Loading Now

Vivienne Westwood: Epistemologi Desain, Aktivisme Radikal, dan Evolusi Ibu Punk Global dalam Menantang Kemapanan Politik serta Krisis Ekologi

Vivienne Westwood: Epistemologi Desain, Aktivisme Radikal, dan Evolusi Ibu Punk Global dalam Menantang Kemapanan Politik serta Krisis Ekologi

Vivienne Westwood berdiri sebagai salah satu sosok paling transformatif dan kontroversial dalam sejarah peradaban modern, memosisikan pakaian bukan sekadar sebagai instrumen estetika, melainkan sebagai media agitasi politik dan provokasi sosial yang mendalam. Sebagai arsitek utama gerakan punk di Inggris pada tahun 1970-an, Westwood menggunakan busana untuk menyuarakan ketidakpuasan generasi muda yang kecewa terhadap kondisi ekonomi dan sosiopolitik yang menindas. Melalui kolaborasi legendarisnya dengan Malcolm McLaren di butik legendaris 430 King’s Road, Westwood menciptakan sebuah dialektika visual yang menolak kemapanan, menghancurkan tabu, dan pada akhirnya, mendedikasikan dekade terakhir hidupnya untuk memperjuangkan kelestarian planet melalui kampanye perubahan iklim yang radikal.

Kemunculan Westwood sebagai desainer yang karyanya mencerminkan konteks ekonomi dan politik Inggris tahun 1970-an bertepatan dengan munculnya pemuda yang kehilangan ilusi, yang mengembangkan gaya berpakaian dan ekspresi musik unik yang langsung dapat dikenali melalui estetika dan suaranya. Ia dengan sadar memosisikan dirinya sebagai sosok “mesianik” tentang punk, berupaya menempatkan “gangguan dalam sistem” melalui setiap jahitan dan slogan yang ia hasilkan. Dengan mengadopsi etos DIY (Do-It-Yourself) yang berasal dari gerakan proto-punk di New York, Westwood mentransformasikannya menjadi senjata politik yang mampu mengguncang fondasi monarki dan pemerintahan Inggris.

Evolusi King’s Road: Inkubator Revolusi Visual

Perjalanan kreatif Vivienne Westwood berakar pada metamorfosis butik di 430 King’s Road, London, yang menjadi laboratorium eksperimentasi bagi identitas punk. Setiap perubahan nama butik mencerminkan pergeseran filosofis dan strategi kejutan yang dirancang untuk memprovokasi kenyamanan kelas menengah. Dimulai dengan Let It Rock pada tahun 1971, yang melayani subkultur Teddy Boy tahun 1950-an, Westwood mulai mengeksplorasi bagaimana mode masa lalu dapat digunakan untuk mengganggu masa kini.

Pada tahun 1972, butik tersebut berganti nama menjadi Too Fast To Live Too Young To Die, yang mulai memperkenalkan elemen pemberontakan yang lebih nyata melalui pakaian terinspirasi rocker dan biker. Di sini, Westwood mulai memproduksi kaos tanpa lengan yang dihiasi dengan pernyataan seperti ‘PERV’ dan ‘ROCK’, yang diciptakan menggunakan kombinasi unik dari peniti, tulang ayam, dan lem glitter. Penggunaan bahan-bahan yang tidak lazim ini menandai awal dari estetika dekonstruksi yang akan menjadi ciri khas punk global.

Identitas paling terkenal muncul pada tahun 1974 dengan nama SEX. Di tempat ini, Westwood dan McLaren menjual pakaian fetish, sado-masokhisme (S&M), dan karet kepada pelanggan dari dunia bawah tanah seksual serta pemuda proto-punk yang cukup berani untuk membawa tampilan tersebut ke jalanan. Fokus butik ini adalah untuk menantang status quo dengan memamerkan apa yang biasanya disembunyikan, menggunakan pakaian karet untuk kantor sebagai bentuk sarkasme terhadap norma kerja konvensional.

