Loading Now

Anatomi Melankolia di Atas Lantai Dansa: Eksploitasi, Ketahanan, dan Industri Penderitaan dalam Maraton Menari Era Depresi Besar

Fenomena maraton menari yang melanda Amerika Serikat pada dekade 1920-an dan memuncak pada 1930-an merupakan salah satu artefak budaya paling kelam sekaligus menarik dalam sejarah modern. Muncul dari semangat dekade yang menderu (Roaring Twenties) yang penuh optimisme dan obsesi terhadap rekor dunia, kegiatan ini bertransformasi menjadi industri eksploitatif yang memanfaatkan keputusasaan ekonomi selama masa Depresi Besar. Secara sosiologis, maraton menari bukan sekadar kompetisi ketahanan fisik, melainkan sebuah bentuk teater partisipatif di mana penderitaan manusia dikomodifikasi menjadi hiburan murah bagi massa yang juga tengah mengalami penderitaan serupa. Analisis mendalam terhadap fenomena ini menyingkapkan bagaimana garis antara hobi, olahraga ekstrem, dan eksploitasi manusia menjadi kabur ketika dihadapkan pada realitas kelaparan dan pengangguran massal. Laporan ini akan membedah secara komprehensif mekanisme, dampak, dan warisan dari maraton menari sebagai cermin dari masyarakat yang sedang berjuang melawan kehancuran sistemik.

Genealogi Ketahanan: Dari Tren Jazz Age Menuju Strategi Bertahan Hidup

Akar sejarah maraton menari tertanam kuat pada awal 1920-an, sebuah periode yang ditandai oleh kebebasan baru pasca-Perang Dunia I dan ledakan budaya jazz. Pada masa ini, masyarakat Amerika Serikat sangat terobsesi dengan upaya memecahkan rekor dunia dalam berbagai hal yang sering kali tidak lazim, seperti duduk di atas tiang bendera (flagpole sitting), kompetisi berciuman, hingga balap sepeda enam hari. Maraknya Olimpiade modern beberapa dekade sebelumnya turut memicu antusiasme publik terhadap tes batas kemampuan fisik manusia yang ekstrem.

Titik awal yang signifikan secara global sering kali merujuk pada 18 Februari 1923 di Sunderland, Inggris, di mana pasangan Olie Finnerty dan Edgar Van Ollefin menetapkan rekor dengan menari selama tujuh jam tanpa henti. Namun, di Amerika Serikat, fenomena ini benar-benar meledak melalui aksi Alma Cummings di New York. Pada Maret 1923, Cummings menari selama 27 jam berturut-turut di Audubon Ballroom, menggunakan enam pasangan pria yang berbeda secara bergantian karena mereka semua pingsan atau menyerah sebelum dirinya. Dalam waktu singkat, rekor ini menjadi target bagi ribuan orang di seluruh negeri, dengan rekor baru ditetapkan hampir setiap hari, mulai dari 56 jam, 82 jam, hingga ratusan jam.

Ketika pasar saham jatuh pada tahun 1929 dan Depresi Besar melanda, karakter maraton menari berubah secara drastis. Dari semula hobi yang memacu adrenalin dan rasa ingin tahu, ia berubah menjadi “industri penderitaan” yang sangat teratur. Bagi para peserta, motivasi utama bergeser dari sekadar ketenaran menjadi kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup. Di tengah tingkat pengangguran yang mencapai lebih dari 20-25 persen, lantai dansa menawarkan jaminan hidangan panas hingga 12 kali sehari dan atap di atas kepala selama kompetisi berlangsung. Bagi banyak orang, menjadi kontestan adalah strategi koping yang lebih pasti daripada mengantre di dapur umum (bread lines) yang sering kali tidak mencukupi.

Periode Karakteristik Utama Motivasi Dominan Contoh Rekor/Kejadian
Awal 1920-an Hobi, tren Jazz Age, spontanitas. Ketenaran, pemecahan rekor, kesenangan. Alma Cummings (27 jam, 1923).
Pertengahan 1920-an Mulai dikelola promotor, durasi meningkat. Hadiah uang kecil, perhatian publik. RJ Newman (160 jam, 1923).
Era 1930-an (Depresi) Industri terorganisir, brutal, sangat lama. Makanan, tempat berteduh, hadiah uang besar. Callum DeVillier (3.780 jam, 1932).

