Loading Now

Galeri Logam Abadi: Ambisi Seni para Raja di Hutan Benin

Eksistensi Kerajaan Benin, yang berkembang pesat di wilayah hutan hujan tropis Nigeria selatan sejak abad ke-10, mewakili salah satu puncak pencapaian artistik dan organisasi sosial dalam sejarah Afrika. Di pusat kemegahan ini berdiri sosok Oba, atau raja ilahi, yang memegang kendali mutlak tidak hanya atas urusan politik dan militer, tetapi juga atas seluruh narasi visual kerajaan. Ambisi seni para Oba melahirkan apa yang secara kolektif dikenal sebagai Perunggu Benin dan ukiran gading gajah yang sangat detail, sebuah koleksi yang dalam konteks modern dapat dikategorikan sebagai galeri seni pribadi paling mahal dan eksklusif di Afrika Barat. Keunikan dari patronase ini terletak pada sifatnya yang sangat terbatas; karya-karya ini bukan dibuat untuk konsumsi publik, melainkan sebagai instrumen legitimasi kekuasaan yang hanya boleh dimiliki dan dipandang oleh lingkaran elit istana.

Seni di Benin tidak pernah dimaksudkan sebagai objek estetika semata. Ia adalah bentuk “logam abadi” yang mencatat sejarah keluarga kerajaan, kemenangan perang, dan interaksi diplomatik dengan bangsa-bangsa asing. Dengan menggunakan teknik pengecoran perunggu yang sangat canggih dan ukiran gading yang rumit, para Oba berhasil menciptakan sebuah arsip sejarah yang tidak bisa binasa oleh iklim tropis yang keras. Nilai ekonomi dari karya-karya ini sangat luar biasa, mengingat logam perunggu (yang sebenarnya merupakan kuningan) dan gading gajah adalah komoditas perdagangan internasional yang sangat bernilai pada abad ke-16 hingga ke-19. Melalui pemanfaatan sumber daya alam dan jaringan perdagangan global, para raja Benin membangun sebuah warisan visual yang menunjukkan bahwa mereka adalah pemain utama dalam panggung sejarah dunia jauh sebelum era kolonialisme formal dimulai.

Filosofi Kedewaan dan Estetika Kekuasaan: Akar Patronase Kerajaan

Konsep kepemimpinan di Kerajaan Benin berakar pada keyakinan bahwa Oba adalah keturunan langsung dari dewa, yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia spiritual leluhur. Karena posisi sakral ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan citra Oba harus mencerminkan keagungan dan keabadian. Seni menjadi media utama untuk memanifestasikan filosofi kedewaan ini. Setiap penugasan karya seni oleh seorang Oba baru setelah kenaikan takhtanya adalah sebuah tindakan politik yang sakral, terutama pembuatan kepala perunggu peringatan untuk menghormati pendahulunya. Tindakan ini memberikan validasi spiritual bagi pemerintahan raja yang baru sekaligus memperkuat kesinambungan dinasti yang dipercaya berasal dari Oranmiyan.

Eksklusivitas adalah elemen kunci dalam patronase seni Benin. Larangan bagi rakyat biasa untuk memiliki atau menugaskan karya dari logam atau gading menciptakan distingsi sosial yang tajam antara elit istana dan masyarakat umum. Hal ini menjadikan istana sebagai pusat kreativitas sekaligus gudang penyimpanan memori kolektif yang terjaga ketat. Di pilar-pilar kayu istana yang luas, ratusan pelat perunggu dipasang untuk membentuk narasi visual yang berkelanjutan, menciptakan suasana yang mengintimidasi sekaligus memukau bagi duta besar atau pedagang asing yang berkunjung. Ambisi seni ini mencerminkan keinginan para raja untuk mendokumentasikan setiap detail kehidupan istana, mulai dari upacara keagamaan hingga hierarki pejabat kerajaan, dalam materi yang tidak akan hancur oleh waktu.

