Loading Now

Tanah yang Menyatukan: Menjelajahi Destinasi Suci Bagi Berbagai Keyakinan

Fenomena situs suci bersama merupakan salah satu manifestasi paling kompleks dari pluralisme agama dalam sejarah peradaban manusia. Dalam lanskap global yang sering kali terfragmentasi oleh identitas sektarian, keberadaan ruang-ruang di mana berbagai keyakinan bertemu, berinteraksi, dan bahkan berbagi ritual yang sama menawarkan perspektif mendalam mengenai plastisitas identitas keagamaan dan potensi koeksistensi manusia. Situs suci bersama didefinisikan sebagai tempat-tempat yang dianggap keramat oleh anggota dari berbagai kelompok agama, etnis, atau nasional, di mana kehadiran fisik yang berdampingan memaksa para penganutnya untuk melakukan mediasi dan negosiasi terhadap perbedaan mereka. Analisis ini mengeksplorasi bagaimana tanah-tanah suci tertentu di seluruh dunia tidak hanya berfungsi sebagai pusat peribadatan, tetapi juga sebagai laboratorium sosial di mana toleransi dinegosiasikan melalui praktik keseharian, arsitektur, dan narasi sejarah yang tumpang tindih.

Landasan Filosofis dan Historis Situs Suci Bersama

Secara historis, konsep berbagi ruang suci memiliki akar yang sangat dalam, terutama di kawasan Mediterania dan Timur Tengah. Kronik dari tiga agama Abrahamik utama—Yudaisme, Kekristenan, dan Islam—penuh dengan contoh keramah-tamahan, koeksistensi, dan toleransi meskipun berada di tengah perjuangan spiritual dan etnis yang intens. Salah satu episode krusial yang mendasari filosofi ini adalah kisah Abraham (Ibrahim) yang menjamu tiga pengunjung misterius di bawah pohon ek Mamre, sebuah narasi yang diakui baik dalam Alkitab maupun Al-Qur’an sebagai simbol keterbukaan terhadap “yang lain”.

Dalam perspektif sosiologis, situs suci bersama berfungsi sebagai arena di mana identitas yang berbeda dapat hidup berdampingan, mengakomodasi kebutuhan religius satu sama lain, dan menegosiasikan “keberbedaan” di ruang publik. Ruang-ruang ini sering kali menjadi titik konvergensi bagi doa, harapan, dan kontemplasi, di mana tokoh-tokoh suci tertentu dipercaya menghuni ruang tersebut untuk memberikan perlindungan lintas iman. Meskipun sering kali dibayangi oleh potensi konflik, situs-situs ini menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola melalui “koreografi praktis” yang memungkinkan komunitas yang berbeda untuk berinteraksi tanpa harus kehilangan identitas unik mereka.

Sejarah Koeksistensi di Era Ottoman

Sejarah Kekaisaran Ottoman memberikan banyak bukti material mengenai pengelolaan situs suci bersama. Selama masa awal kekaisaran, sultan-sultan Ottoman menunjukkan toleransi yang signifikan terhadap populasi Kristen yang telah menetap, didorong oleh kebutuhan demografis dan pengaruh dari tokoh-tokoh sufi yang terbuka terhadap keberagaman. Praktik kolonisasi Ottoman sering kali melibatkan penempatan pemukim Muslim di samping hamparan Kristen, pendirian pondok-pondok sufi (tekke) yang menyediakan dapur umum terbuka bagi semua orang tanpa memandang agama, serta pemeliharaan gereja-gereja yang tetap diizinkan untuk berfungsi.

Meskipun banyak gereja diubah menjadi masjid, dalam banyak kasus, komunitas Kristen tetap diberikan ruang untuk berdoa di dalam bangunan yang telah dikonversi tersebut. Hal ini menciptakan kebiasaan di mana umat Muslim sering kali berpaling atau membiarkan praktik Kristen berlanjut secara informal. Sebaliknya, umat Muslim yang tertarik pada manfaat spiritual atau kemanjuran penyembuhan dari tokoh suci tertentu sering kali masuk ke gereja untuk berdoa bersama umat Kristen.

