Loading Now

The Royal Ascetics of Majapahit: Hidup dalam Harmoni Mandala

Otoritas Metafisika dalam Kepemimpinan Jawa Kuno

Eksistensi kemaharajaan Majapahit dalam sejarah Asia Tenggara sering kali dipandang sebagai sebuah pencapaian politik dan militer yang monumental. Namun, di balik struktur birokrasi yang rigid dan ekspansi teritorial yang menjangkau hingga 98 negara bawahan, terdapat sebuah fondasi spiritual yang jauh lebih esensial bagi stabilitas kekuasaan tersebut. Para bangsawan di Jawa kuno, khususnya pada era Majapahit, menjalani sebuah pola kehidupan yang paradoks di mata pengamat modern: mereka adalah penguasa duniawi yang mengelola perdagangan maritim dan diplomasi internasional, namun pada saat yang sama, mereka adalah praktisi spiritual yang mendalam yang secara rutin menarik diri dari kemewahan istana menuju kesunyian gua dan lereng gunung.

Konsep “Royal Ascetic” atau Raja-Resi mencerminkan sebuah keyakinan bahwa kekuasaan politik bukanlah hasil dari kekuatan fisik atau akumulasi kekayaan semata, melainkan manifestasi dari kapasitas individu sang penguasa untuk menampung dan memancarkan energi kosmis. Dalam pandangan dunia Jawa, kekuasaan bersifat konkret, homogen, dan konstan, namun ia hanya akan menetap pada mereka yang memiliki kehalusan jiwa dan kontrol penuh atas nafsu pribadinya. Ketidakmampuan seorang penguasa untuk mengendalikan diri dipandang sebagai sebuah kebocoran energi batin yang secara otomatis akan merusak tatanan harmoni mandala dan memicu keruntuhan kerajaan.

Oleh karena itu, praktik tapa brata yang dilakukan di lereng Gunung Penanggungan atau di dalam ceruk Gua Selomangleng bukanlah sekadar kegiatan tambahan, melainkan protokol kenegaraan yang paling fundamental. Raja yang bermeditasi sedang melakukan sinkronisasi antara ritme kerajaan dengan napas alam semesta. Inilah yang memungkinkan terciptanya “Harmoni Mandala”, di mana pusat (raja) dan periferi (rakyat dan alam) berada dalam satu frekuensi yang seimbang.

Kosmologi Mandala dan Struktur Kekuasaan

Sistem pemerintahan Majapahit dikembangkan dengan merujuk pada doktrin cosmoginos, sebuah keyakinan bahwa tatanan di bumi harus mencerminkan tatanan di langit. Kekuasaan raja dipandang sebagai pusat dari sebuah mandala—lingkaran energi yang memancar keluar ke wilayah-wilayah bawahan. Struktur ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga sakral dan hierarkis.

Stratifikasi Teritorial dan Pengaruh Spiritual

Dalam praktiknya, Majapahit membagi wilayah kekuasaannya ke dalam beberapa lapisan yang mencerminkan kedekatan dengan sumber kesucian di ibu kota Trowulan. Kedekatan ini tidak hanya diukur secara geografis, tetapi juga melalui loyalitas pribadi dan keselarasan budaya.

Zona Mandala Cakupan Wilayah dan Karakteristik Budaya Mekanisme Kontrol Politik Kedudukan Spiritual
Negara Luhur Inti kerajaan (Majapahit Lama), mencakup ibu kota dan Jawa bagian timur. Dikelola secara efektif oleh para Bhre yang merupakan kerabat dekat raja. Pusat sakralitas di mana raja bertindak sebagai titisan dewa tertinggi.
Mancanegara Wilayah di sekitar inti yang dipengaruhi secara kuat oleh kebudayaan Jawa. Dipimpin oleh penguasa pribumi yang membangun persekutuan atau pernikahan dengan Majapahit. Wilayah penyangga yang wajib membayar upeti dan mengikuti ritual kenegaraan.
Nusantara Wilayah koloni luas yang tidak selalu mencerminkan kebudayaan Jawa. Mengakui kedaulatan Majapahit dan wajib membayar upeti tahunan. Lingkaran terluar mandala yang mendapatkan perlindungan dari payung kerajaan.

