Loading Now

The Million Lies: Mengapa Dunia Membenci (dan Mencintai) Kisah Marco Polo

Kembalinya Marco Polo ke Venesia pada tahun 1295 menandai salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah intelektual Eropa. Setelah menghilang selama dua puluh empat tahun, Marco Polo bersama ayah dan pamannya, Niccolò dan Maffeo, muncul kembali di ambang pintu rumah mereka dengan penampilan yang nyaris tidak dikenali: mengenakan pakaian kasar dan kumal khas Mongol, berbicara dengan aksen yang asing, dan membawa serta aura misteri dari belahan dunia yang dianggap oleh sebagian besar orang Eropa saat itu sebagai tanah mitos. Ketidakhadiran yang begitu lama telah membuat mereka dianggap sudah lama meninggal, namun mereka membawa bukti fisik yang tak terbantahkan tentang kekayaan luar biasa yang mereka kumpulkan di Timur. Kisah-kisah yang kemudian mengalir dari pengalaman ini tidak hanya mengguncang fondasi pengetahuan geografis abad pertengahan tetapi juga menciptakan ketegangan yang abadi antara skeptisisme ilmiah dan kekaguman puitis.

Ruang Sempit di Penjara Genoa: Rahim bagi Narasi Dunia Baru

Lahirnya karya literatur yang paling berpengaruh di abad pertengahan, The Travels of Marco Polo—yang secara orisinal berjudul Livre des Merveilles du Monde atau Devisement du Monde—terjadi di tempat yang paling tidak terduga: sebuah penjara di Genoa. Ketegangan geopolitik antara dua republik maritim besar, Venesia dan Genoa, menyeret Marco Polo ke dalam konflik militer tak lama setelah kepulangannya. Dalam sebuah pertempuran laut yang tidak tercatat secara rinci namun krusial, Polo ditawan oleh pasukan Genoa pada tahun 1298.

Di dalam sel penjara tersebut, Marco Polo tidak sendirian. Ia berbagi ruang dengan Rustichello da Pisa, seorang penulis profesional yang memiliki spesialisasi dalam genre roman ksatria, khususnya kisah-kisah Arthurian. Kolaborasi antara seorang pedagang-diplomat yang memiliki data empiris mentah dan seorang sastrawan yang memahami struktur naratif populer menciptakan sebuah hibriditas teks yang unik. Rustichello tidak sekadar mencatat; ia menyunting dan membingkai pengalaman Polo menggunakan tropos sastra yang akrab bagi telinga bangsawan Eropa.

Analisis terhadap naskah awal menunjukkan bahwa Rustichello menggunakan gaya bahasa yang “santai dan percakapan,” sebuah ciri khas yang ditemukan dalam karya-karya roman sebelumnya. Penggunaan bahasa Franco-Italian, yang merupakan bahasa literatur dominan di Italia Utara saat itu, memastikan bahwa narasi ini dapat menjangkau audiens yang lebih luas daripada sekadar kalangan akademisi. Namun, keterlibatan Rustichello juga memberikan landasan bagi skeptisisme di masa depan. Beberapa kritikus berpendapat bahwa unsur-unsur fantastis dan kemegahan yang berlebihan dalam buku tersebut mungkin merupakan kontribusi dari imajinasi kreatif Rustichello daripada pengamatan langsung Polo.

Perbandingan Karakteristik Kolaborasi Penulisan

Unsur Kontribusi Marco Polo Rustichello da Pisa
Basis Pengetahuan Pengalaman empiris selama 17 tahun di Tiongkok. Teknik naratif roman ksatria abad ke-13.
Fokus Detail Rute perdagangan, komoditas, dan sistem pajak. Keajaiban, kemegahan istana, dan heroisme.
Gaya Komunikasi Dialek Venesia lisan, faktual, dan deskriptif. Bahasa Franco-Italian, dramatis, dan puitis.
Tujuan Utama Mendokumentasikan kenyataan dunia Timur. Menciptakan karya sastra yang menghibur audiens elit.
Integritas Teks Menyediakan inti informasi geografis dan budaya. Menyediakan bingkai retoris dan “rasa” petualangan.

