Loading Now

Sarah Marquis: Melihat Dunia Lewat Setiap Langkah Kaki

Dunia modern sering kali mengukur kemajuan melalui kecepatan—seberapa cepat sebuah informasi terkirim, seberapa cepat sebuah kendaraan berpindah dari satu kota ke kota lain, atau seberapa cepat seorang individu mencapai puncak kariernya. Namun, bagi Sarah Marquis, seorang penjelajah asal Swiss yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan berjalan kaki, kebenaran tentang dunia dan eksistensi manusia justru hanya dapat ditemukan dalam perlambatan yang ekstrem. Dengan menolak segala bentuk kendaraan bermotor dan memilih untuk bergerak hanya pada kecepatan rata-rata 5 kilometer per jam, Marquis telah melakukan sebuah dekonstruksi radikal terhadap cara kita memahami ruang, waktu, dan hubungan antara tubuh manusia dengan tanah yang dipijaknya. Perjalanan solo yang ia lakukan melintasi benua, terutama ekspedisi legendarisnya dari Siberia ke Australia yang memakan waktu tiga tahun, bukan sekadar tes ketahanan fisik, melainkan sebuah penyelaman spiritual ke dalam inti alam liar.

Lahir pada tahun 1972 di desa kecil Montsevelier, kanton Jura, Swiss, Marquis tumbuh dalam lingkungan yang membentuk karakter ketelitian dan ketangguhannya. Ayahnya yang bekerja sebagai pembuat jam untuk Swatch memberikan pengaruh bawah sadar mengenai pentingnya ritme dan presisi, sementara ibunya yang merupakan ibu rumah tangga memberikan ruang bagi Marquis kecil untuk mengeksplorasi hutan-hutan di sekitar rumahnya. Keingintahuan Marquis yang tak terpuaskan terhadap dunia luar muncul sejak dini; pada usia delapan tahun, ia sudah terbiasa menghilang ke dalam hutan, suatu kali bahkan bermalam di sebuah gua bersama anjingnya, yang memicu pencarian besar-besaran oleh pihak berwenang. Bakat alami untuk bertahan hidup dan ketidaktergantungan pada norma sosial ini menjadi fondasi bagi karier penjelajahannya yang luar biasa selama lebih dari dua dekade.

Kejadian Awal dan Pembentukan Identitas Penjelajah

Evolusi Sarah Marquis dari seorang gadis desa di Swiss menjadi salah satu penjelajah paling dihormati di dunia melibatkan serangkaian transisi yang disengaja ke arah yang lebih ekstrem. Pada usia enam belas tahun, ia bekerja di perusahaan kereta api Eropa hanya agar bisa bepergian secara gratis, namun ia segera menyadari bahwa melihat dunia dari jendela kereta tidak memberinya kedalaman koneksi yang ia cari. Pada usia tujuh belas tahun, ia melakukan ekspedisi “nyata” pertamanya dengan menyeberangi Anatolia Tengah di Turki menggunakan kuda, sebuah pencapaian yang ironis karena pada saat itu ia tidak tahu cara menunggang kuda. Keberhasilan melintasi medan sulit Turki tersebut membuktikan bahwa tekad mental sering kali lebih penting daripada keterampilan teknis awal.

Kunjungan ke Selandia Baru pada usia dua puluhan menjadi titik balik krusial ketika ia menghabiskan sebulan di Taman Nasional Kahurangi tanpa membawa persediaan makanan sedikit pun. Di sana, ia belajar “bahasa” alam yang bukan berupa kata-kata, melainkan sinyal-sinyal sensorik yang menginstruksikan kapan harus mencari perlindungan atau di mana menemukan sumber daya. Pengalaman ini mengarah pada serangkaian ekspedisi jalan kaki yang semakin ambisius, termasuk menyeberangi Amerika Serikat dari perbatasan Kanada ke Meksiko sepanjang 4.260 kilometer dalam empat bulan, dan menghabiskan 17 bulan berjalan sejauh 14.000 kilometer melintasi pedalaman Australia. Setiap perjalanan adalah persiapan untuk tantangan terbesarnya: sebuah pengembaraan tiga tahun dari Siberia menuju Australia.