Era Butik Nama Butik Tahun Fokus Estetika & Ideologi
Kebangkitan Teddy Boy Let It Rock 1971 Menghidupkan kembali gaya 1950-an sebagai protes terhadap etos hippie.
Transisi Rocker Too Fast To Live Too Young To Die 1972 Fokus pada gaya biker; penggunaan awal peniti dan slogan provokatif.
Era Fetish SEX 1974 Pakaian karet dan fetish; pusat pertemuan bagi proto-punk dan Sex Pistols.
Arsitektur Punk Seditionaries: Clothes for Heroes 1976 Definisi estetika punk; celana bondage, mohair terurai, dan grafis ofensif.
Historisitas & Aktivisme World’s End 1980 Transisi menuju inspirasi sejarah dan aktivisme global.

Metamorfosis terakhir yang paling berpengaruh adalah Seditionaries: Clothes for Heroes pada tahun 1976. Pada tahap ini, Westwood dan McLaren mendefinisikan estetika punk yang kita kenal sekarang: celana bondage, jumper mohair yang sengaja dibuat terurai, dan t-shirt dengan grafis yang sangat bermuatan politik dan seksual. Koleksi ini bukan sekadar pakaian; itu adalah seragam bagi gerakan yang menolak masa depan yang suram (“No Future”) dan menyerukan anarki di Britania Raya.

Semiotika Perlawanan: Dekonstruksi dan Provokasi Material

Westwood menggunakan dekonstruksi fisik pakaian sebagai metafora bagi keruntuhan tatanan sosial yang ia persepsikan. Penggunaan kaos robek bukan sekadar pilihan gaya, melainkan penolakan terhadap kesempurnaan industri mode yang ia anggap fasis dan membosankan. Kaos-kaos tersebut sering kali memiliki lubang yang disengaja, ritsleting besar yang tidak pada tempatnya, dan jahitan yang diekspos secara kasar.

Peniti (safety pins) menjadi simbol paling ikonik dari gerakan ini. Dalam tangan Westwood, benda fungsional yang murah ini diubah menjadi perhiasan sekaligus alat untuk menyatukan fragmen pakaian yang hancur. Peniti tersebut melambangkan kreativitas yang lahir dari kemiskinan dan kebutuhan untuk “memperbaiki” sistem yang rusak dengan tangan sendiri (DIY). Selain peniti, penggunaan rantai logam, kancing anarkis, dan bahkan tulang ayam pada pakaian menciptakan tekstur pemberontakan yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam dunia mode.

Teknik dekonstruksi yang paling radikal terlihat pada celana bondage, yang mencampurkan referensi dari perlengkapan tempur tentara, kulit pengendara motor, dan pakaian fetish. Celana ini dilengkapi dengan tali “hobble” yang secara fisik membatasi pergerakan pemakainya, melambangkan penindasan yang dirasakan oleh pemuda di bawah sistem politik yang kaku. Dengan membatasi gerakan fisik, Westwood memaksa pemakainya dan pengamat untuk menyadari batasan-batasan sosial yang ada.

Inovasi lain yang signifikan adalah jumper mohair ditenun longgar yang tampak seperti sedang terurai atau “unravelling”. Pakaian ini menentang gagasan tradisional tentang kehangatan dan perlindungan yang diberikan oleh pakaian rajut, sebaliknya menawarkan tampilan yang rapuh namun konfrontatif. Muslin yang sangat lembut juga digunakan untuk menciptakan atasan berlengan panjang yang diikat sedemikian rupa sehingga memberikan efek jaket pengekang (strait-jacket), memperkuat tema restriksi dan kegilaan sosial.

