Dekonstruksi Paradigma Gender: Analisis Komprehensif Transformasi Genderless Fashion melalui Ikonografi Harry Styles dan Billy Porter
Fenomena genderless fashion atau busana tanpa jender telah berkembang melampaui sekadar tren estetika sesaat menjadi sebuah pergeseran paradigma sosiokultural yang mendalam di abad ke-21. Transformasi ini menandai runtuhnya dikotomi kaku antara pakaian pria dan wanita yang telah mendominasi narasi sosiologis Barat sejak era industrialisasi. Melalui ekspresi eksentrik para musisi kontemporer, pakaian kini dipahami bukan lagi sebagai determinan identitas biologis, melainkan sebagai medium performatif yang cair untuk ekspresi diri yang autentik. Analisis ini mengeksplorasi bagaimana figur seperti Harry Styles dan Billy Porter tidak hanya mengubah cara individu berpakaian, tetapi juga menantang struktur kekuasaan, patriarki, dan norma heteronormatif yang melekat pada industri mode global.
Genealogi Androgini: Dari Aristokrasi hingga Pemberontakan Subkultur
Penting untuk memahami bahwa genderless fashion bukanlah penemuan modern yang muncul secara spontan. Secara historis, batasan gender dalam pakaian telah mengalami fluktuasi yang signifikan. Pada abad ke-17 di Eropa Barat, apa yang kini dianggap feminin—seperti penggunaan renda, sulaman bunga, sutra berwarna pink, hingga sepatu hak tinggi—merupakan elemen integral dari busana maskulin kaum aristokrat. Pada masa itu, kemewahan busana lebih berkaitan dengan status kelas daripada identitas gender. Namun, abad ke-19 membawa perubahan drastis melalui apa yang oleh para psikolog disebut sebagai “The Great Masculine Renunciation,” di mana pria meninggalkan keindahan estetika demi keseragaman utilitarian yang dianggap mencerminkan nilai-nilai kerja keras dan keseriusan.
Abad ke-20 menjadi saksi bangkitnya kembali androgini sebagai alat perlawanan sosiopolitik. Gerakan flapper pada 1920-an menantang siluet feminin tradisional dengan mengadopsi potongan maskulin yang datar, mencerminkan keinginan wanita untuk kebebasan bergerak dan hak-hak sipil. Memasuki era 1970-an, ikon-ikon seperti David Bowie dengan alter ego Ziggy Stardust, Prince, dan Jimi Hendrix mulai mengaburkan batasan gender secara masif dalam budaya populer. Bowie, dalam pidatonya di Grammy Awards 1975, secara eksplisit menyapa audiens dengan sebutan “ladies and gentlemen—and others,” sebuah pengakuan awal terhadap spektrum gender di luar biner.
| Era | Evolusi Konsep Gender dalam Mode | Dampak Sosiokultural |
| Abad ke-17 | Pria aristokrat mengenakan renda, sutra pink, dan hak tinggi. | Pakaian sebagai simbol status kelas, bukan batasan gender biologis. |
| Abad ke-19 | Keseragaman utilitarian dan “Great Masculine Renunciation.” | Pemisahan kaku antara domain pria (publik/serius) dan wanita (domestik/dekoratif). |
| 1920-an | Gaya flapper, pemangkasan rambut pendek, dan siluet tubular. | Subversi standar kecantikan feminin demi otonomi tubuh wanita. |
| 1970-an – 1980-an | Glam rock, androgini teatrikal, penggunaan makeup tebal oleh pria. | Dekonstruksi heteronormativitas melalui persona panggung musisi pop. |
| 2010-an – Sekarang | Gender-fluidity, de-genderisasi ritel, dan normalisasi karpet merah. | Mode dipandang sebagai hak asasi untuk ekspresi diri tanpa batasan label biner. |
Transformasi Estetika Harry Styles: Dari Idola Remaja ke Ikon Gender-Fluid
Harry Styles merepresentasikan salah satu evolusi gaya paling signifikan dalam sejarah musik modern. Memulai karier pada tahun 2010 sebagai anggota boyband One Direction, Styles pada awalnya dikurasi dengan estetika “preppy” yang sangat aman bagi pasar remaja, terdiri dari blazer, celana jin ketat, dan rambut “Ã -la-Bieber”. Namun, seiring dengan kematangan artistiknya sebagai solois, Styles mulai melepaskan diri dari batasan citra maskulin konvensional. Penampilan publiknya mulai menunjukkan elemen-elemen yang semakin berani, mulai dari penggunaan kaos yang tidak dikancingkan yang memamerkan tato dada, hingga penggunaan sepatu bot tumit tinggi (heeled boots) yang mengingatkan pada era rock tahun 70-an.
