Transformasi Sosio-Legal dan Evolusi Moral: Analisis Komprehensif Pengakhiran Industri Daging Anjing di Korea Selatan
Pengesahan undang-undang yang melarang industri daging anjing oleh Majelis Nasional Korea Selatan pada 9 Januari 2024 menandai salah satu pergeseran kebijakan budaya paling signifikan dalam sejarah modern Asia Timur. Keputusan ini bukan sekadar perubahan regulasi teknis, melainkan representasi dari revolusi moral yang terjadi dalam satu generasi, di mana sebuah negara yang dulunya menganggap anjing sebagai sumber protein dalam masa kelangkaan, kini secara kolektif memandangnya sebagai anggota keluarga yang memiliki hak atas perlindungan hukum. Dengan dukungan suara bulat—208 suara setuju dan dua abstain—legislasi ini menetapkan bahwa pada tahun 2027, praktik pembiakan, penyembelihan, dan penjualan daging anjing untuk konsumsi manusia akan menjadi tindakan kriminal yang dapat dihukum penjara. Analisis ini akan mengeksplorasi bagaimana tradisi yang telah berusia ribuan tahun dapat dihapuskan melalui konvergensi tekanan politik, pergeseran demografis, dan evolusi standar etika global.
Fondasi Historis dan Konstruksi Budaya Konsumsi Daging Anjing
Untuk memahami drastisnya larangan ini, sangat penting untuk menelusuri sejarah konsumsi daging anjing yang sering kali disalahpahami sebagai praktik tunggal yang statis. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan anjing di Semenanjung Korea telah berlangsung sejak Zaman Neolitikum, dengan temuan tulang anjing di situs pemukiman purba yang menunjukkan tanda-tanda konsumsi. Lukisan dinding pada kompleks makam Goguryeo dari abad ke-4 Masehi menggambarkan pemandangan anjing yang disembelih, memberikan indikasi visual bahwa praktik ini memiliki akar kuno.
Namun, narasi bahwa daging anjing merupakan bagian utama dari diet harian masyarakat Korea sepanjang sejarah adalah sebuah miskonsepsi. Selama Dinasti Silla (57 SM – 935 M) dan Goryeo (918–1392 M), Buddhisme sebagai agama negara mempromosikan vegetarisme dan melarang penyembelihan sapi karena perannya sebagai hewan pembantu pertanian, yang secara tidak langsung juga menekan konsumsi daging lainnya, termasuk anjing. Konsumsi daging anjing justru mulai terlembagakan sebagai “makanan kaum miskin” selama Dinasti Joseon (1392–1910). Pada periode ini, kelompok pengungsi Khitan yang masuk ke Korea selama invasi Mongol diintegrasikan ke dalam kelas sosial terendah yang disebut Baekjeong.
Dinamika Kelas Sosial dan Marginalisasi Baekjeong
Kelas Baekjeong memegang peranan krusial dalam sejarah kuliner anjing di Korea. Sebagai kasta yang dianggap “tidak bersih” karena pekerjaan mereka yang melibatkan darah dan kematian, mereka ditugaskan oleh pemerintah Joseon untuk menangani anjing-anjing liar. Hal ini menciptakan asosiasi jangka panjang antara daging anjing dengan kelas bawah dan kelompok marginal. Meskipun beberapa dokumen medis Joseon seperti Donguibogam menyebutkan khasiat daging anjing untuk pemulihan kesehatan, praktik ini tetap tidak pernah menjadi arus utama dalam diet aristokrasi Yangban.
