Koleksi Kucing Besar: Puncak Gengsi Para Raja Mughal dan Analisis Sosio-Ekonomi Tradisi Shikar Cheetah di India
Kekaisaran Mughal di India, yang membentang dari abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-19, tidak hanya dikenal karena kemegahan arsitektural seperti Taj Mahal atau sistem administrasinya yang canggih, tetapi juga karena budaya istananya yang sangat terikat dengan alam liar. Di jantung budaya ini terdapat shikar atau tradisi berburu kerajaan, yang melampaui sekadar olahraga untuk menjadi instrumen kekuasaan, diplomasi, dan penegasan status kedaulatan. Sementara aristokrasi di Eropa pada masa yang sama sangat mengandalkan anjing pemburu seperti greyhound untuk mengejar mangsa, para kaisar Mughal seperti Akbar Yang Agung (memerintah 1556–1605) mengangkat praktik ini ke tingkat kemewahan yang tak tertandingi dengan menggunakan cheetah (Acinonyx jubatus) yang dijinakkan. Penggunaan kucing besar ini sebagai instrumen berburu mencerminkan kapasitas logistik dan finansial kekaisaran yang luar biasa, di mana setiap aspek dari penangkapan, pelatihan, hingga transportasi cheetah diatur dalam birokrasi yang sangat terperinci.
Tradisi shikar Mughal dengan cheetah bukan sekadar hobi sporadis, melainkan sebuah institusi yang terintegrasi dalam kehidupan istana. Kaisar-kaisar Mughal memandang diri mereka sebagai penguasa yang tidak hanya memerintah manusia, tetapi juga memiliki mandat ilahi untuk menguasai dunia alami. Abu’l Fazl, sejarawan resmi Akbar, mencatat dalam Ain-i-Akbari bahwa perburuan adalah sarana bagi kaisar untuk menjalin kontak dengan subjeknya di daerah terpencil dan memahami kondisi geografi wilayahnya. Namun, di balik narasi tata kelola pemerintahan tersebut, koleksi cheetah dalam jumlah ribuan menjadi simbol prestise yang paling mencolok, membedakan raja-raja Mughal dari penguasa lain di dunia Islam dan Barat.
Akar Sejarah dan Evolusi Budaya Shikar di India
Meskipun dinasti Mughal memberikan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya pada penggunaan cheetah, praktik ini sebenarnya telah berurat akar dalam sejarah India kuno. Catatan awal mengenai pengejaran antelop menggunakan cheetah dapat ditelusuri kembali ke abad ke-12 dalam risalah Manasollasa yang ditulis oleh raja Chalukya Barat, Someshvara III. Dokumen tersebut merinci berbagai metode perburuan rusa, termasuk penggunaan cheetah yang telah dilatih, menunjukkan bahwa biologi dan kecepatan kucing besar ini telah dipahami dengan baik oleh penguasa lokal jauh sebelum kedatangan pengaruh Mongol atau Timurid.
Kaisar Mughal pertama, Babur, membawa tradisi perburuan dari Asia Tengah yang kental dengan pengaruh Mongol, di mana perburuan skala besar yang disebut qamargah berfungsi sebagai latihan militer bagi pasukan. Namun, transformasi cheetah menjadi elemen sentral dari kemegahan Mughal secara khusus terjadi di bawah pemerintahan Akbar. Ketertarikan Akbar dimulai secara kebetulan saat ia baru berusia tiga belas tahun pada tahun 1555, segera setelah kepulangannya ke Hindustan. Ia menerima hadiah berupa cheetah bernama Fatehbaz dari seorang punggawa bernama Wali Beg. Momen ini menandai awal dari obsesi seumur hidup yang akan mengubah cheetah dari sekadar predator liar menjadi “instrumen utilitarian” yang diperlakukan dengan protokol militer dan penghargaan bangsawan.
Kekaisaran Mughal mengintegrasikan tradisi lokal India dengan gaya hidup mewah Persia, menciptakan sebuah perpaduan unik di mana hewan-hewan seperti cheetah, elang, dan gajah menjadi bagian dari retinue kaisar yang bergerak. Stabilitas ekonomi yang dibawa oleh sistem administrasi Akbar memungkinkan kekaisaran untuk mengalokasikan sumber daya yang sangat besar bagi departemen perburuan ini, yang kemudian dikenal sebagai kusha-khana atau departemen pelatihan hewan.
Anatomi Prestise: Mengapa Cheetah Menjadi Pilihan Utama?