Kekuatan yang mengikat zona-zona ini bukanlah kekerasan militer yang konstan, melainkan otoritas moral sang raja. Ketika seorang raja dianggap kehilangan “wahyu” atau kekuatan batinnya akibat kegagalan mengendalikan nafsu, maka ikatan spiritual dengan wilayah Nusantara dan Mancanegara akan melemah. Inilah sebabnya mengapa pengendalian diri menjadi kunci stabilitas politik; seorang raja yang halus—mampu memusatkan daya batin melalui pertapaan—akan memiliki wibawa yang mampu menundukkan musuh tanpa harus menghunus keris.

Pengendalian Diri sebagai Fondasi Otoritas: Konsep Halus dan Kasar

Dalam sosiologi politik Jawa, terdapat pembedaan tegas antara sifat halus dan kasar. Golongan penguasa atau priyayi diidentikkan dengan sifat halus, yang bukan berarti lemah, melainkan perwujudan dari penguasaan diri yang ekstrem. Kehalusan jiwa dicapai melalui disiplin batiniah yang konsisten, pendidikan yang mendalam, dan yang terpenting, pengendalian nafsu-nafsu primitif.

Dialektika Nafsu dan Kekuasaan

Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa manusia yang didominasi oleh nafsunya (sifat kasar) tidak akan mampu memimpin orang lain karena ia bahkan tidak mampu memimpin dirinya sendiri. Sebaliknya, seorang penguasa yang mampu meminimalkan keinginan pribadinya—seperti tidur sesedikit mungkin, makan sekadarnya, dan mengontrol emosi—akan memiliki energi cadangan yang luar biasa untuk kepentingan publik.

Prinsip ini tercermin dalam etika kepemimpinan yang disebut Sad Guna Upaya, enam upaya luhur yang harus dikuasai oleh pemimpin Majapahit untuk menjaga integritas mandala.

Prinsip Sad Guna Upaya Definisi dan Manifestasi Praktis Dampak terhadap Harmoni Mandala
Sidi Wasesa Pemimpin harus bersahabat dan memiliki kedekatan emosional dengan rakyatnya. Menciptakan rasa aman dan loyalitas yang bersifat organik dari bawah.
Wigraha Wasesa Kemampuan untuk mempertahankan hubungan baik dengan pihak lain. Mencegah konflik internal dan menjaga perdamaian antar-wilayah.
Wibawa Wasesa Memiliki karisma yang disegani oleh rakyat, tetangga, maupun musuh. Menghasilkan kepatuhan tanpa paksaan melalui aura kekuasaan yang sakral.
Wunaya Wasesa Kecakapan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang adil. Menjamin terpenuhinya kebutuhan semua pihak sehingga memuaskan masyarakat.
Gasraya Wasesa Kemampuan strategis dan mental untuk menghadapi tantangan serta musuh. Menjaga kedaulatan kerajaan dari ancaman eksternal maupun pemberontakan.
Stana Wasesa Kemampuan untuk memelihara perdamaian dan memperkuat persahabatan. Menciptakan stabilitas jangka panjang dalam jejaring mandala.

Setiap poin dalam Sad Guna Upaya menuntut pengendalian diri yang tinggi. Sebagai contoh, Sidi Wasesa menuntut raja untuk menanggalkan egonya agar bisa mendengar aspirasi rakyat jelata, sementara Wibawa Wasesa hanya bisa muncul jika sang raja telah mencapai tingkat ketenangan batin yang tidak goyah oleh pujian maupun hinaan. Kegagalan mempraktikkan hal ini, seperti yang terjadi pada masa Jayanegara yang dijuluki “Kala Gemet” (Penjahat Lemah) dalam Pararaton, mengakibatkan munculnya berbagai pemberontakan karena sang raja dianggap kehilangan otoritas moral.

