Dark Tourism: Fenomenologi, Etika, dan Estetika di Balik Tragedi
Pariwisata kelam, atau yang secara akademis dikenal sebagai dark tourism, merupakan sebuah fenomena kompleks yang melibatkan kunjungan ke tempat-tempat yang secara historis terkait dengan kematian, penderitaan, bencana, atau hal-hal yang bersifat makabre. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah peradaban manusia; ketertarikan terhadap situs-situs tragedi telah terdokumentasi sejak zaman kuno, mulai dari gladiator di Colosseum Romawi hingga ziarah ke tempat-tempat kemartiran religius. Namun, dalam konteks modern, pariwisata kelam telah berkembang menjadi industri global bernilai miliaran dolar yang memicu debat mendalam mengenai moralitas, komodifikasi penderitaan, dan cara manusia kontemporer mengonsumsi sejarah. Analisis ini mengeksplorasi dimensi psikologis, etika, dan estetika dari pariwisata kelam, dengan fokus pada situs-situs ikonik seperti Chernobyl, Choeung Ek, dan Dharavi, serta bagaimana teknologi digital mengubah interaksi manusia dengan situs-situs memorial tersebut.
Ontologi dan Evolusi Dark Tourism: Dari Ritual ke Rekreasi
Istilah dark tourism pertama kali diperkenalkan oleh John Lennon dan Malcolm Foley pada tahun 1996, meskipun konsep serupa seperti thanatourism juga sering digunakan dalam literatur akademis untuk menggambarkan perjalanan yang didorong oleh keinginan akan pertemuan simbolis atau nyata dengan kematian. Secara ontologis, pariwisata kelam mencakup spektrum yang luas, mulai dari situs dengan “intensitas gelap” rendah seperti museum penjara yang telah difungsikan kembali, hingga situs dengan intensitas sangat tinggi seperti lokasi genosida yang masih segar dalam memori kolektif. Pertumbuhan fenomena ini di abad ke-21 mencerminkan pergeseran motivasi wisatawan dari sekadar mencari “hiburan yang menyenangkan” menjadi pencarian pengalaman yang lebih bermakna, edukatif, dan terkadang bersifat provokatif.
Historisitas pariwisata kelam menunjukkan bahwa manusia selalu memiliki dorongan untuk menyaksikan penderitaan orang lain, baik sebagai bentuk peringatan moral maupun hiburan. Pada era Victoria, misalnya, tur ke kamar mayat atau lokasi eksekusi publik merupakan hal yang lazim bagi kelas menengah di Eropa. Namun, transisi menuju pariwisata kelam modern ditandai oleh peran media massa yang masif dalam mendramatisasi peristiwa bencana, yang pada gilirannya menciptakan rasa ingin tahu global terhadap lokasi fisik peristiwa tersebut. Saat ini, situs-situs seperti Auschwitz-Birkenau atau Ground Zero di New York berfungsi tidak hanya sebagai tempat berkabung, tetapi juga sebagai institusi pendidikan yang berupaya menanamkan pesan “jangan pernah terjadi lagi” (never again) kepada jutaan pengunjung tahunan.
| Kategori Utama | Fokus Utama Lokasi | Contoh Signifikan |
| Holocaust Tourism | Penganiayaan dan genosida Nazi | Auschwitz-Birkenau, Polandia |
| Disaster Tourism | Bencana alam atau buatan manusia | Chernobyl, Ukraina; Fukushima, Jepang |
| Battlefield Tourism | Lokasi pertempuran dan militer | Waterloo, Belgia; Somme, Prancis |
| Prison Tourism | Fasilitas penahanan dan penyiksaan | Robben Island, Afrika Selatan; S-21, Kamboja |
| Cemetery Tourism | Pemakaman historis atau artistik | Père Lachaise, Prancis; Recoleta, Argentina |
| Slum Tourism | Pemukiman kumuh dan kemiskinan | Dharavi, India; Favela, Brasil |
Evolusi ini menunjukkan bahwa pariwisata kelam telah menjadi bagian integral dari ekonomi pengunjung kontemporer, di mana kematian dan bencana “dinetralkan” dan “dimediasi” melalui narasi kuratorial untuk konsumsi massa. Dalam banyak kasus, situs-situs ini mengalami rekonstruksi atau imajinasi ulang agar sesuai dengan kebutuhan turis, yang terkadang menimbulkan risiko distorsi sejarah demi komoditas konsumsi.
