Loading Now

Dialektika Historiografi dan Verifikasi Empiris: Menelusuri Jejak Marco Polo di Tiongkok Era Mongol

Karya sastra perjalanan yang paling fenomenal dari abad ke-13, yang secara luas dikenal dengan judul The Travels of Marco Polo atau dalam tradisi manuskrip aslinya disebut Devisement du Monde (Deskripsi Dunia), tetap menjadi salah satu subjek perdebatan paling intens dalam disiplin sejarah dan sinologi modern. Munculnya teks ini pada pergantian abad ke-14 memberikan guncangan epistemologis bagi masyarakat Eropa abad pertengahan yang pada saat itu cenderung bersifat tertutup dan inward-looking. Narasi yang didiktekan oleh pedagang Venesia bernama Marco Polo kepada penulis roman Rustichello da Pisa di dalam penjara Genoa ini mengklaim sebuah perjalanan epik melintasi Asia, pelayanan selama tujuh belas tahun di istana Kublai Khan, dan kepulangan melalui jalur laut yang berbahaya. Namun, di balik kemasyhurannya yang menginspirasi Christopher Columbus dan mengubah peta dunia, muncul sebuah pertanyaan fundamental yang terus menghantui para akademisi selama berabad-abad: Benarkah Marco Polo sampai ke Tiongkok?

Genealogi Teks dan Konteks Penulisan

Keabsahan narasi Marco Polo tidak dapat dipisahkan dari sejarah tekstualnya yang sangat kompleks. Tidak ada manuskrip asli yang selamat dari tangan penulisnya, dan yang tersisa bagi dunia saat ini adalah sekitar 140 versi berbeda dalam berbagai bahasa, mulai dari Franco-Venetian, Latin, Toskana, hingga Jerman. Kompleksitas ini diperparah oleh peran Rustichello da Pisa sebagai kolaborator literer. Sebagai seorang penulis roman profesional yang ahli dalam siklus ksatria Arthurian, Rustichello tidak hanya bertindak sebagai juru tulis pasif. Ia menyuntikkan elemen-elemen stilistika roman, metafora kepahlawanan, dan terkadang interpolasi naratif yang bertujuan untuk menjadikan buku tersebut sebagai “bestseller” di masanya.

Perbandingan Versi dan Evolusi Manuskrip

Nama Versi/Bahasa Karakteristik Utama Signifikansi Historiografi
Franco-Venetian (Versi F) Dianggap paling mendekati naskah asli yang hilang; menggunakan bahasa hibrida Italia utara dan Prancis. Menjadi dasar bagi sebagian besar studi filologis modern tentang struktur asli narasi.
Versi Z (Latin) Ditemukan di perpustakaan Katedral Toledo; mengandung detail-detail unik yang tidak ada di versi lain. Memberikan informasi tambahan mengenai adat istiadat keagamaan dan observasi geografis spesifik.
Tuscan/Italian (Il Milione) Versi yang paling populer di Italia; judulnya merujuk pada kekayaan kaisar yang dihitung dalam jutaan. Membentuk citra publik Marco Polo sebagai “Messer Millioni” di kalangan masyarakat Venesia.
Old French Terjemahan awal yang disebarkan di istana-istana Eropa; menekankan aspek keajaiban dunia. Mempengaruhi persepsi bangsawan Eropa terhadap kemegahan Timur.

Keterlibatan Rustichello menciptakan lapisan ambiguitas dalam teks. Sebagai contoh, pembukaan buku yang dialamatkan kepada “para kaisar, raja, adipati, dan marquess” ditemukan identik dengan pembukaan roman Arthurian yang ditulis oleh Rustichello beberapa tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan kritis: sejauh mana detail dalam buku tersebut merupakan observasi empiris Polo dan sejauh mana itu adalah konstruksi sastra Rustichello untuk memuaskan ekspektasi pembaca Eropa terhadap hal-hal eksotis?.

