Geografi Rohani dan Transformasi Eksistensial: Analisis Komprehensif Ziarah Shikoku 88 Kuil
Tradisi Ziarah Shikoku, yang secara lokal dikenal sebagai Shikoku Henro, merepresentasikan salah satu manifestasi paling kompleks dari spiritualitas sirkular yang masih bertahan di era kontemporer. Melintasi jarak sekitar 1.200 kilometer di sekitar pulau terkecil dari empat pulau utama Jepang, rute ini menghubungkan 88 kuil resmi dan ratusan situs suci lainnya yang terkait erat dengan warisan sejarah dan mitologis biksu Kūkai, atau yang secara anumerta dihormati sebagai Kōbō Daishi. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas keagamaan rutin, melainkan sebuah sistem transformasi psikologis dan sosiokultural yang telah berevolusi selama lebih dari satu milenium, memadukan elemen Buddhisme esoterik Shingon dengan praktik ketahanan fisik dan solidaritas komunitas yang unik melalui budaya osettai.
Analisis terhadap Ziarah Shikoku mengungkapkan bahwa struktur rute ini tidaklah acak, melainkan sebuah peta spiritual yang dirancang untuk membawa individu melalui empat tahap pencerahan Buddhis yang koheren dengan pembagian administratif pulau tersebut. Dari tahap awal kebangkitan spiritual di Tokushima hingga pencapaian nirwana di Kagawa, peziarah atau o-henro-san melakukan sebuah “Mandala bergerak” yang bertujuan untuk mengintegrasikan tubuh, pikiran, dan lingkungan menjadi satu kesatuan yang harmonis. Dalam konteks modern, ziarah ini terus menarik minat global bukan hanya karena nilai historisnya, tetapi juga karena bukti-bukti ilmiah yang mulai muncul mengenai dampak positif aktivitas ini terhadap kesehatan mental, regulasi stres, dan neuroplastisitas otak.
Landasan Genealogi: Kōbō Daishi dan Evolusi Shingon
Kehadiran spiritual Kōbō Daishi (774–835) merupakan poros utama yang menopang seluruh struktur Ziarah Shikoku. Lahir di Byōbugaura (sekarang Zentsū-ji di Prefektur Kagawa) dengan nama kecil Mao, Kūkai tumbuh dalam periode transisi penting dalam sejarah Jepang. Meskipun ia dididik untuk menjadi birokrat negara di universitas kekaisaran di Nara, pertemuannya dengan seorang praktisi asketik di pegunungan mengubah lintasan hidupnya secara radikal, mendorongnya untuk meninggalkan jalur formal demi pencarian kebenaran spiritual di alam liar Shikoku. Pencerahannya yang terkenal di dalam gua Mikurodo di Tanjung Muroto, di mana ia melihat hanya langit dan laut, memberikan inspirasi bagi nama religiusnya, Kūkai, yang secara harfiah berarti “Langit dan Laut”.
Setelah melakukan perjalanan ke Dinasti Tang di China pada tahun 804 sebagai bagian dari misi diplomatik resmi, Kūkai mempelajari Buddhisme Esoterik di bawah bimbingan Guru Huiguo di Kuil Qinglong, Chang’an. Sekembalinya ke Jepang pada tahun 806, ia membawa doktrin Shingon yang menekankan bahwa pencerahan atau kebuddhaan dapat dicapai dalam kehidupan saat ini melalui tubuh fisik (sokushin jōbutsu), sebuah konsep revolusioner yang menantang pandangan tradisional bahwa pencerahan membutuhkan banyak siklus reinkarnasi. Keyakinan inilah yang menjadi dasar mengapa berjalan kaki sejauh 1.200 kilometer dianggap sebagai bentuk meditasi yang paling murni dan efektif untuk mencapai ketenangan batin.
