Loading Now

Sintesis Mode dan Sains: Eksplorasi Materialitas dan Kinetika Iris van Herpen

Dunia mode kontemporer telah menyaksikan pergeseran fundamental dalam cara busana dikonseptualisasikan, diproduksi, dan dipahami. Di tengah transformasi ini, desainer asal Belanda, Iris van Herpen, muncul sebagai sosok sentral yang berhasil menjembatani jurang pemisah antara keahlian tangan tradisional haute couture dan inovasi teknologi mutakhir. Sejak mendirikan labelnya pada tahun 2007, van Herpen telah menciptakan bahasa visual yang unik, di mana pakaian tidak lagi sekadar penutup tubuh, melainkan sebuah penyelidikan multidisiplin terhadap biologi, fisika, arsitektur, dan teknologi digital. Dengan memanfaatkan alat-alat seperti pencetakan 3D (3D printing), pemotongan laser (laser cutting), dan rekayasa kinetik, ia telah menghasilkan karya-karya yang menantang batas-batas persepsi manusia, mulai dari gaun yang menyerupai percikan air yang membeku hingga struktur sayap mekanis yang meniru dinamika penerbangan burung.

Analisis mendalam terhadap karya van Herpen mengungkapkan bahwa setiap koleksinya merupakan hasil dari dialog intens antara intuisi artistik dan ketatnya disiplin ilmiah. Latar belakangnya sebagai penari balet klasik memberikan landasan pemahaman tentang tubuh dalam gerak, yang kemudian ia kawinkan dengan rasa ingin tahu yang tak terbatas terhadap kekuatan-kekuatan alam yang tak kasat mata. Melalui kolaborasi dengan para arsitek, ilmuwan, dan teknolog, van Herpen telah menciptakan ekosistem kreatif di mana mode bertindak sebagai “manuskrip” bagi interaksi antara manusia dan lingkungannya dalam era posthuman.

Evolusi Kreatif dan Landasan Filosofis

Iris van Herpen lahir di Wamel, Belanda, pada tahun 1984. Ketertarikannya pada dunia mode berawal dari penemuan sebuah “museum mini” pakaian dan kostum di loteng rumah neneknya, yang membuka matanya terhadap dimensi sejarah dan estetika dari sebuah garmen. Namun, pengaruh yang paling menentukan dalam filosofi desainnya adalah pelatihan balet klasik yang ia jalani selama bertahun-tahun. Pengalaman ini membentuk pemahamannya tentang anatomi, transformasi gerak, dan cara memanipulasi bentuk dalam ruang—sebuah pengetahuan kinestetik yang nantinya ia transformasikan menjadi materialitas baru dalam dunia fashion.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di ArtEZ University of the Arts, van Herpen sempat bekerja di bawah arahan Alexander McQueen di London. Paparan terhadap gaya teatrikal dan provokatif McQueen memberikan pengaruh signifikan pada visi fotografis dan emosionalnya, memperkuat keyakinan bahwa pakaian harus menyampaikan ide dan emosi yang lebih dalam daripada sekadar fungsi utilitas. Pada tahun 2007, ia meluncurkan labelnya sendiri di Amsterdam, yang segera dikenal karena pendekatannya yang berani dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam struktur busana yang sangat rumit.

Filosofi desain van Herpen berpusat pada konsep biomimikri, yakni pencarian inspirasi dari pola, siklus, dan kekuatan di balik bentuk-bentuk alam. Ia tidak hanya melihat alam sebagai sumber estetika, tetapi sebagai panduan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk baru. Hal ini terlihat dari ketertarikannya pada fenomena seperti pola simatik, sinapsis otak, medan elektromagnetik, dan jaringan miselium bawah tanah. Baginya, teknologi adalah alat yang memungkinkannya untuk memvisualisasikan kekuatan-kekuatan organik ini, menjadikan busana sebagai medium untuk menyingkap apa yang sebelumnya tidak terlihat oleh mata telanjang.

Aspek Filosofis Penjelasan Terperinci Implikasi pada Desain
Kinestetik Pemahaman mendalam tentang tubuh melalui latihan balet klasik. Fokus pada fluiditas, transformasi gerak, dan perpanjangan anatomi dalam ruang.
Biomimikri Pengamatan terhadap kekuatan di balik bentuk alam (air, udara, tanah). Penciptaan material yang meniru struktur seluler, pola pertumbuhan, dan ekosistem.
Interdisipliner Dialog konstan dengan arsitek, ilmuwan, dan seniman kinetik. Integrasi prinsip-prinsip rekayasa, fisika, dan biologi ke dalam konstruksi busana.
Posthumanisme Penggabungan elemen organik dan teknologi untuk mendefinisikan ulang tubuh. Penciptaan identitas hibrida di mana busana bertindak sebagai “kulit kedua” yang cerdas.

