River of Doubt: Ketika Seorang Presiden Memilih Bertarung dengan Amazon
Kehancuran politik sering kali menjadi titik balik bagi para pemimpin besar, namun bagi Theodore Roosevelt, kekalahan telak dalam pemilihan presiden tahun 1912 bukan sekadar akhir dari sebuah karier, melainkan katalisator bagi transformasi eksistensial yang membawanya ke jantung kegelapan Amazon. Sebagai sosok yang mempersonifikasikan vitalitas Amerika di awal abad ke-20, Roosevelt menghadapi realitas pahit ketika ambisi politiknya hancur di tangan mantan sekutu dan sistem partai yang ia tantang. Pelariannya ke Brasil bukan sekadar upaya pemetaan geografis, melainkan pencarian jati diri yang berakar pada filosofi maskulinitas ekstrem yang ia sebut sebagai “Strenuous Life”. Laporan ini mengeksplorasi secara mendalam bagaimana ekspedisi Roosevelt-Rondon di sepanjang Rio da Dúvida (Sungai Keraguan) menjadi medan tempur terakhir bagi seorang presiden yang merasa “rusak” dan “dibuang”, di mana ia harus bertaruh nyawa melawan malaria, kelaparan, dan pengkhianatan di tengah hutan hujan paling mematikan di dunia.
Paradoks Kekuasaan: Senjakala Karier Politik Theodore Roosevelt
Pemilihan Presiden tahun 1912 merupakan salah satu fragmen paling dramatis dalam sejarah politik Amerika Serikat, di mana perpecahan dalam Partai Republik menciptakan peluang bagi munculnya kekuatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya. Theodore Roosevelt, yang telah menjabat dua periode (1901-1909) dan awalnya berjanji tidak akan mencalonkan diri lagi, merasa terkhianati oleh arah konservatif yang diambil oleh penerusnya, William Howard Taft. Ketegangan ini bukan hanya bersifat administratif, melainkan ideologis; Roosevelt mempromosikan visi “Nasionalisme Baru” yang progresif, sementara Taft dianggap lebih mengakomodasi kepentingan bisnis besar dan “bos” politik.
Setelah kehilangan nominasi Partai Republik dalam konvensi nasional karena kontrol ketat pimpinan partai terhadap sistem delegasi, Roosevelt yang murka membentuk Partai Progresif, yang lebih dikenal sebagai Partai “Bull Moose”. Kampanye ini menjadi manifestasi dari energi Roosevelt yang meledak-ledak, namun juga menunjukkan keterbelahan mendalam dalam masyarakat Amerika mengenai isu-isu seperti regulasi monopoli, hak pilih perempuan, dan reformasi perburuhan. Meskipun Roosevelt mencetak sejarah dengan memenangkan 27,4% suara populer—rekor tertinggi untuk kandidat pihak ketiga—suara Republik yang terpecah justru memberikan kemenangan telak bagi Woodrow Wilson dari Partai Demokrat.
| Statistik Pemilihan Presiden AS 1912 | Kandidat | Partai | Suara Populer (%) | Suara Elektoral |
| Pemenang | Woodrow Wilson | Demokrat | 41.8% | 435 |
| Runner-up | Theodore Roosevelt | Progresif | 27.4% | 88 |
| Posisi Ketiga | William Howard Taft | Republik | 23.2% | 8 |
| Posisi Keempat | Eugene V. Debs | Sosialis | 6.0% | 0 |
Kekalahan ini meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi Roosevelt. Bagi seorang pria yang mendefinisikan dirinya melalui kemenangan dan tindakan, status sebagai pecundang politik adalah eksistensi yang tidak tertahankan. Ia merasa seperti instrumen yang telah “rusak” dan siap untuk “dibuang”. Dalam keadaan despondensi ini, Roosevelt mencari jalan keluar yang selaras dengan karakternya: sebuah tantangan fisik yang akan menguji batas daya tahan manusianya dan memberikan validasi baru bagi maskulinitasnya yang tengah goyah.