Kemitraan strategis antara Styles dengan direktur kreatif Gucci, Alessandro Michele, menjadi katalisator utama bagi statusnya sebagai ikon mode dunia. Michele, yang dikenal dengan visi estetika “New Romantic” yang subversif terhadap gender, menemukan dalam diri Styles sebuah kanvas yang sempurna untuk mengeksplorasi ambiguitas gender.9 Puncaknya terjadi pada Met Gala 2019, di mana Styles muncul dengan ansambel renda hitam transparan, celana berpinggang sangat tinggi, dan satu anting mutiara. Penampilan ini bukan sekadar pernyataan gaya, melainkan sebuah dekonstruksi visual terhadap apa yang dianggap “pantas” bagi seorang pria di bawah sorotan publik global.
Tahun 2020 menandai momen sejarah bagi media massa ketika Styles menjadi pria solo pertama yang menghiasi sampul majalah Vogue AS dengan mengenakan gaun renda Gucci. Sampul ini memicu debat nasional di Amerika Serikat dan seluruh dunia, memancing reaksi keras dari tokoh-tokoh konservatif yang melihatnya sebagai “serangan terhadap maskulinitas”. Namun, bagi Styles, pilihan tersebut berakar pada filosofi bahwa pakaian hanyalah alat untuk bermain dan menciptakan kreativitas.Ia menyatakan bahwa ketika seseorang melepaskan label “pakaian ini untuk pria” atau “pakaian ini untuk wanita,” seluruh dunia kreativitas akan terbuka lebar.
Billy Porter dan Politik Busana: Red Carpet sebagai Mimbar Aktivisme
Jika Harry Styles mendekati mode melalui lensa kreativitas yang ceria, Billy Porter memandangnya sebagai instrumen politik yang vital. Sebagai seorang aktor kulit hitam gay yang tumbuh dalam tekanan sosiokultural Amerika yang keras, Porter menggunakan pakaian sebagai alat untuk menuntut pengakuan atas kemanusiaannya yang selama ini dipinggirkan.11 Filosofi busana Porter, yang ia sebut sebagai “political art,” berakar pada latar belakang teaternya dan pemahaman bahwa karpet merah adalah panggung global yang dapat digunakan untuk mengubah struktur molekuler hati dan pikiran manusia.
Momen paling transformatif dalam karier mode Porter adalah penampilannya di Academy Awards 2019, di mana ia mengenakan “tuxedo gown” berbahan beludru hitam karya Christian Siriano. Gaun ini secara jenius menggabungkan bagian atas jas pria tradisional dengan rok pesta yang sangat bervolume, menciptakan keseimbangan visual yang menantang persepsi tradisional tentang kekuatan dan kelemahan. Porter secara eksplisit menyatakan bahwa tindakannya bukan tentang menjadi “drag queen,” melainkan tentang seorang pria yang berani bermain dengan siluet feminin tanpa harus kehilangan identitas maskulinnya.