Dimensi Deskripsi Fungsi Seni dalam Kerajaan Benin Signifikansi Politik/Spiritual
Legitimasi Memvalidasi hak Oba untuk memerintah melalui altar leluhur Menghubungkan raja dengan garis keturunan ilahi
Dokumentasi Mencatat peristiwa sejarah, perang, dan perjanjian Berfungsi sebagai arsip kerajaan yang permanen
Distingsi Sosial Monopoli bahan berharga (gading dan logam) oleh istana Memperkuat hierarki dan kekuasaan absolut raja
Diplomasi Visual Menampilkan kekuatan dan kekayaan kepada pengunjung asing Menunjukkan posisi Benin dalam perdagangan global

Sistem Guild: Arsitek dari Kehendak Kerajaan

Pencapaian artistik Benin yang luar biasa dimungkinkan oleh keberadaan sistem guild atau serikat pengrajin yang sangat terorganisir dan bersifat turun-temurun. Para seniman di Benin tidak bekerja secara independen; mereka adalah abdi dalem yang terikat secara permanen pada struktur istana. Sistem ini memastikan bahwa teknik, rahasia simbolisme, dan standar kualitas tetap terjaga selama berabad-abad di bawah pengawasan langsung sang Oba. Dua guild yang paling krusial dalam mewujudkan ambisi seni raja adalah Igun Eronmwon dan Igbesanmwan.

Igun Eronmwon: Penjaga Api dan Rahasia Logam

Igun Eronmwon adalah serikat pengecor perunggu dan kuningan yang memiliki status sangat tinggi di Benin. Mereka tinggal di wilayah khusus yang disebut Igun Street, yang secara historis merupakan bagian integral dari kompleks istana. Keanggotaan dalam guild ini hanya dimungkinkan melalui garis keturunan laki-laki, menciptakan sebuah kasta seniman yang memiliki dedikasi tunggal kepada raja. Tradisi lisan mencatat bahwa teknik pengecoran logam ini berasal dari Ife, namun di bawah patronase Oba Benin, teknik tersebut berkembang menjadi gaya yang unik dan jauh lebih kompleks dalam bentuk pelat relief.

Hubungan antara Oba dan Igun Eronmwon adalah hubungan simbiosis. Raja menyediakan bahan baku—terutama kuningan yang diperoleh dari perdagangan internasional—dan sebagai imbalannya, guild menghasilkan karya-karya yang memuliakan pemerintahan raja tersebut. Begitu pentingnya peran mereka sehingga pemimpin guild sering kali diangkat menjadi penasihat atau pejabat tinggi dalam struktur pemerintahan. Keterlibatan raja dalam proses kreatif sering kali sangat dalam, di mana Oba sendiri yang menentukan tema atau peristiwa sejarah mana yang harus diabadikan dalam pelat logam.

Igbesanmwan: Pengukir Gading dan Narator Putih

Jika Igun Eronmwon bekerja dengan logam yang melambangkan kekuatan dan keabadian, guild Igbesanmwan bekerja dengan gading gajah yang melambangkan kesucian, kemurnian, dan kekayaan. Nama Igbesanmwan berarti “mereka yang menulis di atas gading,” sebuah pengakuan bahwa setiap ukiran pada taring gajah adalah sebuah teks sejarah yang dapat dibaca oleh mereka yang memahami simbolismenya. Guild ini bertanggung jawab atas pembuatan taring-taring besar yang diletakkan di atas kepala perunggu di altar leluhur, serta objek-objek regalia seperti masker liontin dan tongkat upacara.

Hierarki di dalam Igbesanmwan sangat ketat dan mencerminkan struktur militer atau birokrasi kerajaan. Pemimpin guild, Ineh n’Igbesanmwan, bertanggung jawab langsung kepada Oba atas setiap keping gading yang masuk dan keluar dari bengkel kerja. Keamanan dan kontrol atas material gading sangat ketat; setiap taring yang dihasilkan oleh perburuan di wilayah Benin adalah milik raja, dan penggunaan gading untuk tujuan di luar instruksi raja dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan.

Gelar Hierarki Guild Peran dan Tanggung Jawab dalam Produksi Seni Kriteria Pengangkatan
Ineh n’Igbesanmwan Administrator utama, penghubung resmi dengan istana Ditunjuk oleh Oba dari pengrajin senior
Iyase n’Igbesanmwan Pengawas kualitas teknis dan penegak disiplin guild Pengalaman teknis dan integritas tinggi
Ogie n’Igbesanmwan “Raja” pengukir yang memimpin eksekusi karya utama Keterampilan seni paling unggul
Edion n’Igbesanmwan Dewan tetua yang menjaga tradisi dan simbolisme Senioritas berdasarkan usia dan jasa
Omada Pengrajin muda atau magang dalam masa pelatihan Garis keturunan patrilineal keluarga guild

