Representasi Minoritas di Hollywood 2024: Analisis Volatilitas, Krisis Latinx, dan Sumbatan Struktural di Eselon Kekuasaan
Industri hiburan Hollywood saat ini bergulat dengan kontradiksi yang signifikan: di satu sisi, terdapat narasi publik yang mengklaim kemajuan pesat dalam keragaman dan inklusi; di sisi lain, data empiris mengungkapkan bahwa structural gridlock dan volatilitas mendominasi lanskap representasi minoritas. Laporan ini memberikan analisis mendalam tentang status representasi Asia, Latinx, dan Afrika-Amerika/Black dalam peran utama, penghargaan kritis, dan posisi di belakang layar (Behind The Lens/BTL) sepanjang periode pelaporan terbaru (2023–2024).
Konteks industri menjadi semakin kompleks di mana upaya Keragaman, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) menghadapi serangan balik yang meningkat. Dorongan ini, yang datang dari konsumen, tuntutan hukum, dan bahkan perubahan kebijakan federal, menciptakan lingkungan yang semakin menantang bagi inisiatif inklusif jangka panjang. Studi terbaru, yang meninjau 100 film terlaris, menunjukkan bahwa meskipun banyak diskusi mengenai DEI, persepsi tentang Hollywood yang inklusif mungkin bersifat sefiktif seperti konten yang dijualnya.
Tesis utama laporan ini adalah bahwa kemajuan representasi di Hollywood, meskipun terlihat dalam beberapa kategori (terutama di depan layar untuk kelompok Black/Afrika-Amerika), sebagian besar bersifat rapuh, belum terinstitusionalisasi, dan dicirikan oleh upaya permukaan yang gagal untuk mengatasi structural gridlock di eselon kekuasaan. Fokus analisis ini adalah untuk secara tajam membedakan pola inklusi yang berbeda di antara komunitas Asia, Latinx, dan Afrika-Amerika, di mana tingkat disparitas dan pola kemajuan menunjukkan bahwa tidak semua minoritas mendapat manfaat yang sama dari upaya keragaman yang ada.
Definisi Kritis: Diferensiasi Tokenisme vs. Representasi Struktural
Untuk menganalisis kemajuan representasi secara bernuansa, penting untuk membedakan antara tokenisme dan representasi bermakna. Tokenisme didefinisikan sebagai inklusi minimalistik, yang seringkali dilakukan sebagai bentuk placation atau peredaan. Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa studio atau proyek telah mencapai ambang batas keragaman yang dapat diterima secara sosial, tanpa memberikan kekuasaan naratif atau pengambilan keputusan yang substansial kepada kelompok yang diwakilinya.
Dalam konteks industri film, tokenisme termanifestasi ketika studio mengandalkan satu atau dua bintang A-list minoritas yang mapan untuk memimpin proyek beranggaran besar (sebuah investasi citra publik yang aman), sambil mengabaikan perlunya perubahan sistemik dalam merekrut penulis, sutradara, dan produser minoritas.
Sebaliknya, Representasi Bermakna (Struktural) memerlukan tiga dimensi krusial:
- Proporsionalitas Kuat: Keterwakilan yang mendekati atau melebihi persentase kelompok minoritas dalam populasi AS (yang saat ini diperkirakan lebih dari 41.6% untuk kelompok ras/etnis yang kurang terwakili—UR). Proporsionalitas ini harus diukur baik di depan layar maupun di posisi BTL.
- Kedalaman Kualitatif: Karakter minoritas harus diizinkan untuk melampaui stereotip generik. Narasi harus kompleks dan memungkinkan karakter untuk menjadi individu yang unik, bukan sekadar simbol rasial atau beban representasi.
- Kekuatan Struktural: Keterlibatan minoritas harus meluas ke posisi pengambilan keputusan tingkat eksekutif. Tanpa keragaman di antara para CEO dan Studio Chair, inisiatif keragaman akan selalu bersifat sukarela dan rentan terhadap perubahan sentimen pasar.
Wawasan dan Implikasi Bagian I: Mengapa Tokenisme Bertahan
Fakta bahwa lingkungan politik dan hukum semakin menantang inisiatif DEI secara eksplisit  memiliki dampak yang mendalam pada keputusan strategis studio. Studio cenderung mencari cara untuk meminimalkan risiko citra sambil memenuhi tuntutan pasar. Penggunaan aktor minoritas yang sudah dikenal dalam peran utama merupakan strategi token yang aman untuk mempertahankan citra inklusif dan menarik audiens yang beragam. Ini adalah bentuk investasi yang terbatas.
