Loading Now

Manusia Versi 2.0: Mengintip Gaya Hidup Ilmuwan yang Mencoba ‘Meretas’ Kematian

Fenomena transhumanisme dan pencarian keabadian biologis telah bergeser dari ranah fiksi ilmiah menuju observasi laboratorium yang presisi dan protokol gaya hidup yang didorong oleh data masif. Manusia Versi 2.0 bukan sekadar metafora untuk perbaikan kesehatan, melainkan sebuah paradigma rekayasa biologis di mana tubuh dipandang sebagai sistem operasi yang dapat dioptimalkan, diperbaiki, dan pada akhirnya, diperbarui secara berkala. Di jantung gerakan ini terdapat sekelompok ilmuwan, pengusaha teknologi, dan peneliti biogerontologi yang tidak lagi menerima penuaan sebagai proses alami yang tak terelakkan, melainkan sebagai kumpulan kerusakan molekuler yang dapat dikelola dan dibalikkan. Analisis mendalam terhadap gaya hidup mereka mengungkapkan perpaduan antara disiplin biometrik yang ekstrem, intervensi farmakologis mutakhir, dan visi filosofis yang menantang batas-batas mortalitas manusia.

Arsitektur Project Blueprint: Algoritma Kehidupan Bryan Johnson

Bryan Johnson, seorang wirausahawan teknologi yang menjual perusahaannya, Braintree, seharga ratusan juta dolar, telah mendedikasikan hidupnya untuk menjadi subjek uji coba paling komprehensif dalam sejarah medis melalui Project Blueprint. Fokus utama Blueprint bukanlah sekadar kesehatan, melainkan pencapaian usia biologis yang jauh di bawah usia kronologis, dengan target organ fungsional setara dengan individu berusia 18 tahun. Johnson mengoperasikan tubuhnya berdasarkan prinsip “Zeroism,” di mana setiap keputusan gaya hidup diserahkan kepada algoritma data yang berasal dari pemantauan klinis tanpa henti, menghilangkan bias keinginan manusiawi yang sering kali merusak kesehatan.

Implementasi gaya hidup ini memerlukan komitmen finansial yang luar biasa, mencapai sekitar $2 juta per tahun untuk mendanai tim yang terdiri dari lebih dari 30 dokter dan pakar kesehatan yang memantau setiap aspek fisiologisnya. Johnson menjalani lebih dari 50 jenis pengujian biomarker secara rutin, termasuk pemindaian MRI seluruh tubuh, kolonoskopi, ultrasonografi, dan tes darah bulanan untuk mendeteksi tanda-tanda inflamasi atau degenerasi sekecil apa pun. Data ini kemudian digunakan untuk menyetel ulang protokol nutrisi, suplemen, dan latihan fisiknya setiap hari.

Protokol Nutrisi Presisi dan Diet Berbasis Data

Nutrisi dalam Project Blueprint adalah bentuk rekayasa kimia yang sangat terperinci. Johnson mengonsumsi diet nabati murni (vegan) yang dirancang untuk memberikan kepadatan nutrisi maksimal dengan beban kalori minimal yang tetap mendukung fungsi vital. Asupan kalorinya dibatasi secara ketat pada angka 1.977 hingga 2.250 kkal per hari, sebuah praktik yang didasarkan pada penelitian puluhan tahun yang menunjukkan bahwa pembatasan kalori tanpa malnutrisi adalah salah satu cara paling konsisten untuk memperpanjang masa hidup pada berbagai spesies hewan.

Jadwal makan Johnson mengikuti pola puasa intermiten yang ekstrem, di mana semua makanan dikonsumsi dalam jendela waktu yang sangat sempit di pagi hari. Makan terakhirnya sering kali dilakukan pada pukul 11:00 pagi, yang memberikan waktu lebih dari 18 jam bagi tubuhnya untuk berada dalam kondisi puasa. Periode puasa yang panjang ini sangat krusial karena memicu proses autofagi, sebuah mekanisme pembersihan seluler di mana sel-sel menghancurkan komponen yang rusak dan protein yang salah lipat, yang merupakan kontributor utama penyakit neurodegeneratif dan penuaan seluler.

