, melainkan bagaimana “viced” (kejahatan) menular melalui kesenangan yang didapat dari penderitaan orang lain atau makhluk lain.

Cicero dan Belas Kasihan terhadap Gajah

Cicero, dalam surat-suratnya, mencatat ketidaknyamanan yang dirasakan bahkan oleh massa Romawi ketika gajah-gajah dibantai. Ia mengamati bahwa ada perasaan bahwa gajah memiliki “sesuatu yang sama dengan umat manusia,” yang menyebabkan penonton menangis dan mengutuk penyelenggara pertandingan, meskipun acara tersebut dimaksudkan untuk merayakan kemegahan. Ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Romawi terbiasa dengan kekerasan, terdapat batas-batas tertentu dalam empati mereka yang bisa terlampaui oleh penderitaan hewan yang dianggap cerdas atau mulia.

Kontroversi Evergetism dan Biaya Sosial

Dari perspektif ekonomi, beberapa kritikus seperti Pliny yang Tua menganggap biaya yang dihabiskan untuk venationes sebagai pemborosan sumber daya yang tidak masuk akal. Upaya bangsawan kaya untuk mengimpor hewan langka hanya untuk dibunuh dalam beberapa jam dipandang sebagai bentuk kesombongan yang melampaui batas kewajaran. Namun, tekanan sosial untuk memberikan hiburan yang semakin mewah sering kali memaksa para politisi untuk membelanjakan kekayaan mereka hingga ke titik kebangkrutan demi mempertahankan popularitas politik mereka.

Transformasi di Periode Kekaisaran Akhir dan Warisannya

Seiring dengan melemahnya ekonomi kekaisaran dan meningkatnya kesulitan dalam memperoleh hewan liar dari wilayah yang sudah habis populasinya, sifat venationes mulai berubah pada abad ke-4 dan ke-5 M. Kelangkaan hewan memaksa para penyelenggara untuk lebih kreatif dan ekonomis.

Pergeseran Menuju Pelatihan Hewan

Alih-alih pembantaian massal yang boros, pertunjukan mulai menampilkan lebih banyak hewan yang dilatih untuk melakukan trik-trik kecerdasan, mirip dengan sirkus modern. Hewan-hewan ini dipandang sebagai investasi jangka panjang yang terlalu berharga untuk dibunuh dalam satu hari. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya pengaruh Kristen yang mulai membatasi beberapa bentuk kekerasan di arena, meskipun venationes bertahan lebih lama daripada pertarungan gladiator karena dianggap kurang bertentangan dengan doktrin agama dibandingkan dengan pertarungan antar manusia.

Pengaruh Terhadap Seni dan Budaya

Warisan venationes paling jelas terlihat dalam seni rupa Romawi. Mosaik lantai di villa-villa pribadi di seluruh kekaisaran, seperti di Villa Romana del Casale di Sisilia, menggambarkan dengan sangat detail proses penangkapan dan pengiriman hewan. Karya seni ini bukan hanya dekorasi, melainkan monumen abadi bagi status pemilik villa sebagai orang yang mampu mendanai atau mengorganisir tontonan yang begitu kompleks. Melalui media ini, keberanian manusia dalam menaklukkan alam liar diabadikan sebagai cita-cita estetika Romawi.

Kesimpulan: Venationes sebagai Cermin Peradaban Romawi

Analisis mendalam terhadap praktik venationes mengungkapkan sebuah masyarakat yang memiliki kemampuan organisasi dan rekayasa yang tak tertandingi, namun juga terjebak dalam kebutuhan akan validasi kekuasaan yang destruktif. Hobi para bangsawan untuk mengimpor dan berburu hewan eksotis bukan sekadar hiburan picik, melainkan sistematisasi hubungan manusia dengan alam yang dipaksakan melalui kekuatan militer dan inovasi teknologi.

Dampak ekologis yang dihasilkan—yakni hilangnya berbagai spesies ikonik dari habitat aslinya—merupakan salah satu babak paling gelap dalam sejarah lingkungan kuno. Namun, di sisi lain, praktik ini mendorong perkembangan ilmu zoologi, kedokteran hewan, dan teknik sipil yang memberikan kontribusi besar bagi pengetahuan manusia. Venationes berdiri sebagai pengingat akan kapasitas manusia untuk menciptakan keajaiban teknis sekaligus kehancuran biologis dalam skala global, sebuah tema yang tetap relevan dalam diskusi tentang hubungan manusia dengan planet ini di era modern. Melalui arena, Roma tidak hanya memamerkan binatang buasnya, tetapi juga menunjukkan ambisi tanpa batas dari sebuah peradaban yang merasa memiliki hak mutlak atas seluruh isi bumi.