Namun, investasi ini seringkali tidak berlanjut ke investasi struktural yang lebih dalam. Investasi jangka panjang dalam program inkubasi penulis atau sutradara minoritas—yang bersifat lebih berisiko secara finansial dan politik—mungkin dihindari. Dengan demikian, serangan terhadap DEI tidak serta merta membatalkan representasi yang terlihat di layar, tetapi secara efektif membekukan investasi struktural, menjebak kemajuan dalam siklus tokenisme yang rapuh.
Lebih jauh, resistensi Hollywood untuk menginstitusionalisasi DEI secara mendalam menyoroti kelemahan struktural dibandingkan dengan pesaing global. Sebagai contoh, “Hollywood Utara,” yaitu industri film di Toronto, telah merespons tuntutan keragaman dengan kerangka kerja industri yang didanai dan didorong oleh kebijakan, seperti Program Jalur Industri Layar xoTO. Toronto, dengan demikian, menggunakan pendekatan struktural yang bertujuan untuk menjadikan tenaga kerja lebih inklusif dan representatif terhadap keragaman etnis dan ras di kotanya. Ini menunjukkan bahwa perubahan struktural dapat didorong oleh kebijakan yang kuat, bukan hanya bergantung pada insentif pasar atau inisiatif sukarela yang sering terlihat di Hollywood.
Representasi di Layar Depan: Analisis Kuantitatif Peran Utama
Data kuantitatif dari tahun 2024 menunjukkan adanya pola inklusi yang sangat tidak merata dan tidak stabil, terutama dalam film-film terlaris secara teatrikal.
Analisis Film Teatrikal Teratas 2024 (USC Annenberg)
Analisis 100 film terlaris pada tahun 2024 mengungkapkan adanya volatilitas akut dalam representasi minoritas di peran utama (lead/co-lead). Jumlah film yang menampilkan pemeran utama dari kelompok ras/etnis yang kurang terwakili (UR) turun tajam, dari 37 judul pada tahun 2023 menjadi hanya 25 judul pada tahun 2024. Penurunan sebesar 32% dalam satu tahun ini menunjukkan bahwa kemajuan representasi di pasar film blockbuster tidak stabil dan mudah terbalik. Meskipun tahun 2024 masih lebih baik daripada tahun 2007 (dengan hanya 13 UR leads), angkanya tetap jauh di bawah persentase populasi AS yang kurang terwakili (41.6%).
Ketika melihat distribusi di antara 26 aktor unik yang memimpin atau ikut memimpin film-film ini, pola dominasi dan marginalisasi terlihat jelas:
- Dominasi Black/African American: Kelompok Black/African American mendominasi representasi UR leads, menyumbang 38.5% (n=10) dari aktor-aktor tersebut. Kelompok ini telah menunjukkan kemampuan terbaik untuk menembus peran sentral teatrikal, seringkali dalam film-film yang sukses secara komersial.
- Asia: Marginal dan Rentan: Representasi peran utama Asia mencapai 15.4% (n=4) dari UR leads. Meskipun merupakan peningkatan yang signifikan dari era sebelumnya, angka ini masih sangat rendah dibandingkan dengan proporsionalitas populasi. Keterwakilan ini seringkali rentan, bergantung pada kesuksesan satu atau dua proyek besar.
- Krisis Latinx: Kegagalan Sistemik: Komunitas Hispanic/Latino hanya menyumbang 3.9% (n=1) dari UR leads di 100 film teratas tahun 2024.3 Angka ini menggarisbawahi kegagalan total sistem casting dan pengembangan proyek studio arus utama untuk kelompok demografi terbesar yang kurang terwakili di Amerika Serikat. Kehadiran Latinx di peran utama teatrikal hampir tidak ada.
Representasi Peran di Platform Streaming 2023 (UCLA Report)
Platform streaming menunjukkan inklusi kolektif yang berbeda, yang terkait erat dengan model bisnis mereka yang berorientasi pada volume dan penargetan audiens yang beragam. Di segmen streaming, aktor Black, Indigenous, dan People of Color (BIPOC) secara kolektif mencapai representasi proporsional (45 persen) dalam peran utama di film-film streaming teratas pada tahun 2023.
