Loading Now

Jeanne Baret: Mengitari Dunia dalam Balutan Luka dan Penyamaran

Eksplorasi maritim pada abad ke-18 sering kali dipandang sebagai panggung eksklusif bagi kejantanan, kecemerlangan ilmiah pria, dan ambisi kolonial monarki Eropa. Namun, di balik narasi dominan yang mencatat nama-nama laksamana besar dan naturalis terkemuka, terselip sebuah kisah yang menentang seluruh tatanan sosial, hukum, dan gender pada zamannya. Jeanne Baret, seorang wanita dari kelas buruh tani di Burgundy, Prancis, muncul sebagai figur anomali yang berhasil menembus barikade institusional Angkatan Laut Prancis untuk menjadi wanita pertama yang menyelesaikan pelayaran mengelilingi bola dunia. Keberhasilannya tidak diraih melalui hak istimewa, melainkan melalui penyamaran yang penuh risiko, ketahanan fisik yang luar biasa di bawah tekanan pembebatan dada yang menyakitkan, dan dedikasi ilmiah yang melampaui keterbatasan pendidikannya yang formal.

Akar Sejarah dan Paradigma “Wanita Herbalis”

Memahami motif dan kapasitas Jeanne Baret memerlukan tinjauan mendalam terhadap asal-usulnya di wilayah Burgundy, Prancis. Lahir pada 27 Juli 1740 di desa La Comelle, Baret tumbuh dalam kemiskinan yang ekstrem sebagai anak dari Jean Baret dan Jeanne Pochard, keluarga buruh tani yang buta huruf. Dalam struktur sosial Prancis pra-revolusi, seorang wanita dari latar belakang ini biasanya ditakdirkan untuk menjalani hidup dalam pengabdian domestik atau kerja fisik di ladang. Namun, lingkungan pedesaan memberikan Baret sebuah “perpustakaan alam” yang tidak dapat diakses melalui pendidikan formal.

Baret dikenal sebagai “herb woman” atau wanita herbalis, sebuah istilah yang merujuk pada tradisi lisan pengobatan rakyat yang biasanya diwariskan oleh perempuan di pedesaan. Para wanita ini memiliki pengetahuan empiris yang mendalam mengenai identifikasi tanaman, sifat penyembuhannya, dan cara mempersiapkan berbagai ramuan untuk mengatasi penyakit. Pengetahuan ini, meskipun sering dipandang rendah oleh para dokter akademis pria, sebenarnya merupakan tulang punggung farmakologi pada masa itu. Tradisi ini memungkinkan Baret untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mengembangkan ketajaman observasi yang nantinya akan sangat dihargai oleh Philibert Commerson, seorang naturalis terpelajar yang ia temui di Toulon-sur-Arroux sekitar tahun 1760.

Pertemuan antara Baret dan Commerson merupakan titik balik yang mengaburkan batas antara pelayan dan guru. Commerson, seorang duda yang menderita berbagai masalah kesehatan kronis, mempekerjakan Baret sebagai pengelola rumah tangga, namun segera menyadari bahwa asistennya memiliki pengetahuan botani yang melengkapi, dan dalam banyak hal, menandingi teorinya sendiri. Hubungan mereka berkembang menjadi kemitraan intelektual dan romantis yang melintasi jurang kelas sosial. Pada tahun 1764, Baret melahirkan seorang anak hasil hubungannya dengan Commerson, namun karena ketidakmampuan sosial untuk melegitimasi hubungan tersebut, bayi tersebut diberikan untuk diadopsi di Paris, sebuah tindakan yang mencerminkan kerentanan posisi Baret dalam masyarakat yang tidak berpihak pada perempuan tanpa perlindungan patriarki.