| Dimensi Kehidupan Kōbō Daishi | Rincian dan Signifikansi Historis |
| Kelahiran dan Latar Belakang | Lahir tahun 774 di Provinsi Sanuki (Kagawa). Berasal dari keluarga Saeki yang memiliki pengaruh lokal. |
| Transformasi Intelektual | Meninggalkan universitas pada usia 18 tahun setelah menyadari keterbatasan ajaran Konfusius dalam menjawab penderitaan manusia. |
| Pengalaman Muroto | Mencapai pencerahan melalui pelantunan mantra Gumonji-ho sejuta kali di gua Murotozaki. |
| Pendirian Shingon | Mendirikan markas besar di Gunung Kōya (Kōya-san) pada tahun 816 sebagai pusat pelatihan esoterik. |
| Warisan Sosial | Terkenal karena rekayasa sipil (Mannoike), pendidikan untuk rakyat jelata (Gakki Tanchi-in), dan seni kaligrafi. |
Meskipun Kūkai sendiri tidak mendirikan ke-88 kuil tersebut secara fisik dalam satu perjalanan, legenda dan catatan sejarah menunjukkan bahwa ia melakukan pelatihan asketik di banyak lokasi tersebut. Rute yang kita kenal sekarang mulai terbentuk secara formal sekitar abad ke-16 dan ke-17, dipopulerkan oleh tokoh-tokoh seperti biksu Shinnen yang menulis buku panduan pertama pada tahun 1687. Transformasi dari perjalanan para petapa pengembara (hijiri) menjadi ziarah massa bagi rakyat jelata menandai demokratisasi spiritualitas di Jepang, di mana Shikoku menjadi tempat di mana batasan kelas sosial dapat melebur di bawah identitas kolektif peziarah.
Struktur Teogeografis: Mandala Empat Tahap Pencerahan
Ziarah Shikoku secara sistematis dibagi menjadi empat segmen utama yang berkorespondensi dengan empat prefektur di pulau tersebut. Pembagian ini bukan hanya logistik, tetapi merupakan representasi fisik dari perjalanan Buddhis menuju pembebasan. Setiap prefektur memiliki fungsi liturgis yang berbeda dalam proses transformasi diri peziarah.
Prefektur Tokushima: Dōjō Kebangkitan (Hosshin)
Tahap pertama ziarah berlangsung di Tokushima (dahulu Provinsi Awa), mencakup kuil nomor 1 (Ryōzen-ji) hingga kuil nomor 23 (Yakuō-ji). Istilah Hosshin merujuk pada kebangkitan tekad atau niat untuk mencapai pencerahan. Di fase ini, peziarah biasanya masih membawa beban mental dan fisik dari kehidupan duniawi mereka. Kuil Ryōzen-ji berfungsi sebagai pintu gerbang di mana peziarah melengkapi diri dengan perlengkapan tradisional dan memohon perlindungan untuk perjalanan yang akan datang. Tantangan fisik pertama muncul dengan pendakian ke Kuil Shōsan-ji (#12), yang dikenal sebagai henro-korogashi pertama, sebuah ujian untuk menguji keseriusan tekad awal tersebut.
Prefektur Kōchi: Dōjō Disiplin dan Askese (Shugyō)
Memasuki Kōchi (dahulu Provinsi Tosa), peziarah menghadapi kuil nomor 24 hingga 39. Shugyō berarti pelatihan atau disiplin yang keras. Kōchi dicirikan oleh jarak yang sangat jauh antar kuil dan garis pantai yang panjang serta terisolasi, memaksa peziarah untuk masuk ke dalam ritme berjalan yang meditatif dan introspektif. Di sini, ketahanan fisik diuji secara maksimal di bawah panas matahari dan angin laut, melambangkan pembersihan ego melalui penderitaan fisik yang disengaja. Tanjung Muroto di Kōchi adalah situs yang sangat sakral karena merupakan lokasi pencerahan Kūkai.
