Wally Herbert dan Kutub Utara: Perjalanan Berjalan di Atas Lautan Beku
Eksplorasi kutub utara pada paruh kedua abad ke-20 tidak lagi hanya tentang penaklukan geografis sederhana, melainkan sebuah ujian puncak terhadap integritas metodologi ilmiah dan daya tahan psikologis manusia. Di tengah sejarah yang dikaburkan oleh klaim-klaim heroik namun meragukan dari era sebelumnya, Sir Walter William “Wally” Herbert muncul sebagai sosok sentral yang memberikan validitas definitif pada pencapaian manusia di titik paling utara Bumi. Melalui Ekspedisi Trans-Arktik Britania yang berlangsung antara tahun 1968 hingga 1969, Herbert memimpin sebuah tim yang tidak hanya menyeberangi Samudra Arktik untuk pertama kalinya melalui poros terpanjangnya, tetapi juga menetapkan standar baru dalam pengumpulan data glasiologis yang kini menjadi fondasi bagi pemahaman modern mengenai perubahan iklim global.
Pencapaian Herbert sering kali disebut sebagai “perjalanan besar terakhir di Bumi,” sebuah deskripsi yang mencerminkan berakhirnya era penjelajahan fisik murni dan dimulainya era kesadaran lingkungan serta penemuan kedalaman mental manusia. Analisis mendalam terhadap ekspedisi ini mengungkapkan sebuah narasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar perjalanan dari titik A ke titik B. Ini adalah kisah tentang “mileage negatif” yang konstan, di mana es yang bergeser secara aktif melawan kemajuan manusia, serta keheningan kutub yang begitu absolut sehingga mampu mengubah struktur kesadaran para penjelajahnya.
Landasan Sejarah dan Kontroversi Pencapaian Kutub Utara
Untuk memahami signifikansi perjalanan Wally Herbert pada tahun 1969, sangat penting untuk meninjau kembali konteks sejarah yang mendahuluinya. Selama lebih dari enam dekade, dunia mempercayai bahwa Kutub Utara telah ditaklukkan oleh Robert Peary pada tahun 1909 atau mungkin Frederick Cook pada tahun 1908. Namun, klaim-klaim ini selalu diwarnai oleh keraguan yang mendalam di kalangan komunitas ilmiah dan geografis karena kurangnya verifikasi independen serta catatan navigasi yang tidak lengkap.
Robert Peary, misalnya, tidak menyertakan satu pun personel yang terlatih secara navigasi dalam tim akhirnya menuju kutub, yang berarti tidak ada orang lain yang bisa mengonfirmasi atau membantah hasil kerja navigasinya sendiri. Selain itu, kecepatan perjalanan yang diklaim oleh Peary pada tahap akhir perjalanannya dianggap mustahil oleh banyak pakar kutub, mengingat hambatan fisik berupa pematang tekanan (pressure ridges) dan celah air terbuka (leads) yang biasanya memperlambat kemajuan di atas es Arktik.
Wally Herbert di kemudian hari memainkan peran krusial dalam membongkar mitos-mitos ini. National Geographic Society, yang awalnya merupakan pendukung utama Peary, mempekerjakan Herbert pada tahun 1980-an untuk menilai catatan harian asli Peary dari tahun 1909 yang selama ini tidak dapat diakses oleh publik. Dengan keahliannya sebagai navigator dan surveyor, Herbert menyimpulkan bahwa Peary kemungkinan besar memalsukan catatan perjalanannya dan sebenarnya berada sekitar 30 hingga 60 mil dari kutub yang sebenarnya. Penelitian Herbert dalam bukunya, The Noose of Laurels, memicu kontroversi besar tetapi pada akhirnya diterima oleh banyak pihak sebagai penilaian paling objektif terhadap sejarah penaklukan Kutub Utara.
