Loading Now

Alkimia Jenazah: Analisis Komprehensif Sejarah, Kimiawi, dan Etika Pigmen Mummy Brown dalam Tradisi Seni Eropa

Fenomena penggunaan pigmen “Mummy Brown” atau Cokelat Mumi dalam sejarah seni rupa Eropa merupakan salah satu persimpangan paling ganjil dan makabre antara arkeologi, kedokteran, dan estetika. Selama berabad-abad, terutama dari abad ke-16 hingga awal abad ke-20, para seniman mengandalkan bubuk yang berasal dari sisa-sisa jasad manusia purba yang diawetkan untuk menghasilkan kedalaman warna cokelat yang unik pada kanvas mereka. Penggunaan pigmen ini bukan sekadar tren artistik yang terisolasi, melainkan cerminan dari kompleksitas hubungan kolonial, kesalahpahaman linguistik yang berlangsung ribuan tahun, dan komodifikasi tubuh manusia dalam skala industri. Laporan ini akan mengupas secara mendalam mekanisme teknis, konteks historis, dan implikasi etis dari hobi dan praktik profesional melukis menggunakan jenazah manusia di Eropa.

Ontologi dan Evolusi Etimologis: Dari Bitumen ke Jasad Manusia

Akar dari praktik ini bermula dari kerancuan linguistik yang mendalam terkait istilah mumia. Secara etimologis, kata “mumi” berakar dari bahasa Persia mum atau mumiya, yang merujuk pada bitumen—sebuah bentuk minyak bumi padat, hitam, dan lengket yang ditemukan secara alami di wilayah Laut Mati. Dalam dunia kuno, bitumen dihargai tinggi karena sifat obatnya; penulis Romawi seperti Pliny the Elder mencatat penggunaannya untuk menyembuhkan luka, patah tulang, dan berbagai penyakit dalam.

Pada periode Abad Pertengahan, ketika para penjelajah dan tabib Eropa mulai melakukan kontak intensif dengan artefak Mesir, mereka mengamati bahwa banyak jasad yang diawetkan memiliki lapisan hitam, mengkilap, dan resinous yang menyerupai bitumen. Karena adanya kesamaan visual tersebut, muncul asumsi keliru bahwa mumi-mumi ini telah direndam atau diisi dengan bitumen obat yang berharga. Seiring berjalannya waktu, definisi mumia bergeser dari zat mineral aslinya menjadi substansi yang diekstraksi langsung dari tubuh manusia yang diawetkan. Pergeseran ini sangat krusial karena mengubah persepsi terhadap jasad manusia dari objek sakral menjadi komoditas medis yang dapat diperdagangkan.

Istilah Asal Bahasa Makna Asli Makna Transisi (Abad Pertengahan-Renaissance)
Mumiya Persia Bitumen/Aspal alam. Zat penyembuh dari dalam jasad.
Mumia Latin/Arab Obat berbasis bitumen. Bubuk jenazah manusia yang digiling.
Caput Mortuum Latin “Kepala Mati” (istilah alkimia). Pigmen cokelat mumi atau residu besi oksida.

Kepercayaan terhadap kekuatan penyembuh mumi ini begitu kuat sehingga pada abad ke-16, pengiriman mumi dalam jumlah besar mulai tiba di London dan pusat-pusat perdagangan Eropa lainnya untuk keperluan apotek. Pada tahun 1586, pedagang John Sanderson melaporkan pengiriman lebih dari 600 pon bagian tubuh mumi ke London untuk dijual sebagai obat luka dan memar. Transisi dari apotek ke studio seni terjadi secara organik karena apoteker pada masa itu juga merupakan penyedia utama bahan warna bagi para pelukis. Para seniman menyadari bahwa bubuk cokelat gelap yang kaya ini memiliki sifat optik yang luar biasa ketika dicampur dengan minyak.