Prefektur Ehime: Dōjō Pencerahan (Bodai)
Bagian ketiga melintasi Ehime (dahulu Provinsi Iyo), dari kuil nomor 40 hingga 65. Bodai atau Bodhi melambangkan pencapaian kebijaksanaan atau pencerahan. Pada tahap ini, peziarah biasanya telah beradaptasi dengan ritme perjalanan; blister telah mengeras menjadi kapalan, dan pikiran mulai tenang. Medan di Ehime bervariasi dari pegunungan yang curam seperti di Kuil Iwaya-ji (#45) hingga daerah perkotaan Matsuyama. Di sini, fokus bergeser dari perjuangan fisik menuju integrasi pemahaman spiritual ke dalam kesadaran sehari-hari.
Prefektur Kagawa: Dōjō Nirwana (Nehan)
Tahap akhir berada di Kagawa (dahulu Provinsi Sanuki), mencakup kuil nomor 66 hingga 88. Nehan atau Nirwana melambangkan pembebasan akhir dan kedamaian mutlak. Kuil Unpen-ji (#66), yang berada di puncak tertinggi rute ini, berfungsi sebagai transisi menuju tahap akhir di mana peziarah mulai melihat akhir dari perjalanan mereka. Perjalanan memuncak di Kuil Ōkubo-ji (#88), di mana peziarah menyerahkan tongkat mereka atau menerima sertifikat penyelesaian (kechi-gan-shō), menandakan terpenuhinya sumpah mereka.
| Tahap Spiritual | Prefektur | Kuil | Makna Simbolis dalam Proses Transformasi |
| Hosshin | Tokushima | 1–23 | Pemurnian niat dan inisiasi ke dalam jalur suci. |
| Shugyō | Kōchi | 24–39 | Penghancuran ego melalui disiplin fisik dan isolasi. |
| Bodai | Ehime | 40–65 | Munculnya kebijaksanaan dan pemahaman tentang kesalingterhubungan. |
| Nehan | Kagawa | 66–88 | Pencapaian kedamaian batin dan integrasi spiritual. |
Fenomenologi Ritual: Simbolisme dan Etiket Peziarah
Kehadiran seorang peziarah di Shikoku secara instan dikenali melalui perlengkapan khusus yang dikenal sebagai henro-shozoku. Setiap elemen dari pakaian ini membawa makna teologis yang mendalam dan berfungsi sebagai pengingat konstan akan tujuan perjalanan. Pakaian putih (hakui) melambangkan kemurnian, tetapi secara historis juga berfungsi sebagai kain kafan, menandakan bahwa peziarah siap untuk mati di mana saja di sepanjang jalan. Simbolisme ini menciptakan urgensi eksistensial, di mana setiap langkah diambil dengan kesadaran penuh akan kefanaan hidup.
Tongkat kayu atau kongōzue adalah objek paling sakral bagi seorang o-henro-san. Ia tidak dianggap sebagai alat bantu jalan semata, melainkan sebagai perwujudan fisik dari Kōbō Daishi yang berjalan berdampingan dengan peziarah (Dōgyō Ninin). Keyakinan ini menuntut etiket yang sangat ketat: peziarah harus mencuci ujung tongkat setiap malam saat tiba di penginapan, sebuah tindakan simbolis membasuh kaki sang guru. Saat menyeberangi jembatan, tongkat tidak boleh menyentuh tanah agar tidak membangunkan Daishi yang diyakini sedang beristirahat di bawah jembatan tersebut.
Prosedur Liturgis di Setiap Kuil
Ritual di setiap kuil mengikuti protokol yang presisi untuk memastikan bahwa peziarah memasuki ruang suci dengan disposisi batin yang benar. Proses ini dimulai di gerbang utama (Sanmon) dengan membungkuk sekali sebagai tanda hormat. Setelah penyucian fisik di bak air (wash basin), di mana tangan dan mulut dibasuh untuk memurnikan diri dari kekotoran duniawi, peziarah menuju menara lonceng. Membunyikan lonceng sekali bertujuan untuk mengumumkan kehadiran peziarah kepada dewa-dewa kuil, namun dilarang keras melakukannya saat meninggalkan kuil karena dianggap “membunyikan keberangkatan” yang membawa sial.
