Loading Now

Analisis Geopolitik dan Kemanusiaan Operasi Moses: Eksodus Modern Beta Israel dari Kelaparan dan Persekusi

Operasi Moses, yang dilaksanakan antara November 1984 dan Januari 1985, bukan sekadar sebuah misi intelijen rahasia yang melibatkan koordinasi antara Israel, Amerika Serikat, dan Sudan. Secara substantif, operasi ini merepresentasikan puncak dari kerinduan spiritual selama dua milenium komunitas Beta Israel untuk kembali ke tanah leluhur mereka, Yerusalem, yang dipicu oleh konvergensi krisis kelaparan yang menghancurkan dan instabilitas politik di Tanduk Afrika. Sebagai sebuah studi kasus dalam intervensi kemanusiaan yang bersifat klandestin, Operasi Moses menonjol karena kompleksitas logistiknya, risiko diplomatik yang ekstrem, dan pengorbanan manusia yang luar biasa besar di pihak para pengungsi yang melakukan perjalanan kaki melintasi gurun yang mematikan.

Sejarah dan Identitas Beta Israel: Akar Perlawanan dan Isolasi

Komunitas Beta Israel, yang secara harfiah berarti “Rumah Israel” dalam bahasa Ge’ez, memiliki sejarah yang terdokumentasi dengan baik di wilayah pegunungan utara Ethiopia, meskipun asal-usul pastinya tetap menjadi subjek perdebatan di kalangan sejarawan. Teori yang paling luas diterima, dan yang secara resmi diakui oleh otoritas keagamaan Israel, adalah bahwa mereka merupakan keturunan dari suku Dan yang hilang, atau keturunan dari Menelik I, putra Raja Salomo dan Ratu Syeba. Selama berabad-abad, komunitas ini hidup dalam isolasi dari arus utama Yudaisme dunia, mempertahankan bentuk Alkitabiah dari praktik keagamaan mereka yang berpusat pada Taurat.

Isolasi ini bukan tanpa tekanan. Sejarah mencatat bahwa Beta Israel sempat menikmati otonomi politik melalui Kerajaan Semien hingga abad ke-17, ketika mereka akhirnya ditaklukkan oleh Dinasti Solomonik yang beragama Kristen. Penaklukan ini menyebabkan penghancuran sistematis terhadap identitas mereka; teks-teks agama dibakar, dan mereka kehilangan hak atas tanah, yang memicu munculnya istilah peyoratif “Falasha” yang berarti “orang asing” atau “pengembara tanpa tanah”.

Periode Sejarah Peristiwa Utama Dampak pada Komunitas
Abad ke-4 Penyebaran Kristen di Axum Awal isolasi religius Beta Israel
Abad ke-10-17 Kerajaan Semien Periode otonomi politik dan militer
1624 Pertempuran Terakhir (Falasha Masada) Penaklukan total, kehilangan hak tanah, perbudakan
1973 Pengakuan oleh Rabi Ovadia Yosef Legitimasi religius untuk hak kepulangan ke Israel

Pengakuan resmi oleh Kepala Rabi Sephardi, Ovadia Yosef, pada tahun 1973 merupakan katalisator hukum yang memungkinkan pemerintah Israel untuk memperlakukan Beta Israel sebagai subjek yang berhak mendapatkan perlindungan di bawah Hukum Kepulangan. Tanpa pengakuan ini, basis hukum bagi Operasi Moses tidak akan pernah ada, dan ribuan jiwa mungkin akan tetap terperangkap dalam siklus kelaparan dan persekusi yang melanda Ethiopia di bawah rezim Derg.

Konteks Geopolitik: Kelaparan Besar dan Rezim Mengistu

Pada awal 1980-an, Tanduk Afrika berada dalam cengkeraman krisis ganda: perang saudara yang berkepanjangan dan salah satu kekeringan paling parah dalam sejarah modern. Ethiopia, di bawah kepemimpinan diktator Marxis-Leninis Mengistu Haile Mariam, menghadapi pemberontakan di wilayah Eritrea dan Tigray, yang memperparah dampak ekonomi dari kegagalan panen berturut-turut. Rezim Mengistu menggunakan makanan sebagai senjata politik, sering kali memblokir bantuan untuk wilayah-wilayah yang dianggap tidak setia, termasuk komunitas Beta Israel yang tinggal di Gondar dan Tigray.