Psikologi di Balik Daya Tarik Penderitaan: Mengapa Kita Tertarik?
Salah satu pertanyaan paling mendasar dalam studi pariwisata kelam adalah motivasi psikologis yang mendorong manusia untuk secara sengaja mendatangi tempat-tempat penderitaan. Mengapa manusia modern, yang seringkali hidup dalam kenyamanan, merasa tertarik pada rasa sakit masa lalu? Penelitian mengidentifikasi bahwa dorongan ini bersifat multidimensional, melibatkan rasa ingin tahu eksistensial, kebutuhan akan edukasi, hingga keinginan untuk merasakan katarsis emosional.
Thanatopsis dan Pertemuan dengan Mortalitas
Secara psikologis, pariwisata kelam menawarkan ruang yang aman bagi individu untuk menghadapi konsep mortalitas tanpa harus mengalami bahaya nyata. Di dunia modern yang seringkali mensterilkan kematian dari kehidupan sehari-hari, mengunjungi situs tragedi memungkinkan wisatawan untuk melakukan thanatopsis, yaitu refleksi mendalam mengenai akhir kehidupan. Situs-situs ini bertindak sebagai memento mori, pengingat bahwa kehidupan manusia rapuh dan waktu sangat berharga. Dengan menyaksikan reruntuhan atau artefak korban, pengunjung seringkali merasakan apresiasi yang lebih besar terhadap kehidupan mereka sendiri.
| Motivasi Psikologis | Deskripsi Mekanisme | Hasil yang Diharapkan |
| Rasa Ingin Tahu (Curiosity) | Dorongan untuk melihat lokasi tragedi secara langsung. | Kepuasan kognitif dan pembuktian visual. |
| Edukasi dan Belajar | Keinginan memahami konteks sejarah dan politik. | Pemahaman intelektual tentang “mengapa” dan “bagaimana”. |
| Empati dan Solidaritas | Hubungan emosional dengan penderitaan korban. | Rasa kemanusiaan yang diperkuat dan komitmen moral. |
| Katarsis Emosional | Pelepasan emosi melalui kesedihan atau ketakutan. | Pembersihan emosional dan stabilitas psikologis. |
| Pencarian Makna | Upaya menemukan pelajaran hidup di balik bencana. | Kesadaran eksistensial dan pertumbuhan pribadi. |
| Horor dan Adrenalin | Ketertarikan pada aspek makabre atau menakutkan. | Sensasi fisik yang mirip dengan menonton film horor. |
Penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu dengan minat pada pariwisata kelam. Pengunjung yang memiliki skor tinggi pada sifat-sifat negatif seperti kerentanan psikologis atau kecenderungan ruminasi pada kesedihan terkadang menunjukkan ketertarikan yang lebih besar pada praktik wisata yang “lebih gelap”. Namun, mayoritas wisatawan didorong oleh motif yang lebih konvensional seperti pendidikan dan penghormatan. Selain itu, bagi mereka yang memiliki koneksi pribadi dengan tragedi tersebut, kunjungan dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengatasi rasa bersalah penyintas (survivor’s guilt) atau sebagai bentuk ziarah memorial.
Etika dan Kontroversi: Selfie di Tengah Tragedi
Debat etika yang paling tajam dalam pariwisata kelam berkaitan dengan perilaku pengunjung, terutama penggunaan media sosial di lokasi-lokasi sensitif. Apakah berfoto selfie di kamp konsentrasi merupakan bentuk penghormatan atau justru eksploitasi penderitaan demi konten? Munculnya budaya digital telah mengubah situs-situs peringatan menjadi latar belakang visual untuk presentasi diri, yang seringkali dianggap tidak pantas atau narsistik oleh masyarakat luas.