Komponen Nutrisi Blueprint Deskripsi dan Bahan Utama Target Fisiologis
Longevity Mix (05:25) Kreatin (7.5g), Kolagen (22g), Taurin, Amino Asid, Spermidine, Galakto-oligosakarida, Inulin. Perbaikan otot, kesehatan sendi, dukungan mikrobioma usus, dan energi seluler.
Super Veggie (09:00) Lentil hitam (45g kering), brokoli, kembang kol, jamur Maitake/Shiitake, bawang putih, jahe, minyak zaitun ekstra virgin. Aktivasi jalur sirtuin, anti-inflamasi sistemik, dan pencegahan oksidasi DNA.
Nut Pudding (06:45) Campuran beri (stroberi, raspberi), kacang kenari, biji rami, santan macadamia, cokelat hitam (6g), minyak zaitun. Polifenol untuk kesehatan vaskular dan lemak sehat untuk fungsi kognitif.
Macros Harian Karbohidrat 33%, Protein 19%, Lemak 48% (bervariasi). Keseimbangan metabolisme dan kontrol glikemik yang stabil.

Kebutuhan nutrisi makro dan mikro ini dilengkapi dengan tumpukan suplemen yang terdiri dari lebih dari 100 pil per hari. Beberapa senyawa kunci termasuk Nicotinamide Riboside (NR) atau NMN untuk meningkatkan kadar NAD+, Metformin untuk kontrol gula darah, dan berbagai antioksidan spesifik yang menargetkan jalur mitokondria.

Rejimen Latihan Fisik dan Keunggulan Kardiovaskular

Latihan fisik dalam gaya hidup ilmuwan peretas kematian tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan diatur untuk mengoptimalkan VO_2 max, kekuatan otot, dan fleksibilitas tanpa menyebabkan cedera yang dapat memicu inflamasi kronis. Johnson melakukan latihan selama satu jam setiap hari, yang mencakup 25 menit latihan intensitas sedang (Zone 2) dan sesi HIIT (High-Intensity Interval Training) yang dirancang untuk memacu detak jantung hingga di atas 90% dari batas maksimalnya.

Protokol latihan ini sangat mementingkan pencegahan cedera sebagai prioritas utama karena cedera fisik dianggap sebagai “limbah” waktu dan energi yang mempercepat penuaan biologis. Latihan kekuatan dilakukan tiga kali seminggu untuk mempertahankan massa otot dan kepadatan tulang, yang merupakan indikator kuat untuk umur panjang fungsional. Selain itu, mobilitas dan keseimbangan dilatih secara harian untuk memastikan integritas sistem saraf dan sendi hingga usia tua.

Jenis Latihan Frekuensi dan Durasi Manfaat Longevitas
Kardio Zone 2 150 menit per minggu Peningkatan efisiensi mitokondria dan kesehatan metabolik.
HIIT (Norwegian Protocol) 75 menit per minggu (4×4 menit) Peningkatan kapasitas vaskular dan VO_2 max
Latihan Kekuatan 3 hari per minggu (Squats, Push-ups, Rows) Pencegahan sarkopenia dan osteoporosis.
Aktifitas Mobilitas Setiap hari (Yoga, Stretching) Menjaga fleksibilitas fasia dan kesehatan sendi.

Arsitektur Tidur: Fondasi Utama Perbaikan Seluler

Bagi Johnson dan para praktisi Blueprint lainnya, tidur adalah prioritas kehidupan nomor satu. Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan fase aktif di mana otak menjalankan sistem pembersihan limbah glimfatik dan tubuh melakukan perbaikan seluler yang paling intensif. Johnson tidur tepat pada pukul 20:30 setiap malam di ruangan yang dikontrol suhu (15-19°C), menggunakan tirai pemblokir cahaya total, dan mesin suara untuk memastikan tidur tanpa gangguan.

Sebelum tidur, ia mengenakan kacamata pemblokir cahaya biru selama dua jam untuk melindungi produksi melatonin alami. Ia juga menghindari stimulan seperti kafein setelah tengah hari dan mengonsumsi dosis mikro melatonin (300 mcg) untuk mendukung ritme sirkadiannya. Semua variabel ini dipantau menggunakan sensor tidur yang memberikan skor harian; kegagalan dalam mencapai skor tidur sempurna dianggap sebagai kegagalan sistemik dalam protokol hari itu.

