Analisis Sosio-Gastronomi Pesta Lucullus dan Konsumsi Eksotis sebagai Instrumen Kekuasaan
Fenomena kemewahan di Romawi Kuno bukan sekadar manifestasi dari akumulasi kekayaan materi, melainkan sebuah sistem komunikasi simbolik yang kompleks di mana makanan berfungsi sebagai bahasa utama kekuasaan. Istilah “Lucullan,” yang berakar dari nama jenderal Romawi Lucius Licinius Lucullus, telah menjadi sinonim universal bagi kemewahan yang melampaui batas wajar, terutama dalam hal perjamuan makan. Lucullus, yang hidup antara 118 hingga 57/56 SM, merepresentasikan pergeseran kultural yang signifikan dalam sejarah Romawi: transisi dari idealisme Republik yang mengagungkan kesederhanaan menuju dekadensi kekaisaran yang ditandai dengan konsumsi mencolok. Perjamuan yang menyajikan lidah flamingo, otak burung merak, dan hati ikan mullet bukan hanya tentang pemuasan nafsu makan, melainkan tentang demonstrasi penguasaan atas alam semesta dan jangkauan logistik kekaisaran yang tak tertandingi.
Lucius Licinius Lucullus: Arsitek Kemewahan dari Medan Perang ke Meja Makan
Lucius Licinius Lucullus berasal dari keluarga Licinia yang memiliki sejarah politik panjang namun penuh gejolak. Kakeknya adalah konsul pada 151 SM, sementara ayahnya, juga bernama Lucius, adalah praetor yang terlibat dalam Perang Budak Kedua di Sisilia. Meskipun karier militernya sangat cemerlang, terutama dalam kemenangannya melawan Mithridates VI dari Pontus dan Tigranes dari Armenia, warisan Lucullus yang paling bertahan lama justru terletak pada masa pensiunnya yang penuh kemewahan. Setelah ditarik dari medan perang dan digantikan oleh rival politiknya, Pompeius Magnus, Lucullus mengalihkan ambisinya dari penaklukan teritorial ke penaklukan gastronomi dan estetika.
Peralihan ini mencerminkan mekanisme pertahanan psikologis dan politik bagi elite Romawi yang kehilangan pengaruh di forum publik. Dengan membangun vila-vila megah yang dilengkapi dengan taman botani (salah satu yang pertama di dunia Barat) dan perpustakaan besar, Lucullus menciptakan ruang privat di mana ia tetap menjadi penguasa mutlak. Ia memperkenalkan berbagai buah-buahan Asia ke Italia, termasuk ceri, aprikot, dan kemungkinan persik, yang mengubah lanskap pertanian dan kuliner Roma selamanya. Penggunaan kekayaan yang diperoleh dari kampanye militer di Asia Minor untuk mendanai gaya hidup ini menciptakan standar baru bagi istilah luxuria, yang awalnya berarti “pertumbuhan yang berlebihan” dan kemudian berkembang menjadi konotasi negatif tentang pemborosan.
Karakter Lucullus dalam mengelola kemewahannya sangat unik karena ia menerapkan disiplin militer ke dalam ruang makan. Setiap ruang makan di vilanya memiliki standar biaya tetap; misalnya, makan malam di ruang “Apollo” selalu menelan biaya sekitar 50.000 drachma (setara dengan sekitar 90.000 dolar modern). Anekdot terkenal menceritakan ketika ia makan sendirian dan pelayannya hanya menyajikan satu jenis hidangan sederhana, Lucullus menegur dengan keras, menyatakan bahwa “Lucullus makan malam dengan Lucullus,” sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa kemewahan baginya bukan sekadar pertunjukan untuk orang lain, melainkan filosofi hidup tentang pengejaran keunggulan personal. Filosofi ini, yang berakar pada pemahaman personal tentang Epicureanisme, menunjukkan bahwa bagi elite Romawi tertentu, kualitas pengalaman pribadi sama pentingnya dengan pengakuan publik.
