Loading Now

Teknologi Yakhchal Persia dalam Pelestarian Kriogenik Kuno

Paradoks keberadaan es di tengah panas terik gurun pasir Iran merupakan salah satu pencapaian teknik paling luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Selama lebih dari dua milenium, masyarakat Persia kuno tidak hanya mampu bertahan hidup dalam kondisi iklim ekstrem, tetapi juga berhasil menguasai manipulasi termodinamika untuk memproduksi dan menyimpan es sepanjang tahun. Melalui struktur yang dikenal sebagai yakhchāl—secara harfiah berarti “lubang es” dari kata yakh (es) dan chāl (lubang/pit)—para insinyur Persia mengembangkan sistem pendinginan pasif yang sangat canggih sehingga mampu menyajikan hidangan penutup beku seperti sorbet dan faloodeh kepada kaum aristokrat di bawah sinar matahari musim panas yang menyengat. Struktur-struktur ini mewakili sintesis jenius antara pengamatan fenomena alam, inovasi material, dan manajemen sumber daya air yang terintegrasi dengan sistem qanāt.

Evolusi Historis dan Konteks Sosio-Politik Yakhchal

Penciptaan yakhchāl bukanlah sebuah kebetulan teknologi, melainkan hasil dari adaptasi ribuan tahun terhadap geografi dataran tinggi Iran yang gersang. Catatan sejarah menunjukkan bahwa struktur ini telah digunakan setidaknya sejak 400 SM, selama era Kekaisaran Achaemenid. Keberadaan es di musim panas pada masa itu bukan sekadar kenyamanan, melainkan simbol kekuasaan, kemakmuran, dan penguasaan atas alam. Aristokrasi Persia memandang penyajian minuman dingin sebagai bentuk ekspresi diri dan otoritas, di mana pesta-pesta mewah sering kali menyertakan hidangan penutup beku sebagai bukti kekayaan mereka.

Garis Waktu Pengembangan dan Dinasti Utama

Era/Dinasti Kontribusi Terhadap Teknologi Pendinginan Status Sosial Es
Achaemenid (550–330 SM) Inisiasi awal teknik penyimpanan es bawah tanah; integrasi dengan qanāt pertama. Kemewahan eksklusif bagi raja dan keluarga kerajaan di Persepolis dan Susa.
Kekaisaran Klasik (Abad ke-4 SM) Penemuan Faloodeh sebagai hidangan penutup beku pertama di dunia. Simbol kelimpahan dan kecanggihan kuliner istana.
Safavid (1501–1722 M) Standardisasi arsitektur kubah kerucut besar; pembangunan yakhchāl publik di kota-kota besar. Komoditas komersial di bazaar; es mulai tersedia bagi kelas menengah atas.
Qajar (1789–1925 M) Pembangunan struktur masif di Yazd dan Kerman yang masih berdiri hingga saat ini. Infrastruktur perkotaan yang vital; pendukung utama industri kuliner tradisional.

Penggunaan yakhchāl mencapai puncak kecanggihannya selama periode Safavid dan Qajar, di mana struktur-struktur ini menjadi bagian integral dari lanskap perkotaan dan rute perdagangan seperti Jalur Sutra. Di kota-kota seperti Kerman, yang terletak lebih dari satu mil di atas permukaan laut, yakhchāl setinggi 18 meter dibangun untuk melayani kebutuhan populasi yang terus meningkat. Fungsi sosial yakhchāl meluas melampaui sekadar gudang; mereka adalah pusat gravitasi ekonomi di mana es dijual di bazaar-bazaar lokal dan dikirim ke rumah-rumah orang kaya sebagai tanda prestise. Beberapa teori bahkan menyarankan bahwa praktik penyimpanan es ini mungkin dipengaruhi oleh teknik dari Tiongkok yang diperkenalkan oleh bangsa Mongol, meskipun yakhchāl Persia memiliki adaptasi unik terhadap iklim gurun yang jauh lebih kering.

Anatomi Arsitektural: Integrasi Komponen untuk Stabilitas Termal

Keberhasilan yakhchāl dalam mempertahankan suhu di bawah titik beku selama berbulan-bulan bergantung pada desain geometris yang sangat spesifik dan integrasi beberapa komponen fungsional. Struktur ini biasanya terdiri dari empat bagian utama: kubah kerucut (dome), lubang penyimpanan (pit), dinding pelindung (shade walls), dan kolam pembekuan (ice pools).