Implikasi dari kolaborasi ini sangat luas. Tanpa Rustichello, kisah Marco Polo mungkin hanya akan berakhir sebagai catatan perjalanan pedagang yang kering dan terlupakan di gudang-gudang Venesia. Namun, dengan sentuhan Rustichello, catatan tersebut menjadi fenomena budaya—”viral” dalam istilah modern—yang menyebar dengan cepat melalui naskah-naskah tulisan tangan bahkan sebelum penemuan mesin cetak.

Kontras Peradaban: Tiongkok yang Megah dan Eropa yang Statis

Untuk memahami mengapa kisah Marco Polo diterima dengan ketidakpercayaan yang begitu besar, kita harus mengevaluasi jurang peradaban antara Eropa dan Tiongkok di bawah Dinasti Yuan pada abad ke-13. Saat itu, Eropa sedang berada di akhir masa yang sering disebut sebagai Abad Kegelapan, sebuah periode di mana pengetahuan tentang dunia luar sangat terbatas dan didominasi oleh interpretasi teologis. Sebaliknya, kekaisaran Kublai Khan mewakili puncak dari kemajuan material, organisasi administratif, dan skala populasi yang belum pernah terbayangkan oleh orang Barat.

Marco Polo mendeskripsikan kota-kota seperti Hangzhou (Kinsay) dengan ketakjuban yang tulus. Baginya, Kinsay adalah kota yang tidak memiliki tandingan di dunia, dengan ribuan jembatan batu yang tinggi, pasar-pasar yang meluap dengan barang dagangan, dan sistem sanitasi yang jauh lebih maju daripada kota mana pun di Eropa. Pengamatan Polo tentang penggunaan batu bara sebagai bahan bakar—yang ia sebut sebagai “batu hitam yang terbakar seperti kayu”—merupakan kejutan budaya bagi audiens yang masih bergantung sepenuhnya pada kayu bakar.

Komparasi Urban dan Teknologi Abad ke-13

Fitur Peradaban Eropa (Venesia/Paris) Tiongkok (Hangzhou/Khanbaliq)
Estimasi Populasi 50.000 – 100.000 jiwa Lebih dari 1.000.000 jiwa
Sistem Moneter Koin emas dan perak fisik Uang kertas berbasis kulit kayu murbei
Sumber Energi Utama Kayu bakar dan kincir air Batu bara dan minyak bumi mentah
Infrastruktur Komunikasi Kurir sporadis dan tidak terorganisir. Sistem pos Yam dengan pos setiap 25 mil.
Pengelolaan Limbah Terbatas, sering dibuang ke jalan atau sungai kecil. Kanal-kanal luas dan sistem pembersihan kota rutin.

Jurang peradaban ini menciptakan apa yang disebut sebagai bias etnosentrisme. Orang Eropa abad ke-13 tidak dapat menerima keberadaan sebuah masyarakat “pagan” yang lebih maju daripada mereka dalam hal teknologi, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan. Penolakan terhadap kisah Polo bukan hanya soal keraguan terhadap fakta, melainkan mekanisme pertahanan psikologis untuk menjaga rasa superioritas budaya Barat yang terancam oleh narasi kemegahan Timur.

Alkimia Sang Khan: Uang Kertas dan Ekonomi Moneter

Salah satu deskripsi Polo yang paling banyak dicemooh oleh sezamannya, namun di kemudian hari terbukti sebagai bukti paling kuat dari keasliannya, adalah sistem uang kertas Mongol. Polo menceritakan dengan detail yang sangat teknis bagaimana Kublai Khan memerintahkan pembuatan uang dari kulit bagian dalam pohon murbei (Morus alba). Proses ini digambarkannya menyerupai alkimia, di mana secarik kertas diberi segel merah kaisar dan seketika itu juga memiliki nilai yang sama dengan emas atau perak.