Kegiatan utama dilakukan di Aula Utama (Hondō) dan Aula Daishi (Daishidō). Di sini, peziarah menyalakan lilin dan dupa, memberikan sumbangan koin, dan meninggalkan slip nama (osamefuda). Inti dari devosi adalah pelantunan sutra. Meskipun meditasi diam diperbolehkan, pembacaan Sutra Hati (Hannya Shingyō) dan mantra-mantra Shingon secara lantang diyakini memiliki vibrasi spiritual yang dapat menyelaraskan pikiran peziarah dengan prinsip-prinsip alam semesta.
Makna Sosial Budaya Osettai
Kekuatan ziarah ini tidak hanya terletak pada hubungan individu dengan dewa, tetapi juga pada hubungan peziarah dengan masyarakat lokal melalui praktik osetai. Ini adalah bentuk keramahan di mana penduduk lokal memberikan hadiah berupa makanan, minuman, uang, atau bantuan navigasi kepada peziarah. Osettai berakar pada gagasan bahwa peziarah adalah wakil dari Kōbō Daishi; dengan membantu peziarah, warga lokal mendapatkan pahala spiritual yang sama seolah-olah mereka sendiri yang melakukan ziarah.
Penerimaan osetai menuntut kerendahhatian dari peziarah. Mereka harus menerima hadiah tersebut dengan rasa syukur dan sebagai imbalannya memberikan osamefuda sebagai bukti doa yang dilakukan atas nama pemberi. Dinamika ini menciptakan ekosistem sosial di mana kemurahan hati dan pengabdian saling memberi makan, memperkuat kohesi sosial di pulau Shikoku yang sering kali terisolasi secara ekonomi dari pusat-pusat metropolitan Jepang.
Analisis Neurobiologis dan Psikologis: Mengapa Ziarah Menawarkan Ketenangan?
Meskipun narasi tradisional menekankan berkah spiritual, penelitian ilmiah modern mulai membedah mekanisme biologis di balik “ketenangan batin” yang dilaporkan oleh para peziarah. Ziarah Shikoku, terutama yang dilakukan dengan berjalan kaki, merupakan intervensi gaya hidup yang menggabungkan aktivitas aerobik intensitas rendah, paparan alam secara berkala, dan praktik kognitif repetitif.
Biomarker dan Kesehatan Mental
Penelitian imunologis pada peziarah berjalan kaki menunjukkan hasil yang signifikan terkait dengan reduksi stres dan perbaikan fungsi saraf. Salah satu temuan paling menonjol adalah peningkatan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) dalam serum satu minggu setelah menyelesaikan ziarah. BDNF berperan krusial dalam neuroplastisitas, pembelajaran, dan memori, serta sering kali menurun pada individu yang mengalami depresi atau stres kronis. Selain itu, penurunan kadar adrenalin dalam urin dan pengurangan kadar kolesterol LDL menunjukkan bahwa perjalanan panjang ini memberikan “istirahat” sistemik bagi sistem saraf simpatik yang biasanya terlalu aktif di lingkungan perkotaan.
| Parameter Biologis/Psikologis | Hasil Temuan Studi | Signifikansi bagi Kesejahteraan |
| Skor Kecemasan (STAI/POMS) | Menurun secara signifikan | Reduksi ketegangan psikologis dan perbaikan suasana hati. |
| Stres Oksidatif (HODE) | Menurun selama perjalanan | Pengurangan kerusakan seluler dan perbaikan sistem imun. |
| Kualitas Tidur | Stabilitas gerak tubuh membaik | Restorasi fisik yang lebih dalam tanpa kelelahan ekstrem. |
| Kortisol | Menunjukkan pola regulasi sehat | Adaptasi tubuh terhadap stresor fisik jangka panjang. |
Transisi ke Kondisi “Flow” dan Meditasi Bergerak
Secara psikologis, ziarah selama 45 hari memaksa individu untuk keluar dari “waktu jam” yang linier dan masuk ke dalam “waktu sakral” yang repetitif. Proses berjalan tanpa henti, dari kuil ke kuil, menciptakan kondisi yang dalam psikologi disebut sebagai flow atau aliran kesadaran di mana ego mulai meluruh. Di jalur Henro, tantangan fisik seperti mendaki gunung atau berjalan di bawah hujan deras menjadi objek meditasi. Peziarah belajar untuk mengamati rasa sakit fisik tanpa identifikasi emosional yang berlebihan, sebuah praktik yang sangat mirip dengan terapi kognitif berbasis kesadaran (mindfulness).