Mekanisme Perdagangan dan Logistik Mumi: Industri Mayat di Abad ke-19

Minat Eropa terhadap mumi Mesir mencapai puncaknya setelah kampanye militer Napoleon di Mesir pada tahun 1798, yang memicu fenomena “Egyptomania”. Hal ini mengubah perdagangan mumi yang sebelumnya bersifat sporadis menjadi industri skala besar yang melibatkan penyelundupan, penggalian ilegal, dan komodifikasi massal.

Rantai Pasokan dan Transportasi

Mumi-mumi diangkut dari Mesir ke Eropa seringkali sebagai kargo curah tanpa identitas. Di Mesir, penduduk lokal dan agen asing menjarah makam-makam kuno di Memphis dan Thebes untuk memenuhi permintaan pasar yang tak terpuaskan. Di Kairo dan Alexandria, jasad-jasad ini dijual dengan harga yang sangat murah; seorang penjelajah abad ke-17 mencatat bahwa ia bisa membeli tiga kepala mumi hanya dengan harga beberapa keping koin.

Proses logistik ini melibatkan rute pengapalan yang melintasi Mediterania menuju pelabuhan-pelabuhan besar seperti Genoa, Marseille, dan London. Sesampainya di Eropa, mumi-mumi tersebut tidak hanya berakhir di museum atau laboratorium medis, tetapi juga di pabrik-pabrik warna. Perusahaan-perusahaan seperti C. Roberson & Co. di London secara aktif mengimpor mumi untuk digiling menjadi pigmen. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat catatan mengenai penggunaan kain kafan mumi sebagai bahan baku industri kertas selama periode kelangkaan serat kapas.

Munculnya “Mumi Instan” dan Pemalsuan

Karena permintaan yang melampaui pasokan mumi asli yang berkualitas, muncul industri pemalsuan yang mengerikan. Para pedagang di Alexandria mulai memproduksi “mumi instan” dengan menggunakan jenazah yang baru meninggal—seringkali jasad narapidana yang dieksekusi, orang-orang miskin yang tidak diklaim, atau budak. Jasad-jasad segar ini diolah dengan aspal atau bitumen, dibalut kain, dan dijemur di bawah matahari gurun untuk menciptakan tampilan jasad kuno yang kering dalam waktu singkat.

Praktik pemalsuan ini sangat lazim sehingga banyak dari pigmen Mummy Brown yang digunakan oleh seniman Eropa kemungkinan besar tidak berasal dari zaman Firaun, melainkan dari sisa-sisa penduduk Mesir abad ke-18 yang meninggal secara tragis. Dokter kerajaan Prancis, Guy de la Fontaine, mendokumentasikan praktik ini setelah ia mengunjungi seorang pedagang mumi di Alexandria yang memiliki stok mumi buatan dalam jumlah besar.

Jenis Bahan Deskripsi Historis Nilai Artistik (Persepsi Abad ke-18)
Mumi Firaun Asli Jasad kuno yang dikeringkan secara alami selama ribuan tahun. Tertinggi; dianggap paling stabil karena penuaan alami resin.
Mumi Buatan (Palsu) Jenazah narapidana atau budak yang diolah dengan bitumen baru. Rendah; cenderung retak dan berbau menyengat.
Mumi Hewan Kucing, ibis, atau unta yang diawetkan. Digunakan untuk mengisi volume atau sebagai pigmen kelas bawah.

Komposisi Kimiawi dan Proses Pembuatan Pigmen

Mummy Brown adalah pigmen organik yang sangat variabel. Tidak ada “resep” standar tunggal karena setiap batch bergantung pada profil taphonomis jasad yang digunakan. Secara teknis, pigmen ini diklasifikasikan sebagai warna bituminous karena kandungan aspal yang sering digunakan dalam proses pengawetan Mesir.

