Dekonstruksi Komodifikasi Kebahagiaan: Dialektika Gaya Hidup Moneyless dan Kritik terhadap Paradigma Konsumerisme Modern
Ontologi Uang dan Paradoks Kesejahteraan dalam Peradaban Kontemporer
Dalam struktur masyarakat kontemporer, uang telah bertransformasi melampaui fungsinya sebagai sekadar alat tukar (medium of exchange) menjadi determinan eksistensial yang mengatur setiap ritme kehidupan manusia. Realitas sosial menunjukkan bahwa hampir tidak ada hari yang terlewati tanpa aktivitas menghasilkan atau membelanjakan uang, sebuah fenomena yang memosisikan entitas finansial ini sebagai sumbu gravitasi aktivitas manusia. Hegemoni uang menciptakan sebuah “pasukan budak” di mana individu sering kali kehilangan otonomi untuk bertanya apakah aktivitas profesional yang mereka jalani benar-benar memberikan kepuasan batiniah, ataukah mereka sekadar bergerak mengikuti komando pendapatan. Fenomena ini memicu pertanyaan fundamental: apakah kebahagiaan memang secara inheren bersifat mahal, ataukah “kemahalan” tersebut merupakan konstruksi sistemik yang dirancang oleh budaya konsumerisme?
Kritik terhadap dominasi uang ini muncul melalui gerakan pionir yang memilih hidup tanpa uang (moneyless), sebuah manifestasi radikal yang menantang kemustahilan sistemik dengan membuktikan bahwa kehidupan yang bermakna dapat dijalani di luar ketergantungan moneter. Pilihan untuk hidup tanpa uang bukan sekadar upaya penghematan ekstrem, melainkan sebuah pernyataan filosofis mengenai kemandirian, keterhubungan antarmanusia, dan relasi yang lebih etis terhadap bumi. Para praktisi gaya hidup ini, seperti Mark Boyle dan Heidemarie Schwermer, menunjukkan bahwa penghapusan uang dari kehidupan pribadi justru membuka ruang bagi kekayaan sosial dan emosional yang selama ini tertutup oleh dinginnya transaksi finansial.
Anatomi Konsumerisme: Antara Citra, Status, dan Simulakra
Pergeseran Nilai Guna ke Nilai Tanda
Konsumerisme dalam masyarakat postmodern tidak lagi didorong oleh kebutuhan biologis primer, melainkan oleh pergeseran ke arah pola konsumsi sosiologis. Berdasarkan perspektif Jean Baudrillard, konsumsi saat ini lebih berorientasi pada simbol, tanda, dan citra yang melekat pada barang daripada fungsi aktual barang tersebut. Barang mewah, gawai terbaru, atau pakaian bermerek digunakan sebagai instrumen untuk membangun identitas dan status sosial di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, kebahagiaan menjadi mahal karena individu tidak membeli objek, melainkan membeli “posisi” dalam hierarki sosial.
| Dimensi Konsumsi | Paradigma Tradisional (Kebutuhan) | Paradigma Postmodern (Keinginan/Tanda) |
| Orientasi Utama | Fungsi dan kegunaan barang (use-value). | Simbol, citra, dan prestise (sign-value). |
| Pemicu Aktivitas | Kelangkaan fisik atau kebutuhan biologis. | Tekanan sosial, tren media sosial, dan FOMO. |
| Sumber Kebahagiaan | Kepuasan atas pemenuhan fungsi dasar. | Pengakuan sosial dan rasa bangga atas kepemilikan. |
| Relasi terhadap Barang | Memanfaatkan barang sampai habis fungsinya. | Mengganti barang segera setelah muncul model baru. |
Budaya konsumerisme diperkuat oleh kemajuan teknologi dan globalisasi yang memudahkan akses terhadap produk tanpa batas, namun di saat yang sama menciptakan rasa haus yang tak pernah tuntas terhadap kebaruan. Media sosial menjadi katalis utama melalui fenomena flexing atau pamer kekayaan, yang memicu rasa takut ketinggalan (Fear of Missing Out) dan mendorong individu untuk melakukan belanja impulsif demi menjaga citra diri agar tidak terlihat tertinggal secara sosial.