Kubah Kerucut dan Efek Cerobong Surya

Kubah yakhchāl yang berbentuk kerucut (gunbad-i rok) dirancang bukan hanya untuk estetika, tetapi untuk memfasilitasi konveksi alami. Dengan ketinggian yang sering mencapai 10 hingga 20 meter, struktur ini memanfaatkan prinsip bahwa udara panas akan naik. Ventilasi di puncak kubah (havakesh) memungkinkan udara hangat yang masuk atau dihasilkan di dalam untuk keluar, sementara udara dingin yang lebih berat tetap mengendap di dasar pit yang dalam.

Bentuk kerucut ini juga meminimalkan paparan langsung sinar matahari. Sudut kemiringan dinding luar memastikan bahwa pada jam-jam terpanas, hanya sebagian kecil dari luas permukaan kubah yang terkena radiasi matahari tegak lurus, sementara sebagian besar lainnya berada dalam bayang-bayang sendiri atau menerima radiasi pada sudut miring yang kurang intens. Di bagian puncak, seringkali terdapat lubang yang ditutupi oleh potongan marmer; pilihan material ini memungkinkan cahaya siang hari masuk tanpa membiarkan udara dingin keluar atau udara panas masuk secara berlebihan.

Reservoir Bawah Tanah (Pit)

Jantung dari yakhchāl adalah pit penyimpanan yang sangat besar, terkadang memiliki volume hingga 5.000 meter kubik. Pit ini digali jauh ke dalam tanah untuk memanfaatkan isolasi termal alami bumi. Tanah memiliki inersia termal yang tinggi, yang berarti suhu di kedalaman beberapa meter tetap stabil sepanjang tahun, jauh di bawah suhu permukaan gurun saat musim panas. Kedalaman pit bervariasi tergantung pada kebutuhan es dan tingkat kelembapan lokal, seperti Khalili Yakhchal di Tehran yang mencapai kedalaman sepuluh meter.

Dinding pit dibangun menggunakan batu atau bata yang dilapisi dengan lapisan tebal jerami dan mortar kedap air. Untuk mengelola es yang mencair, sebuah sumur drainase kecil dibangun di titik terendah dasar pit, memungkinkan air lelehan untuk mengalir keluar sehingga tidak merusak struktur es padat di atasnya.

Dinding Bayangan dan Mekanisme Pendinginan Kolam

Di luar struktur utama, terdapat dinding pelindung (shade walls) yang sangat panjang, seringkali mencapai 50 meter, dengan ketinggian hingga 10 meter. Dinding ini dibangun dengan orientasi timur-barat yang sangat presisi. Di sisi utara dinding ini, air dialirkan dari qanāt ke dalam kolam dangkal (yakhband) yang terlindung dari sinar matahari sepanjang hari selama musim dingin.

Komponen Arsitektur Dimensi Tipikal Fungsi Utama
Kubah (Dome) Tinggi 10–20m; Diameter dasar 10m. Efek cerobong surya; pengeluaran udara panas.
Lubang Es (Pit) Kedalaman hingga 10m; Volume hingga 5.000 m3. Penyimpanan massa es dengan stabilitas suhu bumi.
Dinding Bayangan Panjang hingga 50m; Tinggi hingga 10m. Melindungi kolam pembekuan dari radiasi matahari musim dingin.
Kolam Pembekuan Kedalaman 40–50 cm. Produksi es melalui pendinginan radiatif malam hari.

Kolam-kolam ini dirancang sangat dangkal untuk memaksimalkan rasio luas permukaan terhadap volume. Hal ini sangat krusial untuk proses pendinginan radiatif di malam hari, yang memungkinkan air membeku meskipun suhu udara ambien mungkin masih berada di atas titik beku. Dinding bayangan seringkali dihiasi dengan ceruk-ceruk lengkung (arched niches) di wilayah Yazd, yang memberikan dukungan struktural sekaligus estetika arsitektural yang megah.

