Transformasi Bioteknologi dan Etnobotani Durian: Kajian Mendalam Tempoyak Sebagai Pilar Gastronomi Melayu dan Potensi Sumatran Umami Global
Evolusi peradaban manusia sering kali ditentukan oleh kemampuan mereka dalam mengelola surplus sumber daya alam melalui teknik preservasi yang inovatif. Di wilayah tropis Asia Tenggara, khususnya di sepanjang gugusan pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya, durian (Durio zibethinus) telah lama menempati posisi sentral tidak hanya sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai elemen identitas kultural yang mendalam. Fenomena tempoyak—daging buah durian yang difermentasi menjadi bumbu masakan dan lauk-pauk—mewakili salah satu bentuk kecerdasan bioteknologi tradisional yang paling radikal dalam sejarah pangan Nusantara. Produk ini mengubah paradigma buah durian yang secara konvensional dihargai karena kemanisan dan profil lemaknya yang kaya, menjadi sebuah substansi bumbu yang dominan asam, gurih, dan sarat dengan dimensi umami yang kompleks. Transformasi ini bukan sekadar upaya memperpanjang masa simpan, melainkan sebuah dekonstruksi kimiawi yang melibatkan komunitas mikroba spesifik, yang secara kolektif menyulap “Raja Buah” menjadi apa yang kini mulai diakui secara internasional sebagai Sumatran Umami.
Akar Historis dan Narasi Diaspora Etnik Melayu
Keberadaan tempoyak dalam struktur kuliner Nusantara tidak dapat dipisahkan dari sejarah migrasi dan pola pemukiman etnik Melayu. Secara etimologis, istilah “tempoyak” diserap dari teknik pengolahannya, yakni dari kata dasar “poyak” yang dalam bahasa Melayu modern berarti “mengoyak” atau mencabik. Hal ini merujuk pada tahap awal pembuatan di mana daging buah durian harus dipisahkan dari bijinya dengan cara dikoyak secara manual sebelum ditempatkan dalam wadah fermentasi. Praktik ini telah didokumentasikan dalam literatur klasik, salah satunya oleh Munshi Abdullah bin Abdul Kadir dalam bukunya Hikayat Abdullah pada tahun 1836, yang mencatat pengalamannya melihat tempoyak saat berkunjung ke Terengganu. Catatan ini menunjukkan bahwa pada abad ke-19, tempoyak sudah menjadi komoditas pangan yang mapan dan dikenal luas di wilayah pesisir timur Semenanjung Malaya.
Migrasi dan Penyebaran Budaya Fermentasi
Sejarah tempoyak berkelindan dengan pola pergerakan nomadik masyarakat adat Sumatera yang telah tersebar di berbagai pulau di kepulauan Melayu sejak era 3.000 SM hingga masa kolonial abad ke-20. Para pelayar dan perantau Melayu memerlukan perbekalan makanan yang awet dan memiliki densitas nutrisi tinggi untuk mendukung perjalanan panjang melintasi laut. Durian, yang memiliki masa panen melimpah namun cepat membusuk (hanya bertahan sekitar dua hari setelah jatuh dari pohon), menjadi kandidat utama untuk diolah menjadi makanan awetan. Kerajaan Melayu yang berpusat di wilayah Jambi pada abad ke-14 diidentifikasi sebagai salah satu entitas politik dan budaya utama yang mempercepat penyebaran teknik pembuatan tempoyak ke wilayah Riau, Kalimantan Barat, hingga ke wilayah utara Semenanjung melalui proses migrasi penduduk.
Dalam konteks sosiokultural di Sumatera bagian Selatan, terutama di Palembang dan Jambi, tempoyak dianggap sebagai simbol ketahanan pangan lokal. Durian yang digunakan untuk pembuatan tempoyak sering kali merupakan durian yang terlalu matang (over-ripe), memiliki kualitas fisik yang kurang baik untuk dijual sebagai buah segar, atau merupakan surplus dari panen raya yang tidak terserap pasar. Dengan demikian, tempoyak mencerminkan filosofi keberlanjutan di mana tidak ada bagian dari hasil bumi yang terbuang sia-sia. Pada tahun 2019, nilai budaya ini diakui secara formal di Indonesia ketika Tempoyak ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dari Sumatera Selatan.