Perspektif Kawruh Jiwa terhadap Kramadangsa
Kritik mendalam terhadap konsumerisme juga ditemukan dalam filsafat lokal Indonesia, khususnya Kawruh Jiwa yang digagas oleh Ki Ageng Suryomentaram. Analisis ini menunjuk Kramadangsa sebagai akar dari perilaku konsumtif berlebihan. Kramadangsa adalah representasi dari ego atau diri yang terikat pada keinginan untuk mengungguli orang lain (ungkul-ungkulan). Keinginan yang bersifat anggranyah ini membuat manusia terjebak dalam pengejaran materi yang tiada habisnya, karena kebahagiaan digantungkan pada catatan statistik dan kepemilikan fisik yang sebenarnya bersifat semu.
Suryomentaram menekankan bahwa kebahagiaan yang didapat dari perjuangan mati-matian mengejar materi hanya akan mendatangkan kesenangan sesaat. Sebaliknya, kekayaan batin dan jati diri yang mandiri (tanpa perlu pamer atau takut tertinggal) merupakan kunci kepuasan hidup yang sejati. Ketidakmampuan individu untuk memahami bahwa rasa senang dan susah bersifat temporal dan bergantian membuat mereka mudah terbujuk oleh kesemuan industri komersial.
Psikologi di Balik “Kebahagiaan Mahal”: Fenomena Hedonic Treadmill
Mekanisme Adaptasi dan Eskalasi Ekspektasi
Alasan psikologis mengapa kebahagiaan sering dianggap mahal berkaitan erat dengan fenomena Hedonic Treadmill. Konsep ini menjelaskan bahwa setelah seseorang mengalami peningkatan kesejahteraan atau mendapatkan objek yang diinginkan, tingkat kebahagiaannya hanya akan meningkat secara sementara. Otak manusia memiliki mekanisme adaptasi yang cenderung menormalkan rasa bahagia tersebut, sehingga individu merasa perlu mencapai tingkat kepuasan baru—yang biasanya lebih mahal—untuk merasakan intensitas kebahagiaan yang sama.
Sebagai contoh, seseorang yang mendapatkan kenaikan gaji mungkin akan merasa sangat bahagia pada beberapa bulan pertama. Namun, seiring berjalannya waktu, standar pengeluaran dan ekspektasi gaya hidupnya juga akan ikut naik secara proporsional. Jika pada saat bergaji rendah ia cukup puas dengan kendaraan sederhana, maka saat gaji meningkat, keinginan untuk memiliki kendaraan mewah muncul sebagai “kebutuhan” baru. Siklus ini membuat seseorang terus berlari cepat di atas “treadmill” kehidupan, namun secara psikologis tidak pernah bergerak maju menuju kepuasan yang stabil.
Konsekuensi Keuangan dan Sosial
Jebakan Hedonic Treadmill memiliki dampak kelam terhadap stabilitas finansial dan kesehatan mental. Peningkatan pendapatan yang diikuti oleh eskalasi gaya hidup sering kali menyebabkan tabungan tetap nol atau bahkan terjebak dalam utang konsumtif karena pengeluaran melebihi kemampuan. Secara sosial, fokus berlebihan pada pengejaran materi dapat mengganggu hubungan antarpribadi, karena waktu dan energi dialokasikan secara tidak proporsional untuk bekerja demi membiayai gaya hidup, sehingga mengabaikan aspek-aspek non-materi seperti kualitas waktu bersama keluarga atau pengembangan spiritual.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memenangkan undian besar pun akan kembali ke level kebahagiaan dasar mereka setelah euforia kemenangan tersebut memudar. Hal ini mengonfirmasi peringatan dalam ajaran tradisional dan agama mengenai bahaya bermegah-megahan yang dapat melalaikan manusia dari hakikat keberadaan mereka. Solusi untuk keluar dari jeratan ini bukanlah dengan menambah pendapatan terus-menerus, melainkan dengan mengubah orientasi hidup menuju kesahajaan dan rasa syukur.
Kaum Moneyless: Radikalisme Kesahajaan sebagai Bentuk Protes
Eksperimen Mark Boyle: Kembali ke Alam dan Komunitas
Mark Boyle, yang dikenal melalui karyanya The Moneyless Man, membuktikan bahwa hidup tanpa uang selama periode 2008-2011 bukanlah sebuah penderitaan, melainkan sebuah bentuk kebebasan. Boyle memilih tinggal di sebuah karavan, bercocok tanam sendiri, mandi di sungai, dan membangun sistem sanitasinya sendiri tanpa bantuan teknologi modern yang bergantung pada infrastruktur moneter. Motivasi utamanya adalah kesadaran akan dampak destruktif sistem uang terhadap habitat bumi yang memberikan kehidupan.