Slogan Provokatif: Menyerang Kemapanan Politik dan Tabu

T-shirt grafis Westwood adalah selebaran politik yang bisa dikenakan. Ia menggunakan layar cetak (screen-printing) pada kain muslin dan kaos lusuh untuk menyebarkan gambar-gambar yang sangat bermuatan, mulai dari simbol swastika hingga potret Ratu Elizabeth II. Salah satu karya paling kontroversial adalah “Destroy” shirt tahun 1977. Kemeja anarkis ini menampilkan swastika merah besar, gambar terbalik Kristus di kayu salib, dan lirik lagu Sex Pistols, semuanya ditimpa dengan kata ‘DESTROY’ yang besar.

Bagi Westwood, penggunaan swastika bukanlah bentuk dukungan terhadap Nazi, melainkan upaya untuk merebut kembali simbol tersebut guna menantang generasi tua dan nilai-nilai fasis yang ia yakini masih tersembunyi dalam struktur kekuasaan Inggris. Ia menyatakan bahwa kaos tersebut adalah cara untuk mengatakan, “Kami tidak menerima nilai-nilai atau tabu kalian – kalian semua adalah fasis”. Melalui desain ini, ia mengkritik para diktator seperti Augusto Pinochet di Chile dan norma-norma moral yang mengekang.

Sama provokatifnya adalah penggunaan citra monarki. Potret Ratu Elizabeth II dengan peniti besar menembus bibirnya dalam grafis “God Save the Queen” menjadi simbol pembangkangan pemuda terhadap otoritas kerajaan Inggris. Tindakan ini dianggap sebagai penghinaan besar oleh banyak pihak, namun bagi kaum punk, itu adalah pengakuan bahwa monarki adalah institusi yang ketinggalan zaman dan represif. Upaya hukum di bawah Undang-Undang Publikasi Cabul tahun 1959 terhadap slogan-slogan mereka justru dihadapi Westwood dengan memproduksi lebih banyak gambar garis keras sebagai bentuk perlawanan terhadap sensor.

Slogan/Grafis Ikonik Tahun Konteks & Makna Politik Dampak
“DESTROY” 1977 Swastika merah, Kristus terbalik, dan kata ‘DESTROY’ untuk melawan fasisme terselubung dan diktator. Menjadi salah satu kaos paling kontroversial dalam sejarah mode.
“God Save the Queen” 1977 Ratu Elizabeth II dengan peniti di bibir; kritik terhadap otoritas kerajaan. Simbol visual utama gerakan punk Inggris.
“I AM NOT A TERRORIST” 2005 Protes terhadap undang-undang anti-terorisme dan penahanan tanpa dakwaan. Hasil kolaborasi dengan kelompok hak sipil Liberty.
“VOTE GREEN” 2015 Instruksi eksplisit untuk mendukung Partai Hijau pada catatan peragaan busana. Menandai transisi penuh ke aktivisme iklim.
“Politicians are Criminals” 2019 Slogan pada peragaan busana ‘Homo Loquax’ yang menyerang korupsi politik. Mengkritik kegagalan pemimpin dalam menangani krisis planet.

Historisitas sebagai Kritik: Revolusi Intelektual Westwood

Setelah ledakan punk mereda, Westwood tidak berhenti memberontak; ia mengubah metodenya. Ia beralih dari jalanan ke perpustakaan, menjadi peneliti yang teliti di Victoria and Albert Museum. Westwood berargumen bahwa tidak mungkin seseorang menjadi kreatif tanpa memiliki hubungan dengan masa lalu dan tradisi. Stimulusnya bersifat intelektual, di mana ia mempelajari teknik penjahitan tradisional Savile Row dan pola pakaian abad ke-17 dan ke-18 untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar orisinal melalui “overlay” ide-idenya sendiri.

Koleksi Pirate pada musim Gugur/Dingin 1981 menandai debut catwalk pertamanya dan memperkenalkan era “New Romantic”. Koleksi ini menampilkan pakaian uniseks yang longgar, memberikan alternatif terhadap profil maskulin yang kaku pada awal 1980-an. Bagi Westwood, koleksi ini melambangkan pelarian metaforis dari sebuah pulau, sebuah pencarian akan kebebasan yang lebih dalam daripada sekadar kemarahan punk.