Ordonansi Kerajaan dan Mekanisme Penyamaran

Konteks hukum Prancis pada tahun 1766 adalah penghalang utama bagi partisipasi Baret dalam ekspedisi ilmiah besar. Sebuah ordonansi kerajaan (Royal Ordinance) secara eksplisit melarang kehadiran wanita di atas kapal angkatan laut Prancis. Larangan ini didasarkan pada takhayul pelaut yang menganggap wanita sebagai pembawa nasib buruk di laut, serta kekhawatiran praktis mengenai potensi konflik seksual di antara ratusan awak pria yang terkurung dalam ruang sempit selama bertahun-tahun. Ketika Commerson diangkat sebagai naturalis resmi untuk ekspedisi keliling dunia pertama Prancis di bawah pimpinan Laksamana Louis-Antoine de Bougainville, ia dihadapkan pada dilema: ia membutuhkan asisten yang andal, perawat untuk kesehatannya yang rapuh, dan rekan botani yang ia percayai.

Rencana penyamaran Baret bukan sekadar isyarat romantis, melainkan kebutuhan pragmatis yang sangat berisiko. Baret harus bertransformasi menjadi “Jean Baret”, seorang pemuda yatim piatu yang melamar kerja sebagai pelayan pribadi Commerson tepat sebelum kapal berlayar untuk menghindari pemeriksaan latar belakang yang mendalam. Mekanisme penyamaran ini melibatkan penderitaan fisik yang konstan: Baret harus membebat dadanya dengan lilitan kain linen yang sangat ketat untuk menyembunyikan kontur tubuh perempuannya. Dalam iklim tropis yang panas dan lembap, pembebatan ini menyebabkan iritasi kulit yang parah dan kesulitan bernapas, terutama saat ia harus melakukan tugas-tugas lapangan yang berat.

Aspek Penyamaran Deskripsi Teknis Konsekuensi Fisik
Nama Samaran Jean Baret (Jean de Bonnefoi) Kehilangan identitas hukum sebagai wanita selama bertahun-tahun.
Pembebatan Dada Pembalutan ketat menggunakan strips kain linen Luka pada kulit, keterbatasan kapasitas paru-paru.
Pakaian Baju baggy (longgar) khas pelaut pria Membantu menyembunyikan bentuk pinggul dan payudara.
Narasi Latar Belakang Klaim sebagai kasim (eunuch) Alasan untuk kurangnya janggut dan suara tinggi.

Keberhasilan awal penyamaran ini sangat terbantu oleh keputusan Kapten François Chenard de la Giraudais dari kapal L’Étoile, yang memberikan kabin pribadinya kepada Commerson dan asistennya. Alasan resminya adalah untuk mengakomodasi ribuan kertas herbarium, kotak spesimen, dan peralatan mikroskopis, namun kabin ini menyediakan satu elemen yang paling krusial bagi Baret: privasi untuk menjalankan fungsi biologisnya tanpa pengawasan kru kapal lainnya. Tanpa ruang pribadi ini, kemungkinan besar identitas Baret akan terbongkar dalam hitungan minggu di tengah lingkungan kapal yang serba terbuka bagi para pelaut biasa.

Kehidupan di Atas L’Étoile: Peran sebagai “Beast of Burden”

Selama pelayaran, Baret memikul tanggung jawab yang melampaui deskripsi pekerjaannya sebagai asisten. Karena Commerson sering kali lumpuh akibat borok kaki (ulcers) dan mabuk laut kronis, Baretlah yang menjalankan hampir seluruh pekerjaan fisik botani di lapangan. Ia sering dijuluki sebagai “beast of burden” atau binatang beban oleh para perwira kapal karena ketangguhannya dalam membawa peralatan berat di medan yang paling menantang.

Ketangguhan Baret selama ekspedisi di Amerika Selatan, terutama di Rio de Janeiro dan Selat Magellan, menjadi legenda di antara kru kapal. Ia mendaki pegunungan yang terjal, menjelajahi hutan hujan yang lebat, dan mengumpulkan ribuan spesimen tanaman saat para pelaut pria lainnya sering kali kelelahan atau enggan meninggalkan keamanan pantai. Keberanian ini merupakan pedang bermata dua; di satu sisi, ia mendapatkan rasa hormat dari kru, namun di sisi lain, ketangkasannya yang luar biasa mulai menimbulkan desas-desus tentang identitas aslinya yang sebenarnya bukan sekadar asisten pemuda yang lemah.

