Saffron dan Rempah-Rempah: Emas Cair dari Jalur Sutra dan Evolusi Peradaban Kuliner-Farmasi Global
Sejarah peradaban manusia seringkali tidak ditentukan oleh perbatasan politik yang kaku, melainkan oleh aliran komoditas yang melintasi benua dan samudera. Di antara sekian banyak barang dagangan yang pernah berpindah tangan, rempah-rempah—khususnya saffron, kunyit, kayu manis, dan lada—menempati posisi yang unik sebagai penggerak utama globalisasi awal. Bahan-bahan ini, yang dulunya memicu peperangan hebat dan ekspedisi penjelajahan dunia, tetap mempertahankan statusnya sebagai bahan paling mahal dan dicari di dapur restoran bintang lima modern. Fenomena ini bukan sekadar masalah tradisi kuliner, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kelangkaan biologis, intensitas tenaga kerja, khasiat farmasi yang teruji secara ilmiah, dan simbolisme status sosial yang bertahan selama ribuan tahun.
Genesis Jalur Rempah dan Transformasi Geoekonomi Dunia
Akar dari perdagangan rempah-rempah dapat ditelusuri kembali ke jaringan perdagangan kuno yang seringkali tumpang tindih dengan Jalur Sutra (Silk Road). Meskipun Jalur Sutra identik dengan perdagangan tekstil mewah dari Tiongkok ke Romawi, terdapat kerancuan dalam pemahaman populer mengenai peran rempah-rempah dalam jaringan ini. Jalur Sutra daratan (inter-continental trade) memang memfasilitasi pertukaran rempah-rempah, namun peran yang lebih menentukan dalam sejarah ekonomi dunia dimainkan oleh Jalur Maritim atau Jalur Rempah (Spice Road). Jalur ini menghubungkan kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai “Kepulauan Rempah” (Spice Islands), dengan pasar-pasar besar di India, Timur Tengah, dan akhirnya Eropa.
Peran strategis Nusantara, khususnya wilayah Maluku, dalam geoekonomi dunia tidak dapat dipandang sebelah mata. Pada abad ke-15 dan ke-16, penguasaan atas komoditas seperti cengkeh, pala, dan lada menjadi katalisator utama bagi kemajuan maritim Eropa. Bangsa Portugis dan Spanyol, sebagai dua raksasa pelayaran saat itu, terlibat dalam persaingan sengit untuk menguasai sumber rempah-rempah hingga ke ujung dunia. Perseteruan ini mencapai puncaknya pada Perjanjian Saragosa yang ditandatangani pada 22 April 1529, yang secara efektif membagi wilayah kekuasaan dunia antara kedua bangsa tersebut guna mendapatkan monopoli perdagangan rempah.
Penting untuk dicatat bahwa Jalur Rempah Nusantara bukan sekadar rute perdagangan, melainkan jalur kemakmuran yang membawa Portugal, Spanyol, Inggris, dan Belanda menuju zaman keemasan mereka. Wilayah Indonesia memiliki empat dari tujuh selat utama pelayaran dunia—Malaka, Sunda, Lombok, dan Makassar—yang menjadikannya titik paling strategis dalam jaringan perdagangan global kuno. Kekayaan mineral dan komoditas nabati ini menciptakan hegemoni ekonomi yang memicu pembentukan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Kesultanan Ternate-Tidore yang memahami betul potensi ekonomi dari kontrol atas jalur-jalur ini.
Lada (Piper nigrum), yang sering dijuluki sebagai “Raja Rempah-Rempah,” memiliki sejarah yang sangat panjang dalam pembentukan ekonomi global. Meskipun berasal dari Kerala di India Barat Daya, lada telah diperdagangkan secara intensif di Nusantara sejak awal masehi dan menjadi komoditas ekspor utama dari pelabuhan-pelabuhan seperti Banten, Sunda Kelapa, dan Aceh. Nilai ekonomi lada pada masa lalu begitu tinggi hingga seringkali digunakan sebagai alat pembayaran atau mata uang, melambangkan kekayaan dan kekuasaan perdagangan lintas budaya. Marco Polo pada abad ke-12 mencatat bahwa penanaman lada telah berkembang pesat di Jawa, menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi pusat produksi yang signifikan jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa secara massal.