Transformasi ini menciptakan ekosistem ekonomi baru yang mempekerjakan sekitar 20.000 orang di seluruh Amerika Serikat, termasuk promotor, juri lapangan, pembawa acara (emcee), pelatih, perawat, dan musisi. Seiring berjalannya waktu, istilah “maraton menari” sering kali diganti oleh promotor menjadi “walkathon” agar terdengar lebih dapat diterima oleh otoritas agama yang menganggap menari sebagai aktivitas berdosa, sekaligus mengakui bahwa pada tahap akhir kompetisi, gerakan para peserta lebih menyerupai jalan menyeret daripada menari yang sebenarnya.

Arsitektur Aturan dan Kedisiplinan yang Mematikan

Keberhasilan maraton menari sebagai bisnis sangat bergantung pada regulasi yang mampu memperpanjang durasi acara hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Promotor menyusun aturan yang memastikan penonton mendapatkan tontonan yang konsisten sekaligus memaksa tubuh kontestan bekerja melampaui batas normal manusia. Secara umum, aturan mewajibkan peserta untuk berada dalam gerakan terus-menerus selama 40 hingga 50 menit setiap jam. Sisa waktu yang sangat singkat, biasanya 10 hingga 20 menit, digunakan untuk istirahat, yang ditandai dengan bunyi gong atau klakson yang memekakkan telinga.

Dalam masa istirahat yang sangat sempit tersebut, para penari harus segera menuju ranjang darurat atau dipan yang sering kali diletakkan di pinggir lantai dansa atau di area terpisah berdasarkan jenis kelamin. Para kontestan melatih diri mereka untuk jatuh dalam tidur lelap seketika begitu tubuh mereka menyentuh ranjang—sebuah kemampuan yang dikenal sebagai “dormant sleep”. Namun, proses untuk membangunkan mereka jauh lebih brutal dan sering kali melibatkan kekerasan fisik ringan. Jika kontestan wanita tidak segera bangun saat klakson berbunyi, mereka akan diberi garam penciuman, ditampar, atau wajahnya disiram air; sementara kontestan pria sering kali diceburkan ke dalam bak berisi air es untuk memaksa sistem saraf mereka bereaksi.

Seluruh aktivitas kehidupan manusia yang biasanya bersifat privat dan tenang dipaksa dilakukan di depan publik di atas lantai dansa. Agar tetap dianggap sah dan tidak didiskualifikasi, peserta melakukan berbagai kegiatan sehari-hari sambil terus menggerakkan kaki mereka mengikuti irama musik atau sekadar menyeret langkah:

  • Higiene Pribadi: Mencuci muka dan bercukur dilakukan di atas lantai. Pria sering kali bercukur menggunakan cermin portabel yang dikalungkan di leher pasangan mereka.
  • Nutrisi: Makanan disajikan hingga 12 kali sehari di meja setinggi dada yang bisa dipindahkan ke tengah lantai dansa, memungkinkan peserta makan sambil terus bergerak.
  • Interaksi Sosial dan Rekreasi: Membaca koran, menulis surat, merajut, hingga menyemir sepatu dilakukan di tengah-tengah kerumunan penonton.
  • Tidur Sambil Berdiri: Pada tahap kelelahan ekstrem, salah satu pasangan akan tidur sambil berdiri atau bersandar pada bahu pasangannya, sementara pasangan yang satunya terus bergerak menyeret mereka. Selama lutut tidak menyentuh lantai, mereka tetap berada dalam kompetisi.
Komponen Aturan Detail Prosedural Konsekuensi Pelanggaran
Siklus Gerak 40-50 menit gerak aktif, 10-20 menit istirahat per jam. Diskualifikasi instan jika berhenti bergerak di luar waktu istirahat.
Kontak Fisik Pasangan harus selalu bersentuhan saat berada di lantai dansa. Peringatan atau eliminasi jika melepaskan pegangan terlalu lama.
Posisi Tubuh Lutut tidak boleh menyentuh lantai sama sekali. Diskualifikasi otomatis jika terjatuh atau pingsan hingga menyentuh lantai.
Penggantian Pasangan Jika satu orang gugur, pasangan yang tersisa diberi waktu singkat (6-24 jam) untuk mencari pasangan baru dari peserta yang juga kehilangan pasangannya. Eliminasi permanen jika tidak menemukan pasangan baru dalam tenggat waktu.
Aktivitas Terlarang Tidak boleh ada makanan atau obat-obatan luar selain yang disediakan manajemen. Diskualifikasi karena dianggap melakukan kecurangan atau doping.