Pemilihan cheetah dibandingkan predator besar lainnya seperti macan tutul (leopard) atau harimau didasarkan pada karakteristik biologis dan perilaku yang sangat spesifik yang sesuai dengan kebutuhan protokol berburu di dataran terbuka India Utara. Dalam literatur sejarah, cheetah sering disebut sebagai “macan tutul pemburu” atau Yuz dalam bahasa Persia, namun secara fungsional, mereka jauh berbeda dari kerabat kucing besar lainnya.
| Fitur Perbandingan | Cheetah (Acinonyx jubatus) | Macan Tutul (Panthera pardus) |
| Metode Berburu | Pengejaran kecepatan tinggi (sprint) di lapangan terbuka. | Ambush (penyergapan) dengan kekuatan fisik dan memanjat. |
| Temperamen | Relatif mudah dijinakkan, tidak agresif terhadap manusia. | Sangat teritorial, soliter, dan agresif terhadap manusia. |
| Waktu Aktif | Diurnal (siang hari), cocok dengan jadwal berburu raja. | Nokturnal (malam hari), sulit dipantau dalam rombongan besar. |
| Kecepatan | Hingga 110-120 km/jam dalam jarak pendek. | Sekitar 50-60 km/jam, lebih mengandalkan kekuatan. |
| Status Koleksi | Dipelihara dalam ribuan ekor sebagai alat berburu. | Jarang dijinakkan untuk berburu karena risiko serangan balik. |
Para kaisar Mughal menghargai cheetah karena kemampuannya untuk bekerja sama dengan pelatih manusia. Berbeda dengan macan tutul yang cenderung menarik mangsanya ke atas pohon dan sangat tertutup, cheetah adalah pemburu dataran yang mengejar blackbuck (antelop India) di habitat padang rumput dan semak belukar yang mendominasi wilayah dekat Delhi, Agra, dan Lahore. Kecepatan cheetah yang luar biasa, yang sering digambarkan oleh penulis istana sebagai “terbang” di atas tanah, memberikan tontonan yang sangat memuaskan bagi para bangsawan yang menyaksikan dari punggung gajah atau kuda.
Selain itu, anatomi cheetah yang memiliki cakar non-retractable memberikan traksi yang sangat baik saat bermanuver pada kecepatan tinggi, mirip dengan paku pada sepatu lari atlet modern. Karakteristik ini sangat krusial di dataran India yang kering dan sering kali keras, di mana antelop memiliki kelincahan untuk berbelok tajam secara tiba-tiba. Keberhasilan seekor cheetah dalam menjatuhkan mangsa di depan kaisar dianggap sebagai tanda keberuntungan dan rahmat ilahi bagi sang penguasa.
Struktur Administrasi Departemen Shikar dan Kusha-khana
Untuk mengelola ribuan cheetah, Kaisar Akbar membangun sebuah birokrasi yang sangat terorganisir yang mencerminkan ketelitian administrasinya dalam urusan militer dan keuangan. Departemen perburuan dipimpin oleh seorang pejabat tinggi yang bergelar Mir Shikar (Master of the Hunt). Jabatan ini bukan sekadar posisi seremonial; Mir Shikar bertanggung jawab atas ribuan personel, termasuk penangkap hewan, pelatih, dokter hewan, dan penjaga yang memastikan kesehatan dan kesiapan tempur hewan-hewan tersebut.
Dalam birokrasi ini, cheetah diklasifikasikan ke dalam delapan tingkatan yang berbeda, kemungkinan besar berdasarkan usia, rekam jejak keberhasilan berburu, dan kualitas fisik mereka. Klasifikasi ini menentukan jatah makanan dan tingkat perawatan yang mereka terima. Setiap kelompok sepuluh cheetah ditempatkan di bawah pengawasan satu set penjaga, sementara hewan-hewan yang dianggap terbaik masuk dalam kategori Khasa (spesial).
Pelayanan bagi cheetah tingkat Khasa mencakup:
- Pemberian Nama Pribadi: Hewan-hewan unggulan diberi nama yang mencerminkan karakter mereka, seperti Madan Kali (Cantik seperti Kali), Daulat Khan, atau Dilrang.
- Regulasi Diet yang Ketat: Jatah daging segar dihitung secara akurat untuk memastikan mereka tetap ramping namun berenergi.
- Peralatan Mewah: Cheetah favorit sering mengenakan kalung bertatahkan batu mulia dan penutup mata dari sutra atau brokat.