Efek “ketenangan batin” ini juga diperkuat oleh lingkungan alam Shikoku. Konsep shinrin-yoku atau mandi hutan telah terbukti menurunkan tekanan darah dan meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami (NK cell). Dengan melintasi pegunungan yang dipenuhi pohon cedar dan bambu, peziarah secara konstan menghirup fitonsida, senyawa organik yang dipancarkan oleh tanaman untuk melindungi diri dari serangga, yang pada manusia memiliki efek menenangkan pada sistem saraf pusat.
Geografi Suci: Profil Arsitektur dan Historis Kuil Utama
Dari 88 kuil resmi, terdapat beberapa situs yang memiliki signifikansi arsitektural dan historis yang menonjol, mewakili puncak-puncak estetik dan spiritual dari rute tersebut. Kuil-kuil ini sering kali merupakan kompleks bangunan yang mencerminkan berbagai periode sejarah Jepang, mulai dari Nara hingga Edo.
Kuil Ryōzen-ji (#1): Simbolisme Permulaan
Terletak di Naruto, Tokushima, Ryōzen-ji bukan hanya titik keberangkatan fisik tetapi juga gerbang psikologis. Kompleks ini memiliki taman yang indah dengan kolam koi yang melambangkan kejernihan pikiran yang dicari oleh peziarah. Di sini, peziarah dapat melihat patung Buddha Shaka Nyorai, dewa sejarah yang mengajarkan jalan pelepasan. Kehadiran toko perlengkapan besar di depan gerbang kuil menekankan fungsi praktis Ryōzen-ji dalam mempersiapkan o-henro-san menghadapi tantangan di depan.
Kuil Shōsan-ji (#12): Arsitektur di Atas Awan
Shōsan-ji terletak di puncak gunung setinggi 700 meter dan merupakan salah satu kuil yang paling sulit dijangkau dengan berjalan kaki. Dikelilingi oleh hutan purba, kuil ini memiliki atmosfer yang sangat kuno. Arsitekturnya yang kokoh dengan penggunaan kayu-kayu besar mencerminkan ketahanan yang diperlukan untuk bertahan di lingkungan pegunungan yang keras. Legenda tentang Kūkai yang menaklukkan naga api di situs ini menambah lapisan mistis pada pengalaman mengunjungi kuil ini.
Kuil Ishite-ji (#51): Keajaiban Kamakura
Sebagai kuil ke-51 di Matsuyama, Ishite-ji adalah salah satu permata arsitektural di Shikoku. Gerbang Niomon-nya adalah Harta Karun Nasional yang berasal dari tahun 1318, menampilkan gaya arsitektur periode Kamakura yang gagah. Kuil ini sangat terkenal karena kompleksitasnya, termasuk terowongan bawah tanah yang berisi patung-patung Buddha yang misterius dan sebuah pagoda tiga lantai yang berdiri megah di tengah halaman. Kehadiran dua sandal jerami raksasa di gerbang melambangkan perlindungan bagi kaki para peziarah, sebuah detail yang sangat relevan bagi mereka yang telah berjalan ratusan kilometer.
Kuil Zentsū-ji (#75): Inti dari Legenda
Zentsū-ji di Prefektur Kagawa adalah situs kelahiran Kōbō Daishi dan merupakan salah satu kompleks kuil terbesar di Jepang. Area kuil dibagi menjadi dua bagian: Garan yang menampung bangunan-bangunan ritual utama seperti pagoda lima lantai setinggi 43 meter, dan Tanjōin yang dibangun di atas bekas kediaman keluarga Kūkai. Di sini, arsitektur berfungsi sebagai narasi biografi; Aula Mieidō dibangun tepat di atas tempat lahir sang master, memberikan rasa kedekatan fisik yang luar biasa bagi para pengikutnya.