Teori Informasi Penuaan: Paradigma Epigenetik David Sinclair

Dr. David Sinclair, seorang profesor genetika di Harvard Medical School, menawarkan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi dalam memahami penuaan. Menurut Sinclair, penuaan pada dasarnya adalah masalah hilangnya informasi seluler. Ia mengibaratkan sel manusia seperti perangkat keras komputer, sedangkan informasi epigenetik adalah perangkat lunaknya. Seiring berjalannya waktu, “perangkat lunak” ini mengalami gangguan, menyebabkan sel kehilangan identitasnya—sebuah sel kulit mungkin “lupa” bahwa ia adalah sel kulit dan mulai berperilaku seperti sel saraf yang tidak berfungsi, yang menyebabkan kerusakan jaringan dan organ.

Aktivasi Sirtuin dan Peran NAD+

Inti dari strategi Sinclair adalah aktivasi sirtuin, sebuah kelompok protein yang berfungsi sebagai penjaga kesehatan seluler. Sirtuin bertanggung jawab untuk memperbaiki DNA yang rusak, mengatur peradangan, dan melindungi sel dari stres oksidatif. Namun, sirtuin membutuhkan koenzim yang disebut Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NAD+) untuk bekerja. Masalah utamanya adalah kadar NAD+ dalam tubuh manusia menurun sekitar 50% setiap 20 tahun, yang berarti pada usia 50 tahun, kemampuan tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri sudah berkurang drastis.

Untuk mengatasi hal ini, Sinclair mengonsumsi prekursor NAD+ seperti Nicotinamide Mononucleotide (NMN). NMN secara efisien diubah menjadi NAD+ di dalam sel, sehingga memberikan “bahan bakar” yang cukup bagi sirtuin untuk terus menjalankan fungsi pemeliharaannya.

Senyawa Longevitas Mekanisme Aksi Rationale Ilmiah
NMN (1 gram) Meningkatkan kadar NAD+ seluler Mendukung perbaikan DNA dan fungsi mitokondria.
Resveratrol (1 gram) Aktivator sirtuin (SIRT1) Meniru efek pembatasan kalori dan melindungi pembuluh darah.
Metformin (800 mg) Penghambat kompleks I mitokondria Mengaktifkan jalur AMPK dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Fisetin (500 mg) Agen senolitik Menghilangkan sel-sel tua yang beracun (“sel zombie”)
Spermidine (1 mg) Induser autofagi Mendorong daur ulang komponen seluler yang rusak.

Sinclair mengonsumsi suplemen ini di pagi hari dengan sedikit yogurt buatan sendiri, karena lemak dalam yogurt membantu penyerapan resveratrol yang bersifat hidrofobik. Selain suplementasi, Sinclair mempraktikkan puasa intermiten (sering kali makan hanya satu kali sehari atau OMAD) dan menghindari gula serta karbohidrat olahan sejak usia 40-an untuk mencegah lonjakan glukosa yang dapat mempercepat kerusakan epigenetik.

Kritik Terhadap Komersialisasi dan Keakuratan Sains

Meskipun David Sinclair adalah tokoh populer yang berhasil menarik perhatian dunia pada biologi penuaan, ia tidak lepas dari kritik tajam di kalangan komunitas medis. Dr. Charles Brenner, seorang pakar biologi NAD+, adalah pengritik paling vokal yang menyatakan bahwa Sinclair sering kali memberikan narasi yang terlalu disederhanakan dan bersifat spekulatif tentang “pembalikan usia”.

Brenner berpendapat bahwa sirtuin bukanlah “gen umur panjang” yang universal dan bahwa hasil positif pada tikus atau ragi sering kali gagal direplikasi pada manusia. Lebih jauh lagi, keterlibatan Sinclair dalam berbagai perusahaan suplemen dan promosi produk yang tidak memiliki bukti klinis kuat pada manusia (seperti suplemen untuk anjing) telah memicu kekhawatiran tentang integritas akademisnya. Kontroversi ini menyoroti ketegangan antara sains fundamental yang lambat dan hati-hati dengan gerakan biohacking yang ingin segera mengaplikasikan temuan awal demi keuntungan pribadi atau komersial.

Strategi SENS: Pendekatan Rekayasa Terhadap Kerusakan Biologis

Aubrey de Grey, pendiri SENS Research Foundation, membawa perspektif yang sangat berbeda—ia tidak mencoba mengubah metabolisme manusia, melainkan mencoba memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya. De Grey membagi proses penuaan ke dalam tujuh kategori kerusakan teknis yang dapat diidentifikasi dan, secara teoritis, dapat diperbaiki melalui intervensi medis.

