Simbiosis Predator dan Manusia: Analisis Komprehensif Tradisi Berburu dengan Cheetah di India dan Elang Emas di Mongolia
Kajian mendalam mengenai hubungan antara manusia dan predator puncak mengungkapkan adanya jalinan budaya, ekonomi, dan ekologis yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Di dua wilayah yang berbeda secara geografis dan sosiopolitik—dataran semi-kering di subbenua India dan pegunungan Altai di Asia Tengah—manusia telah mengembangkan seni menjinakkan hewan eksotis untuk membantu perburuan. Praktik ini, yang mencakup penggunaan cheetah (sering secara historis disebut sebagai “macan tutul pemburu”) di India dan elang emas di Mongolia, bukan sekadar metode untuk memperoleh makanan, melainkan manifestasi dari kekuasaan, identitas etnis, dan penguasaan teknis terhadap alam liar. Laporan ini akan membedah secara mendalam sejarah, metodologi, dan implikasi modern dari kedua tradisi tersebut, dengan menyoroti transisi dari simbol status bangsawan menuju upaya pelestarian warisan budaya yang terancam punah.
Dimensi Historis Cheetah di India: Dari Era Mughal hingga Kepunahan Lokal
Tradisi berburu dengan cheetah di India merupakan salah satu bentuk kerja sama interspesies yang paling terdokumentasi dengan baik dalam sejarah manusia. Meskipun sering kali terjadi kerancuan nomenklatur di mana catatan sejarah menyebut mereka sebagai “macan tutul yang dijinakkan,” identitas biologis hewan ini secara spesifik merujuk pada cheetah Asiatik (Acinonyx jubatus venaticus). Nama “cheetah” sendiri memiliki akar etimologis yang kuat dalam bahasa Sanskerta, chitraka, yang berarti “yang berbintik”. Bukti keterlibatan manusia dengan cheetah di subbenua India dapat ditelusuri kembali ke periode Neolitikum, sebagaimana dibuktikan oleh lukisan gua di Kharvai, Khairabad, dan lembah Chambal atas di Madhya Pradesh yang bertarikh antara 2500 hingga 2300 SM.
Puncak Keemasan di Bawah Dinasti Mughal
Praktik berburu dengan cheetah, atau yang dikenal dengan istilah cheetah coursing, mencapai zenitnya pada masa Kekaisaran Mughal, khususnya di bawah pemerintahan Kaisar Akbar yang Agung (1556–1605). Akbar tidak hanya melihat kegiatan ini sebagai hobi, tetapi juga sebagai instrumen negara untuk menunjukkan dominasi atas alam liar. Berdasarkan catatan administratif terperinci dalam Ain-i-Akbari yang ditulis oleh Abul Fazl, koleksi cheetah kekaisaran Akbar pada satu waktu mencapai angka yang mencengangkan, yakni 1.000 ekor, sementara total cheetah yang dikumpulkan selama lima dekade masa pemerintahannya mencapai 9.000 ekor.
Manajemen cheetah di bawah Akbar bersifat sangat sistematis. Hewan-hewan ini diklasifikasikan ke dalam delapan kategori berdasarkan kemampuan dan nilai mereka, di mana kategori pertama mendapatkan jatah makanan harian sebesar lima seer daging. Kecintaan Akbar pada olahraga ini dimulai sejak usia muda; ia pertama kali diperkenalkan pada teknik berburu dengan cheetah pada tahun 1555 M saat berusia 13 tahun. Ia juga dikreditkan dengan inovasi teknis dalam metode penangkapan, menggantikan lubang jebakan dalam yang sering mencederai hewan dengan lubang dangkal yang dilengkapi pintu otomatis.
Kekaguman Mughal terhadap cheetah tercermin dalam seni rupa periode tersebut. Ribuan lukisan miniatur menggambarkan cheetah dalam berbagai posisi: menggunakan kalung permata, dibawa dengan kereta, atau sedang menerkam blackbuck (antelop India). Kaisar Jahangir, putra Akbar, mencatatkan peristiwa unik dalam autobiografinya tentang kelahiran tiga anak cheetah di penangkaran, sebuah fenomena yang sangat langka karena cheetah dikenal sangat sulit untuk berkembang biak di luar habitat alami mereka. Akbar begitu terkesan dengan salah satu cheetah favoritnya yang berhasil melakukan tugas luar biasa sehingga ia memberinya pangkat bangsawan, lengkap dengan kalung bertatahkan permata dan perintah agar drum ditabuh setiap kali hewan itu turun ke lapangan.