| Aspek Perbandingan | Robert Peary (1909) | Wally Herbert (1969) |
| Metode Transportasi | Kereta luncur anjing | Kereta luncur anjing |
| Verifikasi Navigasi | Tidak ada navigator independen | Tim ahli navigasi (Allan Gill) |
| Validitas Ilmiah | Diragukan, catatan tidak lengkap | Diakui secara universal oleh RGS dan Guinness |
| Durasi Perjalanan | 37 hari (klaim tahap akhir yang kontroversial) | 464 hari (penyeberangan penuh) |
| Tujuan Utama | Penaklukan titik geografis | Penyeberangan trans-Arktik dan riset ilmiah |
Konteks sejarah ini menempatkan Herbert bukan hanya sebagai penerus tradisi penjelajahan, tetapi sebagai sosok yang melakukan “koreksi sejarah” melalui pembuktian fisik bahwa mencapai Kutub Utara dengan berjalan kaki adalah tugas yang sangat sulit dan memerlukan waktu yang jauh lebih lama daripada yang diklaim oleh para pendahulunya.
Profil Wally Herbert: Penjelajah, Ilmuwan, dan Seniman
Walter William Herbert lahir di York, Inggris, pada tahun 1934, dan sejak usia dini, ia telah terpapar pada kehidupan yang berpindah-pindah karena latar belakang keluarganya yang militer. Masa mudanya dihabiskan di Mesir dan Afrika Selatan, di mana ia mulai mengasah kemampuan observasi terhadap bentang alam yang luas. Namun, adalah pengalamannya di Antartika yang benar-benar membentuknya menjadi penjelajah kutub yang ulung.
Antara tahun 1955 hingga 1962, Herbert bekerja dengan Falkland Islands Dependencies Survey (sekarang British Antarctic Survey) dan program Antartika Selandia Baru. Di Antartika, ia tidak hanya belajar cara bertahan hidup di suhu ekstrem, tetapi juga menjadi ahli dalam mengemudikan kereta luncur anjing, sebuah keterampilan yang ia sempurnakan dengan tinggal bersama masyarakat Inuit di Greenland. Selama periode ini, ia memetakan sekitar 45.000 mil persegi wilayah yang belum dijelajahi, termasuk survei di Pegunungan Queen Maud dan penelusuran kembali rute legendaris yang diambil oleh penjelajah seperti Shackleton, Scott, dan Amundsen.
Herbert sering digambarkan oleh rekan-rekannya, termasuk Sir Ranulph Fiennes, sebagai “penjelajah kutub terbesar di zaman kita”. Namun, keunikannya terletak pada fakta bahwa ia juga seorang seniman dan penulis yang produktif. Baginya, eksplorasi bukan sekadar tindakan fisik; itu adalah proses kreatif. Lukisan dan tulisan Herbert menangkap keindahan yang sunyi dan mematikan dari wilayah kutub dengan kepekaan yang jarang dimiliki oleh para petualang konvensional. Ia memandang dirinya sebagai “penjelajah yang sensitif,” yang mencari koneksi spiritual dengan lingkungan, bukan sekadar “penjelajah macho” yang ingin menaklukkan alam.
Persiapan untuk Ekspedisi Trans-Arktik Britania memakan waktu empat tahun perencanaan yang sangat teliti di Inggris dan Amerika Utara. Herbert memastikan bahwa setiap aspek teknis, mulai dari struktur kereta luncur hingga nutrisi anjing, dioptimalkan untuk kondisi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Ia merancang kereta luncurnya sendiri berdasarkan desain Peary tetapi dengan modifikasi yang lebih kuat untuk menghadapi medan Arktik yang terkenal lebih kasar dibandingkan Antartika.
Dinamika Tim Ekspedisi Trans-Arktik Britania
Keberhasilan ekspedisi ini tidak lepas dari komposisi tim yang dipilih Herbert dengan sangat selektif. Setiap anggota membawa keahlian spesifik yang sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pencapaian tujuan ilmiah ekspedisi tersebut.