Masa pensiun Lucullus ditandai dengan pengunduran diri total dari kehidupan publik, sebuah langkah yang diejek oleh Pompeius dan Crassus sebagai tindakan yang tidak pantas bagi seorang pria seusianya. Namun, bagi Lucullus, hiburan yang mewah, pembangunan vila dengan dekorasi marmer hitam dari Milos, dan koleksi karya seni merupakan cara untuk memprivatisasi kemegahan kemenangan perang (triumphal prestige). Pesta-pestanya yang legendaris, yang melibatkan penyair, seniman, dan filsuf, menjadikannya pelindung budaya sekaligus simbol pemborosan. Kompleksitas karakter Lucullus tercermin dalam fakta bahwa ia adalah jenderal yang tangguh dan administrator yang cakap di Asia Minor, namun namanya justru diabadikan melalui kegemarannya pada kuliner yang sangat mahal.
Gastronomi sebagai Spektakel: Fenomena Lidah Flamingo dan Otak Burung Merak
Di puncak hierarki kuliner Romawi, terdapat ketertarikan yang tidak lazim terhadap bagian tubuh hewan yang paling sulit didapat. Lidah flamingo (phoenicopterus) dianggap sebagai puncak kelezatan oleh para gourmand seperti Apicius, seorang tokoh kuliner terkenal pada masa pemerintahan Tiberius. Pliny the Elder mencatat bahwa Apicius-lah yang menetapkan pandangan bahwa lidah flamingo memiliki rasa yang sangat istimewa. Ketertarikan ini bukan didorong oleh nilai nutrisi, melainkan oleh kelangkaan dan kesulitan logistik dalam memperoleh bahan tersebut. Bagi kaum elite, memakan lidah dari burung yang begitu indah dan jauh asalnya adalah cara untuk “memakan” keindahan dan jarak itu sendiri.
Lidah flamingo memiliki struktur unik; mereka lebar, datar, bergerigi, dan mengandung jaringan ereksi yang membantu burung tersebut makan dengan menyaring air. Hal ini menciptakan sebuah paradoks di mana bagian tubuh yang kecil dari hewan yang besar menjadi lebih berharga daripada dagingnya. Pola serupa terlihat pada konsumsi otak burung merak, hati ikan mullet, dan rahim babi hutan. Burung merak, yang dianggap suci bagi dewi Juno, sering disajikan dalam kondisi utuh dengan bulu-bulunya yang indah dipasang kembali setelah dipanggang sebagai pusat perhatian meja makan. Namun, bagi penikmat yang paling rakus, hanya otaknya yang memiliki nilai prestise sejati.
Resep untuk menyiapkan flamingo yang tercatat dalam De Re Coquinaria karya Apicius menunjukkan kompleksitas teknis yang tinggi. Burung tersebut harus disiram air panas untuk mencabut bulunya, dicuci, dan kemudian direbus dalam pot dengan tambahan air, garam, adas manis, dan sedikit cuka. Proses perebusan awal (parboiling) ini sangat krusial karena burung air memiliki lapisan lemak yang tebal dan daging yang sering kali memiliki aroma menyengat jika tidak diproses dengan benar. Tahap penyelesaian melibatkan penambahan daun bawang, ketumbar, dan sari anggur yang dikurangi (mustum) untuk memberikan warna kemerahan yang menarik pada dagingnya. Saus yang menyertainya merupakan campuran lada, jintan, ketumbar, akar laser (silphium), mentol, dan rue yang dihancurkan dalam mortar, kemudian dicampur dengan cuka, kurma, dan cairan lemak hasil panggangan burung tersebut.
| Komoditas Hewan | Bagian yang Diutamakan | Konteks Sosial/Simbolisme |
| Flamingo | Lidah dan Otak | Penguasaan atas wilayah eksotis (Afrika/Asia); simbol kemewahan murni |
| Burung Merak | Otak dan Lemak | Simbol dewi Juno; spektakel visual dengan pemasangan kembali bulu |
| Ikan Mullet Merah | Hati dan Janggut | Ikan yang dihargai karena kemampuannya berubah warna saat mati; simbol status finansial ekstrem |
| Burung Kakaktua | Kepala dan Lidah | Menunjukkan pemborosan total karena membunuh hewan yang bisa bicara demi hidangan fana |
| Babi Hutan | Rahim dan Puting (Sow’s Udder) | Makanan yang dilarang hukum sumptuary; simbol pemberontakan elite terhadap regulasi |
| Tikus Dormouse | Seluruh Tubuh | Dibesarkan dalam guci khusus (glirarium) dan disajikan dengan madu dan biji poppy |
Penggunaan bahan-bahan langka meluas ke spesies lain seperti burung unta, bangau, dan kura-kura. Konsumsi burung kakaktua bahkan dianggap sebagai puncak kesia-siaan karena ratusan burung harus disembelih hanya untuk menghasilkan satu piring porsi lidah kakaktua, sebuah tindakan yang murni dilakukan untuk memamerkan kekayaan luar biasa. Penyair Martial dalam epigramnya sering menyindir kesia-siaan ini, membayangkan lidah burung flamingo yang meratap karena kemampuannya berbicara atau bernyanyi direnggut demi kepuasan perut para penikmat makanan yang rakus. Ironi ini mempertegas bahwa bagi elite Romawi, kenikmatan gastronomi tidak dapat dipisahkan dari kesadaran akan kehancuran yang ditimbulkannya pada keindahan alam.