- Transportasi Khusus: Mereka dibawa ke lokasi perburuan menggunakan kereta kencana yang ditarik oleh lembu pilihan, atau dalam kasus tertentu, tandu palanquin yang disertai dengan pemukulan drum (naqqara) sebagai tanda kehormatan.
Biaya untuk memelihara establisemen ini sangatlah fantastis. Selain biaya pakan dan perawatan, kekaisaran harus membayar gaji ribuan pegawai. Laporan menunjukkan bahwa gaji untuk staf tingkat rendah seperti penjaga atau pemburu lokal berkisar antara 2 hingga 7 rupee per bulan, namun dengan jumlah staf yang mencapai ribuan di seluruh kekaisaran, total pengeluaran tahunan departemen shikar dapat menandingi anggaran militer provinsi kecil.
Mekanisme Penangkapan dan Penjinakan: Investasi Tinggi di Balik Kepunahan
Salah satu alasan mengapa hobi ini sangat mahal adalah fakta biologis bahwa cheetah sangat sulit untuk dikembangbiakkan dalam penangkaran. Meskipun Kaisar Jahangir mencatat satu kasus langka di mana sepasang cheetah melahirkan cub di penangkaran pada tahun 1613, kejadian ini tetap merupakan anomali sejarah. Oleh karena itu, setiap ekor cheetah dalam koleksi kekaisaran harus ditangkap dari alam liar sebagai individu dewasa atau remaja yang sudah memiliki insting berburu.
Kaisar Akbar sendiri terlibat dalam inovasi teknik penangkapan. Sebelum eranya, para pemburu menggunakan lubang jebakan yang dalam (odis), yang seringkali mengakibatkan cheetah mengalami patah kaki saat jatuh, sehingga hewan tersebut tidak lagi berguna untuk berburu. Akbar memperkenalkan desain lubang yang lebih dangkal dengan mekanisme pintu jebakan otomatis yang memungkinkan cheetah ditangkap tanpa cedera fisik. Selain itu, ia juga menggunakan metode pengejaran dengan kuda hingga cheetah kelelahan, lalu ditangkap menggunakan laso.
Proses penjinakan setelah penangkapan memakan waktu sekitar tiga bulan. Teknik penjinakan Mughal sangat unik; cheetah yang baru ditangkap akan diikat dan dibiasakan dengan kehadiran manusia secara konstan. Para pelatih sering kali tidur di dekat cheetah mereka, berbagi selimut yang sama, dan terus-menerus berbicara dengan hewan tersebut untuk membangun ikatan emosional. Seperti halnya elang pemburu, cheetah tetap ditutup matanya (hooded) hingga saat pelepasan untuk mengejar mangsa, guna mencegah stimulasi berlebihan di tengah kerumunan rombongan pemburu yang bising.
Ekstraksi konstan cheetah dewasa dari alam liar ini memiliki konsekuensi ekologis yang menghancurkan. Diperkirakan terdapat sekitar 10.000 cheetah Asia di India pada abad ke-16. Namun, dengan koleksi Akbar yang dilaporkan mencapai 1.000 ekor aktif pada satu waktu, dan total 9.000 ekor selama masa pemerintahannya, tekanan terhadap populasi liar menjadi sangat besar. Praktik ini, yang berlanjut selama berabad-abad, menjadi faktor utama yang mendorong kepunahan cheetah di India pada abad ke-20.
Shikar Sebagai Teater Kekuasaan dan Diplomasi
Perburuan dengan cheetah bukan hanya tentang olahraga, melainkan sebuah teater kekuasaan yang dirancang untuk memukau penonton domestik maupun internasional. Ketika Kaisar Akbar bergerak dalam ekspedisi perburuan, ia tidak hanya membawa cheetah, tetapi seluruh “kota tenda” yang megah, lengkap dengan pengawal militer dan birokrat. Hal ini memungkinkan kaisar untuk melakukan pengawasan langsung terhadap wilayah-wilayah yang jauh dari ibu kota.
Dalam konteks diplomatik, cheetah yang telah terlatih adalah hadiah yang sangat didambakan. Hubungan antara Mughal, Safawiyah di Persia, dan Ottoman di Turki sering kali diperkuat atau ditegangkan melalui pertukaran hadiah berupa hewan eksotis dan senjata mewah. Utusan diplomatik dari Persia sering membawa kuda-kuda Arab yang tangguh, sementara kaisar Mughal membalasnya dengan gajah atau cheetah terlatih yang melambangkan kekayaan hayati India. Cheetah dianggap sebagai hadiah “par excellence” karena mereka mewakili penguasaan manusia atas predator tercepat di alam liar, sebuah metafora bagi kendali raja atas rakyatnya yang paling liar sekalipun.