Fenomena Yolocaust dan Digilantism
Salah satu kritik yang paling keras terhadap fenomena ini adalah proyek “Yolocaust” oleh seniman Shahak Shapira, yang menyandingkan selfie wisatawan yang sedang bersenang-senang di Monumen Holocaust Berlin dengan foto-foto asli dari kamp kematian. Proyek ini menyoroti diskoneksi antara keseriusan sejarah dan kedangkalan interaksi digital kontemporer. Reaksi terhadap perilaku ini seringkali memicu digilantism, di mana netizen melakukan pengawasan dan kecaman online terhadap mereka yang mengunggah foto-foto yang dianggap tidak menghormati kesakralan situs tersebut.
Analisis semiotik terhadap foto-foto di Instagram menunjukkan bahwa selfie seringkali digunakan sebagai ekspresi “identitas ludik,” di mana platform sosial dianggap sebagai taman bermain untuk mobilitas diri yang dinamis. Bagi banyak wisatawan muda, mengunggah foto di situs seperti Auschwitz bukanlah tentang meremehkan tragedi, melainkan cara mereka mendefinisikan hubungan mereka dengan “budaya memori” di era digital. Namun, batasan moral tetap menjadi perdebatan; pose yang bersifat seksual, model-like, atau ekspresi ceria yang berlebihan tetap dianggap sebagai pelanggaran norma etika yang berat.
| Jenis Perilaku Kontroversial | Dampak Persepsi Publik | Risiko terhadap Situs |
| Selfie Ceria/Berpose | Dianggap tidak menghormati martabat korban. | Trivialisasi sejarah dan memori kolektif. |
| Penggunaan Tongkat Selfie | Mengganggu kekhidmatan dan pandangan orang lain. | Kerusakan fisik pada artefak (jika terjadi kontak). |
| Busana Tidak Pantas | Dianggap merendahkan kesakralan lokasi memorial. | Ketegangan budaya dengan masyarakat lokal/penyintas. |
| Kebisingan/Tertawa | Mengganggu refleksi dan kontemplasi pengunjung lain. | Erosi suasana emosional yang diperlukan untuk edukasi. |
Beberapa peneliti berpendapat bahwa pelarangan selfie secara total mungkin bukan solusi terbaik, karena partisipasi aktif dalam budaya memori—meskipun tidak sempurna—tetap membantu menjaga agar ingatan tentang tragedi tidak hilang sepenuhnya. Namun, pengelola situs tetap diharapkan untuk memberikan pedoman perilaku yang jelas dan interpretasi yang kaya untuk memastikan bahwa pengunjung memahami bobot sejarah dari tempat yang mereka kunjungi.
Studi Kasus I: Reaktor Nuklir Chernobyl dan Estetika Peluruhan
Bencana nuklir Chernobyl pada April 1986 merupakan titik balik dalam sejarah teknologi dan lingkungan manusia. Setelah ledakan reaktor nomor 4, zona eksklusi seluas ribuan kilometer persegi diciptakan, meninggalkan kota Pripyat sebagai kota mati yang membeku dalam waktu. Sejak dibuka untuk pariwisata terorganisir pada tahun 2011, Chernobyl telah menjadi salah satu destinasi pariwisata kelam paling populer di dunia, dengan lonjakan pengunjung yang signifikan setelah penayangan miniseri HBO pada tahun 2019.
Antara Bahaya dan Keindahan Alam yang Kembali
Daya tarik utama Chernobyl terletak pada “estetika peluruhan” dan kontras yang tajam antara reruntuhan beton Soviet dengan kekuatan alam yang mengambil kembali lahan tersebut. Wisatawan ditarik oleh pemandangan taman hiburan yang berkarat, sekolah dengan masker gas yang berserakan, dan apartemen yang kini ditumbuhi pepohonan. Fenomena ini menciptakan rasa kagum terhadap ketangguhan alam sekaligus kengerian atas kegagalan teknologi manusia.