Ekspedisi Utama Sarah Marquis Sebelum 2010 Lokasi Jarak & Durasi Catatan Utama
Anatolia Tengah (1989) Turki Lintas wilayah Ekspedisi berkuda pertama tanpa pengalaman.
Pacific Crest Trail (2000) USA 4.260 km / 4 bulan Perjalanan dari perbatasan Kanada ke Meksiko.
Australian Outback (2002) Australia 14.000 km / 17 bulan Menyelamatkan anjing D’Joe yang menjadi teman setia.
Jalur Inca (2006) Chile ke Peru 7.000 km / 8 bulan Melintasi pegunungan Andes dan Bolivia.

Filosofi 5 Kilometer per Jam: Estetika Perlambatan

Bagi kebanyakan orang, berjalan kaki hanyalah cara untuk sampai ke tujuan, tetapi bagi Marquis, berjalan kaki adalah cara untuk menjadi. Kecepatan 5 km/jam adalah kunci untuk membuka pintu persepsi yang tertutup oleh kecepatan teknologi. Marquis berpendapat bahwa panca indera manusia—penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa—semuanya dirancang secara biologis untuk berfungsi secara optimal pada kecepatan jalan kaki. Pada kecepatan ini, lanskap tidak lagi menjadi latar belakang yang kabur, melainkan menjadi narasi yang hidup. Seseorang dapat melihat tekstur tanah yang berbeda, mencium perubahan kelembapan yang menandakan keberadaan air, dan mendengar pergeseran halus dalam kicauan burung yang memberikan peringatan tentang cuaca atau predator.

Filosofi ini mencakup apa yang Marquis sebut sebagai proses “pembersihan dari masyarakat”. Dalam enam bulan pertama setiap ekspedisi besar, pikiran manusia masih dipenuhi oleh “kebisingan” peradaban—suara teman, keluarga, tuntutan sosial, dan kekhawatiran masa depan. Ia mengibaratkan fase ini sebagai berada di dalam “mesin cuci” di mana segala sesuatunya menyakitkan dan membingungkan. Namun, setelah melewati ambang batas tersebut, kebisingan itu berhenti. Pikiran menjadi jernih, dan individu mulai hidup sepenuhnya dalam momen “sekarang”. Pada tahap ini, koneksi dengan alam menjadi begitu intim sehingga tidak ada lagi batas antara subjek (manusia) dan objek (lingkungan). Marquis sering kali merasa bahwa ia telah menjadi bagian dari angin, tanah, dan air itu sendiri.

Koneksi intim ini paling nyata dirasakan melalui telapak kaki. Hubungan antara telapak kaki dengan tanah adalah bentuk komunikasi yang paling purba. Bagi Marquis, setiap langkah adalah titik data. Ia bisa merasakan kesehatan tanah melalui teksturnya di bawah sol kakinya, mendeteksi getaran yang menandakan adanya kehidupan di bawah permukaan atau datangnya badai pasir dari kejauhan. Kecepatan rendah memungkinkannya untuk melakukan apa yang ia sebut sebagai “pembacaan lanskap,” sebuah keterampilan yang hampir punah dalam masyarakat modern yang terlalu bergantung pada GPS dan peta digital.

Odisei Siberia ke Australia: Perjalanan Tiga Tahun Melintasi Batas

Puncak dari filosofi dan ketahanan Marquis terjadi antara 20 Juni 2010 dan 17 Mei 2013. Ia memulai perjalanannya dari Irkutsk, Siberia, dengan membawa sebuah kereta dorong kecil seberat 54 kilogram yang berisi seluruh dunianya: tenda, pakaian, perlengkapan medis dasar, alat komunikasi satelit, dan sedikit persediaan makanan. Perjalanan ini mencakup sekitar 20.000 kilometer melintasi Rusia, Mongolia, Tiongkok, Laos, Thailand, dan akhirnya Australia. Tantangan yang dihadapi dalam ekspedisi ini merentang dari suhu ekstrem -30°C di Siberia hingga panas menyengat 51°C di gurun Australia, serta berbagai ancaman manusia dan kesehatan.