Revolusi Digital: Transformasi Haute Couture Melalui 3D Printing

Iris van Herpen secara luas diakui sebagai desainer pertama yang menghadirkan gaun hasil pencetakan 3D di panggung catwalk haute couture. Langkah ini dimulai pada tahun 2010 dengan koleksi “Crystallization”, yang menandai titik balik penting dalam sejarah mode modern. Penggunaan teknologi digital ini bukan sekadar upaya untuk mencari sensasi, melainkan sebuah kebutuhan teknis karena visi kreatif van Herpen sering kali melampaui kemampuan jahitan tangan konvensional. Pencetakan 3D memungkinkannya untuk menciptakan struktur geometris yang sangat kompleks dengan tingkat presisi mikroskopis yang mustahil dicapai secara manual.

Proses ini biasanya melibatkan kolaborasi erat dengan pakar desain komputasi dan manufaktur aditif. Van Herpen bekerja sama dengan arsitek seperti Daniel Widrig dan perusahaan seperti Materialise untuk mengembangkan file komputer yang kemudian diterjemahkan menjadi objek fisik lapis demi lapis. Meskipun menggunakan mesin, van Herpen tetap menekankan pentingnya keterlibatan tangan manusia dalam tahap konseptualisasi dan penyelesaian akhir, sehingga menciptakan simbiosis antara kerajinan tradisional dan teknologi masa depan.

Perkembangan Teknik 3D Printing dalam Koleksi Van Herpen

Evolusi penggunaan pencetakan 3D dalam karya van Herpen menunjukkan peningkatan kompleksitas baik dari segi materialitas maupun fleksibilitas. Pada awalnya, potongan-potongan tersebut cenderung kaku dan lebih mirip patung, namun seiring perkembangan teknologi, ia mulai mengeksplorasi material yang lebih lunak dan fleksibel yang mampu bergerak selaras dengan tubuh pemakainya.

Koleksi Teknik Pencetakan Karakteristik Material Kolaborator
Crystallization (2010) Selective Laser Sintering (SLS) Poliamida putih yang kaku, menyerupai struktur kristal atau cangkang. Daniel Widrig & Materialise.
Escapism (2011) Laser Sintering Struktur serat nilon yang sangat halus, meningkatkan fleksibilitas dan keterpakaian. Daniel Widrig & Materialise.
Hybrid Holism (2012) Mammoth Stereolithography Resin transparan yang dicetak dalam satu wadah besar, memberikan efek seperti madu cair. Julia Koerner & Materialise.
Voltage (2013) Multi-material 3D Printing Kombinasi material keras dan lunak dalam satu proses cetak tanpa jahitan. Neri Oxman & Stratasys.
Magnetic Motion (2014) Magnetically Grown Textile Bahan sintetis yang dicampur bubuk besi dan dibentuk menggunakan medan magnet. Jolan van der Wiel.

Teknik Selective Laser Sintering (SLS) yang digunakan dalam koleksi awal melibatkan penggunaan laser untuk menyatukan partikel-partikel bubuk nilon halus dalam lingkungan yang diisi gas nitrogen. Suhu dalam mesin dijaga tepat di bawah titik leleh untuk meminimalkan lengkungan, dan setelah proses pencetakan selesai, objek harus didinginkan selama 48 jam sebelum sisa bubuk dibersihkan. Namun, material nilon hasil SLS ini memiliki sifat keropos seperti batu pasir dan rentan terhadap kerusakan lingkungan, yang menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian museum.

Fenomenologi Air: Gaun “Crystallization” dan Estetika Fluida

Salah satu karya van Herpen yang paling ikonik dan sering dikutip adalah gaun yang menyerupai air yang memercik dari koleksi “Crystallization” (2010). Koleksi ini mengeksplorasi antitesis antara struktur dan kekacauan, mengambil inspirasi dari transformasi air yang cair dan tak terbatas menjadi kristal es yang kaku dan matematis. Selain itu, inspirasi visual juga datang dari desain arsitektur “The Bathtub” untuk Museum Stedelijk di Amsterdam oleh Benthem Crouwel Architects, yang mendorong van Herpen untuk memvisualisasikan bagaimana air dapat “jatuh” dan membeku di sekitar tubuh manusia.

