Legenda Transkontinental Orient Express: Narasi Kemewahan, Labirin Misteri, dan Geopolitik Benua Eropa
Evolusi transportasi rel global tidak pernah bisa dilepaskan dari narasi besar Orient Express, sebuah entitas yang melampaui fungsinya sebagai sekadar rangkaian gerbong besi menjadi simbol supremasi budaya, kemajuan teknis, dan panggung drama politik internasional. Sejak keberangkatan perdananya pada akhir abad ke-19, kereta ini telah menjadi mikrokosmos dari ambisi Eropa, sebuah “istana berjalan” yang menghubungkan gemerlap Paris dengan eksotisme Konstantinopel. Sejarahnya adalah cermin dari fluktuasi stabilitas benua, mulai dari optimisme Belle Époque, ketegangan dua Perang Dunia, hingga pembekuan diplomatik selama era Perang Dingin. Hari ini, kebangkitan Orient Express bukan hanya sekadar upaya komersial untuk menghidupkan kembali nostalgia, melainkan sebuah rekayasa ulang terhadap konsep kemewahan transkontinental yang memadukan otentisitas sejarah dengan tuntutan kenyamanan modern.
Visi Georges Nagelmackers: Kelahiran Sang Raja Kereta
Fondasi Orient Express diletakkan oleh ambisi seorang insinyur muda asal Belgia, Georges Nagelmackers. Pada tahun 1867, setelah mengalami kegagalan cinta, Nagelmackers melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan di sana ia mengamati inovasi gerbong tidur (sleeping cars) milik George Pullman. Meskipun terkesan dengan teknologi Amerika, Nagelmackers menyadari bahwa standar kenyamanan yang ditawarkan Pullman masih di bawah ekspektasi para aristokrat Eropa. Kembali ke Eropa, ia merumuskan visi untuk menciptakan layanan kereta api yang menggabungkan efisiensi transportasi dengan kemewahan perhotelan kelas atas.
Pada 4 Oktober 1876, Nagelmackers mendirikan Compagnie Internationale des Wagons-Lits (CIWL), sebuah perusahaan yang didorong oleh audasitas untuk melintasi batas-batas negara yang pada saat itu masih terfragmentasi secara birokrasi dan teknis. Tantangan diplomatik yang dihadapinya sangat besar; ia harus meyakinkan berbagai operator kereta api nasional, yang sering kali berada dalam persaingan sengit pasca-Perang Prancis-Prusia tahun 1870, untuk bekerja sama dalam satu rute internasional yang terpadu.
Perjalanan resmi pertama yang membawa nama legenda ini dimulai pada 4 Oktober 1883 dari Gare de l’Est di Paris menuju Konstantinopel. Pada fase awal ini, perjalanan belum sepenuhnya dilakukan melalui jalur rel darat yang berkesinambungan. Penumpang harus menyeberangi Sungai Danube dengan feri dari Giurgiu, Rumania, menuju Ruse, Bulgaria, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta lokal menuju Varna, dan akhirnya mencapai Konstantinopel melalui jalur laut melintasi Laut Hitam. Baru pada 1 Juni 1889, rute langsung tanpa hambatan feri dioperasikan sepenuhnya dari Paris ke terminal Sirkeci di Istanbul, yang menandai era baru konektivitas antara Barat dan Timur.
| Garis Waktu Perkembangan Awal Orient Express | Peristiwa Utama | |
| 1867 | Georges Nagelmackers mempelajari gerbong Pullman di Amerika Serikat. | |
| 1876 | Pendirian Compagnie Internationale des Wagons-Lits (CIWL). | |
| 5 Juni 1883 | Keberangkatan perdana “Express d’Orient” dari Paris ke Wina. | |
| 4 Oktober 1883 | Perjalanan pertama mencapai Konstantinopel (via feri dan kereta sambungan). | |
| 1 Juni 1889 | Layanan kereta api langsung pertama dari Paris ke Konstantinopel diresmikan. | |
| 1894 | Pembukaan jaringan hotel mewah CIWL untuk mendukung penumpang kereta. |
Estetika Art Deco: Manifestasi Kemewahan dalam Detail
Orient Express mencapai puncak kejayaan estetikanya pada era interbellum, khususnya antara tahun 1920-an hingga 1930-an. Pada masa ini, kereta tersebut bertransformasi menjadi galeri seni berjalan yang merayakan gerakan Art Deco Prancis. CIWL berkolaborasi dengan maestro desain seperti René Prou dan pengrajin kaca legendaris René Lalique untuk menciptakan interior yang memancarkan kemewahan tanpa kompromi.