- Allan Gill (Navigator): Seorang ahli navigasi yang sangat teliti, Gill bertanggung jawab untuk memastikan posisi tim di atas es yang terus bergerak. Tugas ini sangat menantang karena kompas sering kali tidak stabil di dekat kutub magnet, dan mereka harus mengandalkan navigasi bintang dan sextant dengan presisi tinggi.
- Dr. Roy “Fritz” Koerner (Glasiologis): Koerner bertugas melakukan penelitian ilmiah utama sepanjang perjalanan. Dedikasinya terhadap riset es Arktik sangat luar biasa; ia sering kali mengenakan baju selam untuk menyelam di bawah floe es guna mengukur ketebalan dan karakteristik bawah es.
- Major Ken Hedges (Petugas Medis): Sebagai dokter resimen SAS, Hedges memiliki ketangguhan fisik dan keahlian medis yang sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat. Selain menjaga kesehatan fisik tim, ia juga berperan penting dalam menjaga stabilitas mental kelompok selama bulan-bulan kegelapan.
Tim ini juga didukung oleh 40 anjing husky pilihan dari Greenland. Herbert sangat menghormati anjing-anjing ini, memandang mereka bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi sebagai mitra kerja yang memiliki insting bertahan hidup yang sering kali melampaui logika manusia.
Fase Awal: Dari Point Barrow Menuju Meltville
Ekspedisi dimulai pada 21 Februari 1968 dari Point Barrow, Alaska. Sejak hari pertama, tim menghadapi realitas yang mengerikan dari Samudra Arktik. Berbeda dengan Antartika yang merupakan daratan di bawah lapisan es, Arktik adalah lautan yang ditutupi oleh lapisan es yang tipis dan terus pecah. Herbert menggambarkan Samudra Arktik sebagai “wasteland yang tidak pernah diseberangi manusia,” sebuah permukaan yang seolah-olah berasal dari planet lain.
Tantangan fisik utama di awal perjalanan adalah “pressure ridges” atau pematang tekanan—gunung-gunung kecil dari pecahan es yang terbentuk akibat tabrakan lempeng es. Beberapa pematang ini bisa mencapai ketinggian 8 meter, memaksa tim untuk sering kali membongkar muatan kereta luncur dan mengangkatnya satu per satu melintasi rintangan tersebut. Selain itu, mereka harus waspada terhadap “leads” atau celah air terbuka yang bisa muncul secara tiba-tiba, memisahkan anggota tim atau menelan kereta luncur ke dalam air yang membeku.
Fenomena “Meltville” dan Stagnasi Musim Panas
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1.900 km, tim menghadapi musim panas Arktik yang berbahaya. Pada suhu yang lebih hangat, permukaan es mulai mencair dan membentuk kolam-kolam air tawar yang luas (melt pools), membuat perjalanan dengan kereta luncur anjing menjadi mustahil. Pada Juli 1968, tim terpaksa mendirikan kamp musim panas yang mereka beri nama “Meltville” di koordinat $81^{\circ}22’N, 165^{\circ}29’W$.
Di Meltville, tim menghabiskan 235 hari dalam kondisi stagnasi yang menguji kesabaran. Meskipun mereka tidak bisa bergerak maju, mereka tetap aktif melakukan penelitian ilmiah, mengambil sampel inti es, dan memantau pergerakan es. Selama periode ini, mereka menyadari bahwa mereka tidak bergerak menuju kutub seperti yang diharapkan, melainkan hanyut berputar-putar dalam arus yang tidak menguntungkan.
Fenomena Pergerakan Es: “Berjalan Mundur” Saat Tidur
Salah satu aspek paling unik dan melegenda dari ekspedisi Herbert adalah perlawanan konstan dari arus laut di bawah mereka. Samudra Arktik digerakkan oleh dua pola arus utama: Transpolar Drift Stream dan Beaufort Gyre. Herbert telah mempelajari pola-pola ini melalui data dari stasiun es terapung milik Rusia, namun menghadapi realitasnya secara langsung adalah hal yang berbeda.