Gayatri Rajapatni: Arsitek Spiritual di Balik Kejayaan

Salah satu figur yang paling mewakili konsep bangsawan spiritual adalah Gayatri Rajapatni. Sebagai putri bungsu dari Kertanegara (Raja Singhasari yang penganut Tantra taat) dan istri dari Raden Wijaya, ia memegang posisi sentral dalam struktur kekuasaan Majapahit. Namun, kontribusi paling signifikan dari Gayatri justru terjadi ketika ia memutuskan untuk melepaskan segala kemewahan duniawi dan menjadi seorang bhiksuni (biarawati Buddha).

Peran Ganda sebagai Matriark dan Pertapa

Setelah kematian Raden Wijaya pada tahun 1309, Gayatri tidak mengejar kekuasaan formal sebagai ratu, melainkan memilih jalan asketisme. Keputusan ini bukan merupakan pelarian dari tanggung jawab politik, melainkan sebuah transformasi strategis. Dari biara, ia bertindak sebagai penasihat agung (Makalamanggalya) dan mentor bagi tokoh-tokoh besar seperti Gajah Mada.

Praktik spiritual yang dijalani Gayatri memberikannya legitimasi spiritual yang sangat tinggi, melampaui gelar politik mana pun. Ia dianggap sebagai inkarnasi Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan tertinggi dalam tradisi Buddha Mahayana. Melalui bimbingan spiritualnya, ia membantu putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, dan cucunya, Hayam Wuruk, untuk menjaga keseimbangan kerajaan di masa-masa sulit.

Ketertarikan Gayatri pada asketisme juga terlihat dari dukungannya terhadap karier Gajah Mada. Gajah Mada sendiri adalah seorang praktisi pengendalian diri yang ekstrem, yang dibuktikan melalui Sumpah Palapa—sebuah sumpah untuk tidak menikmati kenikmatan duniawi (amukti palapa) sebelum seluruh Nusantara bersatu. Sinergi antara kebijakan spiritual Gayatri dan disiplin asketik Gajah Mada inilah yang menjadi mesin penggerak bagi ekspansi Majapahit ke seluruh pelosok Nusantara.

Geografi Suci: Gunung Penanggungan sebagai Poros Dunia

Bagi para penguasa Majapahit, alam semesta bukanlah sekadar objek fisik, melainkan sebuah medan energi sakral. Di Jawa Timur, Gunung Penanggungan—yang secara kuno dikenal sebagai Gunung Pawitra—memiliki kedudukan yang sangat istimewa sebagai pusat mikrokosmos.

Pawitra: Fragmen Mahameru di Tanah Jawa

Menurut teks Tantu Panggelaran, Gunung Penanggungan diyakini sebagai puncak suci dari Gunung Mahameru di India yang dipindahkan oleh para dewa ke Pulau Jawa untuk menjaga stabilitas pulau tersebut agar tidak bergoyang di lautan. Dengan konfigurasi dikelilingi oleh delapan gunung kecil lainnya di delapan penjuru mata angin, Penanggungan secara alami membentuk sebuah mandala geografis yang sempurna.

Di lereng-lereng gunung inilah para bangsawan Majapahit melakukan ziarah spiritual dan ritual penyucian diri. Keberadaan lebih dari seratus situs arkeologi di Penanggungan, mulai dari altar pemujaan hingga petirtaan suci, membuktikan intensitas kegiatan spiritual di wilayah ini.

  • Petirtaan Jolotundo: Dibangun pada masa akhir abad ke-10 (era Medang) namun terus digunakan hingga masa Majapahit, Jolotundo adalah situs pemandian suci yang melambangkan air kehidupan. Para raja dan resi datang ke sini untuk mandi ritual sebagai bentuk pembersihan diri dari kotoran batin (klesa).
  • Candi Jolotundo dan Legenda Udayana: Relief di Jolotundo menggambarkan kisah-kisah kuno yang menekankan hubungan antara keturunan raja dan kesucian alam. Air yang mengalir dari Jolotundo dianggap memiliki kualitas penyembuhan dan keberkahan, yang bahkan di masa modern masih dianggap suci oleh masyarakat Jawa.
  • Ritual Pradaksina: Para praktisi spiritual akan melakukan pendakian melalui jalur kuno yang melingkari tubuh gunung searah jarum jam (pradaksina). Tindakan ini melambangkan penghormatan terhadap pusat semesta dan upaya penyelarasan jiwa dengan ritme alam.