Yerusalem: Episentrum Iman dan Kontestasi Ruang

Yerusalem berdiri sebagai titik fokus paling signifikan dalam wacana tanah yang menyatukan. Kota ini dianggap suci oleh tiga agama besar karena lapisan sejarahnya yang luar biasa, di mana setiap jengkal tanahnya menyimpan memori religius yang tumpang tindih. Signifikansi teologis Yerusalem menciptakan daya tarik spiritual yang tak tertandingi, namun juga menjadikannya pusat ketegangan geopolitik yang memerlukan pengelolaan ruang secara sangat hati-hati.

Signifikansi Teologis Yudaisme, Kekristenan, dan Islam

Bagi umat Yahudi, Yerusalem adalah pusat spiritual absolut. Fokus utama adalah kompleks Bait Suci, di mana Tembok Barat atau Tembok Ratapan (Kotel) berdiri sebagai satu-satunya sisa dari Bait Suci Kedua yang dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 M. Tembok ini adalah lokasi paling suci yang dapat diakses oleh umat Yahudi saat ini, tempat di mana jutaan orang datang untuk menangis, berdoa, dan menyelipkan catatan doa di celah-celah batu.

Umat Kristen memandang Yerusalem sebagai panggung utama kehidupan Yesus Kristus. Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre) diyakini berdiri di atas lokasi penyaliban (Golgota) dan makam Yesus. Situs ini menjadi pusat ziarah global di mana berbagai denominasi Kristen, termasuk Katolik, Ortodoks, dan Protestan, bertemu untuk memperingati kebangkitan Kristus.

Dalam tradisi Islam, Yerusalem dikenal sebagai Al-Quds. Signifikansinya berakar pada status Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam dan lokasi peristiwa Isra Mi’raj. Kubah Batu (Dome of the Rock), yang dibangun pada abad ke-7 di atas reruntuhan Bait Suci Yahudi, merupakan monumen Muslim tertua di dunia dan menjadi simbol keagungan Islam di kota tersebut.

Dinamika Sejarah dan Perjanjian Damai

Sejarah kekuasaan Islam di Yerusalem dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khattab tahun 636 M. Umar memasuki kota tersebut tanpa peperangan dan diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Perjanjian antara Umar dan Uskup Agung Sophronius menjamin perlindungan bagi tempat-tempat suci Kristen, kebebasan beragama, dan keamanan bagi warga Kristen dan Yahudi. Perjanjian ini menjadi fondasi bagi masa damai yang berlangsung selama lima abad di mana ketiga komunitas agama hidup berdampingan secara relatif harmonis.

Nama Situs Afiliasi Utama Makna Penting
Tembok Ratapan Yahudi Sisa Bait Suci Kedua, simbol kerinduan dan doa
Gereja Makam Suci Kristen Lokasi penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus
Masjid Al-Aqsa Islam Kiblat pertama, situs perjalanan Isra Mi’raj
Kubah Batu Islam Monumen Muslim tertua, lokasi pijakan Mi’raj

Gunung Sinai: Titik Pertemuan Wahyu dan Perlindungan

Gunung Sinai, yang terletak di Semenanjung Sinai, Mesir, merupakan contoh luar biasa lainnya dari tanah yang menyatukan berbagai keyakinan melalui narasi kenabian yang sama. Dikenal sebagai Jebel Musa oleh umat Islam dan Gunung Horeb dalam tradisi Alkitab, puncak ini diyakini sebagai tempat di mana Nabi Musa menerima Sepuluh Perintah Allah.

Biara Santa Katarina dan Integrasi Islam-Kristen

Di kaki Gunung Sinai berdiri Biara Santa Katarina, biara Kristen tertua yang masih dihuni secara terus-menerus sejak didirikan oleh Kaisar Justinian I antara tahun 548 dan 565 M. Situs ini dianggap suci oleh Yahudi, Kristen, dan Islam karena keberadaan “Semak Berduri yang Terbakar” (Burning Bush) dan Sumur Musa, di mana Musa bertemu dengan calon istrinya, Zipporah.