Karena tim bergerak berlawanan dengan arah arus pada beberapa tahap perjalanan, mereka sering kali mengalami fenomena di mana mereka terbangun di pagi hari dan menemukan bahwa posisi mereka secara geografis lebih jauh dari kutub dibandingkan saat mereka mendirikan tenda di malam sebelumnya. Es Arktik bisa bergeser hingga kecepatan yang signifikan—beberapa catatan menunjukkan pergerakan hingga 400 yard per jam.
| Statistik Perjalanan | Nilai / Deskripsi |
| Jarak Total yang Ditempuh | 5.987 km (3.720 mil) |
| Durasi Total di Atas Es | 464 – 476 hari |
| Waktu di Kamp “Meltville” | 235 hari |
| Suhu Rata-rata Musim Dingin | -40F |
| Jumlah Sampel Inti Es | 250 sampel |
Keunikan teknis dari perjalanan ini adalah bahwa untuk mencapai jarak lurus sekitar 2.674 km dari Alaska ke Svalbard, tim harus menempuh hampir 6.000 km karena rute zig-zag yang dipaksakan oleh hambatan fisik dan drift es yang merugikan. Ini adalah bukti nyata dari ketabahan mental; para penjelajah harus menerima bahwa kerja keras fisik mereka selama seharian penuh bisa “dihapus” oleh pergerakan laut saat mereka beristirahat.
Ketabahan Mental dan Kesunyian Kutub yang Mematikan
Herbert sering kali menekankan bahwa tantangan terbesar di Arktik bukanlah suhu dingin atau kelelahan fisik, melainkan isolasi psikologis yang ekstrem. Selama musim dingin, tim hidup dalam kegelapan total selama berbulan-bulan, dengan suhu yang terus berada di bawah titik beku yang ekstrem. Dalam kesunyian absolut kutub, setiap suara—mulai dari retakan es hingga napas anjing—menjadi sangat menonjol.
Herbert menggambarkan kondisi ini sebagai “kesunyian yang memiliki massa dan berat.” Di tengah keheningan ini, pikiran manusia cenderung berkelana ke tempat-tempat yang tidak biasa. Herbert mencatat adanya perasaan spiritual yang mendalam dan fenomena psikologis seperti “out-of-body experience” di mana ia merasa seolah-olah melihat timnya dari ketinggian. Pengalaman ini, meskipun menakutkan, memberikan dimensi baru pada eksplorasi; ia bukan lagi sekadar memetakan daratan, tetapi memetakan batas-batas kesadaran manusia.
Ken Hedges juga mencatat bagaimana kesunyian tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang hampir musikal. Di akhir ekspedisi, ia mendengar suara merdu yang ternyata adalah nyanyian kawanan paus yang merambat melalui es, sebuah momen yang ia gambarkan sebagai pengingat bahwa alam semesta tidak diciptakan secara kebetulan.
Pencapaian Kutub Utara dan Penyeberangan ke Svalbard
Setelah menunggu kembalinya sinar matahari, tim melanjutkan perjalanan mereka dari Meltville pada Februari 1969. Namun, perjalanan ini hampir berakhir prematur ketika floe es tempat mereka berkemah mulai hancur berkeping-keping dengan suara yang meledak-ledak. Dalam kegelapan dan kekacauan, mereka harus menyelamatkan peralatan dan anjing-anjing mereka sebelum terpisah oleh retakan es yang semakin lebar.
Pada 6 April 1969—tepat 60 tahun setelah klaim Robert Peary—Wally Herbert dan timnya mencapai Kutub Utara Geografis. Mereka adalah orang pertama yang secara tidak terbantahkan mencapai titik tersebut melalui permukaan es dengan berjalan kaki dan menggunakan kereta luncur anjing. Perayaan mereka sangat sederhana: mengibarkan bendera Union Jack dan memakan sup daging sapi dalam suhu yang terlalu dingin untuk perayaan yang lebih lama.
