Membedah Evolusi Keunikan Fashion dari Kontroversi Masa Lampau hingga Modern
Fenomena perubahan persepsi estetika dalam dunia fashion merupakan salah satu studi kasus sosiologis yang paling dinamis dalam sejarah peradaban manusia. Apa yang pada satu era dianggap sebagai penyimpangan, skandal, atau sekadar “aneh”, sering kali bertransformasi menjadi standar keanggunan, simbol status, dan ikonografi budaya di era berikutnya. Analisis mendalam menunjukkan bahwa fashion bukan sekadar penutup tubuh, melainkan bahasa visual yang digunakan untuk menegosiasikan batas-batas moralitas, identitas gender, dan struktur kekuasaan kelas. Laporan ini membedah mekanisme transmutasi estetika tersebut dengan meninjau berbagai artefak mode, mulai dari gaun muslin abad ke-18 hingga fenomena “ugly fashion” di era digital, guna memahami bagaimana masyarakat terus-menerus mendefinisikan ulang konsep keindahan.
Arkeologi Skandal: Dekonstruksi Norma dalam Busana Aristokrat
Sejarah mode adalah sejarah pemberontakan terhadap kemapanan. Setiap pergeseran radikal dalam siluet atau material sering kali dipicu oleh keinginan untuk memutus rantai tradisi yang dianggap mengekang. Analisis terhadap momen-momen skandal dalam sejarah mengungkapkan bahwa penolakan awal masyarakat sering kali merupakan bentuk ketakutan terhadap perubahan tatanan sosial yang direpresentasikan oleh pakaian tersebut.
Gaun Gaulle Marie Antoinette dan Gugatannya Terhadap Protokol Istana
Pada tahun 1783, Ratu Marie Antoinette memicu kegemparan besar di Prancis ketika ia muncul dalam sebuah potret karya Élisabeth Vigée Le Brun mengenakan “gaulle”—sebuah gaun muslin putih yang ringan dan longgar. Pada masa itu, standar busana istana Prancis sangat kaku, melibatkan korset yang sangat ketat dan lapisan kain sutra berat yang melambangkan kemegahan monarki. Masyarakat memandang gaun muslin tersebut menyerupai pakaian dalam (chemise), yang dianggap sangat tidak pantas bagi seorang ratu dan dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat kerajaan.
Namun, secara retrospektif, “gaulle” merupakan pionir dari gaya Neoklasik yang kemudian mendominasi awal abad ke-19. Gaun ini merepresentasikan pergeseran filosofis menuju kesederhanaan dan kebebasan bergerak. Meskipun awalnya dicerca, gaya ini akhirnya meruntuhkan dominasi korset kaku selama beberapa dekade, membuktikan bahwa apa yang dianggap “terlalu privat” atau “aneh” di mata publik dapat menjadi fondasi bagi revolusi estetika masa depan.
Era Kekaisaran Prancis Pertama dan Penemuan Struktur Baru
Antara tahun 1804 hingga 1815, selama era Kekaisaran Prancis Pertama, perempuan bangsawan mulai mengadopsi gaun muslin putih yang transparan, berpotongan rendah, dan berlengan pendek tanpa menggunakan korset tradisional. Para komentator pria pada masa itu menyebut gaya tersebut “flimsy” (ringkih) dan tidak sopan. Ketidakhadiran korset dipandang sebagai tanda degradasi moral. Namun, kebutuhan fungsional untuk menopang tubuh tanpa bantuan alat boning yang menyiksa inilah yang memicu eksperimen awal dalam desain pakaian dalam, yang kelak berevolusi menjadi bra modern. Ini menunjukkan bahwa ketidaknyamanan sosial terhadap suatu tren sering kali menjadi katalis bagi inovasi teknis yang kemudian dianggap esensial bagi kenyamanan manusia.
Kontroversi Korset dan Lahirnya Reformasi Busana Rasional
Korset kembali populer pada periode 1820-an hingga 1900, namun kali ini disertai dengan perdebatan medis yang sengit. Munculnya “Korset Kontroversi” dipicu oleh argumen para dokter yang menyatakan bahwa pengencangan pinggang yang ekstrem dapat memindahkan lokasi organ dalam dan menghambat fungsi reproduksi. Meskipun ada peringatan medis, banyak perempuan menolak untuk melepaskan korset karena nilai estetika dan habituasi sosial yang kuat.