Alkimia Perunggu: Teknologi Lost-Wax dan Kejeniusan Teknis

Seni perunggu Benin sering kali membingungkan para sejarawan seni Eropa awal karena tingkat kerumitannya yang sangat tinggi. Teknik yang digunakan adalah cire perdue atau pengecoran lilin hilang (lost-wax casting), sebuah proses yang menuntut presisi matematis dan pemahaman mendalam tentang sifat fisik logam. Proses ini dimulai dengan pembuatan model detail dari lilin lebah yang kemudian dilapisi dengan tanah liat halus. Ketika dipanaskan, lilin akan mencair dan keluar, meninggalkan rongga yang kemudian diisi dengan logam cair.

Kejeniusan para pengecor Benin terlihat pada kemampuan mereka menghasilkan pelat logam yang sangat tipis, terkadang hanya setebal 3 milimeter, namun memiliki relief yang sangat dalam dan detail. Ketipisan ini sangat penting bukan hanya untuk menghemat material berharga, tetapi juga untuk pertimbangan arsitektural; pelat-pelat ini harus cukup ringan untuk dipaku pada pilar kayu istana tanpa menyebabkan struktur tersebut runtuh. Selain itu, teknik ini memungkinkan penciptaan tekstur yang sangat realistis, mulai dari jalinan manik-manik koral pada pakaian raja hingga detail tekstil damask yang diimpor dari luar negeri.

Analisis metalurgi modern telah mengungkapkan wawasan baru yang menakjubkan tentang asal-usul bahan baku seni Benin. Meskipun disebut perunggu, sebagian besar karya ini terbuat dari kuningan dengan kandungan timbal yang tinggi. Timbal ditambahkan secara sengaja untuk meningkatkan fluiditas logam cair, memastikannya dapat mengalir dengan sempurna ke setiap celah sempit dalam cetakan tanah liat. Penelitian isotop timbal telah melacak sumber logam ini ke wilayah Rhineland di Jerman, yang dibawa ke Benin dalam bentuk manilla (gelang logam) oleh pedagang Portugis. Hal ini menunjukkan bahwa seniman Benin tidak hanya ahli dalam estetika, tetapi juga merupakan “alkemis” yang mampu memanipulasi bahan mentah global untuk memenuhi kebutuhan artistik kerajaan mereka.

Gading dan Dunia Olokun: Manifestasi Kesucian dan Kekayaan

Dalam dunia simbolik Benin, gading gajah memiliki posisi yang unik karena warnanya yang putih, yang secara langsung dikaitkan dengan Orhue (kapur putih suci). Warna putih melambangkan kemurnian ritual, kedamaian, dan kehadiran dewa Olokun, penguasa laut dan pemberi kekayaan. Olokun diyakini tinggal di sebuah kerajaan bawah laut yang megah, dan karena pedagang Portugis datang dari laut, mereka sering kali dianggap sebagai utusan atau manifestasi dari kekuatan Olokun.

Taring gajah yang diukir adalah elemen paling suci di altar leluhur. Setiap taring menceritakan eksploitasi dan sejarah Oba yang dihormati di altar tersebut. Pengunjung istana dapat membaca sejarah kerajaan dengan melihat urutan ukiran pada taring-taring ini, mulai dari dasar hingga ke ujungnya. Penggunaan gading juga merupakan pernyataan kekuatan fisik; gajah dipandang sebagai simbol kepemimpinan, kebijaksanaan, dan kekuatan yang tak tergoyahkan, sifat-sifat yang diharapkan ada pada diri seorang Oba.

Masker liontin gading, seperti yang menggambarkan Ratu Idia, adalah salah satu contoh terbaik dari penggunaan material ini untuk tujuan politik-spiritual. Masker tersebut tidak hanya merupakan potret idealis sang Ratu Ibu yang membantu putranya, Oba Esigie, memenangkan perang, tetapi juga berfungsi sebagai wadah jimat yang melindungi raja selama upacara pemurnian. Detail pada mahkota masker ini, yang menampilkan motif ikan lumpur dan wajah orang Portugis, secara cerdik menggabungkan simbol kekuatan alam (ikan lumpur yang bisa hidup di dua dunia) dengan kekuatan ekonomi luar negeri, menciptakan sebuah narasi tentang penguasaan total Oba atas seluruh aspek eksistensi.