Sains Material: Sarooj dan Isolasi Termal Lanjutan

Salah satu rahasia utama ketahanan yakhchāl adalah penggunaan mortar tradisional yang disebut sarooj. Material ini adalah komposit canggih yang menunjukkan pemahaman mendalam tentang sifat fisik bahan bangunan. Sarooj telah digunakan di Iran sejak 1200 SM dan terbukti sangat kompatibel dengan berbagai iklim, dari pesisir Teluk Persia yang lembap hingga gurun tengah yang kering.

Komposisi dan Karakteristik Kimia Sarooj

Sarooj bukan sekadar lumpur atau semen biasa. Ini adalah campuran yang diracik secara presisi dengan bahan-bahan yang memiliki fungsi spesifik secara kimia dan fisik:

  • Lempung dan Pasir: Bertindak sebagai matriks utama dan pengisi.
  • Kapur (Lime): Berfungsi sebagai pengikat hidrolik. Kualitas sarooj sangat bergantung pada kandungan magnesium dalam kapur untuk elastisitas dan kalsium untuk kecepatan pengerasan.
  • Abu (Ash): Material pozzolanic, sering kali berasal dari sekam padi yang kaya akan silika (85-95%), yang meningkatkan kekuatan jangka panjang dan ketahanan terhadap air.
  • Rambut Hewan (Kambing/Unta): Memberikan kekuatan tarik (tensile strength) yang tinggi, mirip dengan kawat tembaga, untuk mencegah retak akibat penyusutan mortar saat mengering.
  • Putih Telur: Agen organik yang meningkatkan impermeabilitas dan fleksibilitas mortar, menjadikannya hampir sepenuhnya kedap air.

Proses pembuatan sarooj melibatkan kalsinasi tanah liat pada suhu moderat sekitar 700°C hingga 800°C. Suhu ini jauh lebih rendah daripada suhu yang dibutuhkan untuk memproduksi semen Portland modern (1600°C), menjadikannya teknologi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Mortar ini bersifat hidrolik, yang berarti ia membutuhkan kelembapan untuk mengeras dengan sempurna, menjadikannya sangat tahan lama setelah mencapai kematangan strukturalnya.

Analisis Fisika Bangunan dan Inersia Termal

Analisis fisika bangunan modern menunjukkan bahwa transmisi panas (U-value) dari konstruksi adobe tebal dengan isolasi jerami pada yakhchāl setara dengan standar bangunan modern yang menggunakan 100mm beton ditambah 400mm isolasi polistiren. Namun, sarooj menawarkan keunggulan lebih dalam hal manajemen suhu. Dinding sarooj yang tebal (mencapai 2 meter di bagian dasar) menciptakan penghalang panas yang masif.

Inersia termal material ini dihitung melalui nilai massa termal () yang mencapai 150, yang memungkinkan struktur untuk menyerap fluktuasi panas harian tanpa memengaruhi suhu interior secara signifikan. Pada dinding setebal satu meter atau lebih, efek penundaan fase (phase shift) sangat ekstrem; gelombang panas tahunan memerlukan waktu hampir satu tahun untuk merambat dari permukaan luar ke permukaan dalam, yang berarti pada puncak musim panas, suhu di dalam pit masih dipengaruhi oleh suhu dingin dari musim dingin sebelumnya.

Dinamika Termodinamika: Pendinginan Radiatif dan Konveksi

Operasi yakhchāl didasarkan pada dua prinsip fisika utama yang dimanfaatkan tanpa bantuan energi listrik: pendinginan radiatif malam hari untuk produksi es, dan manajemen massa termal untuk penyimpanan es.

Mekanisme Pendinginan Langit Malam

Di wilayah gurun, kelembapan relatif dan absolut sangat rendah. Kondisi ini menciptakan “jendela atmosfer” yang jernih, memungkinkan permukaan bumi memancarkan energi panas dalam bentuk radiasi inframerah langsung ke ruang angkasa yang berfungsi sebagai pembuang panas (heat sink) dengan suhu mendekati nol mutlak. Proses ini diformulasikan dalam fisika melalui daya pancar radiasi:

Karena langit gurun yang cerah memiliki suhu efektif yang sangat rendah, air di kolam dangkal yakhchāl dapat melepaskan panas begitu cepat sehingga suhunya turun di bawah titik beku () bahkan ketika suhu udara ambien berada di kisaran hingga . Dinding bayangan yang dibangun di sisi selatan kolam memastikan bahwa air tidak menerima radiasi matahari selama siang hari, sehingga suhu awal air tetap rendah sebelum proses radiasi malam hari dimulai.