Meskipun van Herpen ingin mencetak gaun air ini dalam bentuk 3D, keterbatasan teknologi pada tahun 2010 dalam hal transparansi material membuatnya harus kembali ke metode kerajinan tangan yang inovatif. Setelah melakukan pengujian terhadap hampir empat puluh jenis bahan, ia akhirnya memilih polyethylene terephthalate (PET)—jenis resin yang biasa digunakan untuk botol plastik—karena sifatnya yang dapat dibentuk kembali dengan panas.

Proses pembuatan gaun air ini melibatkan penggunaan pistol udara panas dan tang besi untuk membentuk lembaran PET secara manual menjadi rupa percikan air yang dinamis. Setiap detail riak dan tetesan air dibentuk dengan ketelitian tinggi, menciptakan ilusi optik di mana material keras tampak cair dan efemeril. Keberhasilan karya ini terletak pada kemampuannya untuk “mengelola indra,” mengubah persepsi penonton tentang materialitas dan mengajak mereka untuk melihat keindahan dalam kekuatan alam yang beku.

Dalam perkembangan selanjutnya, van Herpen terus menyempurnakan motif air ini. Dalam koleksi “Sensory Seas” (2020), ia bekerja sama dengan seniman Shelee Carruthers untuk mencetak pola cat air yang menyerupai organisme laut dalam ke atas sutra organza yang halus, yang kemudian dipotong laser dan disatukan secara berlapis untuk menciptakan efek aliran bawah laut yang puitis. Upaya ini menunjukkan transisi van Herpen dari merepresentasikan air sebagai objek fisik yang kaku menuju representasi yang lebih cair dan mendalam melalui perpaduan tekstil dan teknik digital.

Dinamika Penerbangan: Mekanika Kinetik dalam “Syntopia” dan “Hypnosis”

Visi Iris van Herpen tentang “sayap burung yang bergerak secara mekanis” mencapai puncaknya dalam koleksi “Syntopia” (AW 2018/19) dan “Hypnosis” (2019). Dalam koleksi-koleksi ini, ia tidak hanya merepresentasikan burung secara statis, tetapi berupaya menangkap esensi dari gerakan penerbangan itu sendiri—sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “tarian material”.

Koleksi Syntopia: Membedah Gerak Milidetik

Inspirasi untuk “Syntopia” datang dari pengamatan mendalam terhadap mikrotia penerbangan burung dan karya kronofotografi Etienne-Jules Marey, seorang ilmuwan abad ke-19 yang menggunakan fotografi untuk membedah gerakan menjadi fragmen-fragmen waktu. Van Herpen berupaya menerjemahkan pembagian waktu milidetik ini ke dalam lapisan-lapisan kain yang tumpang tindih.

Bekerja sama dengan Studio Drift (Lonneke Gordijn dan Ralph Nauta), pertunjukan “Syntopia” menampilkan instalasi kinetik berjudul “In 20 Steps”. Instalasi ini terdiri dari 20 pasang sayap kaca halus yang digerakkan oleh motor dan sendi perunggu, yang bergerak naik-turun di atas panggung landas pacu dalam sinkronisasi dengan langkah para model. Gerakan kaca yang memecah cahaya ini menciptakan efek tarian surgawi yang melambangkan keinginan manusia untuk terbang.

Secara teknis, van Herpen mengembangkan teknik “Inside a Second” untuk gaun-gaun dalam koleksi ini. Prosesnya melibatkan:

  1. Pemotongan Laser Precision: Ribuan lapisan organza dua warna dipotong laser dengan presisi tinggi.
  2. Heat-bonding: Katun dan Mylar disatukan menggunakan panas sebelum dipotong untuk memberikan integritas struktural pada garis-garis halus berukuran 1,5 mm.
  3. Manual Layering: Lapisan-lapisan tersebut kemudian disusun sedemikian rupa sehingga setiap gerakan tubuh akan membuat “bulu-bulu” kain tersebut terbuka dan menutup seperti bunga atau kepakan sayap burung.

Koleksi Hypnosis: Gaun “Infinity” dan Rekayasa Anthony Howe

Jika “Syntopia” berfokus pada dekonstruksi gerak burung, koleksi “Hypnosis” (2019) menghadirkan mekanisme kinetik yang benar-benar aktif pada pakaian itu sendiri. Fokus utama koleksi ini adalah kolaborasi dengan seniman kinetik asal Amerika, Anthony Howe, yang patung-patungnya digerakkan oleh angin.