Era Kolonial dan Pergeseran Fungsi Sosial
Kedatangan bangsa Inggris di India membawa pergeseran dalam persepsi terhadap tradisi ini. Awalnya, pejabat Inggris mengadopsi cheetah coursing sebagai alat diplomasi untuk menjalin hubungan dengan royalti India dan bangsawan Rajput. Mereka melihatnya sebagai olahraga yang eksotis dan prestisius yang memungkinkan mereka berintegrasi ke dalam budaya elit lokal. Namun, seiring waktu, perburuan berubah dari sekadar olahraga istana menjadi perburuan trofi massal. Penggunaan senjata api yang lebih canggih dan perubahan kebijakan penggunaan lahan mulai mengancam populasi cheetah dan mangsanya secara drastis.
Bangsawan Rajput juga memegang peranan penting dalam melestarikan tradisi ini. Banyak istana dan benteng Rajput menampilkan karya seni yang merayakan keberanian cheetah, menegaskan bahwa kepemilikan hewan predator yang patuh adalah simbol kejantanan dan kedaulatan militer. Namun, kombinasi dari penangkapan liar yang konstan—karena kegagalan pembiakan dalam penangkaran—dan hilangnya habitat rumput terbuka (grasslands) demi pertanian menyebabkan penurunan populasi yang tidak terelakkan.
| Periode | Status Cheetah dalam Masyarakat | Dampak Terhadap Populasi |
| Mughal (Abad 16-17) | Simbol kekuasaan absolut, manajemen sistematis | Penangkapan massal dari alam liar (ribuan ekor) |
| Rajput (Abad 18-19) | Identitas bela diri dan kebangsawanan | Penurunan populasi karena penangkapan berkelanjutan |
| Kolonial Inggris | Olahraga elit dan instrumen diplomasi | Kepunahan melalui perburuan trofi dan klasifikasi “hama” |
| Pasca-Kemerdekaan | Punah secara lokal di India (1952) | Fokus pada restorasi dan reintroduksi modern |
Mekanisme Teknis Berburu dengan Cheetah
Keberhasilan berburu dengan cheetah sangat bergantung pada proses pelatihan yang intensif dan hubungan emosional antara hewan dengan pelatihnya. Berbeda dengan singa atau macan tutul biasa, cheetah memiliki temperamen yang lebih tenang jika dijinakkan sejak usia muda, namun tetap mempertahankan insting pembunuh yang tajam.
Metode Penangkapan: Seni Menjerat Predator
Untuk mendapatkan cheetah yang siap dilatih, para penjerat profesional Mughal dan era setelahnya biasanya mencari cheetah dewasa atau sub-dewasa di alam liar. Hal ini dikarenakan cheetah yang dibesarkan oleh induknya telah mempelajari teknik berburu yang krusial yang tidak bisa diajarkan oleh manusia. Lokasi penangkaran favorit disebut akhur, tempat di mana cheetah sering berkumpul untuk bermain atau mengasah cakar di pohon tertentu.
Teknik penangkapan melibatkan penggunaan jerat yang terbuat dari usus rusa yang diletakkan di sekitar pohon-pohon favorit ini. Begitu kaki cheetah terjerat, para penjerat akan mendekat dengan hati-hati. Untuk menenangkan hewan yang meronta, mereka sering menggunakan dahan pohon berdaun lebat untuk menutupi pandangan hewan tersebut sebelum memasang penutup mata kain (topi) dan memindahkan hewan tersebut ke tandu atau kereta kayu.
Pelatihan dan Domestikasi Parsial
Proses pelatihan cheetah memakan waktu sekitar tiga hingga enam bulan. Tahap awal melibatkan pengurangan sensitivitas hewan terhadap keberadaan manusia. Cheetah yang baru ditangkap akan diikat dan dipaksa untuk tetap terjaga untuk jangka waktu tertentu guna mematahkan semangat liarnya—sebuah metode yang secara historis disebut “breaking”.