Tujuh Kategori Kerusakan Penuaan (SENS)

Kerangka kerja SENS (Strategies for Engineered Negligible Senescence) memandang tubuh manusia seperti mobil klasik yang dapat bertahan selamanya jika setiap bagian yang rusak diperbaiki secara berkala. Hingga tahun 2026, kemajuan dalam kategori-kategori ini telah mencapai tahap uji klinis yang menjanjikan.

  1. RepleniSENS (Kehilangan Sel dan Atrofi Jaringan): Solusinya adalah terapi sel punca untuk menggantikan sel-sel yang mati di organ vital seperti otak dan jantung. Pada 2025, infus sel punca mesenkimal (Lomecel-B) telah menunjukkan hasil awal dalam meningkatkan kebugaran fisik pada lansia yang lemah.
  2. ApoptoSENS (Sel Senesen): Sel-sel “zombie” yang menumpuk seiring bertambahnya usia melepaskan faktor inflamasi yang merusak jaringan sehat di sekitarnya. Penggunaan obat senolitik seperti kombinasi Dasatinib dan Quercetin sedang diuji untuk penyakit ginjal dan paru-paru.
  3. GlycoSENS (Ikatan Silang Protein): Gula dalam darah dapat membentuk ikatan kimia permanen antara protein (cross-links), yang menyebabkan kekakuan pada arteri dan kerutan pada kulit. Enzim bakteri sedang dikembangkan untuk memutus ikatan ini dan mengembalikan elastisitas jaringan.
  4. AmyloSENS (Agregat Ekstraseluler): Penumpukan sampah protein di luar sel, seperti plak beta-amiloid pada Alzheimer. Penggunaan antibodi monoklonal seperti lecanemab kini telah disetujui untuk membersihkan plak ini dari otak pasien.
  5. LysoSENS (Sampah Intraseluler): Sampah yang menumpuk di dalam lisosom sel mencegah sel berfungsi dengan baik. Terapi penggantian enzim sedang dikembangkan untuk membersihkan kolesterol teroksidasi yang menyebabkan aterosklerosis.
  6. MitoSENS (Mutasi Mitokondria): Kerusakan pada DNA mitokondria menyebabkan kegagalan energi seluler. Strateginya adalah memindahkan gen mitokondria yang penting ke dalam inti sel yang lebih terlindungi melalui terapi gen.
  7. OncoSENS (Mutasi Nuklir dan Kanker): Penuaan meningkatkan risiko mutasi DNA yang memicu kanker. De Grey mengusulkan penghapusan gen telomerase untuk menghentikan kemampuan sel kanker membelah diri secara tak terbatas, dikombinasikan dengan pengisian sel punca secara berkala.

Longevity Escape Velocity: Melampaui Batas Waktu

Konsep yang paling terkenal dari Aubrey de Grey adalah Longevity Escape Velocity (LEV). Ini adalah titik waktu di mana kemajuan dalam teknologi peremajaan biologis berkembang lebih cepat daripada laju penuaan manusia. Jika LEV tercapai, setiap tahun seseorang hidup, sains akan memberikan lebih dari satu tahun harapan hidup tambahan melalui teknologi baru.

De Grey memperkirakan ada peluang 50% untuk mencapai LEV dalam 12-15 tahun ke depan (sekitar pertengahan 2030-an), asalkan terdapat investasi masif dalam riset biogerontologi. Pandangan ini didukung oleh lonjakan pendanaan dalam satu dekade terakhir dari para miliarder Silicon Valley yang memandang kematian sebagai masalah teknis yang dapat dipecahkan melalui rekayasa perangkat lunak biologis.

Uji Coba Manusia dan Terapi Gen Radikal

Di luar suplemen dan gaya hidup, beberapa ilmuwan dan peretas kematian telah melangkah ke wilayah yang lebih ekstrem: memodifikasi kode genetik mereka sendiri.

Elizabeth Parrish: Pasien Zero Anti-Penuaan

Pada tahun 2015, Elizabeth Parrish, CEO perusahaan bioteknologi BioViva, melakukan perjalanan ke Kolombia untuk menerima dua jenis terapi gen eksperimental yang tidak disetujui di Amerika Serikat. Ia menyuntikkan dirinya dengan terapi gen telomerase (untuk memperpanjang telomere) dan penghambat miostatin (untuk mencegah pengecilan otot).

