Loading Now

Arsitektur Anakronisme: Analisis Sosiokultural terhadap Fenomena Immersionisme Sejarah dan Penolakan Realitas Digital di Tahun 2026

Fenomena masyarakat yang memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari kemajuan teknologi tahun 2026 dan mengadopsi gaya hidup dari era yang telah lampau, khususnya era Victorian dan dekade 1950-an, mewakili sebuah pergeseran paradigmatik dalam sosiologi modern. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai immersionisme sejarah atau kehidupan anakronistik, bukan sekadar bentuk hobi kolektif atau nostalgia estetika, melainkan sebuah respons terstruktur terhadap krisis eksistensial yang dipicu oleh dominasi kecerdasan buatan (AI), ekonomi langganan yang mencekik, dan fragmentasi identitas di era digital. Di ambang tahun 2026, di mana dunia tengah memasuki apa yang disebut sebagai “Intelligent Age” yang ditandai dengan otomatisasi total dan interaksi manusia-AI yang tak terhindarkan, sekelompok individu justru memilih untuk kembali ke mekanisme fisik, struktur sosial yang kaku, dan komunikasi analog sebagai bentuk klaim ulang terhadap agensi manusia.

Krisis Eksistensial 2026: Katalisator Penolakan Modernitas

Untuk memahami mengapa individu memilih hidup di masa lalu, pertama-tama perlu dianalisis kondisi sosiopsikologis tahun 2026. Masyarakat kontemporer saat ini menghadapi apa yang disebut sebagai “AI slop,” yakni banjir konten repetitif, tidak orisinal, dan berkualitas rendah yang dihasilkan oleh algoritma generatif. Kelelahan digital ini telah mencapai titik jenuh di mana interaksi online tidak lagi dirasakan sebagai kegiatan yang menyenangkan, melainkan sebagai sebuah kewajiban performatif yang melelahkan demi menjaga relevansi sosial. Selain itu, biaya hidup digital telah meningkat secara eksponensial; hampir setiap aspek keberadaan manusia sekarang memerlukan langganan bulanan, mulai dari penyimpanan foto dasar hingga fungsi perangkat keras tertentu, yang menciptakan perasaan bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah “pengalaman berbasis langganan” (subscription-based experience).

Di Indonesia, fenomena ini beresonansi dengan slogan viral “kabur aja dulu” yang muncul pada awal tahun 2025 sebagai ekspresi kelelahan kolektif terhadap sistem ekonomi dan politik yang dianggap menekan dan tidak memberikan harapan. Secara psikologis, ini mencerminkan strategi avoidant coping, di mana individu menarik diri dari realitas nasional yang dianggap “gelap” dan penuh ketidakpastian menuju mikrokosmos yang dapat mereka kontrol sepenuhnya, baik itu di masa lalu Victorian maupun kenyamanan domestik 1950-an. Penarikan diri ini bukan sekadar pelarian fisik, melainkan disengagement mental dari rasa keterikatan pada bangsa dan sistem sosial yang dianggap irasional.

Tabel 1: Perbandingan Struktural Kehidupan Kontemporer 2026 vs. Immersionisme Sejarah

Dimensi Paradigma Kontemporer (2026) Immersionisme Sejarah (Victorian/1950-an)
Teknologi Utama AI Generatif, Cloud, Agen Digital Mekanikal, Analog, Perangkat Manual
Pola Konsumsi Ekonomi Langganan, Kepemilikan Semu Barang Tahan Lama, Kepemilikan Fisik Mutlak
Model Komunikasi Pesan Instan, Video AI, Real-time Surat Tangan (Snail Mail), Tatap Muka
Identitas Sosial Cair, Performatif, Berbasis Data Statis, Berbasis Struktur dan Peran
Konsep Waktu Terakselerasi, Instan, Tanpa Jeda Lambat (Slow Living), Siklikal, Manual

Immersionisme Victorian: Eksperimen Somatik dan Integritas Mekanis

Studi kasus yang paling menonjol dalam gerakan ini adalah pasangan Gabriel dan Sarah Chrisman di Port Townsend, Washington. Mereka telah mendedikasikan lebih dari dua belas tahun untuk hidup sepenuhnya dalam parameter teknologi dan budaya akhir era Victorian (1880-an hingga 1890-an). Motivasi utama mereka berakar pada ketidakpuasan terhadap teknologi modern yang dianggap sebagai “kotak hitam” (black box)—perangkat yang buram, tidak dapat dipahami cara kerjanya oleh pengguna, dan mengasingkan manusia dari realitas fisik.