Nilai simbolis ini juga tercermin dalam seni rupa Mughal. Miniatur lukisan yang diproduksi di bengkel kerajaan (atelier) sering menggambarkan kaisar sedang memimpin perburuan cheetah. Lukisan-lukisan ini berfungsi sebagai dokumentasi sejarah sekaligus alat propaganda. Sebagai contoh, karya seniman Basawan yang menggambarkan keluarga cheetah di pemandangan berbatu menunjukkan ketelitian zoologi dan apresiasi estetika yang tinggi terhadap hewan ini. Fakta bahwa satu folio lukisan ini terjual seharga £10,2 juta di era modern menunjukkan betapa besarnya nilai sejarah dan artistik yang melekat pada tradisi ini.
Sains dan Observasi di Istana: Kontribusi Jahangir
Kaisar Jahangir, putra Akbar, membawa tradisi shikar ke arah yang lebih ilmiah. Ia adalah seorang naturalis amatir yang berbakat, yang mendokumentasikan perilaku hewan dalam otobiografinya, Tuzuk-e-Jahangiri. Jahangir tidak hanya puas dengan membunuh hewan; ia ingin memahami biologi mereka. Ia mencatat bahwa sepanjang hidupnya ia telah membunuh 28.532 hewan, di antaranya 17.167 adalah mamalia besar.
Keingintahuan Jahangir mencakup eksperimen mengenai kemanjuran berburu. Ia pernah melakukan uji coba untuk melihat apakah antelop yang telah dijatuhkan oleh cheetah dapat bertahan hidup jika dilepaskan kembali. Melalui observasi teliti, ia menemukan bahwa trauma psikologis dan fisik dari serangan cheetah seringkali berakibat fatal dalam waktu 24 jam, bahkan jika luka fisiknya tampak minimal. Catatannya tentang keberhasilan pembiakan cheetah di penangkaran pada tahun 1613 adalah catatan pertama dari jenisnya di dunia, menunjukkan tingkat pengawasan yang sangat tinggi terhadap koleksinya.
Namun, dedikasi terhadap perburuan ini juga membutakan para penguasa terhadap ancaman kepunahan. Meskipun populasi cheetah mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, permintaan dari istana tetap tinggi. Penangkaran yang sulit dan hilangnya mangsa alami akibat perluasan lahan pertanian menciptakan siklus penurunan yang tidak terelakkan.
Kemewahan Logistik: Kereta Kencana dan Transportasi Elit
Aspek yang paling mencolok dari biaya tinggi perburuan cheetah adalah sistem transportasinya. Cheetah tidak dipaksa untuk berjalan dari istana ke lokasi berburu, karena hal itu akan menghabiskan energi kinetik yang mereka butuhkan untuk sprint. Sebagai gantinya, kekaisaran menyediakan infrastruktur transportasi khusus yang setara dengan kemewahan kereta kuda bangsawan Eropa.
Beberapa detail mengenai transportasi cheetah meliputi:
- Kereta Kencana Berhias: Cheetah dibawa dalam gerobak atau kereta yang sering kali dilapisi dengan kain mahal atau bahkan hiasan emas dan perak untuk mencerminkan status kaisar.
- Penggunaan Lembu Pilihan: Kereta-kereta ini ditarik oleh lembu jantan Gujarat yang kuat dan besar, yang dilatih khusus untuk tetap tenang di tengah keramaian.
- Palanquin Khusus: Untuk cheetah kesayangan seperti Samand Manik, sebuah tandu palanquin khusus disiapkan, di mana hewan tersebut duduk di atas bantal empuk sementara dibawa oleh manusia, mirip dengan cara mengangkut pangeran atau putri raja.
- Protokol Perjalanan: Selama perjalanan, cheetah tetap dalam kondisi mata tertutup untuk menjaga ketenangan mereka. Mereka baru akan diperlihatkan dunia luar sesaat sebelum pelepasan di padang buru.
Biaya pembuatan dan pemeliharaan kendaraan-kendaraan ini, ditambah dengan pakan untuk hewan penariknya, merupakan komponen besar dalam anggaran kusha-khana. Di mata para bangsawan Eropa yang berkunjung, pemandangan kereta kencana berisi kucing besar ini adalah bukti visual dari kekayaan India yang tak terbatas, yang sering kali dilebih-lebihkan dalam laporan perjalanan mereka sebagai “kekayaan dongeng Timur”.