Ia juga merevolusi penggunaan korset dan krinolin. Korset, yang lama dianggap sebagai simbol penindasan perempuan, dikonsep ulang oleh Westwood sebagai simbol pemberdayaan seksual perempuan yang dikenakan sebagai pakaian luar, bukan pakaian dalam. Dalam koleksi Mini-Crini (1985), ia menggabungkan krinolin Victoria yang besar dengan rok mini tahun 1960-an, menciptakan siluet yang provokatif dan humoris yang menantang mitologi tentang pembatasan dan pembebasan dalam pakaian wanita. Melalui historisitas ini, Westwood menyerang kemapanan bukan dengan kekacauan, melainkan dengan pengetahuan dan teknik yang lebih unggul.

Climate Revolution: Perang Melawan Kepunahan Massal

Memasuki abad ke-21, fokus aktivisme Westwood bergeser secara radikal menuju isu-isu ekologi. Pada upacara penutupan Paralimpiade London 2012, ia secara spektakuler meluncurkan kampanye Climate Revolution. Berpakaian sebagai “eco-warrior” di atas kendaraan hias, ia membentangkan spanduk raksasa bertuliskan ‘CLIMATE REVOLUTION’, sebuah seruan untuk bertindak melawan kehancuran lingkungan yang disebabkan oleh model ekonomi kapitalis. Bagi Westwood, revolusi iklim adalah “revolusi pamungkas”; ia memperingatkan bahwa jika kita tidak memenangkan pertempuran ini, tidak akan banyak manusia yang tersisa.

Westwood menggunakan peragaan busananya sebagai kanvas putih untuk kampanye aktivisme. Ia secara konsisten menyuarakan dampak konsumsi berlebihan dan perubahan iklim, serta memobilisasi perhatian internasional melalui statusnya sebagai tokoh mode global. Ia menantang struktur kekuasaan yang ia anggap sebagai “1% yang berkuasa” yang mengkhotbahkan konsumsi dan perang, membawa kita menuju bencana.

Inti dari filosofinya dalam periode ini adalah manifesto Active Resistance to Propaganda. Manifesto sebanyak 22 halaman ini, yang dipresentasikan di Serpentine Gallery pada tahun 2008, berargumen bahwa budaya saat ini terlalu dangkal dan bahwa belanja yang berlebihan menghentikan orang untuk berpikir secara mendalam. Westwood percaya bahwa individu telah menjadi figur pasif yang mudah dimanipulasi oleh propaganda media, dan hanya melalui keterlibatan dengan budaya tinggi seperti seni dan filsafat, manusia dapat menemukan stimulus untuk menyelamatkan planet ini.

Strategi Ekonomi dan Kartu Remi untuk Menyelamatkan Dunia

Sebagai bagian dari strategi intelektualnya, Westwood merancang satu set kartu remi yang bukan sekadar permainan, melainkan “strategi untuk menyelamatkan dunia”. Kartu remi ini menggambarkan strategi ekonomi berbasis budaya untuk menggantikan sistem finansial yang merusak. Westwood menggunakan grafisnya yang kuat untuk menceritakan kisah tentang peran yang dapat dimainkan setiap individu dalam membentuk masa depan.

Sepuluh grafis paling penting dari proyek ini diterbitkan sebagai edisi terbatas “The Big Picture – Vivienne’s Playing Cards” untuk mengumpulkan dana bagi Greenpeace. Salah satu kartu menampilkan foto Westwood muda dengan rambut berduri dan tulisan “ME PUNK” serta “save the world” di tepinya, menghubungkan akar pemberontakannya langsung dengan misinya saat ini. Kartu lainnya menggunakan peta global NASA untuk menunjukkan bahaya perubahan iklim dan area yang akan menjadi tidak dapat dihuni.