Porter juga sering mereferensikan sejarah perlawanan wanita kulit hitam di gereja-gereja Amerika sebagai sumber inspirasi gayanya. Ia mencatat bahwa bagi banyak wanita kulit hitam yang bekerja sebagai pelayan atau buruh sepanjang minggu, berpakaian megah dan regalis pada hari Minggu di gereja adalah cara untuk menegaskan martabat dan harga diri mereka di hadapan dunia yang mencoba merendahkan mereka. Dengan mengadopsi kemegahan serupa—seperti kemunculannya yang teatrikal di Met Gala 2019 sebagai Dewa Matahari Mesir yang ditandu oleh enam pria—Porter mengubah mode menjadi bentuk kedaulatan diri yang tak tergoyahkan.
| Dimensi Perbandingan | Harry Styles | Billy Porter |
| Filosofi Utama | Mode sebagai bentuk kreativitas, kesenangan, dan kebebasan bermain. | Mode sebagai “seni politik” dan alat untuk dekonstruksi patriarki. |
| Konteks Budaya | Dipengaruhi oleh glam rock kulit putih (Bowie, Jagger) dan estetika Gucci. | Dipengaruhi oleh budaya ballroom kulit hitam, teater, dan resistensi gereja. |
| Risiko Personal | Menghadapi kritik media, namun terlindungi oleh privilese kulit putih dan popularitas masif. | Menghadapi risiko fisik, karier, dan marginalisasi ganda sebagai pria gay kulit hitam. |
| Simbolisme Ikonik | Sampul Vogue mengenakan gaun; kalung mutiara dan cat kuku. | Tuxedo gown di Oscars; topi mekanis di Grammys; gaun sayap di Golden Globes. |
Dialektika Privilese: Kontroversi Styles vs. Porter dan Penghapusan Sejarah
Munculnya Styles sebagai “wajah” gerakan genderless fashion di sampul Vogue memicu diskusi kritis mengenai siapa yang berhak mendapatkan kredit atas revolusi ini. Billy Porter mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap industri mode yang tampak lebih nyaman merayakan seorang pria kulit putih yang “straight-passing” (tampak heteroseksual) daripada individu-individu queer kulit berwarna yang telah memperjuangkan gaya ini selama puluhan tahun di tengah risiko nyawa. Porter menekankan bahwa bagi Styles, mengenakan gaun mungkin merupakan pilihan estetika yang menyenangkan, namun bagi Porter, hal tersebut adalah masalah politik dan perjuangan hidup-mati.
Kritik ini menyentuh masalah yang lebih dalam tentang “erasure” atau penghapusan kontribusi komunitas marginal. Tokoh-tokoh seperti Andre J. telah muncul di sampul Vogue Paris pada tahun 2007 sebagai pria kulit hitam dengan janggut yang mengenakan gaun, jauh sebelum Styles melakukan hal serupa.21 Selain itu, sejarah genderless fashion tidak dapat dipisahkan dari budaya ballroom di New York yang dipelopori oleh komunitas kulit hitam dan Latin sejak era 1960-an sebagai ruang pelarian dari diskriminasi sistemik. Ketika majalah arus utama seperti Vogue memilih Styles sebagai “pioneer,” mereka sering kali secara tidak sengaja memvalidasi versi androgini yang lebih “palatable” atau mudah diterima oleh audiens kulit putih heteroseksual, sambil mengabaikan akar radikal dari gerakan tersebut.
Namun, di sisi lain, banyak analis berpendapat bahwa Styles berfungsi sebagai jembatan yang diperlukan untuk menormalkan konsep ini bagi audiens massal. Popularitasnya di kalangan generasi muda memberikan keberanian bagi remaja pria untuk mengekspresikan diri tanpa takut akan stigma maskulinitas beracun. Konflik antara Styles dan Porter pada akhirnya mencerminkan tegangan antara “estetika murni” dan “aktivisme identitas,” di mana keduanya sebenarnya memberikan kontribusi unik bagi ekosistem mode yang lebih luas.
Implikasi Sosiologis: Performativitas Gender dan Pembongkaran Maskulinitas Beracun
Gerakan genderless fashion yang dipimpin oleh Styles dan Porter sangat relevan dengan teori “performativitas gender” dari Judith Butler. Butler berargumen bahwa gender bukanlah identitas esensial yang bersifat biologis, melainkan serangkaian tindakan dan ekspresi yang dikonstruksi secara sosial dan dilakukan secara berulang. Dengan mengenakan pakaian yang secara tradisional dianggap sebagai milik gender lawan, para musisi ini melakukan apa yang disebut sebagai “traitorous identity”—tindakan mengkhianati ekspektasi sempit kelompok gender mereka sendiri untuk menunjukkan bahwa aturan-aturan tersebut bersifat arbitrer.