Kode Sosial Triclinium: Ruang Makan sebagai Teater Hierarki
Perjamuan Romawi, atau convivium, bukan sekadar acara makan bersama, melainkan ritual sosial yang dirancang untuk memperkuat struktur hierarki dan ikatan persahabatan yang sarat beban kewajiban. Ruang makan utama, yang dikenal sebagai triclinium, memiliki tata letak yang sangat spesifik yang mencerminkan status masing-masing tamu. Nama triclinium berasal dari penggunaan tiga tempat tidur sofa (lecti) yang disusun dalam bentuk U mengelilingi sebuah meja sentral yang dapat diakses oleh semua pihak.
Setiap sofa memiliki tingkatan sosial yang ketat: lectus imus (bawah), lectus medius (tengah), dan lectus summus (atas). Tuan rumah biasanya menempati posisi paling kiri di lectus imus, berdekatan dengan tamu paling terhormat yang menempati posisi kanan di lectus medius (dikenal sebagai locus consularis). Pengaturan ini memastikan bahwa setiap interaksi, mulai dari arah pembicaraan hingga urutan penyajian makanan, menegaskan posisi sosial masing-masing individu. Di perjamuan Lucullus, perbedaan kelas tamu bahkan menentukan jenis makanan dan anggur yang disajikan, sebuah praktik yang sering dikritik sebagai bentuk penghinaan terselubung terhadap tamu yang lebih rendah statusnya namun diperlukan secara politik.
Elemen spektakel sangat krusial dalam perjamuan ini. Makanan tidak hanya disajikan, tetapi dipentaskan sebagai sebuah drama sensorik. Tuan rumah berusaha memukau tamu dengan peralatan makan mewah, hiburan yang beragam, dan pengaturan yang dihiasi dengan megah. Berbeda dengan simposium Yunani yang memisahkan antara waktu makan dan waktu minum anggur, dalam convivium Romawi, anggur disajikan sepanjang makan sebagai pengiring makanan. Anggur biasanya dicampur dengan air panas (menggunakan ketel khusus yang disebut authepsae) atau air dingin, bahkan kadang salju, sesuai dengan selera masing-masing tamu. Penggunaan simpulum (sendok sayur kecil) memungkinkan pelayan untuk mengukur jumlah anggur yang tepat ke dalam cangkir setiap tamu, sebuah tindakan yang menekankan layanan personal yang sangat detail.
Struktur perjamuan elite biasanya terdiri dari tiga tahap: gustatio (hidangan pembuka), mensae primae (hidangan utama), dan mensae secundae (pencuci mulut).
- Gustatio:Terdiri dari makanan ringan seperti telur, zaitun, keju, dan selada, sering kali disertai dengan mulsum (anggur madu).
- Mensae Primae:Menampilkan hidangan daging dan ikan yang kompleks. Di sinilah bahan-bahan eksotis seperti babi hutan panggang, flamingo, atau burung merak disajikan dengan presentasi yang dramatis.
- Mensae Secundae:Berupa buah-buahan segar, buah kering, kacang-kacangan, dan kue-kue manis yang disusun secara artistik.
Peran staf rumah tangga dalam perjamuan ini juga menjadi bagian dari pameran kekayaan. Tuan rumah yang sangat kaya akan mempekerjakan “koki bernyanyi” dan pelayan anggur laki-laki yang muda, rupawan, dan berpakaian indah untuk memberikan hiburan visual sekaligus layanan fungsional. Kehadiran para budak ini, yang terkadang juga tersedia secara seksual bagi para tamu, dianggap sebagai perluasan dari budaya perjamuan yang menekankan dominasi total tuan rumah atas manusia dan sumber daya lainnya.