Konflik ini melahirkan gerakan “Reformasi Busana”, termasuk diperkenalkannya “Bloomers” atau rok bercabang oleh Amelia Bloomer pada pertengahan abad ke-19. Awalnya, Bloomers dihina secara luas karena dianggap membuat perempuan terlihat dan bertindak seperti pria. Namun, pakaian ini menjadi simbol awal emansipasi perempuan, terutama ketika banyak perempuan mulai aktif bersepeda dan membutuhkan pakaian yang lebih fungsional daripada rok besar yang membatasi ruang gerak. Transformasi ini menegaskan bahwa fungsionalitas yang awalnya dianggap “aneh” sering kali menang melawan tradisi yang menyiksa.
| Era / Tahun | Item Fashion | Reaksi Awal Masyarakat | Transformasi Menjadi Ikonik |
| 1783 | Gaun Gaulle (Muslin) | Dianggap seperti pakaian dalam; menghina martabat ratu. | Menjadi dasar gaya Neoklasik abad ke-19. |
| 1800-an | Gaun Tanpa Korset | Dianggap tidak sopan, transparan, dan “ringkih”. | Memicu evolusi pakaian dalam fungsional (bra). |
| 1850-an | Bloomers (Rok Bercabang) | Dihina karena dianggap maskulin dan tidak pantas. | Menjadi simbol emansipasi dan busana olahraga awal. |
| 1884 | Madame X (Tali Bahu Turun) | Dianggap tidak senonoh dan “terdekomposisi”. | Menjadi salah satu potret paling ikonik dalam sejarah seni. |
Revolusi Siluet: Dari Little Black Dress Hingga New Look
Perpindahan dari gaya yang dianggap aneh menjadi ikonik sering kali melibatkan peran desainer visioner yang mampu membaca arah perubahan zaman sebelum masyarakat umum menyadarinya. Tokoh-tokoh seperti Coco Chanel dan Christian Dior berhasil mengubah paradigma kecantikan melalui dekonstruksi dan rekonstruksi siluet.
Little Black Dress: Dari Simbol Berkabung ke Puncak Keanggunan
Sebelum tahun 1920-an, pakaian berwarna hitam identik dengan masa berkabung atau kelas pekerja rendahan. Namun, Gabrielle “Coco” Chanel mengubah persepsi ini selamanya. Chanel, yang belajar menjahit di sebuah panti asuhan, memperkenalkan siluet “garçonne” yang minimalis. Pada tahun 1926, Chanel meluncurkan “Little Black Dress” (LBD) yang langsung menuai kritik dari para kompetitornya. Mereka menyebut gaya tersebut sebagai “poverty deluxe” (kemewahan yang tampak miskin) karena desainnya yang sangat sederhana dan dianggap menghilangkan atribut kewanitaan.
Meskipun dicerca sebagai gaya yang “maskulin” dan “terlalu biasa”, majalah Vogue Prancis menjulukinya sebagai “Chanel’s Ford,” merujuk pada mobil Model T yang menjadi standar industri global. Chanel berhasil membuktikan bahwa keindahan tidak harus rumit. Kini, LBD dianggap sebagai item wajib dalam lemari pakaian setiap wanita di seluruh dunia, membuktikan bahwa minimalisme yang dulunya dianggap “aneh” dapat menjadi simbol abadi dari kelas dan selera tinggi.
Christian Dior dan Dialektika “New Look” Pasca-Perang
Pasca Perang Dunia II, dunia berada dalam kondisi kekurangan sumber daya dan trauma psikologis. Pada tahun 1947, Christian Dior meluncurkan koleksi pertamanya yang kemudian dijuluki oleh Carmel Snow dari Harper’s Bazaar sebagai “New Look”. Gaya ini ditandai dengan bahu yang bulat, pinggang yang sangat ramping (cinched waist), dan rok bervolume luas yang menggunakan puluhan meter kain sutra atau taffeta.
