Loading Now

Teater Pribadi dan Koleksi Manusia: Transformasi Kuriositas, Politik Representasi, dan Dinamika Subjek di Istana Eropa

Kekuasaan monarki absolut di Eropa era Renaisans hingga Barok bukan sekadar persoalan kontrol teritorial atau dominasi militer, melainkan sebuah pertunjukan simbolik yang dimainkan dalam ruang-ruang yang sangat terkurasi. Dalam struktur kekuasaan ini, muncul fenomena yang dikenal sebagai “Teater Pribadi” (Private Theater), di mana istana berfungsi sebagai mikrokosmos dari seluruh dunia yang dikenal. Di dalam teater ini, penguasa tidak hanya mengoleksi artefak mati (artificialia) atau spesimen alam yang diawetkan (naturalia), tetapi juga manusia yang dianggap memiliki keunikan fisik, intelektual, atau eksotis sebagai bagian dari “koleksi hidup” mereka. Praktik ini mencerminkan dorongan manusia untuk mengklasifikasikan alam semesta, sekaligus menegaskan hierarki sosial yang menempatkan subjek “anomali” sebagai objek pajangan demi memperkuat narasi keagungan sang penguasa.

Fenomena koleksi manusia ini, yang mencakup orang kerdil (dwarf), individu dengan hirsutisme (manusia berbulu), hingga filsuf dan matematikawan istana, merupakan bagian integral dari budaya koleksi yang lebih luas yang disebut sebagai Wunderkammer atau kabinet kuriositas. Dari perspektif sejarah sosiokultural, praktik ini menggambarkan transisi kompleks dalam persepsi manusia: dari melihat anomali sebagai “keajaiban Tuhan” yang penuh misteri menjadi subjek bagi kategorisasi ilmiah yang sering kali bersifat dehumanistik.

Teater Pribadi sebagai Ruang Politik dan Eksistensial

Istana-istana besar di Eropa, seperti Versailles, El Escorial, atau istana-istana di Italia, berfungsi sebagai panggung di mana kehidupan para penghuninya terus-menerus berada di bawah pengamatan. Konsep “Teater Pribadi” dalam konteks ini memiliki dimensi fisik dan metaforis yang mendalam. Secara fisik, ia merujuk pada gedung pertunjukan di dalam kompleks istana yang hanya bisa diakses oleh kalangan elite tertentu, di mana drama dan opera dipentaskan untuk merayakan dinasti yang berkuasa. Secara metaforis, ia merujuk pada kondisi di mana setiap gerakan individu di istana diatur oleh etiket yang ketat, menciptakan sebuah “teater kehidupan” di mana setiap subjek memiliki peran yang telah ditentukan.

Arkeologi Teater Pribadi: Dari Nero hingga Renaisans

Salah satu preseden paling awal bagi konsep teater pribadi yang bersifat memaksa ditemukan pada masa Kaisar Nero di Romawi Kuno. Penemuan arkeologis terbaru antara tahun 2020 hingga 2023 di Palazzo dei Penitenzieri, Roma, mengungkap sisa-sisa teater pribadi milik Nero. Teater ini bukan hanya tempat hiburan, melainkan instrumen kekuasaan absolut. Nero menggunakan ruang ini untuk mempertunjukkan kemampuannya sebagai penyair, penyanyi, dan pegulat di hadapan audiens terpilih. Dalam catatan Plinius Tua dan Suetonius, disebutkan bahwa pintu teater akan ditutup rapat selama pertunjukan berlangsung, dan penonton dilarang keluar hingga pertunjukan yang sangat lama itu selesai, mencerminkan bagaimana ruang privat digunakan untuk kontrol total terhadap subjeknya.

Tradisi ini bangkit kembali pada masa Renaisans dengan nuansa yang lebih terfokus pada kemewahan dan legitimasi budaya. Para pembangun rumah mewah di Italia mulai menyertakan teater pribadi yang lengkap dengan panggung, set, dan lubang orkestra. Namun, berbeda dengan teater publik yang mulai tumbuh pada abad ke-17 seperti Blackfriars di London, teater pribadi istana dirancang untuk memperkuat keintiman antara penguasa dan lingkaran dalamnya, sekaligus menonjolkan kemampuan sang penguasa untuk “mengoleksi” bakat-bakat terbaik dunia di bawah atapnya.