Tabel 1: Kronologi Evolusi Status Daging Anjing dalam Sejarah Korea
| Era / Dinasti | Status Dominan | Peran Daging Anjing dalam Masyarakat |
| Silla & Goryeo | Buddhisme | Jarang dikonsumsi; dilarang karena prinsip non-kekerasan. |
| Joseon (Awal) | Neo-Konfusianisme | Munculnya kelas Baekjeong; anjing dikonsumsi oleh kelompok marginal. |
| Joseon (Akhir) | Transisi Budaya | Mulai dicatat dalam literatur medis sebagai penguat stamina (Bosintang). |
| Pasca-Perang Korea | Kelangkaan Pangan | Peningkatan konsumsi karena kekurangan protein yang parah. |
| Orde Baru (1988) | Globalisasi | Upaya pelarangan pertama jelang Olimpiade Seoul untuk menjaga citra bangsa. |
| Modern (2024) | Kesadaran Kesejahteraan | Pelarangan total melalui undang-undang khusus. |
Konteks pasca-Perang Korea (1950-1953) menjadi titik balik modern di mana konsumsi daging anjing mengalami kebangkitan sebagai mekanisme pertahanan terhadap kelaparan massal. Dalam kondisi di mana ternak seperti sapi dan babi sangat langka, anjing menjadi sumber protein yang mudah diakses di daerah pedesaan. Dari sinilah muncul “rebranding” daging anjing sebagai Bosintang (sup stamina) atau Gaejangguk, yang dikaitkan dengan kekuatan fisik untuk menghadapi panas ekstrem di musim panas.
Revolusi Moral Generasi Baru: Dari Ternak ke Keluarga
Inti dari pergeseran kebijakan drastis pada tahun 2024 terletak pada perubahan sosiologis dalam memandang anjing. Jika generasi terdahulu membedakan secara tegas antara “anjing peliharaan” dan “anjing daging” (Nureongi), generasi muda Korea Selatan telah menghapus dikotomi tersebut. Fenomena ini didorong oleh urbanisasi yang sangat cepat dan pertumbuhan tingkat kesepian di kota-kota besar, yang memicu lonjakan kepemilikan hewan peliharaan sebagai pendamping emosional.
Survei menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 6 juta rumah tangga di Korea Selatan memiliki hewan peliharaan, dengan anjing sebagai pilihan utama. Kepemilikan ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan perubahan ontologis dalam hubungan manusia-hewan. Bagi pemilik anjing modern di Seoul atau Busan, anjing dianggap memiliki sentiens (kemampuan merasakan sakit dan emosi) yang setara dengan manusia, sehingga praktik penyembelihan anjing untuk makanan dianggap sebagai bentuk kanibalisme moral.
Jurang Generasi dan Tekanan Sosial Terbalik
Kontroversi pelarangan ini mencerminkan jurang generasi yang sangat dalam. Pria lanjut usia (50 tahun ke atas) adalah segmen demografis terakhir yang masih mengonsumsi daging anjing, sering kali atas dasar keyakinan tradisional bahwa daging tersebut dapat meningkatkan vitalitas pria atau melawan kelelahan musim panas selama periode Sambok. Di sisi lain, generasi milenial dan Gen Z tidak hanya menolak konsumsi, tetapi juga aktif melakukan kampanye digital untuk mendiskreditkan industri tersebut.
Data survei Nielsen tahun 2022 mengungkapkan fenomena “tekanan sosial terbalik”: lebih dari separuh anak muda berusia 20-an yang mengonsumsi daging anjing mengaku melakukannya karena dipaksa oleh senior di lingkungan kerja atau keluarga, bukan karena keinginan pribadi. Stigma sosial kini telah bergeser; mengonsumsi daging anjing di depan umum kini dianggap sebagai tindakan yang memalukan secara sosial bagi kaum muda. Hal ini menyebabkan penurunan drastis dalam jumlah restoran yang menyajikan Bosintang, yang turun dari ribuan menjadi kurang dari 1.600 di seluruh negeri dalam waktu singkat.