Pada awalnya, desain ini sangat kontroversial. Di tengah krisis tekstil pasca-perang, Dior dianggap tidak patriotik karena menghambur-hamburkan bahan kain yang mahal. Di Paris, para demonstran bahkan merobek pakaian para model karena menganggap kemewahan tersebut menghina kemiskinan masyarakat. Namun, Dior berargumen bahwa wanita merindukan kembali kelembutan dan feminitas setelah bertahun-tahun mengenakan seragam perang yang kaku dan maskulin. “New Look” akhirnya memenangkan hati publik dan membantu memulihkan Paris sebagai pusat mode dunia, menunjukkan bahwa kemewahan yang awalnya dianggap “tidak pantas” dapat menjadi simbol harapan dan kebangkitan.
| Dimensi Perbandingan | Busana Era Perang (1940-1945) | New Look Christian Dior (1947) |
| Material | Terbatas, sering menggunakan kain sintetis (nilon). | Berlimpah, menggunakan sutra, taffeta, dan percale. |
| Siluet Bahu | Kotak, lebar, menggunakan bantalan (padded). | Bulat, natural, dan lembut. |
| Potongan Pinggang | Longgar atau fungsional untuk bekerja. | Sangat ramping dan ditekankan (hourglass). |
| Panjang & Volume Rok | Setinggi lutut, hemat kain. | Seperempat betis, sangat lebar dan berat. |
| Makna Sosiologis | Efisiensi, patriotisme, dan utilitas. | Kemewahan, feminitas, dan pemulihan psikologis. |
Erotisme dan Kebebasan: Sejarah Bikini dan Rok Mini
Dua artefak mode paling signifikan dalam sejarah modern adalah bikini dan rok mini. Keduanya bukan sekadar pakaian, melainkan pernyataan politik tentang otonomi tubuh wanita dan perlawanan terhadap otoritas patriarki.
Bikini: Dari Eksperimen Nuklir ke Ikonografi Pantai
Bikini memiliki sejarah yang jauh lebih tua dari yang dibayangkan banyak orang. Mosaik dari Villa Romana del Casale di Sisilia, Italia (abad ke-4 M), menggambarkan wanita mengenakan pakaian mirip bikini saat berolahraga. Namun, desain ini terlupakan selama ribuan tahun hingga dibangkitkan kembali pada tahun 1946 oleh desainer asal Prancis, Louis Réard. Réard menamai desainnya “Bikini” setelah uji coba bom atom di Atol Bikini, dengan harapan dampak fashion-nya akan sekuat ledakan nuklir.
Kontroversinya sangat hebat. Hampir tidak ada model profesional di Paris yang berani mengenakannya karena dianggap terlalu vulgar. Akhirnya, Micheline Bernardini, seorang penari di Casino de Paris, menjadi orang pertama yang memamerkannya di kolam renang umum. Bikini dilarang di berbagai negara Eropa dan Amerika, bahkan Paus pun mengecam gaya ini sebagai sesuatu yang berdosa. Penerimaan bikini baru terjadi secara massal pada era 1960-an, didorong oleh gerakan kebebasan seksual dan hak-hal perempuan. Transformasi bikini dari benda terlarang menjadi simbol kekuatan wanita mencerminkan perubahan besar dalam pandangan sosial mengenai tubuh dan ekspresi diri.
Rok Mini: Manifestasi “Youthquake” dan Kemerdekaan Tubuh
Rok mini adalah manifestasi dari gerakan pemuda Inggris pada tahun 1960-an yang dikenal sebagai “Youthquake”. Mary Quant, pionir gaya ini, membuka toko “Bazaar” di Kings Road untuk memberikan alternatif bagi kaum muda yang tidak ingin berpakaian seperti orang tua mereka yang konservatif. Nama “Mini” diambil dari mobil favorit Quant, Mini Cooper. Rok mini bukan hanya soal estetika, melainkan juga terkait erat dengan penemuan pil KB. Dengan kendali atas reproduksi, wanita merasa lebih bebas untuk mengeksplorasi seksualitas mereka, dan rok mini menjadi simbol visual dari kebebasan tersebut.
Reaksi awal sangat negatif. Desainer legendaris seperti Coco Chanel dan Christian Dior awalnya menganggap rok mini “mengerikan” dan terlalu provokatif. Di Uganda, bahkan sempat ada undang-undang anti-rok mini. Namun, popularitasnya tak terbendung. Momen ikonik terjadi pada tahun 1965 ketika Jean Shrimpton muncul di Melbourne Cup Carnival tanpa sarung tangan, topi, atau stoking, dengan rok di atas lutut. Hal ini memicu skandal nasional tetapi sekaligus mengukuhkan rok mini dalam sejarah mode global. Transformasi rok mini membuktikan bahwa apa yang awalnya dianggap “pemberontakan anak muda yang aneh” dapat menjadi standar fashion global yang membebaskan.