Efek Cerobong Surya dan Ventilasi Pasif

Desain vertikal kubah yakhchāl menciptakan aliran konveksi yang dipicu oleh perbedaan suhu dan tekanan udara. Udara panas yang berada di dalam struktur—baik dari infiltrasi kecil melalui pintu atau dari proses metabolisme orang yang masuk—akan naik ke puncak kubah. Ventilasi di bagian atas memungkinkan udara hangat ini keluar, sementara massa udara dingin yang lebih padat (heavy air) tetap terperangkap di dasar pit penyimpanan.

Beberapa yakhchāl juga terintegrasi dengan bādgir (windcatchers), menara angin yang menangkap angin sepoi-sepoi di ketinggian gurun. Udara ini diarahkan ke bawah melalui saluran internal yang seringkali bersentuhan dengan air dingin dari qanāt, menciptakan efek pendinginan evaporatif sebelum masuk ke ruang penyimpanan es. Kombinasi antara pendinginan radiatif, konveksi alami, dan evaporasi memungkinkan suhu internal tetap terjaga 15–20°C lebih rendah daripada suhu luar gurun yang bisa melebihi 40°C.

Metodologi Operasional: Siklus Hidup Es di Tengah Gurun

Penyediaan es bagi kaum aristokrat bukan sekadar masalah teknik bangunan, melainkan proses logistik dan sosial yang melibatkan komunitas luas.

Proses Produksi dan Pemanenan Musim Dingin

  1. Pengaliran Air (Qanāt Infiltration): Air bersih dialirkan dari sistem qanāt ke kolam yakhband pada malam hari selama musim dingin.
  2. Pembekuan Bertahap: Air dibiarkan membeku lapis demi lapis. Semakin dingin malamnya, semakin banyak air yang dituangkan ke kolam.
  3. Pemanenan Fajar: Sebelum matahari terbit, penduduk setempat berkumpul untuk memecah es yang terbentuk di kolam.
  4. Transfer ke Pit: Es dipindahkan ke dalam pit melalui pintu masuk utara yang dilengkapi dengan seluncuran atau tangga spiral.
  5. Isolasi Lapis (Layering): Es disusun dengan lapisan jerami, alang-alang, atau sedge di antaranya untuk mencegah es membeku menjadi satu massa padat yang mustahil dipotong di kemudian hari, sekaligus memberikan isolasi internal.
  6. Penyegelan Musim Panas: Setelah pit penuh, pintu-pintu (utara dan selatan) disegel rapat dan hanya dibuka ketika permintaan es meningkat di musim panas.

Peran Komunitas dan Upacara Tradisional

Pemanenan es sering kali dianggap sebagai acara komunal yang penting. Di beberapa wilayah, proses pembekuan dan pemindahan es berlangsung selama delapan hari delapan malam sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat. Keterlibatan warga desa menunjukkan bahwa yakhchāl bukan hanya aset aristokrat, tetapi juga elemen pengikat sosial yang memberikan manfaat bagi publik luas melalui distribusi es di bazaar. Es dari pegunungan terdekat juga kadang dibawa dalam jumlah besar untuk melengkapi es yang diproduksi di tempat.

Budaya Kuliner Aristokrat: Evolusi Faloodeh dan Bastani

Ketersediaan es di tengah gurun memungkinkan penciptaan tradisi kuliner yang unik, yang kemudian menjadi fondasi bagi sejarah hidangan penutup beku secara global. Kaum aristokrat Persia memanfaatkan es ini untuk menciptakan sensasi kesegaran yang kontras dengan lingkungan luar.

Faloodeh: Sorbet Pertama di Dunia

Faloodeh (atau paloodeh) diakui sebagai salah satu hidangan penutup beku tertua, berasal dari sekitar 400 SM. Hidangan ini adalah sorbet yang terbuat dari pati (biasanya jagung, beras, atau gandum) yang dimasak dan ditekan melalui saringan untuk membentuk string mi tipis seperti vermicelli. Mi ini kemudian didinginkan secara cepat dalam air es dan dicampur dengan sirup gula yang harum dengan air mawar.