Anatomi Skeptisisme: Argumen Frances Wood dan Para Penentang

Perdebatan mengenai keaslian perjalanan Polo mencapai puncaknya pada tahun 1995 dengan penerbitan buku Did Marco Polo Go to China? oleh Frances Wood, kepala bagian Tiongkok di British Library. Wood mengajukan tesis radikal bahwa Marco Polo tidak pernah melampaui pos perdagangan keluarganya di Laut Hitam atau Konstantinopel, dan bahwa ia menyusun deskripsi tentang Tiongkok berdasarkan informasi sekunder dari pedagang Persia atau buku panduan Arab yang sekarang sudah hilang.

Argumen Wood berpusat pada apa yang disebutnya sebagai “omisi yang tidak masuk akal”. Menurut Wood, mustahil bagi seorang penjelajah yang tinggal selama tujuh belas tahun di Tiongkok untuk tidak menyebutkan Tembok Besar, kebiasaan minum teh, praktik pengikatan kaki (foot-binding), penggunaan sumpit, atau seni kaligrafi Tiongkok yang unik. Selain itu, Wood menyoroti ketiadaan nama “Marco Polo” dalam catatan resmi dinasti Yuan, meskipun Polo mengklaim dirinya sebagai pejabat tinggi yang dekat dengan Kublai Khan.

Kritik terhadap Kronologi dan Peristiwa Militer

Salah satu poin krusial dalam argumen skeptis adalah klaim Marco Polo mengenai Pengepungan Xiangyang (Saianfu). Polo mengklaim bahwa ia, ayahnya, dan pamannya membantu tentara Mongol menaklukkan kota tersebut dengan membangun mangonel atau ketapel pelontar batu yang besar. Namun, catatan sejarah Tiongkok menunjukkan bahwa pengepungan tersebut berakhir pada awal tahun 1273, sementara keluarga Polo sendiri, menurut pengakuan mereka, baru tiba di istana kaisar pada tahun 1275. Discrepancy waktu ini sering digunakan sebagai bukti bahwa Polo hanya mencatut peristiwa sejarah yang ia dengar dari orang lain dan menyisipkan dirinya sebagai pahlawan di dalamnya.

Peristiwa Klaim Marco Polo Fakta Sejarah Tiongkok Implikasi Historiografis
Pengepungan Xiangyang Keluarga Polo membangun mangonel untuk memenangkan pengepungan. Pengepungan berakhir pada 1273; mesin pengepung dibangun oleh insinyur Persia (Ismail dan Ala al-Din). Menunjukkan kemungkinan fabrikasi atau pembesaran peran oleh kolaborator sastra.
Gubernur Yangzhou Polo mengklaim memerintah kota Yangzhou selama tiga tahun. Tidak ada catatan namanya dalam daftar gubernur lokal atau gazetteer Yangzhou. Menimbulkan keraguan atas status administratif formalnya di Tiongkok.
Misi Putri Kököchin Menemani putri Mongol ke Persia melalui jalur laut. Terdapat catatan resmi tentang keberangkatan misi putri tersebut, namun nama Polo tidak disebutkan secara eksplisit. Salah satu bukti paling kuat karena detail rute laut yang diberikan Polo sangat akurat.

Pembelaan Melalui Verifikasi Moneter dan Administrasi Ekonomi

Meskipun argumen skeptis Wood menarik perhatian publik, mayoritas sejarawan profesional dan sinolog modern tetap meyakini bahwa Marco Polo memang benar-benar sampai ke Tiongkok. Pertahanan paling sistematis dan mendalam muncul dari karya Hans Ulrich Vogel, profesor studi Tiongkok di Universitas Tübingen. Vogel berargumen bahwa ketelitian Polo dalam mendeskripsikan sistem moneter dan administrasi garam Dinasti Yuan memberikan bukti teknis yang tidak mungkin didapatkan hanya dari cerita lisan di Persia.

Presisi Deskripsi Mata Uang Kertas

Vogel menyoroti bahwa Marco Polo memberikan gambaran yang sangat spesifik mengenai pembuatan uang kertas (chao) di Tiongkok, suatu teknologi yang sama sekali asing bagi orang Eropa abad ke-13. Polo mendeskripsikan proses ini dengan akurasi teknis yang luar biasa:

  1. Bahan Baku: Penggunaan serat kulit kayu murbei (Morus alba L.).
  2. Proses Legalitas: Pembubuhan segel merah kaisar yang memberikan nilai paksa pada kertas tersebut.
  3. Denominasi: Rincian mengenai berbagai nilai pecahan uang.
  4. Kebijakan Moneter: Kewajiban menukarkan emas dan perak dengan uang kertas, serta hukuman mati bagi pemalsu.
  5. Administrasi: Adanya biaya administrasi sebesar 3% untuk menukarkan uang kertas yang sudah usang dengan yang baru.