Setelah mencapai kutub, tantangan berikutnya adalah mencapai Svalbard sebelum es musim panas 1969 mulai mencair kembali. Perjalanan dari kutub menuju Svalbard sering kali melibatkan navigasi melalui medan yang sangat hancur dan berbahaya. Mereka menghadapi beruang kutub yang agresif; dalam satu insiden, seekor beruang harus ditembak hanya beberapa meter sebelum menerkam anggota tim.
Landfall akhirnya dilakukan pada 29 Mei 1969 di Kepulauan Sjuoyane, Svalbard. Perjalanan berakhir dengan penjemputan oleh kapal HMS Endurance. Pencapaian ini diakui oleh Perdana Menteri Harold Wilson sebagai “prestasi ketahanan dan keberanian yang setara dengan sejarah kutub manapun,” dan oleh Pangeran Philip sebagai “salah satu kemenangan terbesar dari keterampilan dan daya tahan manusia”.
Warisan Ilmiah dan Kontribusi Terhadap Studi Perubahan Iklim
Meskipun aspek petualangan dari ekspedisi ini sangat menonjol, warisan ilmiahnya mungkin memiliki dampak yang lebih permanen. Data yang dikumpulkan oleh Roy Koerner selama penyeberangan trans-Arktik tersebut kini menjadi dataset benchmark untuk memahami dampak pemanasan global terhadap lapisan es kutub.
Koerner mengambil sampel inti es setiap dua hari sekali sepanjang perjalanan. Sampel-sampel ini memberikan catatan sejarah tentang polutan atmosfer dan ketebalan es pada era sebelum percepatan pencairan es Arktik yang kita saksikan hari ini. Tanpa data dari ekspedisi Herbert, para ilmuwan iklim modern akan kekurangan titik data historis yang krusial untuk memodelkan perubahan di Samudra Arktik.
Selain itu, tim ini memetakan sekitar 45.000 mil persegi wilayah kutub yang sebelumnya hanya terlihat dari udara atau tidak terpetakan sama sekali. Herbert menekankan bahwa seorang penjelajah sejati harus kembali dengan informasi yang berguna, terutama dalam bentuk peta dan data ilmiah, bukan sekadar cerita petualangan.
Kesimpulan: Wally Herbert sebagai Ikon Eksplorasi Terakhir
Sir Wally Herbert meninggal dunia pada tahun 2007, meninggalkan warisan sebagai penjelajah yang berhasil menggabungkan tradisi fisik “Heroic Age” dengan tuntutan ilmiah modern. Ia adalah orang pertama yang benar-benar berjalan ke Kutub Utara, tidak melalui klaim yang meragukan, tetapi melalui bukti fisik yang tak terbantahkan selama 16 bulan perjuangan di atas lautan beku.
Keberhasilannya bukan hanya terletak pada pencapaian geografisnya, tetapi pada kejujuran intelektualnya. Keberaniannya untuk menantang klaim Peary setelah ia sendiri merasakan betapa sulitnya medan Arktik menunjukkan integritas yang jarang ditemukan. Herbert membuktikan bahwa penaklukan Arktik bukan tentang kecepatan, tetapi tentang pemahaman terhadap ritme alam, kesabaran dalam menghadapi “mileage negatif,” dan kekuatan mental untuk bertahan dalam kesunyian yang mematikan.
Di era sekarang, di mana es Arktik terus menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, perjalanan Herbert pada tahun 1968-1969 mungkin tidak akan pernah bisa diulang dengan cara yang sama. Hal ini menjadikan pencapaiannya sebagai sebuah monumen bersejarah bagi kapasitas maksimal manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan paling ekstrem di planet ini. Wally Herbert bukan hanya penakluk Kutub Utara; ia adalah penjaga integritas eksplorasi kutub, seorang ilmuwan yang bekerja di garis depan perubahan iklim, dan seorang seniman yang menemukan keindahan di tengah wasteland yang beku.