Penelitian modern oleh Hans Ulrich Vogel menunjukkan bahwa akurasi Polo dalam hal ini sangat luar biasa. Polo mencatat poin-poin yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang benar-benar berinteraksi dengan sistem tersebut:

  1. Bahan baku dari kulit pohon murbei yang dihaluskan.
  2. Penggunaan segel resmi kaisar sebagai jaminan otentisitas.
  3. Hukuman mati bagi siapa pun yang berani memalsukan uang tersebut.
  4. Kewajiban penukaran logam mulia dengan uang kertas bagi para pedagang asing.
  5. Adanya biaya penukaran sebesar 3% bagi warga yang ingin mengganti uang kertas yang sudah usang dengan yang baru.

Karakter unik dari deskripsi Polo adalah ia mencatat bahwa uang kertas ini tidak beredar secara universal di seluruh Tiongkok. Di wilayah seperti Yunnan, orang masih menggunakan kulit kerang (cowries) atau garam sebagai mata uang. Fakta sosiologis dan ekonomi regional ini sangat spesifik bagi Dinasti Yuan dan tidak mungkin ditemukan dalam buku panduan perjalanan Persia atau Arab pada masa itu.

Perdebatan Mengenai Autentisitas: Skeptisisme Dr. Frances Wood

Pada tahun 1995, Dr. Frances Wood, kepala bagian Tiongkok di British Library, menerbitkan buku kontroversial Did Marco Polo Go to China? yang menghidupkan kembali keraguan kuno. Argumen utama Wood didasarkan pada apa yang tidak ditulis oleh Polo—sebuah argumen dari kesunyian (argument from silence). Wood menekankan bahwa sebagai seseorang yang mengklaim telah tinggal selama tujuh belas tahun di Tiongkok, Polo melewatkan beberapa fenomena budaya yang sangat mencolok.

Beberapa poin keberatan Wood meliputi:

  • Tembok Besar Tiongkok: Tidak disebutkan dalam catatan Polo, padahal ia seharusnya melintasi jalur tersebut berkali-kali.
  • Kebiasaan Minum Teh: Salah satu pilar budaya Tiongkok yang sama sekali tidak muncul dalam deskripsinya.
  • Sistem Penulisan Tiongkok: Polo tidak menunjukkan pengetahuan tentang karakter Tionghoa atau teknik kaligrafi.
  • Pengikatan Kaki (Footbinding): Tradisi unik pada wanita Tionghoa kelas atas yang sangat visual dan tak terlupakan bagi pengunjung asing.
  • Ketidakhadiran di Catatan Resmi: Nama Marco Polo tidak ditemukan dalam catatan resmi Dinasti Yuan (Yuan Shi).

Namun, komunitas sejarawan, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Igor de Rachewiltz, memberikan bantahan yang sama kuatnya. De Rachewiltz menjelaskan bahwa Tembok Besar yang kita kenal sekarang adalah konstruksi batu dari Dinasti Ming (abad ke-16), sementara pada masa Mongol, tembok tersebut hanyalah gundukan tanah yang sudah hancur dan tidak dianggap penting secara militer. Mengenai teh dan pengikatan kaki, de Rachewiltz berpendapat bahwa Polo bergerak di lingkungan elit Mongol yang memiliki budaya sendiri (lebih menyukai susu kuda fermentasi dan tidak melakukan pengikatan kaki) dan memiliki jarak sosial yang lebar dengan penduduk Tionghoa asli yang ditaklukkan.

Selain itu, penggunaan nama-nama tempat dalam bentuk Persia oleh Polo (seperti Cambaluc untuk Beijing atau Zayton untuk Quanzhou) justru memperkuat klaimnya. Bahasa Persia adalah lingua franca administrasi asing di bawah pemerintahan Mongol, dan sebagai seorang pejabat asing, Polo secara logis menggunakan bahasa yang digunakan oleh rekan-rekan birokratnya.

Bukti dari Yung-lo ta-tien: Misi Putri Kököchin

Salah satu bukti paling kuat yang mendukung keberadaan Marco Polo di Tiongkok adalah ceritanya mengenai pengawalan Putri Mongol, Kököchin, ke Persia. Polo mengklaim bahwa misi ini adalah satu-satunya alasan Kublai Khan akhirnya mengizinkan keluarga Polo untuk pulang ke Venesia, karena mereka adalah navigator yang ahli yang dibutuhkan untuk perjalanan laut yang berbahaya.

