Cerita dari Benteng Rotterdam: Menyusuri Jejak Makassar Lama sebagai Artefak Urban
Benteng Rotterdam, sebuah struktur pertahanan yang ikonik, terletak di garis pantai barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelumnya dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang, situs ini memiliki nilai historis yang luar biasa, berdiri sebagai saksi bisu masa kejayaan maritim Kerajaan Gowa-Tallo sebelum mengalami transformasi drastis di bawah dominasi kolonial Belanda. Lokasinya yang strategis telah menjadikannya pusat perhatian dalam pergulatan kekuasaan dan perdagangan di Indonesia Timur selama berabad-abad.
Laporan ini menguraikan lapisan-lapisan sejarah yang terakumulasi di Benteng Rotterdam. Analisis mendalam menunjukkan bahwa benteng ini merupakan sebuah artefak urban yang unik, bukan hanya sekadar pangkalan militer kolonial baru yang dibangun dari nol. Berbeda dengan benteng-benteng kolonial lain di Nusantara, seperti Fort Marlborough di Bengkulu , Rotterdam adalah hasil dari pengambilalihan dan rekonfigurasi identitas. Keputusan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk merekonstruksi dan merombak Benteng Ujung Pandang asli, alih-alih membangun situs baru, menggarisbawahi betapa vitalnya lokasi dan fondasi benteng asli bagi kepentingan militer dan ekonomi mereka. Struktur laporan ini disusun berdasarkan tiga fase historis utama: Kedaulatan Makassar (Genesis), Inversi Kekuasaan (Dominasi VOC), dan Transformasi Identitas (Modernisasi dan Konservasi), dengan penekanan pada sintesis unik antara arsitektur lokal dan kolonial yang masih terlihat hingga saat ini.
Tujuan Analitis dan Strukturisasi Laporan
Tujuan utama dari laporan ini adalah untuk menyajikan ulasan lengkap mengenai sejarah, morfologi arsitektur, dan perubahan fungsi Benteng Rotterdam dari masa ke masa, serta menganalisis bagaimana benteng ini kini berfungsi sebagai pusat budaya dan memori kolektif bangsa. Analisis akan menekankan pada dinamika kausalitas—mengapa keputusan-keputusan historis dibuat dan bagaimana konsekuensinya membentuk lanskap Makassar modern.
Struktur laporan berlanjut dengan membahas fase sebelum penaklukan Belanda, berfokus pada peran Kerajaan Gowa-Tallo, diikuti dengan analisis mendalam mengenai transisi kekuasaan pasca-Perjanjian Bongaya. Bagian penting lainnya akan didedikasikan untuk mengkaji desain benteng yang menyerupai penyu dan tata letak bastion yang mengandung makna geopolitik. Terakhir, laporan mengkaji peran kontemporer benteng sebagai Museum La Galigo dan situs memori Pangeran Diponegoro, sambil menyoroti tantangan konservasi di tengah tekanan pembangunan perkotaan.
Fase Genesis: Ujung Pandang dan Supremasi Maritim Kerajaan Gowa-Tallo (Pre-1667)
Pilar Pertahanan Kesultanan dan Jaringan Perdagangan
Sebelum diubah namanya, benteng ini dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang. Benteng ini didirikan oleh Raja Gowa-Tallo ke-9, menjadikannya bagian integral dari sistem pertahanan maritim Kesultanan. Pada masa puncaknya, Kerajaan Gowa-Tallo memainkan peran sentral sebagai pusat perdagangan internasional yang menganut prinsip perdagangan bebas, sebuah kebijakan yang secara langsung menentang prinsip monopoli yang diusung oleh VOC.
Pentingnya Benteng Ujung Pandang harus dilihat dalam konteks sistem pertahanan dan ekonomi Gowa secara keseluruhan. Sebagai perbandingan, Benteng Somba Opu yang terletak di Makassar berfungsi sebagai pusat perdagangan utama Kesultanan. Dalam struktur kekuasaan Gowa-Tallo, Somba Opu dapat diinterpretasikan sebagai “Harta” atau pusat ekonomi, sementara Benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai “Kunci” militer dan garis pertahanan maritim terdepan. Perlunya benteng pertahanan yang kuat seperti Ujung Pandang di garis pantai menunjukkan kesadaran Gowa akan ancaman eksternal yang meningkat seiring dengan pertumbuhan kekayaan maritim mereka.
Pemicu Konflik: Monopoli Rempah (1634)
Akar konflik yang memuncak antara Kerajaan Gowa-Tallo dan VOC pada abad ke-17 adalah perebutan kontrol atas perdagangan rempah yang sangat menguntungkan. Gowa-Tallo, dengan pelabuhan bebasnya, menawarkan alternatif bagi pedagang Asia dan Eropa yang ingin menghindari kartel VOC. Perang yang pecah pada tahun 1634 dan konflik-konflik berikutnya merupakan upaya paksa VOC untuk memecah sistem perdagangan bebas Gowa.
Keberhasilan VOC dalam menguasai Benteng Ujung Pandang pada akhirnya memberikan mereka keuntungan strategis militer. Penyerahan benteng tersebut, yang kemudian diklaim melalui Perjanjian Bongaya, secara efektif meruntuhkan pertahanan militer inti Gowa. Tindakan ini merupakan pengambilalihan kausal—merusak kedaulatan militer untuk mengamankan keuntungan ekonomi. Dengan mengontrol kunci pertahanan, VOC dapat secara sistematis mulai mengontrol sisa-sisa perdagangan di kawasan tersebut.
Titik Balik Kekuasaan: Perjanjian Bongaya dan Fort Rotterdam (1667-1700)
Perjanjian Bongaya dan Dekonstruksi Kedaulatan
Tahun 1667 menandai titik balik paling signifikan dalam sejarah benteng. Setelah kekalahan Kesultanan Gowa di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Benteng Ujung Pandang terpaksa diserahkan kepada Belanda sebagai bagian dari ketentuan Perjanjian Bongaya. Klausa perjanjian ini bukan hanya sekadar penyerahan aset fisik, tetapi merupakan tindakan dekonstruksi kedaulatan yang bersifat definitif, menandai transisi dari era kekuasaan Makassar ke dominasi kolonial.
Penyerahan Benteng Ujung Pandang memberi VOC pijakan yang kuat untuk membangun pusat kekuasaan di Indonesia Timur, mengakhiri ambisi Gowa sebagai kekuatan maritim independen yang besar.
Cornelis Speelman dan Inversi Nomenklatur
Setelah penyerahan benteng, Laksamana Belanda Cornelis Speelman, yang memimpin penaklukan Kesultanan Gowa, memprakarsai pembangunan ulang total benteng tersebut. Rekonstruksi ini dilakukan dengan memasukkan arsitektur kolonial Belanda. Speelman mengganti nama benteng dari Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam, yang diambil dari nama tempat kelahirannya di Belanda.
Penggantian nama ini memiliki makna simbolis yang mendalam, jauh melampaui sekadar masalah nomenklatur. Tindakan Speelman ini merupakan upaya sinkronisasi antara kekuasaan militer (kemenangannya) dan identitas politik Eropa (Rotterdam). Ini adalah upaya de-kontekstualisasi paksa—melepaskan benteng dari narasi lokal Makassar Lama dan menanamkannya sepenuhnya ke dalam narasi imperial Belanda. Speelman tidak hanya ingin menguasai fisik benteng, tetapi juga identitasnya. Ia kemudian menempati Gedung D, bangunan tertua di kompleks tersebut, yang secara fisik menegaskan superioritas VOC di jantung wilayah yang baru ditaklukkan. Proses renovasi arsitektur memastikan benteng berfungsi optimal untuk kebutuhan militer dan ekonomi VOC, mengubahnya menjadi pusat kekuasaan kolonial di Sulawesi.
Analisis Morfologi Arsitektur: Penyu Makassar dan Estetika Kolonial
Filosofi Bentuk Penyu: Sintesis Struktur dan Simbolisme
Secara arsitektur, Benteng Fort Rotterdam memiliki ciri khas yang unik. Site plan benteng ini menyerupai seekor penyu, yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Penyu Makassar. Bentuk ini mencakup kepala, badan, dan empat kaki. Simbolisme penyu sangat relevan dalam konteks maritim, melambangkan perlindungan, umur panjang, dan koneksi yang mendalam dengan laut.
Bentuk ini diyakini merupakan warisan dari desain benteng Ujung Pandang asli yang dipertahankan oleh arsitek Belanda, kemungkinan karena fondasi tersebut sudah teruji secara efektif dalam pertahanan, atau karena kesulitan struktural untuk mengubah total pondasi yang sudah ada. Integrasi bentuk Penyu menunjukkan adanya kesadaran struktural Belanda terhadap topografi lokal atau adaptasi yang pragmatis.
Sistem Pertahanan Lima Bastion
Benteng ini diperkuat oleh tembok pertahanan yang tinggi dan kokoh, terbuat dari susunan batu padas dan bata yang disusun menggunakan teknik susun timbun yang simetris. Tembok selubung ini mengelilingi kompleks dan berfungsi sebagai teritori pertahanan yang kuat. Di setiap sudut benteng ditempatkan lima bastion, yang berfungsi sebagai benteng kecil atau “seka,” tempat yang aman untuk menembak musuh.
Penempatan bastion ini mengikuti morfologi Penyu secara presisi:
- Bastion Bone: Terletak di sebelah Barat, membentuk kepala penyu.
- Bastion Butung: Terletak di sudut Barat-Laut, membentuk kaki depan kanan penyu.
- Bastion Bacan: Terletak di sudut Barat-Daya, membentuk kaki depan kiri penyu.
- Bastion Mandarsyah: Terletak di sudut Timur-Laut, membentuk kaki belakang kanan penyu.
- Bastion Amboina: Terletak di sudut Tenggara, membentuk kaki belakang kiri penyu.
Penamaan bastion-bastion ini setelah wilayah-wilayah kunci di Indonesia Timur (Bone, Butung, Bacan, Amboina) bukanlah kebetulan. Ini adalah strategi geopolitik VOC. Dengan menamai bastion-bastion utama mereka berdasarkan nama-nama wilayah yang berpotensi menjadi sumber konflik, aliansi, atau perdagangan (seperti Bone), VOC menegaskan dominasi mereka secara simbolis dan menginternalisasi peta kekuasaan mereka ke dalam struktur fisik benteng.
Kerusakan Historis dan Hilangnya Batas Pertahanan
Meskipun fondasi utama benteng tetap utuh, benteng ini mengalami kerusakan signifikan selama penggunaannya. Bagian “ekor penyu,” misalnya, hancur akibat peperangan yang terjadi antara Jepang dan Belanda, menunjukkan bahwa benteng terus digunakan sebagai instalasi militer hingga Perang Dunia II.
Tantangan konservasi modern yang paling jelas terlihat adalah hilangnya parit pertahanan (moat) yang mengelilingi benteng. Parit, yang pada awalnya memanjang mengikuti bentuk penyu , kini sebagian besar telah ditimbun untuk pembangunan rumah dan gedung-gedung di sekitarnya. Saat ini, hanya sekitar 300 meter parit yang masih bertahan di bagian selatan benteng. Parit adalah zona penyangga (buffer zone) historis benteng. Kehilangan parit yang signifikan akibat tekanan antropogenik modern merusak konsep Urban Artefact benteng tersebut, karena memutus hubungan spasial dan visual yang menjelaskan konteks pertahanannya yang utuh.
Tabel 1: Analisis Morfologi Bastion Benteng Rotterdam Berdasarkan Filosofi Penyu
| Nama Bastion | Posisi Arsitektural | Arah Mata Angin | Fungsi Khusus/Gedung | Signifikansi |
| Bastion Bone | Kepala Penyu | Barat | Gedung A (Penerimaan Tamu Bone) | Kontrol simbolis dan diplomasi VOC pasca-Bongaya |
| Bastion Butung | Kaki Depan Kanan | Barat-Laut | Gedung C | Pengawasan strategis perairan Utara |
| Bastion Bacan | Kaki Depan Kiri | Barat-Daya | Sel dan Pusat Dagang (Gedung B) | Integrasi pertahanan laut selatan dengan logistik ekonomi |
| Bastion Mandarsyah | Kaki Belakang Kanan | Timur-Laut | – | Titik pertahanan darat utama terhadap serangan dari pedalaman |
| Bastion Amboina | Kaki Belakang Kiri | Tenggara | – | Pertahanan darat; mengalami kerusakan fisik akibat perang |
Fort Rotterdam: Pusat Administrasi dan Monopoli VOC di Indonesia Timur (Abad ke-17 hingga ke-19)
Fungsi Ekonomi: Gudang Rempah dan Kartel Dagang
Setelah diambil alih, Fort Rotterdam diubah menjadi pusat operasional VOC yang paling penting di Indonesia Timur. Benteng ini berfungsi sebagai pusat monopoli perdagangan dan markas militer utama. Peran ekonomi benteng sangat dominan; ia digunakan sebagai pusat penampungan rempah-rempah yang dikumpulkan oleh VOC dari seluruh kawasan timur. Â Beberapa bangunan internal benteng secara spesifik mencerminkan fungsi-fungsi ini. Gedung M, misalnya, secara khusus difungsikan sebagai gudang logistik dan pusat perdagangan Belanda. Sementara itu, bagian atas Gedung B dipergunakan sebagai tempat perwakilan dagang, menggarisbawahi upaya VOC untuk memusatkan dan memproteksi aktivitas kartel dagang mereka dari dalam kompleks pertahanan yang kokoh.
Markas Militer dan Pemerintahan Daerah
Fort Rotterdam menjadi markas militer yang krusial bagi Belanda. Selain itu, benteng ini juga ditetapkan sebagai pusat pemerintahan daerah Belanda di Sulawesi hingga tahun 1930-an. Penggunaan benteng ini sebagai pusat pemerintahan yang berlangsung hingga pertengahan abad ke-20 menunjukkan bahwa fungsi struktural dan simbolis benteng tersebut telah diwariskan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai simbol kontinuitas imperial, melampaui kepentingan dagang awal VOC.
Gedung D, yang didirikan pada tahun 1686, merupakan bangunan tertua di dalam kompleks. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal Cornelis Speelman, dan kemudian menjadi kediaman para gubernur Sulawesi berikutnya hingga pertengahan abad ke-19. Penempatan residensial elit di dalam kompleks benteng menegaskan peran politik benteng sebagai sentrum kekuasaan.
Fungsi Internal dan Hirarki Kekuasaan Kolonial
Fasilitas internal benteng dirancang untuk mendukung hirarki dan kehidupan komunitas VOC yang terisolasi. Gedung P, misalnya, bangunan berlantai dua, dahulu digunakan sebagai gereja untuk melayani kebutuhan spiritual komunitas Belanda. Saat ini, bangunan tersebut berfungsi sebagai aula dan ruang pameran Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar.
Desain internal Benteng Rotterdam mencerminkan model arsitektur yang dapat digambarkan sebagai corporate military state. Keamanan politik, aset ekonomi, dan fasilitas hukuman disatukan dalam satu kompleks. Gedung B memperlihatkan dualitas fungsi yang mencolok: bagian atas digunakan untuk perwakilan dagang, sementara bagian bawah difungsikan sebagai sel tahanan. Kedekatan fasilitas dagang dan penahanan ini menunjukkan interkoneksi langsung antara kepentingan ekonomi dan mekanisme hukuman yang digunakan untuk menegakkan monopoli.
Gedung A, yang berada di Bastion Bone, memiliki peran diplomatik. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat untuk menerima kedatangan tamu, khususnya dari Kerajaan Bone. Ini menunjukkan pentingnya aliansi politik pasca-Bongaya bagi VOC dalam mengamankan hegemoni mereka di Sulawesi.
Tabel 2: Fungsi Bangunan Internal Utama Fort Rotterdam Era VOC
| Nama Bangunan | Tahun Pendirian (Est.) | Fungsi Utama Masa VOC | Fungsi Saat Ini | Signifikansi Sejarah |
| GEDUNG D | 1686 | Kediaman Speelman/Gubernur Sulawesi | Cagar budaya/Kantor | Sentrum kekuasaan politik dan bangunan tertua |
| GEDUNG B | – | Perwakilan Dagang (atas), Sel (bawah) | Direhabilitasi (1994) | Dualitas fungsi ekonomi/punitive |
| GEDUNG M | – | Gudang/Pusat Perdagangan Rempah | Cagar budaya | Pusat logistik monopoli, terletak di area aman |
| GEDUNG P | – | Gereja/Fasilitas Komunitas Belanda | Aula/Ruang Pameran BPCB | Representasi kehidupan sosial-religius kolonial |
Sel Pangeran Diponegoro: Narasi Simbolis Perlawanan Kebangsaan
Pangeran Diponegoro: Tawanan Paling Berharga
Salah satu daya tarik historis yang paling signifikan bagi pengunjung nasional adalah keberadaan ruang tahanan Pangeran Diponegoro di dalam Fort Rotterdam. Setelah dijebak dan ditangkap oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai di Jawa, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar. Benteng Rotterdam menjadi tempat di mana ia menghabiskan hari-hari terakhirnya.
Sel penjara tempat Diponegoro ditempatkan dicirikan oleh dinding kokoh yang melengkung. Keberadaan sel ini menunjukkan tingkat isolasi dan keamanan yang ekstrem yang diterapkan Belanda terhadap tawanan yang dianggap paling berharga dan berbahaya.
Signifikansi Locus Memorii (Tempat Memori)
Penahanan Pangeran Diponegoro di Benteng Rotterdam memiliki signifikansi geopolitik yang jauh melampaui sekadar masalah keamanan. Benteng Rotterdam telah menjadi simbol penaklukan kedaulatan Makassar (pusat kekalahan Gowa). Dengan menempatkan pemimpin perlawanan terbesar dari Jawa di lokasi yang sama, Belanda mengirimkan pesan psikologis dan politik bahwa tidak ada wilayah, bahkan yang paling strategis di Nusantara, yang aman dari kekuatan imperial mereka. Tindakan ini secara efektif menciptakan sintesis narasi perlawanan yang melintasi pulau-pulau.
Dalam konteks konservasi dan edukasi modern, Sel Diponegoro berfungsi sebagai locus memorii yang transformatif. Ia mengubah Benteng Rotterdam, yang semula merupakan simbol supremasi VOC, menjadi situs yang mengabadikan semangat perlawanan Indonesia. Pemanfaatan ruang ini oleh Museum La Galigo kini berfungsi sebagai mekanisme rekonsiliasi sejarah, yang secara efektif mengalihkan fokus naratif dari kebanggaan kolonial (Speelman) ke kehormatan dan ketahanan perlawanan nasional (Diponegoro). Ruang tahanan ini, ironisnya, kini menjadi salah satu titik kunjungan yang paling penting dan edukatif.
Dekonstruksi dan Revitalisasi: Peran Benteng di Era Modern
Transisi Fungsi Pasca-Kolonial dan Masa Peralihan (1937–1970)
Fungsi Benteng Rotterdam sebagai pusat pertahanan utama berakhir setelah tahun 1937. Namun, pada masa-masa pergolakan pasca-kemerdekaan, benteng ini mengalami masa peralihan yang kacau dan multifungsi. Pada tahun 1950, benteng ini sempat digunakan sebagai tempat tinggal bagi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan warga sipil. Kontradiksi muncul tak lama kemudian ketika benteng ini juga berfungsi sebagai pusat pertahanan Tentara Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang berupaya menghadapi TNI. Penggunaan berganda dan berlawanan ini mencerminkan kekacauan fungsional benteng selama periode revolusi dan konsolidasi kemerdekaan.
Program Pemugaran dan Status Cagar Budaya (Sejak 1970)
Kesadaran akan nilai sejarah dan budaya Benteng Rotterdam mulai menguat pada era 1970-an. Pemerintah Indonesia memulai program pemugaran ekstensif pada tahun 1970. Upaya restorasi ini didukung secara internasional; misalnya, rehabilitasi Gedung P dilakukan dengan bantuan dari Kerajaan Belanda pada tahun 1976.
Setelah pemugaran, benteng ini diubah menjadi area perkantoran , namun fungsi utamanya kini adalah sebagai pusat budaya dan pendidikan, dikelola sebagai cagar budaya negara. Benteng Rotterdam kini berfungsi sebagai ikon kota Makassar, yang secara rutin menjadi tuan rumah untuk berbagai acara musik dan tarian.
Museum La Galigo: Repositori Budaya Regional
Sejalan dengan program pemugaran fisik, pemerintah mendirikan Museum La Galigo di dalam kompleks benteng pada tahun 1970. Keberadaan museum ini di dalam bekas pusat hegemoni kolonial merupakan kebijakan terpadu untuk mengubah situs militer menjadi mesin narasi budaya nasional.
Museum La Galigo berperan penting dalam pelestarian warisan budaya Sulawesi Selatan. Museum ini menyimpan koleksi artefak yang sangat kaya, mencapai sekitar 5.000 koleksi. Koleksi tersebut meliputi berbagai kategori, termasuk peninggalan prasejarah, numismatik, keramik asing, naskah kuno, dan benda etnografi, termasuk artefak mengenai Tana Toraja. Penempatan Museum La Galigo di lokasi ini secara aktif menanggapi permintaan untuk menyusuri “Jejak Makassar Lama.” Benteng yang direbut melalui peperangan kini digunakan untuk mengabadikan dan memamerkan budaya yang nyaris ditindas oleh para penakluknya, menegaskan kembali identitas regional di dalam struktur kolonial yang dipugar.
Tantangan Konservasi dan Pemanfaatan Kontemporer
Dilema Artefak Urban: Melawan Tekanan Pembangunan
Sebagai Urban Artefact yang terletak di pusat kota yang berkembang pesat, Benteng Rotterdam menghadapi tantangan konservasi yang serius. Meskipun tembok dan bangunan utama terawat dengan baik , tekanan pembangunan perkotaan yang cepat telah menyebabkan hilangnya sebagian besar parit pertahanan yang merupakan zona penyangga historis.
Konservasi yang berhasil harus melampaui pemeliharaan struktur fisik. Kehilangan parit, meskipun tidak mengancam benteng secara langsung, merusak integritas sistem pertahanan secara keseluruhan. Hal ini memerlukan pemetaan ulang arkeologis parit yang hilang untuk menetapkan batas perlindungan cagar budaya yang lebih ketat, sebagai upaya untuk mengembalikan konteks pertahanan benteng yang utuh.
Pengalaman Kunjungan dan Komersialisasi Sejarah
Benteng Rotterdam terbuka setiap hari dari jam 9 pagi hingga 6 sore, dan masuknya gratis. Ini menjadikannya tujuan wisata yang mudah diakses. Daya tarik wisata mencakup spot foto arsitektur yang unik, taman hijau yang terawat, dan kesempatan untuk belajar sejarah secara langsung.
Di satu sisi, benteng menawarkan ruang edukasi yang serius melalui Museum La Galigo dan narasi Pangeran Diponegoro. Namun, di sisi lain, muncul praktik komersialisasi yang menciptakan tension point naratif: pengunjung dapat menyewa kostum ala Belanda untuk melengkapi pengalaman berfoto. Praktik ini, meskipun menarik pengunjung, berpotensi mengaburkan dampak sebenarnya dari kekuasaan VOC yang brutal (yang diwakili oleh sel Diponegoro dan sejarah monopoli). Pengelola situs harus secara hati-hati menyeimbangkan antara daya tarik turis dengan menjaga wibawa benteng sebagai situs memori nasional yang kritis, memastikan bahwa komersialisasi tidak menutupi kedalaman dan keseriusan sejarah yang dikandungnya.
Rekomendasi Jangka Panjang untuk Konservasi dan Edukasi
Untuk masa depan, Benteng Rotterdam memerlukan strategi konservasi dan edukasi yang terintegrasi. Rekomendasi mencakup:
- Penguatan Integritas Spasial: Melakukan studi kelayakan untuk restorasi atau setidaknya penandaan batas parit yang hilang di wilayah selatan benteng untuk mengembalikan konsep sistem pertahanan yang utuh.
- Peningkatan Narasi Sejarah: Peningkatan signage dan penggunaan teknologi digital harus dilakukan untuk menyeimbangkan kisah kejayaan Gowa-Tallo, kekejaman kolonial, dan peran benteng sebagai saksi kebangsaan (Diponegoro). Narasi harus tegas mengubah fokus dari kejayaan Speelman menjadi ketahanan lokal.
- Pengelolaan Komersialisasi: Menetapkan pedoman etika yang jelas mengenai kegiatan komersial di dalam situs, memastikan bahwa aspek pariwisata ringan (seperti penyewaan kostum) tidak merusak atau menyederhanakan sejarah kompleks benteng sebagai situs penaklukan dan perlawanan.
Kesimpulan
Benteng Rotterdam (Benteng Ujung Pandang) adalah monumen multilayer yang mengabadikan tiga babak utama sejarah Sulawesi Selatan: supremasi maritim Kerajaan Gowa-Tallo, dominasi VOC yang diwujudkan melalui inversi arsitektur dan monopoli rempah, serta revitalisasi pasca-kemerdekaan sebagai pusat budaya dan edukasi.
Bentuk Penyu yang dipertahankan di site plan berfungsi sebagai representasi arsitektur dari ketahanan identitas Makassar Lama di bawah lapisan kekuasaan kolonial yang dipaksakan oleh Speelman. Tata letak bastion yang dinamai berdasarkan wilayah-wilayah yang ditaklukkan menunjukkan strategi geopolitik VOC untuk memetakan kekuasaan mereka secara fisik.
Keberhasilan konservasi Benteng Rotterdam terletak pada kapasitasnya saat ini untuk berfungsi sebagai agent of cultural memory. Melalui integrasi narasi perlawanan nasional (Sel Pangeran Diponegoro) dan pelestarian warisan budaya regional (Museum La Galigo) , bekas pusat hegemoni kolonial ini telah diubah menjadi pilar ingatan bangsa, menceritakan kisah pahit penaklukan yang berujung pada penguatan identitas Indonesia. Meskipun menghadapi tantangan modern dari tekanan urbanisasi, Benteng Rotterdam tetap menjadi salah satu situs sejarah terpenting di Asia Tenggara yang mendemonstrasikan perpaduan kompleks antara konflik, kekuasaan, dan warisan budaya.