Struktur ini menciptakan tekanan konstan yang menghancurkan ritme sirkadian manusia. Juri lapangan sering kali menggunakan penggaris kayu untuk memukul kaki kontestan yang gerakannya melambat atau tampak mulai tertidur tanpa disadari (microsleep), memastikan bahwa tontonan tetap dinamis bagi publik yang membayar tiket masuk.

Patologi Kelelahan: Antara Kerusakan Fisik dan Halusinasi Psikotik

Dampak dari maraton menari terhadap tubuh dan jiwa manusia adalah subjek yang sangat mengerikan namun penting untuk dipahami. Sebagai kontras dari namanya yang terdengar ceria, maraton ini sering kali disebut oleh para kritikus sebagai “Exhaustion Derbies” atau “Bunion Derbies”. Penderitaan fisik dimulai dengan luka lecet sederhana yang kemudian berkembang menjadi infeksi, pembengkakan ekstremitas, kapalan yang menyakitkan (bunions), hingga keruntuhan lengkungan kaki (fallen arches) akibat beban berat yang terus-menerus selama ratusan jam.

Namun, kerusakan yang paling mendalam terjadi pada sistem saraf pusat. Kurang tidur kronis dalam jangka waktu yang lama menyebabkan kondisi mental yang sangat tidak stabil. Para peserta sering kali mengalami apa yang disebut oleh orang-orang di industri tersebut sebagai kondisi “squirrely”. Ini adalah keadaan di mana kontestan masuk ke dalam fase psikosis akibat kelelahan (fatigue-induced psychosis). Mereka mulai berhalusinasi secara liar; ada yang merasa melihat serangga merayap di kulit mereka, merasa sedang dikejar oleh musuh imajiner, atau mengalami delusi persekusi yang parah.

Salah satu insiden paling tragis yang mencatat dampak mematikan dari aktivitas ini adalah kasus Homer Morehouse. Pada 14 April 1923, Morehouse yang berusia 27 tahun pingsan dan meninggal karena gagal jantung tepat di lantai dansa setelah menari terus-menerus selama 87 jam. Kematian ini menjadi lonceng peringatan pertama bagi otoritas kesehatan tentang bahaya aktivitas yang mengeksploitasi ketahanan fisik tanpa batas ini. Selain kematian mendadak, banyak peserta mengalami kerusakan organ jangka panjang akibat dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan tekanan jantung yang ekstrem.

Analisis medis terhadap kondisi para penari mencakup spektrum yang luas dari gangguan fisiologis:

  1. Gangguan Kardiovaskular: Aktivitas fisik konstan tanpa fase pemulihan yang memadai memicu aritmia dan risiko serangan jantung mendadak, seperti yang dialami Morehouse.
  2. Psikosis dan Halusinasi: Deprivasi tidur tahap lanjut menghancurkan kemampuan otak untuk membedakan antara realitas dan mimpi, sering kali menyebabkan perilaku agresif atau histeris.
  3. Hipotensi Postural: Berdiri terlalu lama menyebabkan darah terkumpul di kaki, yang pada gilirannya dapat menyebabkan pingsan mendadak saat pasokan oksigen ke otak berkurang.
  4. Cedera Muskuloskeletal Kronis: Kerusakan permanen pada tendon, ligamen, dan struktur tulang kaki akibat tekanan mekanis yang tidak berhenti selama berminggu-minggu.

Kondisi psikologis peserta juga diperburuk oleh perasaan dipermalukan secara publik. Dalam banyak acara, area medis dibuat terbuka atau berdinding kaca agar penonton bisa melihat kontestan yang menderita atau sedang dirawat, menambah elemen sadisme dalam hiburan tersebut. Keputusan untuk tetap bertahan sering kali bukan lagi soal keinginan untuk menang, melainkan karena mereka tidak memiliki tempat lain untuk pergi; lantai dansa adalah satu-satunya tempat di mana mereka mendapatkan makanan dan perlindungan dari dunia luar yang sedang hancur.

Industri Promotor: Manipulasi, Teater, dan Komodifikasi Kesengsaraan

Promotor maraton menari, seperti Milton Crandall atau W.G. Newbould, bukanlah sekadar penyelenggara acara, melainkan arsitek manipulasi massa. Mereka memahami bahwa penonton tidak akan kembali malam demi malam hanya untuk melihat orang menari; mereka kembali untuk melihat drama, konflik, dan kejatuhan manusia. Untuk menjaga ketertarikan publik selama acara yang bisa berlangsung hingga berbulan-bulan, para promotor mengintegrasikan elemen teater yang sering kali sudah diatur atau “di-script” sebelumnya.