Panel kayu mahoni yang dipernis hingga mengkilap dihiasi dengan tatahan marquetry yang rumit, menggunakan motif geometris dan floral yang merupakan ciri khas gaya Prou. Di gerbong restoran nomor 4141, panel kaca Lalique menggambarkan sosok-sosok Bacchanalian, memberikan kesan sensual dan artistik yang mendalam bagi para penumpang saat mereka menikmati hidangan gourmet. Setiap fitmen, mulai dari pegangan pintu berbahan kuningan yang dipoles hingga lampu kristal Baccarat, dirancang untuk memberikan pengalaman sensorik yang tidak tertandingi.
Pencapaian teknis juga menjadi bagian dari kemewahan ini. Gerbong-gerbong tidur dilengkapi dengan fasilitas modern pada zamannya, termasuk pemanas sentral, sistem air panas, dan pencahayaan gas yang kemudian digantikan oleh listrik. Selama siang hari, kompartemen tidur dikonversi menjadi ruang santai yang elegan oleh para pramugara (stewards) yang berdedikasi tinggi, memastikan bahwa kenyamanan penumpang tetap terjaga sepanjang perjalanan.
Kerajinan Tangan dan Material Eksklusif
Material yang digunakan dalam restorasi gerbong asli mencerminkan dedikasi terhadap otentisitas. Penggunaan kayu sycamore yang bertatahkan bubuk perak dan kaca tekan menciptakan efek visual yang dramatis pada dinding kompartemen. Sejarah mencatat bahwa beberapa material marquetry yang digunakan oleh René Prou kini hanya dapat diperoleh dari satu pemasok tunggal di seluruh Eropa, menekankan eksklusivitas dan kelangkaan elemen desain tersebut.
Selain aspek visual, gastronomi menjadi pilar utama kemewahan Orient Express. Gerbong makan menyajikan menu yang menyaingi restoran-restoran terbaik di Paris, dengan perak Christofle dan linen meja yang kaku. Para koki berbintang Michelin menyiapkan hidangan seperti lobster, turbot dengan kaviar, dan daging sapi muda panggang langsung di dapur kereta yang sempit, sebuah prestasi logistik dan kuliner yang luar biasa.
Geopolitik di Atas Rel: Barometer Stabilitas Eropa
Orient Express tidak pernah menjadi sekadar bisnis transportasi; ia adalah instrumen kekuatan dan diplomasi. Kereta ini berfungsi sebagai jembatan budaya antara Barat yang industriil dan Timur yang sedang bertransformasi. Namun, hubungan ini sering kali bersifat asimetris, di mana Orient Express melambangkan hegemoni Barat yang membawa nilai-nilai, teknologi, dan mode ke wilayah “periferi” Balkan dan Anatolia.
Pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 menandai penghentian pertama layanan mewah ini. Namun, pasca-perang, Orient Express kembali dengan peran politik yang lebih kuat. Perjanjian Versailles dan restrukturisasi peta Eropa mendorong pembukaan rute Simplon Orient Express pada tahun 1919. Rute baru ini melewati Terowongan Simplon di Swiss, lalu melintasi Milan, Venesia, dan Trieste, sengaja menghindari wilayah Jerman dan Austria untuk mengisolasi kekuatan yang kalah perang serta memberikan jalur komunikasi yang aman bagi negara-negara Sekutu.
Kereta Para Raja dan Spionase
Dikenal sebagai “King of Trains and Train of Kings,” Orient Express menjadi moda transportasi favorit bagi bangsawan seperti King Ferdinand dari Bulgaria dan Tsar Nicholas II dari Rusia. Namun, kerahasiaan kompartemennya yang mewah juga menarik perhatian dunia intelijen. Kereta ini menjadi panggung bagi aktivitas spionase yang legendaris. Robert Baden-Powell, yang dikenal sebagai pendiri gerakan Pramuka, sering bepergian dengan Orient Express dengan menyamar sebagai pengoleksi kupu-kupu. Ia menyembunyikan peta benteng musuh di sepanjang pantai Dalmatia di dalam sketsa sayap kupu-kupu yang ia buat; setiap bintik atau garis pada gambar tersebut adalah kode rahasia mengenai jenis dan ukuran meriam artileri.