Alexander McQueen dan Eksperimen Anatomi “Bumster”
Dalam sejarah fashion kontemporer, jarang ada desainer yang mampu mengguncang norma seperti mendiang Alexander McQueen. Melalui koleksi pertamanya “Taxi Driver” (1993), McQueen memperkenalkan celana “bumster”—celana dengan pinggang sangat rendah yang memperlihatkan bagian atas celah bokong.
Teknis di Balik Provokasi
Meskipun banyak kritikus menghina desain ini sebagai gaya “tukang bangunan” (builder’s bottom), McQueen menegaskan bahwa desainnya adalah eksperimen teknis dalam anatomi. Dengan latar belakang sebagai penjahit di Savile Row, McQueen tahu persis bagaimana memotong kain untuk memastikan celana tersebut tetap tertahan di pinggul meskipun potongannya sangat rendah. McQueen menyatakan bahwa bagian bawah tulang belakang adalah area yang paling erotis pada tubuh manusia, baik pria maupun wanita.
Tujuan utamanya bukan untuk memamerkan bokong, melainkan untuk memperpanjang torso secara visual. “Bumsters” memicu perdebatan sengit tentang batas-batas kesopanan di runway, namun segera menjadi tren “low-rise jeans” yang mendominasi akhir 1990-an dan awal 2000-an setelah dipopulerkan oleh bintang-bintang seperti Madonna. Keberanian McQueen membuktikan bahwa provokasi anatomi yang awalnya dianggap “menjijikkan” dapat mendefinisikan estetika satu dekade penuh.
Koleksi “Highland Rape”: Fashion sebagai Narasi Politik
Koleksi Fall/Winter 1995-96 McQueen yang bertajuk “Highland Rape” menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah fashion. Model berjalan di runway dengan tubuh yang tampak berdarah, memar, dan mengenakan pakaian yang robek-robek. Media massa pada saat itu menuduh McQueen mengagungkan kekerasan terhadap wanita atau misogini.
Namun, McQueen menjelaskan bahwa koleksi tersebut adalah narasi tentang sejarah Skotlandia—khususnya peristiwa “Highland Clearances”—dan pelanggaran Inggris terhadap tanah leluhurnya. McQueen menggunakan fashion untuk menyampaikan pesan politik dan sejarah yang mendalam melalui estetika yang “kasar” dan “mengerikan”. Koleksi ini akhirnya diakui sebagai titik peluncuran ketenaran McQueen dan membuktikan bahwa mode dapat menjadi media kritik sosial yang sangat kuat meskipun awalnya disalahpahami sebagai kegilaan.
Estetika Punk: Subversi yang Menjadi Arus Utama
Gerakan Punk pada akhir 1970-an di London, yang dipelopori oleh Vivienne Westwood dan Malcolm McLaren, merupakan antitesis dari mode konvensional yang dianggap boros dan membosankan. Melalui butik mereka “SEX”, Westwood memperkenalkan penggunaan material yang dulunya dianggap “tabu” seperti lateks, rantai bondage, peniti, dan kain tartan yang dirobek-robek.
Pakaian sebagai Senjata Politik
Pakaian punk adalah bahasa perlawanan terhadap kemapanan borjuis. Slogan-slogan provokatif pada kaos punk bertujuan untuk mengejek moralitas masyarakat Inggris yang sedang mengalami krisis ekonomi. Media massa segera melabeli kaum punk sebagai ancaman masyarakat. Namun, dalam hitungan tahun, apa yang dimulai sebagai gerakan anti-estetika ini justru diadopsi oleh industri fashion mewah.
Teknik dekonstruksi, penggunaan ritsleting sebagai hiasan, dan estetika “trashy” kini menjadi bagian dari koleksi desainer papan atas seperti Zandra Rhodes. Transformasi punk dari subkultur yang dibenci menjadi pengaruh dominan dalam haute couture menunjukkan kemampuan sistem mode untuk mengasimilasi perlawanan menjadi komoditas baru. Punk membuktikan bahwa “keanehan” yang lahir dari amarah sosial dapat bertransformasi menjadi estetika yang sangat berpengaruh dan berharga mahal.