Tindakan ini memicu perdebatan etis yang sengit karena melompati prosedur uji klinis standar. Namun, Parrish mengklaim bahwa ia tidak ingin menunggu 20 tahun lagi untuk mendapatkan persetujuan regulasi sementara jutaan orang meninggal setiap tahun akibat penyakit terkait usia. Data tindak lanjut yang dirilis hingga 2025 menunjukkan bahwa telomere dalam sel darah putihnya memanjang secara signifikan, yang diklaim sebagai bukti pertama pembalikan usia biologis melalui manipulasi genetik pada manusia.

Pemrograman Ulang Seluler dan Faktor Yamanaka

Kemajuan terbaru yang paling menarik adalah penemuan bahwa sel dewasa dapat diprogram ulang kembali ke keadaan muda menggunakan apa yang disebut sebagai “Faktor Yamanaka” (OCT4, SOX2, KLF4, c-MYC). Teknik ini, yang memenangkan Hadiah Nobel pada 2012, memungkinkan sel untuk menghapus akumulasi “goresan” epigenetik dan kembali berfungsi seolah-olah mereka baru saja dibentuk.

Meskipun sangat menjanjikan, tantangan utama adalah menghindari “pemrograman ulang total” yang dapat mengubah sel menjadi sel punca yang memicu tumor (teratoma) Oleh karena itu, para peneliti sekarang beralih ke “pemrograman ulang parsial”—sebuah metode di mana faktor-faktor ini diaktifkan hanya dalam waktu singkat untuk memulihkan masa muda sel tanpa menghilangkan identitas fungsionalnya. Hingga tahun 2026, beberapa perusahaan seperti Shift Bioscience telah melaporkan penemuan target gen tunggal (seperti SB000) yang dapat memicu peremajaan seluler tanpa risiko tumorigenesis yang ditemukan pada faktor Yamanaka tradisional.

Farmakologi Longevitas: Dari Laboratorium ke Gaya Hidup

Penggunaan obat-obatan di luar label (off-label) untuk tujuan memperpanjang hidup telah menjadi praktik umum di kalangan ilmuwan peretas kematian. Dua kandidat utama dalam kategori ini adalah Metformin dan Rapamycin.

Rapamycin: Penghambat mTOR dan Pembersih Seluler

Rapamycin (sirolimus) secara tradisional digunakan sebagai imunosupresan bagi pasien transplantasi ginjal untuk mencegah penolakan organ. Namun, pada dosis rendah yang diberikan secara intermiten (misalnya sekali seminggu), obat ini bertindak sebagai penghambat jalur mTOR (mechanistic Target of Rapamycin)—sebuah sensor nutrisi yang mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel.

Ketika jalur mTOR dihambat, tubuh beralih dari fase pertumbuhan ke fase pemeliharaan dan perbaikan, yang memicu autofagi dan mengurangi inflamasi sistemik. Dalam uji coba Intervention Testing Program (ITP) yang didanai pemerintah AS, rapamycin secara konsisten memperpanjang masa hidup tikus hingga 23-26%, bahkan ketika diberikan pada usia lanjut.

Studi Klinis Intervensi Hasil Utama
PEARL Trial (2025) Rapamycin dosis rendah intermiten Pengurangan lemak viseral dan pemeliharaan otot pada wanita lansia.
ITP Program (NIA) Rapamycin dosis tinggi kronis Perpanjangan umur maksimal sebesar 14% pada betina dan 9% pada jantan
TAME Trial (Barzilai) Metformin pada non-diabetisi Sedang berlangsung; menargetkan penundaan multi-morbiditas penuaan.
BioViva N=1 Study Terapi gen Telomerase/Myostatin Perpanjangan telomere leukocyte sebesar 9% dalam 6 bulan.

Namun, penggunaan rapamycin bukan tanpa risiko. Beberapa efek samping yang dilaporkan termasuk sariawan mulut, penyembuhan luka yang lambat, dan gangguan profil lipid darah. Bryan Johnson sendiri menghentikan eksperimen rapamycin-nya setelah melaporkan efek samping metabolik yang tidak diinginkan pada biomarkernya.