Menurut Boyle, uang menciptakan jarak anonim antara produsen dan konsumen. Ketika seseorang membeli barang dengan uang, ia sering kali tidak tahu dan tidak peduli bagaimana barang tersebut diproduksi, siapa yang dieksploitasi, atau kerusakan lingkungan apa yang ditimbulkan. Dengan hidup tanpa uang, Boyle terpaksa bergantung kembali pada kemampuannya sendiri dan keterhubungan dengan sesama manusia melalui sistem barter yang jujur. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kemandirian total adalah sebuah mitos; manusia pada dasarnya saling bergantung, dan uang sering kali mengikis ketergantungan sehat tersebut menjadi transaksi dingin yang tanpa jiwa.
Heidemarie Schwermer: Hidup sebagai Pertukaran Energi
Heidemarie Schwermer mengambil langkah lebih jauh dengan memutuskan untuk hidup tanpa uang secara permanen sejak pertengahan 1990-an. Ia menukar jasanya—seperti memberikan bimbingan atau membantu pekerjaan rumah tangga—dengan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan makanan. Schwermer mengkritik masyarakat modern yang terlalu sibuk menghasilkan uang sehingga lupa untuk melakukan apa yang mereka cintai. Baginya, hidup tanpa uang adalah cara untuk menguji apakah ia bisa hidup dengan mengandalkan kepercayaan pada kemurahan hati alam dan sesama.
Gerakan moneyless ini melemparkan pertanyaan provokatif kepada masyarakat umum: “Apakah kita yang memiliki uang benar-benar lebih bahagia?”. Para pionir ini membuktikan bahwa dengan melepaskan ketergantungan pada uang, mereka justru mendapatkan waktu yang lebih banyak untuk mengeksplorasi kreativitas, membangun hubungan yang tulus, dan mengurangi jejak ekologis mereka secara signifikan. Gaya hidup ini bukanlah tentang pengorbanan, melainkan tentang menemukan kesenangan autentik yang telah terhapus oleh pekerjaan yang kita benci hanya demi membiayai akhir pekan yang singkat.
Gaya Hidup Barter sebagai Kritik Terhadap Hegemoni Moneter
Mekanisme Barter: Menghubungkan Kembali Kebutuhan Manusiawi
Sistem barter, yang merupakan bentuk perdagangan tertua dalam sejarah manusia, kini muncul kembali sebagai instrumen kritik terhadap ekonomi kapitalistik yang dianggap menciptakan ketimpangan. Berbeda dengan transaksi menggunakan uang yang bersifat impersonal, barter mengharuskan adanya interaksi sosial, negosiasi, dan kesepakatan nilai yang didasarkan pada rasa saling membutuhkan. Hal ini memperluas relasi sosial dan menumbuhkan sikap toleransi serta tolong-menolong antarpihak.
| Jenis Barter Modern | Mekanisme dan Karakteristik | Manfaat Sosial/Ekonomi |
| Barter Langsung | Pertukaran barang/jasa secara satu-lawan-satu tanpa perantara. | Mempererat hubungan antar-individu secara langsung. |
| Barter Alih | Pengalihan barang pertukaran ke pihak ketiga karena ketidakmampuan memanfaatkan barang tersebut. | Meningkatkan efisiensi distribusi barang dalam jaringan yang lebih luas. |
| Barter Imbal Beli | Pertukaran yang melibatkan jasa sebagai imbalan atas akses terhadap sumber daya (misal: bagi hasil pertanian). | Mendukung keberlangsungan ekonomi perdesaan dan komunal. |
| Online Barter Systems | Penggunaan platform digital untuk memfasilitasi pertukaran barang tak terpakai. | Mengurangi limbah rumah tangga melalui budaya memberi dan menukar. |
Meskipun memiliki keterbatasan praktis—seperti sulitnya menentukan nilai yang setara atau menemukan mitra tukar yang tepat—barter menawarkan keunggulan dalam hal menjaga arus kas pribadi dan meminimalisasi pemborosan. Dalam sistem barter, individu akan lebih selektif dan hanya menukarkan barang yang benar-benar mereka butuhkan, berbeda dengan belanja menggunakan uang yang sering kali bersifat impulsif.