Tokoh-tokoh seperti Mata Hari juga menjadi penumpang reguler dalam menjalankan misi-misi rahasianya sebelum akhirnya dieksekusi selama Perang Dunia I. Selama era Perang Dingin, kereta ini terus beroperasi melintasi “Tirai Besi,” meskipun dengan standar kemewahan yang merosot tajam. Layanan di gerbong-gerbong negara blok Timur sering kali dikelola oleh kereta api nasional masing-masing negara dengan kualitas yang buruk, namun tetap menjadi sarana vital bagi kurir diplomatik AS dan Inggris untuk mengantar dokumen rahasia antara Wina, Budapest, dan Bukares. Para kurir ini sering kali harus bepergian berpasangan untuk menjaga keamanan tas diplomatik mereka dan terpaksa memasak makanan mereka sendiri menggunakan kompor alkohol di dalam kabin karena buruknya layanan di gerbong makan.
| Peran Orient Express dalam Geopolitik Eropa | Dampak dan Signifikansi | |
| Perang Dunia I (1914-1918) | Layanan dihentikan; gerbong digunakan untuk keperluan militer dan penandatanganan gencatan senjata. | |
| Pembukaan Simplon Route (1919) | Menghindari Jerman/Austria untuk alasan politik dan isolasi diplomatik pasca-perang. | |
| Era Perang Dingin | Menjadi jalur utama kurir diplomatik di bawah pengawasan KGB (AVO) melintasi Tirai Besi. | |
| Sabotase Partisan (Perang Dunia II) | Layanan kereta Mitropa Jerman sering kali diledakkan oleh partisan Yugoslavia. |
Agatha Christie dan Mitos Literasi: Misteri di Balik Badai Salju
Popularitas abadi Orient Express di benak publik modern sebagian besar dikontribusikan oleh karya ikonik Agatha Christie, Murder on the Orient Express (1934). Bagi Christie, kereta ini bukan sekadar latar belakang fiktif, melainkan bagian dari sejarah pribadinya. Ia pertama kali bepergian dengan Orient Express pada tahun 1928 setelah mengalami krisis personal akibat perceraian. Perjalanan tersebut menjadi awal dari hubungannya yang mendalam dengan rute ke Timur, yang kemudian memberikan dasar bagi banyak novel misterinya.
Christie sangat terampil memanfaatkan atmosfer claustrophobic dari gerbong kereta—ruang yang terisolasi di mana sekelompok orang asing yang memiliki rahasia terperangkap bersama. Inspirasi untuk plot novelnya berasal dari dua peristiwa nyata yang menggegerkan dunia pada saat itu. Pertama adalah penculikan bayi Lindbergh di Amerika Serikat pada tahun 1932, yang diadaptasi menjadi latar belakang tragis keluarga Armstrong dalam novelnya. Kedua adalah insiden pada tahun 1929 ketika kereta Orient Express terjebak dalam tumpukan salju selama lima hari di dekat Cherkezkoy, Turki, memaksa para penumpang bertahan hidup dalam suhu yang sangat dingin.
Warisan Budaya di Istanbul dan Beyond
Istanbul, sebagai destinasi akhir, menjadi pusat dari mitos Christie. Ia sering menginap di Pera Palace Hotel, di mana kamar nomor 411 kini didedikasikan sepenuhnya untuk sang penulis dan dianggap sebagai tempat di mana ia menulis sebagian besar karyanya mengenai Hercule Poirot. Di terminal Sirkeci, aura misteri tersebut tetap hidup melalui restoran Orient Express yang mempertahankan dekorasi era kolonial.
Bagi para pelancong modern, menaiki Orient Express adalah upaya untuk masuk ke dalam narasi Christie. Pengelola kereta saat ini, seperti Belmond, sangat menyadari hal ini dan menciptakan suasana yang mendorong penumpang untuk berdandan dalam gaya “black tie” atau gaya vintage 1920-an, seolah-olah mereka adalah karakter dalam sebuah drama pembunuhan yang elegan. Interaksi sosial di Bar Car ‘3674’ dengan iringan dentingan piano sering kali terasa seperti bab awal dari sebuah novel misteri, di mana setiap penumpang membawa fasad yang menarik untuk dipelajari.
Penurunan dan Kematian Layanan Asli: Akhir Sebuah Era
Meskipun pernah menjadi puncak kemewahan, Orient Express tidak kebal terhadap perubahan zaman. Munculnya era pesawat jet pada akhir 1950-an dan pembangunan jalan tol lintas benua mulai menggeser preferensi pelancong dari kereta api yang lambat menuju kecepatan udara. Selain itu, realitas geopolitik Perang Dingin membuat perjalanan lintas batas menjadi semakin sulit dan tidak menyenangkan bagi turis kelas atas.
