Loading Now

Menjadi Saksi Tradisi: Analisis Komprehensif Ziarah Paskah di Yerusalem dan Perayaan Diwali di India pada Tahun 2026

Fenomena ziarah keagamaan dan perayaan tradisi kolosal mewakili salah satu ekspresi paling mendalam dari identitas budaya dan spiritualitas manusia. Pada tahun 2026, dunia akan menyaksikan konvergensi dua peristiwa monumental yang menarik jutaan individu ke pusat-pusat sakral bumi: perayaan Paskah di Yerusalem dan festival Diwali di India. Kedua peristiwa ini bukan sekadar upacara keagamaan, melainkan representasi dari sejarah ribuan tahun yang terus beradaptasi dengan realitas modern. Laporan ini memberikan analisis mendalam mengenai alasan mengapa kunjungan ke Yerusalem selama Pekan Suci dan ke India selama festival Diwali pada tahun 2026 merupakan sebuah keharusan bagi pengamat budaya, peziarah, dan pelancong yang mencari makna di balik kemegahan visual. Melalui lensa antropologis, teologis, dan logistik, narasi ini mengeksplorasi bagaimana tradisi-tradisi ini bertahan, bertransformasi, dan memberikan dampak spiritual yang tak tertandingi bagi mereka yang menyaksikannya secara langsung.

Kronologi dan Mekanika Temporal Paskah 2026

Yerusalem pada masa Paskah adalah sebuah studi tentang kompleksitas waktu dan kalender. Penentuan tanggal Paskah didasarkan pada perhitungan astronomi yang berakar pada keputusan Konsili Nicaea pada tahun 325 M. Prinsip dasarnya menetapkan bahwa Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama yang terjadi setelah ekuinoks musim semi (vernal equinox). Namun, perbedaan penafsiran antara Gereja Barat (Katolik dan Protestan) yang menggunakan kalender Gregorian dan Gereja Timur (Ortodoks) yang menggunakan kalender Julian menciptakan dinamika temporal yang unik di Yerusalem.

Pada tahun 2026, perbedaan ini akan menciptakan dua periode puncak ziarah yang berbeda namun saling bersambung. Paskah Barat akan dirayakan pada hari Minggu, 5 April 2026, sementara Paskah Ortodoks, yang diikuti oleh komunitas Yunani, Rusia, Koptik, dan Mesir, akan dirayakan seminggu kemudian pada hari Minggu, 12 April 2026. Ketidaksamaan ini disebabkan oleh fakta bahwa Gereja Ortodoks masih mengikuti kalender Julian dan mensyaratkan bahwa Paskah Kristen harus selalu jatuh setelah Paskah Yahudi (Pesakh), sebuah aturan yang tidak lagi menjadi prasyarat bagi Gereja Barat.

Tabel berikut merinci proyeksi tanggal penting untuk Paskah di Yerusalem dari tahun 2026 hingga 2030, yang menunjukkan bagaimana ritme ziarah ini akan berfluktuasi:

Tahun Paskah Barat (Katolik/Protestan) Paskah Ortodoks
2026 5 April 12 April
2027 28 Maret 2 Mei
2028 16 April 16 April
2029 1 April 8 April
2030 21 April 13 April

Data tersebut mengindikasikan bahwa tahun 2026 memberikan kesempatan bagi peziarah untuk menyaksikan dua tradisi besar dalam jarak waktu yang sangat dekat. Bagi peziarah yang mengunjungi Yerusalem pada periode ini, kota tersebut berubah menjadi panggung liturgi yang tidak pernah berhenti. Sejak Ash Wednesday yang jatuh pada 18 Februari 2026 bagi Gereja Barat, suasana persiapan spiritual mulai terasa, memuncak pada rangkaian Pekan Suci yang dimulai dengan Minggu Palem pada 29 Maret 2026.

Geografi Sakral Yerusalem: Jejak Langkah Terakhir

Yerusalem bukan sekadar kota batu; ia adalah “geografi keselamatan” bagi umat Kristiani. Setiap situs di dalam dan di sekitar Kota Tua berfungsi sebagai altar bagi ingatan akan peristiwa-peristiwa yang membentuk dasar iman Kristen. Kunjungan pada tahun 2026 menawarkan akses ke situs-situs ini pada saat energi spiritual berada di puncaknya.

