Abrahamic Family House: Arsitektur Persaudaraan, Diplomasi Lintas Iman, dan Paradigma Baru Koeksistensi di Uni Emirat Arab
Peresmian Abrahamic Family House di Saadiyat Cultural District, Abu Dhabi, pada tanggal 16 Februari 2023, menandai sebuah titik balik dalam sejarah arsitektur religi dan diplomasi budaya di Timur Tengah modern. Proyek yang menggabungkan sebuah masjid, gereja, dan sinagoga dalam satu kompleks terpadu ini bukan sekadar pencapaian teknik sipil yang luar biasa, melainkan manifestasi fisik dari “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan”. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Yang Mulia Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Dr. Ahmed El-Tayeb, di Abu Dhabi pada Februari 2019, yang menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk membangun budaya toleransi dan saling pengertian. Sebagai sebuah entitas, Abrahamic Family House dirancang untuk merobohkan batasan hierarkis tradisional antaragama melalui bahasa arsitektural yang universal, minimalis, namun sarat akan simbolisme mendalam.
Evolusi Konseptual dan Latar Belakang Geopolitik
Keberadaan Abrahamic Family House berakar pada visi jangka panjang Uni Emirat Arab (UEA) untuk memposisikan dirinya sebagai pusat global bagi toleransi dan inklusivitas. Sejarah mencatat bahwa gagasan ini mulai mengkristal selama “Tahun Toleransi” UEA pada 2019, yang dipuncaki oleh kunjungan pertama seorang Paus ke Semenanjung Arab. Inisiatif ini dipimpin oleh Komite Tinggi Persaudaraan Manusia (HCHF), sebuah badan internasional yang dibentuk untuk mengimplementasikan nilai-nilai dalam Deklarasi Abu Dhabi. Proyek ini diumumkan secara resmi oleh Abdullah bin Zayed, Menteri Luar Negeri UEA, di Perpustakaan Umum New York pada 5 Februari 2019, hanya satu hari setelah penandatanganan dokumen bersejarah tersebut.
Penempatan kompleks ini di Pulau Saadiyat, yang juga menaungi Louvre Abu Dhabi dan masa depan Museum Guggenheim serta Museum Nasional Zayed, menegaskan bahwa dialog antaragama dianggap sebagai komponen integral dari identitas budaya UEA. Secara sosiologis, pembangunan ini merespons pertumbuhan demografis yang signifikan di UEA, di mana terdapat komunitas ekspatriat dari 200 negara dengan beragam latar belakang agama, termasuk ratusan ribu umat Kristen dan komunitas Yahudi yang terus berkembang.
Milestone Pembangunan dan Visi Strategis
Proyek ini melewati fase desain dan konstruksi yang dipercepat namun penuh dengan pertimbangan teknis dan teologis. Tabel berikut merangkum lini masa dan fakta utama pengembangan kompleks ini:
| Kategori | Detail Informasi |
| Lokasi | Saadiyat Cultural District, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab |
| Arsitek Utama | Sir David Adjaye OM OBE (Adjaye Associates) |
| Luas Area | 6.500 m² (70.000 ft²) |
| Prakarsa Utama | Document on Human Fraternity (2019) |
| Inaugurasi | 16 Februari 2023 |
| Struktur Utama | Masjid Imam Al-Tayeb, Gereja St. Fransiskus, Sinagoga Moses Ben Maimon |
| Elemen Tambahan | Forum, Taman Lintas Agama, Pusat Pengunjung |
Analisis terhadap penempatan geografis Abrahamic Family House menunjukkan adanya upaya sadar untuk menghubungkan pesan-pesan “Pesan Langit” (Abrahamic messages) dengan peradaban manusia modern melalui aksesibilitas publik yang luas. Dengan menempatkan ketiga rumah ibadah pada tingkat yang sama di atas sebuah plinth atau podium sekuler, arsitek berusaha menghilangkan persepsi tentang adanya satu agama yang lebih dominan dari yang lain.