Paradoks “Ugly Fashion”: Psikologi di Balik Penerimaan Ketidakindahan
Dalam satu dekade terakhir, industri fashion mengalami fenomena unik di mana benda-benda yang secara tradisional dianggap “buruk rupa” (ugly) atau tidak modis justru menjadi tren global. Fenomena ini melibatkan merek-merek seperti Crocs, dad sneakers, hingga koleksi Balenciaga yang menampilkan tas berbentuk kantong sampah seharga ribuan dolar.
Mengapa Sesuatu yang Buruk Bisa Menarik?
Penerimaan terhadap “ugly fashion” didorong oleh pergeseran nilai sosiologis dan psikologis di kalangan konsumen. Riset menunjukkan beberapa motivasi utama:
- Pemberontakan Terhadap Standar Kecantikan: Munculnya kejenuhan terhadap citra yang terlalu terkurasi di media sosial mendorong orang untuk mencari sesuatu yang lebih otentik. Memilih sesuatu yang “buruk” adalah pernyataan bahwa seseorang lebih mementingkan kenyamanan dan ekspresi diri daripada persetujuan sosial.
- Eksklusivitas Melalui Absurditas: Di kalangan elit, mengenakan sesuatu yang aneh adalah cara untuk menunjukkan modal budaya yang tinggi. Ini adalah sinyal bahwa pemakainya “paham” akan konsep seni yang lebih dalam di balik produk tersebut, yang tidak dipahami oleh masyarakat umum.
- Efek Bandwagon dan FOMO: Ketika selebriti seperti keluarga Kardashian atau Justin Bieber mulai mengenakan barang yang dianggap aneh, muncul rasa takut ketinggalan (FOMO) di kalangan publik. Paparan terus-menerus melalui algoritma membuat mata masyarakat perlahan-lahan menyesuaikan diri hingga akhirnya menganggap barang tersebut keren.
| Tipe Motivasi | Karakteristik Utama | Implikasi Perilaku |
| Intrinsik (Kepuasan Diri) | Mencari kenyamanan fisik dan ideologis; menolak objektifikasi tubuh. | Memilih Crocs atau baju oversized tanpa peduli penilaian orang lain. |
| Ekstrinsik (Pengakuan) | Mengikuti tren yang divalidasi oleh figur otoritas atau merek mewah. | Membeli dad sneakers bermerek mahal untuk meningkatkan status sosial. |
| Ideologis (Keadilan) | Menggunakan fashion untuk mempromosikan inklusivitas terhadap kelompok marginal. | Mengenakan fanny packs atau ripped jeans sebagai solidaritas terhadap estetika jalanan. |
| Normalization (Adaptasi) | Tren yang dulunya aneh menjadi standar baru setelah mencapai massa kritis. | Memakai legging atau masker sebagai fashion item sehari-hari. |
Studi Kasus: Transformasi Crocs Menjadi Barang Mewah
Kisah Crocs adalah contoh paling sukses dalam mengubah stigma menjadi kekuatan merek. Awalnya dirancang sebagai sepatu perahu dari busa resin pada tahun 2002, Crocs segera dicaci maki sebagai sepatu paling buruk di dunia. Namun, manajemen Crocs justru merangkul label “buruk” tersebut. Melalui kampanye “Ugly Can Be Beautiful,” mereka memposisikan diri sebagai merek yang merayakan keaslian individu.
Titik balik terjadi melalui kolaborasi strategis dengan dunia high fashion. Pada tahun 2016, Christopher Kane membawa Crocs ke London Fashion Week. Setahun kemudian, Balenciaga meluncurkan versi platform seharga $850 yang langsung terjual habis. Dengan menambahkan elemen kelangkaan melalui edisi terbatas bersama artis seperti Bad Bunny dan Post Malone, Crocs bertransformasi dari alas kaki perawat dan dokter menjadi simbol status yang merayakan keberanian untuk tampil beda.
Teori Sosiologi Fashion: Veblen dan Dinamika Konsumsi
Untuk memahami mengapa fashion terus berulang dan mengapa tren “aneh” bisa diterima, kita harus meninjau teori-teori sosiologi yang mendasari perilaku konsumsi manusia.