Metformin dan Modulasi Jalur Insulin

Metformin, obat diabetes yang paling umum di dunia, telah lama dicurigai memiliki sifat anti-penuaan karena kemampuannya untuk mengaktifkan jalur AMPK, yang meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi produksi gula hati. Data observasional menunjukkan bahwa pasien diabetes yang mengonsumsi metformin terkadang hidup lebih lama daripada orang sehat yang tidak mengonsumsinya, kemungkinan besar karena pengurangan risiko kanker dan penyakit jantung.

Meskipun demikian, perdebatan baru muncul pada tahun 2025 melalui meta-analisis yang menunjukkan bahwa efek metformin pada masa hidup mungkin tidak signifikan bagi individu yang sudah sehat dan memiliki gaya hidup optimal. Hal ini menekankan pentingnya personalisasi medis dalam biohacking: apa yang berhasil untuk orang yang kelebihan berat badan atau memiliki gangguan metabolisme mungkin tidak memberikan manfaat tambahan bagi seorang atlet yang sudah memiliki sensitivitas insulin yang sempurna.

Revolusi AI dan Algoritma Kesehatan 2026

Memasuki tahun 2026, peran kecerdasan buatan (AI) telah bergeser dari sekadar alat analisis data menjadi “pengemudi” aktif dalam manajemen kesehatan manusia. Gaya hidup ilmuwan peretas kematian kini sangat bergantung pada integrasi AI yang mampu memproses data dari berbagai sensor yang dikenakan secara terus-menerus untuk memberikan intervensi real-time.

Ekosistem Wearable dan Monitoring Agentic

Teknologi sensor generasi 2026 memungkinkan pemantauan kontinu yang tidak hanya mencakup detak jantung, tetapi juga glukosa darah, kadar laktat, variabilitas detak jantung (HRV), dan saturasi oksigen darah dengan akurasi klinis. AI menggunakan data ini untuk mendeteksi perubahan mikroskopis dalam pola kesehatan—seperti penurunan $HRV$ yang mungkin menandakan stres berlebih atau infeksi yang akan datang—bahkan sebelum subjek merasakannya secara fisik.

Tren Teknologi 2026 Aplikasi dalam Umur Panjang Implikasi Praktis
Agentic AI AI yang dapat membuat keputusan medis otonom Penyesuaian dosis suplemen otomatis berdasarkan data darah real-time.
Physical AI Robot asisten kesehatan dan rehabilitasi Dukungan mobilitas bagi lansia dan pemantauan jatuh di rumah.
Sovereign AI Pengelolaan data kesehatan pribadi yang terdesentralisasi Keamanan data genetik dan perlindungan privasi biomarker sensitif.
Predictive AI Records Rekam medis dinamis yang memprediksi penyakit Intervensi preventif dini sebelum penyakit kronis bermanifestasi.

Visi masa depan yang sedang dikembangkan adalah “Rekam Medis Pasien AI,” di mana algoritma tidak hanya mencatat sejarah medis, tetapi juga melakukan simulasi masa depan berdasarkan data genomik dan gaya hidup saat ini untuk memberikan strategi pencegahan yang dipersonalisasi hingga ke tingkat molekuler.

Dimensi Etis, Sosial, dan Filosofis Transhumanisme

Upaya untuk meretas kematian melahirkan pertanyaan fundamental tentang identitas manusia dan struktur masyarakat masa depan. Jika penuaan dapat dihentikan atau dibalikkan, bagaimana kita mendefinisikan tahapan kehidupan seperti masa pensiun, karier, dan suksesi antar-generasi?.

Kesenjangan Biologis dan Masalah Keadilan

Kekhawatiran yang paling mendesak adalah terciptanya “apartheid biologis”. Dengan biaya protokol seperti Blueprint yang mencapai jutaan dolar, teknologi longevitas berisiko menjadi hak istimewa eksklusif bagi kaum super-kaya. Jika akses terhadap kehidupan yang sehat dan panjang hanya ditentukan oleh kekayaan, maka ketimpangan ekonomi saat ini akan berubah menjadi ketimpangan biologis yang permanen, di mana satu kelompok masyarakat hidup sehat hingga usia 150 tahun sementara kelompok lainnya meninggal di usia 60 tahun akibat penyakit yang dapat dicegah.