Puncak dari pertunjukan ini adalah gaun “Infinity,” yang sering digambarkan oleh van Herpen sebagai gaun paling rumit yang pernah ia buat. Gaun ini memiliki komponen utama:

  • Engineered Skeleton: Rangka mekanis yang terbuat dari aluminium, baja tahan karat, dan bantalan peluru (bearings).
  • Mechanical Movement: Didukung oleh mekanisme di bagian belakang, rangka ini memungkinkan lapisan bulu-bulu putih untuk berputar secara terus-menerus di sekitar tubuh model, menciptakan efek visual dari “penerbangan siklis”.
  • Optical Illusion: Gerakan ini dirancang agar bergerak lebih cepat daripada yang bisa diikuti oleh mata manusia, sehingga menciptakan ilusi optik yang menghipnotis di mana batas antara gaun dan ruang di sekitarnya tampak kabur.
Komponen Kinetik Deskripsi Mekanis Efek Visual
In 20 Steps (Studio Drift) 20 tabung kaca, motor listrik, sendi perunggu. Simulasi kepakan sayap burung yang rapuh namun kuat di atas landas pacu.
Infinity Dress (Anthony Howe) Rangka aluminium/baja, bantalan peluru, mekanisme putar. Rotasi bulu yang terus-menerus, menciptakan ilusi ekspansi dan kontraksi tanpa akhir.
Hypnosis Technique (Philip Beesley) Puluhan ribu riak mini berukuran 0,8 mm yang dipotong plotter. Garis-garis kain yang bergetar cepat mengikuti gerakan tubuh, meniru riak air atau udara.

Kolaborasi Lintas Disiplin: Mode Sebagai Laboratorium Sains

Keberhasilan Iris van Herpen dalam mengintegrasikan sains ke dalam fashion tidak mungkin terjadi tanpa jaringannya yang luas dengan para ahli dari berbagai bidang. Ia beroperasi bukan hanya sebagai desainer pakaian, melainkan sebagai “alkemis modern” yang memfasilitasi pertemuan antara pemikiran kreatif yang berbeda.

Philip Beesley dan Arsitektur Responsif

Kolaborasi van Herpen dengan arsitek asal Toronto, Philip Beesley, adalah salah satu yang paling produktif dan berdurasi panjang, mencakup lebih dari sepuluh koleksi sejak “Voltage” (2013) hingga “Sensory Seas” (2020). Beesley dikenal dengan karyanya dalam “arsitektur hidup” atau lingkungan yang memiliki kapasitas untuk merespons kehadiran manusia.

Bersama Beesley, van Herpen mengembangkan tekstil tiga dimensi yang disebut memiliki “antena sensitif” yang dapat bergetar mengikuti energi tubuh. Dalam koleksi “Magnetic Motion” (2014), mereka mengeksplorasi prinsip-imersi di mana pakaian tidak hanya mengelilingi tubuh tetapi juga memperluas batas-batas psikis dan fisik pemakainya. Kerjasama ini melampaui estetika sederhana; ini adalah upaya untuk menciptakan sistem busana yang “hidup” dan interaktif dengan lingkungan sekitarnya.

Neri Oxman dan Material Ecology

Pertemuan van Herpen dengan Neri Oxman dari MIT Media Lab menghasilkan salah satu contoh paling awal dan paling berani dari pencetakan 3D multi-material dalam fashion. Melalui koleksi “Voltage” (2013), mereka menciptakan gaun “Anthozoa” (nama yang diambil dari kelas organisme laut seperti teritip dan koral).

Pengerjaan gaun “Anthozoa” melibatkan:

  1. Multi-material Printing: Menggunakan printer Stratasys Objet Connex yang mampu mencetak material dengan properti berbeda dalam satu proses cetak tunggal.
  2. Hard and Soft Materials: Gaun ini terdiri dari bagian yang kaku (terbuat dari akrilik putih untuk memberikan struktur) dan bagian yang lunak (terbuat dari karet poliuretan hitam untuk fleksibilitas di sekitar pinggang dan gerakan tubuh).
  3. Seamless Construction: Tidak ada jahitan di antara sel-sel material yang berbeda, menciptakan sebuah “perisai yang bergerak” atau kulit kedua yang fungsional.

Filosofi “Material Ecology” yang diusung Oxman—yang menggabungkan desain komputasi, manufaktur aditif, dan biologi sintetis—menemukan manifestasi puitisnya dalam busana van Herpen, yang membawa konsep-konsep laboratorium yang sangat teknis ke dalam ruang publik dan artistik.

Antroposen dan Posthumanisme: Tubuh sebagai Ekosistem

Karya Iris van Herpen sering diinterpretasikan dalam konteks posthumanisme, sebuah kerangka teori yang mempertanyakan supremasi manusia dan mengeksplorasi keterikatan kita dengan teknologi dan alam non-manusia. Dalam pandangan ini, busana bukan lagi alat untuk menonjolkan ego manusia, melainkan medium untuk mengeksplorasi identitas hibrida di mana tubuh manusia menyatu dengan elemen anorganik.