Karakteristik Faloodeh Detail Kuliner
Tekstur Renyah dan kenyal karena proses pembekuan mi dalam sirup.
Aroma Utama Air mawar (Rosewater) yang memberikan profil floral klasik.
Pelengkap Rasa Jus limau segar, sirup ceri asam, atau mint.
Variasi Regional Faloodeh Shirazi (klasik); Faloodeh Yazdi (dengan saffron dan pistachio).

Legenda menyebutkan bahwa faloodeh ditemukan secara tidak sengaja ketika sirup tumpah ke atas salju, namun teknologinya disempurnakan melalui penggunaan yakhchāl untuk penyimpanan es yang konsisten. Selama Dinasti Safavid, faloodeh menyebar luas ke berbagai wilayah, bahkan mencapai anak benua India melalui Kerajaan Mughal pada abad ke-17, di mana ia berevolusi menjadi minuman pencuci mulut yang dikenal sebagai falooda.

Bastani Sonnati: Es Krim Saffron Tradisional

Selain sorbet, es dari yakhchāl digunakan untuk membuat bastani sonnati atau es krim tradisional Persia. Sebelum penggunaan gula meluas pada abad ke-1 M, pemanis utama yang digunakan adalah madu, kurma, dan buah-buahan. Es krim ini diperkaya dengan saffron—rempah paling berharga di dunia—yang memberikan warna kuning cerah dan rasa aromatik yang dalam. Penambahan potongan krim beku (clotted cream), pistachio, dan air bunga mawar menjadikannya hidangan penutup yang sangat dihargai di meja makan para bangsawan.

Simbolisme Kemakmuran dalam Perjamuan

Bagi aristokrat Persia, menyajikan hidangan dingin di tengah hari musim panas yang lembap adalah demonstrasi “authority” dan “self-expression”. Makanan manis dan dingin dianggap sebagai simbol kelimpahan. Yakhchāl memastikan bahwa meskipun suhu luar melebihi 40°C, istana tetap dapat menyajikan sharbat (minuman buah dingin) dan sorbet kepada para tamu, menjadikannya elemen krusial dalam diplomasi kuliner dan keramahtamahan Persia.

Signifikansi Sosio-Ekonomi dan Infrastruktur Perkotaan

Yakhchāl tidak berdiri sendiri sebagai bangunan terisolasi, tetapi merupakan bagian dari jaringan infrastruktur yang mendukung kehidupan perkotaan dan ekonomi regional di Iran.

Integrasi dengan Qanāt dan Karavanserai

Hubungan antara yakhchāl dan qanāt (saluran air bawah tanah) sangatlah vital. Qanāt menyediakan pasokan air bersih yang terus mengalir, yang suhunya secara alami lebih rendah karena berada jauh di bawah tanah. Air qanāt ini dialirkan ke kolam pembekuan di dekat yakhchāl, memastikan ketersediaan bahan baku es tanpa gangguan.

Di sepanjang rute perdagangan, yakhchāl sering dipasangkan dengan karavanserai (penginapan bagi para pedagang). Hal ini memberikan keuntungan logistik yang besar:

  • Pengawetan Makanan: Memungkinkan penyimpanan bahan makanan segar bagi para pelancong dan hewan kafilah.
  • Komersialisasi Es: Es dijual di bazaar lokal sebagai komoditas berharga, menciptakan sektor ekonomi khusus bagi para penambang dan pedagang es.
  • Kesehatan Publik: Menyediakan akses ke air dingin untuk mencegah dehidrasi ekstrem dan serangan panas di rute gurun yang mematikan.

Keberlanjutan Arsitektur dan Inovasi Kuno

Yakhchāl mewakili model awal dari “net-zero refrigeration”. Tanpa emisi gas rumah kaca, penggunaan refrigeran kimia berbahaya, atau konsumsi energi fosil, struktur ini mencapai tujuan yang sama dengan lemari es modern melalui desain pasif. Material yang digunakan (tanah, jerami, kapur) sepenuhnya bersumber dari alam lokal dan dapat terurai secara alami, menunjukkan filosofi keberlanjutan yang jauh melampaui masanya.