Filosofi Arsitektur Sir David Adjaye: Simbolisme dalam Geometri
Sir David Adjaye, arsitek berkebangsaan Ghana-Inggris, memenangkan kompetisi internasional untuk merancang kompleks ini dengan mengusulkan desain yang berfokus pada “universalisme dan totalitas”. Filosofi Adjaye menekankan pada penghapusan gagasan perbedaan hierarkis melalui penggunaan bentuk-bentuk Platonik yang murni. Ketiga rumah ibadah dirancang sebagai kubus dengan dimensi yang identik: panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 30 meter. Kubus dipilih karena kekuatannya sebagai bentuk geometri murni yang melambangkan stabilitas dan kesederhanaan.
Meskipun memiliki volume eksternal yang sama, setiap bangunan memiliki orientasi dan fasad yang sangat berbeda, mencerminkan partikularitas liturgis masing-masing keyakinan. Masjid menghadap ke arah Mekkah (Barat Daya), Gereja menghadap ke Timur menuju matahari terbit, dan Sinagoga menghadap ke Barat menuju Yerusalem. Kontradiksi antara kesamaan bentuk luar dan perbedaan orientasi dalam ini merupakan metafora dari pengalaman manusia: memiliki asal-usul dan martabat yang sama, namun mengekspresikan spiritualitas melalui jalan yang berbeda-beda.
Penggunaan Cahaya sebagai Material Desain
Cahaya matahari diposisikan oleh Adjaye sebagai “material desain utama”. Di setiap bangunan, cahaya masuk melalui interval yang berbeda-beda sepanjang hari, menciptakan atmosfer spiritual yang dinamis di dalam ruang-ruang interior yang minimalis. Di Masjid, cahaya difilter melalui panel-panel latticework yang rumit; di Gereja, kolom-kolom vertikal mengarahkan cahaya pagi; dan di Sinagoga, cahaya menembus melalui pola V-shaped yang mereferensikan alam. Penggunaan cahaya ini tidak hanya berfungsi secara estetika tetapi juga teologis, melambangkan keilahian yang menerangi semua jalan keimanan.
Masjid Imam Al-Tayeb: Harmoni Tradisi dan Modernitas
Masjid ini dinamai untuk menghormati Eminence Ahmed El-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar, sebagai penghargaan atas kontribusinya dalam dialog global. Desain masjid ini berupaya mencapai harmoni dengan bangunan gereja dan sinagoga di sekitarnya tanpa meninggalkan kode-kode arsitektur Islam tradisional. Fasad eksteriornya menampilkan tujuh lengkungan memanjang di setiap sisi, sebuah angka yang memiliki signifikansi mendalam dalam Islam—merujuk pada tujuh langit, tujuh putaran tawaf di sekeliling Ka’bah selama Haji, dan tujuh ayat dalam surah Al-Fatihah.
Inovasi Mashrabiya dan Interior
Salah satu fitur yang paling mencolok dari Masjid Imam Al-Tayeb adalah penggunaan mashrabiya, elemen dekoratif tradisional berupa kisi-kisi yang memungkinkan sirkulasi udara dan regulasi cahaya. Tim teknis mengevaluasi berbagai material, termasuk beton bertulang serat gelas (GRC), sebelum akhirnya memilih plastik bertulang serat gelas (GRP) karena kemampuannya memberikan penyelesaian yang sangat halus dan presisi pada panel-panel geometris yang kompleks. Terdapat lebih dari 470 panel yang dikerjakan secara manual untuk memastikan privasi jemaah tetap terjaga sambil tetap memberikan koneksi visual dengan dunia luar.