| Fakta dan Data Chernobyl | Keterangan Detil | Implikasi Pariwisata |
| Luas Zona Eksklusi | Sekitar 4.143 kilometer persegi. | Menyediakan area luas untuk eksplorasi “wisata ekstrem”. |
| Jumlah Pengunjung (2019) | Lebih dari 87.000 orang (naik dari 72.000 di 2018). | Tekanan pada infrastruktur dan tantangan manajemen keamanan. |
| Flora dan Fauna | Kehadiran serigala, beruang, dan bison di zona tanpa manusia. | Menambah dimensi “wisata ekologi” di tengah radiasi. |
| Status UNESCO | Dalam proses pengajuan sebagai Situs Warisan Dunia. | Upaya melindungi integritas sejarah dari komersialisasi liar. |
| Rencana Energi | Proyek pembangkit listrik tenaga surya 1 GW. | Transformasi narasi dari “zona mati” ke “zona kebangkitan”. |
Namun, manajemen Chernobyl menghadapi dilema besar antara mempertahankan otentisitas reruntuhan yang membusuk secara alami dengan kebutuhan untuk mengamankan situs agar tidak membahayakan pengunjung. Selain itu, terdapat risiko “Disneyfikasi” di mana situs tersebut diperlakukan sebagai taman bermain untuk petualangan daripada sebagai tempat peringatan tragedi kemanusiaan. Invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 menambah lapisan kegelapan baru pada situs ini, di mana pertempuran fisik kembali terjadi di lokasi bencana nuklir terburuk di dunia, mengingatkan kita bahwa stabilitas keamanan di situs-situs sensitif bersifat sangat rentan.
Studi Kasus II: Ladang Pembantaian Choeung Ek dan Genosida Kamboja
Choeung Ek, yang terletak di pinggiran Phnom Penh, merupakan salah satu dari ratusan “Killing Fields” di mana rezim Khmer Rouge mengeksekusi lebih dari satu juta orang antara tahun 1975 dan 1979. Sebagai situs pariwisata kelam primer di Kamboja, Choeung Ek menawarkan pengalaman yang sangat visceral dan menyedihkan, di mana bukti fisik genosida masih sangat terasa.
Stupa Memorial dan Kesaksian Tulang Belulang
Fokus utama dari situs ini adalah stupa Buddha setinggi 17 lantai yang berisi ribuan tengkorak dan tulang korban yang diekskavasi dari kuburan massal di sekitarnya. Banyak dari tengkorak ini menunjukkan trauma benda tumpul, mencerminkan metode eksekusi brutal menggunakan kapak atau bambu runcing demi menghemat amunisi. Pengunjung dipandu melalui jalur yang melewati lubang-lubang kuburan massal, di mana fragmen pakaian dan tulang terkadang masih muncul ke permukaan tanah setelah hujan lebat.
| Elemen Situs Choeung Ek | Signifikansi Sejarah dan Edukasi | Respons Pengunjung |
| Stupa Peringatan | Berisi >8.000 tengkorak korban yang diklasifikasikan. | Simbol duka nasional dan pengingat kebrutalan absolut. |
| Kuburan Massal | 129 lubang ditemukan; 86 telah digali. | Memberikan dimensi spasial terhadap skala pembantaian. |
| Audio-Guide | Narasi tentang sejarah, taktik Khmer Rouge, dan testimoni penyintas. | Komponen krusial dalam menciptakan empati dan pemahaman. |
| Pohon Chankiri | Pohon yang digunakan untuk membunuh anak-anak dengan cara dihantamkan. | Titik paling emosional yang sering memicu trauma sekunder. |
Manajemen Choeung Ek berupaya menyeimbangkan antara penghormatan religius (melalui ritual Buddha) dengan fungsi edukasi global. Namun, komersialisasi tetap menjadi isu; kehadiran penjual suvenir dan iklan bir di kursi-kursi di dekat situs pembantaian telah dikritik sebagai ketidakpekaan yang ekstrem. Selain itu, perilaku wisatawan yang tidak sopan, seperti tertawa atau berpose ceria di depan kuburan massal, terus menjadi tantangan bagi pengelola situs.
Studi Kasus III: Slum Tourism di Dharavi dan Etika Kemiskinan
Berbeda dengan situs kematian historis, slum tourism atau wisata pemukiman kumuh di Dharavi, India, berfokus pada penderitaan hidup kontemporer. Dharavi, yang dihuni oleh sekitar satu juta orang, seringkali dipandang sebagai “poverty porn” oleh kritikus Barat, namun dipandang sebagai peluang pemberdayaan oleh sebagian penduduk lokal.