Dimensi Psikologis: Teater Batin dan Pengamatan Diri

Selain dimensi fisik, filsafat modern awal juga mulai melihat “teater pribadi” sebagai ruang internal pikiran. Søren Kierkegaard menggambarkan perkembangan etis individu sebagai sebuah “teater pribadi” di mana individu berperan sekaligus menjadi penonton bagi dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Dalam konteks koleksi manusia, pandangan ini memberikan kedalaman pada bagaimana subjek yang “dikoleksi”—seperti jester atau orang kerdil—mungkin mempersepsikan eksistensi mereka sendiri. Mereka adalah aktor di panggung publik istana, namun mereka juga memiliki “teater batin” yang sering kali tersembunyi dari para pemilik mereka. Dinamika antara “kehidupan dalam” (inner lives) koleksi manusia dan proyeksi luar mereka sebagai objek pajangan menciptakan ketegangan identitas yang sangat kuat, di mana mereka harus menunjukkan sprezzatura atau ketenangan yang dibuat-buat di tengah-tengah intrik istana.

Tipologi Koleksi Hidup: Manusia sebagai Kuriositas

Praktik mengoleksi manusia di istana Eropa mencakup spektrum yang luas, mulai dari mereka yang memiliki keunikan fisik ekstrem hingga mereka yang memiliki keunggulan intelektual yang langka. Berikut adalah kategorisasi utama dari koleksi hidup tersebut:

Orang Kerdil Istana (Court Dwarfs) dan Politik Perspektif

Orang kerdil merupakan kelompok yang paling umum dan paling didokumentasikan dalam sejarah koleksi manusia di istana. Kehadiran mereka di istana berfungsi sebagai instrumen visual untuk memperkuat aura kekuasaan penguasa. Dengan menempatkan orang kerdil di samping raja atau ratu dalam upacara publik atau lukisan, penguasa secara otomatis tampak lebih besar, lebih dominan, dan lebih berwibawa melalui kontras skala yang diciptakan.

Di Spanyol, keluarga Habsburg memiliki obsesi yang mendalam terhadap orang kerdil, yang sering disebut sebagai sabandijas (ular kecil) atau hombres de placer (orang-orang pemberi kesenangan). Istana Spanyol mencatat keberadaan hingga 70 orang kerdil antara tahun 1563 dan 1700. Status sosial mereka sangat ambivalen; di satu sisi, mereka dianggap sebagai properti yang dapat diperjualbelikan atau diberikan sebagai hadiah antar-monarki, namun di sisi lain, mereka memiliki akses intim ke ruang pribadi raja yang tidak dimiliki oleh para bangsawan tinggi.

Nama Individu Istana / Pemilik Peran Utama Fakta Unik
Jeffrey Hudson Charles I (Inggris) Duta Besar, Prajurit, Hiburan Membunuh seorang bangsawan dalam duel; ditangkap bajak laut dan diperbudak 25 tahun.
Sebastián de Morra Philip IV (Spanyol) Jester, Pendamping Pangeran Diabadikan oleh Velázquez dengan ekspresi yang sangat manusiawi dan menantang.
Nano Morgante Cosimo I de’ Medici (Italia) Pelayan, Subjek Seni Namanya diambil dari raksasa fiksi dalam puisi Pulci sebagai ironi atas tubuhnya.
Dorothea Ostrelska Catherine Jagiellon (Swedia) Sahabat, Penasihat Satu-satunya anggota rombongan yang tetap mendampingi sang ratu selama masa pemenjaraannya.
Richebourg House of Orléans (Prancis) Diplomat, Mata-mata Digunakan untuk menyelundupkan pesan rahasia dengan menyamar sebagai bayi di dalam kereta bayi.

Hirsutisme dan Mitos “Manusia Liar”

Koleksi yang paling langka dan sangat dihargai adalah individu yang menderita hirsutisme atau hypertrichosis universalis, sebuah kondisi di mana seluruh wajah dan tubuh tertutup rambut lebat. Kasus yang paling terkenal adalah Petrus Gonsalvus, yang dibawa dari Kepulauan Canary ke istana Henri II dari Prancis pada tahun 1547 sebagai “hadiah”.