Pada tahun 1962, layanan Simplon Orient Express yang megah digantikan oleh rute yang lebih fungsional bernama “Direct Orient Express”. Kemewahan mulai memudar; gerbong tidur berlapis beludru diganti dengan kompartemen standar, dan gerbong makan yang menyajikan gourmet digantikan oleh layanan kantin yang sederhana. Pada tanggal 20 Mei 1977, Orient Express melakukan perjalanan langsung terakhirnya dari Paris ke Istanbul. Kereta tersebut tiba di Sirkeci dengan sedikit perayaan, menandai berakhirnya masa layanan berkelanjutan selama 94 tahun yang telah mendefinisikan perjalanan trans-Eropa.
James Sherwood dan Restorasi Nostalgia: Kelahiran VSOE
Setelah penghentian layanan oleh CIWL, gerbong-gerbong bersejarah dilelang di Monte Carlo pada tahun 1977. Pengusaha kapal asal Amerika dan penggemar kereta api, James B. Sherwood, membeli dua gerbong asli dari tahun 1920-an dalam lelang tersebut. Ini adalah awal dari proyek ambisius senilai $31 juta untuk mengumpulkan dan merestorasi 35 gerbong asli Wagon-Lits dari seluruh Eropa.
Sherwood tidak ingin menciptakan kereta baru yang tampak kuno; ia menginginkan restorasi otentik yang dapat memberikan perasaan “perjalanan waktu” bagi penumpang modern. Proyek restorasi ini melibatkan pengrajin yang menggunakan teknik tradisional untuk mengembalikan kilau marquetry kayu mahoni dan panel kaca Lalique. Pada 25 Mei 1982, layanan Venice Simplon-Orient-Express (VSOE) resmi diluncurkan, memulai rute dari London dan Paris menuju Venesia.
VSOE berhasil membuktikan bahwa kemewahan kereta api tidak mati, melainkan hanya membutuhkan konteks baru. Sherwood menekankan bahwa di dunia yang serba cepat, orang-orang justru mendambakan kesempatan untuk memperlambat waktu dan menikmati ritual yang hilang, seperti makan malam empat menu yang disajikan dengan peralatan perak di tengah pemandangan pegunungan Alpen yang megah.
Inovasi Modern dalam Kerangka Klasik
Meskipun mempertahankan otentisitas adalah prioritas utama, Belmond (yang kini mengelola VSOE) menyadari perlunya adaptasi terhadap standar kemewahan abad ke-21. Kabin-kabin bersejarah (Historic Cabins) tetap mempertahankan konfigurasi aslinya—ruang kecil dengan tempat tidur susun dan wastafel tersembunyi, di mana penumpang harus menggunakan kamar mandi bersama di ujung lorong. Namun, untuk memenuhi permintaan segmen ultra-mewah, diperkenalkanlah Grand Suites pada tahun 2018. Suite-suite ini mencakup seluruh kompartemen, dilengkapi dengan tempat tidur double, ruang tamu pribadi, dan kamar mandi marmer dengan shower—sesuatu yang secara teknis sangat sulit diimplementasikan pada gerbong era 1920-an.
| Komparasi Akomodasi Venice Simplon-Orient-Express | Kabin Bersejarah (Historic Cabins) | Grand Suite | |
| Kapasitas & Tata Letak | Kursi banquette dikonversi menjadi tempat tidur susun. | Tempat tidur double queen-sized atau twin. | |
| Fasilitas Kamar Mandi | Wastafel di dalam kabin; toilet bersama di ujung gerbong. | En-suite marmer pribadi dengan shower, wastafel, dan WC. | |
| Layanan Tambahan | Steward 24 jam; sarapan di kabin. | Butler 24 jam; sampanye mengalir bebas; makan malam privat. | |
| Ukuran Ruang | Sangat kompak; penyimpanan bagasi terbatas. | Luas (sekitar 115 sq ft) dengan area ruang tamu sofa. |
Penemuan Małaszewicze: Harta Karun di Polandia
Salah satu babak paling menakjubkan dalam sejarah modern Orient Express adalah penemuan kembali 17 gerbong asli “Nostalgie-Istanbul-Orient-Express” yang sempat hilang dari radar sejarah selama sepuluh tahun. Penemuan ini dimulai pada tahun 2015 ketika Arthur Mettetal, seorang peneliti sejarah industri asal Prancis, melihat sebuah video YouTube yang memperlihatkan gerbong biru tua dengan atap putih di sebuah stasiun terpencil di MaÅ‚aszewicze, perbatasan Polandia dan Belarus.