Salah satu taktik yang paling licik adalah penggunaan kontestan profesional yang dikenal sebagai “horses” atau “plants”. Para profesional ini menyamar sebagai peserta amatir dan bertugas memicu drama di lantai dansa, seperti pertengkaran yang dibuat-buat, perselingkuhan antar pasangan, atau aksi heroik yang sudah direncanakan untuk menarik simpati penonton. Mereka membantu menjaga tempo acara agar tetap menarik bagi ribuan penonton yang membayar tiket masuk rata-rata 25 sen—jumlah yang signifikan namun terjangkau bagi masyarakat era Depresi yang haus akan hiburan murah.

Promotor juga memperkenalkan berbagai inovasi kejam untuk mempercepat eliminasi atau meningkatkan pendapatan:

  • Sprints (Grinds): Menjelang akhir kompetisi, ketika peserta masih terlalu banyak, emcee akan memerintahkan “sprint” di mana pasangan harus menari dengan sangat cepat atau berlari mengelilingi lantai dalam durasi tertentu. Mereka yang paling lambat akan langsung dikeluarkan.
  • Silver Showers: Emcee akan memprovokasi penonton untuk melemparkan koin ke lantai dansa jika mereka menyukai pasangan tertentu. Para penari yang sudah hampir pingsan karena kelelahan harus membungkuk dan berebut koin-koin tersebut tanpa membiarkan lutut mereka menyentuh lantai, menciptakan tontonan yang merendahkan martabat namun sangat populer.
  • Pernikahan di Atas Lantai: Untuk menarik kerumunan maksimal, promotor sering kali menyelenggarakan pernikahan nyata atau pura-pura antara dua kontestan. Upacara dilakukan di tengah kompetisi, dan pasangan tersebut harus terus menggerakkan kaki mereka saat mengucapkan janji suci.
  • Gimmick Ekstrem: Dalam beberapa kasus, peserta ditantang untuk melakukan hal yang lebih gila, seperti menari dengan mata tertutup (blindfold dancing) atau bahkan “dibekukan” di dalam balok es dengan bayaran tambahan per menit.
Taktik Promotor Tujuan Strategis Dampak pada Peserta
Virgin Towns Mencari kota kecil yang belum pernah mengadakan maraton untuk menjamin rasa ingin tahu maksimal. Peserta sering kali ditinggalkan begitu saja ketika promotor melarikan diri tanpa membayar tagihan gedung atau hadiah.
Scripted Rivalries Membuat narasi “pahlawan” dan “penjahat” di lantai dansa untuk meningkatkan keterlibatan emosional penonton. Tekanan psikologis tambahan pada peserta amatir yang terjebak dalam drama buatan para profesional.
Eliminasi Paksa Menggunakan aturan yang semakin berat (mengurangi waktu istirahat) untuk mengakhiri acara sebelum biaya operasional membengkak. Kelelahan fisik ekstrem yang sering kali berujung pada pingsan massal atau cedera serius.
Sponsorship Lokal Meminta bisnis lokal mensponsori pasangan tertentu dengan imbalan iklan di baju peserta. Peserta menjadi papan iklan berjalan namun hanya menerima sedikit atau tidak sama sekali dari uang sponsor tersebut.

Keuntungan ekonomi bagi promotor sangat timpang jika dibandingkan dengan penderitaan kontestan. Sementara pemenang mungkin hanya membawa pulang hadiah antara $500 hingga $1.000 (setara dengan pendapatan tahunan buruh pada masa itu, namun sering kali dipotong biaya-biaya tersembunyi), promotor bisa meraup keuntungan bersih hingga $70.000 dari satu acara berdurasi beberapa bulan. Eksploitasi ini menjadi simbol sempurna dari kapitalisme yang tidak terkendali di tengah krisis ekonomi, di mana kemiskinan orang lain menjadi komoditas dagangan yang menguntungkan.

Penolakan Sosial dan Gelombang Larangan Hukum

Meskipun sangat populer, maraton menari menghadapi perlawanan keras dari berbagai elemen masyarakat yang memiliki motif berbeda. Kelompok gereja dan moralis adalah yang paling vokal, menganggap acara ini sebagai bentuk amoralitas yang memamerkan kontak fisik intim antar jenis kelamin dalam kondisi yang tidak pantas dan berantakan. Penggunaan nama “walkathon” oleh promotor adalah upaya langsung untuk meredam kritik ini, karena berjalan dianggap lebih “netral” secara moral daripada menari jazz yang dianggap provokatif.