Analisis Vogel menunjukkan bahwa tidak ada sumber non-Tiongkok lainnya—baik dari pengembara Arab, Persia, maupun Eropa—yang memberikan detail sedalam ini. Detail mengenai biaya penukaran 3% untuk uang usang, misalnya, baru dikonfirmasi keberadaannya dalam dokumen resmi Tiongkok berabad-abad kemudian, yang membuktikan bahwa Polo memiliki akses langsung terhadap cara kerja birokrasi Yuan.

Industri Garam dan Sistem Perpajakan

Polo juga mendeskripsikan produksi garam di berbagai wilayah Tiongkok, mulai dari Changlu di utara hingga Yunnan di selatan. Ia secara akurat mencatat teknik produksi garam melalui penguapan air laut serta pendidihan air asin dari sumur-sumur tanah di pedalaman Yunnan. Vogel membandingkan data pendapatan pajak garam yang dilaporkan Polo di kota Kinsay (Hangzhou)—sebesar 5,8 juta saggi emas—dengan catatan resmi Tiongkok pada periode yang sama dan menemukan kecocokan yang sangat tinggi setelah dilakukan konversi mata uang yang tepat.

Keunikan lain dalam laporan Polo adalah penyebutan penggunaan garam sebagai mata uang di wilayah Yunnan dan Tibet. Catatan ini sangat spesifik dan jarang ditemukan dalam sumber sejarah lainnya kecuali dalam catatan internal Dinasti Yuan yang tidak tersedia bagi orang asing di luar Tiongkok. Fakta bahwa Polo mencatat detail ekonomi yang “kering” dan teknis ini justru memperkuat posisinya sebagai saksi mata yang objektif, karena detail semacam itu bukanlah bahan yang menarik untuk diimajinasikan dalam sebuah sastra roman.

Menjawab Paradoks Kelalaian: Tembok Besar dan Adat Istiadat Han

Pertanyaan Wood mengenai mengapa Polo tidak menyebutkan Tembok Besar Tiongkok sering kali dianggap sebagai poin paling menghancurkan bagi kredibilitas Polo. Namun, para sejarawan memberikan penjelasan yang logis berdasarkan konteks sejarah era Mongol. Tembok Besar yang kita kenal sekarang—dengan struktur batu dan bata yang megah—adalah hasil pembangunan besar-besaran oleh Dinasti Ming di abad ke-15 dan ke-16 untuk menahan serangan sisa-sisa Mongol.

Pada masa Marco Polo (abad ke-13), tembok-tembok kuno dari dinasti Qin dan Han sebagian besar berupa gundukan tanah yang sudah runtuh dan tidak lagi memiliki fungsi militer yang signifikan, karena baik wilayah di dalam maupun di luar tembok berada di bawah kekuasaan tunggal kekaisaran Mongol. Bagi pengembara yang terbiasa dengan benteng-benteng kota yang megah, reruntuhan tembok tanah di wilayah perbatasan mungkin tidak dianggap sebagai struktur yang layak dicatat secara khusus.

Eksklusivitas Lingkungan Mongol dan Perspektif “Ortoq”

Mengenai kelalaian penyebutan teh, sumpit, dan pengikatan kaki, penjelasannya terletak pada lingkaran sosial Polo. Sebagai seorang “ortoq”—rekanan dagang khusus yang bekerja untuk elit Mongol—Polo berinteraksi hampir secara eksklusif dengan orang-orang Mongol, Persia, dan orang asing lainnya (Semu ren) yang mendominasi birokrasi Yuan. Kaum Mongol pada saat itu tidak mempraktikkan pengikatan kaki, lebih menyukai susu kuda daripada teh, dan tetap mempertahankan budaya stepa mereka.