Temuan Botani Utama dan Signifikansi Ilmiahnya

Puncak kontribusi botani Baret terjadi di Rio de Janeiro pada Juni 1767. Di sana, ia menemukan sebuah tanaman merambat dengan braktea berwarna ungu cerah yang kemudian dinamai Bougainvillea untuk menghormati komandan ekspedisi. Meskipun nama Bougainville yang diabadikan dalam sejarah, bukti kuat menunjukkan bahwa Baret-lah yang secara fisik menemukan, mencabut, dan mengawetkan spesimen tersebut saat Commerson sedang tidak mampu berjalan jauh dari pantai.

Spesies/Genus Deskripsi Ilmiah Peran Jeanne Baret
Bougainvillea brasiliensis Tanaman merambat tropis dengan braktea berwarna Penemu fisik di lapangan pedalaman Rio de Janeiro.
Azolla filiculoides Pakis air kecil yang bersifat simbiosis Dikumpulkan di Selat Magellan/Montevideo di bawah kondisi es.
Baretia bonafidia Genus pohon dengan daun yang sangat bervariasi Nama yang diusulkan Commerson untuk Baret; kemudian diganti.
Solanum baretiae Kerabat liar tomat dan kentang di Andes Spesies baru yang dinamai untuk Baret pada tahun 2012.

Kegigihan Baret juga terlihat dalam pengumpulan pakis air Azolla di Selat Magellan. Dalam kondisi cuaca ekstrem yang melibatkan salju, es, dan hujan konstan, Baret terus turun ke lapangan untuk mencari spesimen biologis dan kerang-kerangan. Ketahanannya terhadap dingin dan kelembapan, sementara dadanya tetap terbebat ketat, menunjukkan dedikasi yang tak tertandingi pada masanya. Namun, kontribusi ini sebagian besar tetap anonim selama lebih dari dua ratus tahun karena ketidakmampuan sistem taksonomi abad ke-18 untuk mengakui kontribusi seorang wanita, apalagi yang berada dalam penyamaran.

Paradoks “Crossing the Line” dan Horrorscape Lautan

Salah satu momen paling mengerikan dalam perjalanan Baret adalah partisipasinya dalam ritual “Crossing the Line” saat melintasi ekuator. Ritual ini, yang berakar pada tradisi pelaut untuk menyucikan mereka yang pertama kali melintasi khatulistiwa, sering kali bersifat kasar dan sadistik. Baret digambarkan harus mengalami siksaan fisik yang grotesk: ia ditempatkan di dalam jaring yang ditenggelamkan ke laut, yang diisi dengan sisa-sisa kotoran manusia dan sampah dari kapal. Sambil berjuang untuk bernapas dan melepaskan diri, kru kapal lainnya menyiramkan lebih banyak limbah ke arahnya.

Horor yang dialami Baret dalam ritual ini berlipat ganda karena ia harus menjaga pakaiannya tetap terikat erat di tubuhnya agar identitas gender-nya tidak terungkap di depan umum. Ketidakmampuannya untuk menanggalkan pakaian atau mencuci diri dengan bebas setelah ritual tersebut menyebabkan penderitaan fisik jangka panjang. Sejarawan Glynis Ridley menggambarkan perjalanan Baret bukan sebagai suksesi kemenangan botani, melainkan sebagai sebuah “vindictive horrorscape” atau pemandangan horor yang penuh dendam. Ketakutan konstan akan pengungkapan, pemerkosaan, dan kekerasan militer membuatnya selalu membawa pistol yang terisi peluru setiap kali meninggalkan kabinnya.

Kontroversi Penyingkapan Identitas: Dua Narasi yang Bertentangan

Misteri tentang bagaimana identitas Baret akhirnya terbongkar merupakan salah satu bagian paling kontroversial dalam catatan sejarah ekspedisi Bougainville. Terdapat dua versi utama yang masing-masing mencerminkan bias politik dan sosial dari para penulisnya.