Minggu Palem: Rekonstruksi Kemenangan

Pekan Suci di Yerusalem dimulai dengan Minggu Palem, yang memperingati masuknya Yesus ke kota tersebut sebagai Mesias. Pada 29 Maret 2026, ribuan umat dari seluruh dunia akan berkumpul di Bethphage, sebuah lokasi di lereng timur Bukit Zaitun, untuk memulai prosesi tahunan menuju Kota Tua. Prosesi ini merupakan manifestasi publik yang luar biasa, di mana peserta membawa daun palem dari Yerikho dan ranting zaitun, menyanyikan lagu-lagu pujian dalam puluhan bahasa yang berbeda.

Prosesi ini menelusuri rute tradisional menuruni Bukit Zaitun, melewati Kapel Kenaikan, Gereja Dominus Flevit—tempat Yesus diyakini menangisi Yerusalem—dan Taman Getsemani, sebelum memasuki Kota Tua melalui Gerbang Singa (Lions’ Gate). Bagi pengamat luar, prosesi ini bukan sekadar pawai keagamaan; ia adalah sebuah kolase manusia yang menunjukkan persaudaraan universal, dipimpin oleh para pemimpin gereja seperti Patriark Latin dan Kustos Tanah Suci dalam jubah seremonial yang megah.

Via Dolorosa: Liturgi Kesedihan pada Jumat Agung

Jumat Agung di Yerusalem, yang jatuh pada 3 April 2026 untuk Gereja Barat dan 10 April 2026 untuk Gereja Ortodoks, menawarkan pengalaman sensorik yang kontras dengan kegembiraan Minggu Palem. Di jalur sempit Via Dolorosa, ribuan peziarah akan mengikuti “Jalan Kesedihan,” berhenti di 14 Stasi Salib yang menandai peristiwa dari pengadilan Yesus hingga penyaliban-Nya.

Atmosfer di Via Dolorosa selama Jumat Agung sangat intens. Suara nyanyian Latin, pembacaan kitab suci, dan bau kemenyan yang keluar dari gereja-gereja kecil di sepanjang jalur tersebut menciptakan ruang meditasi yang bergerak. Banyak peziarah, yang datang dari tempat sejauh Filipina hingga Amerika Serikat, memikul salib kayu besar sebagai bentuk pengabdian pribadi. Puncak dari perjalanan ini adalah Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre), sebuah bangunan abad ke-12 yang dibangun di atas lokasi yang secara tradisional diyakini sebagai tempat penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus. Di dalam gereja, umat akan mengantre berjam-jam untuk menyentuh Batu Pengurapan, tempat tubuh Yesus dibasuh, dan memasuki Edicule, struktur kecil yang menaungi makam itu sendiri.

Upacara Api Kudus: Puncak Mistisisme Kristen Ortodoks

Salah satu alasan paling mendesak untuk mengunjungi Yerusalem pada Paskah 2026 adalah untuk menyaksikan upacara Api Kudus (Holy Fire), yang berlangsung pada Sabtu Suci Ortodoks, 11 April 2026. Tradisi ini dianggap sebagai salah satu ritual paling suci dan misterius dalam Gereja Ortodoks Timur, dengan laporan sejarah yang membentang kembali hingga abad ke-4 M.

Mekanisme dan Tradisi Mukjizat

Upacara ini dimulai dengan persiapan yang sangat teliti pada pagi hari Sabtu Suci. Otoritas keamanan Israel dan perwakilan dari berbagai denominasi Kristen melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kamar makam di dalam Edicule untuk memastikan tidak ada sumber api yang disembunyikan. Setelah pemeriksaan, makam tersebut disegel dengan lilin lebah dan pita yang membawa meterai Patriark Ortodoks Yunani.

Sekitar tengah hari, suasana di dalam Gereja Makam Kudus menjadi sangat elektrik. Ribuan peziarah, yang memegang bundel 33 lilin (melambangkan usia Yesus), memenuhi setiap sudut basilika yang remang-remang. Patriark Ortodoks Yunani Yerusalem, setelah melepaskan jubah kebesarannya dan hanya mengenakan alb putih sederhana—untuk menunjukkan bahwa dia tidak membawa alat pemantik api—memasuki makam sendirian untuk berdoa.