Namun, detailnya mengungkapkan bahwa “keberhasilan” ini masih tidak merata ketika dipecah per kelompok:
- Black/African American dan MENA: Kedua kelompok ini berhasil menjadi overrepresented dalam total peran aktor streaming. Ini menunjukkan bahwa platform streaming telah menjadi sumber peluang volume yang penting bagi para aktor Black/African American.
- Asia: Kelompok Asia berada close to proportionate representation dalam total peran aktor streaming, sebuah indikasi bahwa mereka memiliki kehadiran yang lebih stabil di pasar volume dibandingkan dengan pasar blockbuster teatrikal.
- Latinx: Meskipun platform streaming secara kolektif mencapai keragaman yang lebih baik, kelompok Latinx terus menjadi severely underrepresented dalam total peran aktor streaming. Fakta ini menegaskan kembali krisis representasi mereka yang akut dan konsisten di seluruh spektrum industri, baik teatrikal maupun streaming.
Wawasan dan Implikasi Bagian II: Model Bisnis dan Tokenisme Akibat Risiko
Ketidakstabilan yang terlihat antara film teatrikal dan streaming dapat dijelaskan melalui model bisnis. Platform streaming menunjukkan keragaman yang lebih besar karena mereka bergantung pada volume konten yang besar dan harus menarik audiens yang sangat beragam untuk pertumbuhan langganan mereka. Keragaman di streaming adalah konsekuensi yang menguntungkan dari kebutuhan volume dan penjangkauan pasar, bukan semata-mata hasil dari perubahan nilai inti industri.
Sebaliknya, film teatrikal (100 film teratas) didorong oleh kebutuhan untuk meminimalkan risiko finansial dan memaksimalkan daya tarik global. Secara historis, ini telah menyebabkan konservatisme risiko yang dominan, di mana narasi yang dipimpin oleh aktor kulit putih atau Black/African American yang sudah teruji lebih disukai. Volatilitas akut (penurunan 32% UR leads pada 2024) adalah cerminan langsung dari konservatisme risiko ini.
Tingkat kegagalan yang parah untuk komunitas Latinx menunjukkan bahwa masalah mereka jauh lebih dalam daripada sekadar peluang casting. Data yang menempatkan Latinx di 3.9% peran utama teatrikal dan severely underrepresented di total peran streaming  menunjukkan masalah yang mengakar dalam pipeline bakat, kurangnya representasi agen, dan keengganan studio untuk mengakui potensi pasar Latinx. Komunitas Latinx adalah titik kegagalan sistemik yang paling jelas dalam upaya representasi Hollywood saat ini.
Untuk memudahkan perbandingan, data representasi peran utama disajikan di bawah:
Tabel Representasi Aktor Minoritas di Hollywood: Perbandingan Teatrikal (2024) vs. Streaming (2023)
| Kelompok Ras/Etnis | % dari UR Leads Teatrikal 2024 (n=26) | Status Total Aktor Streaming 2023 | Wawasan Kritis |
| Black/African American | 38.5% (n=10) | Overrepresented | Keterwakilan kuantitatif yang kuat di depan layar, tetapi memerlukan fokus BTL. |
| Asian | 15.4% (n=4) | Close to Proportionate | Rendah di peran utama teatrikal, menunjukkan ketergantungan pada tokenisme berbasis proyek. |
| Latinx/Hispanic | 3.9% (n=1) | Severely Underrepresented | Krisis representasi akut dan konsisten di seluruh format industri. |
Kualitas Representasi: Melampaui Stereotip dan Kedalaman Naratif
Representasi bermakna tidak hanya diukur dari kuantitas peran, tetapi juga dari kualitas dan kedalaman naratif karakter tersebut. Kehadiran di layar tidak otomatis berarti karakter tersebut bebas dari stereotip atau memiliki otonomi naratif.
Analisis Kualitatif Black/African American: Kemajuan yang Dilematis
Telah terjadi evolusi peran yang signifikan untuk aktor Black/Afrika-Amerika di abad ke-21. Peran mereka telah berkembang melampaui stereotip karakter antagonis atau pemain pendukung menjadi pemain utama dan karakter pahlawan sentral.Keberhasilan aktor Black/Afrika-Amerika di Box Office dan pengakuan penghargaan (seperti Oscar) menunjukkan bahwa industri bersedia menerima mereka dalam narasi arus utama.