Melalui proyek ini, Westwood ingin menyatukan seni, pendidikan, dan aktivisme. Ia berargumen bahwa “aksesori mode terbaik adalah buku,” mendorong orang untuk membaca lebih banyak guna meningkatkan konsentrasi dan pemahaman mereka tentang krisis global. Baginya, ketidaktahuan adalah musuh utama dalam perjuangan melawan perubahan iklim.

Inisiatif Iklim & Lingkungan Tahun Fokus Utama Dampak/Tindakan Nyata
Cool Earth 2007-Sekarang Perlindungan hutan hujan Amazon dan komunitas adat. Donasi pribadi lebih dari £1,5 juta; advokasi kepada pemerintah Peru.
Active Resistance to Propaganda 2008 Kritik terhadap konsumerisme kapitalis dan manipulasi media. Manifesto 22 halaman; kampanye “100 Days of Active Resistance”.
Ethical Fashion Africa 2011 Pemberdayaan ekonomi pengrajin di Nairobi, Kenya. Tas dari bahan daur ulang; mendukung lebih dari 2.600 pengrajin.
Climate Revolution 2012 Mobilisasi global melawan pemimpin politik dan bisnis besar. Diluncurkan di Paralimpiade London; penggunaan runway sebagai platform protes.
Greenpeace “Save the Arctic” 2013 Menghentikan pengeboran minyak dan industri perikanan di Arktik. Logo ikonik; pameran foto 60 selebriti di stasiun Waterloo.
Campaign “SWITCH” 2017 Mendorong industri mode beralih ke energi terbarukan. Kerja sama dengan Walikota London; 20 merek besar beralih ke energi hijau.

Aksi Langsung: Tank, Sangkar Burung, dan Margaret Thatcher

Westwood tidak pernah takut untuk turun ke jalan dan melakukan aksi langsung yang dramatis guna menarik perhatian media terhadap isu-isu krusial. Salah satu aksi paling berani adalah pada tahun 2015, ketika ia mengendarai tank militer putih ke rumah perdana menteri David Cameron di Witney, Oxfordshire. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan fracking (ekstraksi gas serpih) pemerintah Inggris yang ia anggap sebagai “serangan kimia” terhadap rakyatnya sendiri. Dengan berdiri di atas turret tank, desainer berusia 74 tahun itu menyerukan “pergantian rezim” di Inggris, menuduh Cameron memaksakan bahan kimia beracun dan mengabaikan saran ilmuwan.

Aktivisme Westwood juga meluas ke pembelaan terhadap hak sipil dan kebebasan informasi. Ia merupakan pendukung setia pendiri WikiLeaks, Julian Assange, yang ia anggap sebagai pahlawan yang dihukum karena menerbitkan kebenaran. Pada September 2012, ia menggunakan peragaan busananya di Foreign Office untuk membagikan t-shirt “I’m Julian Assange” kepada tamu baris terdepan sebagai protes terhadap rencana ekstradisi Assange. Puncaknya, pada tahun 2020, Westwood mengurung dirinya di dalam sangkar burung raksasa berwarna kuning di luar pengadilan Old Bailey, menyebut dirinya sebagai “kenari di tambang batu bara” yang memperingatkan hilangnya kebebasan pers jika Assange diekstradisi.

Ia juga dikenal karena satir politiknya yang tajam. Pada tahun 1989, ia tampil di sampul majalah Tatler dengan menyamar sebagai Margaret Thatcher, mengenakan setelan jas yang sebenarnya dipesan oleh Thatcher namun kemudian dibatalkan. Dengan tajuk “Wanita ini pernah menjadi punk,” Westwood mengejek kebijakan fiskal Thatcher yang ia anggap sebagai “skema piramida” yang merusak dunia. Ketajaman kritik ini menunjukkan bahwa Westwood tidak hanya menyerang simbol kekuasaan, tetapi juga memahami mekanisme ekonomi di baliknya.