Menurut tradisi, cahaya ilahi turun dan menyalakan lilin di tangan Patriark tanpa campur tangan manusia. Ketika Patriark muncul dari makam dengan api yang menyala, gereja yang gelap seketika meledak dalam sukacita dan cahaya saat api tersebut dibagikan dari lilin ke lilin dengan kecepatan yang luar biasa. Api tersebut kemudian dibawa dengan pesawat khusus ke berbagai negara Ortodoks seperti Rusia, Yunani, dan Rumania, menghubungkan komunitas-komunitas global dalam satu nyala api yang sama.

Makna Spiritual dan Debat Autentisitas

Bagi umat beriman, Api Kudus adalah simbol kemenangan kehidupan atas kematian dan bukti nyata dari kehadiran Tuhan yang berkelanjutan dalam dunia modern. Meskipun para skeptis selama berabad-abad telah mempertanyakan mekanisme di balik api tersebut—beberapa menduga penggunaan fosfor putih—bagi mereka yang hadir, pengalaman sensorik dan spiritual dari api tersebut jauh melampaui perdebatan teknis. Kehadiran di upacara ini pada tahun 2026 menawarkan kesempatan langka untuk melihat bagaimana iman yang teguh dapat mengubah ruang fisik yang terbatas menjadi pusat kosmos spiritual.

Keamanan, Izin, dan Realitas Geopolitik di Yerusalem 2026

Mengunjungi Yerusalem untuk Paskah pada tahun 2026 tidak dapat dipisahkan dari konteks sosiopolitik wilayah tersebut. Yerusalem adalah kota di mana ketegangan antara berbagai kelompok agama dan politik sering kali muncul ke permukaan, terutama selama festival-festival besar.

Manajemen Massa dan Pos Pemeriksaan

Otoritas keamanan Israel menerapkan infrastruktur keamanan yang sangat canggih dan terlihat selama Pekan Suci. Penggunaan pos pemeriksaan permanen dan sementara (flying checkpoints) adalah norma di sekitar Kota Tua dan situs-situs suci. Peziarah harus bersiap menghadapi pemeriksaan ID dan sistem izin yang ketat.

Laporan dari tahun 2024 dan 2025 menunjukkan tren peningkatan pembatasan akses. Sebagai contoh, pada tahun 2025, hanya sekitar 6.000 izin yang dikeluarkan untuk umat Kristiani dari Tepi Barat untuk memasuki Yerusalem, meskipun komunitas tersebut berjumlah sekitar 50.000 orang. Selain itu, otoritas militer sering kali menetapkan kuota masuk ke Gereja Makam Kudus demi alasan keamanan dan keselamatan struktur bangunan kuno tersebut.

Tabel berikut menyajikan ringkasan tantangan logistik yang mungkin dihadapi pengunjung di Yerusalem pada 2026:

Tantangan Deskripsi Rekomendasi untuk Wisatawan
Pembatasan Akses Kuota ketat untuk masuk ke area Gereja Makam Kudus, terutama pada hari Sabtu Suci Bergabung dengan grup tur resmi yang terdaftar untuk koordinasi lebih baik
Sistem Izin Digital Persyaratan izin baru yang sering kali bersifat otomatis dan ketat Pantau pengumuman dari Kedutaan atau otoritas gereja lokal sejak awal 2026
Kehadiran Keamanan Polisi perbatasan dan tentara bersenjata di seluruh Kota Tua Patuhi instruksi keamanan tanpa perlawanan dan bawa salinan dokumen identitas
Tumpang Tindih Hari Raya Potensi pertemuan Paskah dengan festival Yahudi Pesakh (1-9 April 2026) Pesan akomodasi setidaknya 8-10 bulan sebelumnya karena permintaan hotel yang sangat tinggi

Dampak Konflik pada Perayaan

Peristiwa di Gaza dan Tepi Barat terus membayangi perayaan keagamaan di Yerusalem. Pada tahun-tahun terakhir, banyak gereja telah mengurangi perayaan publik seperti parade band pramuka sebagai bentuk solidaritas dan duka atas situasi kemanusiaan. Bagi pengunjung pada tahun 2026, hal ini berarti perayaan Paskah mungkin akan terasa lebih bersifat spiritual dan privat daripada perayaan karnaval publik yang meriah. Namun, kesunyian ini justru dapat memberikan kedalaman reflektif yang lebih besar bagi mereka yang mencari pengalaman ziarah yang otentik.