Namun, kemajuan ini masih dilematis dan menghadapi batasan stereotip genre. Meskipun ada peningkatan signifikan dalam peran dramatis atau pahlawan yang kompleks, stereotip negatif masih dimanfaatkan, terutama dalam film bergenre komedi. Film komedi Hollywood sering kali menjadi genre yang paling banyak melibatkan aktor Black/Afrika-Amerika, tetapi stereotip tentang mereka sering dijadikan humor.
Persistensi stereotip menunjukkan bahwa narasi minoritas belum sepenuhnya “normal” atau bebas dari eksploitasi. Representasi yang bermakna mensyaratkan bahwa karakter dapat melampaui identitas rasial mereka menjadi cerita yang universal tanpa harus selalu membawa beban trauma atau representasi rasial yang kaku. Selama stereotip diabadikan (walaupun dalam bentuk yang lebih halus dalam komedi kontemporer), representasi tetap rentan terhadap tokenisme kualitatif.
Kedalaman Naratif Asia dan Latinx
Kurangnya kontrol naratif oleh komunitas Asia dan Latinx di belakang layar secara langsung membatasi kedalaman dan jangkauan peran mereka di depan layar.
Risiko Tokenisme Kualitatif Asia. Mengingat rendahnya representasi BTL Asia (hanya 3% sutradara dan penulis skenario streaming, seperti yang akan dibahas di Bagian IV), peran utama Asia yang sukses cenderung diizinkan hanya jika mereka beresonansi dengan narasi yang diasosiasikan secara budaya oleh establishment studio, atau jika mereka difilmkan oleh pembuat film kulit putih yang memenangkan penghargaan. Kondisi ini secara efektif membatasi jangkauan naratif yang diizinkan untuk dikembangkan oleh kelompok Asia itu sendiri. Ketika narasi Asia mendapatkan perhatian, mereka seringkali harus menyesuaikan diri dengan filter budaya yang dibuat oleh pengambil keputusan yang tidak beragam.
Dampak Krisis Latinx pada Kualitas. Kelangkaan parah peran Latinx utama (3.9% di teatrikal 3) menciptakan tekanan yang berlebihan pada setiap peran yang muncul. Karakter Latinx tunggal yang berhasil masuk ke peran utama sering kali mendapat ekspektasi untuk mewakili seluruh spektrum komunitas yang luas dan beragam. Keterbatasan ini menghambat kemampuan karakter Latinx untuk menjadi individu yang kompleks dengan kelemahan dan narasi yang tidak terkait langsung dengan identitas etnis mereka. Kegagalan untuk memiliki keragaman dan volume peran memastikan bahwa stereotip—atau representasi yang sangat sempit—akan lebih mudah muncul.
Wawasan dan Implikasi Bagian III: Korelasi Kekuatan Naratif
Data menunjukkan adanya korelasi langsung antara kurangnya kekuatan BTL dan bertahanannya tokenisme kualitatif. Jika penulis minoritas hanya menyumbang persentase minimal (misalnya 3% untuk Asia dan 7% untuk Latinx di streaming ), maka mayoritas skrip yang melibatkan karakter minoritas ditulis oleh penulis non-minoritas.
Kurangnya kontrol naratif ini memastikan bahwa Hollywood cenderung menyukai narasi minoritas yang “aman,” yang mudah dicerna oleh audiens mayoritas, atau yang sesuai dengan filter stereotip lama (seperti penggunaan humor yang mengeksploitasi stereotip Black/AA).
Perubahan kualitatif yang nyata, di mana karakter Asia, Latinx, atau Afrika-Amerika dapat tampil secara kompleks dan bebas dari beban representasi, hanya dapat dicapai melalui peningkatan substansial dan berkelanjutan dari penulis, produser, dan sutradara minoritas yang memiliki otonomi kreatif penuh. Selama struktur kreatif didominasi oleh penulis kulit putih (72% penulis streaming), narasi yang dikembangkan akan terus melalui filter homogen yang membatasi kedalaman representasi.