Mekanisme Mikrobiologi: Dinamika Bakteri Asam Laktat
Inti dari transformasi durian menjadi tempoyak terletak pada proses fermentasi spontan yang didominasi oleh Bakteri Asam Laktat (BAL). Proses ini melibatkan aktivitas metabolisme mikroba yang secara alami terdapat pada permukaan buah durian dan lingkungan sekitarnya. Karbohidrat dan gula sederhana yang melimpah dalam durian (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) berfungsi sebagai substrat utama bagi BAL untuk menghasilkan asam organik, yang pada gilirannya mengubah profil sensorik dan tekstur daging buah.
Komunitas Mikroba dan Suksesi Spesies
Penelitian mikrobiologi modern menggunakan teknik sekuensing gen 16S rRNA telah berhasil mengidentifikasi keragaman spesies yang terlibat dalam fermentasi tempoyak. Dominasi spesies BAL tertentu sangat krusial dalam menentukan atribut sensorik, tekstur, dan sifat antimikroba dari produk akhir. Beberapa spesies yang paling umum ditemukan meliputi Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum, Lactobacillus curvatus, Lactobacillus casei, dan Pediococcus acidilactici. Selain itu, terdapat penemuan spesies unik yang secara spesifik beradaptasi dengan lingkungan durian, yaitu Fructobacillus durionis dan Lactobacillus durianis.
Selama masa pemeraman yang biasanya berlangsung selama 3 hingga 7 hari, populasi BAL meningkat secara signifikan hingga mencapai level log 8,88 hingga 10,42 CFU/g. Aktivitas bakteri ini menyebabkan penurunan nilai $pH$ secara drastis dari kondisi awal durian segar yang mendekati netral ($pH$ 6,4 – 7,0) menjadi lingkungan asam dengan rentang $pH$ antara 3,5 hingga 4,2. Keasaman yang tinggi ini bertindak sebagai pengawet alami yang menekan pertumbuhan patogen berbahaya seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella spp., sehingga memberikan stabilitas mikrobiologis pada tempoyak.
Peran Intervensi Garam dalam Fermentasi
Penambahan garam merupakan variabel teknis paling krusial yang menentukan klasifikasi tempoyak. Garam berfungsi sebagai agen penyeleksi mikroba, di mana hanya bakteri toleran garam (seperti BAL) yang dapat tumbuh dengan optimal, sementara mikroba pembusuk lainnya terhambat. Berdasarkan konsentrasi garam yang digunakan, masyarakat Melayu membagi tempoyak menjadi dua kategori utama :
- Tempoyak Asam: Diproduksi dengan penambahan garam kurang dari 5% dari berat total daging buah. Proses ini menghasilkan profil rasa yang didominasi oleh keasaman tajam hasil fermentasi yang sangat aktif.
- Tempoyak Asin: Diproduksi dengan penambahan garam lebih dari 5%. Konsentrasi garam yang lebih tinggi memperlambat laju fermentasi namun memberikan umur simpan yang lebih panjang, sering kali mencapai 3 hingga 6 bulan tanpa memerlukan pendinginan.
| Komponen Nutrisi | Durian Segar (D. zibethinus) | Tempoyak (Fermentasi 7 Hari) | Implikasi Perubahan |
| Nilai $pH$ | 6,42 | 3,50 – 4,20 | Peningkatan keamanan pangan dan rasa asam |
| Kadar Air (%) | 58 – 60 | 70 – 85 | Tekstur berubah menjadi pasta semisolid |
| Protein (%) | 3,67 | 2,84 | Degradasi protein menjadi asam amino bebas |
| Lemak (%) | 3,41 | 3,00 – 3,41 | Relatif stabil, berkontribusi pada mouthfeel |
| Gula Reduksi (g/100g) | 27,66 | Berkurang signifikan | Terkonversi menjadi asam laktat dan energi bakteri |
Data perbandingan nutrisi di atas menunjukkan bahwa proses fermentasi tidak hanya mengubah rasa, tetapi juga secara fundamental merestrukturisasi komposisi fisik dan kimia durian.