India dan Diwali 2026: Festival Cahaya Global

Setelah musim semi yang kontemplatif di Yerusalem, dunia beralih ke India pada musim gugur untuk merayakan Diwali, festival paling ikonik di anak benua tersebut. Pada tahun 2026, hari puncak Diwali—Laxmi Pujan—akan jatuh pada hari Minggu, 8 November. Sebagai festival cahaya, Diwali melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, cahaya atas kegelapan, dan pengetahuan atas ketidaktahuan.

Akar Mitologis dan Filosofis

Bagi mayoritas umat Hindu, Diwali memperingati kembalinya Dewa Rama ke Ayodhya setelah 14 tahun pengasingan dan kemenangannya atas raja iblis Ravana. Namun, Diwali adalah festival yang inklusif; bagi umat Sikh, ini adalah Bandi Chhor Divas yang memperingati pembebasan Guru Hargobind Ji dari penjara, sementara bagi umat Jain, ini menandai pencapaian nirwana oleh Dewa Mahavira.

Perayaan ini bukan sekadar pesta kembang api; ia adalah proses pembersihan diri dan lingkungan. Ritual dimulai dengan membersihkan rumah untuk menyambut Dewi Lakshmi, dewi kekayaan dan kemakmuran, yang diyakini mengunjungi rumah-rumah yang paling bersih dan terang pada malam Diwali.

Struktur Lima Hari Festival Diwali 2026

Diwali bukanlah acara satu hari, melainkan rangkaian ritual lima hari yang masing-masing membawa makna simbolis yang berbeda.

Hari Nama Hari Signifikansi Tanggal (2026)
Hari 1 Dhanteras Pemujaan kekayaan dan kesehatan; pembelian logam mulia 6 November
Hari 2 Chhoti Diwali Peringatan kemenangan atas iblis Narakasura; persiapan puncak 7 November
Hari 3 Diwali Utama Laxmi Pujan; penyalaan diyas, rangoli, dan kembang api 8 November
Hari 4 Govardhan Puja Pemujaan alam; memperingati perlindungan Krishna terhadap penduduk desa 9 November
Hari 5 Bhai Dooj Perayaan ikatan kasih sayang antara saudara laki-laki dan perempuan 10 November

Bagi wisatawan, setiap hari menawarkan jendela unik ke dalam struktur sosial India. Dhanteras adalah waktu terbaik untuk melihat keramaian pasar perhiasan, sementara Bhai Dooj menawarkan pandangan intim ke dalam kehidupan keluarga tradisional.

Varanasi: Episentrum Spiritual dan Dev Deepawali

Meskipun Diwali dirayakan di seluruh India, tidak ada tempat yang menawarkan pengalaman sedalam Varanasi (Kashi). Di kota kuno yang berdiri di tepi sungai Gangga ini, Diwali bukan sekadar festival, melainkan pertemuan antara yang fana dan yang ilahi.

Dev Deepawali: Diwali para Dewa

Keunikan utama Varanasi adalah perayaan Dev Deepawali (Diwali para Dewa), yang berlangsung 15 hari setelah Diwali utama, tepatnya pada malam bulan purnama Kartik Purnima—yang pada 2026 jatuh pada hari Selasa, 24 November. Legenda menyatakan bahwa pada hari ini, Dewa Shiva mengalahkan iblis Tripurasura, dan para dewa turun dari surga untuk mandi di sungai Gangga.

Pada malam ini, ke-84 ghat (tangga batu menuju sungai) di Varanasi diterangi oleh lebih dari satu juta lampu minyak (diyas) tanah liat. Pemandangan ini menciptakan ilusi bahwa langit yang penuh bintang telah turun ke bumi. Jutaan peziarah melakukan Ganga Snan (mandi suci) pada pagi hari, dan malam harinya menyaksikan Ganga Aarti yang megah, di mana puluhan imam melakukan ritual api yang disinkronkan dengan lonceng dan nyanyian mantra.

Pengalaman Sensorik di Atas Air

Cara terbaik dan paling aman untuk menyaksikan kemegahan Dev Deepawali adalah melalui perjalanan perahu di sungai Gangga saat matahari terbenam. Dari tengah sungai, pengunjung dapat melihat garis pantai sepanjang 8 kilometer yang sepenuhnya bercahaya, tanpa terganggu oleh kerumunan jutaan orang yang memadati daratan.