Mettetal melakukan pelacakan digital menggunakan Google Maps 3D untuk mengonfirmasi lokasi gerbong-gerbong tersebut sebelum akhirnya melakukan perjalanan darat selama empat jam dari Warsawa untuk melihatnya langsung. Yang ia temukan adalah sebuah keajaiban: meskipun telah terbengkalai di bawah cuaca ekstrem Polandia selama satu dekade, interior gerbong tersebut masih menyimpan panel kaca Lalique dengan motif “Blackbirds & Grapes” serta marquetry kayu yang sangat indah. Kereta ini adalah bagian dari layanan restorasi tahun 1980-an milik pengusaha Swiss, Albert Glatt, yang pernah melakukan perjalanan legendaris dari Paris ke Tokyo pada tahun 1988 sebelum akhirnya layanannya bangkrut dan gerbongnya ditinggalkan begitu saja.
Restorasi oleh Accor dan Visi 2027
Setelah negosiasi yang rumit selama dua tahun, grup perhotelan Accor (bekerja sama dengan SNCF) mengakuisisi 17 gerbong tersebut pada tahun 2018. Gerbong-gerbong tersebut dipindahkan kembali ke Prancis menggunakan konvoi truk yang dikawal polisi demi keamanan sejarah yang tak ternilai harganya. Accor menugaskan arsitek Maxime d’Angeac untuk memimpin proyek restorasi yang bertujuan menghidupkan kembali Orient Express sebagai layanan flagship yang baru pada tahun 2027.
Berbeda dengan VSOE milik Belmond yang sangat berpegang pada otentisitas kaku era 1920-an, proyek Accor berupaya menciptakan simbiosis antara desain Art Deco asli dengan teknologi modern yang sepenuhnya terintegrasi secara tersembunyi. Panel-panel kayu baru dibuat oleh Ateliers Rinck, dan upholsteri dikerjakan oleh Ateliers Jouffre untuk memenuhi standar keamanan kebakaran modern tanpa menghilangkan nuansa periodiknya. D’Angeac menekankan bahwa tantangan terbesarnya adalah memasukkan kenyamanan ekstrem (seperti AC yang senyap dan insulasi suara) ke dalam ruang yang sangat terbatas tanpa merusak estetika historisnya.
Strategi Bisnis dan Rivalitas Kemewahan: Belmond vs Accor
Saat ini, nama “Orient Express” menjadi subjek kompetisi merek yang menarik di industri pariwisata ultra-mewah. Terdapat dua pemain utama yang beroperasi secara terpisah namun berbagi warisan yang sama. Pertama adalah Venice Simplon-Orient-Express (VSOE) yang dikelola oleh Belmond, bagian dari konglomerat LVMH. Belmond mengoperasikan kereta mereka di bawah lisensi nama dari SNCF dan berfokus pada rute klasik dari London/Paris ke Venesia serta perjalanan tahunan ke Istanbul.
Pemain kedua adalah brand “Orient Express” milik Accor, yang memegang 50% hak atas nama tersebut dari SNCF. Accor sedang membangun ekosistem gaya hidup yang lebih luas, termasuk peluncuran kereta “La Dolce Vita” di Italia, kapal pesiar mewah “Corinthian,” dan jaringan hotel mewah di Roma (La Minerva) serta Venesia (Palazzo Donà Giovannelli).
Kemitraan Strategis LVMH-Accor
Pada perkembangan mengejutkan di tahun 2024, LVMH dan Accor mengumumkan kemitraan strategis untuk mempercepat pengembangan brand Orient Express. Dalam kesepakatan ini, LVMH melakukan investasi strategis pada brand tersebut dan akan berkontribusi dengan keahlian mereka dalam mengelola layanan mewah, sebagaimana yang telah mereka lakukan pada VSOE. Aliansi ini menandai babak baru di mana dua kekuatan besar kemewahan dunia bersatu untuk mengangkat brand Orient Express ke “puncak seni perhotelan,” memastikan bahwa legenda ini tetap relevan di pasar global yang semakin kompetitif.