Polo melihat Tiongkok bukan sebagai seorang sinolog yang tertarik pada kebudayaan Han, melainkan sebagai seorang fungsionalis kekaisaran yang tertarik pada lanskap, komoditas, dan efisiensi administrasi. Hal ini menjelaskan mengapa ia sangat mendetail dalam hal uang kertas dan sistem pos, tetapi acuh tak acuh terhadap estetika kaligrafi atau filsafat Konfusianisme.

Otonomi Budaya Perspektif Marco Polo Penjelasan Kontekstual
Teh dan Sumpit Jarang disebutkan atau diabaikan. Elit Mongol lebih menyukai tradisi kuliner mereka sendiri; kontak dengan masyarakat Han kelas bawah sangat terbatas.
Pengikatan Kaki Tidak disebutkan dalam sebagian besar manuskrip. Praktik ini jarang dilakukan di kalangan Mongol atau kelas pekerja; perempuan Han yang mengikat kaki sering kali terisolasi di rumah.
Bahasa Tiongkok Tidak menunjukkan penguasaan bahasa Han. Bahasa administrasi utama di istana Kublai Khan adalah Mongol dan Persia; Polo kemungkinan besar berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa tersebut.
Tembok Besar Absen dari narasi perjalanannya. Tembok era Yuan dalam kondisi rusak; tidak ada ancaman militer di perbatasan tersebut selama Pax Mongolica.

Status Sosial Marco Polo di Tiongkok: Teka-teki “Boluo”

Absensi nama Marco Polo dalam catatan resmi Tiongkok sering dianggap sebagai bukti bahwa ia berbohong tentang statusnya. Namun, sejarawan Rong Xinjiang dan Cai Meibiao memberikan perspektif yang lebih nuansial dengan mengidentifikasi Polo sebagai anggota kelompok ortoqOrtoq adalah kelompok pedagang istimewa yang diberikan modal oleh para pangeran dan bangsawan Mongol untuk menjalankan bisnis atas nama mereka. Sebagai agen ekonomi, mereka memiliki status tinggi dan akses ke istana, tetapi mereka bukanlah pejabat birokrasi formal yang karirnya akan dicatat dalam sejarah resmi dinasti (Yuan Shi) atau gazetteer lokal.

Meskipun demikian, ada upaya dari sejarawan Tiongkok seperti Peng Hai untuk mengaitkan Polo dengan tokoh bernama “Boluo” (孛羅) yang muncul dalam Yuan Shi. Nama “Boluo” memang merupakan transliterasi umum untuk nama Mongol “Pulad,” tetapi rincian aktivitas “Boluo” tertentu dalam catatan Yuan—seperti perannya sebagai utusan kaisar yang cerdas—memiliki kemiripan dengan klaim Polo. Kendati demikian, karena banyaknya individu bernama Boluo dalam catatan sejarah tersebut, identitas ini tetap menjadi spekulasi ilmiah yang belum mencapai konsensus bulat.

Ketelitian Geografis dan Etnografis di Luar Tiongkok Utama

Keabsahan perjalanan Polo juga didukung oleh deskripsi wilayah-wilayah di luar inti kekaisaran Tiongkok. Perjalanannya melintasi Asia Tengah menuju Tiongkok memberikan detail yang akurat tentang wilayah-wilayah seperti Badakhshan (di Afghanistan modern), di mana ia mencatat keberadaan batu mulia lapis lazuli dan iklim yang menyehatkan bagi penyakit pernapasan—pengalaman yang tampaknya bersifat pribadi dan empiris.

Polo juga memberikan laporan pertama dalam tradisi Barat mengenai keberadaan Jepang (Cipangu) dan kegagalan invasi Kublai Khan ke pulau tersebut. Meskipun ia mencampuradukkan detail antara dua upaya invasi yang berbeda (1274 dan 1281), fakta bahwa ia mengetahui tentang keberadaan pulau-pulau di timur Tiongkok memberikan dimensi pengetahuan yang melampaui apa yang tersedia bagi pedagang di Persia. Laporannya mengenai rute laut dari Quanzhou (Zaitun) melalui Selat Malaka ke India juga menunjukkan detail geografis yang hanya bisa didapatkan melalui partisipasi dalam ekspedisi maritim yang nyata.