Kuil Ōkubo-ji (#88): Puncak Pencapaian
Kuil terakhir di pegunungan Kagawa adalah tempat di mana peziarah merayakan akhir dari perjalanan mereka. Ōkubo-ji sering dipenuhi oleh suasana emosional saat peziarah meletakkan tongkat mereka di kuil sebagai simbol bahwa perjalanan mereka telah selesai. Secara arsitektural, kuil ini menyatu dengan tebing-tebing batu di belakangnya, menciptakan kesan bahwa bangunan tersebut muncul secara alami dari lanskap pegunungan, simbol dari penyatuan akhir antara manusia dan alam.
Dinamika Modern: Manajemen Logistik, Biaya, dan Teknologi
Meskipun ziarah ini memiliki akar kuno, praktiknya di abad ke-21 sangat dipengaruhi oleh perubahan ekonomi dan teknologi. Memahami logistik modern sangat penting bagi siapa pun yang ingin merencanakan perjalanan yang sukses dan bermakna.
Struktur Biaya dan Perubahan 2024-2025
Melakukan ziarah membutuhkan perencanaan finansial yang matang. Sejak April 2024, terjadi kenaikan biaya resmi untuk mendapatkan cap kuil (nokyo) dari 300 yen menjadi 500 yen per kuil. Kenaikan ini, yang pertama dalam beberapa dekade, dipicu oleh meningkatnya biaya pemeliharaan bangunan bersejarah dan penurunan sumbangan dari penduduk lokal akibat penuaan populasi.
| Kategori Pengeluaran | Estimasi Biaya (Yen) | Catatan Penting |
| Cap Kuil (88 Kuil) | 44.000 | 500 yen per cap mulai April 2024. |
| Akomodasi (Per Malam) | 6.000 – 9.000 | Termasuk makan malam dan sarapan (Minshuku/Ryokan). |
| Perlengkapan Awal | 10.000 – 15.000 | Tongkat, jubah putih, topi, buku cap, osamefuda. |
| Makanan Siang & Snack | 1.000 – 1.500 | Sering kali membeli di minimarket (Konbini). |
| Transportasi (Opsional) | Bervariasi | Kereta gantung ke kuil gunung berkisar 1.000-2.000 yen. |
Total biaya untuk perjalanan berjalan kaki selama 40-50 hari diperkirakan mencapai 400.000 hingga 600.000 yen, termasuk tiket pesawat dan penginapan di Gunung Kōya. Anggaran ini dapat ditekan dengan menggunakan akomodasi gratis seperti Zenkonyado atau berkemah, meskipun ini membutuhkan peralatan tambahan dan ketahanan fisik yang lebih tinggi.
Rekomendasi Peralatan dan Musim
Pemilihan sepatu adalah keputusan paling krusial bagi seorang peziarah. Karena rute Shikoku 85% terdiri dari aspal keras dan 15% jalur hutan pegunungan, sepatu lari dengan bantalan yang sangat baik atau sepatu hiking ringan lebih disarankan daripada sepatu boot gunung yang berat. Banyak peziarah berpengalaman merekomendasikan penggunaan kaus kaki lima jari untuk mengurangi gesekan antar jari kaki dan mencegah blister.
Musim semi (Maret-Mei) adalah waktu yang ideal karena bunga sakura sedang mekar dan suhu berkisar antara 10°C hingga 22°C, namun ini juga merupakan musim puncak di mana penginapan harus dipesan jauh-jauh hari, terutama selama “Golden Week” di akhir April. Musim gugur (Oktober-November) menawarkan pemandangan daun maple yang indah dan cuaca yang stabil, menjadikannya pilihan favorit kedua. Sebaliknya, musim panas sangat tidak direkomendasikan karena kelembapan yang mencekik dan risiko serangan panas, sementara musim dingin membawa tantangan berupa salju di prefektur Tokushima dan Ehime yang dapat menutup akses jalan setapak.