Bagi masyarakat Renaisans, Gonsalvus mewakili realisasi hidup dari mitos “manusia liar” (wild man) yang ada dalam folklor Eropa. Namun, alih-alih dibiarkan dalam keadaan liar, Gonsalvus dididik secara klasik, diajarkan bahasa Latin, dan diberikan etiket istana yang sempurna. Eksperimen ini bertujuan untuk membuktikan apakah kapasitas rasional manusia dapat mengatasi penampilan yang menyerupai binatang. Gonsalvus kemudian dinikahkan dengan seorang wanita biasa bernama Catherine, dan anak-anak mereka yang mewarisi kondisi rambut lebat tersebut juga menjadi bagian dari koleksi berbagai istana di Italia dan Austria.

Intelektual sebagai Ornamen: Filsuf dan Matematikawan

Penguasa Renaisans tidak hanya mencari keunikan fisik tetapi juga keunggulan intelektual untuk dikoleksi. Memiliki filsuf istana (court philosopher) atau matematikawan ternama adalah cara bagi penguasa untuk mengklaim bahwa istana mereka adalah pusat kebijaksanaan dunia.

Sebagai contoh, Nicolaus Steno, perintis geologi, bekerja di bawah patronase keluarga Medici di Tuscany. Meskipun Steno memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan, posisinya di istana tetap merupakan bagian dari sistem ketergantungan di mana kemajuan ilmiahnya diklaim sebagai prestasi dari patronnya. Demikian pula, Giovanni Battista Benedetti di istana Savoy berfungsi sebagai “pendamping intelektual” yang memvalidasi identitas penguasa sebagai pelindung seni dan sains. Para intelektual ini, dalam arti tertentu, adalah “kuriositas hidup” yang membuktikan penguasaan sang penguasa terhadap hukum-hukum alam dan rahasia alam semesta.

Mekanisme Koleksi: Wunderkammer dan Kunstkamera

Fenomena koleksi manusia ini berakar pada tradisi Wunderkammer atau kabinet kuriositas yang muncul pada pertengahan abad ke-16. Wunderkammer dirancang sebagai ruang ensiklopedis di mana benda-benda dikumpulkan tanpa batasan kategori yang jelas, mencampurkan taksonomi alam dengan keajaiban buatan manusia.

Struktur Wunderkammer dan Penempatan Manusia

Dalam Wunderkammer, benda-benda dibagi menjadi beberapa kategori utama:

  1. Naturalia: Spesimen dari alam seperti gading gajah, cula badak, atau kerang eksotis. Tulang manusia dan anomali fisik hidup sering kali diklasifikasikan di bawah kategori ini.
  2. Artificialia: Karya tangan manusia yang luar biasa, termasuk jam otomatis (automata), patung mungil, dan perhiasan.
  3. Scientifica: Instrumen ilmiah seperti astrolab dan jam mekanis.
  4. Exotica: Artefak dari budaya asing yang dibawa melalui ekspansi kolonial.

Manusia dengan anomali fisik sering kali menempati posisi liminal dalam inventaris istana. Nama-nama orang kerdil atau penderita hirsutisme sering kali ditulis bersandingan dengan daftar perhiasan atau artefak berharga, menunjukkan bahwa mereka dipandang sebagai objek kepemilikan sebelum diakui sebagai subjek manusia. Inventaris istana berfungsi sebagai alat politik untuk meregulasi keberadaan “monster” ini dalam struktur yang kaku, mengubah disonansi fisik mereka menjadi harmoni kolektif yang dikendalikan oleh sang penguasa.

Kunstkamera Peter yang Agung: Sains dan Kematian

Peter yang Agung dari Rusia membawa praktik ini ke tingkat yang lebih radikal dan sistematis. Terinspirasi oleh perjalanannya ke Eropa Barat, ia mendirikan Kunstkamera di Saint Petersburg pada tahun 1714. Berbeda dengan Wunderkammer tradisional yang mencari keajaiban, Kunstkamera Peter memiliki fokus yang lebih klinis dan anatomis. Ia mengoleksi tidak hanya manusia hidup dengan deformitas fisik, tetapi juga janin dan organ yang diawetkan dalam cairan alkohol untuk tujuan penelitian medis.