Namun, musuh yang paling efektif secara politik bagi maraton menari adalah pemilik bioskop. Selama Depresi Besar, bioskop berjuang keras untuk menarik penonton, dan maraton menari yang menawarkan hiburan terus-menerus selama berminggu-minggu dengan satu harga tiket adalah pesaing bisnis yang mematikan. Pemilik bioskop menggunakan pengaruh mereka untuk melobi pemerintah kota dan negara bagian agar melarang maraton menari dengan dalih kesehatan publik dan moralitas, padahal motivasi utama mereka adalah perlindungan keuntungan bisnis.

Intervensi hukum mulai mengkristal seiring dengan meningkatnya jumlah laporan kematian dan gangguan kesehatan mental di lantai dansa. Seattle menjadi kota besar pertama yang memberlakukan larangan total pada tahun 1928, sebuah keputusan yang dipicu oleh upaya bunuh diri Gladys Lenz setelah ia merasa dipermalukan oleh pasangannya dan sistem kompetisi. Dalam beberapa tahun, kota-kota besar lain dan akhirnya seluruh negara bagian mulai mengambil tindakan:

  • Seattle (1928): Melarang maraton di dalam batas kota menyusul insiden kekerasan dan upaya bunuh diri peserta.
  • Boston (1923/1924): Melarang acara ini segera setelah kematian Homer Morehouse.
  • Tacoma & Bellingham (1931): Mengeluarkan peraturan daerah yang melarang kontes ketahanan fisik untuk tujuan hiburan komersial.
  • Negara Bagian Washington (1937): Mengesahkan undang-undang tingkat negara bagian yang melarang kontes ketahanan tari di seluruh wilayah yurisdiksinya.

Alasan hukum yang diajukan biasanya mencakup tiga pilar utama: perlindungan terhadap kesehatan fisik peserta, pencegahan gangguan ketertiban umum akibat kerumunan yang tidak stabil, dan penghentian eksploitasi kemanusiaan yang dianggap merendahkan martabat masyarakat. Pada pertengahan hingga akhir 1930-an, 24 negara bagian telah melarang praktik ini secara total, menandai akhir dari era keemasan industri maraton menari komersial.

Representasi Budaya: Cermin Retak “American Dream”

Maraton menari meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam kesadaran budaya Amerika, terutama melalui lensa sastra dan film. Karya paling ikonik yang merangkum kengerian ini adalah novel Horace McCoy tahun 1935, They Shoot Horses, Don’t They? (Mereka Menembak Kuda, Bukan?). McCoy menulis novel ini berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai bouncer di maraton menari di Santa Monica, di mana ia menyaksikan langsung bagaimana harapan para aktor muda Hollywood yang menganggur dihancurkan di lantai dansa.

Dalam adaptasi filmnya yang meraih sembilan nominasi Oscar pada tahun 1969, Sydney Pollack menggambarkan lantai dansa sebagai sebuah “colosseum gladiator” modern. Karakter Gloria Beatty, yang diperankan secara brilian oleh Jane Fonda, menjadi personifikasi dari nihilisme dan keputusasaan era Depresi. Dialog-dialog dalam cerita tersebut menyingkapkan kebenaran yang pahit: bahwa bagi peserta, maraton ini bukan tentang menari, melainkan tentang bertahan hidup di dalam sistem yang sudah “dicurangi” sejak awal.

Analisis budaya terhadap fenomena ini sering kali menyoroti beberapa simbolisme penting:

  • Mirrorball (Bola Disko): Sebuah bola yang berkilau di atas lantai namun kosong di dalamnya, mewakili janji kosong kesuksesan Hollywood dan kapitalisme yang hanya menawarkan ilusi tanpa substansi.
  • Kuda sebagai Metafora: Judul karya McCoy merujuk pada praktik menembak kuda yang patah kakinya untuk mengakhiri penderitaannya. Hal ini mengajukan pertanyaan etis yang sangat gelap: apakah menghentikan paksa hidup peserta yang sudah hancur lebih manusiawi daripada membiarkan mereka terus menderita di lantai dansa?.
  • Voyeurisme Penonton: Karya ini secara tajam mengkritik audiens yang mendapatkan kesenangan sadistik dari penderitaan orang lain, menyamakan mereka dengan penonton di arena Romawi kuno.