Tabel 2: Statistik Perubahan Persepsi Publik Terhadap Daging Anjing
| Variabel Survei | Persentase Responden | Keterangan |
| Belum pernah mengonsumsi daging anjing | 83,8% (Data 2020) | Menunjukkan praktik ini sudah bukan arus utama. |
| Tidak berniat mengonsumsi di masa depan | 86% – 90% (Data 2023-2025) | Menunjukkan penolakan lintas generasi. |
| Dukungan terhadap larangan legislatif | ~60% (Data 2021) | Dasar legitimasi bagi Majelis Nasional. |
| Persepsi bahwa konsumsi merusak reputasi global | > 50% (Data 2023) | Dorongan nasionalisme untuk menghapus praktik. |
| Alasan konsumsi karena tekanan sosial (Usia 20-an) | > 50% (Data 2022) | Menandakan perubahan budaya yang dipaksakan oleh norma baru. |
Bedah Undang-Undang Khusus 2024: Mekanisme dan Sanksi
“Undang-Undang Khusus tentang Pengakhiran Pembiakan, Penyembelihan, dan Distribusi Anjing untuk Tujuan Pangan” (Act No. 20195) yang diundangkan pada 6 Februari 2024 adalah sebuah dokumen hukum yang sangat spesifik dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat secara nasional. Undang-undang ini dirancang untuk menutup setiap celah hukum yang selama ini membuat industri daging anjing berada di “zona abu-abu” antara hukum pangan dan hukum perlindungan hewan.
Ketentuan Utama dan Masa Tenggang
Undang-undang ini menetapkan periode transisi selama tiga tahun, yang secara resmi berakhir pada Februari 2027. Selama masa ini, pelaku industri dilarang untuk:
- Mendirikan peternakan anjing baru atau memperluas fasilitas yang ada.
- Membuka restoran atau bisnis distribusi daging anjing baru.
- Melakukan penyembelihan anjing untuk konsumsi (meskipun penegakan sanksi pidana penuh baru dimulai pada 2027).
Pelaku usaha yang sudah ada diwajibkan untuk mendaftarkan bisnis mereka ke pemerintah daerah dalam waktu tiga bulan sejak undang-undang diterbitkan, dan harus menyerahkan “Rencana Implementasi Pengakhiran Bisnis” dalam waktu enam bulan. Kegagalan untuk mematuhi kewajiban administratif ini dapat berakibat pada denda instan hingga 3 juta won.
Struktur Sanksi Pidana
Mulai tahun 2027, pelanggaran terhadap undang-undang ini akan diklasifikasikan sebagai tindak pidana berat:
- Penyembelihan anjing untuk makanan: Hukuman penjara maksimal 3 tahun atau denda hingga 30 juta won (sekitar US$22.800).
- Pembiakan, distribusi, atau penjualan: Hukuman penjara maksimal 2 tahun atau denda hingga 20 juta won (sekitar US$15.000).
Hal yang unik dari legislasi ini adalah bahwa undang-undang ini tidak secara eksplisit menghukum individu yang mengonsumsi daging anjing, melainkan menargetkan seluruh infrastruktur rantai pasokan. Pendekatan ini bertujuan untuk menghapus ketersediaan produk di pasar secara total, sehingga konsumsi akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus mengkriminalisasi warga lanjut usia yang mungkin masih memegang teguh tradisi secara personal.
Ekonomi Industri: Antara Eksploitasi dan Mata Pencaharian
Karakteristik unik dari industri daging anjing di Korea Selatan adalah skalanya yang bersifat industri. Tidak seperti di negara-negara lain di mana anjing sering diambil dari jalanan atau dicuri, Korea Selatan memiliki ribuan peternakan yang didedikasikan secara khusus untuk membiarkan anjing dalam kandang kawat yang sempit.
Menurut data Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan (MAFRA), pada awal tahun 2024, terdapat sekitar 1.150 peternakan anjing, 34 bisnis penjagalan, 219 distributor, dan 1.600 restoran yang terdaftar. Populasi anjing yang dibiakkan diperkirakan mencapai 466.000 hingga 521.121 ekor. Angka-angka ini menunjukkan kompleksitas ekonomi yang harus ditangani oleh pemerintah selama masa transisi.
Kontroversi Kompensasi: Gap Harapan Peternak dan Pemerintah
Penolakan keras datang dari Asosiasi Peternak Anjing Korea, yang berargumen bahwa larangan ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia untuk menjalankan bisnis dan kebebasan diet. Protes besar-besaran terjadi di depan kantor kepresidenan di Seoul, di mana para peternak bahkan mengancam akan melepaskan 2 juta anjing di sekitar rumah para pembuat undang-undang jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Isu utama adalah masalah kompensasi finansial. Pemerintah Korea Selatan telah mengalokasikan sekitar 100 miliar won ($75,2 juta) untuk paket dukungan transisi. Namun, terdapat ketimpangan yang signifikan antara tawaran pemerintah dan permintaan peternak.