Deskripsi sensorik dari pengalaman ini meliputi:

  • Visual: Pantulan ribuan lampu di air yang tenang, pertunjukan laser di benteng-benteng kuno, dan kembang api yang meletus di seberang sungai.
  • Auditori: Suara kerang yang ditiup, dentang lonceng kuningan, nyanyian Weda, dan gemuruh kembang api.
  • Olfaktori: Bau dupa cendana, asap dari lampu minyak, dan aroma makanan jalanan seperti Jalebi dan Kachori yang memenuhi udara malam.

Wisatawan disarankan untuk memesan perahu jauh-jauh hari (seringkali 6-12 bulan sebelumnya) karena permintaan yang sangat tinggi dan terbatasnya ketersediaan perahu yang terdaftar secara resmi.

Jaipur: Kemegahan Kerajaan dan Kompetisi Cahaya Kota

Jika Varanasi menawarkan kedalaman spiritual, Jaipur menawarkan kemegahan estetika. “Kota Merah Muda” di Rajasthan ini berubah menjadi wonderland bercahaya selama Diwali.

Kompetisi Pencahayaan Pasar

Salah satu tradisi paling unik di Jaipur adalah kompetisi dekorasi lampu yang diselenggarakan oleh pemerintah negara bagian Rajasthan. Seluruh pasar di dalam tembok Kota Tua, seperti Johari Bazaar, Bapu Bazaar, dan Tripolia Bazaar, bersaing untuk mendapatkan predikat dekorasi paling indah. Kreativitas pedagang lokal menghasilkan tampilan lampu hias, lampion tradisional, dan desain artistik yang menutupi seluruh gedung dari ujung ke ujung.

Pasar Johari, yang terkenal dengan perhiasannya, biasanya menjadi yang paling berkilau, sementara pasar Bapu menawarkan tekstil dan kerajinan tangan di bawah naungan cahaya berwarna-warni. Pemandangan dari Benteng Nahargarh di puncak bukit memberikan perspektif panorama yang menakjubkan, di mana seluruh kota Jaipur terlihat seperti permadani cahaya yang luas di tengah gurun.

Warisan Kerajaan dan Kuliner

Diwali di Jaipur juga merupakan waktu bagi keluarga kerajaan untuk menunjukkan warisan mereka. Istana Kota (City Palace) diterangi dengan lampu-lampu megah, dan acara-acara khusus sering diadakan untuk merayakan tradisi Rajput. Wisatawan juga dapat menikmati hidangan manis khas Rajasthan seperti Ghewar dan Fini, yang dibuat secara khusus selama musim festival ini.

Ayodhya: Kepulangan Sang Raja dan Rekor Dunia

Mengunjungi India pada Diwali 2026 tidak lengkap tanpa menyebut Ayodhya, tempat kelahiran Dewa Rama. Sejak pembangunan kembali kawasan kuil, Ayodhya telah menjadi pusat perhatian global melalui acara Deepotsav.

Otoritas setempat secara konsisten berusaha memecahkan rekor dunia Guinness untuk jumlah lampu minyak terbanyak yang dinyalakan di sepanjang tepi sungai Saryu.32 Pada tahun 2026, Deepotsav diperkirakan akan menyalakan lebih dari 2,5 juta diyas, menciptakan pemandangan yang hampir tidak nyata dari cakrawala api. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan Ram Leela (drama tari epik Ramayana) yang dibawakan oleh seniman dari berbagai negara, menunjukkan jangkauan global dari narasi Rama.

Analisis Komparatif: Yerusalem vs. India – Mengapa Keduanya?

Meskipun Paskah di Yerusalem dan Diwali di India berasal dari tradisi teologis yang sangat berbeda, keduanya berbagi tema universal yang berbicara kepada kondisi manusia.

Tema Kemenangan Cahaya atas Kegelapan

Di Yerusalem, transisi dari kegelapan makam menuju kemunculan Api Kudus melambangkan kebangkitan dan harapan hidup kekal. Di India, penyaluran cahaya melalui jutaan lampu Diwali melambangkan kemenangan keadilan atas tirani dan pengetahuan atas ketidaktahuan. Kedua festival ini menggunakan cahaya bukan sekadar sebagai alat penerangan, tetapi sebagai simbol kehadiran ilahi dan ketahanan moral.