“Buy Less, Choose Well, Make It Last”: Paradoks Industri Mode

Sebagai seorang desainer di industri yang pada dasarnya berbasis konsumsi, Westwood menghadapi kontradiksi yang melekat dalam aktivismenya. Ia menanggapi hal ini dengan mempromosikan filosofi “Buy Less, Choose Well, Make It Last”. Ia mendesak konsumen untuk berhenti membeli barang murah dan massal, dan sebaliknya berinvestasi pada potongan berkualitas tinggi yang memiliki sejarah dan pengerjaan tangan yang jujur. Baginya, kualitas daripada kuantitas adalah tindakan yang paling ramah lingkungan yang bisa dilakukan seseorang.

Merek Vivienne Westwood sendiri telah mencoba menerapkan prinsip-prinsip ini melalui berbagai pilar keberlanjutan:

  1. Reimagining & Repurposing: Perusahaan berupaya membatasi jumlah produk yang dibuat dan memastikan daya tahan maksimal agar tidak menjadi barang sekali pakai.
  2. Preferred Materials: Fokus pada pemilihan tekstil yang memiliki dampak lingkungan dan sosial rendah sepanjang siklus hidupnya.
  3. Traceability & Supply Chain: Memastikan transparansi dalam rantai pasokan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan para pekerja.
  4. Craftsmanship & Heritage: Mendukung teknik tradisional seperti Harris Tweed dan Lochcarron of Scotland, serta kemitraan dengan Ethical Fashion Initiative di Afrika.

Namun, pertumbuhan merek Westwood menjadi entitas mewah global tetap menimbulkan tantangan. Beberapa pengamat mencatat ketegangan antara retorika anti-konsumerisme desainer dengan ekspansi komersial, termasuk kolaborasi dengan merek mainstream seperti skate label Palace dan partisipasi dalam acara di negara dengan catatan hak asasi manusia yang dipertanyakan seperti Arab Saudi. Ketegangan ini mencerminkan kesulitan bagi merek manapun untuk beroperasi secara etis di dalam sistem kapitalisme global yang ia kritik secara konsisten.

Ethical Fashion Africa: Model Keberlanjutan Sosial di Nairobi

Salah satu bukti paling nyata dari komitmen Westwood terhadap mode yang bermakna adalah proyek Ethical Fashion Africa (sekarang Made in Kenya), yang dimulai pada tahun 2010 bekerja sama dengan International Trade Centre (ITC) dari PBB dan WTO. Proyek ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan inisiatif bisnis yang bertujuan memberdayakan komunitas terpinggirkan di Nairobi melalui pekerjaan yang bermartabat.

Koleksi aksesori ini diproduksi menggunakan bahan daur ulang seperti kain kanvas sisa, tenda safari bekas, kemeja tua, hingga kuningan dari keran dan suku cadang mobil yang dilelehkan. Para pengrajin di daerah seperti Korogocho dilatih untuk mengubah limbah ini menjadi tas mewah dan perhiasan ikonik Westwood, seperti liontin Orb dan bentuk provokatif lainnya. Hingga tahun 2025, inisiatif ini telah mendukung sekitar 2.600 pengrajin, di mana mayoritas (sekitar 55,6% hingga 74%) adalah perempuan. Pendapatan dari pekerjaan ini memungkinkan anak-anak mereka bersekolah dan membiayai kebutuhan medis, menciptakan dampak positif yang berantai di salah satu ekonomi paling rapuh di dunia.

Melalui program ini, Westwood membuktikan bahwa mode mewah dapat menjadi agen ekonomi sirkular. Dengan menggunakan pasar “Mitumba” (pakaian bekas) sebagai sumber bahan baku, ia menunjukkan cara mengurangi jejak lingkungan industri tekstil sambil melestarikan keterampilan pengrajin lokal. Ini adalah bentuk aktivisme yang melampaui slogan; ini adalah restrukturisasi nilai dari limbah menjadi kemewahan.

