Loading Now

Gastronomi Mock Turtle Soup: Sebuah Analisis Kedalaman Terhadap Rekayasa Kuliner dan Prestise Kelas Menengah Era Victoria

Keinginan manusia untuk menjaga martabat sosial melalui konsumsi makanan merupakan salah satu penggerak utama inovasi kuliner sepanjang sejarah. Di Inggris era Victoria, fenomena ini mencapai puncaknya melalui penciptaan Mock Turtle Soup atau sup penyu tiruan. Hidangan ini bukan sekadar upaya substitusi bahan yang hilang, melainkan sebuah artefak budaya yang mencerminkan ketegangan antara ambisi kelas, kemajuan industri, dan krisis ekologis yang dipicu oleh konsumsi berlebihan kaum elit. Ketika populasi penyu hijau (Chelonia mydas) runtuh akibat eksploitasi selama berabad-abad, masyarakat kelas menengah Inggris tidak memilih untuk meninggalkan simbol status tersebut, melainkan merekayasanya melalui alkimia dapur yang menggunakan bagian-bagian paling rendah dari hewan ternak untuk meniru kemewahan reptil laut dari Karibia.

Paradoks Prestise dan Komoditas Kekaisaran: Penyu Hijau sebagai Emas Kuliner

Untuk memahami signifikansi dari sup penyu tiruan, pertama-tama perlu dilakukan analisis terhadap posisi sup penyu asli dalam hierarki sosial abad ke-18 dan ke-19. Penyu hijau dianggap sebagai “emas kuliner” karena kelangkaannya, biaya impornya yang luar biasa, dan asosiasinya dengan kekuasaan imperial Inggris di Hindia Barat.

Logistik dan Simbolisme Status

Mengimpor penyu hijau seberat 300 pon dari Karibia ke London dalam kondisi hidup merupakan prestasi logistik yang besar pada masanya. Hewan-hewan ini harus dijaga agar tetap hidup selama berminggu-minggu di kapal untuk memastikan kesegaran dagingnya saat disembelih di dapur restoran mewah atau rumah bangsawan. Oleh karena itu, kehadiran perahu yang membawa penyu sering kali diiklankan di surat kabar sebagai acara publik yang patut diperhatikan.

Konsumsi sup penyu menjadi indikator utama kekayaan dan posisi politik. Di London, hidangan ini merupakan menu wajib dalam perjamuan Lord Mayor’s Day Banquet. Catatan sejarah menunjukkan bahwa dari tahun 1761 hingga 1825, sup ini tidak pernah absen dari meja para petinggi kota. Ketidakhadiran hidangan ini dalam sebuah jamuan resmi akan dianggap sebagai penurunan martabat penyelenggara. Prestise ini bahkan melintasi samudra hingga ke Amerika Serikat, di mana Presiden William Howard Taft secara khusus mempekerjakan koki dengan keahlian khusus untuk menyiapkan sup penyu di Gedung Putih.

Dimensi Karakteristik Sup Penyu Asli Implikasi Sosial
Bahan Utama Daging dan lemak hijau penyu laut (Chelonia mydas) Menunjukkan akses ke sumber daya global dan perdagangan imperial.
Karakteristik Fisik Tekstur gelatinous yang kaya dengan “lemak hijau” unik di bawah cangkang. Memberikan pengalaman sensorik yang tidak bisa ditemukan pada daging darat biasa.
Biaya (Abad ke-19) Di atas 10 shilling per porsi. Eksklusif untuk elit politik dan bangsawan tinggi.
Asosiasi Budaya Sinonim dengan “makanan lezat” dan perjamuan mewah. Simbol puncak pencapaian kuliner Barat era tersebut.

Krisis Ekologi dan Kehancuran Populasi

Popularitas sup penyu yang tidak terkendali menyebabkan tekanan luar biasa pada ekosistem laut. Inggris Raya secara efektif melakukan penangkapan berlebihan yang membuat penyu hijau hampir punah di beberapa wilayah pada awal abad ke-19. Penangkapan besar-besaran ini didorong oleh permintaan dari perjamuan-perjamuan elit yang sering kali dianggap sebagai pemborosan yang keterlaluan oleh publik yang lebih luas, terutama saat terjadi kelaparan di kalangan massa. Satira-satira pada masa itu sering kali menggambarkan para pejabat tinggi (aldermen) sebagai sosok yang rakus, yang memakan penyu hingga ke ambang kepunahan.