Filosofi Strenuous Life: Maskulinitas sebagai Perisai Psikologis
Kebutuhan Roosevelt untuk melakukan perjalanan berbahaya ke Amazon tidak dapat dipahami tanpa menelusuri doktrin “Strenuous Life” yang ia khotbahkan sepanjang kariernya. Roosevelt percaya bahwa keberhasilan sejati, baik bagi individu maupun bangsa, hanya dapat dicapai melalui kerja keras, perjuangan, dan penolakan terhadap kenyamanan yang melenakan. Filosofi ini bukan sekadar retorika; itu adalah mekanisme koping yang ia bangun sejak kecil untuk mengatasi tubuhnya yang lemah dan penyakit asma yang melumpuhkan.
Bagi Roosevelt, tantangan fisik adalah bentuk terapi. Ia memandang “kehidupan yang mudah” sebagai ancaman terhadap karakter Amerika yang ia anggap harus tetap tangguh dan siap bertarung. Di mata Roosevelt, kegagalan politik tahun 1912 adalah bentuk “kelebihan peradaban” yang ia benci, di mana politik di balik pintu tertutup mengalahkan kehendak rakyat yang energik. Amazon menawarkan lingkungan di mana hukum alam yang murni berlaku—sebuah tempat di mana ia bisa membuktikan bahwa ia masih memiliki “keutamaan heroik” yang ia junjung tinggi.
Filosofi ini juga mencerminkan pandangan rasial dan sosial pada masanya, di mana petualangan di wilayah liar dianggap sebagai tugas pria Anglo-Saxon yang berpendidikan untuk membuktikan keunggulan mereka atas alam dan “anarki”. Dengan terjun ke Amazon, Roosevelt tidak hanya melarikan diri dari Wilson dan Taft, tetapi juga sedang melakukan ritual pemurnian maskulin di salah satu lanskap paling keras di planet ini.
Dari Washington ke Mato Grosso: Arsitektur Sebuah Pelarian
Awalnya, perjalanan Roosevelt ke Amerika Selatan dimaksudkan sebagai tur ceramah konvensional di Argentina dan Brasil. Namun, semangat penjelajahannya terbangkitkan oleh pertemuan dengan Pastor John Augustine Zahm, seorang ilmuwan dan teman lama yang baru saja kembali dari wilayah Andes. Zahm mengusulkan ekspedisi ke pedalaman Amerika Selatan, sebuah ide yang segera dikembangkan Roosevelt menjadi misi ilmiah dengan menggandeng American Museum of Natural History (AMNH).
Pemerintah Brasil, yang menyadari nilai diplomatik dan publisitas dari kunjungan mantan presiden Amerika tersebut, melalui Menteri Luar Negeri Lauro Müller, menyarankan agar Roosevelt bergabung dengan Kolonel Cândido Rondon. Rondon adalah penjelajah paling dihormati di Brasil, seorang perwira militer yang telah menghabiskan puluhan tahun memetakan wilayah pedalaman dan membangun jalur telegraf. Rondon mengusulkan tujuan yang jauh lebih ambisius daripada sekadar pesiar sungai: mengeksplorasi Rio da Dúvida (Sungai Keraguan), sebuah aliran air misterius yang hulu sungainya telah ia temukan pada tahun 1909 namun tidak diketahui ke mana arah mengalirnya.
Komposisi Utama Ekspedisi Roosevelt-Rondon
| Anggota | Peran dan Fungsi | Signifikansi |
| Theodore Roosevelt | Pemimpin Bersama | Motivator utama, pengumpul spesimen, simbol kepemimpinan Amerika. |
| Cândido Rondon | Pemimpin Bersama | Ahli navigasi, pelindung suku pribumi, pakar pemetaan Brasil. |
| Kermit Roosevelt | Pelindung/Teknisi | Putra Roosevelt; bertugas menjaga ayahnya dan membantu pemetaan. |
| George K. Cherrie | Ornitologis | Naturalis AMNH; bertanggung jawab atas spesimen burung. |
| Leo E. Miller | Mamalogis | Naturalis AMNH; spesialis mamalia kecil dan besar. |
| Anthony Fiala | Kuartermaster | Mantan penjelajah kutub; bertanggung jawab atas logistik awal. |
| Fr. John Zahm | Inisiator | Teman spiritual Roosevelt; akhirnya dipulangkan karena inkompetensi fisik. |
Persiapan logistik ekspedisi ini terbukti sangat tidak memadai. Anthony Fiala, meskipun berpengalaman di Arktik, gagal memahami tantangan unik hutan tropis. Ia membawa peralatan yang terlalu berat dan makanan yang tidak cocok, termasuk barang-barang mewah seperti minyak zaitun dan anggur Rhine yang justru menambah beban tanpa memberikan kalori yang dibutuhkan untuk kerja keras di hutan. Kegagalan perencanaan ini akan menjadi faktor kunci dalam penderitaan yang dialami tim di kemudian hari.