Peran Teknologi Digital
Aplikasi seluler telah merevolusi cara peziarah menavigasi rute. “Henro Helper” dan “Ohenro 88” adalah dua aplikasi yang paling sering digunakan, menyediakan peta GPS yang membedakan antara rute utama yang sibuk (merah) dan rute jalan kaki yang tenang (hijau). Aplikasi ini juga sangat penting untuk menemukan fasilitas yang sulit dicari di daerah pedesaan, seperti toilet umum yang bersih, keran air minum, dan lokasi penginapan Zenkonyado. Penggunaan teknologi ini membantu mengurangi kecemasan logistik, memungkinkan peziarah untuk lebih fokus pada refleksi batin mereka.
Bekkaku 20 dan Bangai: Dimensi Ekstra-Ordinary
Selain 88 kuil resmi, terdapat 20 kuil Bekkaku (yang berarti “di luar peringkat” atau “istimewa”) yang secara kolektif membentuk Ziarah 108 Kuil jika digabungkan dengan rute utama. Angka 108 adalah angka suci dalam Buddhisme yang melambangkan penghapusan 108 jenis nafsu duniawi. Kuil-kuil Bekkaku ini sering kali memiliki hubungan sejarah yang lebih intim dengan episode kehidupan spesifik Kōbō Daishi yang tidak terwakili dalam 88 kuil utama.
Misalnya, Bekkaku #8 di bawah jembatan dipercaya sebagai tempat di mana Kūkai pernah tidur saat menderita kelaparan, memberikan landasan bagi tradisi tidak mengetukkan tongkat di jembatan. Bekkaku #20 dekat Kuil 88 adalah tempat terakhir yang sering dikunjungi peziarah sebelum meninggalkan pulau. Mengunjungi kuil-kuil tambahan ini menambah sekitar 300 kilometer pada perjalanan total, namun bagi banyak peziarah, ini memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang geografi suci Shikoku.
| Prefektur | Jumlah Bekkaku | Signifikansi Tambahan |
| Tokushima | 4 Kuil | Fokus pada mukjizat awal dan penyembuhan masyarakat. |
| Kōchi | 1 Kuil | Terkait dengan meditasi mendalam di wilayah pesisir. |
| Ehime | 7 Kuil | Lokasi di mana Daishi melakukan rekayasa air dan pertanian. |
| Kagawa | 8 Kuil | Situs yang terkait dengan keluarga asli dan masa kecil Daishi. |
Sintesis: Relevansi Ziarah di Abad ke-21
Ziarah Shikoku berdiri sebagai anomali yang indah di tengah masyarakat Jepang yang sangat terteknologi dan sekuler. Analisis terhadap rute ini menunjukkan bahwa ia berfungsi sebagai katup pengaman sosial, memberikan ruang bagi individu untuk “keluar” sejenak dari tuntutan produktivitas tanpa akhir dan kembali ke ritme biologis yang lebih lambat. Ketenangan batin yang ditawarkan bukanlah produk dari isolasi total, melainkan hasil dari interaksi dinamis antara perjuangan fisik, dukungan komunitas (osetai), dan keterhubungan dengan sejarah melalui figur Kōbō Daishi.
Bagi peziarah modern, tantangan sesungguhnya bukanlah jarak 1.200 kilometer, melainkan kemampuan untuk membawa “pikiran peziarah”—yang penuh dengan rasa syukur, kesabaran, dan keterbukaan—kembali ke kehidupan sehari-hari mereka setelah ziarah selesai. Peningkatan minat internasional terhadap Henro menunjukkan bahwa kebutuhan akan transformasi eksistensial semacam ini bersifat universal, melampaui batas-batas agama dan budaya. Shikoku, dengan rute 88 kuilnya, akan terus menjadi “laboratorium roh” di mana setiap orang, dengan tongkat di tangan dan pakaian putih di badan, dapat berjalan menuju versi diri mereka yang lebih tenang dan lebih bijaksana.