Lahirnya Replika: Strategi Kelas Menengah dalam Menghadapi Kelangkaan

Ketika harga penyu asli meroket hingga tidak terjangkau oleh kelompok profesional dan pedagang, kelas menengah Victoria menciptakan solusi melalui kreativitas kuliner. Mereka tidak menyerah pada keinginan untuk menyajikan hidangan yang tampak mewah; sebaliknya, mereka menciptakan sebuah simulakra yang dikenal sebagai Mock Turtle Soup.

Inovasi melalui Substitusi Tekstur

Tantangan utama dalam meniru sup penyu bukanlah rasanya, melainkan teksturnya. Daging penyu dikenal memiliki kualitas gelatinous yang sangat spesifik, yang berasal dari tulang rawan dan lemak hijaunya. Koki-koki Victoria menemukan bahwa bagian kepala sapi, terutama kulit, telinga, dan sekitarnya, jika direbus dalam waktu yang sangat lama, akan menghasilkan tekstur kenyal dan kaldu kental yang hampir identik dengan daging penyu.

Penggunaan kepala sapi ini merupakan bentuk inovasi yang sangat pragmatis. Kepala sapi adalah potongan daging yang relatif murah dan sering kali kurang dimanfaatkan dalam masakan kelas atas. Dengan menggunakan teknik perebusan lambat (slow-simmering), koki dapat mengubah bahan yang dianggap rendah ini menjadi dasar bagi hidangan yang mampu memberikan prestise sosial.

Komponen Utama Simulasi

Dalam resep-resep tradisional era Victoria, replika ini tidak hanya mengandalkan kaldu, tetapi juga detail komponen yang meniru isi dari sup asli:

  1. Otak Sapi: Sering digunakan untuk menambah kekayaan tekstur atau diolah menjadi saus pendamping.
  2. Lidah Sapi: Memberikan tekstur daging yang padat dan berserat, mirip dengan potongan daging penyu yang lebih gelap.
  3. Telinga Sapi: Yang dipotong kecil-kecil untuk meniru tulang rawan penyu yang kenyal.
  4. Forcemeat Balls: Bola-bola daging kecil yang dibumbui dengan rempah-rempah kuat untuk meniru “telur” penyu atau potongan lemak penyu yang gurih.

Teknik Simulasi: Alkimia Kuliner Kepala Sapi dan Gelatin

Proses pembuatan Mock Turtle Soup adalah ujian bagi kesabaran dan keterampilan koki Victoria. Ini bukan sekadar sup biasa, melainkan sebuah proyek rekayasa yang membutuhkan waktu persiapan hingga delapan jam atau lebih untuk mencapai kejernihan kaldu dan tekstur yang diinginkan.

Metodologi Persiapan Kepala Sapi

Resep dari tokoh kuliner terkenal seperti Mrs. Beeton dan Martha Lloyd memberikan gambaran detail tentang bagaimana “alkimia” ini dilakukan. Langkah pertama yang krusial adalah penanganan kepala sapi itu sendiri. Kepala harus disiram dengan air panas (scalded) untuk menghilangkan bulu tanpa merusak kulitnya, karena kulit inilah sumber utama gelatin yang akan meniru lemak penyu.

Setelah dibersihkan, otak dikeluarkan dan kepala diikat dalam kain sebelum direbus selama berjam-jam. Daging kemudian dipisahkan dari tulang dan dipotong menjadi kotak-kotak kecil seukuran jari, yang secara visual menyerupai potongan daging penyu dalam mangkuk sup. Kaldu yang dihasilkan dari rebusan tulang kepala sapi ini sangat kaya akan kolagen, yang memberikan mouthfeel atau sensasi mulut yang licin dan mewah, sangat mirip dengan karakteristik sup penyu hijau yang asli.