Bertahan Hidup di Mongolia: Horsemen dan Penyamaran

Mongolia menyajikan salah satu tantangan psikologis dan fisik terberat bagi Marquis. Selama kurang lebih dua bulan, ia terus-menerus diganggu oleh kelompok pria berkuda di padang rumput yang luas. Para penunggang kuda ini sering kali muncul saat senja, waktu di mana visibilitas mulai berkurang namun kehadiran mereka terasa sangat mengancam. Mereka akan memacu kuda mereka melalui perkemahannya, mencoba merobek tendanya dengan kaitan, atau sekadar melakukan intimidasi dengan berputar-putar di sekitar tendanya sepanjang malam. Marquis mengamati bahwa perilaku agresif ini sering kali dipicu oleh konsumsi vodka yang berlebihan di wilayah tersebut.

Untuk menjaga keamanannya, Marquis harus menggunakan kecerdikan dan taktik penyamaran. Ia secara rutin menyamar sebagai pria dengan mengenakan topi lebar yang menutupi wajahnya, kacamata hitam yang tidak pernah dilepas, dan pakaian longgar yang menyembunyikan fitur femininnya. Ia juga mengadopsi protokol keamanan yang sangat ketat: tidak pernah menyalakan api unggun, tidak menggunakan lampu kepala, dan selalu menunggu hingga benar-benar gelap untuk mendirikan tenda di lokasi yang tidak terduga, lalu segera berpindah tempat lagi sebelum matahari terbit. Pernah suatu kali, ia menemukan keamanan di sebuah gorong-gorong bawah jalan tanah yang dipenuhi tikus, namun baginya tempat itu terasa seperti istana karena ia bisa tidur tanpa gangguan dari para penunggang kuda.

Risiko dan Strategi Keamanan di Mongolia Detil Implementasi
Gangguan Penunggang Kuda Intimidasi fisik setiap malam; percobaan merusak tenda.
Penyamaran Gender Mengenakan pakaian pria, kacamata hitam, dan topi untuk menipu penglihatan jarak jauh.
Manajemen Jejak Berjalan di tanah yang sangat keras atau berbatu agar kereta dorong tidak meninggalkan bekas yang bisa dilacak.
Taktik Reaksi Bertindak tidak terduga; suatu kali ia berlari ke arah penunggang kuda sambil berteriak untuk menakuti kuda mereka.

Krisis Kesehatan dan Ancaman di Asia Tenggara

Setelah berhasil melewati tantangan di Mongolia dan Tiongkok—di mana ia juga harus berurusan dengan birokrasi pemerintah yang ketat—Marquis menghadapi bahaya yang berbeda di hutan hujan Laos. Di sini, ancaman bukan hanya berasal dari manusia, tetapi juga dari penyakit tropis dan lingkungan yang lembap. Marquis terjangkit demam berdarah (dengue fever), sebuah penyakit yang menyebabkan demam tinggi, nyeri sendi yang melumpuhkan, dan delirium. Selama tiga hari yang kritis, ia harus berjuang melawan penyakit ini sendirian di tengah hutan.

Ketajaman insting Marquis kembali teruji dalam kondisi ini. Karena ia berkemah di dekat sungai, ia menyadari adanya risiko besar bahwa dalam keadaan delirium, ia mungkin akan berjalan ke air dan tenggelam tanpa sadar. Sebagai tindakan pencegahan yang ekstrem, ia menggunakan tali untuk mengikat kaki kirinya ke sebuah pohon besar di perkemahannya. Tindakan ini memastikan bahwa jangkauan geraknya terbatas selama ia kehilangan kesadaran penuh akibat demam. Selain itu, ia juga mengalami infeksi gigi (periodontal abscess) yang parah di Mongolia yang sempat memaksanya dievakuasi untuk pengobatan darurat, namun ia segera kembali ke titik koordinat GPS yang sama persis untuk melanjutkan perjalanannya.