Representasi ini memastikan bahwa maraton menari tidak hanya diingat sebagai kegilaan sejarah yang aneh, tetapi sebagai peringatan tentang apa yang terjadi ketika martabat manusia dikalahkan oleh kebutuhan ekonomi yang mendesak dan keinginan pasar akan hiburan yang brutal.

Dari Eksploitasi Menuju Filantropi: Metamorfosis Modern

Meskipun maraton menari komersial yang eksploitatif telah menghilang seiring dengan membaiknya ekonomi pasca-Perang Dunia II dan adanya larangan hukum, format ketahanan fisik ini mengalami kelahiran kembali yang mengejutkan pada dekade 1970-an. Namun, kali ini tujuannya adalah filantropi murni, bukan keuntungan pribadi promotor atau kelangsungan hidup peserta yang lapar.

Pada tahun 1973, sekelompok mahasiswa di Pennsylvania State University (Penn State) mengadakan maraton menari pertama mereka untuk mengumpulkan dana bagi rumah sakit anak. Acara ini, yang kemudian dikenal sebagai THON, menetapkan standar baru yang sangat berbeda dari pendahulunya di era Depresi :

  1. Regulasi Kesehatan yang Ketat: Durasi dibatasi (biasanya 46-48 jam), dan peserta memiliki akses penuh ke air, nutrisi seimbang, serta tim medis yang mengutamakan keselamatan daripada tontonan.
  2. Motivasi Altruistik: Seluruh dana yang terkumpul disumbangkan untuk amal (seperti penelitian kanker anak), dan tidak ada hadiah uang tunai bagi pemenang.
  3. Semangat Komunitas: Alih-alih kompetisi individu yang mematikan, maraton modern menekankan pada dukungan kelompok dan solidaritas sosial.

Hingga saat ini, THON telah menjadi organisasi filantropi yang dijalankan mahasiswa terbesar di dunia, mengumpulkan lebih dari $236 juta sejak tahun 1977. Transformasi ini menunjukkan bagaimana sebuah aktivitas yang berakar pada periode tergelap sejarah kemanusiaan dapat direformasi dan disanitasi menjadi instrumen perubahan sosial yang positif.

Fitur Maraton Menari Era Depresi (1930-an) Maraton Menari Amal Modern (Pasca-1970)
Durasi Ratusan hingga ribuan jam (berbulan-bulan). Biasanya 24 – 48 jam.
Tujuan Akhir Hadiah uang tunai dan makanan bagi peserta. Penggalangan dana untuk amal/yayasan kesehatan.
Keamanan Minimal; kekerasan digunakan untuk membangunkan peserta. Maksimal; diawasi ketat oleh profesional medis.
Dampak Sosial Eksploitasi penderitaan; memicu kontroversi moral. Pemberdayaan komunitas; membangun kesadaran sosial.

Kesimpulan: Cermin Sejarah dan Peringatan Masa Depan

Maraton menari era 1920-an dan 1930-an berdiri sebagai monumen tragis bagi daya tahan manusia di bawah tekanan ekonomi yang ekstrem. Ia adalah bukti bagaimana keputusasaan dapat mengubah hobi yang tidak bersalah menjadi industri yang merusak, dan bagaimana masyarakat dapat terbiasa melihat penderitaan sesamanya sebagai hiburan harian. Melalui aturan yang brutal, manipulasi promotor yang licik, dan penderitaan fisik yang nyata, fenomena ini menyingkapkan sisi gelap dari “American Dream” yang gagal memenuhi janji kemakmuran bagi semua orang.

Pelajaran dari era ini tetap relevan hingga hari ini, terutama dalam diskusi mengenai etika dalam industri hiburan realitas (reality TV) dan eksploitasi kemiskinan (poverty porn) dalam media modern. Meskipun hukum telah melarang kontes ketahanan fisik yang mematikan, kecenderungan manusia untuk menjadikan penderitaan orang lain sebagai tontonan tetap menjadi risiko yang harus diawasi. Di sisi lain, evolusi maraton menari menjadi ajang penggalangan dana amal menunjukkan bahwa potensi kolektif manusia untuk ketahanan dapat diarahkan ke tujuan yang lebih tinggi ketika integritas dan martabat tetap dipertahankan. Sebagai catatan sejarah, maraton menari adalah pengingat yang kuat bahwa ketahanan fisik manusia memiliki batas, tetapi kapasitas kita untuk menciptakan narasi dari penderitaan tersebut—baik untuk eksploitasi maupun untuk penyembuhan—hampir tidak terbatas.