Ekonomi Politik: Manilla, Lada, dan Perdagangan Trans-Atlantik

Patronase seni Benin yang megah mustahil terjadi tanpa fondasi ekonomi yang kuat. Selama abad ke-15 hingga ke-17, Benin adalah mitra dagang utama bagi bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris. Komoditas utama yang diekspor oleh Benin mencakup lada, kain katun berkualitas tinggi, manik-manik batu, dan tentu saja gading gajah. Sebagai imbalannya, istana Benin menerima manik-manik koral yang kemudian menjadi regalia sakral raja, tekstil mewah, dan logam kuningan dalam jumlah besar dalam bentuk manilla.

Manilla adalah kunci dari “galeri logam” Benin. Jutaan manilla diimpor dari Eropa khusus untuk dilelehkan dan diubah menjadi karya seni. Namun, hubungan perdagangan ini memiliki sisi yang gelap. Seiring dengan meningkatnya permintaan akan logam dan barang-barang mewah dari pihak istana, Benin mulai terlibat lebih dalam dalam perdagangan manusia. Tawanan perang dari ekspansi militer kerajaan sering kali ditukar dengan manilla kuningan. Oleh karena itu, seni perunggu Benin bukan hanya sebuah pencapaian estetika, tetapi juga merupakan artefak sejarah yang merekam kompleksitas ekonomi politik global pada masa itu, di mana keindahan seni rupa dibiayai oleh hasil dari perdagangan komoditas internasional yang mencakup manusia.

Jenis Manilla Periode Penggunaan Asal Produksi Fungsi dalam Ekonomi Seni
Tacoais Abad ke-16 Rhineland, Jerman Sumber utama kuningan berkualitas tinggi untuk pelat relief
Birmingham Abad ke-18 – ke-19 Inggris Produksi massal untuk perdagangan budak; kualitas logam lebih rendah
Popo Masa Transisi Eropa Barat Digunakan sebagai mata uang perantara dalam perdagangan regional

Monopoli kerajaan atas perdagangan internasional memastikan bahwa kekayaan yang dihasilkan tetap berada di tangan elit istana. Hal ini memungkinkan para Oba untuk mempertahankan guild seniman dalam skala besar dan mendanai proyek-proyek artistik yang memakan waktu bertahun-tahun. Galeri seni pribadi ini menjadi simbol nyata dari kemampuan raja untuk mengelola sumber daya global demi kemuliaan dinastinya sendiri.

Arsitektur Naratif: Membaca Pilar-Pilar Istana

Istana Oba di Benin City, yang pernah digambarkan oleh para penjelajah Eropa sebagai kota di dalam kota, dirancang sebagai panggung bagi drama visual kekuasaan. Fitur paling menonjol dari arsitektur ini adalah rangkaian galeri dengan atap yang ditopang oleh pilar-pilar kayu besar. Di pilar-pilar inilah ratusan pelat perunggu dipaku, menciptakan apa yang dapat dianggap sebagai buku sejarah logam pertama di Afrika Barat.

Setiap pilar menceritakan aspek yang berbeda dari kehidupan kerajaan. Terdapat pelat yang menggambarkan adegan perburuan macan tutul, upacara pengorbanan, pertemuan dengan pedagang Portugis, hingga potret para pejuang dalam perlengkapan perang lengkap. Urutan pemasangan pelat-pelat ini pada pilar diyakini mengikuti urutan kronologis atau tematik yang sangat spesifik, meskipun urutan tersebut kini telah hilang akibat penjarahan kolonial. Bagi seorang abdi dalem atau pengunjung istana, berjalan menyusuri galeri tersebut adalah sebuah pengalaman edukatif sekaligus spiritual, di mana mereka diingatkan akan kekuatan militer dan restu ilahi yang menaungi kerajaan.

Pencahayaan juga memainkan peran penting dalam presentasi seni ini. Galeri-galeri istana sering kali terbuka di bagian tengah (atrium), membiarkan sinar matahari tropis masuk dan memantul pada permukaan perunggu yang dipoles hingga berkilau seperti emas. Efek visual dari ratusan pelat yang bersinar ini menciptakan aura kemegahan yang tak tertandingi, yang tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Oba Benin menguasai tidak hanya tanah dan manusia, tetapi juga cahaya dan logam itu sendiri.