Fenomena ini juga berfungsi sebagai antitesis terhadap “toxic masculinity” atau maskulinitas beracun, sebuah konstruksi sosial yang memaksa pria untuk selalu tampil dominan, keras, dan anti-feminin. Melalui normalisasi penggunaan cat kuku, perhiasan mutiara, dan rok oleh figur publik pria yang sangat populer, batas-batas perilaku maskulin mulai melunak. Hal ini memungkinkan pria untuk merangkuh kerentanan dan keindahan estetika tanpa merasa bahwa kejantanan mereka terancam. Mode dalam konteks ini menjadi “armor” yang melindungi individualitas seseorang dari tekanan konformitas sosial yang menyesakkan.
Transformasi Industri Ritel: Strategi Korporat dan Desain Ruang Agnostik
Perubahan budaya yang dipicu oleh para musisi ini telah memaksa raksasa ritel untuk memikirkan kembali strategi pemasaran dan operasional mereka. Mode tanpa gender bukan lagi sekadar segmen ceruk, melainkan penggerak utama pertumbuhan pasar ritel global. Merek mewah seperti Gucci telah mempelopori transisi ini dengan meluncurkan kategori “Gucci MX” di situs web mereka, sebuah ruang belanja khusus yang memamerkan koleksi tanpa segregasi gender tradisional. Langkah ini diikuti oleh pengumuman bahwa Gucci akan meninggalkan kalender mode musiman yang kaku demi koleksi yang lebih cair dan tidak terbatas oleh waktu.
Di sektor ritel massal, transformasi ini terlihat jelas melalui inisiatif “Nike Style.” Nike telah membuka format toko baru di Seoul dan Shanghai yang sepenuhnya didasarkan pada zona produk “gender agnostic”. Alih-alih membagi toko menjadi lantai pria dan wanita, pelanggan dapat berbelanja berdasarkan ukuran dan gaya pribadi mereka di area yang mencakup pakaian fleece, atasan, dan alas kaki yang dirancang untuk semua orang. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan inklusivitas, tetapi juga mencerminkan perilaku belanja generasi Z yang 36% di antaranya secara aktif membeli pakaian di luar identitas gender mereka.
| Nama Merek | Inisiatif Gender-Neutral | Detail Implementasi |
| Gucci | Divisi Gucci MX. | Penghapusan batasan kategori belanja pria/wanita di situs web; penggunaan model non-biner secara eksklusif dalam kampanye tas Jackie 1961. |
| Nike | Konsep Toko Nike Style. | Zona produk agnostik gender; studio konten untuk komunitas; penggunaan QR code untuk pengalaman AR yang inklusif. |
| Old Navy | Bagian “Gender Neutral Outfits”. | Koleksi pakaian santai (hoodies, joggers) dengan potongan universal; penggunaan model pria dan wanita untuk produk yang sama dalam iklan online. |
| Zara & H&M | Koleksi Unisex/Genderless. | Peluncuran lini pakaian tanpa gender yang diletakkan berdampingan dengan koleksi tradisional di toko fisik tertentu. |
Inovasi Kecantikan dan Wellness: Peran Merek Pleasing dalam Inklusivitas
Ekspansi gerakan genderless tidak terbatas pada pakaian, tetapi juga merambah ke industri kecantikan dan kesejahteraan (wellness). Harry Styles meluncurkan mereknya sendiri, Pleasing, pada tahun 2021 dengan misi eksplisit untuk “menghapus mitos eksistensi biner”. Merek ini menawarkan berbagai produk mulai dari cat kuku hingga serum mata yang dipasarkan secara universal. Keberhasilan Pleasing didorong oleh keyakinan Styles bahwa kecantikan tidak boleh menjadi hal yang membatasi secara sosial, dan bahwa pria berhak menikmati perawatan diri tanpa harus merasa kehilangan identitas maskulin mereka.