Penggunaan Rempah dan Penguat Rasa (Sherry dan Madeira)

Karena rasa dasar daging sapi lebih berat dibandingkan penyu, koki harus melakukan “penyesuaian aromatik” menggunakan bahan-bahan tertentu:

  • Wine (Sherry atau Madeira): Penambahan minuman beralkohol ini adalah wajib untuk memberikan aroma manis dan kedalaman rasa yang biasanya dikaitkan dengan hidangan laut mewah.
  • Rempah Eksotis: Penggunaan mace, cayenne pepper, lemon zest, dan cengkeh bertujuan untuk menyamarkan aroma sapi yang dominan dan menggantinya dengan profil rasa yang lebih “asing” dan eksotis.
  • Tammy Cloth: Proses penyaringan menggunakan kain wol kasar (tammy) dilakukan berulang kali untuk memastikan kaldu yang dihasilkan sangat jernih dan bebas dari lemak berlebih, mencerminkan standar estetika perjamuan formal.
Tahapan Produksi Teknik Era Victoria Fungsi dalam Replikasi
Persiapan Awal Scalding kulit kepala sapi dengan kulit tetap menempel. Menjaga kandungan kolagen untuk tekstur gelatinous.
Ekstraksi Kaldu Perebusan tulang dan daging selama 5-8 jam. Menciptakan dasar sup yang kental dan kaya rasa.
Penyempurnaan Visual Pemotongan lidah dan telinga menjadi bentuk seragam. Meniru penampilan potongan daging penyu asli.
Finishing Penambahan jus lemon, jeruk Seville, dan Madeira. Menyeimbangkan kekayaan lemak dengan keasaman dan aroma mewah.

Industrialisasi: Dari Perjamuan Elit ke Kaleng Konsumen

Transisi dari hidangan rumah tangga yang rumit menjadi produk komersial merupakan tonggak penting dalam sejarah Mock Turtle Soup. Hal ini dimungkinkan oleh kemajuan dalam teknologi pengalengan makanan yang dimulai pada awal abad ke-19 oleh tokoh-tokoh seperti Nicolas Appert dan kemudian dikomersialkan oleh firma Inggris, Donkin & Hall.

Great Exhibition 1851: Panggung Inovasi

Pada pameran dunia pertama, Great Exhibition tahun 1851 yang diadakan di Crystal Palace, London, Donkin Hall Mock Turtle Soup dipamerkan sebagai salah satu pencapaian besar dalam kategori produk manufaktur. Pameran ini dikunjungi oleh lebih dari enam juta orang, mulai dari buruh hingga Ratu Victoria sendiri, yang memberikan eksposur luar biasa terhadap konsep makanan kaleng.

Kehadiran sup tiruan dalam bentuk kaleng ini menandakan demokratisasi prestise. Jika sebelumnya sup ini memerlukan koki terampil dan waktu persiapan berjam-jam, kini keluarga kelas menengah dengan dana terbatas pun dapat membeli satu kaleng sup yang “mencerminkan” selera elit hanya dengan harga satu atau dua shilling. Hal ini mengubah sup tersebut dari sekadar upaya meniru menjadi komoditas industri yang sukses.

Komersialisasi Massal oleh Heinz dan Campbell’s

Kesuksesan sup tiruan ini terus berlanjut hingga abad ke-20. Merek-merek global seperti Heinz dan Campbell’s memproduksi versi kalengan yang sangat populer. Ironisnya, karena sup penyu asli sudah hampir tidak ada lagi di pasar, versi “tiruan” ini menjadi standar rasa bagi masyarakat umum. Iklan-iklan pada masa itu sering kali menggunakan strategi pemasaran yang meyakinkan konsumen bahwa versi kalengan mereka memiliki kualitas yang setara dengan hidangan di perjamuan kerajaan. Andy Warhol, tokoh seni pop, bahkan mengenang bahwa Mock Turtle adalah rasa favoritnya dari lini produk Campbell’s sebelum produksi kaleng tersebut akhirnya dihentikan pada tahun 1960-an.

Sosiologi Rasa: “Mock” sebagai Strategi Kelas dan Identitas

Penggunaan kata “mock” (tiruan) dalam kuliner Victoria memiliki konotasi sosiologis yang sangat dalam. Ini bukan sekadar penipuan rasa, melainkan sebuah kode sosial yang menunjukkan posisi seseorang dalam struktur kelas yang kaku.