Konsep “Body without Organs” dari filsuf Gilles Deleuze dan Félix Guattari sering digunakan oleh para kritikus untuk menjelaskan bagaimana gaun-gaun van Herpen mendisrupsi siluet tradisional manusia. Misalnya, gaun “Skeleton” (2011) yang dibuat bersama Isaïe Bloch memvisualisasikan anatomi internal (tulang) di luar tubuh, mengubah pemakainya menjadi semacam organisme eksoskeleton yang asing namun mempesona. Desain ini “membalikkan” tubuh, menjadikan apa yang seharusnya tersembunyi menjadi pelindung eksternal yang kaku.

Di sisi lain, ketertarikan van Herpen pada isu-isu ekologis di era Antroposen (era yang didominasi oleh pengaruh manusia terhadap planet) telah mendorongnya untuk mencari alternatif yang lebih berkelanjutan. Hal ini terlihat dalam koleksi terbarunya, “Sympoiesis” (2025), yang mengeksplorasi simbiosis antara manusia dan ekosistem laut. Salah satu tampilan utamanya melibatkan penggunaan alga bioluminesens yang hidup (sebanyak 125 juta organisme alga yang ditumbuhkan dalam rendaman air laut), yang memancarkan cahaya alami saat model berjalan di landas pacu. Ini adalah pernyataan politik dan artistik yang kuat tentang bagaimana mode dapat bergerak melampaui ekstraksi material menuju regenerasi biologis.

Masa Depan Mode: Antara Keberlanjutan dan Inovasi Digital

Langkah Iris van Herpen untuk beralih dari menyajikan dua koleksi menjadi satu koleksi per tahun pada tahun 2024 mencerminkan kesadaran akan perlunya pendekatan yang lebih lambat dan berkelanjutan dalam industri fashion (degrowth). Fokusnya kini lebih tertuju pada penciptaan karya yang memiliki nilai artistik permanen, setara dengan artefak museum, daripada sekadar produk konsumsi musiman.

Upaya keberlanjutannya juga mencakup eksplorasi bio-fabrikasi, di mana ia bereksperimen dengan material yang berasal dari jamur (mycelium), alga, atau limbah organik seperti cangkang kakao. Dengan menggabungkan bioteknologi ini dengan presisi pencetakan 3D dan pemotongan laser, van Herpen berupaya membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak harus mengorbankan kelestarian alam, melainkan dapat digunakan untuk mensimulasikan dan memperkuat proses-proses alami.

Pameran retrospektif seperti “Sculpting the Senses” (2023-2024) di Musée des Arts Décoratifs, Paris, menggarisbawahi posisi van Herpen sebagai tokoh sentral yang mendefinisikan masa depan mode. Pameran ini menampilkan lebih dari seratus gaunnya dalam dialog dengan karya seni kontemporer, fosil, dan spesimen sejarah alam, menunjukkan bahwa inspirasinya mencakup jutaan tahun sejarah bumi hingga visi masa depan yang paling jauh.

Kesimpulan: Alkimia Haute Couture Masa Depan

Iris van Herpen telah merevolusi dunia mode bukan dengan mengikuti tren, melainkan dengan menciptakan paradigma baru di mana fashion adalah sebuah bentuk penyelidikan ilmiah dan filosofis. Melalui penggunaan teknologi pencetakan 3D, ia telah melampaui batasan fisik material tekstil tradisional, menciptakan gaun yang tampak mustahil seperti percikan air yang membeku. Dengan mengintegrasikan rekayasa kinetik, ia telah menghidupkan busana, menjadikannya perpanjangan dari anatomi yang bergerak selaras dengan dinamika penerbangan burung.

Keunikan van Herpen terletak pada kemampuannya untuk menyeimbangkan antara presisi mesin yang dingin dan kehangatan keahlian tangan manusia. Ia menunjukkan bahwa teknologi bukanlah musuh dari kerajinan, melainkan katalis yang memungkinkan imajinasi manusia untuk mencapai bentuk-bentuk yang sebelumnya tidak terpikirkan. Dalam era ketidakpastian ekologis, pendekatannya yang interdisipliner menawarkan visi tentang masa depan di mana manusia, teknologi, dan alam dapat hidup berdampingan dalam harmoni simbiotik yang puitis dan berkelanjutan. Mode, di tangan Iris van Herpen, telah menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang posisi kita dalam alam semesta yang terus berubah.