Namun, para pendukung seperti Aubrey de Grey berpendapat bahwa biaya tinggi hanyalah fase awal dari setiap inovasi teknologi. Mereka menunjuk pada sejarah antibiotik dan vaksin yang dulunya langka dan mahal, namun kini tersedia bagi hampir seluruh populasi dunia.

Tantangan Terhadap Orde Alami dan Tradisi Agama

Dari sudut pandang filosofis dan religius, meretas kematian sering kali dipandang sebagai tantangan terhadap tatanan alami atau kehendak ilahi. Banyak tradisi agama mengajarkan bahwa kematian adalah bagian integral dari makna kehidupan.

  • Kekristenan dan Islam: Sering kali memandang kehidupan sebagai titipan Tuhan dan kematian sebagai gerbang menuju akhirat. Upaya ekstrem untuk menghindari kematian secara fisik dapat dianggap sebagai bentuk kesombongan atau ketidakpatuhan terhadap takdir.
  • Buddhisme dan Hinduisme: Memandang kehidupan sebagai siklus kelahiran kembali (samsara). Fokus utamanya adalah pada pembebasan dari siklus tersebut melalui pencerahan spiritual, bukan dengan memperlama keberadaan fisik dalam satu tubuh.
  • Yudaisme: Memiliki konsep Tikkun Olam (memperbaiki dunia), yang dapat diinterpretasikan sebagai dukungan terhadap kemajuan medis yang mengurangi penderitaan manusia dan memperpanjang hidup sehat.

Perdebatan ini menyoroti ketegangan antara pandangan materialis-teknologis yang melihat kematian sebagai “kesalahan sistem” yang harus diperbaiki, dengan pandangan humanis-tradisional yang melihat kematian sebagai pemberi makna dan urgensi bagi setiap detik kehidupan yang kita jalani.

Batas Akhir: Berapa Lama Manusia Bisa Bertahan?

Hingga Januari 2026, ilmu pengetahuan belum memberikan jawaban pasti mengenai batas maksimal umur manusia. Beberapa peneliti berpendapat bahwa ada “tembok biologis” sekitar usia 115-120 tahun, di mana akumulasi kerusakan sistemik menjadi terlalu kacau untuk dipulihkan oleh sistem perbaikan alami tubuh. Namun, model matematika terbaru yang menggabungkan kemajuan dalam terapi sel dan AI memprediksi bahwa manusia mungkin bisa hidup hingga 150 tahun jika semua penyakit kronis utama (kanker, jantung, neurodegenerasi) dapat ditekan secara bersamaan.

Fokus penelitian kini bergeser dari sekadar menambah tahun (umur panjang kronologis) menjadi menambah vitalitas (masa hidup sehat). Bagi ilmuwan peretas kematian, targetnya bukan sekadar hidup lama dalam kondisi lemah, melainkan memiliki fungsi fisik dan kognitif seorang pemuda di usia yang secara kronologis dianggap senja.

Kesimpulan: Menuju Era Manusia Versi 2.0

Gaya hidup para ilmuwan yang mencoba meretas kematian memberikan gambaran sekilas tentang masa depan kedokteran yang bersifat preventif, personal, dan proaktif. Melalui kombinasi disiplin diet yang didorong oleh data, pemantauan biomarker yang mendalam, dan penggunaan cerdas senyawa farmakologis serta terapi gen, tokoh-tokoh seperti Bryan Johnson, David Sinclair, dan Aubrey de Grey sedang memetakan jalur menuju transformasi biologi manusia.

Meskipun banyak dari intervensi ini masih bersifat eksperimental dan memiliki risiko yang signifikan, semangat di balik gerakan ini mencerminkan dorongan manusiawi yang mendasar: keinginan untuk melampaui penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan degenerasi. Manusia Versi 2.0 mungkin tidak akan lahir dalam semalam, melainkan melalui ribuan perbaikan kecil dalam kode biologis dan gaya hidup kita. Tantangan terbesar bagi masyarakat bukan hanya terletak pada penemuan teknologi peremajaan tersebut, melainkan pada bagaimana kita mendistribusikan kemajuan ini secara adil dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan yang tetap memiliki makna, tujuan, dan koneksi manusiawi yang dalam. Pada akhirnya, keberhasilan peretasan kematian tidak akan diukur dari berapa lama kita hidup, tetapi dari seberapa baik kita mampu mempertahankan kualitas hidup dan martabat manusia di sepanjang perjalanan waktu yang semakin panjang.