Antara Voyeurisme dan Pemahaman Lintas Budaya
Kritik utama terhadap tur Dharavi adalah sifatnya yang voyeuristik, di mana orang-orang beruntung membayar untuk mengamati kemiskinan seolah-olah sedang berada di kebun binatang manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa tur yang dikelola secara bertanggung jawab dapat membantu meruntuhkan stereotip negatif tentang daerah kumuh. Alih-alih hanya menunjukkan kesengsaraan, tur di Dharavi seringkali menonjolkan semangat industri, kreativitas, dan struktur sosial yang kompleks dari komunitas tersebut.
| Dimensi Etika | Argumen Penentang (Kritik) | Argumen Pendukung (Pemberdayaan) |
| Dignitas Manusia | Kemiskinan dijadikan tontonan untuk hiburan. | Memberikan visibilitas pada komunitas yang terpinggirkan. |
| Distribusi Ekonomi | Keuntungan seringkali hanya dinikmati operator luar. | Model bagi hasil (misalnya Reality Tours menyumbang 80%). |
| Akurasi Narasi | Romantisasi kemiskinan atau fokus pada penderitaan ekstrem. | Mengedukasi pengunjung tentang realitas ekonomi informal. |
| Privasi Penduduk | Turis merambah ruang pribadi tanpa izin. | Kebijakan “tanpa foto” dan interaksi yang saling menghormati. |
Keberhasilan pariwisata di Dharavi sangat bergantung pada sejauh mana komunitas lokal dilibatkan dan mendapatkan manfaat langsung dari arus wisatawan tersebut. Tanpa keterlibatan aktif penghuni, pariwisata ini berisiko menjadi eksploitasi murni yang hanya memperdalam stigma sosial terhadap penduduk daerah kumuh.
Dark Tourism di Indonesia: Kekayaan Sejarah dan Bencana
Indonesia memiliki potensi pariwisata kelam yang luar biasa karena sejarah perjuangan kemerdekaannya yang panjang dan posisi geografisnya yang rawan bencana. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mengidentifikasi pariwisata kelam sebagai ceruk pasar strategis yang dapat dikembangkan untuk mengedukasi masyarakat dan menghormati para korban.
Museum Tsunami Aceh: Memorial dan Mitigasi
Salah satu contoh terbaik di Indonesia adalah Museum Tsunami Aceh yang didirikan untuk memperingati bencana maha dahsyat pada tahun 2004. Museum ini dirancang untuk memberikan pengalaman emosional yang mendalam melalui “Lorong Tsunami” yang gelap dan lembab, menyimulasikan ketakutan saat bencana terjadi. Menariknya, di Aceh, pariwisata kelam dikemas dengan nilai-nilai religius, di mana tsunami diinterpretasikan sebagai ujian Tuhan yang membentuk ketangguhan iman masyarakat setempat.
Lumpur Lapindo dan Memori Kolektif
Di Jawa Timur, situs Lumpur Lapindo telah menjadi destinasi pariwisata kelam yang unik, di mana wisatawan datang untuk menyaksikan lanskap yang hancur oleh semburan lumpur panas yang tak kunjung berhenti. Meskipun secara teknis merupakan lokasi bencana industri yang masih berlangsung, situs ini berfungsi sebagai monumen kegagalan manusia dan peringatan akan dampak lingkungan yang permanen. Di lokasi lain seperti lereng Merapi, Museum “Sisa Hartaku” menunjukkan bagaimana artefak sehari-hari yang hangus dapat menjadi narasi yang kuat tentang kehilangan dan pemulihan.
| Situs Dark Tourism Indonesia | Jenis Tragedi | Elemen Kunci |
| Museum Tsunami Aceh | Bencana Alam (2004) | Lorong Tsunami, Ruang Sumur Doa, Mitigasi Bencana. |
| Lumpur Lapindo, Sidoarjo | Bencana Industri (2006) | Patung-patung di tengah lumpur, pemandangan atap tenggelam. |
| Lubang Buaya, Jakarta | Sejarah Politik (1965) | Monumen Pancasila Sakti, diorama penyiksaan. |
| Museum Sisa Hartaku, Merapi | Letusan Gunung Api (2010) | Kerangka hewan, jam dinding yang berhenti saat letusan. |
| Goa Jepang, Bandung/Biak | Sejarah Perang Dunia II | Bunker pertahanan, narasi kerja paksa (romusha). |
Potensi pariwisata kelam di Indonesia masih sangat luas, mencakup situs-situs pembantaian massal 1965 hingga bekas penjara kolonial seperti Lawang Sewu. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyajikan sejarah sensitif ini tanpa membuka luka lama bagi keluarga korban atau menyinggung kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.