Versi Resmi Laksamana Bougainville (Tahiti, 1768)

Dalam jurnal resminya, Bougainville mengklaim bahwa identitas Baret baru terbongkar saat mereka mendarat di Tahiti pada April 1768. Menurut versi ini, penduduk asli Tahiti, yang memiliki pemahaman gender yang lebih cair (termasuk konsep mahu), segera mengenali bahwa asisten Commerson adalah seorang wanita. Mereka mengepung Baret dan berteriak bahwa dia adalah seorang wanita, memaksa Baret untuk melarikan diri kembali ke kapal dan mengakui penyamarannya kepada para perwira Prancis untuk mendapatkan perlindungan dari serangan seksual penduduk asli.

Narasi ini sangat menguntungkan bagi Bougainville secara hukum. Dengan mengalihkan kesalahan pengungkapan kepada “orang liar” di Tahiti, Bougainville dapat berargumen bahwa ia dan staf perwiranya telah ditipu secara efektif selama dua tahun, sehingga menghindari tuduhan bahwa mereka dengan sengaja melanggar hukum militer Prancis yang melarang wanita di kapal.

Versi Ahli Bedah Vivès (Papua Nugini, 1768)

Catatan dari ahli bedah kapal François Vivès memberikan gambaran yang jauh lebih gelap. Vivès mengindikasikan bahwa kru kapal sudah lama mengetahui atau sangat mencurigai identitas Baret jauh sebelum mereka mencapai Pasifik. Menurut penelitian Ridley yang didasarkan pada jurnal kru lain, pengungkapan yang sebenarnya terjadi secara brutal di pantai New Ireland (Papua Nugini) pada Juni 1768.

Dalam versi ini, sekelompok pelaut Prancis merencanakan untuk memastikan jenis kelamin Baret dengan menyerangnya secara fisik saat ia sedang mengumpulkan cucian di tepi pantai. Ridley berargumen bahwa Baret kemungkinan besar menjadi korban pemerkosaan massal oleh sesama krunya, sebuah insiden yang kemudian “dikodekan” atau disembunyikan dalam jurnal-jurnal resmi dengan kiasan puitis atau deskripsi ambigu. Setelah kejadian di New Ireland, Baret dilaporkan mengurung diri di kabin selama berbulan-bulan, sebuah tanda trauma berat yang tidak sesuai dengan narasi “penyingkapan damai” yang dipromosikan oleh Bougainville.

Kehidupan di Mauritius dan Wafatnya Commerson

Karena kehadiran seorang wanita di atas kapal angkatan laut telah menjadi aib yang tidak bisa lagi disembunyikan, Bougainville memutuskan untuk meninggalkan Baret dan Commerson di Isle de France (sekarang Mauritius) pada November 1768. Langkah ini secara teknis menyelamatkan Bougainville dari hukuman militer saat kembali ke Prancis, karena ia bisa mengklaim bahwa masalah tersebut telah diselesaikan secara disipliner di koloni.

Di Mauritius, pasangan tersebut disambut oleh Pierre Poivre, seorang rekan botani yang merupakan gubernur pulau itu. Mereka menghabiskan beberapa tahun berikutnya untuk melakukan penelitian di Madagaskar dan Pulau Réunion. Namun, ketahanan fisik Commerson akhirnya mencapai batasnya; ia meninggal dunia pada tahun 1773, meninggalkan Baret dalam kondisi finansial yang memprihatinkan di negeri asing.

Untuk bertahan hidup tanpa dukungan Commerson, Baret bekerja sebagai pengelola sebuah kedai minuman atau kabaret di Mauritius. Keuletannya sebagai wanita kelas buruh kembali teruji. Di sana ia bertemu Jean Dubernat, seorang tentara angkatan laut Prancis yang kemudian ia nikahi pada Mei 1774. Pernikahan ini bukan hanya masalah asmara, tetapi merupakan langkah strategis yang memberikan Baret legitimasi sosial dan biaya untuk akhirnya pulang ke Prancis.

Kepulangan ke Prancis dan Status “Femme Extraordinaire”

Sekitar tahun 1775, Jeanne Baret kembali ke Prancis, mendarat di pelabuhan yang sama dari mana ia memulai perjalanannya hampir sepuluh tahun sebelumnya. Dengan kepulangannya, ia secara resmi menjadi wanita pertama yang diketahui telah menyelesaikan sirkumnavigasi dunia. Ia membawa pulang warisan ilmiah yang sangat besar: lebih dari 30 peti kayu berisi ribuan spesimen tanaman kering, catatan botani Commerson yang belum sempat diterbitkan, dan koleksi geologi yang luas.