Interior masjid didominasi oleh sembilan kubah yang naik membentuk busur layar, mengarahkan pandangan jemaah menuju mihrab yang mengindikasikan arah Mekkah. Penggunaan empat kolom interior melambangkan stabilitas dan ketertiban. Di luar ruang utama, terdapat dua ruang wudu yang didesain dengan geometri kontras yang menarik secara arsitektural: ruang wudu pria berbentuk piramida terbalik, sedangkan ruang wudu wanita berbentuk bola terbalik, keduanya dibuat dari beton mentah untuk menyampaikan rasa berat dan keagungan spiritual.
Gereja St. Fransiskus: Keheningan dan Terang Ilahi
Didedikasikan kepada St. Fransiskus dari Assisi, sosok biarawan abad ke-13 yang dikenal karena dedikasinya pada kesederhanaan dan perdamaian, gereja ini mencerminkan esensi spiritualitas Katolik melalui lensa Modernis. Gereja ini dirancang untuk menangkap cahaya matahari terbit, yang dalam teologi Kristen disimbolkan sebagai cahaya ketuhanan dan kebangkitan.
Struktur Kolonade dan Vault Kayu
Fasad gereja terdiri dari barisan kolom vertikal yang rapat, yang oleh Adjaye disebut sebagai “hutan kolom”. Kolom-kolom ini disusun sedemikian rupa untuk membiarkan cahaya pagi membanjiri ruang altar (chancel), sementara melindungi jemaah dari panasnya matahari siang. Penekanan pada garis vertikal di seluruh eksterior dan interior bertujuan untuk mengekspresikan konsep inkarnasi (penurunan Tuhan menjadi manusia) dan kebangkitan (kenaikan manusia menuju Tuhan).
Di bagian dalam, interior gereja menampilkan karya kayu yang spektakuler. Lebih dari 13.000 kaki linier bilah kayu ek membentuk vaulting yang tergantung dari langit-langit, menyerupai “hujan penebusan” yang turun ke arah jemaah. Altar utama dibuat dari marmer dengan salib minimalis di atasnya, yang sengaja dirancang tanpa figuratif untuk menjaga inklusivitas bagi berbagai denominasi Kristen. Di sisi samping, terdapat ruang baptisterium oktagonal dengan desain conical yang menciptakan permainan cahaya yang tenang, memberikan suasana meditasi yang mendalam bagi mereka yang memasukinya.
Sinagoga Moses Ben Maimon: Simbol Perlindungan dan Sejarah
Sebagai sinagoga pertama yang dibangun secara khusus di Uni Emirat Arab, bangunan ini dinamai untuk menghormati Moses Ben Maimon (Maimonides), rabi dan filsuf besar Yahudi yang hidup di dunia Muslim pada abad ke-12. Kehadiran sinagoga ini merupakan simbol paling eksplisit dari normalisasi hubungan diplomatik melalui Abraham Accords dan komitmen UEA terhadap pluralisme agama.
Metafora Sukkah dan Tabernakel
Desain eksterior sinagoga mengambil inspirasi dari Sukkah, struktur sementara yang digunakan selama festival Sukkot sebagai pengingat akan perlindungan Tuhan di padang pasir. Fasadnya terdiri dari tiga lapisan kolom berbentuk V yang saling bertumpang tindih, menyerupai pola pelepah palem. Detail numerologi diaplikasikan di sini: tujuh titik kolom menyentuh tanah (melambangkan manusia) dan delapan titik menyentuh atap (melambangkan Tuhan), menekankan bahwa Tuhan berada di atas jangkauan manusia.
Di bagian interior, sebuah tenda jaring perunggu digantung dari jendela atap pusat (skylight), mereferensikan kemah pertemuan atau Tabernakel asli yang digunakan bangsa Israel kuno. Jendela atap ini tidak hanya membawa cahaya masuk tetapi juga memungkinkan jemaah melihat bintang-bintang di malam hari, mengingatkan pada ritual pernikahan Yahudi (chuppah). Sinagoga ini juga dilengkapi dengan mikvah, sebuah kolam untuk ritual penyucian yang dirancang dengan presisi teknik untuk memenuhi hukum Halakha.