Menuju Hulu: Perjalanan Darat dan Benturan Budaya
Ekspedisi dimulai pada Desember 1913, berangkat dari kota kecil Cáceres menyusuri Sungai Paraguay sebelum beralih ke perjalanan darat melintasi dataran tinggi Parecis menuju hulu Sungai Keraguan. Perjalanan darat sejauh 900 mil ini merupakan ujian pertama bagi daya tahan tim. Mereka harus mengandalkan keledai dan sapi beban untuk mengangkut berton-ton pasokan melintasi medan yang tidak ramah, di mana hewan-hewan tersebut mulai mati satu per satu karena kelelahan dan serangan serangga.
Di sinilah Roosevelt mulai merasakan kontras antara visinya tentang penjelajahan dengan realitas birokrasi militer Brasil yang dipimpin Rondon. Rondon adalah seorang positivis yang sangat teliti; ia bersikeras melakukan survei geografis yang presisi, mengukur setiap mil dengan teodolit, yang membuat kemajuan ekspedisi menjadi sangat lambat. Bagi Roosevelt, yang terbiasa dengan aksi cepat dan hasil instan, ketelitian Rondon sering kali menjadi sumber frustrasi, meskipun ia sangat menghormati dedikasi kolonel tersebut.
Selain itu, tim harus menghadapi “Bad Lands” Amazon—wilayah yang kering dan berbatu di Plateau Parecis yang sangat sulit dilalui. Roosevelt menggambarkan pemandangan tersebut sebagai sesuatu yang memiliki “keindahan yang suram dan sunyi” namun sangat menantang bagi mereka yang terbiasa dengan kenyamanan perkotaan. Pada titik ini, Pastor Zahm dan Anthony Fiala dipulangkan karena dianggap tidak mampu mengikuti ritme perjalanan yang semakin brutal, meninggalkan tim inti yang lebih kecil untuk menghadapi sungai yang sebenarnya.
Sungai Keraguan: Memasuki Labirin Maut
Pada 27 Februari 1914, tim mencapai hulu Sungai Keraguan dan mulai menurunkan kano-kano kayu tradisional (dugout canoes) yang berat ke dalam air. Optimisme awal Roosevelt bahwa sungai ini akan memberikan jalur yang mudah menuju Amazon segera hancur. Sungai tersebut ternyata merupakan serangkaian jeram yang tidak ada habisnya dan air terjun yang mematikan. Karena kano mereka terlalu berat untuk dikendalikan di jeram kelas IV, tim terpaksa melakukan “portage” yang melelahkan—memotong jalan melalui hutan lebat dan menyeret kano-kano tersebut melewati daratan untuk menghindari jeram.
Proses portage ini sering kali memakan waktu berhari-hari hanya untuk menempuh jarak beberapa ratus meter. Para anggota tim, yang sudah kekurangan gizi, harus bekerja di bawah guyuran hujan tropis yang konstan dan serangan lalat “pium” yang meninggalkan luka gatal dan membengkak di seluruh kulit yang terbuka. Roosevelt, meskipun berusia 55 tahun dan memiliki berat badan yang signifikan, bersikeras melakukan bagiannya dalam kerja keras ini, menolak untuk diperlakukan seperti tamu istimewa.