Dampak Jangka Panjang dan Jalan Terakhir Menuju Kepunahan
Meskipun kemegahan Mughal memberikan masa keemasan bagi budaya shikar, hal itu juga menjadi lonceng kematian bagi cheetah Asia di India. Praktisnya, kebijakan Akbar yang memonopoli penangkapan cheetah sebagai hak prerogatif kerajaan menciptakan tekanan yang tidak berkelanjutan pada populasi liar. Suku-suku lokal seperti Pardhi (yang kemudian dikenal sebagai Cheetawala Pardhi) menjadi sangat ahli dalam menjerat cheetah untuk dijual ke istana, yang mengakibatkan hilangnya predator puncak dari ekosistem padang rumput secara masif.
Setelah kemunduran kekaisaran Mughal, tradisi ini diteruskan oleh raja-raja Rajput dan penguasa negara bagian kecil, serta diadopsi secara terbatas oleh pejabat kolonial Inggris. Namun, kedatangan senjata api modern mengubah dinamika perburuan. Berburu dengan senapan jauh lebih efisien dan mematikan daripada menggunakan cheetah, sehingga nilai utilitarian cheetah mulai menurun, sementara nilainya sebagai trofi meningkat.
Data sejarah menunjukkan penurunan yang sangat tajam:
| Era Sejarah | Estimasi Populasi / Status |
| Abad ke-16 (Masa Akbar) | Populasi liar diperkirakan mencapai 10.000 ekor di seluruh India. |
| Abad ke-17 (Masa Jahangir) | Penggunaan intensif berlanjut; catatan pertama pembiakan penangkaran (1613). |
| Abad ke-19 (Era Kolonial) | Populasi mulai terfragmentasi; Inggris lebih suka berburu dengan senapan atau tombak. |
| 1947 (Kemerdekaan) | Tiga cheetah liar terakhir ditembak oleh Maharaja Ramanuj Pratap Singh Deo di Koriya. |
| 1952 (Resmi) | Pemerintah India menyatakan cheetah punah secara nasional. |
Tragedi ini diperparah oleh kebijakan hadiah (bounty) yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Inggris untuk membunuh predator besar guna mengamankan ternak penduduk, yang sering kali menyalahpahami cheetah sebagai ancaman bagi manusia, padahal cheetah secara alami jarang menyerang manusia.
Kesimpulan: Warisan Shikar dan Upaya Restorasi Modern
Koleksi cheetah para raja Mughal berdiri sebagai salah satu contoh paling ekstrem dalam sejarah manusia mengenai penggunaan hewan liar sebagai simbol kekuasaan politik dan status sosial. Melalui departemen kusha-khana dan kepemimpinan Mir Shikar, kekaisaran menciptakan sebuah sistem yang begitu efisien sehingga ia secara tidak sengaja menghancurkan fondasi biologis dari keberadaan hewan tersebut di India. Gengsi yang didapat dari memiliki seribu cheetah harus dibayar dengan kepunahan spesies tersebut empat abad kemudian.
Namun, warisan Mughal dalam hal pencatatan data zoologi dan pemahaman habitat kini menjadi referensi penting bagi ilmuwan modern. Upaya reintroduksi cheetah dari Namibia dan Afrika Selatan ke Taman Nasional Kuno di Madhya Pradesh sejak tahun 2022 adalah upaya untuk memulihkan keseimbangan ekosistem padang rumput yang telah terganggu sejak masa Akbar. Proyek ini bukan hanya upaya konservasi hayati, tetapi juga upaya restorasi “warisan hidup” India yang sempat hilang akibat ambisi tak terbatas para penguasanya di masa lalu.
Melalui narasi perburuan ini, kita dapat melihat bahwa cheetah dalam sejarah India bukan sekadar predator, melainkan cermin dari ambisi manusia. Di bawah naungan emas dan kain sutra Mughal, cheetah menjadi bukti betapa eratnya hubungan antara kedaulatan politik dan kendali atas alam liar, sebuah hubungan yang pada akhirnya menentukan nasib ekologis seluruh anak benua tersebut. Sejarah shikar tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa kemegahan budaya dan kekayaan artistik seringkali memiliki biaya lingkungan yang tersembunyi, yang dampaknya mungkin baru dirasakan berabad-abad kemudian.