Forum dan Ruang Publik: Episentrum Dialog Persaudaraan
Meskipun ketiga rumah ibadah menjadi pusat perhatian, elemen yang menyatukan seluruh kompleks adalah podium satu lantai yang disebut “The Forum” dan taman yang ditinggikan. Forum berfungsi sebagai ruang sekuler yang tidak berafiliasi dengan agama manapun, dirancang sebagai tempat bagi “semua orang dengan niat baik” untuk berkumpul, belajar, dan berdialog. Ruang ini menyediakan fasilitas pusat pengunjung, perpustakaan, galeri, dan ruang kelas untuk program pendidikan.
Taman Lintas Agama dan Lanskap Berkelanjutan
Taman yang terletak di atas podium menghubungkan ketiga bangunan tersebut tanpa adanya ambang batas atau pagar yang memisahkan, melambangkan penghapusan hambatan antaragama. Lanskap taman ini menggunakan tanaman asli daerah yang membutuhkan sedikit air, mencerminkan perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan. Penempatan tiga pohon Ghaf, pohon nasional UEA, di taman ini melambangkan ketahanan dan persatuan di bawah satu naungan nasional.
Analisis Lanskap dan Spesifikasi Tanaman:
| Jenis Tanaman | Lokasi/Fungsi | Makna Simbolis |
| Pohon Ghaf | Area Taman Bersama | Ketahanan, pohon nasional UEA |
| Pohon Jeruk (Citrus) | Halaman masing-masing rumah ibadah | Kesuburan dan keberagaman spesies |
| Tanaman Gurun | Seluruh area lanskap | Keberlanjutan dan adaptasi lokal |
| Total Pohon | ~430 pohon di seluruh kompleks | Kesejukan dan kehidupan di padang pasir |
Tantangan Rekayasa dan Keunggulan Teknis
Pembangunan Abrahamic Family House melibatkan kerumitan teknis yang luar biasa, mengingat standar estetika yang tinggi dari Sir David Adjaye dan kondisi lingkungan gurun yang ekstrem. Firma teknik Arup berperan krusial dalam menerjemahkan visi arsitektural menjadi struktur yang aman dan efisien.
Teknik Seismik dan Material Beton
Salah satu tantangan utama adalah memastikan dinding tirai (curtain wall) setinggi 30 meter pada masing-masing bangunan mampu menahan aktivitas seismik regional. Para ahli beton Arup juga harus merancang campuran beton khusus untuk mencapai tekstur bush-hammered yang kasar namun seragam di seluruh permukaan bangunan, memberikan kesan monolitik dan abadi.
Penggunaan material eksternal didominasi oleh batu gamping (limestone) yang bersumber dari wilayah sekitar, memberikan warna off-white yang menyatu dengan lingkungan gurun namun tetap menonjol sebagai monumen yang megah. Tabel berikut merinci tantangan teknik dan solusinya:
| Tantangan Teknik | Solusi Rekayasa |
| Ketahanan Seismik Dinding 30m | Analisis struktur global dan penguatan baja khusus |
| Tekstur Beton Bush-Hammered | Campuran agregat khusus dan teknik aplikasi manual |
| Panas Ekstrem Gurun | Penggunaan fitur air (cooling pools) dan ventilasi alami melalui mashrabiya |
| Transparansi vs Privasi (Masjid) | Panel GRP yang dioperasikan dengan kalibrasi cahaya |
| Akustik Gereja dan Sinagoga | Integrasi batangan kayu dan jaring logam untuk difusi suara |
Dimensi Budaya dan “Symphony of Three”
Sebagai pelengkap dari manifestasi fisik arsitektur, pemerintah UEA melalui Abu Dhabi Festival menugaskan pembuatan sebuah karya musik monumental berjudul “Symphony of Three: Peace, Love, Tolerance”. Karya ini dirancang untuk menjadi representasi auditif dari nilai-nilai Abrahamic Family House, melibatkan kolaborasi antara komposer dan musisi dari latar belakang Muslim, Kristen, dan Yahudi.