Ancaman Ekologis dan Kegagalan Adaptasi
Hutan Amazon bukanlah lingkungan yang “murah hati” sebagaimana dibayangkan oleh para romantis abad ke-19. Sebaliknya, Roosevelt menemukan sebuah sistem yang diatur oleh “kekejaman besi” di mana setiap organisme telah berevolusi secara ekstrem untuk bertahan hidup.
- Piranha dan Predator Air: Tim harus selalu waspada saat berada dekat air; Rondon menceritakan kisah tentang bagaimana piranha dapat menghabiskan seekor sapi dalam hitungan menit.
- Kelaparan di Tengah Kelimpahan: Meskipun hutan terlihat hijau dan lebat, mencari sumber protein sangatlah sulit. Hewan buruan sangat mahir dalam kamuflase, sehingga para naturalis seperti Miller dan Cherrie sering kali gagal mendapatkan makanan tambahan bagi tim.
- Hama dan Parasit: Selain malaria, tim dihantui oleh kutu, semut api, dan serangga berbisa lainnya yang membuat waktu istirahat di malam hari menjadi mustahil.
Tragedi fisik pertama terjadi ketika kano yang dikendalikan oleh seorang camarada (kamerad/prajurit) bernama Lyra Joao Salustiano terhisap ke dalam jeram. Salustiano tenggelam dan tubuhnya tidak pernah ditemukan, meninggalkan rasa duka yang mendalam dan peringatan keras bagi anggota tim lainnya tentang betapa tipisnya garis antara hidup dan mati di sungai tersebut.
Krisis Moral: Pembunuhan di Jantung Kegelapan
Di tengah tekanan fisik yang tak tertahankan dan ancaman kelaparan, ketegangan antarmanusia dalam ekspedisi mencapai titik ledak. Masalah ini berpusat pada seorang camarada bernama Julio de Lima, yang digambarkan sebagai sosok yang malas dan sering mencuri jatah makanan tim yang sudah sangat tipis. Ketika Paishon (Paixao), pemimpin para prajurit yang sangat dihormati, menegur Julio atas tindakannya, konflik verbal tersebut berubah menjadi tragedi.
Julio mengambil senapan dan menembak Paishon hingga tewas di hadapan anggota tim lainnya sebelum melarikan diri ke dalam hutan lebat. Kejadian ini menempatkan Roosevelt dan Rondon dalam dilema moral dan praktis yang mustahil. Mereka tidak mungkin meninggalkan jenazah teman mereka tanpa penguburan yang layak, namun mereka juga tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk mengejar pembunuh di tengah hutan yang mematikan.
Setelah beberapa hari, Julio muncul di tepian sungai, memohon untuk dibawa kembali. Namun, Roosevelt membuat keputusan yang sangat keras: mereka tidak akan berhenti untuk menjemputnya. Dalam pandangan Roosevelt, membawa seorang pembunuh di kano yang penuh sesak—di mana mereka harus berjuang setiap detik melawan jeram—akan membahayakan nyawa seluruh anggota tim yang tersisa. Julio ditinggalkan di hutan tanpa pasokan, sebuah hukuman mati de facto di tangan alam liar Amazon. Keputusan ini menunjukkan sisi gelap dari kepemimpinan dalam kondisi ekstrem, di mana kelangsungan hidup kelompok harus didahulukan di atas keadilan formal atau belas kasihan individu.
Pertempuran Terakhir Roosevelt: Infeksi, Demam, dan Keputusasaan
Krisis kesehatan Roosevelt yang hampir merenggut nyawanya berawal dari insiden yang tampaknya kecil. Saat mencoba membantu menyelamatkan kano yang tersangkut di bebatuan jeram, kaki Roosevelt terbentur batu tajam dan mengalami luka robek. Luka ini mengenai kaki yang sama yang pernah mengalami cedera serius dalam kecelakaan kereta kuda bertahun-tahun sebelumnya, di mana sirkulasi darahnya tidak lagi optimal.