Peter bahkan memberikan instruksi resmi untuk mengumpulkan spesimen dari seluruh kekaisarannya, menawarkan hadiah bagi siapa pun yang membawa “kuriositas” tersebut ke istananya. Hal ini menandai pergeseran dari kekaguman estetis menuju pembedahan ilmiah yang sering kali mengabaikan kemanusiaan subjeknya demi kemajuan ilmu pengetahuan negara.

Hubungan Arsitektural: Istana, Kandang, dan Kabinet

Sebuah wawasan penting tentang bagaimana koleksi manusia ini dipandang adalah lokasi fisik di mana mereka ditempatkan atau dipamerkan. Di banyak istana di Eropa Tengah, Kunstkammer atau galeri lukisan sering kali terletak di lantai atas tepat di atas kandang kuda (stables) yang aktif. Hubungan spasial ini menunjukkan bahwa bagi penguasa, kuda-kuda ras unggul di lantai bawah dan kuriositas manusia di lantai atas menjalankan peran yang serupa: sebagai bukti kemampuan sang penguasa untuk mengumpulkan, memelihara, dan memamerkan kelangkaan alam dalam jumlah besar. Keduanya dikelola oleh pemasok yang sama dan sering kali dideskripsikan dengan istilah yang serupa dalam hal “trah” atau “ras”.

Representasi Seni: Cermin Kemanusiaan dan Eksploitasi

Seni rupa memainkan peran sentral dalam mendokumentasikan dan membentuk persepsi publik terhadap koleksi manusia di istana. Lukisan-lukisan ini berfungsi sebagai alat propaganda yang menunjukkan bahwa penguasa memiliki kontrol atas segala aspek alam, termasuk yang paling “aneh” sekalipun.

Revolusi Velázquez: Menemukan Jiwa dalam Anomali

Sebelum abad ke-17, seniman istana cenderung melukis orang kerdil dan individu dengan deformitas dengan gaya yang dingin dan tidak peduli, memposisikan mereka sebagai aksesori atau “hewan peliharaan” dekoratif di kaki bangsawan. Namun, Diego Velázquez, sebagai pelukis istana Philip IV, melakukan terobosan radikal. Dalam serangkaian potret individu orang kerdil seperti Sebastián de Morra dan Francisco Lezcano, Velázquez memberikan martabat, kecerdasan, dan kedalaman psikologis kepada subjeknya.

Velázquez menggunakan teknik tenebrism—kontras dramatis antara cahaya dan kegelapan—untuk menarik perhatian pada wajah dan ekspresi subjek, memaksa penonton untuk mengakui kemanusiaan mereka yang setara dengan keluarga kerajaan. Meskipun demikian, lukisan-lukisan ini tetap memiliki sifat paradoks: mereka memanusiakan individu tersebut secara artistik, namun secara politik tetap merupakan bukti kepemilikan sang raja terhadap subjek yang unik tersebut.

Galeri Schloss Ambras dan “Ambras Syndrome”

Koleksi potret di Schloss Ambras, milik Archduke Ferdinand II dari Tyrol, memberikan dokumentasi sistematis tentang “monster” istana. Di sini, keluarga Gonsalvus dilukis dalam ukuran penuh, mengenakan pakaian formal istana namun sering kali ditempatkan di depan latar belakang gua. Penempatan ini secara visual menciptakan dikotomi: mereka berpakaian sebagai bangsawan yang beradab, namun latar belakang gua mengingatkan penonton akan asal-usul “liar” mereka. Menariknya, kondisi hirsutisme yang diderita keluarga ini sekarang secara medis dikenal sebagai Ambras Syndrome, mengambil nama dari lokasi di mana potret-potret mereka pertama kali dikatalogkan sebagai kuriositas.

Seniman Subjek Gaya / Teknik Implikasi Sosiokultural
Diego Velázquez Sebastián de Morra Naturalisme, Tenebrisme Memberikan martabat manusiawi; menantang pandangan sebagai objek.
Lavinia Fontana Antonietta Gonsalvus Portraiture Klasik Menampilkan gadis berbulu dengan keanggunan wanita bangsawan.
Agostino Carracci “Hairy Arrigo” & “Dwarf Amon” Komposisi Grup Menekankan kebersamaan anomali fisik sebagai kategori tersendiri.
Joris Hoefnagel Petrus Gonsalvus Ilustrasi Miniatur Mendokumentasikan kondisi sebagai spesimen ilmiah sekaligus subjek istana.