Ancaman manusia di Laos tidak kalah mengerikan. Ia pernah ditahan sebagai sandera dan dilecehkan selama empat jam oleh sekelompok pria yang membawa senjata otomatis, kemungkinan pengedar narkoba atau kelompok pemberontak lokal, sebelum akhirnya mereka merampok barang-barangnya dan membiarkannya pergi. Ketabahan mental Marquis dalam menghadapi todongan senjata dan intimidasi fisik berakar pada pengalamannya selama puluhan tahun; ia belajar untuk tidak menunjukkan kelemahan dan tetap tenang di bawah tekanan yang paling ekstrem sekalipun.

Logistik dalam Kereta Dorong: Tulang Punggung Kelangsungan Hidup

Berjalan kaki melintasi benua sendirian membutuhkan perencanaan logistik yang presisi. Marquis tidak memiliki tim pendukung yang mengikutinya dengan kendaraan; segala sesuatu yang ia butuhkan untuk bertahan hidup harus ditarik oleh tangannya sendiri dalam sebuah kereta dorong kecil yang ia beri nama sesuai dengan daerah yang dilaluinya. Kereta seberat 54 kilogram ini merupakan pusat komando sekaligus gudang persediaannya.

Isi dari kereta dorong ini adalah hasil dari seleksi ketat selama dua tahun masa perencanaan. Ia membawa tenda dan kantong tidur yang dirancang untuk suhu ekstrem, kompor kecil, pakaian teknis yang tahan lama, dan peralatan navigasi seperti kompas dan peta topografi manual. Meskipun ia memiliki alat pelacak GPS dan telepon satelit, ia menggunakannya secara hemat untuk menghemat baterai dan menjaga kemurnian pengalaman kesendiriannya. Salah satu peralatan paling unik yang ia bawa adalah ketapel (slingshot) dan kawat untuk menjebak hewan kecil seperti kelinci saat persediaan makanan habis, serta kantong plastik khusus untuk mengumpulkan embun dari tanaman di gurun sebagai sumber air.

Kategori Perlengkapan Item Spesifik Fungsi Utama
Keamanan Topi, Kacamata Hitam, Pakaian Kamuflase Menghilangkan identitas gender dan menyatu dengan medan.
Navigasi & Komunikasi Peta Topografi, Kompas, SPOT GPS, Telepon Satelit Memastikan rute yang tepat dan memberikan sinyal “hidup” ke markas pusat.
Survival Slingshot, Pisau Saku, Antibiotik, Amphetamines (Darurat) Menghadapi ancaman biologis dan kekurangan energi akut.
Logistik Air/Makanan Kantong Kondensasi, Filter Air, Tepung (100g/hari) Menciptakan kemandirian sumber daya di wilayah gersang.

Kebutuhan kalori Marquis selama perjalanan sering kali tidak terpenuhi secara ideal. Di Australia, ia belajar tentang “bush tucker” atau makanan hutan dari penduduk asli Aborigin untuk melengkapi dietnya yang minimalis. Selama ekspedisi Kimberley, ia hanya membawa jatah tepung sebesar 100 gram per hari untuk membuat roti pipih sederhana, dan sisanya ia harus mencari ikan atau tanaman liar. Kekuatan batinnya dalam menghadapi rasa lapar yang ekstrem sering kali membawanya pada momen-momen mistis, seperti ketika ia belajar mendeteksi keberadaan air atau buah-buahan melalui aroma yang terbawa angin dari jarak yang sangat jauh.

Antropologi Perjalanan: Hubungan Manusia dan Alam yang Terlupakan

Salah satu kontribusi paling signifikan dari Sarah Marquis adalah bagaimana ia menantang persepsi modern tentang apa artinya “terhubung” dengan alam. Dalam pidatonya dan bukunya, Wild by Nature, ia sering berbicara tentang bagaimana manusia modern telah kehilangan “insting primal” mereka. Baginya, berjalan kaki adalah cara untuk mengaktifkan kembali sirkuit saraf purba yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar tanpa kata-kata.