Teori Conspicuous Consumption oleh Thorstein Veblen
Dalam bukunya “The Theory of the Leisure Class” (1899), Thorstein Veblen memperkenalkan istilah “conspicuous consumption” (konsumsi mencolok). Ia berpendapat bahwa orang membeli barang mewah bukan karena kegunaannya, melainkan untuk memamerkan kekuasaan ekonomi dan status sosial mereka. Fashion adalah alat utama dalam praktik ini karena sifatnya yang sangat terlihat di publik.
Veblen menyatakan bahwa kelas atas selalu mencari gaya baru untuk membedakan diri dari kelas di bawahnya. Namun, ketika kelas menengah mulai meniru gaya tersebut (pecuniary emulation), nilai status dari gaya itu hilang. Hal ini memaksa kelas atas untuk menciptakan tren baru yang seringkali terlihat aneh atau tidak masuk akal bagi orang awam—seperti pakaian yang sengaja dibuat tampak rusak—hanya untuk menjaga jarak sosial.
Arus Tren: Dari Trickle-Down ke Trickle-Up
Secara tradisional, fashion mengikuti teori “trickle-down,” di mana tren bermula dari elit sosial dan perlahan menyaring ke bawah melalui produksi massal. Namun, di era modern, terjadi fenomena “trickle-up,” di mana gaya dari subkultur jalanan atau masyarakat kelas bawah justru diadopsi oleh merek mewah.
Contohnya adalah “streetwear” yang dipopulerkan oleh komunitas hip-hop pada era 80-an dan 90-an (seperti jaket bomber, topi snapback, dan perhiasan besar). Gaya yang awalnya dipandang sebelah mata oleh industri fashion utama ini kini menjadi inti dari koleksi merek seperti Louis Vuitton melalui tangan desainer seperti Virgil Abloh atau Kanye West. Transformasi ini menunjukkan bahwa “keaslian” dari jalanan seringkali memiliki nilai status yang lebih tinggi daripada kemewahan tradisional.
Era Digital: TikTok dan Percepatan Siklus Mode
Media sosial, khususnya TikTok, telah mengubah cara tren lahir dan mati dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Algoritma “For You Page” yang sangat personal telah menjadi mesin penggerak fashion global.
Fenomena Micro-trends dan “Core” Aesthetics
Jika dulu siklus fashion berputar sekitar 20 tahun, kini tren bisa muncul dan hilang hanya dalam hitungan minggu. TikTok melahirkan “micro-trends” atau estetika spesifik yang diberi label “-core,” seperti:
- Cottagecore: Romantisasi kehidupan pedesaan dan alam.
- Clean Girl: Tampilan minimalis dan terpoles.
- Y2K Style: Kebangkitan gaya awal 2000-an yang dulunya dianggap norak.
- Mob Wife: Estetika glamor berlebihan dengan bulu dan perhiasan emas.
Kecepatan rotasi ini menciptakan “trend fatigue,” di mana konsumen merasa lelah terus-menerus harus memperbarui gaya mereka. Selain itu, percepatan ini memicu overkonsumsi melalui merek ultra-fast fashion yang mampu memproduksi desain viral dalam hitungan hari. Hal ini berdampak buruk pada lingkungan, karena banyak pakaian hanya dipakai beberapa kali sebelum dibuang.
Fragmentasi Identitas Digital
TikTok juga menyebabkan matinya monokultur fashion. Kini, tidak ada satu tren tunggal yang mendominasi satu dekade. Sebaliknya, ratusan micro-subkultur eksis secara bersamaan. Seseorang dapat “memainkan karakter” yang berbeda setiap harinya. Pilihan pakaian menjadi bentuk “ready-to-wear identity” yang sangat cair, di mana seseorang berpakaian bukan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat, melainkan untuk memberi sinyal keanggotaan dalam komunitas digital tertentu.
| Karakteristik | Fashion Tradisional (Pre-Digital) | Fashion Era TikTok (Digital) |
| Durasi Tren | 1 – 2 tahun (siklus 20 tahun). | Mingguan / Bulanan (micro-trends). |
| Sumber Otoritas | Editor Majalah, Desainer Couture. | Algoritma, Influencer, Micro-creators. |
| Logika Produksi | Musiman (Spring/Summer, Fall/Winter). | Respon real-time terhadap viralitas. |
| Identitas | Homogenitas / Monokultur. | Fragmentasi / Core-aesthetics. |
| Keberlanjutan | Kualitas lebih tinggi, umur pakai lama. | Kualitas rendah, disposable (sekali buang). |
Fashion sebagai Alat Identitas dan Perlawanan di Abad ke-21
Di abad ke-21, fashion semakin digunakan sebagai platform untuk aktivisme sosial, politik, dan negosiasi identitas yang kompleks.