Saffron: Anatomi Kelangkaan dan Fisika Produksi
Di puncak hierarki rempah-rempah dunia, saffron (Crocus sativus) berdiri sebagai komoditas yang harganya secara konsisten melampaui berat emasnya sendiri dalam beberapa periode sejarah. Julukan “emas cair” atau “emas merah” (red gold) bukan sekadar hiperbola pemasaran, melainkan refleksi dari realitas agrikultural dan biologis yang ekstrem.7
Mekanisme Produksi dan Intensitas Tenaga Kerja
Tingginya harga saffron di pasar internasional, yang mencapai kisaran USD 5.000 hingga USD 10.000 per pon (sekitar USD 22.000 per kilogram), berakar pada proses produksinya yang hampir sepenuhnya bergantung pada intervensi manusia secara manual yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Saffron diperoleh dari stigma merah bunga Crocus sativus, sejenis tanaman umbi (corm) yang mandul secara biologis dan harus diperbanyak melalui pemisahan umbi secara manual. Setiap bunga hanyamenghasilkan tiga stigma merah tipis yang mencuat dari bagian tengah kelopak ungu.
Untuk menghasilkan satu pon (0,45 kg) saffron kering, diperlukan sekitar 75.000 kuntum bunga yang ditanam di lahan seluas lapangan sepak bola Amerika. Jika dikonversi ke satuan metrik, diperlukan antara 110.000 hingga 170.000 bunga untuk mendapatkan satu kilogram saffron kering. Proses pemanenan menuntut presisi dan waktu yang sangat spesifik; bunga saffron hanya mekar selama beberapa minggu di musim gugur (akhir September hingga awal Oktober), dan setiap kuntum harus dipetik dengan tangan pada saat fajar sebelum embun mengering namun sebelum terik matahari melayukan bunga tersebut.
Setelah pengumpulan bunga, setiap stigma harus dipisahkan secara manual dari bunganya. Pekerja ahli kemudian harus mengeringkan stigma tersebut di bawah suhu yang terkontrol ketat untuk mencegah pembusukan sekaligus mengunci aroma dan warnanya. Proses pengeringan ini sangat krusial; sedikit kelebihan panas dapat menghancurkan senyawa volatil, sementara suhu yang terlalu rendah berisiko menimbulkan jamur. Diperlukan sekitar 40 jam tenaga kerja intensif hanya untuk memproses satu ons saffron, sebuah rasio input-output yang menjelaskan mengapa harganya tetap selangit meskipun permintaan global terus meningkat.
Kendala Geografis dan Kerentanan Iklim
Saffron adalah tanaman yang sangat menuntut dalam hal pedo-klimatologi. Tanaman ini membutuhkan musim panas yang kering dan panas serta musim dingin yang cukup dingin, kondisi yang biasanya ditemukan di wilayah semi-arid Mediterania dan Asia Tengah. Saat ini, lebih dari 90% pasokan saffron global berasal dari Iran, khususnya provinsi Khorasan, sementara sisanya dipasok oleh Spanyol (La Mancha), India (Kashmir), Yunani, dan Maroko.
Dominasi geografis ini menciptakan kerentanan yang signifikan terhadap instabilitas politik dan perubahan iklim. Laporan tahun 2024 dan 2025 menunjukkan bahwa pola curah hujan yang tidak menentu dan kenaikan suhu ekstrem di wilayah pegunungan Himalaya Barat telah menyebabkan penurunan produksi saffron di Kashmir hingga 68% dalam dua dekade terakhir. Suhu musim gugur yang lebih hangat menghambat inisiasi pembungaan, yang secara langsung mengurangi hasil panen dan memicu lonjakan harga di pasar global. Di Spanyol, luas lahan budidaya saffron telah menyusut drastis hingga 98% sejak tahun 1971 akibat kombinasi biaya tenaga kerja yang meroket dan perubahan iklim yang membuat pertanian tradisional menjadi tidak ekonomis.