Analisis Biokimia: Dari Aroma Belerang ke Sumatran Umami
Salah satu aspek yang paling menarik bagi audiens global adalah bagaimana fermentasi mampu “menjinakkan” aroma durian yang sering dianggap terlalu menyengat bagi penciuman yang belum terbiasa. Rahasia di balik transformasi ini terletak pada pergeseran komposisi Senyawa Belerang Volatil (VSC) dan pembentukan senyawa aromatik baru selama fermentasi.
Reduksi Senyawa Belerang Volatil (VSC)
Durian segar dikenal kaya akan VSC seperti tiol (etantioat dan propantioat) dan disulfida (dietil disulfida) yang memberikan karakteristik bau menyerupai bawang atau belerang. Selama proses fermentasi oleh bakteri asam laktat, terjadi mekanisme reduksi yang signifikan. Beberapa senyawa sulfur utama seperti dietil trisulfida dan dietil disulfida menurun ke level yang sangat rendah atau bahkan tidak terdeteksi dalam produk akhir.
Penelitian menunjukkan bahwa mikroba dan ragi yang mungkin terlibat secara sekunder dalam fermentasi dapat mengubah disulfida menjadi tiol, yang kemudian dihilangkan melalui interaksi dengan mannoprotein dalam dinding sel mikroba. Hasilnya, aroma tempoyak beralih dari bau durian yang menyengat menjadi aroma asam organik yang lebih segar, kompleks, dan “funky” yang sering dibandingkan dengan profil keju biru (blue cheese) atau yogurt yang sangat pekat.
Sintesis Senyawa Aromatik Baru
Selain menghilangkan bau yang tidak diinginkan, fermentasi juga menghasilkan 16 senyawa non-sulfur baru yang tidak ditemukan pada durian segar. Senyawa-senyawa ini meliputi alkohol seperti 2,3-butanediol dan 1,3-butanediol, asam karboksilat seperti asam oktanoat, serta berbagai jenis ester. Ester, yang merupakan hasil sampingan metabolisme BAL dari asam lemak yang terdapat dalam lemak durian (3-5%), memberikan kontribusi pada aroma buah-buahan yang lebih halus. Kombinasi antara hilangnya senyawa sulfur dan munculnya ester serta alkohol menciptakan profil aroma yang lebih seimbang dan menarik bagi palet kuliner yang menyukai rasa fermentasi.
Konsep Umami dan Sinergi Rasa
Tempoyak sering kali disebut sebagai sumber umami alami Sumatera karena kandungan asam glutamatnya yang tinggi sebagai hasil dari proteolisis protein durian selama fermentasi. Dalam ilmu rasa, umami adalah rasa dasar kelima yang dipicu oleh L-glutamat dan nukleotida. Kekuatan tempoyak sebagai “Sumatran Umami” paling nyata terlihat ketika ia dikombinasikan dengan protein hewani, terutama ikan sungai.
Fenomena “Sinergi Umami” terjadi ketika asam glutamat dari tempoyak bertemu dengan nukleotida seperti inosin monofosfat (IMP) yang melimpah pada daging ikan. Interaksi ini meningkatkan intensitas rasa gurih secara eksponensial, jauh melampaui penjumlahan matematis dari masing-masing bahan. Inilah alasan mengapa masakan seperti Gulai Patin Tempoyak memiliki kedalaman rasa yang sangat memuaskan dan membuat ketagihan bagi penikmatnya.
| Jenis Makanan Fermentasi | Sumber Protein/Karbohidrat | Mikroba Utama | Profil Rasa Dominan |
| Tempoyak | Durian (Durio zibethinus) | BAL (L. plantarum) | Asam, Manis, Funky, Gurih |
| Miso | Kedelai & Beras/Barley | Aspergillus oryzae | Asin, Gurih (Umami), Tanah |
| Kimchi | Sawi Putih & Seafood | BAL (Leuconostoc) | Pedas, Asam, Tajam, Segar |
| Nattō | Kedelai | Bacillus subtilis | Gurih, Pahit, Beraroma Kuat |
Perbandingan di atas menempatkan tempoyak dalam spektrum makanan fermentasi fungsional dunia, dengan keunikan utama pada bahan dasarnya yang berasal dari buah dengan profil lemak tinggi.