Hal yang unik dalam tradisi India adalah tingkat keakraban antara pelatih dan hewan. Cheetah sering kali ditempatkan di dalam rumah bersama keluarga pelatih, di mana mereka terpapar pada suara wanita dan anak-anak agar terbiasa dengan lingkungan manusia yang bising. Para pelatih akan memanggil mereka dengan nama-nama yang penuh kasih sayang seperti “beta” atau “beti” dan terkadang berbagi tempat tidur serta selimut dengan hewan tersebut. Untuk menenangkan cheetah yang gelisah, pelatih sering menggunakan teknik sederhana seperti mengayunkan tongkat dengan kain di ujungnya di depan wajah hewan tersebut.
Sekuens Perburuan di Lapangan
Saat berburu, cheetah dibawa ke padang rumput menggunakan kereta lembu atau hackery. Penggunaan kereta lembu merupakan strategi taktis; mangsa utama cheetah, yakni blackbuck, sangat terbiasa dengan keberadaan ternak dan kereta pertanian, sehingga mereka tidak akan melarikan diri jika kereta mendekat hingga jarak sekitar 100-200 meter.
Langkah-langkah perburuan adalah sebagai berikut:
- Pengintaian: Cheetah tetap dalam kondisi tertutup matanya (hooded) sampai pemburu mengidentifikasi mangsa yang cocok.
- Pelepasan: Penutup mata dibuka, dan cheetah akan mengamati targetnya sejenak sebelum melompat dari kereta.
- Pengejaran: Cheetah menggunakan kecepatan ledaknya (mencapai 110 km/jam) untuk mengejar mangsa. Karena cheetah tidak memiliki kekuatan fisik sebesar macan tutul, teknik utamanya adalah menggunakan cakar depannya untuk menjatuhkan atau “menjegal” kaki belakang antelop saat berlari kencang.
- Kuncian Tenggorokan: Begitu mangsa terjatuh, cheetah segera mengunci tenggorokan mangsa dengan gigitan mematikan untuk mencekiknya.
- Hadiah Pemburu: Pemburu harus segera mendekat untuk menyembelih mangsa secara ritual dan memberikan sebagian kecil daging (biasanya organ dalam) kepada cheetah sebagai hadiah agar ia melepaskan kunciannya tanpa merusak karkas.
Tragedi Kepunahan dan Restorasi Ekologis di India
Terlepas dari statusnya sebagai hewan kesayangan istana, nasib cheetah di India berakhir secara tragis. Kombinasi dari eksploitasi berlebihan untuk hobi bangsawan dan perubahan radikal dalam bentang alam menyebabkan hilangnya spesies ini secara permanen dari alam liar India pada pertengahan abad ke-20.
Kronologi Kepunahan
Penurunan populasi cheetah menjadi tidak terkendali pada abad ke-19. Pemerintah kolonial Inggris memberikan insentif finansial bagi pembunuhan cheetah liar karena dianggap sebagai ancaman bagi ternak dan sebagai bagian dari upaya membersihkan hutan untuk pemukiman. Pada awal abad ke-20, cheetah menjadi sangat langka sehingga para pangeran India mulai mengimpor cheetah dari Afrika untuk melanjutkan tradisi berburu mereka.
Titik akhir yang diakui secara luas terjadi pada tahun 1947, tahun yang sama dengan kemerdekaan India. Maharaja Ramanuj Pratap Singh Deo dari Korea (sekarang bagian dari Chhattisgarh) menembak mati tiga cheetah Asiatik terakhir yang tersisa di wilayah tersebut. Pada tahun 1952, pemerintah India secara resmi mendeklarasikan kepunahan lokal bagi cheetah.
Proyek Cheetah: Upaya Reintroduksi Modern
Setelah tujuh dekade tanpa kehadiran predator tercepat ini, India meluncurkan “Project Cheetah” pada September 2022. Ini adalah upaya pertama di dunia untuk memindahkan karnivora besar antarbenua, dengan membawa cheetah Afrika (Acinonyx jubatus jubatus) dari Namibia dan Afrika Selatan ke Taman Nasional Kuno di Madhya Pradesh.