Detail Kepulangan Informasi Terkait
Tahun Kepulangan Sekitar 1774-1775.
Lokasi Menetap Saint-Aulaye, Prancis.
Jumlah Spesimen Sekitar 5.000-6.000 spesimen yang diserahkan ke Jardin des Plantes.
Status Hukum Mendapatkan pengampunan dari pengadilan Prancis atas intervensi Bougainville.

Kejutan terbesar dalam hidup Baret pasca-pelayaran adalah pengakuan resmi dari negara. Meskipun ia telah melanggar hukum militer yang serius, kontribusinya terhadap sains dan perilaku kerasnya selama pelayaran membuat Raja Louis XVI memberikan penghargaan luar biasa. Pada tahun 1785, kementerian angkatan laut Prancis menetapkan pensiun tahunan sebesar 200 livres bagi Baret. Dekrit pensiun tersebut menggunakan frasa yang kini menjadi identik dengan namanya: “wanita luar biasa” (femme extraordinaire). Otoritas Prancis menyadari bahwa meskipun keberadaannya ilegal, dedikasinya telah membawa kemuliaan bagi imperium Prancis di bidang sains.

Warisan dalam Botani Modern dan Feminisme

Selama lebih dari dua abad, nama Jeanne Baret sebagian besar terlupakan dalam catatan resmi botani. Genus Baretia yang diusulkan oleh Commerson untuk menghormatinya—karena variasi daunnya yang dianggap mencerminkan sifat Baret yang mampu menyatukan kontradiksi—diubah namanya menjadi Quivisia dan kemudian Turraea oleh para botanis berikutnya. Baru pada tahun 2012, Eric Tepe dan timnya memberikan penghormatan ilmiah yang layak dengan menamai spesies baru dari Andes, Solanum baretiae, untuk menghormati sang penjelajah. Pemilihan spesies dalam keluarga tomat dan kentang ini dianggap sangat tepat karena daunnya yang sangat bervariasi, mengingatkan kita pada kerumitan identitas Baret sendiri.

Secara sosiologis, Baret kini dipandang sebagai ikon feminis yang mendahului zamannya. Ia bukan hanya seorang wanita yang “ikut serta” dalam pelayaran pria, melainkan seorang kontributor aktif yang memecahkan hambatan kelas dan gender. Keberhasilannya mengitari dunia membuktikan bahwa pembatasan institusional terhadap perempuan didasarkan pada prasangka sosial, bukan pada keterbatasan kapasitas biologis atau intelektual.

Kesimpulan: Melampaui Batas Penyamaran

Kisah Jeanne Baret adalah narasi tentang ketahanan manusia yang luar biasa dalam menghadapi struktur kekuasaan yang represif. Dari seorang gadis desa yang buta huruf di Burgundy hingga menjadi “wanita luar biasa” yang diakui oleh Raja Prancis, perjalanan Baret adalah sirkumnavigasi yang melampaui geografi fisik dunia. Ia hidup dalam balutan luka—baik luka fisik akibat pembebatan dada yang konstan maupun luka psikologis akibat kekerasan di laut—namun ia berhasil mengubah penderitaan tersebut menjadi warisan pengetahuan bagi umat manusia.

Meskipun ia harus menyamar sebagai pria untuk mendapatkan tempat di kapal, kontribusi Baret terhadap pengumpulan lebih dari 6.000 spesies tanaman menegaskan bahwa sains adalah usaha universal. Baret mengingatkan kita bahwa sejarah penjelajahan dunia sering kali memiliki pahlawan yang tidak terlihat, yang keberaniannya tersembunyi di bawah lapisan kain linen dan nama-nama samaran. Di setiap kelopak bunga Bougainvillea yang tumbuh di taman-taman dunia hari ini, terdapat jejak kaki seorang wanita yang berani menantang hukum samudra demi cintanya pada dunia botani dan kebebasan.