Teori Kode Sosial Mary Douglas

Antropolog Mary Douglas berargumen bahwa makanan adalah sebuah sistem kode yang mencerminkan hubungan sosial, hierarki, dan batasan-batasan dalam masyarakat. Dalam konteks ini, Mock Turtle Soup berfungsi sebagai jembatan antara dua dunia:

  1. Inklusi: Memberikan akses bagi kelas menengah untuk berpartisipasi dalam budaya perjamuan elit tanpa biaya yang merusak finansial.
  2. Eksklusi: Nama “mock” itu sendiri secara jujur mengakui bahwa mereka tidak sedang memakan penyu asli, sehingga tetap menjaga jarak sosial dengan aristokrasi yang sesungguhnya.

Strategi ini mencerminkan apa yang sering disebut sebagai “kemiskinan yang terhormat” (genteel poverty). Bagi keluarga Victoria yang baru saja naik kelas secara ekonomi tetapi belum memiliki warisan aristokratik, menyajikan sup penyu tiruan adalah cara untuk mengatakan, “Kami memahami selera yang baik, dan kami cukup cerdas untuk mereplikanya dengan sumber daya kami sendiri”.

Malcontent dan Kritik terhadap Gluttony Elit

Di sisi lain, popularitas penyu asli di kalangan elit sering kali menjadi target kemarahan publik. Satira-satira dalam majalah seperti Punch sering kali menggambarkan perjamuan sup penyu sebagai simbol pemborosan yang memuakkan sementara rakyat jelata menderita kelaparan. Konsumsi penyu juga dikaitkan dengan risiko kesehatan yang disebut chelonitoxism atau keracunan darah akibat daging penyu, yang sering digambarkan dalam kartun-kartun satira sebagai “hukuman ilahi” bagi mereka yang terlalu rakus. Hal ini memberikan dimensi moral tambahan pada penggunaan sup tiruan sebagai alternatif yang lebih “etis” dan aman bagi kelas menengah.

Satira Budaya: Lewis Carroll dan Mock Turtle sebagai Personifikasi Melankoli

Pengaruh Mock Turtle Soup dalam budaya Victoria tidak terbatas pada meja makan, tetapi juga merambah ke dalam literatur klasik. Karakter “The Mock Turtle” dalam buku Lewis Carroll, Alice’s Adventures in Wonderland (1865), adalah representasi paling terkenal dari hidangan ini.

Metafora Simulakra dalam Alice in Wonderland

Lewis Carroll menciptakan karakter Mock Turtle sebagai makhluk hibrida yang aneh: ia memiliki tubuh, cangkang, dan sirip penyu, tetapi dengan kepala, kaki belakang, dan ekor sapi. Ilustrasi oleh John Tenniel ini adalah lelucon visual terhadap bahan utama sup tersebut. Ketika Alice bertanya apa itu Mock Turtle, ia diberitahu bahwa itu adalah “benda dari mana sup penyu tiruan dibuat”.

Karakter ini digambarkan terus-menerus menangis dan meratapi masa lalunya ketika ia masih menjadi “penyu asli” (a real turtle). Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai satira terhadap kelas menengah Victoria yang selalu merasa tidak puas dengan posisi mereka dan merindukan identitas yang bukan milik mereka. Mock Turtle adalah makhluk yang secara definisi adalah sebuah kebohongan; ia ada hanya untuk menggantikan sesuatu yang lebih berharga yang telah hilang.

Parodi Pendidikan dan Otoritas

Interaksi Alice dengan Mock Turtle juga merupakan kritik tajam terhadap sistem pendidikan Victoria yang kaku. Pelajaran-pelajaran yang diceritakan oleh Mock Turtle adalah parodi dari kurikulum sekolah masa itu:

  • Reeling and Writhing: Parodi dari Reading and Writing.
  • Ambition, Distraction, Uglification, and Derision: Parodi dari penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dalam matematika.
  • Mystery: Parodi dari History.

Carroll menggunakan karakter ini untuk mengejek metode hafalan tanpa pemahaman (rote learning). Mock Turtle bertanya, “Apa gunanya mengulangi semua barang itu jika kamu tidak menjelaskannya sambil jalan?”. Ini adalah kritik langsung terhadap para pendidik Victoria yang lebih menghargai kemampuan siswa untuk mengulang fakta secara mekanis daripada pemahaman mendalam tentang subjeknya.