Teknologi sebagai Manifestasi Agensi

Bagi Gabriel Chrisman, seorang peneliti sejarah teknologi, sepeda Victorian bukan sekadar alat transportasi, melainkan “mesin waktu” yang memberikan imbalan langsung atas usaha fisik dan pemahaman mekanis.7 Ia merakit sendiri sepeda gaya 1890-an dengan rangka baja, spatbor kayu, dan jok kulit, yang semuanya dapat diperbaiki dan dipahami secara total. Kontras dengan perangkat 2026 yang bergantung pada pembaruan perangkat lunak cloud yang tidak stabil, teknologi Victorian menawarkan kemandirian dan ketahanan yang tidak dapat diberikan oleh ekosistem digital kontemporer. Di rumah mereka, tidak ada layar; pencahayaan berasal dari lampu minyak atau replika bohlam Edison awal, dan dapur didominasi oleh kompor besi pembakar kayu yang besar.

Pakaian dan Disiplin Somatik

Sarah Chrisman membawa immersionisme ini ke tingkat fisik melalui penggunaan korset Victorian setiap hari. Pengalamannya menantang narasi sejarah modern yang sering kali mendemonisasi pakaian tersebut sebagai alat penindasan. Baginya, korset memberikan struktur fisik yang mengubah postur dan cara ia berinteraksi dengan dunia, menciptakan disiplin somatik yang dianggapnya lebih membebaskan daripada pakaian modern yang tanpa bentuk. Mereka membedakan secara tegas antara “kostum” dan “pakaian”; apa yang mereka kenakan adalah pakaian sehari-hari yang fungsional, dirancang untuk mendukung gaya hidup yang melibatkan pekerjaan manual dan interaksi sosial yang lebih formal.

Tabel 2: Detail Teknologi dan Peralatan Rumah Tangga Victorian vs. Modern

Peralatan Alternatif Victorian (Immersionist) Teknologi Modern (2026)
Pencahayaan Lampu Minyak, Lilin, Bohlam Karbon LED Pintar Terkoneksi Wi-Fi
Transportasi Sepeda Ordinary (High-wheel), Kuda Kendaraan Listrik Otonom (EV)
Komunikasi Pena Bulu/Fountain Pen, Surat Fisik Asisten Virtual AI, Pesan Suara
Memasak Kompor Besi Kayu Bakar, Ice Box Oven Induksi Pintar, Kulkas IoT
Hiburan Membaca Buku Fisik, Fonograf Silinder Streaming VR, Game Berbasis AI

Nostalgia 1950-an: Stabilitas Material dan Harmoni Domestik

Berbeda dengan fokus Victorian pada mekanika, para pemuja era 1950-an seperti keluarga Keenan di Sydney lebih menekankan pada stabilitas ekonomi, kualitas barang konsumen, dan nilai-nilai keluarga tradisional. Motivasi mereka sering kali dipicu oleh keinginan untuk memiliki barang-barang yang “dibangun untuk bertahan lama,” sebuah konsep yang hampir punah di tahun 2026 yang didominasi oleh limbah elektronik dan konsumerisme cepat.

Estetika dan Keamanan Sosial

Kehidupan keluarga Keenan berputar di sekitar perabotan vintage asli, peralatan rumah tangga berusia 60 tahun yang masih berfungsi, dan partisipasi dalam komunitas rockabilly. Bagi mereka, era 1950-an mewakili waktu di mana komunitas terasa lebih kohesif dan interaksi sosial terjadi di ruang fisik seperti restoran diner atau bioskop drive-in. Namun, hidup di masa lalu di tengah kota modern memerlukan kompromi; mereka sering kali harus menyembunyikan teknologi modern yang “tak terhindarkan,” seperti mesin cuci baru atau televisi layar datar, di balik panel kayu atau perabotan lama agar tidak merusak ilusi sejarah.