Dalam kelembapan Amazon yang ekstrem, luka tersebut dengan cepat menjadi infeksi bakteri yang ganas. Roosevelt menderita selulitis yang menyebabkan kakinya membengkak hingga dua kali ukuran normal dan berubah warna menjadi merah gelap yang mengerikan. Infeksi ini, dikombinasikan dengan serangan malaria yang berulang, membuat suhu tubuhnya melonjak hingga 105 derajat Fahrenheit. Mantan presiden yang dulunya energik itu kini terbaring tak berdaya di dasar kano, sering kali dalam keadaan delirium dan tidak mampu mengangkat kepalanya sendiri.
Dalam masa-masa tergelapnya, Roosevelt yang selalu memuja kekuatan mulai mempertimbangkan opsi yang paling tidak ia sukai: menyerah. Ia menyadari bahwa kondisinya telah memperlambat tim secara signifikan, meningkatkan risiko mereka semua akan mati kelaparan atau dibunuh oleh suku asli sebelum mencapai hilir. Roosevelt memanggil Kermit dan menunjukkan sebuah botol kecil berisi morfin yang ia bawa. Ia menyatakan niatnya untuk melakukan bunuh diri agar tim bisa melanjutkan perjalanan tanpa terbebani oleh dirinya.
| Parameter Klinis Theodore Roosevelt di Amazon | Deskripsi Kondisi |
| Demam Puncak | 105°F (40.5°C) disertai delirium hebat. |
| Kondisi Luka | Infeksi anaerobik pada tulang kaki (osteomielitis). |
| Tindakan Medis | Operasi drainase luka tanpa anestesi menggunakan pisau lipat. |
| Berat Badan | Kehilangan 55 pon (sekitar 25 kg) dalam 60 hari. |
| Kondisi Mental | Depresi berat disertai keinginan untuk eutanasia diri. |
Kermit Roosevelt, dengan tekad yang tidak kalah keras dari ayahnya, menolak keras permintaan tersebut. Ia bersumpah akan membawa ayahnya keluar dari hutan, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Kermit dan para camarada Brasil harus mengangkat Roosevelt di atas tandu darurat setiap kali mereka melakukan portage melewati jeram yang tidak dapat dilayari. Akhirnya, dokter ekspedisi terpaksa melakukan tindakan medis drastis: membedah luka Roosevelt dengan pisau lipat untuk membuang jaringan yang membusuk dan mengeringkan abses, semuanya dilakukan tanpa obat bius. Roosevelt hanya menggigit kain dan menahan rasa sakit luar biasa demi kesempatan untuk melihat keluarganya kembali.
Suku Cinta Larga: Bayangan di Balik Pohon
Selama penderitaan fisik mereka, tim Roosevelt terus-menerus diamati oleh mata yang tak terlihat: suku Cinta Larga. Suku ini, yang belum pernah melakukan kontak dengan orang kulit putih, melihat ekspedisi tersebut sebagai gangguan di wilayah mereka. Meskipun tim jarang melihat para pejuang Cinta Larga secara langsung, tanda-tanda kehadiran mereka ada di mana-mana: tanda di pohon, kepala monyet yang dipenggal sebagai peringatan, dan panah beracun yang sewaktu-waktu bisa meluncur dari kegelapan hutan.
Keselamatan tim Roosevelt dari serangan suku asli sangat bergantung pada filosofi Cândido Rondon. Rondon memiliki moto yang terkenal: “Mati jika perlu, tetapi jangan pernah membunuh”. Sebagai orang yang memiliki darah pribumi, Rondon melarang keras timnya untuk menembak, bahkan saat mereka merasa terancam. Ia bersikeras meninggalkan hadiah berupa peralatan besi dan manik-manik di kamp yang mereka tinggalkan sebagai isyarat perdamaian.
Menurut analisis modern, ekspedisi tersebut selamat karena suku Cinta Larga memiliki sistem pengambilan keputusan berbasis konsensus yang rumit. Karena beberapa tetua suku merasa bahwa tim Roosevelt yang compang-camping dan sakit-sakitan bukanlah ancaman militer yang serius, mereka tidak pernah mencapai kesepakatan bulat untuk melakukan pembantaian massal terhadap tim tersebut. Roosevelt, yang secara naluriah cenderung pada konfrontasi, harus belajar untuk mempercayai metode “pasifikasi” Rondon yang tampak lemah namun ternyata sangat efektif.