Rantai Pasok Kemewahan: Logistik, Perdagangan, dan Harga Penaklukan
Kemampuan untuk menyajikan lidah flamingo atau otak burung merak di jantung kota Roma bergantung pada jaringan perdagangan internasional yang sangat luas dan efisien. Kekaisaran Romawi memanfaatkan rute darat melalui Semenanjung Arab dan Mesopotamia, serta rute laut melalui Laut Merah untuk membawa barang-barang mewah dari Timur. Transportasi hewan eksotis adalah upaya logistik yang sangat berbahaya dan mahal yang melibatkan ribuan orang, mulai dari pemburu khusus hingga pelaut profesional. Hewan-hewan ini ditangkap di alam liar, terutama di Afrika Utara, Jerman, dan Dalmatia, kemudian dikurung dalam kandang kayu yang kokoh dan diangkut menggunakan gerobak sapi atau kuda menuju pelabuhan terdekat.
Perjalanan laut dari Kartago ke Roma, yang biasanya memakan waktu tiga hari, penuh dengan risiko badai dan kegagalan logistik. Sering kali hewan-hewan tersebut mati dalam perjalanan atau menolak makan karena stres. Kapal-kapal harus dimodifikasi secara khusus untuk memberikan ventilasi yang cukup dan ruang bagi kandang hewan besar seperti gajah dan singa. Di darat, gerobak clabularia dari sistem pos negara (cursus publicus) terkadang digunakan jika ada izin resmi, namun pemilik kaya lebih sering menggunakan transportasi pribadi untuk memastikan hewan mereka tiba dalam kondisi terbaik.
Biaya untuk mengadakan perjamuan atau pertunjukan yang melibatkan hewan-hewan ini sangat mencengangkan. Sebagai gambaran, seekor singa kelas satu bisa berharga 150.000 denarii pada abad ke-4 M, sementara seekor gajah berharga antara 3.000 hingga 6.000 denarii. Perbandingan harga ini menunjukkan betapa jauhnya kesenjangan antara kebutuhan dasar rakyat jelata dan ambisi konsumsi elite. Harga satu ekor ikan mullet merah yang sangat besar bahkan bisa setara dengan gaji tahunan rata-rata warga negara Romawi.
| Komoditas/Layanan (Abad ke-4 M) | Harga (Denarii) | Catatan Ekonomi |
| Singa Kelas Satu | 150.000 | Setara dengan harga 1.500 ekor domba |
| Macan Tutul Kelas Satu | 100.000 | Digunakan untuk spektakel arena atau koleksi pribadi |
| Beruang Kelas Satu | 25.000 | Sumber hiburan yang sangat populer |
| Burung Unta | 5.000 | Sering disajikan dalam perjamuan mewah |
| Burung Merak | 300 | Harga per ekor untuk konsumsi meja |
| Sepuluh Ekor Burung Thrushes | 60 | Burung penyanyi yang populer dalam masakan Apicius |
| Gandum (17 Liter) | 100 | Kebutuhan pokok dasar untuk satu keluarga |
| Daging Babi (300 gram) | 12 | Sumber protein utama kelas menengah |
| Gaji Harian Pengemudi Keledai | 25 | Termasuk biaya pemeliharaan dasar |
Permintaan yang terus-menerus akan hewan eksotis memiliki dampak ekologis yang signifikan. Perburuan besar-besaran untuk perjamuan dan arena gladiator menyebabkan kepunahan lokal spesies tertentu di Afrika Utara, seperti singa Atlas dan gajah Afrika Utara, serta penurunan drastis populasi macan tutul dan beruang di wilayah Mediterania. Transformasi lahan liar menjadi perkebunan zaitun dan gandum di bawah kebijakan Romawi untuk memaksimalkan ekspor komoditas dasar semakin mempersempit habitat alami hewan-hewan ini. Akibatnya, pada akhir abad ke-4 M, hewan-hewan liar menjadi sangat sulit didapat, yang tercermin dalam perubahan perilaku di arena: hewan tidak lagi disembelih secara massal tetapi dilatih untuk melakukan trik atau digunakan berulang kali dalam pertunjukan.