LETS dan Time Banking: Evolusi Sistem Pertukaran Komunitas
Di berbagai belahan dunia, sistem barter telah berevolusi menjadi skema yang lebih terorganisir seperti Local Exchange Trading Systems (LETS) dan Time Banking. LETS pertama kali dikembangkan oleh Michael Linton pada tahun 1983 sebagai cara bagi masyarakat lokal untuk tetap bertransaksi meskipun mereka kekurangan mata uang federal. LETS menggunakan mata uang internal (kredit) yang nilainya sering kali setara dengan mata uang nasional tetapi tidak dikenakan bunga dan hanya bisa beredar di dalam komunitas tersebut.
Prinsip utama LETS meliputi transparansi (saldo semua anggota dapat dilihat oleh anggota lain), persetujuan tanpa paksaan, dan pemulihan biaya operasional dari anggota untuk komunitas. Sistem ini memungkinkan keterampilan individu yang tidak terserap di pasar tenaga kerja formal tetap memiliki nilai tukar di dalam komunitas mereka sendiri. Sementara itu, Time Banking lebih menekankan pada kesetaraan waktu, di mana satu jam kerja setiap orang dihargai sama, tanpa memandang jenis keahliannya. Ini adalah bentuk radikal dari pengakuan martabat manusia yang tidak lagi diukur berdasarkan nilai pasar ekonomis, melainkan berdasarkan kontribusi waktu yang mereka berikan untuk sesama.
Implementasi Lokal: Dari Kasepuhan Ciptagelar Hingga Pasar Gratis Bandung
Kasepuhan Ciptagelar: Swasembada Pangan Berbasis Adat
Indonesia memiliki model ketahanan hidup yang sangat kuat di luar logika konsumerisme pasar, salah satunya adalah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi. Masyarakat ini berhasil mencapai swasembada pangan berkelanjutan dengan memegang teguh tradisi leluhur dalam mengelola pertanian padi. Di Ciptagelar, padi dianggap sebagai titipan Tuhan yang tidak boleh diperjualbelikan. Hasil panen disimpan dalam ribuan leuit (lumbung padi) yang mampu bertahan hingga puluhan tahun, menjamin tidak ada satu pun warga yang akan mengalami kelaparan.
Keberhasilan Ciptagelar menunjukkan bahwa kemandirian pangan tidak harus dicapai melalui pembukaan lahan skala besar (food estate) yang merusak hutan, melainkan melalui kearifan lokal yang menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka menggunakan lebih dari 100 varietas padi lokal tanpa pupuk kimia, mengikuti siklus alam yang telah ditentukan oleh pemuka adat. Walaupun hidup dalam bingkai adat, mereka tidak anti-teknologi; Ciptagelar mengelola listrik secara mandiri melalui mikrohidro dan menggunakan media komunitas (CigaTV) untuk menjaga identitas budaya mereka dari pengaruh luar yang berpotensi merusak nilai-nilai adat.
Gerakan Pasar Gratis: Perlawanan Terhadap Komodifikasi Kebutuhan Dasar
Di wilayah perkotaan Indonesia, muncul gerakan “Pasar Gratis” di berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Berbeda dengan pasar pada umumnya, tidak ada transaksi jual-beli di dalamnya. Slogannya yang keras, “not for charity, this is protest”, menegaskan bahwa gerakan ini adalah bentuk sindiran terhadap negara yang dianggap gagal menyediakan kebutuhan dasar rakyatnya. Barang-barang seperti pakaian layak pakai, makanan, dan buku dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja, terutama tunawisma dan pekerja sektor informal.
Gerakan ini didasarkan pada prinsip mutual aid (rakyat bantu rakyat), di mana pemberi tidak dianggap lebih mulia daripada penerima. Dengan mengumpulkan barang-barang yang tidak lagi terpakai oleh kelas menengah dan mendistribusikannya kembali, mereka berupaya menghapus sekat sosial dan melawan budaya membuang barang (waste culture) yang menjadi ciri khas konsumerisme. Keberadaan Pasar Gratis menunjukkan bahwa kebahagiaan—melalui pemenuhan kebutuhan dasar dan rasa kebersamaan—dapat diwujudkan tanpa harus melalui transaksi moneter yang sering kali mengeksklusi kelompok marginal.