Tabel 3: Perbandingan Skema Kompensasi Transisi Industri
| Komponen | Penawaran Pemerintah (MAFRA) | Tuntutan Asosiasi Peternak |
| Kompensasi Per Anjing | 225.000 – 600.000 won ($170 – $450) | 2.000.000 won ($1.505). |
| Dasar Penilaian | Waktu penutupan (insentif untuk lebih awal) | Kerugian potensi keuntungan jangka panjang. |
| Jenis Dukungan | Pinjaman bunga rendah untuk bisnis baru | Hibah tunai langsung tanpa syarat. |
| Fasilitas | Subsidi pembongkaran kandang & rumah potong | Ganti rugi aset lahan dan bangunan. |
Para peternak merasa bahwa jumlah yang ditawarkan pemerintah tidak cukup untuk menutupi biaya hidup mereka, terutama karena banyak dari mereka adalah peternak lanjut usia yang tidak memiliki keterampilan lain untuk berpindah ke sektor industri modern. Ketidakpastian ekonomi ini menciptakan kecemasan bahwa penutupan peternakan akan menyebabkan krisis keuangan bagi ribuan keluarga di pedesaan.
Program “Models for Change”: Blue Print Transisi yang Manusiawi
Di tengah kebuntuan antara pemerintah dan peternak, program “Models for Change” yang dipelopori oleh Humane Society International (HSI) memberikan contoh praktis bagaimana transisi dapat dilakukan dengan sukses. Sejak 2015, program ini telah membantu menutup 18 peternakan anjing secara sukarela dan menyelamatkan lebih dari 2.700 anjing.
Model ini bekerja dengan cara memberikan modal dan pelatihan bagi peternak untuk beralih ke pertanian tanaman komersial yang lebih profitable dan tidak kontroversial. Beberapa contoh nyata dari transisi ini meliputi:
- Pertanian Sayuran: Banyak mantan peternak yang kini beralih menanam cabai, peterseli air, atau jamur.
- Layanan Logistik: Beberapa peternak beralih ke bisnis pengiriman air atau jasa transportasi lokal.
- Tanaman Herbal: Pengalihan lahan peternakan menjadi perkebunan tanaman obat atau herbal yang permintaannya tinggi di pasar Korea.
Kisah sukses peternak seperti Yang (73 tahun), menunjukkan sisi emosional dari transisi ini. Setelah 30 tahun beternak anjing, ia memutuskan untuk berhenti karena merasa lelah dengan stigma sosial dan rasa bersalah. Kini, ia mengelola lahan pertanian seluas 496 meter persegi yang ditanami ubi jalar dan kacang-kacangan, dan menyatakan bahwa kehidupannya jauh lebih tenang tanpa bisingnya gonggongan anjing yang menderita. Program ini membuktikan bahwa peternak anjing sebenarnya bukan musuh, melainkan korban dari industri yang sekarat, dan mereka bersedia berubah jika diberikan jalur keluar yang bermartabat.
Nasib Setengah Juta Anjing: Tantangan Logistik dan Etika
Salah satu masalah yang paling mendesak pasca-larangan adalah apa yang akan terjadi dengan 466.000 hingga 500.000 anjing yang saat ini masih berada di peternakan. Pemerintah Korea Selatan telah menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan eutanasia massal, tetapi realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang sangat berat.
Krisis Kapasitas Shelter dan Adopsi
Tempat penampungan hewan milik pemerintah di Korea Selatan saat ini dilaporkan telah berada pada kapasitas penuh. Menambahkan setengah juta anjing ke dalam sistem tersebut adalah hal yang mustahil secara finansial dan ruang. Selain itu, terdapat masalah “preferensi ras”:
- Ras Besar dan Campuran: Mayoritas anjing peternakan adalah ras besar seperti Tosa Inu atau campuran Jindo, yang sering kali sulit diadopsi oleh masyarakat perkotaan Korea yang tinggal di apartemen sempit dan lebih menyukai anjing ras kecil seperti Maltis atau Poodle.