Pengaruh pada Generasi Desainer Baru: Warisan Punk yang Berkelanjutan

Warisan Vivienne Westwood tidak berhenti pada kematiannya pada Desember 2022. Semangatnya terus hidup melalui generasi baru desainer yang ia inspirasi untuk berani dan tidak berkompromi. Matty Bovan, misalnya, sering dijuluki sebagai “Raja Upcycling” dan dianggap sebagai pewaris spiritual Westwood. Bovan mengadopsi estetika “controlled chaos” dan memproduksi seluruh koleksinya secara lokal di York menggunakan bahan sisa, mengikuti jejak Westwood dalam menghargai pengerjaan tangan daripada produksi massal.

Desainer lain seperti Charles Jeffrey (Loverboy) dan Marine Serre juga menunjukkan pengaruh Westwood melalui dekonstruksi norma gender dan fokus pada keberlanjutan radikal. Westwood telah mengajarkan mereka untuk “mempertanyakan segalanya” dan melihat pakaian sebagai cara untuk membebaskan tubuh serta menghancurkan stereotip kelas dan gender. Pengaruhnya meluas bahkan hingga ke budaya populer, seperti dalam manga/anime “NANA” karya Ai Yazawa yang secara luas menampilkan desain Westwood untuk menyampaikan keadaan emosional karakternya, serta desain kostum film “Cruella” yang mengambil inspirasi dari estetika punk London yang ia ciptakan.

Kesimpulan: Seni sebagai Senjata dan Perlawanan Abadi

Vivienne Westwood adalah bukti hidup bahwa mode memiliki kekuatan untuk mengubah pemikiran masyarakat. Dari penggunaan kaos robek dan peniti untuk menyerang ketidakadilan sosial di tahun 70-an, hingga penggunaan tank dan kartu remi untuk memperjuangkan masa depan planet ini, ia tetap konsisten dalam pemberontakannya terhadap segala bentuk penindasan dan ketidaktahuan. Ia berhasil mengubah punk dari sekadar subkultur menjadi filosofi hidup yang menuntut tanggung jawab etis dan keterlibatan budaya yang mendalam.

Meskipun kontradiksi antara posisinya sebagai ikon mode mewah dan aktivis anti-kapitalis akan selalu menjadi bahan perdebatan, tidak ada yang bisa membantah dampak nyata dari advokasinya. Ia meninggalkan sebuah peta jalan bagi industri mode untuk menjadi lebih baik—sebuah peta yang memprioritaskan planet daripada profit, budaya daripada konsumsi, dan kebenaran daripada propaganda. Sebagaimana ia nyatakan dalam kampanye Climate Revolution-nya: “Saya ingin kalian membantu saya menyelamatkan dunia, saya tidak bisa melakukannya sendirian”. Warisan Westwood adalah pengingat bahwa kita semua memiliki peran untuk menjadi pejuang kebebasan dalam cara kita masing-masing, dimulai dari apa yang kita kenakan dan bagaimana kita memilih untuk melihat dunia.

Aktivisme Westwood adalah sebuah simfoni perlawanan yang tidak pernah berhenti. Bahkan di saat-saat terakhirnya, ia menandatangani 100 lembar kertas untuk proyek kartu remi Greenpeace, memastikan bahwa suaranya akan terus terdengar bahkan setelah ia tiada. Bagi Ibu Punk Global ini, perjuangan untuk keadilan, baik itu politik, sosial, maupun lingkungan, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Segala sesuatu terhubung: mode, seni, pendidikan, dan aktivisme. Itulah esensi sejati dari Vivienne Westwood—seorang desainer yang tidak hanya mendandani dunia, tetapi juga berusaha mati-matian untuk menyelamatkannya.