Para penguasa Majapahit menginvestasikan sumber daya yang besar untuk memelihara situs-situs di Gunung Penanggungan. Sebagai imbalannya, para resi yang bermukim di sana memberikan dukungan moral dan legitimasi spiritual bagi kekuasaan sang raja. Ini menciptakan sebuah simbiosis antara “Negara” dan “Gunung”, di mana stabilitas politik di dataran rendah bergantung pada kesucian ritual di dataran tinggi.

Gua Selomangleng: Kesunyian dan Penaklukan Diri

Jika gunung melambangkan pendakian menuju cahaya, maka gua melambangkan perjalanan ke dalam kegelapan batin untuk menghadapi nafsu yang paling tersembunyi. Gua Selomangleng di Kediri dan Tulungagung adalah situs-situs pertapaan yang sangat penting bagi kaum bangsawan Majapahit.

Simbolisme Relief Arjuna Wiwaha

Gua Selomangleng Tulungagung, yang dipahat dari batu sedimen besar, memiliki struktur arsitektur yang dirancang khusus untuk meditasi mendalam (Wanaprasta). Di dalam ceruk gua tersebut, terdapat relief yang menggambarkan kisah Arjuna Wiwaha—sebuah narasi klasik tentang perjuangan ksatria dalam menaklukkan godaan demi mendapatkan kekuatan ilahi.

Relief ini memberikan pesan visual bagi para meditator bahwa kekuasaan sejati tidak didapat dari senjata, melainkan dari kemampuan untuk tetap diam dan fokus saat digoda oleh bidadari maupun diancam oleh raksasa. Gua tersebut bukan sekadar tempat berteduh, melainkan kawah candradimuka di mana seorang penguasa “mati” dari ego dunianya untuk “lahir kembali” sebagai pemimpin yang tercerahkan.

Arsitektur gua yang menghadap ke arah barat juga mengandung makna simbolis tentang transisi dan pelepasan. Dalam kosmologi Jawa, barat adalah arah matahari terbenam, yang melambangkan akhir dari masa kehidupan duniawi yang aktif dan awal dari pencarian spiritual yang kontemplatif. Dengan berdiam diri di dalam kesunyian Selomangleng, para bangsawan Majapahit mempraktikkan penghentian seluruh aktivitas panca indera, sebuah latihan ekstrem dalam pengendalian diri yang dipercaya akan meningkatkan daya batin mereka secara signifikan.

Ritual Sraddha: Menjaga Kontinuitas Jiwa dan Negara

Harmoni mandala Majapahit tidak berakhir saat seorang penguasa wafat. Justru, kematian dipandang sebagai momen di mana energi spiritual sang penguasa harus dikukuhkan kembali agar tetap bisa memayungi kerajaan. Upacara Sraddha adalah ritual agung yang dirancang untuk tujuan ini.

Transformasi Raja menjadi Leluhur Pelindung

Upacara Sraddha yang paling legendaris dilakukan oleh Hayam Wuruk untuk menghormati neneknya, Gayatri Rajapatni, pada tahun 1362 M. Ritual ini dilakukan dua belas tahun setelah kematiannya, sebagai tahap akhir pemurnian jiwa menuju persatuan dengan dewa.

Dalam upacara ini, dibuatlah sebuah arca perwujudan (pratiṣṭa) yang melambangkan jiwa sang leluhur. Arca tersebut disembah dan diberikan persembahan mewah oleh seluruh anggota keluarga kerajaan dan pejabat tinggi. Prosesi ini tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga memiliki fungsi politik yang vital:

  1. Legitimasi Dinasti: Menunjukkan bahwa penguasa yang sekarang (Hayam Wuruk) adalah penerus sah dari energi spiritual yang agung.
  2. Redistribusi Kesejahteraan: Raja memberikan anugerah berupa kain dan makanan kepada rakyat, yang mempererat ikatan antara raja dan masyarakat.
  3. Integrasi Kosmis: Melalui doa-doa pendeta Siwa dan Buddha, jiwa sang leluhur secara simbolis “ditanamkan” kembali ke dalam tanah dan air Majapahit untuk memberikan kesuburan dan perlindungan.