Kelaparan tahun 1984 bukan sekadar bencana alam; itu adalah konsekuensi dari kebijakan kolektivisasi yang dipaksakan dan pengalihan sumber daya untuk kebutuhan militer. Bagi komunitas Beta Israel, kondisi ini menjadi eksistensial. Mereka tidak hanya menghadapi kelaparan, tetapi juga ancaman persekusi religius dan wajib militer paksa bagi pemuda mereka untuk berperang dalam konflik yang tidak mereka dukung. Dalam suasana ketakutan dan keputusasaan ini, gagasan untuk melarikan diri ke Sudan—yang merupakan pintu gerbang menuju Israel—mulai menyebar melalui jaringan aktivis rahasia.

Epik Perjalanan Kaki: Tragedi di Gurun dan Pegunungan

Keputusan untuk meninggalkan desa-desa di Ethiopia menuju Sudan adalah sebuah pertaruhan hidup dan mati. Ribuan orang Beta Israel memulai perjalanan ini tanpa peta, membawa bekal minimal, dan seringkali hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Perjalanan ini memakan waktu antara dua minggu hingga lebih dari satu bulan, melintasi medan yang paling tidak ramah di Afrika Timur.

Topografi Kematian: Dari Gondar ke Gedaref

Rute pelarian dimulai dari desa-desa di sekitar Gondar dan Pegunungan Semien yang memiliki ketinggian hingga 4.500 meter di atas permukaan laut. Para pengungsi harus mendaki puncak-puncak terjal ini dalam kegelapan untuk menghindari patroli militer Ethiopia yang diperintahkan untuk menembak siapa pun yang mencoba melintasi perbatasan. Setelah menyeberangi pegunungan, mereka turun ke dataran rendah Sudan yang gersang, di mana suhu siang hari dapat mencapai tingkat yang mematikan dan sumber air hampir tidak ada.

Risiko utama dalam perjalanan ini meliputi:

  1. Dehidrasi Ekstrem: Ketiadaan air bersih di gurun menyebabkan ribuan orang meninggal karena haus. Kesaksian para penyintas menggambarkan bagaimana mereka terpaksa meminum air seni atau menggali tanah yang lembap demi setetes air.
  2. Serangan Bandit dan Milisi: Wilayah perbatasan dihuni oleh geng bersenjata dan milisi yang tidak segan-segan merampok, memperkosa, dan membunuh para pengungsi. Banyak keluarga yang kehilangan harta benda terakhir mereka dan anggota keluarga dalam serangan fajar yang brutal.
  3. Wabah Penyakit: Kelelahan dan malnutrisi membuat para pengungsi rentan terhadap malaria, kolera, dan tipus. Tanpa bantuan medis, penyakit ringan pun menjadi vonis mati.

Diperkirakan sekitar 4.000 orang—hampir setengah dari jumlah total mereka yang berangkat—tewas selama perjalanan ini atau tak lama setelah mencapai kamp-kamp di Sudan. Tragedi ini diperparah oleh instruksi dari agen Mossad agar para pengungsi menyembunyikan identitas Yahudi mereka demi keselamatan, yang berarti mereka sering tidak dapat melakukan ritual penguburan Yahudi yang semestinya bagi orang-orang terkasih yang meninggal di jalan.

Lokasi/Rute Durasi Perjalanan Ancaman Utama Dampak Kemanusiaan
Pegunungan Semien 5-10 Hari Patroli Militer, Hipotermia Kelelahan fisik awal
Gurun Dataran Rendah 7-15 Hari Dehidrasi, Serangan Panas Tingkat kematian tertinggi
Perbatasan Sudan 2-5 Hari Bandit (Janjaweed), Ranjau Kekerasan fisik, trauma

Kondisi di Kamp Pengungsian Sudan: Tawawa dan Gedaref

Bagi mereka yang berhasil mencapai Sudan, penderitaan belum berakhir. Sudan, sebuah negara Muslim yang merupakan anggota Liga Arab, secara resmi merupakan musuh Israel. Para pengungsi ditempatkan di kamp-kamp pengungsian PBB yang kelebihan muatan seperti Tawawa dan kamp-kamp di wilayah Gedaref. Di sini, mereka harus terus menyamar sebagai pengungsi Kristen Ethiopia agar tidak menarik perhatian pihak keamanan Sudan yang curiga atau elemen radikal di dalam kamp.