Konstituen Utama dan Ekstraksi

Pigmen ini dibuat dengan menggiling bagian tubuh yang sudah kering menjadi bubuk halus. Para produser warna (colourmen) memiliki preferensi yang berbeda: beberapa berpendapat bahwa hanya jaringan otot yang paling tebal yang menghasilkan warna terbaik, sementara yang lain menggiling seluruh bagian tubuh termasuk tulang dan kain kafan. Bubuk ini kemudian dicampur dengan bahan pengikat seperti minyak biji rami (linseed oil), white pitch (Burgundy pitch), dan mur (myrrh) untuk menciptakan pasta cat yang bisa diaplikasikan ke kanvas.

Komponen kimiawi yang teridentifikasi dalam sisa-sisa pigmen sejarah meliputi:

  1. Materi Biologis: Protein dari jaringan ikat, lemak hewan (yang digunakan sebagai salep), dan kalsium fosfat dari tulang.
  2. Resin dan Gums: Damar, mastic, dan getah tanaman yang digunakan dalam proses pembalseman.
  3. Natron dan Garam: Digunakan oleh orang Mesir kuno untuk dehidrasi jaringan, yang secara kimiawi dapat mempengaruhi pH minyak pengikat dalam cat.
  4. Bitumen Mineral: Hidrokarbon yang memberikan warna cokelat gelap yang khas namun juga menjadi penyebab ketidakstabilan jangka panjang.

Karakteristik Visual dan Perilaku Cat

Secara estetika, Mummy Brown dicintai karena transparansinya yang luar biasa. Tidak seperti pigmen tanah (seperti umber) yang seringkali terlihat keruh saat diencerkan, Mummy Brown mempertahankan kejernihan “smoky” yang memungkinkannya digunakan untuk teknik glazing (pelapisan tipis transparan). Warnanya berada di antara raw umber dan burnt umber, dengan nada hangat yang ideal untuk menggambarkan bayangan pada kulit manusia atau latar belakang interior yang dramatis.

Namun, secara kimiawi, pigmen ini memiliki perilaku yang sangat bermasalah. Kandungan lemak dan amonia dari sisa-sisa organik dapat menghambat proses oksidasi minyak biji rami, menyebabkan cat mengering sangat lambat atau tidak pernah mengering secara sempurna di lapisan bawah. Hal ini sering menyebabkan “alligatoring”—pola retakan besar yang menyerupai kulit buaya—ketika lapisan atas cat mengering lebih cepat daripada lapisan di bawahnya.

Penggunaan Artistik oleh Maestro Eropa dan Gerakan Pre-Raphaelite

Mummy Brown mencapai status sebagai pigmen yang “sangat modis” di kalangan seniman akademis dan tradisional dari pertengahan abad ke-18 hingga abad ke-19. Keunggulan utamanya adalah kemampuannya untuk menciptakan kedalaman atmosfer yang sulit dicapai dengan pigmen lain.

Kasus Eugène Delacroix dan Martin Drölling

Pelukis Romantis Prancis, Eugène Delacroix, merupakan salah satu pengguna pigmen ini yang terdokumentasi dengan baik. Karya ikoniknya, Liberty Leading the People (1830), diyakini menggunakan Mummy Brown untuk memperkuat intensitas bayangan dan tekstur di area gelap kanvas tersebut. Delacroix menghargai pigmen ini karena kemampuannya menyatu dengan warna kulit, memberikan kesan vitalitas yang aneh, meskipun ironisnya berasal dari jasad yang sudah lama mati.

Penggunaan yang lebih ekstrem ditemukan dalam karya Martin Drölling, L’Intérieur d’une cuisine (1815). Lukisan ini dikenal karena penggunaan Mummy Brown yang sangat masif di seluruh permukaannya. Bahkan, beredar laporan yang menyatakan bahwa Drölling juga menggunakan mumi yang dibuat dari jantung raja-raja Prancis yang dicuri dari biara Saint-Denis setelah Revolusi Prancis untuk membuat pigmen cokelatnya.