Keluar dari Kegelapan: Penemuan dan Skeptisisme Geografis
Setelah hampir dua bulan di sungai, vegetasi mulai berubah dan sungai melebar. Pada pertengahan April 1914, tim melihat tanda peradaban pertama: gubuk para seringueiros (penyadap karet). Para penyadap karet ini telah lama tinggal di bagian hilir sungai namun tidak pernah berani mendaki ke hulu karena ketakutan terhadap suku asli dan jeram yang legendaris.
Titik akhir pemetaan tercapai pada 26 April 1914, ketika tim bertemu dengan kapal bantuan di pertemuan Rio da Dúvida dengan Sungai Aripuanã. Rio da Dúvida terbukti sebagai sungai sepanjang hampir 1.000 mil yang mengalir ke utara menuju Madeira, sebuah penemuan geografis besar yang mengisi kekosongan besar di peta Amerika Selatan. Sebagai penghormatan, pemerintah Brasil secara resmi menamakan sungai tersebut Rio Roosevelt.
Namun, kepulangan Roosevelt ke Amerika Serikat tidak langsung disambut dengan pujian. Komunitas ilmiah internasional, terutama di London, menanggapi klaim Roosevelt dengan skeptisisme yang tajam. Penjelajah seperti A. Savage-Landor secara terbuka meragukan bahwa seorang mantan presiden paruh baya yang tidak berpengalaman dalam eksplorasi tropis bisa menemukan sungai sebesar itu dalam waktu sesingkat itu.
Roosevelt, yang masih dalam proses pemulihan dan sangat lemah, merasa kehormatannya dipertaruhkan. Ia mengatur serangkaian kuliah di National Geographic Society di Washington dan Royal Geographical Society di London. Dengan dukungan data teknis yang sangat akurat dari pemetaan Rondon dan spesimen zoologi yang melimpah (termasuk 2.000 burung dan 500 mamalia), Roosevelt berhasil meyakinkan dunia tentang kebenaran temuannya. Meskipun suaranya saat itu hanya berupa bisikan akibat kerusakan permanen pada kesehatannya, semangatnya untuk bertarung demi kebenaran tetap tidak tergoyahkan.
Warisan: Harga dari Hidup yang Gigih
Ekspedisi River of Doubt adalah kemenangan ilmiah namun merupakan kekalahan fisik bagi Theodore Roosevelt. Ia kembali ke Amerika sebagai pria yang berubah; energinya yang meledak-ledak telah dicuri oleh malaria dan infeksi tropis. Ia sering menderita serangan demam yang hebat selama sisa hidupnya, sebuah kondisi yang ia sebut sebagai “masalah Brasil lama-ku”.
Dalam retrospeksi, petualangan ini merupakan bentuk pelarian paling ekstrem yang pernah dilakukan oleh seorang pemimpin politik Amerika. Roosevelt memilih untuk menghadapi kematian di Amazon daripada menghadapi ketidakrelevanan politik di Washington. Namun, perjalanan ini juga memberikan dimensi baru pada warisannya; ia bukan hanya presiden yang membangun Terusan Panama atau melestarikan taman nasional, tetapi juga penjelajah yang secara harfiah menempatkan sebuah sungai besar di peta dunia.
Roosevelt meninggal pada tahun 1919 di usia 60 tahun, hanya lima tahun setelah ekspedisi tersebut. Banyak sejarawan dan dokter percaya bahwa penderitaan di Amazon telah memperpendek usianya secara signifikan. Namun, bagi Roosevelt, hidup yang pendek namun penuh dengan “tarian yang hebat” jauh lebih berharga daripada umur panjang dalam “twilight abu-abu” yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan. Rio Roosevelt tetap mengalir hingga hari ini di kedalaman Amazon, sebuah monumen yang mengalir untuk seorang pria yang menolak untuk beristirahat, bahkan ketika dunia menganggapnya telah selesai.