Gender Fluidity: Menghancurkan Biner Tradisional
Salah satu pergeseran paling signifikan adalah penerimaan terhadap fluiditas gender. Desainer muda dan tokoh publik seperti Harry Styles atau Harris Reed telah mendorong batas-batas pakaian pria dan wanita, menggabungkan elemen maskulin dan feminin dalam satu tampilan. Hal ini mencerminkan perubahan sosiologis di mana identitas dipandang sebagai sesuatu yang ekspansif.
Generasi Z memandang fashion sebagai sarana untuk menolak maskulinitas toksik dan merangkul inklusivitas. Pakaian bukan lagi soal “pria memakai celana” dan “wanita memakai rok,” melainkan tentang ekspresi diri yang otentik tanpa batasan label retail. Tren androgini dan busana unisex kini menjadi standar baru dalam koleksi merek global, menunjukkan bahwa batasan gender yang dulu dianggap “aneh” untuk dilanggar kini menjadi simbol progresivitas.
Keberlanjutan vs Status: Dialektika Barang Bekas
Mengenakan pakaian bekas (vintage) telah bertransformasi dari tanda kemiskinan menjadi pernyataan etis dan simbol status baru. Bagi banyak konsumen muda, menemukan barang langka (archival pieces) dari desainer masa lalu dianggap lebih berharga daripada membeli barang baru di toko mewah. Hal ini didorong oleh kesadaran akan dampak lingkungan dari industri fashion.
Namun, fenomena ini juga menciptakan kontradiksi. Thrifting yang awalnya bertujuan untuk keberlanjutan kini sering menjadi ajang kompetisi status digital. Harga barang vintage melambung tinggi di platform seperti Depop karena permintaan yang besar, yang justru membuat pakaian tersebut tidak lagi terjangkau bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkannya. Transformasi barang bekas dari “sampah” menjadi “harta karun” menunjukkan betapa cairnya nilai ekonomi sebuah produk berdasarkan narasi budaya yang menyertainya.
Konteks Indonesia: Dari Busana Adat Hingga Fashion Skena
Evolusi fashion di Indonesia mencerminkan perpaduan unik antara pelestarian tradisi dan adopsi tren global sebagai bentuk perlawanan dan ekspresi identitas nasional.
Transformasi Kain Tradisional dan Nasionalisme
Indonesia memiliki kekayaan kain tradisional seperti batik, tenun, dan songket yang selama berabad-abad menjadi simbol identitas daerah. Selama era kolonial, pengaruh Barat mulai masuk dan memodifikasi pakaian tradisional. Pasca kemerdekaan, pada era 1950-an, fashion menjadi alat untuk membangun identitas nasional. Desainer lokal mulai muncul, menggabungkan elemen tradisional dengan gaya modern sebagai bentuk kebanggaan bangsa.
Pada era 1980-an, tokoh seperti Iwan Tirta berhasil mengangkat batik ke panggung internasional, mengubah kain yang dulunya dianggap “kuno” menjadi simbol keanggunan dan kemewahan global. Saat ini, teknologi digital digunakan untuk menciptakan motif batik inovatif, menunjukkan bahwa tradisi dapat terus relevan melalui inovasi.
Fenomena Fashion Skena dan Identitas Gen Z
Di kota-kota besar di Indonesia, istilah “fashion skena” menjadi sangat populer di kalangan Gen Z. Gaya ini sering kali dicirikan dengan penggunaan pakaian vintage, kaos band, dan aksesori alternatif. Bagi pemakainya, fashion skena bukan sekadar gaya, melainkan cara untuk membangun komunitas dan menunjukkan sikap anti-kemapanan atau penolakan terhadap stereotip masyarakat yang kaku.