Ikonografi dan Simbolisme: Bahasa Visual Kekuasaan

Setiap motif dalam seni Benin memiliki makna berlapis yang menghubungkan realitas fisik dengan metafisika Edo. Seniman Benin menggunakan bahasa visual yang sangat terkodifikasi untuk menyampaikan informasi tentang pangkat, fungsi, dan kekuatan spiritual subjek yang digambarkan. Penguasaan atas bahasa visual ini adalah syarat mutlak bagi para pengrajin guild, karena kesalahan dalam penggambaran simbol sakral dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap raja.

Macan Tutul: Kekuasaan di Atas Tanah

Macan tutul adalah simbol utama bagi Oba Benin. Sebagai “raja hutan,” macan tutul mewakili kekuatan, kecepatan, dan keberanian. Oba sering digambarkan sebagai macan tutul atau sedang memegang sepasang macan tutul sebagai tanda dominasinya atas alam liar. Penggunaan gigi macan tutul dalam kalung para pejuang juga berfungsi sebagai perlindungan magis sekaligus indikator keberanian dalam pertempuran. Dalam pelat-pelat relief, motif macan tutul selalu ditempatkan dalam konteks yang menonjolkan superioritas raja di atas segala makhluk hidup lainnya.

Ikan Lumpur: Penjaga Ambang Batas

Ikan lumpur adalah simbol yang lebih kompleks, melambangkan kemampuan Oba untuk melintasi batas antara dunia manusia dan dunia roh. Karena ikan lumpur dapat hidup di air dan juga bertahan hidup di darat selama musim kemarau, ia dipandang sebagai makhluk liminal yang memiliki kekuatan gaib. Penggambaran Oba dengan kaki yang berubah menjadi ikan lumpur adalah motif yang umum, menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang pemimpin politik, tetapi juga seorang imam besar yang memiliki akses langsung ke kerajaan bawah laut Olokun.

Perspektif Hierarkis

Dalam seni Benin, ukuran fisik menentukan status sosial. Tokoh utama, biasanya Oba atau panglima perang, selalu digambarkan paling besar di tengah komposisi. Para pengikut, pembawa payung, musisi, atau tawanan perang digambarkan dengan ukuran yang jauh lebih kecil di sekelilingnya. Teknik ini memastikan bahwa pesan tentang hierarki kekuasaan tersampaikan secara instan kepada siapa pun yang melihat karya tersebut, menegaskan bahwa dalam sistem Benin, individu hanya memiliki makna dalam hubungannya dengan pusat kekuasaan, yaitu raja.

Tragedi 1897: Titik Balik Sejarah dan Diaspora Seni

Kemegahan “galeri logam” Benin berakhir secara dramatis pada akhir abad ke-19. Akibat ketegangan perdagangan dan insiden diplomatik yang menewaskan beberapa pejabat Inggris, pemerintah kolonial melancarkan serangan militer besar-besaran yang dikenal sebagai Ekspedisi Punitif 1897. Kota Benin diduduki, istana dijarah, dan ribuan karya seni yang telah dikumpulkan selama lebih dari lima ratus tahun dirampas sebagai harta rampasan perang.

Penjarahan ini tidak hanya merupakan kehilangan materi, tetapi juga penghancuran arsip sejarah bangsa Edo. Pelat-pelat perunggu yang semula tertata rapi di pilar-pilar istana dicopot secara kasar dan dikirim ke London untuk dilelang. Banyak dari benda-benda ini kemudian berakhir di museum-museum di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat, di mana mereka dipandang sebagai objek etnografi atau seni rupa tanpa memahami konteks spiritual dan sejarah aslinya. Ironisnya, diaspora paksa ini justru membuat seni Benin dikenal luas di seluruh dunia dan diakui sebagai salah satu pencapaian artistik tertinggi umat manusia.

Foto-foto dari masa ekspedisi tersebut menunjukkan para perwira Inggris duduk dengan santai di tengah tumpukan altar perunggu dan taring gading yang telah mereka jarah. Gambar-gambar ini tetap menjadi simbol yang menyakitkan bagi masyarakat Edo hingga hari ini, melambangkan desakralisasi atas benda-benda yang bagi mereka bukan sekadar seni, melainkan tempat bersemayamnya jiwa para leluhur mereka. Penghancuran istana dan pengasingan Oba Ovonramwen menandai berakhirnya periode kemandirian politik Benin, namun ia juga menandai awal dari perjuangan panjang untuk pemulihan martabat budaya mereka.