| Komoditas | Harga Rata-rata/kg (2024/2025) | Penggerak Biaya Utama | Wilayah Sumber Utama |
| Saffron | USD 5.000 – USD 10.000 | 75.000-150.000 bunga/kg; Tenaga kerja manual ekstrem | Iran (90%+), Spanyol, India |
| Vanilla Madagaskar | USD 400 – USD 600 | Polinasi tangan manual; Curing selama berbulan-bulan | Madagaskar (80%) |
| Lada Hitam Tellicherry | USD 150 – USD 220 | Hanya 5% hasil panen memenuhi standar ukuran premium | Kerala, India |
| Kayu Manis Ceylon | Hingga USD 400/pon | Teknik pengupasan kulit kayu dalam yang rumit | Sri Lanka |
| Kapulaga Hijau | Hingga USD 266/pon | Pemanenan manual per polong pada kematangan tepat | India, Guatemala |
Data di atas mengonfirmasi bahwa kelangkaan biologis dan intensitas tenaga kerja adalah faktor penentu utama yang menempatkan saffron dan varietas rempah premium lainnya dalam kategori barang mewah yang harganya tidak didorong oleh hype pemasaran semata, melainkan oleh realitas agrikultural.
Revolusi Farmasi: Konsep Food as Medicine dalam Sains Modern
Salah satu alasan utama mengapa rempah-rempah tetap relevan secara global adalah pergeseran paradigma dari sekadar bumbu dapur menjadi agen farmakologis aktif. Konsep “food as medicine” atau pangan fungsional kini didukung oleh data klinis yang menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam rempah-rempah memiliki efek perlindungan terhadap berbagai penyakit kronis degeneratif.
Saffron dan Kunyit: Agen Anti-Inflamasi dan Proteksi Kardiovaskular
Saffron mengandung lebih dari 150 senyawa kimia, dengan tiga metabolit sekunder utama yang menentukan kualitas organoleptik dan terapeutiknya: crocin yang bertanggung jawab atas warna kuning emas, picrocrocin yang memberikan rasa pahit khas, dan safranal   yang memberikan aroma bunga. Studi epidemiologi jangka panjang yang dipublikasikan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa konsumsi saffron dikaitkan dengan penurunan risiko kematian secara keseluruhan sebesar 15% dan kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 21% (HR=0,79, 95% CI=0,68–0,92). Efek ini didorong oleh aktivitas antioksidan kuat yang mampu memerangi stres oksidatif dan melindungi lipoprotein densitas rendah (LDL) dari oksidasi.
Kunyit (Curcuma longa) dengan komponen aktif utamanya, curcumin), juga menunjukkan efek serupa yang didokumentasikan dalam studi klinis terhadap penderita diabetes tipe 2. Curcumin terbukti memiliki aktivitas antiaterogenik, anti-inflamasi, dan antioksidan yang bahkan lebih tinggi daripada alpha-tokoferol dalam beberapa model biologis. Konsumsi kunyit secara teratur dikaitkan dengan penurunan risiko kematian kardiovaskular sebesar 9%. Selain itu, produk fitokimia ini dikategorikan sebagai makanan fungsional yang dapat menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif dan kanker melalui modulasi berbagai jalur pensinyalan seluler.
Mekanisme Aksi Biologis dan Anti-Aging
Penelitian terbaru hingga akhir 2025 memberikan wawasan mendalam mengenai mekanisme aksi rempah-rempah pada tingkat molekuler, khususnya dalam konteks kesehatan kulit dan antipenuaan:
- Inhibisi Enzim: Rempah seperti saffron, kunyit, dan jahe menunjukkan kemampuan untuk menghambat enzim kolagenase (yang memecah kolagen) dan elastase (yang memecah elastin). Hal ini membantu menjaga integritas matriks ekstraseluler kulit, mengurangi pembentukan kerutan dan kendur.
- Modulasi Melanin: Ekstraksi lada hitam yang mengandung piperine ditemukan dapat menekan aktivitas tirosinase dan sintesis melanin hingga 37,52%, memberikan solusi alami untuk hiperpigmentasi tanpa merusak melanosit.