Marquis melihat alam bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai entitas yang harus didengar. “Jika Anda ingin bertahan hidup di luar ruangan, Anda harus belajar membaca: tanaman, jejak, tanda-tanda. Alam berbicara—tetapi tidak dalam kata-kata,” ujarnya. Ketajaman sensorik yang ia capai setelah bertahun-tahun berjalan kaki memungkinkannya untuk merasakan perubahan tekanan udara sebelum badai datang, atau mengetahui keberadaan predator melalui perubahan nada kicauan burung di hutan. Inilah yang ia sebut sebagai “bahasa universal alam” yang melampaui batas-batas budaya dan bahasa manusia.

Dunia yang terlihat pada kecepatan 5 km/jam adalah dunia yang penuh dengan detail dan keajaiban yang sering terabaikan. Dari butiran pasir yang berbeda warna di Mongolia hingga cara cahaya matahari menembus kanopi hutan di Laos, Marquis mendokumentasikan keindahan yang hanya bisa ditangkap melalui kesabaran. Hubungan intim antara telapak kaki dan tanah menciptakan sebuah “jangkar” yang membuat seseorang tetap rendah hati dan menyadari posisi kecilnya di tengah semesta yang luas. Ia sering kali merasa bahwa dengan berjalan, ia sedang melakukan dialog terus-menerus dengan bumi, di mana setiap langkah adalah pertanyaan dan setiap respons alam—berupa angin atau hujan—adalah jawaban.

Gender dalam Penjelajahan: Menembus Batas Tradisional

Sebagai seorang wanita dalam bidang yang didominasi oleh pria, Sarah Marquis telah menjadi ikon pemberdayaan. Ia sering kali harus menghadapi stereotip bahwa wanita terlalu lemah atau rentan untuk melakukan perjalanan solo di wilayah yang berbahaya. Namun, Marquis justru berpendapat bahwa wanita memiliki keunggulan inheren dalam penjelajahan karena mereka cenderung lebih intuitif dan memiliki keterbukaan sensorik yang lebih besar terhadap kehidupan. Ia tidak mengandalkan kekuatan otot kasar, melainkan pada ketahanan mental dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan ritme alam.

Namun, ia juga tidak naif terhadap risiko keamanan yang spesifik bagi gender. Selain penyamaran sebagai pria, ia menggunakan teknik perilaku yang ia sebut sebagai “poise” atau ketenangan yang berwibawa untuk menghindari provokasi. Ia belajar untuk mengabaikan perhatian yang tidak diinginkan dan bergerak dengan penuh percaya diri agar tidak terlihat sebagai mangsa. Kemampuannya untuk bertahan hidup dari ancaman pemerkosaan, perampokan, dan pelecehan selama bertahun-tahun menunjukkan tingkat kesiagaan mental yang luar biasa yang ia kembangkan melalui pengalaman pahit dan refleksi mendalam.

Tantangan Spesifik Gender dan Solusi Marquis Implementasi Lapangan
Kecurigaan Sosial (misal: di Tiongkok) Menggunakan perilaku yang sangat formal dan menjaga kontak minimal dengan warga lokal.
Risiko Pelecehan Seksual Penyamaran fisik total dan pemilihan lokasi berkemah yang sangat tersembunyi.
Persepsi Kelemahan Fisik Mengembangkan teknik pertahanan diri psikologis dan ketenangan luar biasa dalam krisis.
Kurangnya Role Model Menciptakan jalur sendiri dan menjadi inspirasi bagi wanita lain melalui buku dan ceramah.

Transformasi Mental: Proses Mengupas Bawang

Marquis sering menggunakan metafora “mengupas bawang” untuk mendeskripsikan apa yang terjadi pada jiwa seseorang selama perjalanan panjang dalam kesendirian. Lapisan luar bawang melambangkan identitas sosial kita: nama kita, pekerjaan kita, apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Di alam liar, lapisan-lapisan ini perlahan-lahan tanggal karena tidak ada seorang pun yang memberikan umpan balik sosial. Setelah beberapa bulan, seseorang akan sampai pada inti yang paling jujur dari dirinya sendiri.