Restitusi dan Masa Depan: Kepemilikan dalam Era Pasca-Kolonial

Di abad ke-21, Perunggu Benin telah menjadi pusat perdebatan global mengenai etika museum dan keadilan sejarah. Tuntutan untuk pengembalian artefak-artefak ini ke Nigeria semakin kuat, didorong oleh kesadaran akan asal-usul mereka yang terkait dengan kekerasan kolonial. Beberapa negara, seperti Jerman dan Prancis, telah mulai melakukan pengembalian secara substansial, mengakui tanggung jawab moral atas masa lalu kolonial mereka.

Namun, proses restitusi ini tidak bebas dari kontroversi internal. Pertanyaan mengenai siapa yang berhak memiliki artefak tersebut—pemerintah federal Nigeria, pemerintah negara bagian Edo, atau keluarga kerajaan Benin secara pribadi—telah memicu ketegangan diplomatik dan hukum. Keputusan Presiden Nigeria pada tahun 2023 untuk menyerahkan kepemilikan artefak yang dikembalikan secara eksklusif kepada Oba Benin telah mengubah peta perdebatan ini, memindahkan fokus dari museum publik nasional ke kedaulatan tradisional istana.

Status Restitusi Negara/Institusi Terkait Dampak pada Koleksi Global
Pengembalian Penuh Jerman (Museum Etnologi Berlin, dll.) Ratusan artefak kembali ke tangan Oba Benin
Diskusi Berlanjut Inggris (British Museum) Menghadapi tekanan hukum dan moral namun masih menahan ribuan objek
Komitmen Sebagian Amerika Serikat (Smithsonian) Mengembalikan sejumlah objek dengan fokus pada kerja sama penelitian
Penentangan Legal Beberapa kolektor pribadi Menggunakan argumen hukum internasional lama untuk mencegah pengembalian

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, masa depan seni Benin tampaknya sedang kembali ke akarnya. Rencana pembangunan museum baru di Benin City, yang melibatkan arsitek ternama seperti David Adjaye, menjanjikan sebuah ruang di mana artefak-artefak ini dapat dipamerkan kembali di tanah kelahiran mereka dengan narasi yang ditulis oleh bangsa Edo sendiri. Upaya ini bukan hanya tentang memindahkan objek dari satu gedung ke gedung lain, tetapi tentang menghidupkan kembali fungsi asli seni tersebut sebagai pengikat identitas dan penjaga memori bagi generasi mendatang.

Konklusi: Keabadian yang Melampaui Hutan Benin

Ambisi seni para raja di hutan Benin telah melahirkan sebuah warisan yang melampaui batas-batas geografi dan waktu. Dari pengecoran lilin hilang yang sangat rumit hingga ukiran gading yang puitis, karya-karya ini adalah bukti dari sebuah peradaban yang memiliki pemahaman mendalam tentang estetika, teknologi, dan diplomasi. “Galeri logam” yang pernah menghiasi pilar-pilar istana Oba bukan hanya koleksi pribadi yang mahal; ia adalah manifestasi dari sebuah keinginan manusia yang universal untuk tidak dilupakan.

Seni Benin mengajarkan kita bahwa kekuasaan yang absolut sering kali mencari keabadian melalui kreativitas. Meskipun Kerajaan Benin mengalami kehancuran fisik pada tahun 1897, “ambisi seni” para rajanya telah berhasil menjaga nama mereka tetap hidup di galeri-galeri museum terbaik di dunia. Di masa depan, seiring dengan kembalinya benda-benda suci ini ke Benin City, galeri logam abadi tersebut akan kembali berfungsi sebagai pusat gravitasi budaya bagi masyarakat Edo, mengingatkan dunia bahwa kejeniusan seni Afrika adalah kekuatan yang tidak akan pernah bisa benar-benar dijarah atau dimusnahkan. Kesinambungan tradisi yang dilakukan oleh para pengrajin di Igun Street hingga hari ini adalah bukti terakhir bahwa api yang dinyalakan oleh para Oba di abad ke-13 masih terus menyala, menjaga identitas Benin tetap utuh di tengah arus modernitas global.