Spektrum Kuliner Sumatera: Variasi Regional dan Teknik Pengolahan
Masyarakat Sumatera telah mengembangkan berbagai cara untuk mengintegrasikan tempoyak ke dalam makanan sehari-hari. Penggunaannya bervariasi mulai dari sekadar sambal pendamping nasi hingga menjadi bumbu inti dalam masakan yang kompleks.
Sumatera Selatan: Brengkes dan Pepes Tempoyak
Di wilayah Palembang dan sekitarnya, tempoyak adalah jiwa dari hidangan “Brengkes Tempoyak”. Berbeda dengan pepes di Jawa yang menggunakan banyak rempah daun, brengkes tempoyak mengandalkan pasta fermentasi durian sebagai pengental dan pemberi rasa utama. Ikan patin (Pangasius sp.) adalah pilihan utama karena tekstur dagingnya yang lembut dan kandungan lemaknya yang tinggi mampu menyeimbangkan keasaman tempoyak yang tajam.
Proses pembuatan brengkes melibatkan pencampuran bumbu halus (cabai merah, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan kemiri) dengan tempoyak. Ikan patin kemudian dilumuri dengan campuran ini dan dimasak dalam wadah tertutup atau dibungkus daun pisang lalu dikukus atau dipanggang. Hasil akhirnya adalah harmoni rasa pedas, manis, asam, dan gurih yang meresap hingga ke tulang ikan. Para ahli kuliner lokal menekankan bahwa menyatukan durian dan ikan memerlukan pengetahuan mendalam agar aroma durian tidak mendominasi, melainkan melengkapi rasa ikan.
Jambi: Gulai Patin Tempoyak yang Ikonik
Di Jambi, tempoyak diolah menjadi gulai dengan kuah yang lebih cair dibandingkan brengkes. Gulai tempoyak Jambi biasanya tidak menggunakan santan, karena tekstur tempoyak itu sendiri sudah memberikan kekentalan dan rasa gurih yang menyerupai santan. Bahan tambahan seperti daun jeruk, daun salam, serai, dan jahe digunakan untuk memberikan aroma segar yang memotong kekayaan rasa durian. Ikan patin tetap menjadi primadona, namun terkadang diganti dengan ikan sungai lainnya seperti ikan nila atau ikan baung.
Aceh: Jruk Drien dan Tradisi Asam Drien
Di bagian utara Sumatera, tempoyak dikenal dengan nama jruk drien atau asam drien. Di Aceh, penggunaan tempoyak sering ditemukan dalam masakan sayuran atau gulai ikan laut, menunjukkan fleksibilitas produk ini dalam beradaptasi dengan profil bumbu Aceh yang sangat kaya akan rempah dan rasa pedas yang menyengat. Penggunaan nama “asam” di sini mempertegas fungsinya sebagai agen pengasam alami dalam masakan, serupa dengan fungsi asam sunti atau asam jawa di daerah lain.
Bengkulu, Lampung, dan Kalimantan Barat
Di Bengkulu dan Lampung, tempoyak sering dikonsumsi sebagai sambal mentah atau sambal tumis. Sambal ini dibuat dengan mencampurkan tempoyak dengan cabai rawit dan dimakan bersama nasi hangat serta lalapan. Di Kalimantan Barat, masyarakat etnik Melayu juga memproduksi tempoyak, bahkan di beberapa wilayah pedalaman, terdapat variasi yang dicampur dengan lemak babi atau ikan bilis untuk menciptakan profil rasa yang lebih ekstrem. Di Kalimantan Timur, durian lai (Durio kutejensis) yang memiliki warna oranye terang dan kandungan gula pereduksi yang tinggi (mencapai 39,21 g/100g dalam bentuk tempoyak) digunakan sebagai bahan dasar, menghasilkan tempoyak dengan karakteristik warna yang lebih menarik dan rasa yang cenderung lebih manis.
Karakteristik Pangan Fungsional dan Manfaat Kesehatan
Sebagai produk fermentasi, tempoyak tidak hanya dihargai karena rasanya, tetapi juga karena potensinya sebagai pangan fungsional yang memberikan manfaat kesehatan bagi sistem pencernaan dan metabolisme manusia.