Analisis Komparatif: Yakhchal vs. Teknologi Modern

Fitur Yakhchāl Persia (Pasif) Pendinginan Modern (Aktif)
Sumber Energi Radiasi langit malam; konveksi alami. Listrik; kompresor mekanis.
Material Utama Sarooj (adobe, kapur, serat organik). Baja, plastik, isolasi sintetis.
Dampak Lingkungan Nol emisi CO2; biodegradable. Emisi tinggi; penggunaan gas CFC/HFC.
Biaya Operasional Hampir nol setelah konstruksi selesai. Biaya energi berkelanjutan yang tinggi.
Masa Pakai Ratusan tahun dengan perawatan minimal. 10–20 tahun (siklus hidup perangkat).

Penelitian oleh Max Fordham R+I Group menekankan bahwa meskipun yakhchāl adalah teknologi kuno, performa termalnya sangat kompetitif. Ditemukan bahwa penggunaan material tradisional seperti adobe dan jerami menghasilkan suhu interior kubah yang 3°C lebih rendah daripada jika kubah yang sama dibangun menggunakan material modern dengan properti termal yang setara secara superfisial. Hal ini disebabkan oleh sifat dinamik massa termal sarooj yang lebih efektif dalam meredam gelombang panas jangka panjang dibandingkan dengan isolasi polistiren modern.

Masa Depan Teknologi Pendinginan Pasif

Di tengah krisis iklim global, prinsip-prinsip yakhchāl mulai dilirik kembali oleh arsitek dan insinyur kontemporer sebagai solusi untuk mengurangi beban energi pendinginan gedung di wilayah tropis dan gersang.

Aplikasi pada Arsitektur Modern

Implementasi modern dari teknik yakhchāl mencakup penggunaan “solar chimneys” untuk ventilasi gedung bertingkat dan “night sky radiation cooling” pada sistem atap bangunan. Material komposit baru yang meniru sifat pozzolanic sarooj sedang dikembangkan untuk menciptakan bahan bangunan rendah karbon yang memiliki inersia termal tinggi.

Selain itu, studi tentang yakhchāl memberikan wawasan tentang bagaimana desain perkotaan dapat meminimalkan efek “urban heat island”. Penggunaan dinding bayangan dan orientasi bangunan yang tepat—seperti yang diterapkan pada yakhband—dapat menurunkan suhu mikro-klimat di lingkungan padat penduduk tanpa penggunaan AC berlebih.

Tantangan Pelestarian Warisan

Meskipun yakhchāl masih ada yang berdiri di Yazd, Kerman, dan Kashan, banyak di antaranya berada dalam kondisi rusak. Pengenalan teknologi refrigerasi listrik pada 1960-an menyebabkan banyak yakhchāl ditinggalkan dan tidak lagi dirawat secara rutin. Perawatan kubah memerlukan pelapisan ulang adobe setiap tahun untuk memperbaiki kerusakan akibat radiasi matahari dan hujan jarang namun merusak. Restorasi saat ini difokuskan pada pariwisata, namun nilai edukasi teknisnya jauh lebih besar sebagai laboratorium hidup bagi teknik pendinginan masa depan.

Kesimpulan: Refleksi atas Kecerdasan Termodinamika Persia

Yakhchāl Persia bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan bukti nyata dari kecerdasan manusia dalam menaklukkan keterbatasan alam melalui pemahaman mendalam tentang hukum-hukum fisika. Teknik aristokrat Persia ini berhasil menciptakan paradoks yang mustahil: menyajikan es di jantung gurun yang membara. Dengan memanfaatkan energi tak terbatas dari langit malam dan stabilitas suhu bumi, yakhchāl menyediakan kemewahan kuliner bagi para bangsawan sekaligus memberikan solusi infrastruktur yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Warisan yakhchāl, dari hidangan penutup faloodeh yang menyegarkan hingga mortar sarooj yang tak tertembus waktu, terus memberikan pelajaran berharga bagi dunia modern. Di era di mana keberlanjutan menjadi prioritas utama, kembali menoleh ke teknologi kuno ini bukan hanya bentuk penghargaan terhadap sejarah, tetapi juga langkah strategis untuk merancang masa depan yang lebih selaras dengan ekosistem planet kita. Kecerdasan para insinyur Persia 2.400 tahun lalu membuktikan bahwa dengan harmoni antara arsitektur, material, dan alam, kesejukan dapat diciptakan bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun.