Loading Now

Paradigma Baru Pernapasan Manusia dalam Media Perfluorokarbon

Konsep mengenai manusia yang mampu bernapas di dalam lingkungan cair laksana ikan telah berpindah dari ranah fiksi ilmiah menuju batas penelitian medis dan rekayasa biofisiologis. Secara evolusioner, paru-paru mamalia telah beradaptasi selama jutaan tahun untuk mengekstraksi oksigen dari medium gas, yang secara fundamental berbeda dalam hal densitas, viskositas, dan kecepatan difusi dibandingkan dengan medium cair. Namun, penemuan senyawa kimia tertentu yang dikenal sebagai perfluorokarbon (PFC) telah membuka peluang bagi paradigma baru dalam dukungan pernapasan, yang dikenal sebagai ventilasi cair atau liquid ventilation. Teknologi ini tidak hanya menawarkan solusi bagi kondisi klinis yang kritis, tetapi juga menjanjikan perlindungan revolusioner bagi penyelaman laut dalam dan eksplorasi ruang angkasa dengan gaya gravitasi tinggi.

Dasar Fisiko-Kimia Perfluorokarbon sebagai Media Pernapasan

Inti dari kemungkinan manusia bernapas dalam cairan terletak pada sifat unik dari senyawa perfluorokarbon. PFC adalah kelompok senyawa organik sintetis yang terdiri dari atom karbon dan fluorin. Struktur ini tercipta dengan mengganti seluruh atom hidrogen dalam rantai hidrokarbon dengan atom fluorin, menghasilkan ikatan karbon-fluorin (C-F) yang merupakan salah satu ikatan terkuat dan paling stabil dalam kimia organik. Stabilitas ini memberikan sifat inert secara biologis, yang berarti PFC tidak dimetabolisme oleh tubuh, tidak beracun bagi jaringan paru, dan tidak diserap secara signifikan ke dalam sirkulasi sistemik.

Kemampuan PFC untuk mendukung kehidupan berasal dari kapasitas kelarutan gasnya yang luar biasa. Tidak seperti air atau larutan garam (saline) yang hanya mampu melarutkan oksigen dalam jumlah sangat terbatas, PFC dapat melarutkan oksigen (O2​) hingga 15 kali lebih banyak daripada plasma darah manusia pada tekanan atmosfer standar. Pada suhu 25°C, kapasitas pengangkutan oksigennya dapat mencapai 35 hingga 70 ml gas per desiliter cairan. Selain itu, kelarutan karbon dioksida (CO2​) dalam PFC bahkan lebih tinggi, berkisar antara 122 hingga 255 ml per desiliter, yang secara teoretis memungkinkannya berfungsi sebagai medium untuk pertukaran gas pernapasan yang lengkap.

Properti Fisika dan Kimia Udara Atmosfer Air Murni Saline (Garam) Perfluorokarbon (PFC)
Konsentrasi O2​ (ml/dl) 20.9 0.6 0.6 35 – 70
Konsentrasi CO2​ (ml/dl) 0.04 5.7 5.7 122 – 255
Tegangan Permukaan (dyne/cm) N/A 72 72 12 – 18
Densitas Relatif (g/ml) 0.0012 1.0 1.0 1.7 – 1.9
Viskositas Kinematik (cSt) 15.0 1.0 1.0 0.8 – 1.1
Indeks Refraksi 1.00 1.33 1.33 1.27 – 1.30

Salah satu atribut paling kritis dari PFC dalam aplikasi pulmonologi adalah tegangan permukaannya yang sangat rendah, berkisar antara 12 hingga 18 dyne/cm. Nilai ini jauh di bawah air (72 dyne/cm) dan sangat mendekati tegangan permukaan surfaktan alami yang melapisi alveoli manusia. Dalam paru-paru yang mengalami cedera atau kekurangan surfaktan, masuknya cairan PFC membantu menjaga stabilitas alveoli, mencegah kolapsnya kantung udara kecil tersebut saat fase ekspirasi. Densitas PFC yang tinggi, yang hampir dua kali lipat berat air, memberikan keuntungan mekanis tambahan berupa tekanan hidrolik yang mampu membuka kembali daerah paru-paru yang kolaps (atelektasis) di bagian dependen atau bagian bawah paru-paru.

Perbandingan Fisiologis: Mekanisme Insang vs. Paru-Paru

Untuk memahami tantangan manusia bernapas dalam cairan, penting untuk membandingkan efisiensi sistem pertukaran gas pada ikan dan mamalia. Ikan hidup dalam lingkungan di mana konsentrasi oksigen terlarut jauh lebih rendah daripada di udara; udara mengandung sekitar 33 kali lebih banyak oksigen per unit volume dibandingkan dengan air. Oleh karena itu, ikan harus memiliki sistem pernapasan yang jauh lebih efisien untuk bertahan hidup.

Ikan berevolusi dengan sistem aliran arus lawan (counter-current exchange) pada insang mereka. Dalam mekanisme ini, air yang kaya oksigen dipompa melewati filamen insang dalam satu arah, sementara darah mengalir di dalam pembuluh kapiler insang dalam arah yang berlawanan. Aliran berlawanan ini memastikan bahwa gradien konsentrasi oksigen tetap ada di sepanjang permukaan pertukaran, memungkinkan ekstraksi hingga 90% oksigen dari air. Sebaliknya, manusia menggunakan sistem ventilasi tidal, di mana udara masuk dan keluar melalui jalur yang sama (trakea dan bronkus). Hal ini menciptakan “udara sisa” yang kaya CO2​ di dalam paru-paru, yang menurunkan gradien difusi oksigen.

Ketika paru-paru manusia diisi dengan cairan PFC, efisiensi pertukaran gas dibatasi oleh kecepatan difusi molekuler di dalam cairan yang jauh lebih lambat daripada di dalam gas. Meskipun PFC kaya akan oksigen, molekul oksigen tersebut harus bergerak melalui medium cair yang kental untuk mencapai membran alveolar. Tantangan yang lebih besar adalah pembuangan CO2​. Karbon dioksida harus berdifusi dari darah ke dalam cairan PFC, namun karena volume tidal manusia terbatas dan laju difusi dalam cairan rendah, penumpukan CO2​ sering kali menjadi faktor pembatas utama dalam eksperimen pernapasan cair pada manusia.

Sejarah dan Evolusi Eksperimen Ventilasi Cair

Eksperimen pertama yang terdokumentasi mengenai pernapasan cair dilakukan oleh Dr. Johannes A. Kylstra di Universitas Duke pada tahun 1960-an. Awalnya, Kylstra menggunakan larutan garam (saline) yang dijenuhkan dengan oksigen pada tekanan tinggi (hiperbarik). Tikus dan anjing yang direndam dalam larutan ini mampu bertahan hidup dan bernapas selama beberapa waktu, membuktikan bahwa paru-paru mamalia secara fisik mampu memompa cairan. Namun, karena kelarutan CO2​ yang rendah dalam saline, subjek uji coba segera mengalami asidosis berat akibat penumpukan asam karbonat dalam darah. Selain itu, saline menyebabkan “pencucian” surfaktan alami paru-paru, yang mengakibatkan kerusakan jaringan paru setelah subjek kembali ke udara.

Terobosan sesungguhnya terjadi pada tahun 1966 ketika Dr. Leland Clark Jr. mendemonstrasikan pernapasan cair menggunakan perfluorokarbon. Dalam eksperimen yang kini legendaris, Clark merendam tikus sepenuhnya dalam cairan PFC yang telah dijenuhkan dengan oksigen pada tekanan atmosfer normal. Tikus tersebut mampu bernapas secara aktif di dalam cairan selama berjam-jam tanpa menunjukkan tanda-tanda hipoksia akut dan berhasil kembali bernapas di udara dengan selamat. Penemuan ini mengalihkan fokus penelitian dari larutan garam menuju PFC sebagai kandidat utama media pernapasan cair.

Uji coba pada manusia pertama kali melibatkan Frank Falejczyk, seorang penyelam komersial, yang bekerja sama dengan Dr. Kylstra. Falejczyk menghirup larutan saline teroksigenasi ke dalam satu paru-parunya sementara paru-paru lainnya tetap bernapas di udara. Meskipun ia selamat, pengalaman tersebut digambarkan sebagai sangat tidak nyaman, memicu refleks muntah yang hebat dan sensasi tenggelam yang luar biasa. Hal ini menyoroti bahwa hambatan psikologis dan neurologis, seperti refleks pertahanan saluran napas, merupakan tantangan besar yang harus diatasi jika pernapasan cair ingin diterapkan secara luas.

Klasifikasi Metodologi: Ventilasi Cair Total (TLV) dan Parsial (PLV)

Dalam perkembangannya, teknologi ventilasi cair terbagi menjadi dua paradigma utama yang memiliki mekanisme kerja dan kebutuhan peralatan yang berbeda.

Ventilasi Cair Total (Total Liquid Ventilation – TLV)

Dalam TLV, seluruh volume fungsional residual paru-paru diisi dengan cairan PFC, dan seluruh pertukaran gas terjadi dalam fase cair. Karena viskositas cairan PFC jauh lebih tinggi daripada udara, otot-otot pernapasan mamalia tidak mampu mempertahankan kerja pernapasan yang diperlukan untuk memompa cairan ini masuk dan keluar dengan frekuensi yang cukup untuk membuang CO2​. Oleh karena itu, TLV memerlukan penggunaan alat khusus yang disebut “ventilator cair”.

Ventilator cair adalah sistem robotik kompleks yang secara aktif memompa volume tidal PFC ke dalam paru-paru (inspirasi) dan menariknya kembali (ekspirasi) melalui sirkuit tertutup. Di luar tubuh, cairan PFC dilewatkan melalui unit oksigenator membran yang membuang CO2​ dan menambahkan O2​ murni, serta sistem kontrol suhu untuk menjaga cairan pada suhu tubuh. TLV dianggap sebagai bentuk dukungan pernapasan yang paling “murni” karena menghilangkan total antarmuka gas-cair di dalam paru-paru, yang secara drastis mengurangi risiko barotrauma yang disebabkan oleh gelembung udara pada tekanan tinggi.

Ventilasi Cair Parsial (Partial Liquid Ventilation – PLV)

PLV dikembangkan sebagai jembatan klinis yang lebih sederhana karena tidak memerlukan ventilator cair yang mahal dan langka. Dalam teknik ini, paru-paru pasien diisi dengan cairan PFC hingga mencapai kapasitas fungsional residual (sekitar 30 ml/kg), namun pasien tetap terhubung dengan ventilator gas konvensional. Ventilator gas kemudian memompa gelembung udara atau oksigen murni ke dalam paru-paru yang berisi cairan.

Oksigen dari fase gas akan berdifusi melalui lapisan tipis PFC di alveoli untuk mencapai darah kapiler, sementara CO2​ bergerak dari darah ke cairan PFC dan kemudian dibuang oleh aliran gas ventilator. PLV menggabungkan sifat rekrutmen alveolar dari PFC (membuka bagian paru yang kolaps) dengan kemudahan operasional ventilator gas standar. Sebagian besar uji klinis pada bayi prematur dan pasien dewasa dengan penyakit paru berat telah menggunakan metode PLV ini.

Aplikasi Klinis: Neonatologi dan Perawatan Intensif Dewasa

Penerapan paling sukses dari ventilasi cair sejauh ini telah ditemukan di unit perawatan intensif neonatal (NICU). Bayi yang lahir sangat prematur sering kali memiliki paru-paru yang belum berkembang sempurna dan kekurangan surfaktan alami, kondisi yang disebut Respiratory Distress Syndrome (RDS). Ventilasi gas konvensional pada bayi-bayi ini sering kali menyebabkan cedera paru permanen atau penyakit paru kronis (bronkopulmoner displasia) karena tekanan yang diperlukan untuk membuka alveoli yang kaku terlalu besar.

Dalam uji coba menggunakan perflubron (merek dagang LiquiVent), bayi prematur yang gagal merespon terapi konvensional menunjukkan peningkatan oksigenasi yang dramatis setelah diberikan PLV. Cairan PFC membantu mengembangkan paru-paru dengan tekanan yang jauh lebih rendah, bertindak sebagai surfaktan sintetis yang efisien.

Parameter Klinis Sebelum PLV 1 Jam Setelah PLV Perubahan (%)
Tekanan Oksigen Arterial (PaO2​) 40 mmHg 95 mmHg +138%
Kepatuhan Paru Dinamis (Cdyn​) 0.18 ml/cm H2​O/kg 0.29 ml/cm H2​O/kg +61%
Indeks Oksigenasi (OI) 49 17 -65%
Kelangsungan Hidup (Uji 1996) Prediksi <10% Aktual 61% Signifikan

Pada orang dewasa, ventilasi cair telah dievaluasi untuk pengobatan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Selain meningkatkan pertukaran gas, PFC memiliki efek pencucian (lavage) yang unik. Karena kepadatannya yang tinggi, PFC mampu mendorong cairan edema, nanah, dan puing-puing seluler keluar dari alveoli distal ke arah bronkus utama, di mana bahan-bahan tersebut dapat disedot keluar oleh petugas medis. Meskipun demikian, beberapa uji klinis fase III pada awal tahun 2000-an gagal menunjukkan keunggulan mortalitas yang signifikan dibandingkan dengan strategi ventilasi gas yang protektif, yang menyebabkan penundaan adopsi luas teknologi ini dalam praktik klinis rutin.

Neuroproteksi Melalui Hipotermia Terapeutik Ultracepat

Salah satu area penelitian terbaru dan paling menjanjikan dalam ventilasi cair adalah induksi hipotermia terapeutik secara ultracepat untuk melindungi otak dan jantung setelah kejadian henti jantung. Mendinginkan suhu tubuh pasien ke 32-34°C segera setelah jantung kembali berdetak terbukti secara klinis dapat mengurangi kerusakan saraf dan kematian sel otak.

Metode pendinginan konvensional, seperti penggunaan selimut pendingin atau infus cairan dingin, membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai suhu target, yang sering kali sudah terlambat untuk mencegah kerusakan permanen. Ventilasi cair total menggunakan paru-paru sebagai penukar panas internal. Karena paru-paru menerima seluruh output jantung dan memiliki luas permukaan pertukaran yang sangat besar (seukuran lapangan tenis pada manusia dewasa), memompa cairan PFC yang didinginkan ke dalam paru-paru dapat menurunkan suhu organ vital secara drastis dalam waktu kurang dari 10 hingga 20 menit. Dalam model hewan besar seperti babi dan domba, TLV terbukti memberikan neuroproteksi yang jauh lebih unggul dibandingkan metode pendinginan lainnya.

Rekayasa Ventilator Cair: Tantangan dan Solusi Inolivent

Kegagalan beberapa uji coba PLV di masa lalu sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan mekanis. Paru-paru yang berisi cairan memiliki hambatan aliran yang sangat besar, dan penggunaan ventilator gas standar sering kali menyebabkan distribusi cairan yang tidak merata atau tekanan yang berlebihan pada saluran napas. Hal ini mendorong tim peneliti seperti Inolivent di Universitas Sherbrooke untuk mengembangkan ventilator cair total generasi baru yang lebih cerdas.

Tantangan utama dalam ventilasi cair adalah fenomena “aliran tercekik” (choked flow). Karena densitas dan viskositas PFC yang tinggi, tekanan negatif yang diberikan selama fase ekspirasi (penarikan cairan) dapat menyebabkan saluran napas (bronkus) kolaps sebelum cairan sempat keluar sepenuhnya. Ini mirip dengan mencoba menghisap minuman kental melalui sedotan yang tipis; sedotan tersebut akan mengempis.

Prototipe Inolivent-9 menggunakan algoritma kontrol loop tertutup yang sangat sensitif terhadap perubahan tekanan trakea. Ventilator ini secara otomatis menurunkan laju aliran penarikan jika mendeteksi tanda-tanda awal kolapsnya jalan napas, memastikan bahwa volume tidal yang tepat dapat dikeluarkan tanpa menyebabkan trauma pada jaringan paru. Selain itu, teknologi ini sekarang difokuskan pada ventilasi cair dengan volume di bawah kapasitas fungsional residual (sub-FRC), yang terbukti lebih aman dan meminimalkan distensi berlebih pada alveoli.

Penyelaman Laut Dalam dan Penghapusan Penyakit Dekompresi

Mungkin aplikasi yang paling memukau dari ventilasi cair adalah visinya untuk penyelaman laut dalam. Saat ini, penyelam manusia dibatasi oleh kedalaman karena kebutuhan untuk menghirup gas terkompresi. Pada tekanan tinggi, nitrogen dalam campuran udara biasa akan larut ke dalam jaringan tubuh (narkosis nitrogen), dan oksigen murni menjadi beracun. Masalah yang paling fatal adalah penyakit dekompresi atau “the bends”, yang terjadi ketika penyelam naik terlalu cepat dan gas yang terlarut dalam darah membentuk gelembung, mirip dengan pembukaan botol soda yang dikocok.

Dalam skenario ventilasi cair, karena paru-paru diisi dengan cairan yang tidak dapat dimampatkan, tekanan di dalam rongga dada akan segera menyeimbangkan tekanan air di sekitarnya. Tanpa adanya fase gas di dalam paru-paru, tidak ada gas nitrogen atau helium yang dipaksa masuk ke dalam darah pada tekanan tinggi. Ini secara teoretis memungkinkan penyelam untuk turun ke kedalaman ribuan meter dan kembali ke permukaan hampir secara instan tanpa memerlukan prosedur dekompresi yang memakan waktu berjam-jam. Sebagai perbandingan, penyelam yang mencapai kedalaman 300 meter memerlukan waktu dekompresi lebih dari 12 jam, sementara subjek hewan dalam pernapasan cair telah didekompresi dari tekanan yang sama hanya dalam 0,5 detik tanpa efek samping.

Pakaian Selam Arnold Lande dan Insang Buatan

Dr. Arnold Lande, seorang pensiunan ahli bedah jantung-paru, telah mematenkan konsep pakaian selam pernapasan cair yang komprehensif. Sistem Lande melibatkan helm khusus yang diisi dengan PFC untuk menggantikan udara di paru-paru, rongga hidung, dan telinga tengah. Namun, Lande menyadari bahwa pembuangan CO2​ tetap menjadi tantangan terbesar jika hanya mengandalkan pernapasan tidal cairan.

Solusinya adalah penggunaan “insang mekanis” atau artificial gill yang dihubungkan langsung ke sirkulasi darah penyelam melalui vena femoralis di kaki. Darah akan dialirkan melalui perangkat membran eksternal yang mengekstraksi CO2​ langsung dari darah sebelum kembali ke jantung, meniru fungsi insang ikan namun melalui bypass sirkulasi. Dengan demikian, penyelam hanya perlu menghirup cairan PFC untuk mendapatkan oksigen, sementara beban pembuangan CO2​ ditangani oleh sistem insang buatan tersebut.

Perlindungan Terhadap Gaya Gravitasi Ekstrem dalam Eksplorasi Antariksa

Penerapan ventilasi cair juga meluas ke luar angkasa, khususnya sebagai sarana perlindungan bagi astronot terhadap gaya akselerasi ekstrem (G−force). Selama peluncuran roket dengan akselerasi tinggi atau manuver tajam pesawat tempur, darah cenderung berkumpul di bagian bawah tubuh, menyebabkan otak kekurangan oksigen dan astronot kehilangan kesadaran (G-LOC). Selain itu, organ dalam yang berisi udara seperti paru-paru dapat hancur atau mengempis di bawah beban gravitasi yang sangat tinggi.

Dengan merendam astronot dalam tangki cairan yang memiliki densitas serupa dengan tubuh manusia (sekitar 1.0 g/ml) dan mengisi paru-paru mereka dengan cairan PFC, gaya gravitasi akan didistribusikan secara merata ke seluruh permukaan tubuh dan bagian dalam organ. Prinsip hidrostatik ini memastikan bahwa tidak ada perbedaan tekanan yang signifikan antara bagian depan dan belakang tubuh, sehingga sirkulasi darah tetap terjaga dan paru-paru tidak kolaps.

Level Akselerasi Batas Tanpa Cairan Batas Dengan Imersi Cairan Batas Dengan Pernapasan Cair
Gaya G Maksimal ~9 G (dengan G-Suit) ~24 G >100 G (Teoretis)
Durasi Detikan Menit Berjam-jam
Efek Utama G-LOC, Kerusakan Jaringan Squeezing (Penyempitan) Dada Perlindungan Organ Total

Konsep “setelan G sempurna” ini sering kali menggunakan analogi telur; kuning telur yang rapuh di dalam cairan putih telur dapat bertahan dari guncangan besar karena tekanan didistribusikan secara merata di semua sisi. Tanpa udara di paru-paru, hambatan utama terhadap akselerasi ekstrem praktis dihilangkan, membuka jalan bagi perjalanan antarplanet yang melibatkan manuver kecepatan tinggi.

Hambatan Fisiologis, Kerja Pernapasan, dan Viskositas

Meskipun secara teoretis menjanjikan, pernapasan cair memiliki hambatan fisik yang sangat nyata. Masalah utama adalah viskositas dan densitas PFC. Perflubron memiliki densitas sekitar 1.9 g/ml, yang berarti hampir dua kali lebih berat daripada air. Untuk memindahkan satu liter cairan ini masuk dan keluar dari paru-paru setiap beberapa detik, otot pernapasan harus melakukan kerja yang luar biasa berat.

Kerja pernapasan (Work of Breathing – WOB) didefinisikan sebagai hasil kali antara tekanan dan volume. Pada manusia normal yang bernapas udara, WOB sangat rendah karena udara memiliki densitas yang sangat kecil. Namun, saat bernapas dengan PFC, tekanan yang diperlukan untuk mengatasi gesekan aliran cairan melalui percabangan bronkus yang sempit meningkat secara eksponensial. Kelelahan otot diafragma adalah risiko utama, yang pada subjek uji coba Navy SEAL di masa lalu menyebabkan munculnya fraktur stres pada tulang rusuk akibat kontraksi otot yang terlalu kuat saat mencoba mengeluarkan cairan kental tersebut.

Selain itu, terdapat “respons drowning” atau refleks tenggelam yang sangat kuat secara psikologis. Saat cairan menyentuh saluran napas bagian atas, otak mengirimkan sinyal bahaya yang memicu serangan panik, spasme laring, dan penutupan glotis secara paksa. Mengatasi refleks primitif ini memerlukan sedasi medis yang mendalam atau pelatihan mental yang sangat ekstensif, yang menjadikannya tidak praktis untuk penggunaan rekreasi dalam waktu dekat.

Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan Ekonomi

Selain tantangan teknis, ventilasi cair menghadapi hambatan etika lingkungan dan biaya. Perfluorokarbon adalah salah satu gas rumah kaca yang paling kuat yang pernah diketahui. Senyawa ini memiliki masa hidup di atmosfer hingga ribuan tahun karena ikatan C-F yang sangat stabil tidak dapat dipecah oleh sinar matahari di lapisan atas atmosfer. Potensi pemanasan global (Global Warming Potential) dari PFC berkisar antara 6.500 hingga lebih dari 10.000 kali lebih kuat daripada CO2​ dalam periode 100 tahun.

Dalam aplikasi klinis, PFC cenderung menguap dengan cepat dari paru-paru pasien (sekitar 2 hingga 6 ml/kg per jam) dan dibuang bersama udara ekspirasi. Tanpa sistem penangkapan dan kondensasi uap yang sangat efisien pada ventilator, penggunaan ventilasi cair secara luas dapat memberikan kontribusi yang tidak proporsional terhadap perubahan iklim. Dari sisi ekonomi, biaya produksi PFC kelas medis sangat tinggi karena proses fluorinasi yang rumit, menjadikannya terapi yang sangat mahal dan terbatas hanya untuk pusat medis tingkat lanjut.

Masa Depan Ventilasi Cair: Menuju Implementasi yang Aman

Saat kita menatap masa depan, arah penelitian ventilasi cair bergeser menuju otomatisasi dan presisi. Pengembangan ventilator Inolivent-9 dan teknik TLV sub-FRC menunjukkan bahwa risiko trauma mekanis dapat diminimalkan melalui kontrol digital yang canggih. Di bidang penyelaman, integrasi antara pernapasan cair dengan teknologi sirkulasi ekstrakorporeal (ECMO mini) untuk pembuangan CO2​ mungkin akan menjadi standar bagi operasi laut dalam militer atau industri energi di masa depan.

Potensi medis untuk neuroproteksi pasca henti jantung melalui pendinginan paru-paru adalah area yang kemungkinan besar akan melihat aplikasi klinis manusia pertama dalam dekade ini. Sementara itu, bagi bayi prematur, ventilasi cair tetap menjadi “cawan suci” yang menjanjikan masa depan tanpa cacat paru kronis.

Secara keseluruhan, meskipun manusia mungkin tidak akan pernah “berenang seperti ikan” dalam arti biologis yang sebenarnya, ventilasi cair telah memberikan kita kemampuan untuk melampaui batas-batas pernapasan berbasis gas. Dengan menggabungkan kimia unik perfluorokarbon, rekayasa mekanik ventilator cair, dan pemahaman mendalam tentang fisiologi pernapasan, manusia sedang dalam perjalanan untuk menaklukkan lingkungan yang sebelumnya dianggap mustahil untuk dihuni—dari paru-paru yang hancur karena penyakit, hingga kegelapan abadi di dasar palung laut dan kehampaan ruang angkasa yang penuh akselerasi. Tantangan yang tersisa bukan lagi tentang apakah manusia bisa bernapas dalam cairan, melainkan bagaimana kita bisa melakukannya dengan cara yang aman, nyaman, dan berkelanjutan secara lingkungan.