Tradisi ini menunjukkan bahwa bagi Majapahit, negara adalah sebuah entitas spiritual yang melampaui waktu. Seorang raja yang telah meninggal tetap menjadi bagian dari harmoni mandala jika ritual penyucian dilakukan dengan benar. Jejak ritual ini masih bertahan hingga kini dalam tradisi Nyadran di Jawa, di mana ziarah ke makam leluhur dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu spiritual.

Tantra-Bhairava: Menjinakkan Sisi Gelap demi Keseimbangan

Dalam spektrum spiritualitas Majapahit, terdapat pula aliran esoteris yang sangat kuat: Tantra-Bhairava. Aliran ini sering kali disalahpahami oleh pengamat luar karena ritualnya yang melibatkan elemen-elemen yang tampak mengerikan, namun tujuannya tetap selaras dengan prinsip pengendalian diri.

Ritual Pancamakara dan Pengendalian Nafsu

Penganut Tantra-Bhairava, seperti Raja Kertanegara dan Adityawarman, mempraktikkan ritual Pancamakara atau Mo-Limo (lima elemen “M”). Dalam ritual ini, praktisi sengaja mengekspos diri mereka pada hal-hal yang biasanya dilarang untuk menguji sejauh mana mereka dapat mempertahankan kontrol diri di tengah godaan ekstrem.

  • Madya (Minuman Keras): Digunakan untuk mencapai kondisi kesadaran yang terlepas dari batasan rasio, namun praktisi dituntut untuk tidak kehilangan kendali batin.
  • Mamsa (Daging) dan Matsya (Ikan): Melambangkan pemenuhan kebutuhan fisik namun harus dikonsumsi dalam kerangka ritual yang sakral.
  • Maithuna (Hubungan Seksual): Simbol dari penyatuan dua kutub energi alam semesta (Siwa dan Shakti).
  • Mudra (Posisi Tubuh): Digunakan untuk memusatkan energi yang dibangkitkan dari keempat elemen sebelumnya.

Di Majapahit, lapangan mayat terbesar yang disebut Ksetralaya atau Tralaya di Trowulan sering kali menjadi arena bagi ritual ini. Para penguasa yang mempraktikkan Tantra-Bhairava percaya bahwa dengan menghadapi ketakutan akan kematian dan godaan nafsu di tempat yang paling ekstrem, mereka akan mendapatkan kekuatan gaib (siddhi) yang diperlukan untuk melindungi kerajaan dari bencana dan serangan musuh. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang paling radikal: menaklukkan nafsu bukan dengan menghindarinya, melainkan dengan menghadapinya secara frontal di medan ritual.

Hayam Wuruk: Ziarah Kedaulatan di Tanah Jawa

Puncak dari integrasi antara peran raja sebagai administrator dan praktisi spiritual terlihat jelas pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389). Di bawah bimbingan ibunya, Tribhuwana Tunggadewi, dan mentornya, Gajah Mada, Hayam Wuruk membawa Majapahit ke masa keemasan melalui kombinasi pembangunan ekonomi dan pemeliharaan spiritualitas.

Perjalanan Ziarah (Desawarnana)

Salah satu kegiatan rutin Hayam Wuruk yang paling terdokumentasi dengan baik adalah perjalanan keliling wilayah kerajaannya, yang dicatat secara rinci dalam kitab Nagarakṛtāgama. Perjalanan ini menempuh jarak ratusan kilometer, melintasi desa-desa, pantai, dan pegunungan di Jawa Timur.

Fokus Perjalanan Hayam Wuruk Kegiatan dan Signifikansi Dampak bagi Stabilitas Mandala
Kunjungan Keagamaan Menziarahi candi pendarmaan leluhur di Blitar (Panataran) dan tempat lain. Memperkuat ikatan batin antara raja dan leluhur sebagai pelindung negara.
Interaksi Sosial Mengadakan pertunjukan seni (wayang, topeng) dan memberi anugerah kepada rakyat. Membangun loyalitas langsung tanpa perantara birokrasi yang kaku.
Audit Infrastruktur Memeriksa kondisi pertanian, jaringan kanal, dan keamanan desa. Menjamin kemakmuran ekonomi yang menjadi dasar bagi ketenangan masyarakat.
Retret Spiritual Mengunjungi mandala atau pusat pertapaan resi di lereng gunung. Melakukan pertukaran energi spiritual dengan kaum petapa yang berpengaruh.