- Regulasi Jalur NF-κB: Senyawa aktif dalam kunyit dan jahe memiliki kemampuan untuk menekan jalur pro-inflamasi NF-κB dan sitokin seperti IL-1$\beta$ serta TNFalpha, yang merupakan pemicu utama peradangan kronis dan penuaan dini.
- Resistensi Insulin: Kayu manis (Cinnamomum verum) mengandung cinnamaldehyde yang secara signifikan meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengatur metabolisme karbohidrat, mengurangi kadar glukosa darah dan hemoglobin terglikasi (HbA1c) pada individu dengan gangguan metabolik.
Data statistik menunjukkan korelasi yang mencolok antara konsumsi rempah dan angka harapan hidup. Populasi dengan tradisi kuliner kaya rempah memiliki tingkat kematian akibat kanker yang jauh lebih rendah—sekitar 94 per 100.000 jiwa—dibandingkan dengan populasi yang jarang mengonsumsi rempah yang mencapai 318 per 100.000 jiwa. Integrasi rempah-rempah seperti cengkeh, rosemary, dan kayu manis dalam pengolahan daging bahkan terbukti dapat mengurangi pembentukan senyawa karsinogenik selama proses memasak hingga 40%.
Estetika dan Gastronomi: Mengapa Restoran Bintang Lima Memburu Keaslian
Di dunia haute cuisine, penggunaan rempah-rempah premium bukan sekadar untuk memberikan warna, melainkan untuk menciptakan kompleksitas sensorik yang tidak dapat direplikasi oleh perasa sintetis. Saffron, misalnya, memiliki profil aroma yang sangat rumit yang dideskripsikan sebagai perpaduan antara jerami kering, kulit, tembakau, dan madu, dengan rasa bumi yang mendalam.
Hidangan Ikonik dan Penggunaan Teknikal di Restoran Michelin
Restoran berperingkat Michelin sering kali menempatkan rempah-rempah sebagai elemen sentral (hero ingredients) dalam hidangan mereka. Contoh yang paling terkenal adalah Risotto Saffron karya Chef Davide Oldani dari restoran D’O di Milan (satu bintang Michelin). Hidangan ini menggunakan beras Carnaroli yang telah diawetkan selama satu tahun untuk mencapai tekstur al dente yang sempurna, kemudian dipadukan dengan infus saffron berkualitas tinggi untuk memberikan kedalaman rasa dan warna kuning keemasan yang mewah.
Dalam konteks fine dining modern di London dan Hong Kong, saffron digunakan dalam saus untuk mendampingi bahan laut premium seperti turbot atau lobster tail. Di restoran berbintang tiga Michelin di Hong Kong, saus saffron sering kali dipadukan dengan jeruk dan adas (fennel) untuk menciptakan lapisan panas yang nuansanya jauh lebih kompleks daripada pedas lada biasa. Teknik pengolahan di dapur profesional juga sangat spesifik; para koki sering melakukan dry-toasting pada helai saffron selama 30 detik sebelum diseduh dalam cairan hangat untuk menggandakan efisiensi ekstraksi rasa, sebuah teknik yang divalidasi oleh uji laboratorium kuliner.
Paradoks Nilai dan Tantangan Autentisitas
Keberadaan rempah-rempah premium di restoran bintang lima juga berfungsi sebagai penanda status dan komitmen terhadap kualitas murni. Namun, karena harga yang sangat tinggi, rempah-rempah ini—terutama saffron—menjadi sasaran utama penipuan pangan (food fraud) global. Diperkirakan 20% hingga 30% saffron yang beredar secara global adalah produk yang tidak murni atau telah diadulterasi.
Praktik penipuan yang sering ditemui meliputi:
- Substitusi Tanaman: Menggunakan kelopak bunga safflower, marigold, atau akar kunyit yang dipotong halus dan dicelup warna untuk menyerupai stigma saffron.
- Penambahan Beban: Menggunakan minyak, molase, atau mineral untuk menambah berat timbangan.
- Zat Warna Karsinogenik: Penambahan pewarna sintetis ilegal seperti Sudan compounds dan auramine-O yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia namun efektif dalam meniru intensitas warna saffron asli di mata konsumen yang tidak waspada.