Probiotik Alami dan Kesehatan Pencernaan
Dominasi bakteri Lactobacillus plantarum dalam tempoyak memberikan sifat probiotik yang kuat. Penelitian menunjukkan bahwa strain yang berasal dari tempoyak memiliki resistensi yang sangat tinggi terhadap asam lambung dan garam empedu, yang merupakan syarat utama bagi bakteri untuk dapat mencapai usus halus dalam keadaan hidup. Di dalam usus, bakteri ini membantu menyeimbangkan mikrobiota usus, memperkuat sawar usus, dan memodulasi sistem kekebalan tubuh.
Pengujian pada sel adenokarsinoma kolon manusia (HT-29) menunjukkan bahwa BAL dari tempoyak memiliki kapasitas adhesi yang kuat (indeks adhesi 159 ± 10), yang memungkinkan mereka untuk berkompetisi dengan bakteri patogen dalam ruang usus. Selain itu, bakteri ini memproduksi eksopolisakarida (EPS) yang berfungsi sebagai agen tekstur alami dan memiliki potensi efek imunostimulan.
Regulasi Metabolik: Diabetes, Obesitas, dan Kolesterol
Aktivitas fermentasi menghasilkan metabolit bioaktif yang memiliki implikasi positif pada kesehatan metabolik. Beberapa mekanisme yang diusulkan berdasarkan studi review terbaru meliputi :
- Manajemen Glukosa Darah: Asam laktat dan asam asetat hasil fermentasi dapat memperlambat laju pengosongan lambung dan menghambat enzim pencernaan karbohidrat, sehingga membantu menstabilkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes tipe 2.
- Penurunan Kolesterol: BAL dalam tempoyak memiliki kemampuan untuk melakukan dekonjugasi garam empedu. Hal ini memaksa tubuh untuk menggunakan kolesterol darah guna memproduksi garam empedu baru di hati, yang secara sistemik menurunkan kadar LDL (kolesterol jahat).
- Efek Anti-obesitas: Asam organik dalam tempoyak dapat memengaruhi hormon pengatur nafsu makan seperti leptin dan ghrelin, serta membantu meningkatkan metabolisme lemak.
- Aktivitas Antioksidan: Tempoyak mengandung senyawa polifenol dan flavonoid dengan kapasitas antioksidan antara 32,29% hingga 73,36%, yang membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan oksidatif dan peradangan kronis.
Tempoyak dalam Gastronomi Global: Tantangan dan Peluang
Bagi audiens global yang sering kali memiliki persepsi negatif terhadap bau durian, tempoyak menawarkan jembatan masuk yang lebih mudah diterima melalui narasi makanan fermentasi yang sedang menjadi tren dunia.
Mengatasi Stigma Durian
Durian sering kali digambarkan dalam media Barat dengan analogi yang tidak menyenangkan seperti “bawang busuk” atau “kaus kaki kotor”. Namun, ketika durian disajikan dalam bentuk tempoyak, narasinya berubah menjadi narasi bioteknologi tradisional yang sejajar dengan keju Prancis yang kuat atau kimchi Korea. Penikmat kuliner internasional yang menyukai blue cheese cenderung akan sangat menghargai kompleksitas rasa tempoyak karena kemiripan profil “funky” dan kedalaman rasa fermentasinya.
Wisatawan kuliner global seperti Mark Wiens telah memperkenalkan tempoyak kepada jutaan pemirsa sebagai salah satu makanan paling unik di dunia, menyebutnya sebagai pengalaman “mengubah hidup” terutama saat dinikmati dalam bentuk Gulai Patin Tempoyak di Temerloh, Malaysia. Di sini, tempoyak tidak lagi dipandang sebagai durian yang rusak, melainkan sebagai saus adiktif yang memiliki profil rasa “fruity” namun gurih dengan tekstur yang menyerupai mayones asam.
Inovasi Fine Dining dan Eksplorasi Chef Modern
Potensi tempoyak sebagai Sumatran Umami mulai dieksplorasi oleh koki-koki kelas dunia dan restoran fine dining di Jakarta dan Bali. Restoran seperti August di Jakarta (peringkat #46 di Asia’s 50 Best Restaurants 2024) yang dipimpin oleh Chef Hans Christian, menekankan pada penggunaan bahan-bahan lokal dengan teknik kontemporer untuk mengangkat kekayaan diversitas Indonesia ke panggung global.