Perjalanan ini membuktikan bahwa bagi Hayam Wuruk, kekuasaan tidak bersifat statis di ibu kota, melainkan dinamis. Dengan hadir secara fisik di berbagai wilayah, ia menyebarkan aura “wahyu” kerajaannya, menyelaraskan kembali mandala yang mungkin sempat goyah, dan memastikan bahwa seluruh komponen kerajaan tetap berada dalam satu harmoni. Ia adalah penguasa yang melayani (servant leadership), yang memahami bahwa kesejahteraan rakyat adalah cerminan dari kemurnian batin sang raja.

Transisi Spiritual: Dari Mandala Hindu-Buddha ke Mandala Islam

Harmoni mandala Majapahit tidak lenyap begitu saja seiring masuknya Islam. Sebaliknya, terjadi proses akulturasi dan adaptasi yang luar biasa halus. Pola kepemimpinan ganda sebagai penguasa dan wali tetap berlanjut dalam tradisi kesultanan-kesultanan Islam di Jawa.

Transformasi Mo-Limo menjadi Moh-Limo

Salah satu contoh paling mencolok dari adaptasi ini dilakukan oleh Sunan Ampel dan murid-muridnya (Wali Songo). Mereka mengambil ritual Mo-Limo dari tradisi Tantra-Bhairava Majapahit yang bersifat esoteris dan mengubahnya menjadi kode etik publik yang disebut Moh-Limo—perintah untuk “tidak mau” melakukan lima hal buruk (main, madon, maling, madat, minum).

Struktur spasial juga mengalami kontinuitas. Pusat-pusat pendidikan Islam yang disebut pesantren sering kali dibangun di atas atau di dekat lokasi mandala kuno. Arsitektur gerbang di makam-makam suci, seperti di Astana Sunan Gunung Jati Cirebon, tetap mempertahankan bentuk Candi Bentar dan Paduraksa yang berasal dari tradisi Majapahit, melambangkan bahwa perjalanan menuju Tuhan tetap memerlukan transisi melalui gerbang-gerbang kesucian.

Bahkan konsep raja sebagai pemimpin spiritual tetap dipertahankan oleh penguasa Mataram Islam melalui gelar Khalifatullah Sayidin Panatagama, yang menunjukkan peran ganda sebagai wakil Tuhan di dunia dan pengatur agama—sebuah evolusi dari konsep Raja-Resi Majapahit.

Kesimpulan: Warisan Abadi Pengendalian Diri

Fenomena Royal Ascetics Majapahit memberikan pelajaran mendalam tentang filosofi kekuasaan di Nusantara. Kejayaan Majapahit tidak hanya dibangun di atas fondasi militer dan ekonomi, tetapi di atas kemampuan para pemimpinnya untuk menaklukkan musuh yang paling sulit: diri mereka sendiri. Dengan meletakkan pengendalian nafsu pribadi sebagai syarat utama kekuasaan politik, Majapahit berhasil menciptakan sebuah tatanan mandala yang harmonis dan tahan lama.

Tradisi tapa brata di lereng gunung dan gua meditasi membuktikan bahwa para bangsawan Majapahit memahami batasan dari kekuatan materi. Mereka menyadari bahwa tanpa dukungan energi spiritual yang diperoleh melalui penyucian diri, struktur politik akan menjadi rapuh dan mudah hancur oleh keserakahan. Warisan pemikiran ini tetap relevan hingga hari ini, mengingatkan kita bahwa kualitas seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kebijakan luar yang ia buat, tetapi oleh kedalaman batin dan integritas moral yang ia miliki dalam kesendiriannya.

Harmoni mandala Majapahit adalah sebuah mahakarya peradaban di mana duniawi dan ukhrawi, politik dan spiritual, serta istana dan gua, tidak dipandang sebagai dua hal yang terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh demi keseimbangan alam semesta.