- Stigma “Anjing Daging”: Masih ada persepsi bahwa anjing dari peternakan daging adalah agresif atau tidak bersih, meskipun para sukarelawan membuktikan bahwa dengan rehabilitasi, anjing-anjing ini sangat setia dan lembut.
Oleh karena itu, organisasi internasional sering kali harus menerbangkan anjing-anjing ini ke Kanada, Amerika Serikat, atau Eropa untuk mendapatkan rumah permanen. Biaya logistik untuk satu misi penyelamatan yang melibatkan ratusan anjing bisa mencapai miliaran won, yang berarti bahwa tanpa dukungan anggaran negara yang signifikan, ribuan anjing mungkin tetap terjebak dalam limbo atau terancam penyembelihan ilegal sebelum 2027.
Risiko Kesehatan Publik dan Praktik Ilegal
Selain masalah etika, keberadaan peternakan anjing yang tidak teregulasi selama bertahun-tahun telah menciptakan risiko kesehatan publik yang nyata. Kurangnya standar sanitasi di rumah potong anjing menyebabkan kontaminasi silang dan potensi penyebaran zoonosis. Dokter hewan Korea telah menyuarakan keprihatinan tentang penggunaan antibiotik dosis tinggi (seperti fluoroquinolones dan sulfonamides) pada anjing peternakan yang dilarang keras untuk dikonsumsi oleh manusia.
Kegagalan dalam menangani anjing-anjing ini dengan benar selama masa transisi dapat memicu kemunculan pasar gelap di mana anjing-anjing tersebut disembelih secara sembunyi-sembunyi tanpa pengawasan medis, yang justru membahayakan konsumen lanjut usia yang masih mencari daging anjing. Pemerintah telah merespons dengan meningkatkan inspeksi rutin dan mengembangkan kit deteksi berbasis DNA untuk mengidentifikasi produk daging anjing di restoran.
Geopolitik dan Reputasi Nasional: Pengaruh Event Internasional
Keinginan Korea Selatan untuk melarang daging anjing tidak dapat dilepaskan dari ambisinya untuk menjadi pemimpin budaya global. Selama beberapa dekade, praktik konsumsi daging anjing telah menjadi titik lemah dalam diplomasi publik Korea.
Memori Olimpiade 1988 dan Piala Dunia 2002
Sejarah menunjukkan pola di mana pemerintah Korea melakukan penindasan sementara terhadap industri daging anjing setiap kali menjadi tuan rumah acara internasional besar:
- Olimpiade Seoul 1988: Pemerintah melarang penjualan daging anjing di area utama Seoul dan mengganti nama hidangan tersebut untuk menghindari protes dari turis Barat dan organisasi hak hewan. Namun, setelah acara selesai, penegakan hukum melonggar.
- Piala Dunia 2002: Kritikan dari tokoh internasional seperti Brigitte Bardot memicu kemarahan publik Korea yang merasa tradisi mereka diserang secara tidak adil oleh Barat. Hal ini sempat memicu gerakan nasionalis yang membela konsumsi daging anjing sebagai bentuk kedaulatan budaya.
Namun, pada tahun 2024, situasinya berbeda. Dorongan untuk melarang praktik ini bukan lagi karena tekanan eksternal, melainkan karena permintaan domestik yang luar biasa. Survei tahun 2023 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk percaya bahwa citra negara sebagai pusat teknologi dan budaya (K-Wave) tidak sejalan dengan praktik penyembelihan anjing yang kejam. Daging anjing kini dianggap sebagai sisa-sisa masa lalu yang menghambat kemajuan Korea menuju “negara maju yang beradab”.
Peran Ibu Negara dan Politisi
Dukungan politik dari tingkat tertinggi sangat krusial. Ibu Negara Kim Keon-hee telah menjadi simbol dari gerakan ini. Sebagai pecinta hewan yang memiliki banyak anjing penyelamat, ia secara terbuka menyatakan bahwa mengakhiri konsumsi daging anjing adalah janji presiden kepada rakyat. Kehadiran aktifnya di acara-acara aktivis hak hewan memberikan sinyal kuat kepada Majelis Nasional bahwa larangan ini adalah prioritas eksekutif. Bahkan, di antara para anggota parlemen, beberapa menyebut undang-undang ini sebagai “Kim Keon-hee Act” karena intensitas kampanyenya.