Proses ini tidak selalu menyenangkan. Ia melibatkan konfrontasi dengan ketakutan terdalam, kesepian yang melumpuhkan, dan keraguan diri. Marquis mengakui bahwa ada saat-saat di mana ia merasa sangat putus asa, terutama saat menghadapi badai pasir di Mongolia atau saat menderita demam berdarah di Laos. Namun, ia percaya bahwa justru di titik-titik ketidaknyamanan inilah pertumbuhan yang paling besar terjadi. “Keluar dari zona nyaman adalah tempat di mana segala sesuatunya tumbuh,” tulisnya.

Hasil dari transformasi ini adalah keadaan yang ia sebut sebagai “resiliensi murni”. Saat mencapai pohon tujuannya di Nullarbor Plain, Australia, ia tidak lagi merasa sebagai turis atau pengamat alam; ia merasa sebagai bagian yang integral dari ekosistem tersebut. Perasaan “memiliki planet ini” dari inti tubuhnya memberinya ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan materi. Ketika ia kembali ke peradaban, ia membawa perspektif ini bersamanya, memungkinkan dia untuk melihat keruwetan masyarakat modern dengan rasa iba dan pemahaman yang lebih dalam karena ia telah melihat apa yang benar-benar esensial bagi kehidupan.

Warisan dan Misi Masa Depan: Eksplorasi untuk Konservasi

Sebagai National Geographic Explorer of the Year 2014, Sarah Marquis tidak hanya berhenti pada pencapaian pribadi. Ia menggunakan platformnya untuk menyebarkan pesan tentang pentingnya konservasi alam dan keberlanjutan hidup. Misinya saat ini adalah untuk menciptakan kembali hubungan yang terputus antara manusia dan alam, yang ia yakini sebagai kunci untuk mengatasi krisis lingkungan global. Melalui buku-bukunya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan ceramah-ceramahnya yang menginspirasi lebih dari 500 audiens di seluruh dunia, ia mendorong orang untuk melakukan “perjalanan penemuan diri” mereka sendiri.

Ekspedisi terbarunya, seperti penjelajahan hutan hujan Tasmania untuk mendokumentasikan spesies unik dan ekspedisi bertahan hidup Back to the Origins di gurun Australia pada tahun 2023, menunjukkan bahwa semangat penjelajahannya tidak pernah pudar. Ia terus mengeksplorasi wilayah-wilayah yang tidak terpetakan dengan baik, sering kali melakukan riset mendalam di perpustakaan tua dan berbicara dengan penduduk lokal sebelum berangkat, karena ia percaya bahwa internet tidak memiliki semua jawaban tentang alam liar.

Bagi Sarah Marquis, berjalan kaki adalah bentuk perlawanan terhadap dunia yang terlalu cepat dan dangkal. Melalui telapak kakinya yang terus menyentuh tanah, ia mengingatkan kita bahwa ada kedalaman, keindahan, dan kebenaran yang hanya bisa ditemukan jika kita bersedia untuk memperlambat langkah, mendengarkan keheningan, dan menghargai setiap inci dari bumi yang kita pijak. Dunia memang terlihat berbeda pada kecepatan 5 km/jam—ia terlihat jauh lebih luas, lebih hidup, dan lebih berharga untuk diperjuangkan.

Kesimpulan dari seluruh ulasan mengenai Sarah Marquis adalah bahwa ia bukan sekadar pejalan kaki jarak jauh; ia adalah seorang filsuf pergerakan. Ia membuktikan bahwa batas ketahanan manusia jauh melampaui apa yang kita bayangkan, dan bahwa dalam kesendirian yang paling sunyi sekalipun, manusia tidak akan pernah merasa sendirian jika mereka tahu cara untuk berkomunikasi dengan alam semesta. Sarah Marquis adalah pengingat hidup bahwa setiap langkah kaki kita memiliki potensi untuk menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih besar tentang kehidupan itu sendiri.