Inovasi Modern: Indo Barter dan Minimalisme Digital
Dr. Sutanto dari Universitas Sebelas Maret mengembangkan “Indobarter” sebagai sistem barter modern yang bertujuan menekan inflasi di pasar tradisional. Sistem ini membantu pedagang yang barang dagangannya belum laku untuk menukarkannya langsung dengan kebutuhan pokok seperti beras, atau menggunakan sistem pinjaman yang dikembalikan dalam bentuk barang. Inovasi ini membuktikan bahwa mekanisme barter dapat dimodifikasi dengan sentuhan teknologi dan manajemen modern untuk memberikan jaring pengaman ekonomi bagi masyarakat akar rumput.
Di sisi lain, komunitas gaya hidup minimalis seperti Lyfe With Less menyebarkan kesadaran untuk membatasi konsumsi demi mencapai kebahagiaan yang lebih berkelanjutan. Minimalisme dalam konteks ini bukanlah tentang kemiskinan, melainkan tentang kesengajaan untuk memiliki barang lebih sedikit agar memiliki waktu dan ruang lebih banyak untuk hal-hal yang benar-benar bermakna. Kampanye seperti #PakaiSampaiHabis mendorong individu untuk menghargai setiap barang yang sudah mereka miliki dan bertanggung jawab atas siklus hidup barang tersebut, sebuah antitesis langsung terhadap budaya beli-pakai-buang dalam masyarakat konsumtif.
Tantangan Sistemik: Legalitas, Perpajakan, dan Paradoks Digital
Hambatan Hukum dan Administrasi Barter di Indonesia
Meskipun sistem barter menawarkan alternatif yang menarik, penerapannya di Indonesia menghadapi tantangan hukum dan administratif, terutama terkait dengan kewajiban perpajakan. Barter secara hukum dikategorikan sebagai perjanjian tukar-menukar di mana kedua belah pihak saling memberikan barang secara timbal balik. Dalam perspektif pajak, penyerahan barang dalam barter tetap dianggap sebagai transaksi yang terutang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jika dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP).
| Aspek Perpajakan | Dasar Hukum / Parameter | Dampak terhadap Transaksi Barter |
| Pajak Penghasilan (PPh) | UU PPh No. 36 Tahun 2008. | Keuntungan dari selisih nilai pasar wajar dengan nilai buku aset yang ditukar dianggap sebagai objek pajak. |
| PPN 11-12% | UU PPN & PMK No. 51 Tahun 2025. | Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dalam barter tetap wajib dipungut PPN berdasarkan nilai pasar wajar. |
| PPh Pasal 22 | PMK No. 34/PMK.010/2017. | Pembelian barang oleh instansi pemerintah melalui barter tetap dapat dikenakan pungutan PPh 22 sebesar 1,5%. |
| Nilai Pasar Wajar | Standar Akuntansi & Perpajakan. | Sulitnya menentukan nilai objektif barang tanpa referensi mata uang tunai menciptakan hambatan pelaporan. |
Ketiadaan tanda terima atau bukti transaksi moneter standar sering kali membuat barter sulit diakui secara formal dalam sistem akuntansi modern, sehingga sering kali terbatas pada ranah pertukaran personal atau informal. Hal ini menjadi tantangan bagi kelompok LETS atau komunitas barter yang ingin meningkatkan skala operasional mereka agar bisa berinteraksi dengan ekonomi formal tanpa melanggar ketentuan perpajakan negara.
Kesenjangan Digital dan Masyarakat Tanpa Tunai
Ironisnya, saat gerakan moneyless berusaha melepaskan diri dari uang sebagai simbol, dunia justru bergerak menuju masyarakat tanpa uang tunai (cashless society) melalui digitalisasi pembayaran. Pergeseran dari analog ke digital mempermudah transaksi moneter melalui e-wallet, QRIS, dan perbankan digital, namun di sisi lain memperkuat ketergantungan individu pada infrastruktur teknologi terpusat. Bagi mereka yang ingin hidup benar-benar tanpa uang (anti-moneter), digitalisasi ini justru menciptakan lapisan kontrol baru yang membuat aktivitas pertukaran di luar sistem menjadi semakin sulit dipraktikkan di wilayah perkotaan yang sudah terintegrasi secara digital.