Bahasa dan Cara Bicara

Cara bicara para pemuja era ini cenderung mengikuti pola formalitas yang lebih tinggi dibandingkan bahasa kasual tahun 2026 yang penuh dengan jargon teknologi dan akronim media sosial. Di komunitas immersionist, penggunaan gelar, tata bahasa yang lebih baku, dan penghindaran terhadap slang modern adalah cara untuk menjaga integritas karakter. Dalam kasus Ray Frensham, seorang “Living Victorian” di London, penggunaan monokel dan bow tie disertai dengan gaya bicara yang sangat teratur sebagai bentuk pernyataan bahwa ia tidak lagi peduli dengan opini masyarakat modern terhadap gaya hidupnya.

Kritik Sosiologis: Bahaya Nostalgia yang Terkurasi

Meskipun gaya hidup ini menawarkan ketenangan psikologis, para akademisi memperingatkan adanya “nostalgia berbahaya” yang menghapus sejarah kelam era tersebut. Romantisasi tahun 1950-an sering kali mengabaikan fakta bahwa stabilitas ekonomi pada masa itu dibangun di atas fondasi pengecualian sistemik, rasisme (segregasi Jim Crow), dan penindasan gender yang brutal.

Ketimpangan dan Pengecualian

Analisis kritis menunjukkan bahwa bagi banyak orang (khususnya perempuan dan orang kulit berwarna), tahun 1950-an bukanlah era yang ideal; itu adalah masa di mana otonomi individu sangat dibatasi oleh norma sosial yang kaku. Perempuan pada masa itu sering kali terjebak dalam peran domestik tanpa akses ke kredit atau keputusan finansial mandiri. Demikian pula, rumah-rumah 1950-an yang dipuja karena estetikanya sebenarnya memiliki ukuran yang sangat kecil (sekitar 1100 kaki persegi) dengan lemari pakaian yang minimalis, mencerminkan gaya hidup yang sangat hemat dan utilitarian yang lahir dari trauma Depresi Besar, sebuah realitas yang mungkin tidak sanggup dihadapi oleh banyak pengadopsi modern jika harus menjalaninya secara utuh.

Tabel 3: Kontradiksi antara Idealisasi Nostalgia dan Realitas Sejarah

Era Hal yang Diidealisasi Realitas Sejarah yang Sering Diabaikan
Victorian Keanggunan, Kerajinan Tangan, Fokus Wabah Penyakit, Polusi Batubara, Pekerja Anak
1950-an Stabilitas Keluarga, Ekonomi Kuat Segregasi Rasial, Sexisme Sistemik, Perang Dingin

Gerakan Analog 2026: Pemberontakan terhadap AI dan Pengawasan

Di luar para immersionist total, terdapat gerakan “Analog Lifestyle” yang lebih luas di kalangan Millennial dan Gen Z di tahun 2026. Gerakan ini bukan tentang penolakan sejarah, melainkan tentang “reclaiming the human experience”. Mereka beralih ke hobi offline seperti merajut, fotografi film, dan menulis surat (snail mail) sebagai cara untuk memulihkan rentang perhatian yang telah dirusak oleh algoritma.

Kedaulatan Data dan Privasi

Salah satu motivasi utama untuk beralih ke analog di tahun 2026 adalah keinginan untuk “memutus internet dari informasi tentang diri saya”. Di dunia di mana setiap gerakan dan pemikiran dipantau oleh AI korporat untuk profil iklan, hidup secara offline menjadi bentuk perlawanan politik dan perlindungan privasi yang paling radikal.1 Mereka memilih untuk menggunakan jam tangan analog yang tidak “berdengung” dan kalender kertas untuk menghindari beban mental dari notifikasi yang konstan.