Analisis Toponimi: Penggunaan Nama Mongol dan Persia

Keunikan lain dari Devisement du Monde adalah penggunaan nama tempat yang sering kali mengikuti pelafalan Persia atau Mongol daripada bahasa Han. Beijing disebut “Cambuluc” (Khanbaliq – kota Khan), Hangzhou disebut “Quinsay” (dari bahasa Tiongkok Xingsheng), dan wilayah Hotan disebut “Cotan”. Ketidakteraturan ini justru menjadi bukti otentisitas; sebagai orang asing yang bekerja untuk penguasa Mongol, Polo secara alami menggunakan nomenklatur administrasi yang dominan di istana daripada nama lokal yang digunakan penduduk Han.

Warisan dan Dampak Terhadap Penjelajahan Dunia

Meskipun buku ini pada awalnya diterima dengan skeptisisme—bahkan Polo sering diminta di ranjang kematiannya untuk mengakui bahwa ia telah berbohong, yang dijawabnya dengan pernyataan terkenal bahwa ia belum menceritakan bahkan setengah dari apa yang dilihatnya—warisannya terhadap sejarah dunia sangatlah masif.

Polo adalah orang Eropa pertama yang memberikan gambaran komprehensif tentang peradaban Timur yang jauh lebih maju secara ekonomi dan teknologi daripada Eropa saat itu. Deskripsinya tentang batubara yang “terbakar seperti kayu,” kebersihan penduduk yang mandi secara rutin, dan efisiensi sistem komunikasi kekaisaran menantang superioritas peradaban Barat pada masa itu.

Pengaruhnya terhadap kartografi menyebabkan munculnya peta-peta baru yang mencantumkan Asia sebagai daratan yang luas dan kaya, bukan sekadar wilayah misterius yang dihuni makhluk-makhluk mitis. Tanpa catatan perjalanan Marco Polo, dorongan ekonomi dan imajinatif yang memicu Christopher Columbus untuk berlayar mencari jalur barat menuju India mungkin tidak akan pernah ada. Columbus sendiri membawa salinan buku Polo dalam perjalanannya tahun 1492, yang menunjukkan bahwa narasi Polo telah menjadi instrumen praktis bagi navigasi dan eksplorasi.

Sintesis Historiografi: Fakta di Balik Fiksi

Perdebatan mengenai Marco Polo bukanlah perdebatan hitam-putih antara kebenaran mutlak dan kebohongan total. Sebaliknya, ini adalah studi tentang bagaimana sebuah kesaksian sejarah diproses melalui filter bahasa, budaya, dan genre sastra. Kesalahan kronologis seperti dalam kasus Pengepungan Xiangyang atau ketidakhadiran dalam catatan resmi dapat dijelaskan melalui distorsi naratif yang dilakukan oleh Rustichello da Pisa atau status sosial Polo yang tidak formal sebagai pedagang ortoq.

Namun, bukti-bukti teknis yang dikumpulkan oleh sarjana seperti Hans Ulrich Vogel mengenai sistem moneter, pajak garam, dan geografi administrasi memberikan landasan empiris yang sangat kuat untuk menyimpulkan bahwa Marco Polo memang benar-benar berada di Tiongkok. Ketelitian data ekonomi tersebut hampir mustahil untuk dipalsukan atau didapatkan dari sumber tangan kedua di wilayah Persia.

Sebagai penutup, The Travels of Marco Polo harus dibaca sebagai perpaduan antara memoar pedagang yang tajam, laporan intelijen kekaisaran Mongol, dan elemen romansa abad pertengahan. Meskipun “keajaiban dunia” yang ia ceritakan sering kali tampak fantastis, inti dari deskripsinya tentang Tiongkok di bawah Dinasti Yuan adalah salah satu kontribusi paling berharga bagi pemahaman manusia tentang pertemuan antar-peradaban di masa lalu. Marco Polo mungkin tidak menceritakan semuanya dengan benar, tetapi ia menceritakan cukup banyak kebenaran untuk selamanya mengubah cara dunia Barat melihat Timur.