Namun, proyek ini tidak lepas dari kontroversi medis dan etis. Hingga awal 2024, terjadi beberapa kematian pada cheetah dewasa dan anak yang lahir di India karena infeksi parasit dan kesulitan adaptasi iklim, terutama terkait dengan penggunaan kalung pelacak radio yang menyebabkan luka di bawah bulu musim dingin yang tidak musiman. Para kritikus juga mempertanyakan pengabaian terhadap spesies asli lainnya, seperti singa Asiatik, demi proyek yang dianggap memiliki motivasi politik dan pariwisata lebih besar daripada nilai konservasi murni.
| Tantangan Proyek Cheetah | Deskripsi | Implikasi Konservasi |
| Adaptasi Iklim | Perbedaan siklus biologis antara belahan bumi selatan dan utara | Kematian karena penyakit yang terkait dengan kelembapan |
| Konflik Ruang | Area Kuno National Park dianggap terlalu sempit untuk wilayah jelajah cheetah | Risiko hewan keluar ke lahan pertanian warga |
| Persaingan Spesies | Kuno awalnya disiapkan untuk translokasi singa Asiatik | Penundaan konservasi singa demi proyek cheetah |
| Kesejahteraan Hewan | Intervensi medis yang sering dan penangkaran dalam kandang | Stres kronis yang memengaruhi tingkat kelangsungan hidup |
Tradisi Berkutchi di Mongolia: Aliansi Abadi Nomaden Kazakh
Di belahan dunia lain, tepatnya di pegunungan Altai yang dingin di Mongolia Barat, terdapat tradisi berburu dengan elang emas (Aquila chrysaetos) yang dilakukan oleh komunitas etnis Kazakh. Praktik ini, yang disebut berkutchi, mewakili salah satu bentuk hubungan terdalam antara manusia dan hewan yang masih bertahan di era modern. Berbeda dengan tradisi India yang berpusat pada hierarki istana, berkutchi merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem.
Sejarah dan Akar Budaya Nomaden
Tradisi berburu dengan burung pemangsa di Asia Tengah memiliki sejarah yang sangat panjang. Bukti arkeologis berupa petroglyphs dari Zaman Perunggu (sekitar 2500 SM) menunjukkan manusia yang memegang burung besar di lengannya. Genghis Khan dan cucunya, Kublai Khan, tercatat memiliki ribuan elang dan elang saphir untuk ekspedisi berburu skala besar.
Bagi orang Kazakh di Mongolia, tradisi ini bukan sekadar cara berburu; ia adalah simbol identitas. Sejarah mencatat bahwa tradisi ini hampir musnah di Kazakhstan akibat kebijakan Uni Soviet pada tahun 1930-an yang memaksa kaum nomaden masuk ke pertanian kolektif dan melarang praktik budaya tradisional. Ribuan orang Kazakh melarikan diri melintasi perbatasan ke wilayah terpencil di Mongolia Barat untuk mempertahankan cara hidup mereka, menjadikan Provinsi Bayan-Olgii sebagai “benteng terakhir” tradisi berkutchi.
Hubungan Spiritual dan Etika Konservasi
Salah satu aspek yang paling membedakan tradisi Mongolia dari tradisi eksotis lainnya adalah etika pelepasannya. Seorang berkutchi tidak memelihara elangnya seumur hidup. Menurut adat, elang yang telah dilatih dan digunakan selama tujuh hingga sepuluh tahun harus dilepaskan kembali ke alam liar. Pelepasan ini dilakukan agar elang tersebut dapat berkembang biak dan berkontribusi pada populasi liar, sebuah bentuk manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan yang telah dipraktikkan jauh sebelum konsep konservasi modern muncul.
Hubungan antara pemburu dan elang sering kali digambarkan sebagai hubungan antara anggota keluarga. Elang dianggap memiliki jiwa, dan pemburu sering kali bermimpi tentang elang mereka setelah dilepaskan, merasa khawatir apakah burung tersebut mampu bertahan hidup dan menemukan pasangan di alam liar.
Biologi dan Pelatihan Elang Emas dalam Tradisi Kazakh
Elang emas adalah predator udara yang luar biasa, dengan rentang sayap mencapai 2 meter dan cakar sepanjang 6 cm yang mampu mematahkan tulang leher serigala. Dalam tradisi berkutchi, hanya elang betina yang digunakan karena ukuran tubuh mereka yang sepertiga lebih besar dan jauh lebih agresif dibandingkan jantan.
Fase Pengambilan dan Penjinakan
Pemburu biasanya mengambil elang dari sarang di tebing tinggi saat burung tersebut sudah bisa makan sendiri tetapi belum bisa terbang sepenuhnya (fledged). Hal ini memastikan bahwa burung tersebut memiliki dasar-dasar kekuatan biologis namun tetap cukup muda untuk membentuk ikatan dengan manusia.