Konflik dengan Infrastruktur Digital 2026

Tantangan terbesar bagi para penganut gaya hidup ini adalah sistem perbankan dan administrasi negara yang telah menjadi “digital-only.” Pada tahun 2026, perbankan real-time dengan asisten AI menjadi standar industri, membuat transaksi berbasis kertas atau manual menjadi sangat sulit dan mahal. Fenomena “debanking” atau penutupan rekening karena ketidakpatuhan terhadap norma digital menjadi risiko nyata bagi mereka yang menolak menggunakan aplikasi seluler bank untuk verifikasi identitas biometrik. Ini menciptakan kasta baru “digital exclusion” di mana individu yang memilih hidup analog dianggap sebagai warga negara kelas dua dalam akses layanan publik.

Psikologi Imersi: Antara Pemulihan Burnout dan Isolasi

Dari sudut pandang kesehatan mental, imersi sejarah dapat berfungsi sebagai terapi untuk digital burnout. Studi menunjukkan bahwa aktivitas manual dan pelambatan ritme hidup dapat mengurangi kecemasan dan kelelahan motivasi. Namun, ada garis tipis antara “kenikmatan yang sehat” (healthy enjoyment) dan “obsesi” yang merusak kemampuan individu untuk berfungsi dalam masyarakat.

Tabel 4: Spektrum Psikologis dari Escapism Sejarah

Tahap Karakteristik Dampak Sosial
Kenikmatan Sehat Hobi akhir pekan, koleksi barang antik. Meningkatkan kesejahteraan emosional.
Penghindaran (Avoidance) Menggunakan masa lalu untuk menunda masalah modern. Penurunan keterlibatan dalam isu komunitas.
Pengabaian (Neglect) Menolak teknologi penting (medis/keuangan). Risiko kesehatan dan hukum pribadi.
Obsesi Total Hidup sepenuhnya di era lain, isolasi total. Alienasi sosial dari keluarga dan teman modern.

Dinamika “TradWife” vs. Immersionist: Estetika vs. Ideologi

Di tahun 2026, penting untuk membedakan antara gerakan “TradWife” dan immersionist sejarah murni. Meskipun keduanya mungkin menggunakan pakaian 1950-an atau Victorian, motivasi mereka sering kali bertolak belakang. Gerakan TradWife sering kali merupakan platform media sosial yang menggunakan estetika masa lalu untuk mempromosikan ideologi submisivitas perempuan terhadap otoritas laki-laki, yang sering kali dikritik memiliki akar yang rasis dan seksis. Sebaliknya, para immersionist sejarah seperti keluarga Chrisman lebih menekankan pada pelestarian pengetahuan budaya dan kerajinan manual daripada agenda politik gender tertentu.

Banyak wanita muda di tahun 2026 tertarik pada konten TradWife bukan karena mereka ingin kembali ke ketidakberdayaan hukum masa lalu, melainkan karena mereka merasa lelah dengan tuntutan “ideal worker” di pasar tenaga kerja modern yang tidak mengakomodasi kehidupan keluarga dan perawatan anak yang terjangkau. Estetika kesederhanaan dan waktu luang yang ditampilkan dalam video pembuatan roti sourdough atau menjahit baju sendiri menjadi “plea for balance” (permintaan akan keseimbangan) di tengah dunia yang terlalu menuntut.

Masa Depan di Tahun 2026: Sintesis atau Pemisahan?

Menjelang akhir dekade ini, diprediksi akan terjadi polarisasi yang lebih tajam antara mereka yang merangkul AI total dan mereka yang memilih isolasi analog. “Intelligent Age” akan terus mendorong batas-batas kedaulatan digital, sementara gerakan immersionist akan terus tumbuh sebagai bentuk suaka bagi mereka yang mencari makna hidup di luar layar.

Keberhasilan para immersionist sejarah di tahun 2026 sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk menegosiasikan “paradoks kompetisi dan kolaborasi” dengan dunia luar. Mereka yang mampu menjaga integritas analog di rumah sambil tetap mematuhi regulasi keuangan dan medis minimal akan lebih berkelanjutan dibandingkan mereka yang melakukan isolasi total. Pada akhirnya, kisah orang-orang yang menolak tahun 2026 adalah pengingat bagi sosiologi modern bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas hidup manusiawi, dan bahwa terkadang, untuk melangkah maju, manusia perlu mengambil beberapa langkah mundur ke belakang guna menemukan kembali esensi diri yang hilang.