Kelompok Pre-Raphaelite dan Sir Edward Burne-Jones

Kelompok Pre-Raphaelite Brotherhood di Inggris (terdiri dari tokoh-tokoh seperti Dante Gabriel Rossetti, William Holman Hunt, dan John Everett Millais) sangat menyukai Mummy Brown karena kecocokannya dengan palet warna mereka yang kaya dan mendetail. Pigmen ini memberikan bayangan lembut yang diperlukan untuk menciptakan suasana mistis dalam karya-karya bertema legenda Arthurian atau religius.

Kisah Sir Edward Burne-Jones menjadi titik balik psikologis yang paling terkenal dalam sejarah pigmen ini. Pada tahun 1881, dalam sebuah perjamuan makan malam, seniman Lawrence Alma-Tadema menceritakan kepada Burne-Jones bahwa ia baru saja melihat sebuah mumi utuh yang akan digiling menjadi cat di bengkel colourman-nya. Burne-Jones, yang selama ini mengira bahwa nama “Mummy Brown” hanyalah istilah pemasaran metaforis—sama seperti “Dragon’s Blood” atau “Indian Yellow”—merasa ngeri secara mendalam. Ia segera pergi ke studionya, mengambil satu-satunya tabung Mummy Brown yang tersisa, dan menguburnya di kebun rumahnya dengan upacara pemakaman kecil yang dihadiri oleh keponakannya, Rudyard Kipling.

Analisis Laboratorium dan Konservasi Karya Seni

Identifikasi penggunaan Mummy Brown dalam karya seni merupakan tantangan besar bagi para konservator modern. Karena pigmen ini terdiri dari materi organik yang telah mengalami proses pembalseman dan degradasi berabad-abad, molekul karakteristik mamalia seringkali hanya ditemukan dalam jumlah sangat kecil dan sulit dibedakan dari bahan pengikat organik lainnya seperti gelatin atau lem hewan.

Teknik Analisis Non-Destruktif

Para peneliti sering menggunakan sinar-X mikrofluoresensi () untuk memetakan distribusi elemen pada permukaan lukisan. Dalam fragmen mumi asli, sering ditemukan konsentrasi kalsium (Ca), besi (Fe), dan belerang (S) yang tinggi, yang mencerminkan komponen tulang dan residu natron/bitumen. Selain itu, teknik kromatografi gas sering digunakan untuk mendeteksi profil asam lemak yang unik, meskipun kontaminasi dari lapisan pernis atau minyak pengikat cat seringkali mengaburkan hasil analisis.

Elemen Terdeteksi Sumber Potensial dalam Mummy Brown Implikasi Konservasi
Kalsium (Ca) Fragmen tulang atau natron purba. Menunjukkan penggunaan bahan tubuh utuh.
Tembaga (Cu) Residu perhiasan mumi atau pigmen hijau Mesir yang tercampur. Mengindikasikan asal geografis Mesir.
Besi (Fe) Oksida alami atau hematit dalam tubuh. Memberikan nada warna merah-cokelat.
Arsenik (As) Orpiment atau bahan pengawet purba. Toksisitas dan bahaya penanganan manual.

Analisis terhadap sampel dari Forbes Pigment Collection di Universitas Harvard telah memberikan wawasan berharga. Koleksi ini menyimpan fragmen mumi asli yang disumbangkan oleh perusahaan C. Roberson dan sampel cat dalam tabung yang diproduksi pada awal abad ke-20. Keberadaan spesimen ini mengonfirmasi bahwa hingga awal tahun 1900-an, penggunaan jasad manusia dalam produksi cat adalah kenyataan industri yang diterima secara luas di London.

Senjakala Pigmen: Kelangkaan dan Pergeseran Etika

Berakhirnya era Mummy Brown tidak terjadi karena pelarangan hukum yang tiba-tiba, melainkan karena kombinasi dari tiga faktor: kelangkaan bahan baku, kemajuan kimia sintetis, dan perubahan kesadaran moral masyarakat Eropa.

Krisis Pasokan dan Penghentian Produksi

Pada awal abad ke-20, mumi menjadi semakin sulit didapat. Pemerintah Mesir, di bawah tekanan internasional dan pertumbuhan nasionalisme, mulai memperketat undang-undang ekspor barang antik. Penggalian resmi sekarang diawasi secara ketat, dan mumi-mumi yang ditemukan diprioritaskan untuk koleksi museum daripada untuk dihancurkan menjadi bahan industri.