Proses penjinakan melibatkan beberapa teknik unik:
- Imprinting Suara: Burung diletakkan di atas tempat bertengger yang terus bergoyang (seperti ayunan) agar ia harus fokus menyeimbangkan diri, sementara pemiliknya terus berbicara, bernyanyi, dan memanggil namanya agar burung tersebut terbiasa dengan suara unik tuannya.
- Manajemen Nutrisi: Elang diberi makan secara manual dengan daging segar. Ketergantungan pada makanan ini membangun rasa percaya dan ketaatan.
- Paparan Lingkungan: Burung dibawa ke mana-mana, termasuk ke dalam ger (tenda yurt) dan kerumunan orang, agar ia tidak stres saat berada di tengah aktivitas manusia.
Peralatan Khusus Berkutchi
Karena berat elang emas bisa mencapai 7 kg, perburuan dilakukan dengan menunggang kuda yang kuat (bercut). Pemburu menggunakan berbagai alat khusus untuk mendukung tugas ini :
- Tomaga: Penutup mata kulit yang digunakan agar burung tetap tenang dan tidak terganggu oleh gerakan di sekitarnya sebelum saat perburuan dimulai.
- Baldak: Penyangga lengan yang terbuat dari kayu bercabang yang dipasang pada pelana kuda untuk menahan beban lengan pemburu saat membawa elang dalam perjalanan jauh.
- Jesses: Tali kulit pendek yang diikatkan pada pergelangan kaki elang untuk mengontrol pergerakannya saat berada di tangan.
- Bia: Sarung tangan kulit tebal yang melindungi lengan pemburu dari cakar elang yang sangat tajam.
| Istilah Peralatan | Fungsi Utama | Material |
| Tomaga | Menutup mata elang agar tenang | Kulit domba/sapi |
| Baldak | Menopang berat elang saat berkuda | Kayu juniper atau birch |
| Bia | Melindungi tangan dari cakar | Kulit kuda atau serigala |
| Baldyr | Tali pengaman elang pada pelana | Kulit kepang |
Strategi Perburuan di Pegunungan Altai
Perburuan hanya dilakukan pada musim dingin yang ekstrem, ketika suhu bisa turun hingga -40 derajat Celsius. Ini adalah waktu ketika mangsa, seperti rubah merah, rubah Corsac, dan kelinci, memiliki bulu musim dingin yang paling tebal dan berwarna kontras dengan hamparan salju putih.
Sekuens Eksekusi di Lapangan
Perburuan merupakan operasi tim yang melibatkan koordinasi antara manusia, kuda, dan elang. Sering kali, seorang asisten (biasanya anak laki-laki pemburu) dikirim ke lembah untuk menghalau mangsa agar keluar dari persembunyiannya. Pemburu utama berdiri di puncak bukit yang tinggi, memberikan pandangan strategis bagi elang yang bertengger di lengannya.
Begitu mangsa terdeteksi, penutup mata elang dibuka. Dengan satu komando vokal, elang diluncurkan. Berbeda dengan burung alap-alap (falcons) yang menabrak mangsa dengan kecepatan vertikal, elang emas menggunakan massa tubuh dan kekuatannya untuk menjatuhkan mangsa ke tanah dan mencengkeramnya dengan tekanan cakar yang sangat besar. Pemburu harus segera memacu kudanya menuruni lereng berbatu untuk mengamankan mangsa. Penting bagi pemburu untuk segera datang dan membunuh mangsa agar elang tidak terluka akibat perlawanan mangsa atau mulai memakan bagian bulu yang berharga.
Tujuan utama perburuan ini bukanlah daging, melainkan bulu. Bulu rubah dan serigala digunakan untuk membuat topi tradisional (loovuuz) dan mantel tebal yang sangat penting untuk kelangsungan hidup nomaden. Sebagai hadiah, elang biasanya diberikan bagian paru-paru mangsa, yang dianggap sebagai bagian paling bergizi dan lezat bagi burung tersebut.
Analisis Komparatif: Sosiologi dan Ekologi Predasi Terbimbing
Membandingkan tradisi di India dan Mongolia mengungkapkan perbedaan mendasar dalam struktur masyarakat dan cara mereka memandang alam liar.