Salah satu fitur paling unik dari biara ini adalah keberadaan sebuah masjid Fatimiyah yang dibangun pada tahun 1106 M di dalam benteng biara. Kehadiran masjid ini bukan sekadar bukti toleransi sejarah, tetapi juga strategi cerdik para biarawan untuk melindungi biara dari potensi ancaman penguasa Muslim di masa lalu dengan menunjukkan loyalitas kepada otoritas Islam. Para biarawan Ortodoks Yunani di Sinai telah lama hidup berdampingan dengan suku Baduy Muslim setempat, yang telah bertindak sebagai penjaga biara selama berabad-abad.

Warisan Intelektual dan Koleksi Naskah

Perpustakaan Biara Santa Katarina diakui oleh Guinness World Records sebagai perpustakaan tertua di dunia yang masih beroperasi secara berkelanjutan. Perpustakaan ini menyimpan koleksi manuskrip dan kodeks Kristen awal terbesar kedua setelah Vatikan, termasuk Codex Sinaiticus dan Syriac Sinaiticus. Selain itu, biara ini menampung koleksi ikon Kristen awal yang luar biasa, termasuk gambaran tertua yang diketahui tentang Christ Pantocrator, yang menggambarkan sifat ganda Kristus sebagai Tuhan dan manusia. Signifikansi global ini membuat UNESCO menetapkan kawasan Santa Katarina sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2002.

Puja Mandala: Eksperimen Modern Pluralisme di Indonesia

Di Indonesia, semangat tanah yang menyatukan bermanifestasi secara konkret dalam pembangunan kompleks Puja Mandala di Nusa Dua, Bali. Berbeda dengan Yerusalem atau Sinai yang terbentuk secara organik melalui sejarah ribuan tahun, Puja Mandala adalah proyek yang sengaja direncanakan untuk mencerminkan moto nasional “Bhinneka Tunggal Ika”.

Sejarah dan Latar Belakang Pembangunan

Didirikan pada tahun 1994 atas gagasan Joop Ave, Puja Mandala awalnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi wisatawan dan pekerja pendatang di kawasan pariwisata Nusa Dua. Kompleks seluas 2,5 hektar ini menampung lima tempat ibadah dari lima agama resmi yang diakui Indonesia pada saat itu, yang berdiri berdampingan dalam satu barisan tanpa sekat fisik yang memisahkan mereka.

Lima bangunan tersebut adalah:

  1. Masjid Agung Ibnu Batutah:Dibangun pertama kali, masjid ini memiliki atap tumpang susun bergaya limas tradisional Jawa dan dinamai menurut ulama penjelajah asal Maroko.
  2. Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa:Memiliki menara tunggal, namanya diilhami dari penampakan Bunda Maria di Amsterdam sebagai “Bunda Para Bangsa,” mencerminkan jemaatnya yang heterogen.
  3. Gereja Kristen Protestan Bukit Doa:Unik karena mengintegrasikan ornamen tradisional Bali pada dinding dan menara loncengnya, menunjukkan inkulturasi iman dalam budaya lokal.
  4. Vihara Buddha Guna:Diresmikan pada tahun 2000, bangunan ini kaya dengan ornamen putih dan emas serta patung gajah putih, mencerminkan sifat kebijaksanaan dan kasih sayang Buddha.
  5. Pura Jagatnatha:Sebagai representasi Hindu Bali, pura ini dibangun dengan batu hitam dan gapura yang megah, menjadi rumah ibadah terakhir yang diresmikan dalam kompleks tersebut pada tahun 2005.

Mekanisme Pengelolaan dan Toleransi Aktif

Pengelolaan Puja Mandala melibatkan koordinasi harian antar tokoh agama untuk memastikan kegiatan ibadah tidak saling mengganggu secara akustik maupun logistik. Misalnya, jadwal penggunaan pengeras suara diatur sedemikian rupa, dan selama hari-hari besar seperti Nyepi yang terkadang bertepatan dengan perayaan agama lain, dilakukan negosiasi untuk menjaga kekhusyukan ritus masing-masing. Petugas keamanan sering kali berasal dari latar belakang agama yang berbeda dari situs yang mereka jaga, yang memperkuat rasa kepemilikan kolektif atas ruang suci tersebut.