Kekuatan Struktural di Balik Layar (BTL) dan Kepemimpinan Eksekutif
Kegagalan untuk menginstitusionalisasi DEI berakar pada kurangnya kekuasaan pengambilan keputusan di eselon teratas. Representasi di belakang layar adalah metrik paling definitif untuk mengukur kemajuan struktural, dan data menunjukkan adanya structural gridlock yang stagnan.
Kesenjangan Kekuatan Eksekutif: Data Sumbatan Struktural
Posisi paling berpengaruh dalam industri—yang menentukan proyek mana yang akan dikembangkan, siapa yang akan direkrut di posisi BTL, dan berapa anggaran yang dialokasikan—adalah pekerjaan Studio Chair dan CEO. Analisis menunjukkan bahwa minoritas secara kolektif hanya memegang 8.0% dari pekerjaan Studio Chair dan CEO. Ini berarti 92% dari kepemimpinan studio berada di luar kelompok minoritas, sebuah tingkat homogenitas yang hampir total di puncak piramida kekuasaan.
Angka 8.0% ini adalah bukti paling jelas dari sumbatan struktural yang menghambat representasi minoritas di semua tingkatan. Tidak adanya keragaman di eselon atas berarti studio tidak memiliki insentif struktural untuk mengubah proses greenlighting atau alokasi anggaran secara mendasar. Keputusan strategis akan terus ditarik dari jaringan dan perspektif yang homogen, mempertahankan lingkaran homogenitas di tingkat BTL yang lebih rendah. Inilah yang menjelaskan mengapa kemajuan di depan layar (peran aktor) sangat rentan terhadap tokenisme—karena ia tidak didukung oleh perubahan di tingkat pengambilan keputusan.
Representasi Posisi Kreatif (Sutradara dan Penulis Skenario Streaming 2023)
Menganalisis peran Sutradara dan Penulis Skenario, terutama di sektor streaming (yang dianggap lebih inklusif daripada teatrikal), mengungkapkan kesenjangan yang serius ketika membandingkan keterwakilan kelompok minoritas dengan proporsionalitas populasi AS yang kurang terwakili (sekitar 43.6%).
Analisis film streaming teratas pada tahun 2023 menunjukkan angka-angka berikut:
Tabel Representasi BTL Minoritas: Film Streaming Teratas 2023
| Kelompok Ras/Etnis | % Sutradara (N=100 Film) | % Penulis Skenario (N=100 Film) | Disparitas Struktural |
| Black/African American | 13% | 12% | Tertinggi di antara minoritas, tetapi jauh di bawah proporsionalitas populasi. |
| Latinx/Hispanic | 8% | 7% | Kesenjangan serius, konsisten dengan krisis di depan layar. |
| Asian | 3% | 3% 7 | Representasi minimal, menunjukkan sumbatan kritis di pipeline kreatif. |
| Multiracial | 3% | 4% | |
| MENA | 3% | 1% | |
| Native | 1% | 1% | |
| BIPOC Total | 31% | 32% | Jauh di bawah proporsionalitas populasi AS (43.6%). |
| White | 69% | 72% | Dominasi mayoritas. |
Wawasan dan Implikasi Bagian IV: Kausalitas Eksekutif dan Tokenisme BTL
Data BTL ini memperkuat argumen bahwa tokenisme di layar depan adalah hasil langsung dari structural gridlock di belakang layar.
Keterkaitan BTL Asia dan Tokenisme di Layar: Representasi Asia di posisi sutradara dan penulis skenario yang hanya 3% 7 adalah angka yang sangat rendah. Dalam konteks industri yang didominasi oleh pencerita kulit putih (69% Sutradara, 72% Penulis), ini menjelaskan mengapa kehadiran Asia di layar depan (15.4% UR leads) sangat rentan. Kehadiran aktor Asia yang berhasil masuk ke peran utama adalah token yang tidak berkelanjutan, karena pipeline kreatif untuk menghasilkan cerita-cerita baru yang orisinal dan dipimpin oleh Asia tersumbat di hulu. Tanpa penulis dan sutradara Asia, alur cerita mereka akan bergantung pada izin dan visi orang luar.
Eksekutif sebagai Kausalitas Utama Tokenisme: Angka 8.0% eksekutif minoritas  adalah kausalitas utama yang menjelaskan mengapa angka BTL Latinx (7-8%) dan Asia (3%) begitu rendah. Eksekutif adalah penentu budaya perusahaan dan proses perekrutan. Jika kepemimpinan tetap homogen, mereka cenderung merekrut dari jaringan yang sudah ada, melanggengkan lingkaran homogenitas.