Manajemen Situs dan Tantangan Praktisi: Edukasi vs. Profit
Pengelolaan situs pariwisata kelam memerlukan keahlian khusus yang melampaui manajemen pariwisata konvensional. Praktisi harus mampu menyeimbangkan tuntutan komersial untuk keberlanjutan operasional dengan tanggung jawab moral untuk menjaga kesakralan dan akurasi sejarah.
Dilema Managerial dan Politis
Para pengelola situs seringkali menghadapi “dilema manajerial” mengenai sejauh mana sebuah lokasi harus direstorasi atau dibiarkan hancur secara alami untuk menjaga otentisitasnya. Di Auschwitz, misalnya, volume pengunjung yang mencapai jutaan orang per tahun telah menciptakan masalah “over-tourism” yang memaksa pengelola menerapkan sistem kontrol kerumunan yang ketat, yang terkadang membuat pengalaman terasa kurang personal dan terlalu “mekanis”.
| Dimensi Manajemen | Deskripsi Tantangan | Strategi Solusi |
| Integritas Narasi | Menghindari sensasionalisme atau distorsi politik. | Penggunaan “educator” daripada sekadar “tour guide”. |
| Konservasi Fisik | Mencegah kerusakan artefak oleh massa wisatawan. | Pembatasan kuota harian dan jalur jalan yang ditentukan. |
| Pengalaman Pengunjung | Mengelola emosi dan perilaku wisatawan. | Audio-guide yang mengatur ritme dan volume suara. |
| Pendanaan | Mencari dana pemeliharaan tanpa mengandalkan komersialisasi vulgar. | Tiket berbayar yang dialokasikan untuk riset dan pelestarian. |
Sebuah studi mengenai perspektif praktisi mengungkapkan bahwa banyak dari mereka menolak label dark tourism karena dianggap memiliki konotasi negatif yang dapat mengurangi nilai penghormatan dan perayaan kehidupan di balik tragedi tersebut. Mereka lebih memilih istilah seperti “warisan sulit” (difficult heritage) atau “memorialisasi” yang lebih mencerminkan tujuan moral utama dari situs tersebut: edukasi, empati, dan penghormatan terhadap memori korban.
Kesimpulan: Kebijaksanaan dalam Bayang-Bayang Maut
Pariwisata kelam, dalam segala kontradiksi dan kontroversinya, merupakan cermin dari kondisi kemanusiaan kita. Ketertarikan kita pada situs-situs tragedi bukanlah semata-mata manifestasi dari voyeurisme yang tidak sehat, melainkan ekspresi dari dorongan fundamental untuk memahami sejarah, menghadapi mortalitas, dan mencari pelajaran moral di balik kegelapan. Melalui pertemuan dengan penderitaan masa lalu, kita diingatkan akan kerapuhan peradaban dan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
Keindahan di balik tragedi dalam pariwisata kelam bukanlah keindahan estetika yang dangkal, melainkan keindahan dari “ingatan yang hidup” (living memory). Keindahan ini ditemukan saat alam tumbuh kembali di atas beton Chernobyl yang retak, saat ribuan nama korban tsunami diukir dengan penuh doa di dinding museum Aceh, atau saat seorang anak muda di Kamboja belajar tentang perdamaian melalui reruntuhan penjara S-21. Namun, agar potensi edukatif ini tidak tergerus oleh komersialisasi dan kedangkalan era digital, diperlukan komitmen bersama dari wisatawan, pengelola situs, dan masyarakat global untuk mendekati situs-situs ini dengan rasa hormat, kerendahan hati, dan kesadaran akan tanggung jawab sejarah. Pada akhirnya, pariwisata kelam mengajarkan kita bahwa setiap perjalanan ke dalam kegelapan masa lalu adalah sebuah upaya untuk menemukan cahaya bagi masa depan yang lebih baik.