Penelitian sejarah menemukan sebuah dokumen langka dalam ensiklopedia Tiongkok abad ke-15, Yung-lo ta-tien, yang merinci pengiriman misi diplomatik pada tahun 1290 untuk mengantar seorang putri kepada Arghun Khan di Persia. Dokumen tersebut menyebutkan nama tiga utusan kaisar: Ulutai, Abishkha, dan Khoje. Dalam bukunya, Marco Polo mencatat nama-nama yang hampir identik secara fonetik: Oulatai, Apusca, dan Coja. Tingkat kesamaan ini, dikombinasikan dengan detail bahwa dua dari utusan tersebut meninggal dalam perjalanan (fakta yang dikonfirmasi oleh sumber Tiongkok), memberikan validitas empiris yang sulit dibantah oleh argumen skeptis.

Pengetahuan Zoologi dan Mitologi: Antara Badak dan Unicorn

Kejujuran Marco Polo sering kali diuji melalui deskripsinya tentang hewan-hewan eksotis. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah penemuannya tentang “unicorn” di pulau Sumatra. Orang Eropa abad pertengahan membayangkan unicorn sebagai kuda putih yang anggun dengan tanduk tunggal yang ajaib. Namun, Polo mendeskripsikan “unicorn” yang ia temui sebagai hewan yang sangat buruk rupa: memiliki kulit tebal seperti kerbau, kaki seperti gajah, lidah berduri, dan tanduk tunggal yang besar di hidungnya.

Deskripsi ini, meskipun ia salah mengidentifikasinya sebagai unicorn, adalah catatan pertama yang sangat akurat tentang badak Sumatra bagi dunia Barat. Ketidaksesuaian antara unicorn imajiner Eropa dan badak nyata yang dilihat Polo justru menunjukkan bahwa ia melaporkan apa yang benar-benar ia lihat, bukan sekadar mengikuti mitos populer.

Begitu pula dengan deskripsinya tentang “ular besar berkaki” di provinsi Kara-jang (Yunnan). Ia menggambarkan makhluk dengan dua kaki pendek di depan, mata besar, dan mulut yang mampu menelan manusia. Ini adalah deskripsi pertama orang Eropa tentang buaya, dan Polo bahkan mencatat metode yang digunakan penduduk lokal untuk menangkap mereka dengan memasang pisau baja yang disembunyikan di pasir.

Analisis Identitas Makhluk dalam Catatan Marco Polo

Makhluk dalam Teks Nama Wilayah Identitas Sebenarnya Karakteristik yang Dicatat
Unicorn Sumatra (Jawa Kecil) Badak Sumatra Berkulit tebal, berkaki gajah, tanduk di hidung.
Ular Besar Berkaki Kara-jang (Yunnan) Buaya Memiliki kaki depan, mata besar, mulut lebar.
Burung Rukh (Roc) Madagaskar (Hearsay) Burung Gajah (Aepyornis) Sangat besar, mampu mengangkat gajah (melebih-lebihkan folklor).
Domba Liar Besar Pamir (Central Asia) Domba Marco Polo (Ovis ammon polii) Memiliki tanduk spiral yang sangat besar.
Sapi Berbulu Sutra Asia Tengah Yak Bulu yang sangat lembut, dibawa sampelnya ke Venesia.

Pengamatan ini menunjukkan bahwa Polo adalah seorang pengamat alam yang tajam. Meskipun ia terkadang menggunakan kerangka referensi mitologis (seperti menyebut badak sebagai unicorn), detail fisik yang ia berikan selalu berakar pada kenyataan biologis.

Sang Pengumpul Cerita yang Jenius: “Old Man of the Mountain”

Sudut pandang unik Marco Polo juga mencakup perannya sebagai pengumpul tradisi lisan. Ia tidak hanya mencatat apa yang ia lihat, tetapi juga apa yang ia dengar dari orang-orang yang ia temui di sepanjang Jalur Sutra. Salah satu kisah yang paling menangkap imajinasi publik adalah legenda “Old Man of the Mountain” dan para pembunuhnya (Assassins).