Ketidakmampuan metode standar ISO 3632 dalam mendeteksi adulterasi di bawah level 20% menciptakan celah bagi produk palsu di pasar menengah. Oleh karena itu, restoran kelas atas biasanya melakukan pengujian mandiri yang ketat, seperti uji kelarutan dalam air dingin; saffron asli akan melepaskan warna kuning keemasan secara perlahan selama lebih dari 15 menit, sementara produk yang dicelup pewarna sintetis akan segera melepaskan warna merah instan.
Inovasi Masa Depan: Teknologi Pintar dan Rantai Pasok Terdesentralisasi
Untuk mengatasi tantangan kelangkaan, perubahan iklim, dan pemalsuan, industri rempah-rempah premium mulai mengadopsi teknologi mutakhir yang menggabungkan tradisi agrikultur kuno dengan inovasi digital abad ke-21.
Budidaya Hidroponik dan IoT (Smart Farming)
Budidaya saffron secara tradisional di lahan terbuka menghadapi risiko penyakit tular tanah seperti busuk umbi (corm rot) dan ketidakteraturan hasil panen akibat cuaca. Solusi inovatif yang muncul adalah sistem budidaya tak bermedia (soilless) seperti hidroponik dan aeroponik yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT). Penelitian menunjukkan bahwa saffron yang ditanam secara hidroponik dalam lingkungan terkontrol dapat menghasilkan stigma yang lebih panjang, bobot kering yang lebih berat, dan konsentrasi metabolit aktif (crocin) yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode tanah tradisional.
Sistem cerdas ini menggunakan jaringan sensor nirkabel (WSN) untuk memantau parameter kritis secara real-time:
- Nutrisi Presisi: Sensor pH, turbiditas, dan konduktivitas listrik memantau konsentrasi mineral dalam larutan nutrisi yang disirkulasikan melalui sistem Nutrient Film Technique (NFT).
- Otomatisasi Lingkungan: Kontrol suhu dan kelembapan di dalam rumah kaca hidroponik dapat meningkatkan hasil bunga hingga 6,6 kali lipat dibandingkan dengan pertanian terbuka.
- Seleksi Umbi Pintar: Penggunaan sensor beban (load sensors) untuk memilih umbi dengan diameter di atas 3,2 cm dan berat di atas 10 gram guna memastikan potensi pembungaan yang maksimal.
Penggunaan sistem hidroponik IoT ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memungkinkan budidaya di wilayah yang sebelumnya tidak cocok secara iklim, sekaligus mengurangi kebutuhan akan pestisida dan herbisida.
Blockchain untuk Transparansi dari Petani ke Meja Makan
Keamanan rantai pasok kini diperkuat dengan teknologi blockchain. Dengan mencatat setiap transaksi dari pemanenan di tingkat petani hingga distribusi ke restoran pada buku besar (ledger) yang terdesentralisasi dan tidak dapat diubah (immutable), para pemangku kepentingan dapat melacak perjalanan rempah secara real-time.
Beberapa keunggulan integrasi blockchain dalam industri rempah meliputi:
- Traceability Farm-to-Fork: Konsumen dapat memindai kode QR pada kemasan produk untuk melihat data asal-usul, metode pengolahan, dan sertifikasi keberlanjutan.
- Smart Contracts: Mengotomatiskan pembayaran dan inspeksi kualitas, mengurangi birokrasi dan risiko kesalahan manual dalam perdagangan internasional.
- Ethical Sourcing: Memastikan bahwa rempah-rempah bersumber dari praktik perdagangan adil (fair trade) tanpa melibatkan tenaga kerja anak atau penggunaan bahan kimia berbahaya yang dilarang untuk ekspor
Platform seperti TraceX di India dan Halal Trail di Uni Emirat Arab sudah mulai menerapkan mekanisme pelacakan ini untuk melindungi integritas produk “emas merah” dari serangan adulterasi yang merajalela di pasar e-commerce.
Kebangkitan Jalur Rempah: Diplomasi Budaya dan Geopolitik 2025
Di tingkat makro, rempah-rempah kembali menjadi instrumen diplomasi internasional yang signifikan. Indonesia, melalui inisiatif “Jalur Rempah Nusantara,” tengah mengupayakan pengakuan dunia atas jalur perdagangan maritim ini sebagai warisan budaya dunia UNESCO pada tahun 2025.