Struktur Sosial: Bangsawan vs. Nomaden
Di India, perburuan dengan cheetah adalah hak istimewa kaum feodal. Ini adalah instrumen untuk menegakkan status sosial dan diplomasi antar-kerajaan. Koleksi cheetah yang besar di istana Mughal menunjukkan kemampuan negara dalam memobilisasi sumber daya besar hanya untuk tujuan rekreasi elit.
Sebaliknya, berkutchi di Mongolia adalah tradisi masyarakat akar rumput. Meskipun ada unsur prestise, motif utamanya adalah fungsionalitas dan kelangsungan hidup keluarga di padang rumput yang keras. Kepemilikan elang terbatas pada satu atau dua ekor per rumah tangga, dan pelatihan dilakukan secara pribadi oleh anggota keluarga, bukan oleh pegawai istana.
Dampak Ekologis: Kepunahan vs. Keberlanjutan
Perbedaan paling mencolok terletak pada keberlanjutan praktik tersebut. Tradisi India gagal mengintegrasikan siklus hidup hewan ke dalam praktik mereka. Dengan terus-menerus mengambil hewan dewasa dari alam liar tanpa kemampuan pembiakan, mereka menciptakan “lubang hitam” demografis bagi populasi cheetah.
Tradisi Kazakh, dengan kebijakan pelepasan kembali elang ke alam liar setelah masa kerja tertentu, menciptakan siklus yang mendukung kelestarian populasi. Burung yang dilepaskan kembali memiliki pengalaman hidup yang cukup untuk bertahan dan melanjutkan garis keturunan mereka di alam liar.
| Dimensi Perbandingan | Cheetah India (Macan Tutul Pemburu) | Elang Emas Mongolia (Berkutchi) |
| Basis Sosial | Aristokrasi feodal dan kerajaan | Nomaden pastoral dan komunal |
| Tujuan Utama | Hiburan elit, simbol kekuasaan | Pakaian bulu, identitas, kelangsungan hidup |
| Metode Pelatihan | Penjinakan domestik (beta/beti) | Ikatan kerja spiritual dan teknis |
| Durasi Penangkaran | Seumur hidup (sampai mati) | Terbatas (7-10 tahun, lalu dilepas) |
| Status Saat Ini | Punah secara lokal (diupayakan reintroduksi) | Bertahan sebagai warisan budaya aktif |
Ancaman Modern dan Tantangan Masa Depan
Kedua tradisi ini sekarang menghadapi tantangan besar dari perubahan dunia modern, mulai dari tekanan pariwisata hingga ancaman infrastruktur industri.
Komersialisasi Budaya dan Pariwisata
Di Mongolia, Festival Elang Emas yang diadakan setiap tahun telah menjadi fenomena pariwisata global. Meskipun festival ini membawa keuntungan ekonomi bagi komunitas Kazakh, ada kekhawatiran mengenai komodifikasi tradisi. Turis sering kali tidak menyukai aspek kekejaman perburuan nyata, sehingga demonstrasi di festival sering menggunakan umpan mati atau kulit binatang yang ditarik, bukan perburuan hidup. Selain itu, permintaan akan foto turis terkadang mendorong pemburu untuk memelihara lebih banyak elang daripada yang mereka mampu latih secara tradisional, yang berpotensi menurunkan kualitas hubungan manusia-hewan tersebut.
Bahaya Listrik bagi Burung Pemangsa
Salah satu ancaman paling mematikan bagi elang di Mongolia saat ini bukan lagi perburuan atau kehilangan habitat secara langsung, melainkan sengatan listrik (electrocution). Diperkirakan sekitar 18.000 burung pemangsa, termasuk 4.000 elang Saker yang terancam punah dan ratusan elang emas, mati setiap tahun akibat tiang listrik tegangan menengah yang memiliki desain yang salah. Upaya mitigasi skala besar saat ini sedang dilakukan dengan memasang isolasi pada tiang-tiang listrik untuk melindungi burung-burung ini, didukung oleh pendanaan internasional.