Baru-baru ini, Pleasing melakukan langkah berani dengan memasuki kategori kesehatan seksual melalui peluncuran vibrator dan pelumas dalam koleksi “Pleasing Yourself”. Langkah ini mencerminkan pendekatan holistik generasi Z terhadap identitas, di mana kesenangan dan perawatan diri dipandang sebagai hak bagi semua orang tanpa memandang label gender atau orientasi seksual. Dengan menggandeng Planned Parenthood, Pleasing juga mengaitkan produknya dengan advokasi pendidikan seks dan persetujuan (consent), memperkuat posisi merek sebagai kekuatan sosial dan bukan sekadar perusahaan kosmetik.
Analisis Ekonomi dan Proyeksi Pasar 2025-2035
Data pasar menunjukkan bahwa genderless fashion adalah salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri pakaian. Nilai pasar pakaian unisex global diproyeksikan tumbuh secara eksponensial dalam dekade mendatang. Pertumbuhan ini didorong oleh perubahan demografis, di mana lebih dari 60% konsumen Gen Z lebih menyukai pakaian tanpa gender dan menuntut inklusivitas yang lebih besar dari merek-merek yang mereka dukung.7
| Parameter Pasar | Proyeksi 2025 | Target 2035 | CAGR (2025-2035) |
| Ukuran Pasar Global | USD 14,42 Miliar. | USD 93,4 Miliar. | 22,9%. |
| Penetrasi Gen Z | 56% lebih suka merek gender-neutral. | Diperkirakan mencapai >80%. | N/A |
| Pertumbuhan Penjualan Online | Kontribusi >50% pada segmen kaos unisex. | Dominasi penuh melalui personalisasi AI. | N/A |
Tantangan utama yang dihadapi industri dalam transisi ini adalah masalah standarisasi ukuran. Saat ini, 55% pembelanja melaporkan kesulitan menemukan ukuran yang pas pada pakaian unisex karena banyak merek masih menggunakan pola dasar pria yang hanya diperkecil untuk wanita. Namun, teknologi masa depan seperti pemindaian tubuh 3D dan algoritme AI untuk ukuran personal diprediksi akan menyelesaikan hambatan ini pada tahun 2030, memungkinkan terciptanya pakaian yang benar-benar cocok untuk berbagai jenis anatomi tanpa harus bergantung pada label gender tradisional.
Kesimpulan: Kebebasan Ekspresi sebagai Masa Depan Peradaban Mode
Transformasi genderless fashion yang dipelopori oleh musisi seperti Harry Styles dan Billy Porter bukan sekadar perubahan gaya berpakaian, melainkan sebuah manifestasi dari evolusi kesadaran manusia. Melalui keberanian mereka untuk tampil eksentrik dan mendobrak batasan, mereka telah menciptakan ruang bagi jutaan orang untuk merasa nyaman dengan identitas mereka sendiri tanpa harus tunduk pada dikotomi pria-wanita yang kaku. Meskipun terdapat dialektika mengenai privilese dan representasi, dampak keseluruhan dari gerakan ini adalah terciptanya masyarakat yang lebih toleran dan kreatif.
Ke depan, industri mode tidak akan lagi melihat busana tanpa gender sebagai sebuah kategori khusus, melainkan sebagai prinsip dasar dalam setiap proses desain dan ritel. Pakaian akan kembali ke fungsi asalnya sebagai medium ekspresi jiwa, di mana batasan antara maskulin dan feminin akan memudar menjadi sebuah spektrum warna dan bentuk yang tak terbatas. Dalam dunia yang semakin menghargai autentisitas, genderless fashion adalah kunci menuju masa depan yang lebih inklusif, di mana setiap individu memiliki hak sepenuhnya untuk mendefinisikan diri mereka sendiri melalui apa yang mereka kenakan di tubuh mereka.