Benturan Moralitas dan Kebijakan: Stoikisme, Kritik Plinius, dan Kegagalan Hukum Sumptuary
Pertumbuhan kemewahan yang tak terkendali memicu reaksi keras dari para pemikir moral Romawi, terutama kaum Stoik yang menganggap pengendalian diri sebagai kebajikan tertinggi. Seneca the Younger adalah kritikus yang paling vokal terhadap apa yang ia sebut sebagai “obsesi menjijikkan terhadap kerakusan”. Bagi Seneca, kerakusan bukan sekadar cacat karakter individu, melainkan gejala pembusukan sosial yang mengancam stabilitas negara. Ia berargumen bahwa kebutuhan alami tubuh manusia sangat terbatas—seekor sapi merasa puas dengan beberapa hektar padang rumput, namun manusia modern mendukung dirinya sendiri melalui “penjarahan seluruh bumi dan laut” hanya untuk memuaskan satu mulut.
Seneca secara khusus mengecam praktik mencari bagian tubuh hewan tertentu, seperti lidah burung langka, sebagai bentuk kegilaan yang menghina hukum alam. Ia memperingatkan bahwa variasi makanan yang terlalu banyak dan kompleks justru memicu berbagai penyakit, berbanding terbalik dengan kesederhanaan kesehatan di masa lalu. Dalam surat-surat moralnya, ia menggambarkan para pemuja perut sebagai makhluk yang setara dengan hewan tingkat rendah atau bahkan orang mati, yang pintu rumahnya layak diberi tulisan “Mereka ini telah mengantisipasi kematian”. Ia juga menyoroti ironi di mana koki-koki mewah dianggap sama pentingnya dengan tentara, sementara ahli medis justru semakin banyak dibutuhkan untuk mengobati penyakit akibat pola makan yang berlebihan.
Kritik serupa datang dari Pliny the Elder, yang melihat pengejaran komoditas mewah sebagai bentuk degradasi budaya. Pliny sangat terganggu oleh tren makan ikan yang menjadi permainan kompetitif di pasar, di mana para gourmand saling menawar harga tinggi untuk ikan mullet tertentu bukan karena rasanya, melainkan untuk menunjukkan dominasi finansial mereka. Ia mencatat dengan nada sinis bahwa pada masanya, bahkan kaum miskin pun mulai menginginkan barang-barang mewah seperti mutiara, yang menandakan bahwa kemewahan telah berubah dari hak istimewa eksklusif menjadi obsesi massal yang merusak tatanan sosial.
Upaya negara untuk mengendalikan konsumsi mencolok ini diwujudkan melalui serangkaian Hukum Sumptuary (Leges Sumptuariae). Hukum-hukum ini dirancang untuk membatasi pengeluaran perjamuan dan jenis makanan yang boleh disajikan guna menjaga disiplin moral kaum elite.
- Lex Orchia (182 SM):Membatasi jumlah tamu di sebuah pesta dan mengharuskan jamuan dilakukan dengan pintu terbuka agar dapat diawasi oleh publik.
- Lex Fannia (161 SM):Menetapkan batas maksimal biaya perjamuan menjadi 100 as (mata uang logam) dan secara khusus melarang penyajian burung selain unggas yang tidak digemukkan.
- Lex Didia (143 SM):Memperluas hukuman tidak hanya kepada tuan rumah yang melanggar, tetapi juga kepada tamu yang bersedia menghadiri perjamuan ilegal tersebut.
Namun, hukum-hukum ini secara konsisten gagal karena kreativitas para elite dalam menemukan celah hukum yang cerdik. Ketika konsumsi ayam betina yang digemukkan dilarang, para patrician mulai menggemukkan ayam jantan (kebiri), yang ternyata memberikan tekstur daging yang jauh lebih unggul, sehingga hukum tersebut justru secara tidak sengaja memajukan seni kuliner Romawi. Kegagalan hukum sumptuary mencerminkan kenyataan bahwa bagi elite Romawi, kemampuan untuk melanggar aturan negara secara elegan adalah bentuk lain dari pameran kekuasaan.