Analisis Gerakan Simfoni
Simfoni ini terdiri dari empat gerakan utama yang menceritakan evolusi kemanusiaan menuju persaudaraan universal:
- Earth (Gerakan I): Dikomposisikan oleh Ihab Darwish (UEA). Menggunakan ritme Levant dan paduan suara Afrika untuk melambangkan asal-usul manusia dan penciptaan bumi.
- Peace (Gerakan II): Dikomposisikan oleh David Shire (AS). Menampilkan vokal tenor yang bermeditasi tentang kesia-siaan konflik agama dan kerinduan mendalam akan perdamaian.
- Love (Gerakan III): Dikomposisikan oleh John Debney (AS). Menggunakan vokal soprano dan instrumen tiup untuk mengekspresikan doa bagi pengampunan dan kasih sayang antarmanusia.
- Tolerance (Gerakan IV): Penutup megah yang menggabungkan semua elemen. Menampilkan interplay antara terompet jazz Amerika, nyanyian spiritual Arab (Inshad), dan paduan suara anak-anak.
Karya ini melibatkan orkestra besar (Beethoven Academy Orchestra) dan penyanyi internasional seperti Sumi Jo dari Korea Selatan dan Mahmoud El Tohamy dari Mesir. Keberadaan simfoni ini menunjukkan bahwa pesan Abrahamic Family House ingin disebarluaskan melalui berbagai medium artistik untuk menjangkau khalayak global yang lebih luas.
Kritik Sosiopolitik dan Narasi Soft Power
Meskipun mendapat pujian luas dari komunitas internasional dan pemimpin agama, Abrahamic Family House juga menjadi subjek analisis kritis terkait perannya dalam strategi “soft power” Uni Emirat Arab. Beberapa pengamat dan organisasi hak asasi manusia, seperti Human Rights Watch dan Amnesty International, menyoroti adanya diskoneksi antara narasi toleransi yang dipromosikan melalui proyek ini dengan catatan hak asasi manusia di dalam negeri.
Kontradiksi dan Interpretasi Geopolitik
Kritik utama difokuskan pada kondisi tenaga kerja migran yang membangun proyek-proyek besar di Pulau Saadiyat, yang sering kali dilaporkan menghadapi masalah terkait upah dan kondisi kerja. Selain itu, beberapa pengamat berpendapat bahwa kompleks ini adalah bagian dari upaya branding UEA untuk memoles citranya di mata elit Barat sebagai negara yang progresif dan modern guna menarik investasi dan pariwisata.
Namun, dari perspektif “diplomasi religi”, proyek ini dianggap sebagai langkah berani untuk memperbaiki luka sejarah antaragama di kawasan tersebut. Dengan menyediakan ruang bagi sinagoga resmi pertama di Semenanjung Arab dalam beberapa dekade, UEA memberikan pengakuan nyata terhadap hak-hak minoritas agama dan menciptakan platform untuk dialog yang belum pernah ada sebelumnya.
Dampak Pendidikan dan Program Dialog
Abrahamic Family House tidak hanya dirancang sebagai tempat ibadah pasif, tetapi juga sebagai institusi pendidikan yang aktif. Melalui kemitraan dengan universitas dan lembaga pemikir global, kompleks ini menyelenggarakan program yang bertujuan untuk mendalami pemahaman tentang kesamaan kemanusiaan.
Inisiatif Dialog dan Kepemimpinan Pemikiran
Beberapa inisiatif utama yang telah diluncurkan meliputi:
- Asmaa Programme: Sesi diskusi yang dipimpin oleh para peneliti internasional untuk membahas tema-tema seperti “Kebijaksanaan” dalam perspektif lintas iman.