Fasilitas Deskripsi Operasional
Jam Operasional 08.00 – 16.00 WITA (Wisatawan); 24 Jam (Ibadah)
Tiket Masuk Gratis (Donasi sukarela disarankan)
Kapasitas Parkir Luas, mampu menampung banyak mobil dan bus
Etika Kunjungan Pakaian sopan, melepas alas kaki di area suci, menjaga ketenangan

Akulturasi Arsitektural: Warisan Sunan Kudus

Dalam konteks sejarah Islam di Nusantara, konsep tanah yang menyatukan tercermin dalam arsitektur Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah. Masjid ini merupakan monumen penting yang menunjukkan bagaimana Islam diintegrasikan ke dalam masyarakat Hindu-Buddha melalui adaptasi budaya yang damai.

Filosofi Arsitektur dan Strategi Dakwah

Menara Masjid Kudus, dengan ketinggian 18 meter dan dasar 10 x 10 meter, memiliki bentuk yang identik dengan candi Hindu Jawa Timur atau bangunan Bale Kulkul di Bali. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) secara sengaja menggunakan elemen-elemen ini untuk menarik simpati masyarakat yang saat itu masih kuat memegang tradisi Hindu-Buddha. Puncak menara dihiasi dengan atap tajug bertingkat yang menyerupai atap meru di pura Hindu.

Salah satu bukti paling nyata dari toleransi Sunan Kudus adalah pelarangan penyembelihan sapi di wilayah Kudus sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan umat Hindu. Sebagai gantinya, masyarakat Kudus menggunakan daging kerbau untuk kuliner khas mereka, sebuah praktik yang tetap lestari hingga hari ini dalam bentuk soto Kudus dan sate kerbau. Di dalam kompleks masjid, terdapat delapan pancuran tempat wudhu yang dihiasi ornamen mirip arca, yang diyakini mengadopsi ajaran “Delapan Jalan Kebenaran” (Asta Sanghika Marga) dari agama Buddha.

Makna Simbolis dan Nilai Multikultural

Masjid Menara Kudus bukan sekadar bangunan peribadatan, tetapi merupakan simbol Islam yang toleran dan damai, menyangkal narasi Barat bahwa Islam disebarkan melalui kekerasan. Nama kota “Kudus” sendiri konon berasal dari “Baitul Maqdis” di Palestina, setelah Sunan Kudus membawa batu dari sana sebagai kenang-kenangan. Kompleks ini menjadi pusat ziarah harian di mana nilai-nilai multikulturalisme dipraktikkan melalui tradisi seperti “Buka Luwur” atau penggantian kelambu makam Sunan Kudus setiap tanggal 10 Muharram yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah.

Tanah Lot dan Spiritualitas Pesisir Bali

Di pesisir barat Bali, Pura Tanah Lot berdiri sebagai ikon ketahanan budaya dan spiritualitas yang menyatukan manusia dengan alam. Terletak di atas batu karang besar di tengah laut, pura ini merupakan bagian dari Pura Kahyangan Jagat di Bali yang sangat disucikan.

Legenda, Alam, dan Keamanan Spiritual

Pura Tanah Lot dikelilingi oleh gua-gua karang yang menjadi habitat bagi ular-ular laut jinak. Menurut kepercayaan setempat, ular-ular ini adalah penjaga kawasan suci milik dewa yang mendiami pura, sehingga keberadaan mereka sangat dihormati dan dilarang diganggu. Nilai spiritual pura ini diperkuat dengan ritual penyucian di mata air suci Beju Kaler yang terletak di bawah tebing karang, di mana umat Hindu membersihkan diri sebelum bersembahyang di pura utama.

Selain fungsi religiusnya, Tanah Lot adalah destinasi wisata global yang terkenal karena siluet puranya saat matahari terbenam. Fenomena ini menarik wisatawan dari berbagai latar belakang keyakinan yang datang bukan hanya untuk tujuan spiritual, tetapi juga untuk mengagumi harmoni antara arsitektur suci dan keagungan alam. Keberhasilan Bali dalam menjaga situs-situs suci seperti Tanah Lot, Uluwatu, dan Ulun Danu Beratan menunjukkan bagaimana manajemen pariwisata berbasis budaya dapat memperkuat identitas lokal sekaligus membuka diri terhadap dunia luar.