Studi menunjukkan bahwa bagi mahasiswa di Indonesia, fashion berfungsi sebagai komunikasi non-verbal yang krusial dalam pembentukan identitas sosial. Fashion menjadi “ruang aman” bagi mereka untuk bereksperimen dengan jati diri di tengah laju perubahan sosial yang cepat. Komunitas Punk di Indonesia, misalnya, meskipun sering dipandang menyimpang oleh norma moral masyarakat, tetap menggunakan pakaian mereka (seperti jaket kulit dengan peniti dan mohawk) sebagai simbol kemarahan terhadap penindasan kelas dominan. Transformasi gaya perlawanan ini menjadi bagian dari identitas urban di Indonesia menunjukkan betapa kuatnya peran fashion dalam menyuarakan tantangan sosial.
| Era Fashion Indonesia | Item / Gaya Dominan | Makna Sosiologis |
| Tradisional | Batik, Songket, Tenun Daerah. | Identitas suku dan warisan leluhur. |
| Kemerdekaan (50-an) | Kebaya dengan potongan modern. | Pembangunan identitas nasional baru. |
| Keemasan (80-an) | Batik Haute Couture (Iwan Tirta). | Simbol status dan kekayaan budaya global. |
| Digital (Sekarang) | Streetwear, Fashion Skena, Busana Muslim Modern. | Ekspresi bebas, inklusivitas, dan kritik sosial. |
| Masa Depan | Fashion Ramah Lingkungan & Digital. | Tanggung jawab ekologis dan inovasi teknologi. |
Sintesis dan Proyeksi Masa Depan
Perjalanan fashion dari sesuatu yang dianggap “aneh” menuju status “ikonik” dapat dirumuskan melalui dialektika antara kebutuhan akan pembedaan diri (distinction) dan kebutuhan akan penerimaan sosial (normalization). Secara sosiologis, apa yang kita kenakan adalah representasi dari posisi kita dalam hierarki kekuasaan dan identitas budaya.
Mekanisme Perubahan Estetika
Dapat disimpulkan bahwa transmutasi estetika terjadi melalui empat tahap utama:
- Provokasi: Munculnya gaya baru yang melanggar norma (seperti bumster atau bikini) yang awalnya memicu kemarahan atau cemoohan.
- Validasi: Adopsi gaya tersebut oleh figur otoritas atau “trendsetter” (selebriti, desainer mewah) yang memberikan nilai status baru.
- Difusi: Penyebaran gaya tersebut ke massa melalui media sosial (TikTok, Instagram) dan produksi massal yang terjangkau.
- Institusionalisasi: Gaya tersebut menjadi bagian dari sejarah mode dan dianggap sebagai standar keindahan yang normal atau klasik.
Masa Depan Fashion: Digitalitas dan Etika
Melihat ke depan, fashion akan semakin bergerak menuju perpaduan antara keberlanjutan ekologis dan inovasi digital. Penggunaan AI untuk memprediksi tren dan mengurangi overproduksi, serta pengembangan material baru yang ramah lingkungan, akan menjadi standar industri. Selain itu, fashion digital (digital fashion) akan memungkinkan ekspresi diri yang lebih radikal di dunia virtual tanpa harus membebani planet ini dengan limbah fisik.
Fashion akan terus menjadi alat perlawanan yang kuat. Apa yang hari ini kita anggap aneh—mungkin pakaian yang terbuat dari limbah jamur atau busana yang mengaburkan batas antara fisik dan digital—kemungkinan besar akan menjadi ikonografi dekade mendatang. Pada akhirnya, fashion mengajarkan kita bahwa kecantikan adalah konsep yang cair, dan keberanian untuk tampil “aneh” adalah mesin utama yang menggerakkan peradaban menuju kebebasan ekspresi yang lebih luas.
Laporan ini menunjukkan bahwa setiap jahitan, warna, dan siluet membawa beban ideologis. Memahami sejarah fashion berarti memahami sejarah kemanusiaan itu sendiri—sebuah perjalanan panjang mencari identitas di tengah perubahan zaman yang tak henti-hentinya. Apa yang dulu dianggap aneh kini menjadi ikonik, bukan hanya karena perubahan selera, melainkan karena kita sebagai masyarakat telah belajar untuk lebih terbuka terhadap perbedaan dan lebih berani dalam mendefinisikan siapa diri kita sebenarnya.