Jalur Rempah sebagai Counter-Narrative terhadap Jalur Sutra
Upaya naratif ini bertujuan untuk menegaskan kembali bahwa sejarah globalisasi tidak hanya dibentuk oleh jalur darat melalui Asia Tengah (Jalur Sutra), tetapi juga oleh interaksi maritim yang masif di perairan Asia Tenggara yang menghubungkan Dunia Timur dan Barat jauh sebelum era penjelajahan Eropa. Pada konferensi MONDIACULT 2025 di Spanyol, Indonesia menekankan peran kebudayaan sebagai pilar perdamaian dan pertumbuhan ekonomi, memposisikan Jalur Rempah sebagai simbol konektivitas budaya yang melampaui batas-batas kolonial.
Secara geopolitik, proyek-proyek infrastruktur modern seperti India-Middle East-Europe Economic Corridor (IMEC) sering dianggap sebagai reinkarnasi modern dari jalur rempah kuno (Red Sea Route). Koridor multimoda ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di India dengan Eropa melalui Jazirah Arab, menyediakan rute yang 40% lebih cepat daripada melalui Terusan Suez, sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang terhadap dominasi Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok di kawasan Eurasia.
Perpaduan Kuliner dan Kosmetik di Pasar Global
Relevansi global rempah-rempah juga terlihat dari lonjakan permintaan di industri kecantikan mewah (luxury skincare). Pada tahun 2025, bahan-bahan seperti saffron, kunyit, dan cendana mengalami kebangkitan sebagai bahan utama dalam produk perawatan kulit “bersih” (clean beauty) karena konsumen mencari alternatif alami yang aman namun efektif. Merek-merek kosmetik kelas atas menggunakan saffron dalam serum pencerah karena kandungan crocin-nya yang mampu menghambat produksi melanin secara alami, memberikan efek “festive glow” yang dicari dalam ritual kecantikan tradisional di Asia Selatan dan kini merambah ke pasar Barat.
Kesimpulan: Warisan Abadi Emas Cair dalam Peradaban Modern
Transformasi rempah-rempah dari komoditas yang memicu perang kolonial menjadi bahan pokok dalam farmakope modern dan dapur gastronomi elit menunjukkan daya tahan nilai yang luar biasa melintasi ribuan tahun. Saffron, kunyit, kayu manis, dan lada bukan sekadar penambah rasa; mereka adalah saksi bisu sejarah panjang konektivitas global dan evolusi pemahaman manusia tentang kesehatan.
Status mereka sebagai “emas cair” tetap bertahan di era modern karena tiga faktor fundamental:
- Kelangkaan Biologis yang Tak Tergantikan: Selama mesin belum bisa menandingi presisi tangan manusia dalam memanen stigma bunga saffron yang rapuh pada saat fajar, biaya produksinya akan tetap berada di puncak kurva komoditas
- Validasi Ilmiah terhadap Tradisi: Sains modern kini mengonfirmasi apa yang diketahui oleh tabib kuno ribuan tahun lalu—bahwa rempah-rempah adalah agen terapeutik yang kuat dengan mekanisme aksi seluler yang jelas untuk memerangi inflamasi dan oksidasi.
- Simbolisme dan Eksklusivitas: Di dunia yang semakin didominasi oleh produk massal, keaslian rasa dan sejarah yang melekat pada rempah premium menjadi kemewahan tertinggi yang dicari oleh konsumen cerdas dan koki bintang lima.
Masa depan perdagangan rempah akan sangat ditentukan oleh keberhasilan integrasi teknologi pintar (IoT) untuk melawan dampak perubahan iklim dan penggunaan blockchain untuk menjaga integritas produk. Namun, pada akhirnya, daya tarik rempah-rempah akan selalu berakar pada kemampuannya untuk menghubungkan masa lalu yang legendaris dengan masa depan yang sehat dan penuh cita rasa. Rempah-rempah tetap menjadi benang merah yang menjahit narasi peradaban manusia—dari jalur berdebu di padang pasir Persia hingga piring-piring porselen di restoran termewah di dunia.