Polo menceritakan tentang Hasan-i Sabbah, pemimpin sekte Nizari Ismaili, yang membangun sebuah “surga” tersembunyi di pegunungan Alamut. Menurut narasi Polo, para pemuda diberi obat-obatan (hashish) untuk membuat mereka pingsan dan terbangun di sebuah taman yang penuh dengan keindahan, wanita, dan anggur, sehingga mereka percaya bahwa sang pemimpin memiliki kunci menuju surga. Meskipun elemen “obat-obatan” dan “surga buatan” ini sering dianggap sebagai bumbu naratif (atau hasil dari disinformasi musuh-musuh sekte tersebut), keberadaan sekte ini dan pemimpinnya adalah fakta sejarah yang tervalidasi oleh sumber-sumber Islam maupun Tentara Salib.

Kejeniusan Polo terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan cerita rakyat ini ke dalam catatan perjalanannya, menciptakan sebuah karya yang berfungsi ganda sebagai ensiklopedia geografi sekaligus antologi petualangan. Bagi pembaca Eropa, kisah-kisah ini bukan sekadar hiburan; mereka adalah jendela pertama menuju kompleksitas politik dan agama di luar dunia Kristen.

Pengaruh Terhadap Kartografi dan Navigasi Eropa

Dampak paling terukur dari tulisan Marco Polo adalah transformasi peta dunia Eropa. Sebelum abad ke-14, peta dunia (seperti Mappa Mundi) lebih merupakan pernyataan teologis daripada alat navigasi, dengan Yerusalem di pusatnya dan wilayah-wilayah yang tidak dikenal diisi dengan monster atau catatan “Hic sunt dracones” (Di sini ada naga).

Karya Polo memberikan data geografis mentah yang memungkinkan para pembuat peta untuk pertama kalinya menggambarkan Asia dengan tingkat akurasi yang fungsional. Peta-peta legendaris seperti Catalan Atlas (1375) dan Fra Mauro Map (1459) secara eksplisit memasukkan informasi dari Polo, seperti lokasi Quanzhou, rute melalui Pamir, dan keberadaan kepulauan rempah-rempah di Asia Tenggara.

Evolusi Representasi Geografis Asia dalam Kartografi Eropa

Era Peta Karakteristik Geografis Asia Pengaruh Marco Polo
Pra-Polo (T-O Maps) Berdasarkan mitologi; Asia digambarkan secara abstrak di bagian atas dunia. Minimal atau tidak ada.
Catalan Atlas (1375) Pertama kali menggambarkan India sebagai semenanjung dan mencatat kota-kota Tiongkok. Sangat tinggi; menggunakan nama-nama tempat dari Il Milione.
Fra Mauro Map (1459) Peta dunia paling komprehensif sebelum penemuan Amerika; sangat mendetail tentang Timur. Menggunakan catatan Polo sebagai sumber utama untuk geografi Asia.
Era Columbus (1492) Asia digambarkan membentang sangat jauh ke timur, mendekati Eropa. Interpretasi literal dari klaim Polo tentang luas benua Asia.

Transformasi ini bukan hanya soal teknis pemetaan, tetapi pergeseran paradigma intelektual. Eropa mulai melihat diri mereka bukan sebagai pusat tunggal dunia, melainkan sebagai salah satu pemain dalam planet yang luas dan penuh peluang.

Jejak Marco Polo pada Christopher Columbus

Salah satu “penggemar” paling fanatik dari Marco Polo adalah Christopher Columbus. Columbus memiliki salinan pribadi buku Polo yang kini disimpan di museum di Sevilla, Spanyol, yang penuh dengan catatan pinggir (marginalia) dalam tulisan tangannya. Bagi Columbus, buku tersebut bukan sekadar sastra, melainkan buku panduan operasional.

Polo meyakinkan Columbus tentang tiga hal utama:

  1. Kemegahan Cipangu (Jepang): Polo menceritakan tentang pulau Cipangu yang memiliki emas berlimpah, dengan istana kaisar yang atapnya seluruhnya terbuat dari emas murni.
  2. Kedermawanan Khan: Deskripsi Polo tentang Kublai Khan sebagai penguasa yang toleran terhadap orang Kristen memberi Columbus harapan bahwa ia bisa menjalin aliansi strategis melawan kekaisaran Islam.
  3. Dimensi Dunia: Berdasarkan deskripsi Polo tentang luasnya Asia, Columbus membuat perhitungan fatal (namun menguntungkan) bahwa rute laut ke barat menuju Asia akan jauh lebih pendek daripada yang diperkirakan para ahli geografi lainnya.