Pada tahun 1964, direktur pelaksana perusahaan C. Roberson & Co. secara resmi menyatakan bahwa perusahaannya telah menghentikan produksi Mummy Brown. Ia mencatat bahwa mereka telah menjual mumi lengkap terakhir mereka beberapa tahun sebelumnya seharga £3 saja. Meskipun mereka mungkin masih memiliki beberapa “potongan anggota tubuh” yang tersisa di bengkel, jumlahnya tidak lagi cukup untuk memproduksi batch cat baru. Ini menandai penutupan resmi dari babak komodifikasi jasad manusia dalam sejarah seni rupa Barat.

Pengganti Modern dan Terminologi Saat Ini

Saat ini, seniman masih bisa menemukan warna yang disebut “Mummy Brown” atau “Egyptian Brown” di toko-toko seni profesional, namun pigmen ini sama sekali tidak mengandung materi manusia. Versi modern adalah campuran sintetis yang stabil dan permanen.

Pengganti modern biasanya terdiri dari:

  1. Besi Oksida Sintetis: Memberikan nada cokelat yang konsisten tanpa risiko degradasi organik.
  2. Kaolin dan Kuarsa: Digunakan sebagai pengisi untuk mengontrol tingkat transparansi.
  3. Hematit dan Goethit: Menentukan rona merah atau kuning dari pigmen tersebut.

Istilah Caput Mortuum juga tetap digunakan oleh merek cat terkemuka seperti Faber-Castell, namun merujuk pada pigmen besi oksida merah-violet yang murni mineral. Perusahaan seperti Daniel Smith memasarkan “Mummy Bauxite,” sebuah pigmen yang berasal dari mineral boksit dari Prancis dan Rusia, yang memberikan tekstur granulasi unik tanpa beban etis dari pendahulunya.

Implikasi Budaya: Refleksi atas Desekrasi dan Estetika

Penggunaan Mummy Brown melampaui sekadar masalah teknis seni; hal ini membuka diskusi mendalam tentang kolonialisme budaya. Selama masa kejayaannya, tubuh orang-orang Mesir kuno—yang secara budaya sangat mementingkan keutuhan jasad untuk kehidupan setelah kematian—diperlakukan oleh orang Eropa sebagai “bahan baku” belaka. Transformasi dari jenazah yang dimuliakan menjadi lapisan tipis bayangan di bawah dagu seorang bangsawan dalam potret Eropa adalah manifestasi dari dominasi Barat yang mengonsumsi sejarah bangsa lain secara fisik.

Kisah Mummy Brown juga mencerminkan transisi dari era alkimia dan apotek tradisional menuju kimia modern yang teregulasi. Praktik ini menunjukkan betapa kaburnya batasan antara sains, takhayul (penggunaan mumi sebagai obat), dan seni di masa lalu. Penolakan mendadak Burne-Jones terhadap pigmen tersebut melambangkan awal dari sensitivitas modern kita terhadap sisa-sisa manusia sebagai subjek yang memiliki hak, bukan sekadar objek estetika.

Meskipun praktik ini kini dianggap mengerikan, Mummy Brown telah meninggalkan jejak permanen pada warisan visual dunia. Jasad-jasad kuno tersebut kini “hidup” selamanya di dinding-dinding galeri seni terbesar di dunia, terperangkap dalam lapisan minyak dan resin, memberikan warna pada visi artistik para maestro yang—sadar atau tidak—telah mengabadikan kematian untuk menciptakan keindahan. Laporan ini menyimpulkan bahwa Mummy Brown bukan hanya sekadar pigmen, melainkan artefak dari masa ketika batas-batas kemanusiaan dan materi sangat cair, menciptakan paradoks di mana kehancuran arkeologis menjadi fondasi bagi kreasi artistik.