Perubahan BTL (di mana persentase BIPOC hanya mencapai 31-32%) tidak akan pernah mencapai proporsionalitas (43.6%) kecuali jika komposisi 8.0% eksekutif berubah secara radikal. Kegagalan Hollywood untuk mencapai hal ini menunjukkan bahwa industri tersebut lebih memilih placation (peredaan) publik daripada perubahan kekuasaan yang sesungguhnya.
Pengakuan Kritis dan Penghargaan (Awards)
Penghargaan berfungsi sebagai indikator penting pengakuan industri terhadap talenta minoritas, tetapi juga dapat bertindak sebagai mekanisme tokenisme yang kuat.
Studi Kasus Black/African American dan Gerbang Pengakuan
Komunitas Black/Afrika-Amerika memiliki sejarah sukses dalam mencapai pengakuan kritis, termasuk keberhasilan dalam meraih nominasi dan kemenangan Oscar. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ketika proyek minoritas mencapai standar naratif yang sangat tinggi dan relevan secara sosial, establishment industri bersedia memberikan validasi kritis kepada talenta Black/Afrika-Amerika.
Namun, analisis kritis harus mempertanyakan apakah pengakuan ini mencerminkan keragaman narasi yang luas atau hanya berfokus pada narasi yang tematiknya “aman” atau yang sesuai dengan pandangan establishment tentang isu rasial. Pengakuan ini seringkali diberikan pada proyek yang secara eksplisit membahas ras atau trauma, bukan pada pencerita yang mencari genre universal atau komersial tanpa beban representasi.
Kesenjangan Pengakuan Asia dan Latinx
Keterbatasan kritis yang dihadapi komunitas Asia dan Latinx dalam mendapatkan pengakuan industri bersifat struktural dan kuantitatif.
Latinx: Karena kekurangan parah dalam peran utama (3.9% ) dan peran BTL yang sangat rendah (7-8% ), komunitas Latinx secara statistik berada pada kerugian besar untuk mendapatkan nominasi. Penghargaan kritis di Hollywood secara efektif tidak tersedia bagi mereka karena kurangnya proyek high-profile dan pipeline kreatif yang stabil. Penghargaan tidak dapat mengakui talenta yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan proyek mereka.
Asia: Meskipun ada momen terobosan yang terkenal (seperti kemenangan besar proyek yang berfokus pada Asia), pengakuan ini sering terjadi dalam siklus yang tidak berkelanjutan. Keberhasilan ini cenderung dipimpin oleh studio independen atau proyek yang memiliki daya tarik budaya silang yang luar biasa, bukan sebagai hasil dari arus bakat yang stabil yang diproduksi oleh studio arus utama. Artinya, pengakuan Asia masih bersifat anomali, bukan hasil dari sistem pipeline yang inklusif.
Wawasan dan Implikasi Bagian V: Penghargaan sebagai Alat Tokenisme
Penghargaan berfungsi sebagai metrik tokenisme yang sangat efektif. Mereka memungkinkan Hollywood untuk secara publik merayakan keragaman individu (seorang pemenang Oscar atau Emmy) dan mengklaim keberhasilan DEI, sambil secara bersamaan mengalihkan perhatian dari kegagalan struktural yang mendasar.
Pengalihan perhatian ini sangat efektif: industri dapat menunjuk pada satu atau dua pemenang minoritas untuk menumpulkan kritik, meskipun data menunjukkan bahwa representasi BTL (khususnya untuk Latinx dan Asia) tetap berada pada tingkat kritis 3-8%.7Ini menunjukkan bahwa industri sering kali lebih bersemangat untuk memberikan penghargaan kepada minoritas yang berhasil menembus sistem, daripada memberdayakan mereka untuk menghasilkan konten secara independen melalui perubahan mendasar pada proses greenlighting dan manajemen eksekutif.
Kesimpulan
Analisis ekstensif ini menyimpulkan bahwa Hollywood saat ini berada dalam fase tokenisme yang mendominasi. Kemajuan kuantitatif yang terlihat di depan layar—terutama untuk kelompok Black/African American dan BIPOC secara kolektif di streaming—tidak sebanding dengan kemajuan struktural yang diperlukan untuk memastikan keberlanjutan dan kedalaman representasi.