Pergeseran Etika: Dari Keajaiban ke Patologi dan Hak Asasi

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan iklim intelektual di Eropa, praktik menyimpan koleksi manusia di istana mulai mengalami penurunan dan transformasi mendasar.

Dampak Pencerahan (Enlightenment)

Memasuki abad ke-18, gerakan Pencerahan mulai menggugat legitimasi monarki absolut dan tradisi yang dianggap irasional atau kejam. Pemikir seperti John Locke menekankan pada hak-hak alamiah yang dimiliki oleh setiap individu secara mandiri dari negara atau penguasa. Immanuel Kant memberikan landasan moral yang kuat dengan menyatakan bahwa manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, bukan sekadar alat atau pajangan demi kepentingan orang lain.

Gagasan-gagasan ini secara perlahan mengubah persepsi terhadap orang kerdil dan penderita anomali fisik. Jika sebelumnya mereka dipandang sebagai “keajaiban kosmologis” yang memiliki tempat khusus dalam skema Tuhan, pandangan baru mulai melihat mereka sebagai individu dengan “kegagalan biologis” atau deformitas medis yang membutuhkan perawatan, bukan tontonan. Status mereka bergeser dari “keajaiban” menjadi “pasien,” yang meskipun secara medis lebih akurat, sering kali membawa stigma baru sebagai manusia yang “gagal” atau tidak sempurna.

Desakralisasi Monarki dan Komersialisasi Kuriositas

Di Prancis, kritik terhadap kemewahan istana yang berlebihan membantu mendesakralisasi otoritas monarki di mata publik yang semakin terpelajar. Praktik menyimpan manusia sebagai “koleksi” mulai dipandang sebagai bentuk dekadensi dan despotisme. Di Spanyol, masa jabatan orang kerdil di istana secara resmi diakhiri pada tahun 1700 oleh Raja Philip V, yang ingin memodernisasi istananya dengan menghapus posisi-posisi yang dianggap ketinggalan zaman seperti jester dan orang kerdil.

Namun, berakhirnya praktik di istana tidak berarti penderitaan bagi individu-individu ini berakhir. Sebaliknya, pameran kuriositas manusia berpindah dari ruang privat istana ke ruang publik komersial seperti pasar malam, kedai kopi, dan sirkus (freak shows). P.T. Barnum di Amerika Serikat kemudian mengkapitalisasi tren ini pada abad ke-19, mengubah apa yang dulunya merupakan “kehormatan istana” menjadi tontonan komersial massal yang sering kali lebih eksploitatif dan kurang terlindungi secara sosial dibandingkan masa di bawah patronase raja.

Dinamika Sosial dan Agensi dalam Keterbatasan

Penting untuk dicatat bahwa para individu yang menjadi koleksi hidup ini bukanlah sekadar korban pasif. Banyak dari mereka yang mampu menavigasi struktur kekuasaan istana untuk mendapatkan pengaruh, kekayaan, dan otonomi yang signifikan.

Strategi Bertahan Hidup dan Mobilitas Sosial

Sering kali lahir dari keluarga miskin atau berstatus rendah, menjadi bagian dari koleksi istana menawarkan jalan keluar dari kemiskinan ekstrem. Sebagai gantinya, mereka memberikan hiburan dan persahabatan kepada penguasa. Banyak orang kerdil yang menerima pendidikan tinggi, perjalanan ke luar negeri, dan upah yang memungkinkan mereka untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Jeffrey Hudson, misalnya, meskipun berstatus sebagai orang kerdil istana, ia diberikan pangkat kapten dalam militer dan berani melakukan duel maut untuk membela martabatnya melawan seorang bangsawan yang merendahkannya. Dorothea Ostrelska di Swedia membuktikan bahwa hubungan antara “koleksi” dan “pemilik” bisa berkembang menjadi kesetiaan politik dan pribadi yang melampaui status hukum.