Ekonomi Politik Pesta: Munifisensi, Patronase, dan Pengaruh Pemungutan Suara
Meskipun dikritik secara moral, perjamuan memiliki fungsi politik yang vital dalam masyarakat Romawi sebagai instrumen untuk membangun dan mempertahankan kekuasaan. Di bawah sistem Republik, memberikan makanan kepada rakyat dalam skala besar (epulum publicum) adalah cara legal bagi para kandidat politik untuk mengamankan dukungan electoral. Lucullus dan tokoh-tokoh sezamannya menggunakan jamuan makan sebagai sarana untuk memamerkan kekayaan hasil penaklukan mereka, yang secara simbolis dikonversi menjadi modal politik.
Perjamuan berfungsi dalam dua tingkatan politik:
- Patronase Privat:Tuan rumah mengundang klien, rekan bisnis, dan sesama anggota senat ke kediaman mereka. Melalui spektakel domestik ini, mereka memperkuat loyalitas individu dan membentuk aliansi politik yang kuat di lingkungan yang informal namun terkendali.
- Munifisensi Publik:Memberikan pesta bagi seluruh penduduk kota atau anggota asosiasi profesional (collegia). Tindakan ini menegaskan posisi pemberi sebagai pelindung komunitas yang murah hati dan mampu menyediakan sumber daya yang tidak dapat disediakan oleh individu biasa.
Dalam konteks pemungutan suara di Roma yang sangat terorganisir, pemberian makan massal membantu mengarahkan suara blok-blok pemilih dalam majelis suku (tribal assemblies). Di sini, kuantitas makanan yang disajikan berbanding lurus dengan persepsi publik tentang kompetensi calon pemimpin dalam mengelola logistik negara. Lucullus, dengan menyelenggarakan permainan publik yang megah dan pameran seni, menggunakan masa pensiunnya untuk tetap relevan dalam memori kolektif masyarakat Roma meskipun ia tidak lagi memegang jabatan resmi.
Evolusi perjamuan dari tradisi kesederhanaan awal Republik menjadi pesta dekaden Lucullan menunjukkan bagaimana “budaya meja” menjadi medan pertempuran bagi identitas Romawi. Penyerapan pengaruh asing, terutama dari Timur melalui penaklukan Galatia pada 187 SM, membawa revolusi gastronomi yang disebut Livy sebagai awal dari luxuria peregrina (kemewahan asing). Barang-barang rampasan perang yang dibawa oleh Cn. Manlius Vulso mencakup alat musik, tempat tidur berlapis perunggu, dan koki-koki terampil, yang mengubah koki dari budak rendahan menjadi seniman yang sangat dihargai dan mahal harganya.
Penutup: Warisan Lucullan dalam Narasi Peradaban
Kisah tentang lidah flamingo dan perjamuan Lucullus menawarkan lebih dari sekadar anekdot tentang keanehan kuno; ia memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana manusia menggunakan konsumsi untuk mendefinisikan batas-batas sosial dan eksistensial. Bagi Lucullus, kemewahan adalah sebuah pernyataan tentang pencapaian intelektual dan budaya, sebuah cara untuk membawa “dunia luar” yang ia taklukkan ke dalam ruang domestiknya sebagai koleksi estetika. Namun, bagi para kritikus moral, itu adalah tanda keruntuhan integritas manusia yang lebih memilih menjadi hamba bagi indra perasanya daripada menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Hubungan antara kuliner dan status sosial di Romawi menunjukkan bahwa semakin sulit sebuah makanan didapat, semakin besar kekuasaan yang dipancarkan oleh orang yang memakannya. Lidah flamingo adalah simbol utama dari logika ini—sebuah hidangan yang menuntut penguasaan atas geografi global, logistik maritim yang rumit, dan kekayaan yang melimpah, hanya untuk dinikmati dalam satu momen kepuasan fana. Penggunaan istilah “Lucullan” hingga hari ini dalam kamus bahasa Inggris sebagai sinonim untuk kemewahan yang luar biasa membuktikan betapa kuatnya kesan yang ditinggalkan oleh gaya hidup sang jenderal dalam kesadaran Barat. Analisis ini menegaskan bahwa dalam sejarah peradaban, makanan bukan hanya soal nutrisi; ia adalah artefak budaya yang menceritakan kisah tentang ambisi, dominasi, dan pencarian abadi manusia akan keistimewaan di hadapan sesamanya.