Taksonomi Kebohongan yang Jujur: Spektrum “Mock Foods” Era Victoria

Keberhasilan sup penyu tiruan memicu tren yang lebih luas dalam kuliner Victoria untuk menciptakan berbagai versi “mock” dari bahan-bahan yang mahal atau sulit didapat. Ini menunjukkan tingkat kreativitas yang luar biasa dalam memanipulasi bahan pangan dasar untuk meniru pengalaman mewah.

Replikasi Daging Buruan dan Minuman Mewah

Bukan hanya penyu yang direplikasi. Kelas menengah Victoria juga menciptakan solusi untuk meniru daging rusa (venison) dan minuman sampanye yang mahal.

Hidangan Tiruan Metode Replikasi Tujuan Sosio-Ekonomi
Mock Venison Menggunakan paha domba atau sapi yang direndam dalam cuka, wine, dan beri juniper selama berhari-hari. Meniru rasa daging rusa liar yang secara tradisional hanya bisa diakses oleh kaum bangsawan pemilik tanah.
Mock Champagne Campuran jus anggur putih, jus nanas, dan ginger ale yang didinginkan dan diberikan karbonasi alami. Memberikan efek visual buih dan rasa segar sampanye untuk perayaan tanpa biaya impor yang tinggi.
Mock Crab Kombinasi telur orak-arik, keju parut, tomat, dan bumbu tertentu untuk tekstur yang lembut dan gurih. Menyediakan alternatif hidangan laut yang terjangkau bagi penduduk pedalaman atau kota besar yang jauh dari sumber kepiting segar.

Filosofi “Nose-to-Tail” dan Ekonomi Sisa

Di balik ambisi prestisenya, penciptaan makanan tiruan ini juga didorong oleh penghematan ekonomi yang ketat. Masyarakat Victoria dikenal sangat benci membuang makanan. Penggunaan organ dalam seperti otak, lidah, dan telinga sapi dalam Mock Turtle Soup adalah manifestasi dari filosofi memasak yang efisien. Di rumah tangga kelas menengah, setiap sisa lemak atau tulang akan direbus kembali menjadi kaldu atau saus untuk meningkatkan asupan mikronutrien dari bahan yang dianggap sisa.

Bagi masyarakat kelas bawah, imitasi ini bahkan lebih ekstrem. Mereka sering kali harus mengonsumsi daging “broxy” atau hewan yang mati karena penyakit sebagai alternatif protein murah, sementara kelas menengah menggunakan kepala sapi yang sehat namun tidak populer untuk meniru makanan raja. Hal ini menunjukkan spektrum konsumsi yang sangat luas berdasarkan tingkat pendapatan mingguan, mulai dari buruh yang hidup dengan roti dan air matang hingga pengusaha yang menyajikan sup tiruan mewah di meja perjamuan mereka.

Geografi Global dan Variasi Regional Mock Turtle Soup

Meskipun berasal dari Inggris, Mock Turtle Soup menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia melalui jalur perdagangan dan pengaruh kolonial, dengan adaptasi rasa yang menyesuaikan dengan bahan lokal.

Popularitas di Amerika Serikat dan Jerman

Di Amerika Serikat, sup ini melampaui popularitas versi aslinya di banyak wilayah. Kota Cincinnati menjadi salah satu pusat produksinya, di mana sup ini tetap menjadi hidangan populer hingga pertengahan abad ke-20. Versi Amerika sering kali menggunakan daging sapi rebus atau daging giling daripada kepala sapi yang utuh, menyesuaikan dengan selera yang lebih praktis. Di Philadelphia, sup ini menjadi bagian dari tradisi kuliner lokal yang menggabungkan teknik Eropa dengan ketersediaan daging lokal yang melimpah.

Di Jerman, khususnya di wilayah Lower Saxony (Oldenburg dan Ammerland), hidangan ini dikenal sebagai Mockturtlesuppe. Keberadaannya di Jerman berakar pada hubungan sejarah antara Kerajaan Hannover dan Kerajaan Inggris Raya. Di sana, sup ini dianggap sebagai spesialisasi masakan Inggris yang diadaptasi dengan bumbu lokal Jerman dan tetap dinikmati sebagai hidangan tradisional hingga hari ini.