Isu Etis dalam Reintroduksi Cheetah di India
Di India, tantangan masa depan terletak pada keberhasilan “Project Cheetah”. Debat mengenai keaslian ekologis dari penggunaan cheetah Afrika untuk menggantikan cheetah Asiatik yang punah terus berlanjut. Ada kekhawatiran bahwa cheetah ini mungkin tidak akan pernah bisa benar-benar hidup liar jika mereka terus dipantau secara medis dan diberi makan di kandang besar (bomas). Selain itu, biaya tinggi proyek ini (diperkirakan mencapai 50-60 juta USD) dianggap oleh sebagian konservasionis sebagai pemborosan yang bisa dialokasikan untuk spesies asli yang masih bertahan namun terabaikan.
Sintesis: Predator sebagai Cermin Budaya Manusia
Mengkaji tradisi berburu dengan cheetah di India dan elang emas di Mongolia memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alam liar. Tradisi ini bukan hanya tentang penaklukan, tetapi juga tentang pengakuan terhadap keunggulan predator puncak. Dalam kasus India, hilangnya cheetah menandai berakhirnya sebuah era di mana alam dan istana saling terkait erat, meninggalkan lubang dalam struktur ekosistem dan sejarah nasional yang kini coba ditambal melalui sains modern.
Di Mongolia, keberlangsungan berkutchi menunjukkan kekuatan tradisi yang mampu bertahan dari penindasan ideologi politik (Soviet) dan godaan modernitas. Elang emas tetap menjadi simbol kedaulatan bagi rakyat Kazakh, sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin digital, ada ikatan fisik dan spiritual yang nyata antara manusia dan langit.
Pada akhirnya, kelangsungan hidup kedua hewan eksotis ini di lingkungan aslinya—baik melalui reintroduksi di India maupun pelestarian tradisi di Mongolia—akan menjadi ujian bagi komitmen manusia dalam menjaga keanekaragaman hayati dan warisan budaya secara bersamaan. Keberlanjutan ini memerlukan pendekatan yang melampaui kepentingan pariwisata atau politik nasional, yakni sebuah penghormatan yang tulus terhadap integritas biologis hewan dan otonomi budaya masyarakat yang telah menjaga rahasia pelatihan predator ini selama ribuan tahun.
Analisis Statistik dan Data Terkait
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, berikut adalah tabel statistik mengenai mortalitas dan status populasi burung pemangsa di Mongolia yang memengaruhi tradisi berkutchi:
| Spesies | Estimasi Kematian per Tahun (Listrik) | Status IUCN | Tren Populasi |
| Saker Falcon | 4.000 ekor | Endangered | Menurun tajam |
| Steppe Eagle | >5.000 ekor | Endangered | Menurun drastis (>50%) |
| Golden Eagle | Ratusan ekor | Least Concern (Global) | Stabil namun terancam lokal |
| Total Raptora | ~18.000 ekor | Berbagai kategori | Menurun di jalur migrasi |
Data ini menunjukkan bahwa meskipun tradisi perburuan elang emas sendiri bersifat berkelanjutan melalui praktik pelepasan kembali burung ke alam, infrastruktur modern menghadirkan ancaman eksternal yang jauh lebih mematikan daripada praktik tradisional. Hal ini menggarisbawahi perlunya integrasi antara pelestarian budaya dan modernisasi infrastruktur yang ramah lingkungan.
Di India, data dari Proyek Cheetah menunjukkan tantangan serupa dalam hal kelangsungan hidup:
| Parameter Proyek | Nilai/Status |
| Total Cheetah Diimpor | 20 ekor (Namibia & Afrika Selatan) |
| Kematian Dewasa (2023-2024) | 7 ekor |
| Anak Lahir di India | 4 ekor (pada batch pertama) |
| Lokasi Utama | Kuno National Park, Madhya Pradesh |
| Biaya Estimasi | USD 50-60 Juta |
Perbandingan data ini menegaskan bahwa baik di pegunungan Altai maupun di dataran Kuno, keberadaan predator besar ini tetap berada di garis depan perjuangan antara tradisi masa lalu dan realitas keras masa depan. Pelajaran dari India mengajarkan kita bahwa sekali sebuah spesies hilang, proses untuk mengembalikannya jauh lebih mahal dan menyakitkan daripada melestarikannya saat masih ada. Sementara itu, Mongolia memberikan cetak biru tentang bagaimana sebuah komunitas dapat menjadi pelindung terbaik bagi spesies yang mereka gunakan, asalkan tradisi tersebut dijalankan dengan rasa hormat dan kesadaran akan siklus hidup alam.