- Intercultural and Interreligious Dialogue Forum: Forum bilateral, seperti yang dilakukan antara Austria dan UEA, untuk membahas tantangan kohesi sosial di era digital dan kecerdasan buatan.
- Summit Global: Pertemuan tahunan yang mempertemukan para penandatangan Dokumen Persaudaraan Manusia untuk meninjau kemajuan budaya perdamaian global.
Melalui program-program ini, Abrahamic Family House berupaya menjadi laboratorium sosial di mana teori-teori tentang toleransi dipraktikkan melalui interaksi langsung antarjemaah dan pengunjung dari berbagai belahan dunia.
Pengalaman Pengunjung dan Informasi Praktis
Bagi masyarakat umum, Abrahamic Family House menawarkan pengalaman wisata budaya yang unik dan edukatif. Pengunjung diundang untuk mengeksplorasi ketiga rumah ibadah dan memahami ritual serta tenet utama dari masing-masing iman.
Panduan dan Protokol Kunjungan
Untuk menjaga kesucian dan ketenangan area ibadah, pihak pengelola menerapkan aturan yang cukup ketat namun inklusif. Semua pengunjung wajib melakukan reservasi slot waktu melalui aplikasi atau situs web resmi Abrahamic Family House.
Aturan Berpakaian (Dress Code) yang Berlaku:
| Lokasi | Ketentuan Berpakaian | Fasilitas Tambahan |
| Area Umum (Taman/Forum) | Pakaian longgar menutup lengan dan kaki | Tersedia peminjaman jubah (abaya/kandura) |
| Masjid | Wanita wajib menggunakan kerudung; Lepas alas kaki | Kerudung disediakan secara gratis di lokasi |
| Gereja | Bahu dan lutut tertutup; Topi bisbol dilarang | Lingkungan hening untuk doa pribadi |
| Sinagoga | Penutup kepala bagi pria (opsional namun disarankan) | Aksesibilitas bagi kursi roda tersedia |
Kompleks ini buka untuk kunjungan publik dari Selasa hingga Minggu, pukul 10:00 hingga 17:00, sementara akses ibadah tetap tersedia sesuai jadwal waktu sholat, misa, dan kebaktian Sabat. Fasilitas pendukung seperti kafe, toko buku souvenir, dan area parkir bawah tanah yang luas disediakan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Kesimpulan: Sebuah Monumen untuk Masa Depan Kemanusiaan
Abrahamic Family House adalah sebuah eksperimen arsitektural dan sosial yang ambisius. Melalui desain Sir David Adjaye yang elegan dan penuh makna, kompleks ini berhasil menciptakan ruang di mana perbedaan agama tidak lagi dipandang sebagai sumber konflik, melainkan sebagai kekayaan peradaban manusia yang harus dirayakan secara berdampingan.
Secara arsitektural, penggunaan kubus-kubus berdimensi 30×30×30 meter secara efektif merobohkan hierarki visual, sementara detail interiornya menghormati tradisi liturgis yang berusia ribuan tahun. Secara geopolitik, ia berfungsi sebagai mercusuar bagi visi “Persaudaraan Manusia” yang ingin dipromosikan oleh Uni Emirat Arab ke panggung dunia. Meskipun tidak terlepas dari perdebatan mengenai hak asasi manusia dan soft power, dampak psikologis dan simbolis dari melihat sebuah masjid, gereja, dan sinagoga berdiri setara di tanah Arab adalah sebuah pencapaian yang tak terbantahkan.
Pada akhirnya, Abrahamic Family House adalah pesan kepada generasi mendatang bahwa koeksistensi bukanlah sekadar aspirasi utopis, melainkan sebuah realitas yang dapat dibangun melalui dialog yang jujur, penghormatan timbal balik, dan keberanian arsitektural. Kompleks ini bukan hanya sebuah destinasi wisata modern, tetapi sebuah “rumah” bagi mereka yang percaya pada kemungkinan dunia yang lebih damai dan bersatu dalam keberagaman.