Dinamika Situs Suci Bersama di Balkan dan Anak Benua India

Di luar Asia Tenggara dan Timur Tengah, fenomena situs suci bersama juga ditemukan secara luas di wilayah Balkan dan Anak Benua India, di mana identitas tokoh suci sering kali bersifat cair dan melampaui batas dogma formal.

Sinkretisme dan Identitas Ganda di Balkan

Di kawasan Balkan, dinamika situs suci sering kali bersifat “paralel.” Contoh yang paling menonjol adalah situs Saint Naum di Makedonia Utara. Umat Kristen Ortodoks menghormati tempat tersebut sebagai makam Santo Naum, sementara umat Muslim Bektashi meyakini bahwa tokoh suci mereka, Sari Saltuk, dimakamkan di sana. Sejak abad ke-18, umat Muslim telah melakukan perjalanan haji ke biara ini dengan toleransi dari pihak gereja Ortodoks yang mengelola situs tersebut.

Fenomena serupa ditemukan di Albania, di mana identitas Santo Spyridon sering kali tumpang tindih dengan Sari Saltuk. Umat Muslim sering kali memuja ikon Santo Spyridon dengan menghilangkan penanda salib secara mental, namun tetap mempertahankan atribut lain seperti topi gembala yang dianggap mewakili keberkahan (bereket) Sari Saltuk.

Budaya Trans-Religius di India dan Bangladesh

Di India dan Bangladesh, banyak tempat suci Sufi (dargah) yang menarik pengikut lintas iman. Situs-situs ini sering kali berfungsi sebagai ruang terbuka di mana hambatan komunal dilampaui melalui keyakinan bersama akan kekuatan penyembuhan sang wali.

  • Ajmer Sharif (India):Menarik jutaan peziarah Muslim, Hindu, dan Sikh. Dapur umum (langar) di sana hanya menyajikan makanan vegetarian untuk memastikan semua penganut agama dapat berpartisipasi dalam perjamuan bersama.
  • Bayazid Bistami (Bangladesh):Peziarah dari berbagai agama memberikan persembahan kepada kura-kura suci yang dipercaya memiliki sifat restoratif.
  • Jinn Dargah di Firoz Shah Kotla (Delhi):Situs unik di mana umat Muslim, Hindu, dan Kristen mencari bantuan spiritual dari “wali jin” setiap hari Kamis.
Kawasan Situs Spesifik Dinamika Inter-Religius
Balkan Saint Naum Identitas ganda tokoh suci (Naum vs Sari Saltuk)
India Ajmer Sharif Inklusivitas melalui diet vegetarian dan festival bersama
Bangladesh Khan Jahan Ali Penghormatan lintas iman terhadap buaya suci di kolam kuil
India Firoz Shah Kotla Budaya trans-religius melalui ritual “wali jin”

Landmark Suci Global dan Destinasi Ziarah Utama

Dalam skala global, terdapat destinasi suci tertentu yang menjadi simbol identitas mutlak bagi agama-agama tertentu, namun keberadaannya tetap menarik minat dunia sebagai warisan budaya kemanusiaan yang agung.

Pusat-Pusat Iman yang Ikonik

Mecca (Makkah) berdiri sebagai kota paling suci bagi umat Islam, tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW, di mana setiap Muslim yang mampu diwajibkan melakukan ziarah haji sekali seumur hidup. Sebaliknya, Vatikan merupakan pusat Gereja Katolik Roma yang menampung Basilika Santo Petrus dan makam Paus pertama, menarik jutaan peziarah dan pecinta seni dari seluruh dunia.

Di Asia Selatan, Lumbini di Nepal dihormati sebagai tempat lahirnya Siddharta Gautama (Sang Buddha), sementara Kuil Emas (Harmandir Sahib) di Amritsar, India, adalah situs tersuci Sikhisme yang dilapisi daun emas dan marmer. Situs-situs ini menunjukkan bagaimana ruang fisik dapat menjadi wadah bagi aspirasi spiritual yang mendalam, membentuk sejarah, dan menjadi tujuan perjalanan seumur hidup bagi para penganutnya.

Tantangan Sosiologis dan Masa Depan Situs Suci Bersama

Meskipun situs suci bersama menawarkan narasi harapan tentang toleransi, pengelolaannya di era modern menghadapi berbagai tantangan kompleks yang dipelajari dalam sosiologi agama.