Perjalanan Legendaris Paris ke Istanbul: Odyssey 6 Hari
Meskipun rute harian sudah lama hilang, perjalanan tahunan dari Paris ke Istanbul tetap menjadi mahkota dari pengalaman Orient Express. Ini bukan sekadar perjalanan transportasi, melainkan sebuah narasi yang disusun dengan cermat selama enam hari melintasi jantung Eropa.
Pengalaman On-Board: Ritual dan Gastronomi
Perjalanan dimulai di Paris Gare de l’Est, di mana para penumpang disambut dengan sampanye dan teh sore di dalam kabin yang telah disiapkan secara sempurna oleh para steward. Makan malam hari pertama adalah peristiwa formal yang sangat megah, diiringi oleh dentingan piano di Bar Car ‘3674’. Menu makanan, yang kini dirancang oleh koki Prancis Jean Imbert untuk VSOE, menekankan pada bahan-bahan musiman yang diambil dari wilayah-wilayah yang dilewati kereta.
| Itinerary Perjalanan Paris ke Istanbul (VSOE) | Aktivitas Utama & Pemberhentian | Lokasi Menginap | |
| Hari 1 | Keberangkatan dari Paris; makan malam formal pertama. | Di atas kereta | |
| Hari 2 | Perjalanan melalui Austria ke Hungaria; tiba di Budapest. | Hotel di Budapest | |
| Hari 3 | Tur kota Budapest dan makan malam di Sungai Danube. | Di atas kereta | |
| Hari 4 | Kunjungan ke Kastil Peles; tiba di Bukares, Rumania. | Hotel di Bukares | |
| Hari 5 | Penyeberangan Sungai Danube menuju Bulgaria. | Di atas kereta | |
| Hari 6 | Melintasi Thrace menuju Istanbul; kedatangan di Sirkeci. | Terminal Sirkeci |
Koneksi Historis di Rumania: Kastil Peles
Salah satu momen paling ikonik dalam rute ini adalah pemberhentian di Sinaia, Rumania. Di sini, para penumpang turun untuk mengunjungi Kastil Peles, sebuah istana Neo-Renaissance abad ke-19 yang dikelilingi oleh pegunungan Karpatia yang dramatis. Tradisi ini berakar langsung pada tahun 1883, ketika Raja Carol I dari Rumania secara pribadi mengundang penumpang perjalanan perdana untuk melihat kediaman musim panasnya. Hingga hari ini, kunjungan tersebut dipertahankan sebagai elemen kunci dari itinerary, memberikan penumpang koneksi nyata dengan aristokrasi Eropa masa lalu.
Sambutan di Istanbul: Gerbang Menuju Orient
Kedatangan di Istanbul diatur sedemikian rupa untuk memberikan kesan dramatis. Stasiun Sirkeci, dengan arsitektur orientalist-nya yang indah, menyambut kereta dengan karpet merah dan terkadang pertunjukan musik tradisional Turki serta sajian teh (çay) di peron. Bagi banyak pelancong, Istanbul bukan sekadar titik akhir, melainkan pintu masuk menuju dunia yang sama sekali berbeda, sebuah perpaduan antara sejarah Kekaisaran Ottoman dan modernitas Republik Turki yang dinamis.
Kesimpulan: Eksistensi Abadi Sebuah Mitos
Orient Express telah membuktikan dirinya sebagai salah satu fenomena budaya paling tangguh dalam sejarah transportasi. Meskipun ia sempat dinyatakan mati secara komersial pada tahun 1977, daya tarik mitosnya—yang dibangun dari campuran kemewahan Art Deco, intrik spionase, dan warisan literasi Agatha Christie—telah memungkinkannya untuk lahir kembali berulang kali dalam bentuk yang lebih megah.
Di abad ke-21, Orient Express bukan lagi sekadar kereta api; ia adalah sebuah kategori kemewahan tersendiri yang menawarkan antitesis terhadap kecepatan dunia digital yang melelahkan. Ia menawarkan “luxury of slow travel,” di mana perjalanan itu sendiri adalah tujuannya. Melalui restorasi gerbong yang ditemukan di Polandia dan kemitraan antara raksasa industri seperti LVMH dan Accor, masa depan legenda ini tampak lebih cerah dari sebelumnya. Orient Express akan terus menjadi saksi bisu sejarah Eropa yang dinamis, sebuah panggung yang menghubungkan masa lalu yang penuh intrik dengan masa depan yang penuh keanggunan, tetap setia pada identitasnya sebagai “King of Trains” yang tak tertandingi.