Tantangan bagi generasi muda seperti Gen Z adalah bagaimana mereka membangun kemandirian finansial di tengah derasnya arus konsumsi digital dan tren gaya hidup yang dipamerkan di media sosial. Literasi keuangan digital menjadi krusial agar teknologi digunakan untuk investasi dan perlindungan nilai (seperti emas digital) alih-alih untuk belanja impulsif yang didorong oleh kemudahan pembayaran instan.
Sintesis: Merebut Kembali Makna Kebahagiaan dari Pasar
Menuju Ekonomi yang Lebih Heartfelt dan Berkelanjutan
Gerakan moneyless dan gaya hidup barter bukanlah sekadar upaya romantis untuk kembali ke masa lalu, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menciptakan narasi baru di tengah krisis ekologis dan sosial. Mark Boyle menekankan bahwa kita perlu memilih cerita yang kita ceritakan kepada dunia; apakah kita ingin terus berkompetisi untuk sumber daya yang dianggap langka, ataukah kita ingin hidup dalam cara yang lebih penuh kasih (heartfelt way) yang menghubungkan kita kembali satu sama lain dan dengan tanah yang memberi kita hidup.
Kebahagiaan menjadi mahal karena kita telah membiarkan pasar mendefinisikan apa yang berharga. Dengan belajar dari kaum moneyless, masyarakat modern dapat mulai melakukan transisi yang masuk akal bagi mereka—bukan dengan harus melepaskan semua uang secara total, melainkan dengan mengurangi ketergantungan pada konsumsi barang baru sebagai sumber utama identitas diri. Fokus pada pengalaman daripada harta benda, menghargai kegembiraan kecil setiap hari, dan memprioritaskan hubungan sosial yang mendalam terbukti memberikan kepuasan hidup yang jauh lebih stabil daripada mengejar puncak euforia sementara dari barang mewah.
Kesimpulan dan Rekomendasi Aksi Kolektif
De-komodifikasi kebahagiaan memerlukan pergeseran paradigma dari owning economy menuju sharing dan collaborative consumption. Melalui integrasi kearifan lokal seperti di Kasepuhan Ciptagelar dengan inovasi modern seperti sistem barter online dan gerakan minimalisme, individu dapat mulai memutus rantai Hedonic Treadmill yang melelahkan.
Untuk mewujudkan transformasi ini secara kolektif, diperlukan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
- Peningkatan Literasi Kebutuhan: Melatih diri untuk membedakan antara kebutuhan fungsional dan keinginan simbolis yang dipicu oleh tekanan sosial atau FOMO.
- Revitalisasi Ekonomi Komunal: Mendukung inisiatif seperti Pasar Gratis, koperasi, dan bank waktu lokal untuk membangun jaring pengaman sosial yang tidak bergantung sepenuhnya pada fluktuasi mata uang.
- Penerapan Frugal Minimalism: Mengombinasikan sikap hemat dalam pengelolaan uang dengan pola pikir minimalis dalam kepemilikan barang untuk meningkatkan kualitas hidup tanpa harus mengonsumsi secara berlebihan.
- Advokasi Kebijakan Pro-Berbagi: Mendorong pengakuan legal bagi mata uang komunitas dan sistem barter dalam kerangka hukum nasional untuk memfasilitasi pertukaran yang adil di tingkat lokal tanpa hambatan administratif yang berat.
Bahagia itu tidak harus mahal; yang mahal adalah gaya hidup yang kita gunakan untuk menutupi kekosongan makna dalam dunia yang terlalu bising dengan promosi materi. Kekayaan yang sejati bukanlah banyaknya harta benda, melainkan kekayaan jiwa yang merasa cukup dengan apa yang ada dan mampu berbagi dengan tulus kepada sesama. Dengan belajar dari kaum moneyless, kita diingatkan kembali bahwa hal-hal yang paling berharga dalam hidup—seperti udara bersih, hubungan yang hangat, dan waktu yang tenang—tidak pernah benar-benar memiliki label harga.
Kebahagiaan Sejati=Ekspektasi MateriKepuasan Batin
Rumus sederhana di atas merefleksikan bahwa untuk meningkatkan kebahagiaan, seseorang bisa menambah pembilang (kepuasan batin melalui rasa syukur dan koneksi) atau secara drastis mengurangi penyebutnya (ekspektasi materi yang selalu naik). Di sinilah letak kearifan kaum moneyless: mereka memilih untuk meniadakan penyebutnya agar kebahagiaan menjadi tak terhingga, terlepas dari berapa banyak angka yang ada di rekening bank mereka.