Squalor dan Penyakit di Tawawa

Kamp Tawawa digambarkan sebagai lingkungan yang sangat tidak higienis, di mana ribuan orang tinggal di gubuk-gubuk kardus dan jerami. Sanitasi yang buruk menyebabkan penyebaran penyakit yang cepat. Laporan dari tim medis Swedia yang dikirim oleh PBB mencatat tingkat kematian yang mengerikan akibat malnutrisi akut dan infeksi yang menyebar melalui air yang terkontaminasi. Agen-agen Mossad yang beroperasi secara rahasia di dalam kamp-kamp ini menyaksikan dengan frustrasi betapa lambatnya proses evakuasi yang ada saat itu—hanya segelintir orang yang bisa diselundupkan keluar setiap minggunya—sementara ratusan orang meninggal setiap hari.

Kondisi inilah yang akhirnya memaksa pemerintah Israel untuk beralih dari operasi penyelamatan kecil-kecilan menjadi sebuah jembatan udara massal yang ambisius. Peringatan dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengenai risiko kepunahan komunitas di dalam kamp memberikan urgensi moral bagi Operasi Moses.

Strategi dan Logistik Operasi Moses

Operasi Moses dirancang sebagai misi kerjasama tingkat tinggi yang melibatkan Mossad, CIA, dan elemen dalam dinas keamanan Sudan (SSS). Richard Krieger, seorang pejabat urusan pengungsi AS, menjadi arsitek politik utama yang meyakinkan semua pihak bahwa jembatan udara adalah satu-satunya solusi praktis untuk menghindari bencana kemanusiaan total.

Jembatan Udara via Brussels: Peran Trans European Airways

Untuk menjaga kerahasiaan, Israel tidak dapat menggunakan pesawat Angkatan Udara mereka secara langsung. Sebagai gantinya, mereka menyewa maskapai carter Belgia, Trans European Airways (TEA), yang dimiliki oleh seorang Yahudi Ortodoks namun sering digunakan untuk menerbangkan peziarah Muslim ke Mekkah. Penggunaan TEA memberikan perlindungan yang sempurna karena kehadiran pesawat mereka di Bandara Khartoum tidak akan memicu kecurigaan dari pengamat internasional atau negara-negara Arab tetangga.

Proses evakuasi dilakukan dengan presisi militer:

  1. Transportasi Darat: Setiap malam, bus-bus yang dikawal secara diam-diam oleh agen keamanan Sudan akan menjemput pengungsi dari kamp dan membawa mereka ke bandara di Khartoum.
  2. Pemuatan Pesawat: Sekitar 200 hingga 220 pengungsi akan dimuat ke dalam setiap pesawat Boeing 707. Seringkali, kursi pesawat dilepas untuk memaksimalkan kapasitas.
  3. Rute Penerbangan: Pesawat terbang dari Khartoum menuju Brussels sebagai persinggahan teknis sebelum akhirnya mendarat di Tel Aviv. Penumpang dilarang berbicara atau membuat kebisingan saat pesawat berada di wilayah udara musuh.

Antara 21 November 1984 hingga 5 Januari 1985, sekitar 36 penerbangan berhasil mengevakuasi hampir 8.000 orang Yahudi Ethiopia. Ini adalah operasi penyelamatan udara paling murah dan paling efektif yang pernah dilakukan Israel untuk menolong diaspora mereka.

“Operation Brothers”: Resor Selam sebagai Kedok Mossad

Sebelum jembatan udara Operasi Moses dimulai secara resmi, Mossad telah menjalankan operasi penyelamatan melalui jalur laut yang dikenal sebagai “Operation Brothers”. Operasi ini menggunakan sebuah resor wisata yang ditinggalkan di pantai Laut Merah Sudan, yang dikenal sebagai Arous Holiday Village, sebagai pangkalan operasi.

Agen-agen Mossad menyamar sebagai instruktur selam Eropa dari sebuah perusahaan travel Swiss untuk menyewa resor tersebut dari pemerintah Sudan. Di siang hari, mereka mengelola resor mewah bagi turis asing dan diplomat, sementara di malam hari, mereka menggunakan truk-truk resor untuk mengangkut pengungsi dari kamp pedalaman ke pantai. Dari pantai Arous, para pengungsi kemudian dipindahkan ke kapal-kapal Angkatan Laut Israel yang menunggu di perairan internasional.

Unsur Operasi Detail Kedok Realita Operasional
Nama Lokasi Arous Holiday Village Pangkalan Aju Mossad (Forward Base)
Identitas Personel Pengusaha Travel Swiss Agen Mossad (termasuk Gad Shimron & Yola Reitman)
Aktivitas Siang Hari Wisata Selam, Pesta Pantai Pengumpulan Intelijen, Logistik
Aktivitas Malam Hari Tidak Ada (Resor “Tutup”) Transportasi Pengungsi ke Kapal Israel

Keberhasilan Operasi Brothers memberikan infrastruktur intelijen dan kepercayaan diri bagi Israel untuk meluncurkan Operasi Moses yang lebih besar melalui udara ketika krisis kelaparan memburuk pada tahun 1984.