Di Bali, restoran seperti Mozaic di Ubud menggunakan teknik canggih seperti klarifikasi agar dan fermentasi untuk mengolah buah-buahan lokal musimannya, yang mencerminkan filosofi yang sama dengan pembuatan tempoyak tradisional namun dalam presentasi yang lebih modern dan berkelanjutan. Chef seperti Tomy Saputra di Long Table by John Hardy juga mengeksplorasi resep-resep dari pelosok Nusantara, termasuk teknik fermentasi dan penggunaan bahan asli seperti tamarind dan kedelai fermentasi, yang memberikan konteks baru bagi tempoyak untuk bersanding dengan hidangan kelas dunia lainnya.
Standardisasi Industri dan Masa Depan
Masa depan tempoyak sebagai produk komersial global bergantung pada kemampuan industri untuk melakukan standardisasi proses. Tantangan utama fermentasi tradisional adalah inkonsistensi rasa dan kualitas karena ketergantungan pada mikroba liar. Penggunaan kultur starter BAL yang terisolasi dan terkarakterisasi secara molekuler menjadi kunci untuk memproduksi tempoyak dengan kualitas seragam.
Inovasi teknologi pangan seperti:
- Molecular Identification: Menggunakan sekuensing 16S rRNA dan MALDI-TOF/MS untuk memantau dinamika mikroba selama produksi skala besar.
- High Pressure Processing (HPP): Teknik pasteurisasi dingin untuk mempertahankan nutrisi dan mikroba probiotik sekaligus memperpanjang umur simpan tanpa bahan kimia.
- Kultur Starter Terdefinisi: Menambahkan strain unggul L. plantarum untuk mempercepat fermentasi dan meningkatkan profil umami secara konsisten.
| Tahapan Inovasi | Teknik Tradisional | Inovasi Teknologi Pangan | Manfaat |
| Bahan Baku | Durian sisa/kualitas rendah | Durian standar dengan kontrol gula | Konsistensi rasa awal |
| Inokulasi | Fermentasi spontan (mikroba liar) | Penambahan kultur starter (L. plantarum) | Proses lebih cepat, risiko kontaminasi rendah |
| Wadah | Toples plastik/tanah liat | Reaktor baja tahan karat (stainless steel) | Higienitas dan kontrol suhu optimal |
| Pengemasan | Plastik biasa/curah | Kemasan vakum atau HPP | Umur simpan lebih lama, standar ekspor |
Integrasi antara bioteknologi modern dan kearifan lokal ini diharapkan dapat membawa tempoyak keluar dari batasan pasar tradisional Sumatera menuju rak-rak supermarket global sebagai bahan bumbu gourmet yang sehat dan autentik.
Kesimpulan: Tempoyak Sebagai Simbol Gastronomi Berkelanjutan
Tempoyak adalah bukti nyata bagaimana keterbatasan masa simpan buah tropis dapat memicu lahirnya inovasi kuliner yang luar biasa. Melalui proses fermentasi bakteri asam laktat, durian tidak hanya “disulap” menjadi lauk pauk, tetapi juga ditingkatkan nilainya menjadi pangan fungsional yang kaya akan probiotik dan senyawa bioaktif. Fenomena tempoyak sebagai Sumatran Umami memberikan perspektif baru bagi dunia gastronomi global bahwa rasa gurih tidak selalu harus berasal dari sumber hewani atau MSG sintetis, melainkan dapat diekstraksi dari buah-buahan melalui proses biokimia yang alami.
Seiring dengan meningkatnya minat global terhadap makanan fermentasi dan gaya hidup sehat, tempoyak memiliki peluang besar untuk diakui sebagai salah satu produk fermentasi paling ikonik dari Asia Tenggara. Upaya pelestarian melalui penetapan Warisan Budaya Takbenda di Indonesia, dipadukan dengan riset ilmiah mengenai manfaat kesehatannya, akan memperkuat posisi tempoyak dalam peta kuliner dunia. Pada akhirnya, tempoyak bukan sekadar cara mengonsumsi durian, melainkan manifestasi dari sejarah, sains, dan identitas masyarakat Melayu yang terus berevolusi mengikuti tuntutan zaman tanpa kehilangan akarnya.