Ironisnya, kegagalan Columbus untuk mengenali bahwa ia telah menemukan benua baru (Amerika) berakar pada keyakinannya yang teguh pada teks Polo. Hingga akhir hayatnya, Columbus percaya bahwa ia telah mencapai “Hindia” dan terus mencari utusan dari Khaqan Agung. Tanpa “kebohongan” atau berlebih-lebihannya Marco Polo tentang kekayaan Timur, motivasi finansial dan ambisi pribadi yang mendorong pelayaran tahun 1492 mungkin tidak akan pernah terwujud.

“I Have Not Told Half of What I Saw”: Wasiat dan Kematian

Menjelang kematiannya pada 8 Januari 1324, Marco Polo dikelilingi oleh kawan, keluarga, dan seorang pendeta. Dalam sebuah adegan yang terekam dalam tradisi sejarah Venesia, mereka mendesak Polo untuk bertobat dan menarik kembali semua “kebohongan” yang telah ia tulis agar ia bisa meninggal dengan tenang tanpa beban dosa. Dengan keteguhan hati yang luar biasa, Polo menjawab, “Aku belum menceritakan setengah dari apa yang benar-benar kulihat”.

Wasiat terakhirnya, yang disimpan di perpustakaan di Lapangan San Marco, mengungkapkan sisi lain dari kehidupannya yang sering kali luput dari perhatian: tanggung jawab sosialnya. Ia membebaskan seorang budak Tartar bernama Peter yang telah menemaninya sejak kepulangannya dari Timur dan memberikan warisan yang cukup besar bagi istri dan tiga putrinya: Fantina, Bellela, dan Moretta.

Kematiannya tidak mengakhiri perdebatan, tetapi justru memulainya. Versi Latin dari bukunya, Iter Marci Pauli Veneti, diterjemahkan oleh biarawan Dominikan Francesco Pipino atas perintah resmi gereja. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun publik awam mungkin skeptis, institusi yang paling berkuasa saat itu (Gereja Katolik) melihat nilai strategis dalam informasi Polo untuk misi penginjilan dan diplomasi di Timur.

Kesimpulan: Warisan Abadi sang Musafir

Marco Polo tetap menjadi sosok yang paradoksal: seorang pedagang yang menjadi diplomat, seorang narapidana yang menjadi penulis best-seller, dan seorang pengelana yang namanya menjadi sinonim dengan rasa ingin tahu yang tak terbatas. Apakah ia seorang penjelajah sejati atau tukang dongeng yang jenius? Bukti-bukti material seperti akurasi sistem pajak garam, mata uang kertas, dan misi Putri Kököchin menunjukkan bahwa ia memang berada di Tiongkok dan memiliki posisi yang signifikan di istana Mongol.

Namun, ia juga seorang anak zamannya yang bekerja dengan seorang penulis roman. Kisahnya adalah sebuah prisma di mana realitas empiris dibiaskan melalui tropos sastra abad pertengahan. Kesalahannya dalam hal zoologi (unicorn) atau penghilangannya dalam hal budaya (teh, tembok besar) tidaklah menghapus nilai fundamental dari karyanya.

Nilai sejati dari kisah Marco Polo bukanlah terletak pada presisi GPS modern, melainkan pada kemampuannya untuk menghancurkan horison sempit Eropa abad pertengahan. Ia membuktikan bahwa di balik “tirai Islam” dan gurun-gurun Asia Tengah, terdapat peradaban yang sama majunya, bahkan lebih megah, daripada peradaban mereka sendiri. Marco Polo tidak hanya membawa pulang batu permata yang dijahit di lipatan jubahnya; ia membawa pulang sebuah dunia baru yang akan terus menantang, menginspirasi, dan mengubah persepsi umat manusia tentang rumah mereka yang bernama Bumi.