Kebocoran Media dan Penghentian Prematur

Keberhasilan Operasi Moses akhirnya menjadi korban dari publisitas yang tidak diinginkan. Pada awal Januari 1985, informasi mengenai penyelamatan rahasia ini mulai bocor ke pers Israel dan internasional. Meskipun sensor militer berusaha menahan berita tersebut, spekulasi yang berkembang memaksa Perdana Menteri Shimon Peres untuk mengadakan konferensi pers pada 5 Januari 1985.

Dalam konferensi pers tersebut, Peres secara resmi mengonfirmasi keberadaan jembatan udara tersebut. Konfirmasi publik ini memicu kemarahan di dunia Arab, yang menekan pemerintah Sudan untuk segera menghentikan kolaborasi apa pun dengan “entitas Zionis”. Presiden Sudan Gaafar Nimeiry, yang posisinya sudah goyah karena ketidakstabilan domestik, tidak memiliki pilihan selain menghentikan operasi seketika.

Dampaknya sangat menghancurkan bagi mereka yang masih tertinggal. Sekitar 1.000 hingga 2.000 orang yang sudah dijanjikan evakuasi tiba-tiba terdampar di Sudan tanpa pelindung. Hal ini menciptakan fenomena tragis “orphans of circumstance” (yatim piatu karena keadaan)—anak-anak yang telah tiba di Israel tetapi orang tua mereka tertinggal di Afrika, menyebabkan pemisahan keluarga yang berlangsung selama bertahun-tahun hingga Operasi Solomon dilakukan pada tahun 1991.

Analisis Pasca-Operasi: Dampak Sosiologis dan Integrasi

Kedatangan komunitas Beta Israel melalui Operasi Moses mengubah demografi Israel secara signifikan. Dari hanya sekitar 250 orang Ethiopia di Israel sebelum 1984, jumlahnya melonjak menjadi puluhan ribu dalam satu dekade. Integrasi komunitas ini tidaklah mudah; mereka menghadapi tantangan budaya yang besar, mulai dari kendala bahasa hingga perbedaan dalam interpretasi hukum Yahudi.

Pusat Penyerapan dan Adaptasi Budaya

Pemerintah Israel mendirikan pusat-pusat penyerapan (absorption centers) khusus, seperti yang ada di Afula dan Kibbutz Bet Alpha, untuk membantu para imigran beradaptasi dengan kehidupan modern. Namun, komunitas ini sering kali menghadapi marginalisasi ekonomi dan diskriminasi rasial, yang memicu protes besar pada tahun-tahun berikutnya. Meskipun demikian, keberhasilan integrasi banyak individu ke dalam posisi kunci di IDF dan pemerintahan menunjukkan ketahanan luar biasa dari komunitas ini.

Statistik Komunitas Data (Estimasi)
Populasi Beta Israel di Israel (2020-an) ~140.000 – 160.000 orang
Keturunan Lahir di Israel dari Imigran Moses ~7.645 orang (Data parsial)
Persentase Penduduk Israel ~1,75%
Sisa Yahudi di Ethiopia (2021) ~100 orang (Pasca-Berbagai Operasi)

Kesimpulan: Warisan Moral Operasi Moses

Operasi Moses tetap menjadi salah satu momen paling membanggakan sekaligus paling menyedihkan dalam sejarah zionisme modern. Ia membuktikan bahwa janji Israel sebagai tempat perlindungan bagi semua orang Yahudi bukan sekadar retorika, melainkan sebuah komitmen operasional yang berani. Namun, biaya manusia yang harus dibayar—4.000 nyawa yang hilang di gurun—menjadi pengingat yang menyakitkan tentang kerentanan diaspora Yahudi di tengah krisis global.

Keberanian Ferede Aklum, profesionalisme agen Mossad, dan dukungan diplomatik Amerika Serikat semuanya menyatu dalam sebuah narasi eksodus modern yang melampaui kepentingan politik murni. Warisan Operasi Moses bukan hanya pada ribuan nyawa yang diselamatkan, tetapi juga pada pengakuan global terhadap keragaman identitas Yahudi dan tanggung jawab kolektif kemanusiaan untuk bertindak di hadapan kelaparan dan persekusi yang sistematis. Peringatan tahunan di Gunung Herzl memastikan bahwa sejarah mereka yang berjalan kaki melintasi gurun demi Yerusalem tidak akan pernah dilupakan oleh generasi mendatang.