Pengalaman Komunal Global

Kedua peristiwa tersebut merupakan magnet bagi keragaman manusia. Di Yerusalem, peziarah dari setiap benua berbagi ruang sempit di Gereja Makam Kudus, menciptakan mikrokosmos dari gereja universal. Di India, Diwali menyatukan orang-orang dari berbagai kasta, kelas, dan bahkan agama dalam satu perayaan inklusif. Bagi seorang pengamat budaya, menyaksikan bagaimana kerumunan besar ini berinteraksi, beribadah, dan merayakan di tengah tantangan logistik yang ekstrem memberikan pelajaran berharga tentang kohesi sosial dan kekuatan keyakinan bersama.

Panduan Perencanaan Strategis untuk 2026

Untuk memastikan pengalaman yang maksimal dan meminimalkan ketidaknyamanan, perencanaan untuk kedua destinasi ini harus dilakukan dengan ketelitian tingkat tinggi.

Kalender Terintegrasi 2026

Laporan ini menyarankan timeline berikut untuk perencanaan:

  1. Januari – Maret 2026: Pemantauan intensif terhadap situasi geopolitik di Yerusalem. Pemesanan tiket pesawat dan akomodasi untuk Paskah (5-12 April) harus sudah selesai.
  2. April 2026: Pelaksanaan ziarah Paskah. Fokus pada Minggu Palem (29 Maret) hingga Paskah Ortodoks (12 April) untuk cakupan penuh tradisi Barat dan Timur.
  3. Mei – Juli 2026: Pemesanan hotel dan transportasi internal di India (Varanasi, Jaipur, Delhi). Slot perahu untuk Dev Deepawali di Varanasi seringkali mulai penuh pada periode ini.
  4. Agustus – September 2026: Pendaftaran untuk acara komunitas atau tur khusus di India. Pastikan visa India diproses tepat waktu.
  5. November 2026: Pelaksanaan perjalanan Diwali. Fokus pada 6-10 November untuk Diwali utama dan tetap tinggal hingga 24 November untuk Dev Deepawali di Varanasi.

Tips Keamanan dan Kesehatan

  • Yerusalem: Selalu ikuti petunjuk dari otoritas gereja lokal mengenai akses ke situs-situs suci. Hindari membawa barang berharga di tengah kerumunan padat di Kota Tua untuk menghindari pencopetan dan gangguan keamanan.
  • India: Kualitas udara di kota-kota besar seperti Delhi dan Mumbai dapat menurun drastis selama malam Diwali karena asap kembang api. Wisatawan dengan kondisi pernapasan disarankan untuk menggunakan masker N95 atau memilih merayakan di kota-kota yang memiliki ruang terbuka lebih luas seperti Udaipur atau Goa.

Kesimpulan: Dampak Spiritual dan Transformasi Budaya

Menjadi saksi tradisi di Yerusalem saat Paskah atau di India saat Diwali pada tahun 2026 adalah investasi dalam pemahaman manusia. Pengalaman ini bukan sekadar tentang melihat pemandangan indah atau mengambil foto untuk media sosial; ini adalah tentang merasakan denyut nadi sejarah yang masih berdetak kuat dalam praktik harian jutaan orang.

Di Yerusalem, peziarah akan menemukan bahwa iman bukan sekadar konsep abstrak, melainkan sesuatu yang berakar pada tanah dan batu yang telah menyaksikan penderitaan dan harapan selama dua milenium. Di India, mereka akan menemukan bahwa kegembiraan adalah tindakan perlawanan terhadap kegelapan, di mana setiap lampu yang dinyalakan adalah pernyataan bahwa cahaya akan selalu kembali.

Pada akhirnya, perjalanan ke Yerusalem atau India pada tahun 2026 menawarkan lebih dari sekadar liburan; ia menawarkan transformasi. Pelancong akan kembali dengan perspektif yang lebih luas tentang dunia, apresiasi yang lebih dalam terhadap keragaman cara manusia mencari makna, dan kenangan akan cahaya—baik itu dari api suci di dalam makam atau sejuta lampu di tepi sungai Gangga—yang akan terus bersinar lama setelah festival berakhir.