Paradoks Semenanjung: Perbandingan dengan Korea Utara
Sementara Korea Selatan melangkah menuju pelarangan total, Korea Utara justru mempertahankan dan bahkan mempromosikan konsumsi daging anjing sebagai warisan budaya nasional. Di Korea Utara, daging anjing dikenal sebagai dangogi (daging manis) dan dianggap sebagai makanan mewah yang hanya tersedia untuk elit atau pada acara khusus.
Tabel 4: Kontras Kebijakan Daging Anjing antara Korea Selatan dan Utara
| Aspek | Korea Selatan | Korea Utara |
| Status Hukum | Ilegal per 2027 (Kriminalisasi produksi). | Legal dan dipromosikan sebagai hidangan nasional. |
| Narasi Negara | “Evolusi moral” dan “kesejahteraan hewan”. | “Ketahanan budaya” dan “kebanggaan tradisional”. |
| Persepsi Sosial | Stigma negatif; dianggap kejam oleh pemuda. | Simbol prestise; sering digunakan sebagai suap/hadiah. |
| Aksesibilitas | Penutupan pasar dan restoran massal. | Tersedia di restoran khusus dangogi di Pyongyang. |
Perbedaan tajam ini menunjukkan bagaimana ideologi dan kondisi ekonomi membentuk etika hewan. Di Korea Selatan, kemakmuran telah memungkinkan masyarakat untuk memandang anjing sebagai subjek emosional. Sementara itu, di Korea Utara, di mana kelangkaan protein masih menjadi isu sistemik, anjing tetap dipandang sebagai sumber nutrisi yang fungsional dan simbol kekuasaan politik.
Ledakan Pet Industry: Pengganti Ekonomi yang Menguntungkan
Salah satu alasan mengapa transisi dari industri daging anjing mungkin tidak menghancurkan ekonomi adalah pertumbuhan eksplosif sektor perawatan hewan peliharaan (pet care). Korea Selatan sedang bertransformasi menjadi salah satu pasar hewan peliharaan paling dinamis di dunia.
Pasar Mewah dan Layanan Humanisasi
Pasar hewan peliharaan Korea Selatan diproyeksikan tumbuh menjadi industri senilai 15 triliun won ($11,47 miliar) pada tahun 2027. Hal ini didorong oleh fenomena “humanisasi hewan peliharaan,” di mana pemilik memperlakukan anjing mereka seperti anak sendiri.
- Spending Medis: Biaya medis untuk hewan peliharaan hampir dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, mencapai rata-rata â‚©1,02 juta per tahun.
- Layanan Akhir Hayat: Pasar pemakaman dan kremasi hewan peliharaan diperkirakan mencapai $46,3 juta pada tahun 2030, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 13,3%.
- Teknologi dan E-commerce: 63% penjualan makanan hewan peliharaan terjadi secara online, dan banyak perusahaan rintisan (startup) Korea kini berfokus pada teknologi pelacakan kesehatan hewan dan AI untuk perawatan peliharaan.
Pertumbuhan sektor ini memberikan peluang bagi para pelaku industri daging anjing yang ingin beralih profesi. Fasilitas gudang atau distribusi daging anjing dapat dikonversi menjadi pusat distribusi makanan hewan peliharaan atau salon perawatan anjing, yang secara ekonomi jauh lebih menjanjikan di masa depan dibandingkan dengan pasar daging anjing yang terus menyusut.