Adaptasi di Australia dan Wilayah Kolonial Lainnya

Di Australia, sup penyu asli masih bisa didapatkan lebih lama dibandingkan di Inggris karena ketersediaan penyu hijau di perairan Queensland. Namun, bagi masyarakat perkotaan di Sydney atau Melbourne, sup tiruan tetap menjadi pilihan utama untuk perjamuan formal karena kemudahan akses terhadap daging sapi dan pengaruh tren kuliner dari London. Iklan-iklan di surat kabar Australia pada awal abad ke-20 masih mempromosikan sup tiruan ini sebagai hidangan yang cocok untuk pesta makan malam yang prestisius.

Kejatuhan dan Warisan Modern: Mengapa Mock Turtle Hilang dari Meja Makan?

Meskipun pernah menjadi fenomena global, Mock Turtle Soup mulai menghilang dari menu arus utama setelah pertengahan abad ke-20. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan drastis ini.

Pergeseran Sensibilitas terhadap Jeroan

Salah satu alasan utama adalah perubahan persepsi konsumen terhadap bahan-bahan asalnya. Bagi orang modern, gagasan untuk memakan kepala sapi, termasuk lidah, otak, dan kulit, sering kali dianggap kurang selera dibandingkan di masa Victoria. Seiring dengan meningkatnya standar hidup dan ketersediaan potongan daging otot yang lebih bersih, jeroan mulai kehilangan daya tariknya dan dianggap sebagai “makanan masa sulit” daripada simbol prestise.

Selain itu, proses persiapannya yang sangat rumit dan memakan waktu berjam-jam tidak lagi kompatibel dengan gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat. Bahkan versi kalengannya pun mulai kalah bersaing dengan jenis sup lain yang lebih ringan dan memiliki profil rasa yang lebih modern.

Etika Lingkungan dan Konservasi

Secara ironis, sup penyu tiruan yang lahir dari krisis kelangkaan penyu kini dipandang sebagai pengingat pahit akan dampak konsumsi manusia yang tidak bertanggung jawab. Penyu hijau kini dilindungi secara internasional di bawah konvensi CITES, dan mengonsumsinya dianggap sebagai pelanggaran hukum di sebagian besar negara.

Di sisi lain, para koki modern yang mengusung gerakan sustainability dan nose-to-tail eating, seperti Fergus Henderson, sesekali menghidupkan kembali hidangan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap efisiensi kuliner masa lalu. Namun, bagi masyarakat umum, nama “Mock Turtle” kini lebih banyak dikenal sebagai karakter fiksi dalam cerita Alice daripada sebagai hidangan lezat yang pernah menghiasi meja makan kakek-nenek mereka.

Kesimpulan

Mock Turtle Soup adalah saksi bisu dari era di mana aspirasi sosial, inovasi teknis, dan keterbatasan alam bertemu di atas meja makan. Ia merupakan bukti dari kecerdasan manusia yang mampu mengubah bahan-bahan yang paling sederhana—kepala sapi yang murah—menjadi replika kemewahan yang mampu menjaga gengsi kelas menengah Inggris di tengah hilangnya sumber daya alam.

Melalui analisis terhadap proses teknis pembuatannya yang rumit, komersialisasinya melalui pengalengan, hingga representasi budayanya dalam literatur Lewis Carroll, kita dapat melihat bahwa makanan tiruan bukan sekadar masalah rasa. Ia adalah sebuah narasi tentang bagaimana sebuah kelas masyarakat berusaha mendefinisikan identitas mereka melalui simulakra. Meskipun sup ini mungkin telah memudar dari selera modern kita, warisannya tetap hidup sebagai salah satu contoh paling cemerlang dari kreativitas manusia dalam menciptakan “realitas kuliner” yang baru demi menjaga martabat sosial di dunia yang terus berubah. Sejarah Mock Turtle Soup mengajarkan kita bahwa sering kali, apa yang kita makan bukan hanya tentang nutrisi, melainkan tentang siapa kita ingin menjadi di mata dunia.

 

You May Have Missed