Gender dan Pengalaman Hidup

Pengalaman sebagai kuriositas hidup juga sangat dipengaruhi oleh gender. Orang kerdil laki-laki sering kali memiliki peluang karir yang lebih luas, seperti menjadi diplomat atau perwira militer. Sebaliknya, wanita kerdil atau wanita dengan hirsutisme sering kali terbatas pada peran sebagai pendamping domestik atau subjek eksperimen reproduksi. Kasus keluarga Gonsalvus menunjukkan bagaimana Catherine de’ Medici secara sadar mengatur pernikahan dan mengamati kelahiran anak-anak mereka untuk melihat apakah “monster” bisa menghasilkan “monster” lainnya, sebuah bentuk kontrol biologis yang sangat awal dan kejam.

Analisis Sosiopolitik: Istana sebagai Mikrokosmos Dunia

Penguasa Renaisans dan Barok memandang istana mereka sebagai replika dari alam semesta. Dengan mengoleksi manusia dari berbagai penjuru bumi dan dengan berbagai karakteristik fisik, penguasa menyatakan bahwa seluruh dunia berada dalam jangkauan dan kendali mereka.

Eurosentrisme dan Ideologi Kolonial

Banyak individu dalam koleksi istana dibawa dari wilayah yang baru dieksplorasi atau dikolonisasi, seperti Kepulauan Canary (kasus Gonsalvus) atau Afrika. Representasi mereka dalam seni dan inventaris sering kali bersifat esensialis dan dehumanis, di mana mereka digambarkan mengenakan pakaian mewah namun tetap diberi label sebagai “orang liar” atau “makhluk eksotis”.

Praktik ini memperkuat hierarki rasial dan budaya yang menempatkan peradaban Eropa di puncak piramida kemanusiaan, sementara yang lain diposisikan sebagai objek yang patut dikagumi sekaligus direndahkan. Koleksi manusia ini menjadi pembenaran visual bagi ekspansi kolonial, menunjukkan bahwa “liar” bisa “dijinakkan” melalui pendidikan dan agama Eropa, namun mereka tidak akan pernah benar-benar setara dengan para penguasa mereka.

Aspek Koleksi Tujuan Politik Konteks Budaya Transformasi Modern
Koleksi Fisik (Anomali) Menunjukkan kontrol atas hukum alam. Lusus Naturae (Permainan Alam). Penelitian genetika dan hak disabilitas.
Koleksi Intelektual (Filsuf) Legitimasi sebagai penguasa bijaksana. Humanisme Renaisans. Universitas dan lembaga penelitian negara.
Koleksi Eksotis (Etnis) Menunjukkan jangkauan kerajaan global. Awal kolonialisme dan rasisme saintifik. Gerakan dekolonisasi museum dan restitusi.

Kesimpulan: Warisan Teater Pribadi dalam Memori Kolektif

Praktik Teater Pribadi dan penyimpanan koleksi manusia di istana Eropa merupakan babak gelap namun mendalam dalam sejarah peradaban Barat. Ia mencerminkan titik temu antara kekaguman tulus terhadap keragaman alam dengan hasrat kejam untuk mendominasi dan memiliki subjek yang dianggap berbeda. Melalui Wunderkammer dan Kunstkamera, monarki Eropa meletakkan dasar bagi museum modern, namun dengan biaya kemanusiaan yang besar dari mereka yang dijadikan spesimen hidup.

Meskipun zaman monarki absolut telah berlalu, sisa-sisa cara pandang ini masih dapat ditemukan dalam bagaimana masyarakat modern memperlakukan “keunikan” atau “perbedaan.” Transformasi dari kuriositas istana menuju pengakuan hak asasi manusia universal adalah perjuangan panjang yang dimulai dari kritik Pencerahan hingga gerakan hak-hak sipil kontemporer. Memahami sejarah koleksi manusia ini bukan hanya soal mengenang keganjilan masa lalu, melainkan sebuah refleksi atas tanggung jawab kita untuk melihat kemanusiaan di balik setiap perbedaan fisik atau intelektual, serta memastikan bahwa tidak ada lagi individu yang dijadikan “teater pribadi” bagi kekuasaan orang lain.

Lukisan-lukisan karya Velázquez atau koleksi di Schloss Ambras hari ini berdiri bukan sebagai monumen kejayaan raja, melainkan sebagai saksi bisu atas daya tahan psikologis dan martabat para individu yang, meskipun dikurung dalam status sebagai “kuriositas,” tetap mampu menunjukkan percikan jiwa yang tidak bisa sepenuhnya dikoleksi atau dimiliki oleh penguasa mana pun.