Ketidakstabilan tahunan dalam film teatrikal (penurunan 32% UR leads pada 2024) dikombinasikan dengan tingkat representasi BTL yang sangat rendah untuk kelompok Asia dan Latinx, menunjukkan bahwa kemajuan yang ada bersifat sementara dan didorong oleh insentif pasar yang berisiko rendah, bukan komitmen nilai inti.
Tiga vektor kegagalan paling jelas adalah:
- Krisis Latinx: Komunitas Latinx menderita kekurangan representasi yang paling parah di semua matriks—hanya 3.9% dari peran utama teatrikal  dan severely underrepresented di total peran streaming. Ini adalah kegagalan sistemik yang membutuhkan intervensi terfokus.
- Keterwakilan Asia BTL yang Minimal: Keterwakilan Asia di kursi sutradara dan penulis hanya mencapai 3% di streaming , menunjukkan sumbatan kritis di pipeline kreatif.
- Structural Gridlock Eksekutif: Stagnasi minoritas di posisi Studio Chair dan CEO pada 8.0%Â adalah akar penyebab dari semua tokenisme yang diamati, karena mereka yang memegang kekuasaan tidak terwakili oleh minoritas.
Untuk bergerak melampaui placation dan tokenisme menuju representasi struktural yang bermakna, industri harus mengadopsi langkah-langkah yang mengikat dan terinstitusionalisasi:
Rekomendasi 1: Mandat BTL Kuantitatif dan Kualitatif
Studio harus menetapkan kuota yang mengikat secara finansial—bukan hanya janji sukarela—untuk merekrut Sutradara, Penulis, dan Produser dari latar belakang Asia dan Latinx. Mengingat representasi mereka saat ini berada pada tingkat kritis (3-8%) , dibutuhkan intervensi drastis untuk mengatasi dominasi 69-72% penulis/sutradara kulit putih. Kuota ini harus disertai dengan dukungan anggaran untuk memastikan proyek mereka mendapatkan kesempatan greenlight yang adil.
Rekomendasi 2: Fokus Inisiatif Latinx yang Dikhususkan
Semua program DEI studio harus mengalokasikan sumber daya yang signifikan secara spesifik untuk mengatasi krisis representasi Latinx. Ini termasuk program pengembangan talenta yang ditargetkan dan alokasi dana untuk narasi Latinx yang kompleks, untuk membangun pipeline yang benar-benar baru. Kegagalan saat ini (3.9% leads teatrikal ) memerlukan tanggapan yang terukur dan agresif.
Rekomendasi 3: Reformasi Kepemimpinan Eksekutif dan Akuntabilitas
Untuk memecahkan gridlock struktural 8.0% eksekutif minoritas, mekanisme akuntabilitas yang lebih kuat harus diperkenalkan. Ini dapat mencakup pelaporan keragaman tahunan pada tingkat dewan direksi, dengan target yang jelas untuk meningkatkan persentase minoritas di tingkat CEO/Studio Chair. Perubahan di puncak adalah prasyarat untuk perubahan yang langgeng di bawahnya.
Rekomendasi 4: Meniru Model Inklusivitas Berbasis Kebijakan
Hollywood harus mengambil pelajaran dari yurisdiksi pesaing, seperti inisiatif yang didanai pemerintah di Toronto (“Hollywood Utara”). Mengembangkan kerangka kerja kebijakan industri yang didanai untuk menciptakan pipeline tenaga kerja yang lebih inklusif adalah cara yang lebih efektif untuk mendorong perubahan dibandingkan mengandalkan inisiatif yang bersifat sukarela dan rentan terhadap tekanan pasar atau politik.
Perubahan sejati dan struktural di Hollywood akan terwujud ketika keputusan inklusif tidak lagi didorong oleh reaksi reaktif terhadap kritik publik atau tuntutan pasar, tetapi diinstitusionalisasikan oleh kepemimpinan yang beragam dan yang melihat keragaman sebagai nilai inti dan keharusan bisnis yang tidak dapat dinegosiasikan. Selama eksekutif yang homogen mempertahankan kontrol total atas gerbang pengambilan keputusan, kemajuan akan terus dicirikan oleh volatilitas, anomali penghargaan, dan tokenisme yang rapuh, bukan oleh representasi yang stabil dan bermakna.