Tabel 5: Indikator Pertumbuhan Ekonomi Hewan Peliharaan di Korea Selatan
| Indikator Ekonomi | Nilai / Statistik (2024-2025) | Proyeksi 2027-2030 |
| Total Ukuran Pasar | ~8 – 10 Triliun Won. | 15 Triliun Won ($11,47 Miliar). |
| Persentase Kepemilikan Pets | ~30% penduduk (15 Juta Orang). | Terus meningkat seiring penurunan angka kelahiran. |
| Pengeluaran Bulanan per Pet | 194.000 Won ($142). | Tumbuh 6-10% per tahun. |
| Pasar Pemakaman Hewan | $22,0 Juta (2024). | $46,3 Juta (2030). |
| Ekspor Makanan Hewan | $149 Juta (2022) | $500 Juta (Target 2027). |
Analisis Etika: Rekonsiliasi Tradisi dan Kemajuan
Pertanyaan filosofis yang muncul adalah: apakah sebuah negara berhak menghapus tradisi kulinernya demi nilai-nilai moral baru? Bagi para pendukung larangan, argumennya jelas bahwa tradisi tidak bisa menjadi pembenaran untuk kekejaman yang sistematis. Anjing dianggap memiliki peran unik dalam evolusi manusia sebagai pendamping, yang memberikan mereka status moral yang berbeda dari babi atau sapi dalam pandangan sosiokultural Korea modern.
Namun, di sisi lain, kritik terhadap “universalisme moral” Barat juga muncul. Beberapa kritikus berargumen bahwa ketidaksukaan terhadap daging anjing adalah bentuk bias budaya, di mana hewan yang dianggap lucu dilindungi, sementara hewan lain yang memiliki kecerdasan serupa (seperti babi) tetap disembelih secara massal. Pemerintah Korea Selatan menavigasi perdebatan ini bukan dengan mengikuti standar Barat secara buta, melainkan dengan menekankan pada “konsensus sosial nasional” yang sudah matang. Fakta bahwa 9 dari 10 orang Korea Selatan tidak berencana memakan daging anjing di masa depan adalah bukti bahwa perubahan ini berasal dari dalam sanubari rakyat itu sendiri.
Peran Pendidikan dan Media
Media massa dan budaya populer Korea (K-Drama) memainkan peran besar dalam mendidik masyarakat tentang sentiens hewan. Acara televisi tentang penyelamatan anjing dan selebriti yang memamerkan anjing penyelamat mereka telah mengubah citra anjing dari “objek pangan” menjadi “subjek yang dicintai”. Hal ini menciptakan atmosfer di mana konsumsi daging anjing tidak lagi dianggap sebagai tindakan netral, melainkan sebuah pilihan etis yang dihakimi oleh publik.
Kesimpulan: Menuju Fajar Baru Kesejahteraan Hewan
Larangan daging anjing di Korea Selatan pada tahun 2024 adalah tonggak sejarah yang menandai berakhirnya sebuah era dan dimulainya paradigma baru dalam hubungan manusia-hewan di Asia. Keberhasilan legislasi ini adalah hasil dari sinergi antara kepemimpinan politik yang berani, aktivisme masyarakat sipil yang gigih, dan pergeseran demografis yang tidak terbendung.
Meskipun jalan menuju implementasi penuh pada tahun 2027 masih dihadapkan pada tantangan logistik yang nyata—terutama mengenai nasib setengah juta anjing yang masih berada di peternakan dan kompensasi bagi para peternak—arah perubahan ini sudah tidak dapat diputar balik. Korea Selatan telah menunjukkan kepada dunia bahwa transformasi budaya yang drastis adalah mungkin terjadi dalam waktu yang singkat ketika nilai-nilai kemanusiaan dan empati diprioritaskan di atas tradisi yang sudah usang.
Keputusan ini tidak hanya menyelamatkan jutaan anjing di masa depan dari penderitaan, tetapi juga memperkuat posisi Korea Selatan sebagai negara yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga matang secara moral. Dengan menutup babak perdagangan daging anjing ini, Korea Selatan sedang membangun fondasi bagi masyarakat yang lebih berbelas kasih, di mana penghormatan terhadap kehidupan—sekecil apa pun itu—menjadi pilar utama identitas nasionalnya. Seiring dengan berjalannya waktu, Bosintang akan memudar menjadi sekadar catatan kaki dalam buku sejarah, sementara suara gonggongan anjing yang bahagia di rumah-rumah penduduk akan menjadi melodi baru dari peradaban Korea yang terus berevolusi.