Konflik, Ortodoksi, dan Homogenitas

Sosiologi agama mencatat bahwa meskipun secara doktrinal banyak agama mengajarkan cinta dan kerukunan, secara sosiologis agama sering kali dijadikan sumber konflik karena faktor agresivitas berlebihan terhadap pemeluk agama lain atau politisasi identitas. Tantangan terbesar saat ini adalah munculnya gerakan yang mendorong homogenitas agama atau nasional, yang sering kali berusaha menghapus praktik berbagi ritual di situs-situs suci yang dianggap sebagai sinkretisme yang tidak murni.

Di Yerusalem, perselisihan atas kepemilikan dan akses ke Tembok Barat dan kompleks Al-Aqsa telah menjadi pemicu ketegangan selama berabad-abad, terutama sejak Mandat Inggris dan pembentukan negara Israel. Konflik bersenjata dan ketegangan politik sering kali mengganggu arus ziarah, meskipun data menunjukkan bahwa iman yang mendalam sering kali mendorong peziarah untuk tetap berkunjung meskipun dalam kondisi risiko tinggi.

Peran Teknologi dan Generasi Milenial

Di era industri 4.0, tantangan bagi pengelola situs suci adalah bagaimana menjaga relevansi nilai-nilai tradisional di tengah perubahan gaya hidup masyarakat milenial. Teknologi internet memudahkan akses terhadap konten keagamaan, namun juga dapat menyebarkan narasi radikalisme yang mengancam kohesi sosial di situs-situs bersama. Oleh karena itu, diperlukan strategi aktual dan bertanggung jawab dari lembaga keagamaan untuk menjembatani tradisi dengan kebutuhan spiritual kontemporer.

Psikologi dan Dampak Ekonomi Ziarah Lintas Agama

Ziarah ke tanah suci bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual mendalam yang memperkuat koneksi manusia dengan Tuhan dan sesama. Survei menunjukkan bahwa sekitar 85% peziarah menganggap kunjungan ke “Tanah Suci” sebagai pengalaman yang sangat berarti, terlepas dari kondisi keamanan yang ada.

Solidaritas dan Kesejahteraan Lokal

Banyak peziarah merasakan tanggung jawab moral untuk mendukung situs-situs suci yang terancam konflik sebagai bentuk solidaritas terhadap penduduk lokal. Kehadiran peziarah secara ekonomi membantu menjaga keberlangsungan tradisi dan kebudayaan lokal melalui sektor pariwisata religi. Di tempat-tempat seperti Hebron dan Yerusalem, kehidupan terus berdenyut di tengah pembatasan gerak, di mana pasar tradisional dan interaksi peziarah menjadi simbol harapan yang tak pernah padam.

Sintesis: Tanah sebagai Platform Rekonsiliasi

Tanah yang menyatukan berbagai keyakinan membuktikan bahwa ruang fisik memiliki kekuatan untuk melampaui perbedaan dogmatis. Melalui mekanisme “koreografi suci,” manusia telah belajar untuk berbagi tempat yang paling mereka muliakan dengan mereka yang memiliki perspektif berbeda. Keberhasilan situs-situs seperti Puja Mandala di Bali atau Biara Santa Katarina di Sinai dalam mempertahankan harmoni selama berabad-abad memberikan pelajaran berharga bagi dunia yang saat ini masih sering terkoyak oleh kebencian sektarian.

Secara keseluruhan, eksplorasi terhadap destinasi suci bersama menunjukkan bahwa toleransi bukanlah hasil dari ketidakpedulian, melainkan hasil dari upaya sadar, negosiasi yang sulit, dan penghargaan mendalam terhadap kemanusiaan yang sama di bawah payung iman yang beragam. Keberadaan tanah-tanah ini merupakan pengingat abadi bahwa di balik perbedaan ritual dan nama Tuhan, terdapat kerinduan manusiawi yang universal akan kedamaian, perlindungan, dan makna hidup yang lebih tinggi. Pelestarian situs-situs ini bukan hanya tugas satu kelompok agama, melainkan tanggung jawab kolektif umat manusia untuk menjaga warisan perdamaian yang telah dirajut oleh para pendahulu melalui kearifan arsitektural dan sosial yang luar biasa.